Saya punya kebiasaan buruk yang sangat dianjurkan untuk tidak ditiru, yakni melempar gagasan iseng. Maksudnya, saya berbicara dengan penerbit perihal suatu ide baru dan menanyakan pendapat editor mengenai kelayakan terbitnya. Kemudian disetujui, padahal satu kata pun belum saya tuliskan. Tetapi tentu saja saya jujur kepada sang editor bahwa ide itu baru saja lahir dan belum diwujudkan dalam bentuk naskah.
Menghilangkan kebiasaan ini tidak mudah, terlebih dengan adanya sang editor alias manajer redaksi yang sangat sabar dan penuh pengertian. Perlahan-lahan saya mencoba mengubahnya, misalnya membahas ide saat sudah menuliskan judul, satu halaman, atau mengumpulkan setengah bahan. Proses acc 'di udara' ini masih berlangsung, alhamdulillah beliau mempercayai kemampuan saya.
Terima kasih kepada seorang sahabat, copy editor dan layouter di Jakarta, yang bersedia meminjamkan suatu terminologi rumusannya untuk dijadikan judul.
Mas Ferry, hehe..kayaknya problem semua orang ya.. Mbak Ai, alhamdulillah. Sudah kenal lama, memang. Mbak Poppy, itulah tantangannya. Aku nggak boleh moody, jadi dianggep utang aja:)