 Dimuat di majalah Valens, tahun 2004
Kancil dan teman-temannya menepati janji. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri menengok si bayi di rumah Pak dan Bu Monyet serta membantu merawatnya.
“Ini kan sama dengan praktek langsung,” Kancil berkata suatu hari. “Jadi kita dapat menambah pengetahuan juga.”
Tikus memperhatikan si bayi minum susu dengan seksama. “Apakah ia harus selalu minum susu? Tidak bisakah ia minum air biasa saja?”
“Bisa,” Bu Monyet menjawab. “Tapi airnya harus matang dan bersih. Sebelum diminum, didihkan dulu di atas api.” “Merepotkan sekali.”
“Karena dia masih kecil, susulah yang terbaik,” Pak Monyet menjelaskan. “Susu berguna untuk pertumbuhan otaknya, juga tulang dan giginya. Lagipula ia belum dapat makan yang keras-keras selama beberapa bulan ini.”
Sapi mengamati si bayi dari dekat. “Hei, giginya sudah mulai tumbuh!” Semua yang mendengar spontan mendekati bayi itu. “Benar, benar, tapi baru empat buah. Dua di atas, dua di bawah.”
Bu Monyet tersenyum. “Lambat-laun dia akan bisa makan makanan selain susu dan buah-buahan yang dilunakkan ini. Dia juga akan dapat bicara.”
Burung Pipit berseru, “Bicara? Bagaimana kita dapat bicara dengan dia nanti? Bukankah bahasa manusia berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari?” Kancil menyahut, “Mungkin Pak Burung Hantu tahu seperti apa bahasa manusia.”
Bu Monyet menengahi, “Bayi ini tinggal bersama kita, jadi bahasa kitalah yang akan dia pelajari.”
Kelinci mengangguk-angguk. “Ya, untuk sementara. Kita kan belum tahu berapa lama bayi itu tinggal di sini. Yang penting ia dapat berkomunikasi dengan semua yang ada di sekitarnya.”
Si bayi menatap hewan-hewan yang mengelilinginya tanpa suara. “Matanya bening sekali, seperti air telaga,” Kucing berkata.
Tiba-tiba si bayi menguap. “Lebih baik kalian sekarang pulang dulu,” ujar Bu Monyet. “Biarkan si bayi beristirahat.”
“Anak bayi memang harus banyak tidur, karena tubuhnya belum sekuat manusia dewasa,” kata Pak Monyet.
Kancil dan teman-temannya bergegas keluar dari rumah Pak dan Bu Monyet. Mendadak Burung Pipit berhenti. “Pak, Bu, apakah bayi manusia ini tidak diberi nama?” “Benar juga,” Kancil bergumam. “Selama ini tak terpikirkan olehku.”
“Kita kan tidak mungkin memanggil dia si bayi terus,” ucap Kelinci. “Di sini ada banyak bayi. Kita juga tidak mungkin memanggil dia dengan nama Manusia.” “Justru nama itu yang paling tepat untuknya,” seloroh Tupai. “Ma-nu-sia?”
“Aku setuju,” Bu Monyet berkata. “Dia kan satu-satunya manusia di sini. Jadi tidak akan ada yang menoleh bila nama itu dipanggil.”
Akhirnya seluruh penghuni Negeri Bianglala sepakat, bayi itu diberi nama Manusia.
Kancil sering sekali mengunjungi Manusia dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sebelum dan sepulang sekolah ia meluangkan waktu mampir ke rumah Pak dan Bu Monyet. Akibatnya, ia sering terlambat sampai di rumah dan dimarahi ibunya.
“Apa saja yang kau kerjakan selama ini?” tanya Bu Kancil dengan kesal. “Aku belajar mengenai kehidupan manusia, Bu,” jawab Kancil takut-takut. “Segala sesuatu mengenainya sangat menarik. Aku juga membantu Pak dan Bu Monyet mengurusnya.”
“Kalau kau tiap hari datang ke sana, mereka justru akan terganggu,” tegur Bu Kancil. “Teman-temanmu yang lain juga ingin membantu, tidak perlu selalu kau yang mengurus Manusia.” Kancil menunduk.
“Sepanjang hari kau bermain-main saja dan tidak membantu Ibu. Kalau sikapmu tidak berubah juga, Ibu akan melarangmu menjenguk Manusia. Mengerti?” “Ya, Bu,” kata Kancil dengan suara lirih.
(Bersambung)

| |