 Pada suatu ketika, saya menjadi anggota sebuah tim juri lomba cerpen. Timnya kecil saja. Kami berkoordinasi sesekali, namun lebih pada pemeriksaan kelengkapan rekapitulasi naskah, pengelompokan berdasarkan skor, dan mengabaikan biodata sejauh mungkin. Bahkan arsip biodata diletakkan terpisah, kalau perlu dihide dalam komputer.
Saat itu saya menyelesaikan penilaian lebih dahulu. File hasil disetor kepada kepala tim, tetapi tidak langsung dibukanya. Anggota tim lain diharapkan menyerahkan bersamaan pada waktu yang ditentukan. Penilaian yang telah saya buat tidak ditembuskan kepada sesama juri dan panitia lomba supaya tidak mempengaruhi pendapat mereka. Dengan alasan yang sama, ketua tim juri baru membuka file tersebut setelah ia selesai membaca keseluruhan naskah. Oleh sebab itu, saya diwanti-wanti untuk tidak menghapus file naskah peserta berikut penjurian kalau-kalau ada kerusakan teknis saat ia mengakses daftar yang saya kirimkan sebelumnya.
Diskusi berlangsung lancar. Setelah keputusan mengenai juara satu dan seterusnya diambil, ketua tim menceritakan sebuah pengalamannya. Ia pernah teledor menembuskan hasil penjurian suatu lomba kepada panitia dan salah satu anggota panitia itu membocorkannya pada peserta.
Peristiwa yang sudah lama berselang ini senantiasa saya camkan, terutama dalam penjurian tertutup. Lain dengan lomba yang melibatkan peserta atau anggota milisnya untuk turut menilai, seperti Ajang Cerpen Escaeva tahun lalu dan beberapa lomba di milis Apsas. 
| |
|