Blog EntryBerbuas-buas dengan KataJul 15, '07 9:24 PM
for everyone
Enaknya punya pasangan yang berdisiplin ilmu dan profesi serupa tapi
tak sama (ditambah pengertian dalam huruf yang dicetak tebal dan porsi
besar) adalah menyemarakkan suasana dari hari ke hari dengan permainan
yang sangat dekat dengan aktivitas kami -- memilin kata.
Berhubung latar belakang budaya dan usia kami berbeda, kami kerap
menggali nostalgia. Misalnya waktu SMA, saya sering denger
temen-temen cowok menggunakan berbagai istilah untuk menilai fisik
(baca: kecantikan) seseorang. Ada yang bilang, "Lauk mas koki (ikan
mas koki), euy!" kalo liat cewek cakep. Tersinggung juga disamain
dengan ikan, walaupun maksudnya (kata temen saya dengan keukeuh)
memuji. Kalo dianggap kurang cantik? Katanya, "Diher!" FYI, her =
ulangan perbaikan. Mungkin istilah anak sekarang, remedial.
Semasa kuliah, peristilahan ini berkembang. Saya dan teman-teman biasa
bilang, "Cowok itu cakep, tapi ada sesuatu yang nggak simetris di
wajahnya." Seiring dengan pertambahan umur, kami nggak lagi memandang
fisik secara sempit. Kalo cowok bersangkutan jutek, maka 'nggak
simetris' itulah yang jadi gelarnya.
Dengan suami, saya kerap beradu pelintir kosakata. Permainan
berlangsung sukses tanpa sakit hati karena kami punya 'timbre' selera humor dan
kepekaan setara. Artinya, bisa liat kalo salah satu lagi sensitif.
Seminggu yang lalu, suami kirim SMS kepada seorang relasi yang
mengundang kami ke resepsi pernikahan. Apa daya, jadwalnya bentrok
dengan tahlilan di rumah sodara. Maka ia mengetik, "Beribu maaf
berbapak doa, semoga bahtera rumahtangga .."bla-bla-bla.
Suatu ketika, suami menolak pengalihan pekerjaan dari seorang penanggungjawab
proyek yang sama sekali nggak mempelajari deskripsi materinya. Segala
bujuk rayu nihil belaka. Untuk menggambarkan kondisi itu, suami punya
analogi yang lumayan garang. Dia bilang, "Bayangkan, saya disuruh
ngelompatin jurang yang lebarnya lima
meter. Saya coba ukur dan lompatin, eh nggak nyampe. Malahan kejeblos. Ini
judulnya bunuh diri atau malah dibunuh? Kalo bukan mau bunuh, kasih
dong saya tali. Jadi kalo jatuh pun, saya nggak sampe mati."
Kali lain, kami bertanding menyusun kalimat. Sambil kerja, sih. Saya
bertanya, "Diganti apa ya enaknya..'senyumnya hampir pudar di
wajahnya'?" suami menjawab, "'dengan wajah yang hampir kehilangan
cahayanya'." "Jangan 'cahaya' ah, Arab pisan!" protes saya. Suami
ngakak, "Kan karya kolaborasi, atuh."
Pernah juga saya mencari kata lain untuk 'teriakan'. "Aku butuh Eko,"
saya raih TBI. Di sana, yang tersedia 'pekik' dan 'jerit'. Keduanya
udah sama-sama saya pakai dalam naskah bersangkutan. Suami nyeletuk,
"'Lolongan'." "Anda dapat skor seratus, Saudara," saya tersenyum
berterima kasih.
"Nah, kenapa harus tanya Eko? Kan ada Agus," suami nyengir.


nadnuts wrote on Jul 15, '07
hihihi...lucu ya kalo bisa bgt :D
rinurbad wrote on Jul 16, '07
jailnya sih tetep, Nad. waktu nonton sepakbola Indonesia-Arab kemaren, sambil liat pemain Arab yang cakep-cakep..aku tanya, "ngomongnya tetep bahasa Arab kan?" di ajwab, "bukan, bahasa jawa." :p
percikanku wrote on Jul 16, '07
Seiring dengan pertambahan umur, kami nggak lagi memandang
fisik secara sempit. Kalo cowok bersangkutan jutek, maka 'nggak
simetris' itulah yang jadi gelarnya.
aku suka ini....hmmmm :)
rinurbad wrote on Jul 16, '07
Suka sebelah mananya, Mas? Diper-spesifik-kan, dong:-)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help