 Tatkala menulis jurnal ini, saya teringat seorang keponakan di Jawa Tengah. Ia pernah menghubungi saya untuk mengkonfirmasikan harga Laskar Pelangi yang didapatinya di Semarang. Mengingat keponakan saya ini bergerak di bidang pendidikan, ia merasa perlu membaca novel tersebut.
Beberapa waktu kemudian, saya menanyakan kesan dan pendapatnya. Jawabannya benar-benar di luar dugaan, "Baru dipegang aja, belum dibaca." Gemes, deh. Minat bacanya memang bermasalah, kalah oleh adiknya yang bekerja di bidang sejenis tetapi masih sempat menjenguk perpustakaan terdekat.
Soal buku keponakan-keponakan, saya sering bertindak sebagai Tante Galak. Saat si Tengah hendak ulangan umum dan mendadak kehilangan buku pegangannya, saya biarkan ia mencari sendiri meski makan waktu berjam-jam. Melihat buku si Bungsu - apalagi yang saya berikan - tergeletak di lantai, saya langsung berseru, "Lima menit nggak dirapikan, milik negara ya!" Maksudnya saya akan langsung mengambilnya kembali dan takkan pernah memberinya lagi.
Si Bungsu tahu saya tidak main-main. Lucunya, setiap kali saya datang ke rumahnya, ia memperlihatkan jejeran buku pemberian saya yang ditata rapi. Perkembangan minat baca berpengaruh langsung pada prestasi belajar mereka. Dalam rapor, tercantum poin-poin seperti Pemahaman dan Membaca. Di situlah saya memperhatikan komentar guru mereka, bukan sekadar angka.
sumber foto: sxc.hu 
 | Selamat praktek, Mas. Semoga berhasil:) |
| |
|