Blog EntryCerita Anak: NEGERI BIANGLALA 6Jan 7, '08 8:34 PM
for everyone
dimuat di Majalah Valens tahun 2004

“Kamu sok tahu, Kancil!” Ular mendesis.
“Tenang!” Burung Hantu menengahi. “Hargailah pendapat orang lain. Kancil, kamu tentu punya alasan sampai menarik kesimpulan demikian, bukan?”
“Ya, Pak,” Kancil berkata penuh percaya diri.
“Jelaskanlah.”

Kancil bangkit dari tempat duduknya. “Teman-teman, di dunia ini tidak ada yang persis sama. Selalu ada dua hal yang bertentangan.”
“Jangan berbelit-belit begitu, aku jadi pusing,” Tikus berkata.

Kancil melanjutkan, “Di dunia hewan saja, ada yang jahat dan ada yang baik. Begitu pula manusia yang mempunyai akal budi dan kelebihan dari kita para hewan.”
Kelinci bingung mendengarnya. “Lalu apa hubungannya dengan manusia dan keluarga Pak Monyet?”
Kancil tersenyum lebar. “Kalau manusia itu tumbuh menjadi makhluk yang baik hati, ia akan membalas budi pada Pak dan Bu Monyet. Tapi kalau tidak? Ia justru akan melupakan jasa-jasa mereka.”

Burung Pipit menyeletuk, “Kau ini bicara berputar-putar. Bukankah Pak Burung Hantu sudah mengatakan, semua itu tergantung pada didikan terhadap si bayi? Bukan hanya manusia yang dapat terpengaruh, kau juga mempunyai kemungkinan jadi Kancil yang jahat.”
Kancil melongo mendengar Burung Pipit menambahkan, “Kesimpulannya, kita bersama-sama harus mengusahakan agar bayi manusia itu dididik dengan baik dan diarahkan ke jalan yang benar.”

Burung Hantu merasa iba melihat wajah Kancil merah padam. “Kau benar, Pipit. Tapi Kancil juga tidak keliru. Ia mempunyai dugaan sendiri. Yang penting, jangan sampai dugaan itu menjadi kecurigaan yang tidak semestinya.”

Kelinci menggerakkan kuping panjangnya. “Pak, saya masih punya satu pertanyaan lagi.”
“Apa itu?”

“Bapak pernah mengatakan bahwa pengaruh lingkungan, terutama sejak usia dini, sangat kuat.”
“Betul,” Burung Hantu senang karena Kelinci mengingat penjelasannya di kelas.

“Kalau begitu, ada kemungkinan si bayi manusia ini tumbuh menjadi seperti monyet? Hanya bedanya ia tidak berbulu dan berekor?”
“Mungkin saja,” Burung Hantu membenarkan.

“Jika sampai terjadi, namanya manusia monyet dong, Pak,” seloroh Tikus.
Burung Hantu tersenyum.

“Kasihan,” Kelinci berkata. “Ia tidak akan diterima oleh sesamanya kalau suatu saat menemukan mereka.”
“Betul juga,” kata Kancil. “Tapi masalahnya, kita tidak tahu bagaimana perilaku dan cara hidup manusia pada umumnya.”

“Kalaupun tahu, akan sulit mengajarkannya,” Burung Hantu berkata. “Manusia tidak bersayap, jadi ia tidak dapat terbang. Manusia juga tidak bertelur. Jadi bisa kalian bayangkan sulitnya menemukan hewan yang benar-benar menyerupai mereka sehingga bisa mengajari si bayi dengan benar.”

Kancil berpikir sejenak. “Usulku, kita harus membantu Pak dan Bu Monyet mendidik bayi itu. Bila perlu, bergantian.”

“Usul yang bagus,” ucap Burung Hantu. “Aku senang bila kalian peduli pada sesama makhluk dan mau meringankan beban orang lain.”

“Menurutku si bayi akan bingung,” Tikus berkata. “Kancil, apa yang akan kau ajarkan? Makan ketimun langsung dari pohonnya? Lalu aku mengajarinya menggali lubang di tanah. Kura-kura mengajarinya berenang. Kambing mengajarinya mengembik dan makan rumput. Wah, akan jadi makhluk yang aneh manusia itu nanti.”

Semua tertawa.

“Aku akan tetap membantu dalam hal ini,” Burung Hantu berjanji. “Sedikit banyak aku tahu mengenai cara hidup manusia dan kita usahakan bersama mengurus anak itu sebaik-baiknya.”
Hari telah larut. Burung Hantu menyuruh murid-muridnya pulang. “Kita masih punya waktu besok, kalau ada yang masih ingin kalian tanyakan.”
Kelinci pun pulang dengan hati puas.

(Bersambung)


junjungbuih wrote on Jan 7
menuju sambungannya...:)
terima kasih...
rinurbad wrote on Jan 7
Terima kasih sudah membacanya, Mbak Sery:)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help