Enaknya punya pasangan yang berdisiplin ilmu dan profesi serupa tapi tak sama (ditambah pengertian dalam huruf yang dicetak tebal dan porsi besar) adalah menyemarakkan suasana dari hari ke hari dengan permainan yang sangat dekat dengan aktivitas kami -- memilin kata. Berhubung latar belakang budaya dan usia kami berbeda, kami kerap menggali nostalgia. Misalnya waktu SMA, saya sering denger temen-temen cowok menggunakan berbagai istilah untuk menilai fisik (baca: kecantikan) seseorang. Ada yang bilang, "Lauk mas koki (ikan mas koki), euy!" kalo liat cewek cakep. Tersinggung juga disamain dengan ikan, walaupun maksudnya (kata temen saya dengan keukeuh) memuji. Kalo dianggap kurang cantik? Katanya, "Diher!" FYI, her = ulangan perbaikan. Mungkin istilah anak sekarang, remedial. Semasa kuliah, peristilahan ini berkembang. Saya dan teman-teman biasa bilang, "Cowok itu cakep, tapi ada sesuatu yang nggak simetris di wajahnya." Seiring dengan pertambahan umur, kami nggak lagi memandang fisik secara sempit. Kalo cowok bersangkutan jutek, maka 'nggak simetris' itulah yang jadi gelarnya. Dengan suami, saya kerap beradu pelintir kosakata. Permainan berlangsung sukses tanpa sakit hati karena kami punya 'timbre' selera humor dan kepekaan setara. Artinya, bisa liat kalo salah satu lagi sensitif. Seminggu yang lalu, suami kirim SMS kepada seorang relasi yang mengundang kami ke resepsi pernikahan. Apa daya, jadwalnya bentrok dengan tahlilan di rumah sodara. Maka ia mengetik, "Beribu maaf berbapak doa, semoga bahtera rumahtangga .."bla-bla-bla. Suatu ketika, suami menolak pengalihan pekerjaan dari seorang penanggungjawab proyek yang sama sekali nggak mempelajari deskripsi materinya. Segala bujuk rayu nihil belaka. Untuk menggambarkan kondisi itu, suami punya analogi yang lumayan garang. Dia bilang, "Bayangkan, saya disuruh ngelompatin jurang yang lebarnya lima meter. Saya coba ukur dan lompatin, eh nggak nyampe. Malahan kejeblos. Ini judulnya bunuh diri atau malah dibunuh? Kalo bukan mau bunuh, kasih dong saya tali. Jadi kalo jatuh pun, saya nggak sampe mati." Kali lain, kami bertanding menyusun kalimat. Sambil kerja, sih. Saya bertanya, "Diganti apa ya enaknya..'senyumnya hampir pudar di wajahnya'?" suami menjawab, "'dengan wajah yang hampir kehilangan cahayanya'." "Jangan 'cahaya' ah, Arab pisan!" protes saya. Suami ngakak, "Kan karya kolaborasi, atuh." Pernah juga saya mencari kata lain untuk 'teriakan'. "Aku butuh Eko," saya raih TBI. Di sana, yang tersedia 'pekik' dan 'jerit'. Keduanya udah sama-sama saya pakai dalam naskah bersangkutan. Suami nyeletuk, "'Lolongan'." "Anda dapat skor seratus, Saudara," saya tersenyum berterima kasih. "Nah, kenapa harus tanya Eko? Kan ada Agus," suami nyengir.
 | hihihi...lucu ya kalo bisa bgt :D |
 | jailnya sih tetep, Nad. waktu nonton sepakbola Indonesia-Arab kemaren, sambil liat pemain Arab yang cakep-cakep..aku tanya, "ngomongnya tetep bahasa Arab kan?" di ajwab, "bukan, bahasa jawa." :p |
 | Suka sebelah mananya, Mas? Diper-spesifik-kan, dong:-) |
| |