 Royalti yang ditetapkan penerbit buku berbeda-beda. Tidak semua penerbit menentukan 10% -- yang jamak diketahui kalangan penulis. Ada yang 7, 8, diambil dari harga netto, atau bahkan berkala: misalnya jika buku tersebut laris, maka cetakan berikutnya persentase royalti dinaikkan dari sembilan menjadi sepuluh persen. Beberapa penerbit (beberapa berarti sedikit, berdasarkan pengalaman saya) memberikan uang muka. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui dan mempelajari kebijakan penerbit sebelum memutuskan mengajukan naskah. Ketika penerbit memberikan contoh surat perjanjian, baca pasal demi pasal dan tanyakan setiap butir yang kurang jelas.
Periode pembayaran royalti pun berlainan. Ada yang empat bulan sekali, ada juga yang enam bulan sekali. Laporan penjualan akan menunjukkan jumlah eksemplar yang dicetak, yang laku, serta perhitungan perolehan royalti penulis. Penerbit tertentu bahkan mencantumkan toko atau agen, berikut item lain seperti pajak pendapatan terhadap penulis.
Karena laporan penjualan melalui pos biasanya agak lama, sebaiknya minta pengiriman via fax. Usahakan mencari wartel, bila rumah kita tidak dilengkapi mesin fax. Hindari sedapat mungkin menerima fax laporan tersebut di kantor. Kita tidak ingin rahasia dalam negeri diketahui rekan kerja atau atasan, bukan?
Satu poin lagi, tidak ada cara untuk mengetahui kebenaran isi laporan. Hubungan penulis dengan penerbit benar-benar berlandaskan kepercayaan. Apabila ragu menerbitkan di suatu badan (walaupun meyakini selentingan mentah-mentah sangat tidak dianjurkan), sebaiknya kita tidak bekerjasama dengan penerbit tersebut daripada dihantui rasa curiga dan prasangka buruk (yang kadang-kadang belum tentu benar, tapi sukar dibuktikan).
Semoga uraian singkat ini bermanfaat.
sumber foto: cover asli Remains of the Day, dari wikipedia

 | Pengalaman saya mbak; salah satu pengikat kita ke penerbit tertentu adalah bagusnya sistem royalty. Masalah kepercayaan......
|
 | ini juga bermanfaat... makasih ya mbak... |
 | Mas Ferry, bagus saya artikan lancar. Kadang ada hal-hal lain yang perlu dimaklumi, sejauh terjalin keterbukaan dalam komunikasi. Nisa, alhamdulillah. Terima kasih kembali. |
 | shrie wrote on Dec 17, '07 Wah , buku WRm di salah satu penerbit hingga saat ini belum di bayar royalti :(. Memang sih mereka bayar di muka tapi... over 1 tahun nggak ada laporan *sigh* |
 | percaya aja, deh, hehehe :D lagian baru punya 1 surat perjanjian, itu juga nulis ulang, hehe... emang enaknya nerbitin sendiri... :D kapan ya? ;) |
 | sip, tenan lah! Ada tambahan wawasan yang positif nih. Nanti kalau ada masalah yang aneh-aneh dengan penerbit, saya akan konsultasi dg mbak Rinurbad aja, ya? Oke?
Adi--FLP Surabaya |
 | Bermanfaat sekaliiii.....tq ya say :) siapa tauu nanti akan mengalami menerima royali hehe :) |
 | Mbak Shrie, sudah coba dikontak? Pake surat resmi barangkali? Nopi, surat perjanjian apa hayoo.. Nad, Mas Adi, Ichen, Ryu, alhamdulillah. Terima kasih sudah membaca. Mas Adi, monggo..saya coba bantu sebisanya. Ichen, yakinlah..akan mencicipi royalti. Pede aja, ok? |
 | iwok wrote on Dec 18, '07 betul! Sistem kepercayaan harus kuat antara kedua belah pihak. Tentunya agar semua terus berjalan lancar ya? Kalo memang kita nggak percaya, ya jangan kirim naskah ke penerbit itu. Hehehe |
 | Betul, Kang. Yang yakin-yakin aja:-) |
 | aduh mbak saya sekarang sedang menyiapkan naskah untuk diterbitkan seapes apesnya saya berapa royalti yg saya terima dan berapa lama saya menerima royalti mulai naskah saya diterima(paling cepat) dan kira kiraberapa sih uang muka yg diterima jika naskah akan diterbitkan |
 | Saya nggak bisa menjawab, karena semua relatif. Tergantung penerbit, aturannya kan lain-lain. Belum tentu semua penerbit kasih uang muka. |
 | yang jelas, royalti baru terasa kalau bukunya nggak cuma satu atau kalau buku kita menjadi best seller, laku 3000 exp per bulan misalnya. Tapi umumnya, sekali cetak buku perlu waktu setahun habisnya, itu sebabnya harus punya minimal 10 judul di pasaran agar pemasukan tahunan cukup besar. he he he. hayo nulis lagi! |
 | Hahaha..3 ribu eksemplar dalam sebulan, ajaib kali ya, Mbak:-) |
 | Assalamu'alaikum wr wb, alhamdulillah minggu kmaren naskah buku saya dikontrak 6 seri kata penerbitnya. tapi saya sudah ditawari honor per serinya sekian sekian begitu. dan mereka sama sekali tidak menyebutkan royalty, apa memang beberapa penerbit begitu jg ya mbak rinurbad?lalu apa saya bisa kira2 melihat contoh surat kontrak yang mbak punya untuk membandingkan :)? makasih |
 | Waalaikumsalam wr.wb. Mbak, pertama-tama selamat untuk bukunya. Berarti penerbit menerapkan sistem beli putus. Bila Mbak merasa berkeberatan, silakan ditanyakan kembali. Tentunya jika transaksi belum terjadi. Maaf, kontrak penerbitan saya semua dalam hardcopy dan konfidensial. Tetapi tiap penerbit mempunyai aturan sendiri dalam hal ini |
 | Terima kasih mbak. oo gitu ya :).terima kasih ya mbak atas infonya |
 | Sama-sama. Sukses ya Mbak, semoga tidak kapok menulis terus:) |
| |