Blog EntryBuku-buku Para KeponakanApr 20, '08 10:29 PM
for everyone
Tatkala menulis jurnal ini, saya teringat seorang keponakan di Jawa
Tengah. Ia pernah menghubungi saya untuk mengkonfirmasikan harga
Laskar Pelangi yang didapatinya di Semarang. Mengingat keponakan saya
ini bergerak di bidang pendidikan, ia merasa perlu membaca novel
tersebut.

Beberapa waktu kemudian, saya menanyakan kesan dan pendapatnya.
Jawabannya benar-benar di luar dugaan, "Baru dipegang aja, belum
dibaca." Gemes, deh. Minat bacanya memang bermasalah, kalah oleh
adiknya yang bekerja di bidang sejenis tetapi masih sempat menjenguk
perpustakaan terdekat.

Soal buku keponakan-keponakan, saya sering bertindak sebagai Tante
Galak. Saat si Tengah hendak ulangan umum dan mendadak kehilangan buku
pegangannya, saya biarkan ia mencari sendiri meski makan waktu
berjam-jam. Melihat buku si Bungsu - apalagi yang saya berikan -
tergeletak di lantai, saya langsung berseru, "Lima menit nggak
dirapikan, milik negara ya!" Maksudnya saya akan langsung mengambilnya
kembali dan takkan pernah memberinya lagi.

Si Bungsu tahu saya tidak main-main. Lucunya, setiap kali saya datang
ke rumahnya, ia memperlihatkan jejeran buku pemberian saya yang ditata
rapi. Perkembangan minat baca berpengaruh langsung pada prestasi
belajar mereka. Dalam rapor, tercantum poin-poin seperti Pemahaman dan
Membaca. Di situlah saya memperhatikan komentar guru mereka, bukan
sekadar angka.

sumber foto: sxc.hu


arikunto wrote on Apr 20
"Lima menit nggak
dirapikan, milik negara ya!"
Hahaha... boleh juga istilahnya tuh!... Ntar di praktekin di rumah deh!...
rinurbad wrote on Apr 21
Selamat praktek, Mas. Semoga berhasil:)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help