 Berhubung film ini adalah produksi 13 tahun silam, nggak apa-apa ya saya kasih bocoran:-)
Saya nonton NTtS di bioskop Jatinangor bersama Mas Agus dan dua orang teman kos. Waktu itu sangat ramai sehingga nontonnya nggak konsen (makanya saya nggak suka ke bioskop) dan saya merasa perlu mengetahui bagian-bagian yang kurang jelas ketika film ini ditayangkan Trans7 semalam. Lagipula genrenya thriller psikologi, favorit saya dan dapat dijadikan referensi untuk menulis cerita sejenis suatu hari kelak.
NTts dibuka dengan adegan Dr. Sarah Allison Taylor (Rebecca de Mornay) mewawancarai seorang tahanan yang melakukan pemerkosaan. Sarah adalah psikolog yang bertugas menilai apakah sang napi layak disidang atau tidak sebab menurut pengakuannya kepada pengacara, ia mengidap kepribadian ganda dan tidak menyadari perbuatannya ketika kepribadian lain (biasa disebut alter) beraksi. Sarah kemudian berkenalan dengan sorang pria bernama Tony Ramirez (Antonio Banderas) saat sedang berbelanja. Tony mengaku mantan polisi dan konsultan keamanan yang baru saja pindah dari Puerto Rico. Ia langsung mendekati Sarah dan mengajaknya berkunjung ke apartemennya. Setelah mereka menjalin hubungan, tiba-tiba Sarah mendapat kiriman misterius. Bunga kematian (kemungkinan lili), disusul mayat kucingnya yang telah dimutilasi.
Salah satu kelebihan film ini ialah permainan judulnya yang 'mengecoh'. 'Stranger' ditujukan kepada Tony, yang pada suatu adegan mengaduk-aduk isi tas Sarah. Penonton digiring untuk mencurigainya, terlebih detektif swasta yang disewa Sarah mendapati bahwa Tony menemui seorang wanita dan anak kecil di New York setelah sebelumnya pergi ke Albany. Padahal ia mengaku pergi ke Boston. Albany adalah tempat asal Sarah. Kemudian sang psikolog menemukan berbagai data dirinya, termasuk foto, di salah satu laci apartemen Tony. Serta-merta ia menuduh sang kekasih telah mengintainya, memasuki apartemennya dan menghajar tetangganya, Cliff, sampai masuk rumah sakit.
Aroma keganjilan sudah terlihat ketika Sarah ketakutan dihampiri ayahnya, Henry. Botol anggur yang dibawanya sampai jatuh dan ia terus memperhatikan langkah kaki Henry yang bersepatu. Lalu sang ayah mengambil fotonya sewaktu kanak-kanak dan berkata, "Kau gadis kecil yang cantik." Tatkala berada di pasar malam untuk menembak badut mainan, Sarah pingsan membayangkan ibunya jatuh dari tangga. Ia mengaku takut pada senjata.
Potongan teka-teki itu makin mudah dipahami bila kita sudah membaca novel Sidney Sheldon, Ceritakan Mimpi-mimpimu. Klimaksnya, Tony memperlihatkan rekaman kamera bahwa pelaku yang sesungguhnya adalah Sarah sendiri. Tepatnya, kepribadian sang psikolog yang lain. Terungkaplah rahasia masa lalu Sarah, yang menimbulkan tanda tanya pada artikel koran temuan Tony: Mother Killed in Gun Accident.
Sarah cilik shock luar biasa menyaksikan ibunya didorong dari tangga oleh sang ayah. Henry menggenggamkan pistol ke tangannya dan menembakkan ke arah sang ibu yang tengah pingsan. Mereka berdua tengah bertengkar hebat karena ibu Sarah mengetahui bahwa suaminya melakukan perundungan seksual kepada putri tunggal mereka. Karena itulah, Sarah dibesarkan oleh bibinya dan tidak diperkenankan bertemu dengan Henry. Mirip kisah malang Ashley yang diperkosa ayah kandungnya. Bedanya, ibu Ashley tidak mempercayainya sehingga ia bahkan membenci anak perempuannya dan dibiarkan mati dalam kecelakaan mobil. Ashley berumur 8 tahun, sedangkan usia Sarah tiga tahun lebih muda.
Penderitaan itu membelah jiwa Sarah, yang kemudian mendendam pada semua pria. Ia membunuh Benny, sepupu Tony. Di awal film, dikisahkan bahwa Benny pergi begitu saja dua tahun sebelumnya. Karena ia menghilang, Tony memutuskan menyelidiki Sarah. Ucapan "Trust me" justru mengingatkan psikolog tersebut pada kata-kata ayahnya dahulu dan meletuskan pistol. Kembali, Henry mengatakan, "It's not your fault" sehingga ia pun ditembak sampai mati.
Kesimpulannya, kepribadian ganda hampir selalu merupakan dampak pelecehan seksual secara inses. Sarah meneror dirinya sendiri lantaran dihantui perasaan bersalah atas kematian ibunya. Malangnya, pukulan batin paling tragis justru berasal dari rumah. Seperti kisah pilu Sybil, yang mendukung perkataan orangtua jaman dulu bahwa 'kegilaan itu bisa 'menular'."
sumber foto: wikipedia 
| |
|