Blog EntryMenonton Ulang 'Never Talk to Strangers'Feb 28, '08 9:40 PM
for everyone
Berhubung film ini adalah produksi 13 tahun silam, nggak apa-apa ya
saya kasih bocoran:-)

Saya nonton NTtS di bioskop Jatinangor bersama Mas Agus dan dua orang
teman kos. Waktu itu sangat ramai sehingga nontonnya nggak konsen
(makanya saya nggak suka ke bioskop) dan saya merasa perlu mengetahui
bagian-bagian yang kurang jelas ketika film ini ditayangkan Trans7
semalam. Lagipula genrenya thriller psikologi, favorit saya dan dapat
dijadikan referensi untuk menulis cerita sejenis suatu hari kelak.

NTts dibuka dengan adegan Dr. Sarah Allison Taylor (Rebecca de Mornay)
mewawancarai seorang tahanan yang melakukan pemerkosaan. Sarah adalah
psikolog yang bertugas menilai apakah sang napi layak disidang atau
tidak sebab menurut pengakuannya kepada pengacara, ia mengidap
kepribadian ganda dan tidak menyadari perbuatannya ketika kepribadian
lain (biasa disebut alter) beraksi. Sarah kemudian berkenalan dengan
sorang pria bernama Tony Ramirez (Antonio Banderas) saat sedang
berbelanja. Tony mengaku mantan polisi dan konsultan keamanan yang
baru saja pindah dari Puerto Rico. Ia langsung mendekati Sarah dan
mengajaknya berkunjung ke apartemennya. Setelah mereka menjalin
hubungan, tiba-tiba Sarah mendapat kiriman misterius. Bunga kematian
(kemungkinan lili), disusul mayat kucingnya yang telah dimutilasi.

Salah satu kelebihan film ini ialah permainan judulnya yang
'mengecoh'. 'Stranger' ditujukan kepada Tony, yang pada suatu adegan
mengaduk-aduk isi tas Sarah. Penonton digiring untuk mencurigainya,
terlebih detektif swasta yang disewa Sarah mendapati bahwa Tony
menemui seorang wanita dan anak kecil di New York setelah sebelumnya
pergi ke Albany. Padahal ia mengaku pergi ke Boston. Albany adalah
tempat asal Sarah. Kemudian sang psikolog menemukan berbagai data
dirinya, termasuk foto, di salah satu laci apartemen Tony. Serta-merta
ia menuduh sang kekasih telah mengintainya, memasuki apartemennya dan
menghajar tetangganya, Cliff, sampai masuk rumah sakit.

Aroma keganjilan sudah terlihat ketika Sarah ketakutan dihampiri
ayahnya, Henry. Botol anggur yang dibawanya sampai jatuh dan ia terus
memperhatikan langkah kaki Henry yang bersepatu. Lalu sang ayah
mengambil fotonya sewaktu kanak-kanak dan berkata, "Kau gadis kecil yang
cantik." Tatkala berada di pasar malam untuk menembak badut mainan,
Sarah pingsan membayangkan ibunya jatuh dari tangga. Ia mengaku takut
pada senjata.

Potongan teka-teki itu makin mudah dipahami bila kita sudah membaca
novel Sidney Sheldon, Ceritakan Mimpi-mimpimu. Klimaksnya, Tony
memperlihatkan rekaman kamera bahwa pelaku yang sesungguhnya adalah
Sarah sendiri. Tepatnya, kepribadian sang psikolog yang lain.
Terungkaplah rahasia masa lalu Sarah, yang menimbulkan tanda tanya
pada artikel koran temuan Tony: Mother Killed in Gun Accident.

Sarah cilik shock luar biasa menyaksikan ibunya didorong dari tangga
oleh sang ayah. Henry menggenggamkan pistol ke tangannya dan
menembakkan ke arah sang ibu yang tengah pingsan. Mereka berdua tengah
bertengkar hebat karena ibu Sarah mengetahui bahwa suaminya melakukan
perundungan seksual kepada putri tunggal mereka. Karena itulah,
Sarah dibesarkan oleh bibinya dan tidak diperkenankan bertemu dengan
Henry. Mirip kisah malang Ashley yang diperkosa ayah kandungnya.
Bedanya, ibu Ashley tidak mempercayainya sehingga ia bahkan membenci
anak perempuannya dan dibiarkan mati dalam kecelakaan mobil. Ashley
berumur 8 tahun, sedangkan usia Sarah tiga tahun lebih muda.

Penderitaan itu membelah jiwa Sarah, yang kemudian mendendam pada
semua pria. Ia membunuh Benny, sepupu Tony. Di awal film, dikisahkan
bahwa Benny pergi begitu saja dua tahun sebelumnya. Karena ia
menghilang, Tony memutuskan menyelidiki Sarah. Ucapan "Trust me"
justru mengingatkan psikolog tersebut pada kata-kata ayahnya dahulu
dan meletuskan pistol. Kembali, Henry mengatakan, "It's not your
fault" sehingga ia pun ditembak sampai mati.

Kesimpulannya, kepribadian ganda hampir selalu merupakan dampak
pelecehan seksual secara inses. Sarah meneror dirinya sendiri lantaran
dihantui perasaan bersalah atas kematian ibunya. Malangnya, pukulan
batin paling tragis justru berasal dari rumah. Seperti kisah pilu
Sybil, yang mendukung perkataan orangtua jaman dulu bahwa 'kegilaan
itu bisa 'menular'."

sumber foto: wikipedia


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help