Blog EntryTentang Menulis Fiksi dan Non FiksiApr 25, '08 10:01 PM
for everyone
Posting ini untuk memenuhi janji saya kepada Ima.

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, saya tidak langsung memilih
genre. Prosesnya mengalir begitu saja, sampai saya menyadari bahwa
karya yang berjenis non fiksi lebih banyak daripada yang fiksi.
Bukan berarti saya tidak suka fiksi. Bacaan pertama saya sewaktu kecil
adalah fiksi. Tulisan pertama yang diterbitkan di media pun berupa
cerpen.

Kalau mau dirunut, mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang.
Sewaktu kuliah, saya mengambil spesialisasi linguistik dan lebih
sering berkutat dengan buku teks yang berbau teori dibandingkan roman,
drama dan puisi. Pekerjaan terakhir (baca: di kantoran) yang
berhubungan dengan menulis ialah mengisi content situs web.

Tetapi ketertarikan untuk berfiksi-ria tetap tumbuh, walau tidak
berbanding lurus dengan rasa percaya diri akibat kurangnya berlatih.
Saya memulai dengan cerpen anak dan naskah komik. Yang kedua ini
dengan pertimbangan punya sedikit bekal dari perkuliahan dulu. Cerpen
anak tak berarti mudah, tetapi sifatnya yang serba singkat
memungkinkan saya untuk belajar lebih giat lagi dalam waktu dan
referensi yang masih terbatas. Kepercayaan diri meningkat saat tujuh
cerpen saya terpilih untuk dibukukan bersama penulis-penulis lain
(ingat kejadian ini, Donna dan Isman?).

Setelah menerbitkan empat buku non fiksi karya bersama dan satu buku
solo, barulah saya menulis novel secara serius. Itupun karena
ditawari. Naskah novel saya itu pun masih kental rasa non fiksinya,
dengan narasi panjang dan sedikit dialog.

Perlu saya sampaikan bahwa tahap-tahap ini bersifat kasuistis. Banyak
penulis lain yang mahir dalam fiksi dan lincah pula di non fiksi. Saya
juga sempat mengenal bentuk non fiksi yang lebih cair, dengan selipan
dialog dan bahasa yang terkesan seperti bercerita. Keasyikan
mempelajari non fiksi gaya baru ini tidak menyurutkan rasa suka saya
pada fiksi, meski untuk nyemplung total di sana saya memerlukan usaha
ekstra.

Jadi yang saya lakukan sejauh ini hanyalah mengikuti kata hati dan
'sang pena' (lebih tepatnya, sang jari di keyboard). Tak jarang
niatnya menulis fiksi, lho..lama-lama kok jadi lebih cocok ke non
fiksi. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah, saya masih merengkuh
cerita anak sebagai wilayah fiksi terdekat untuk menuangkan ide-ide.
Menyuburkan perfiksian di pulau gagasan dalam benak saya dengan banyak
membaca. Yang paling penting, saya tak mau memaksakan diri. Non fiksi
pun tak semuanya saya kuasai.

Semoga jurnal ini bermanfaat.

sumber foto: sxc.hu


13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
igloodesigndecor wrote on Apr 25
wah tfs mbak hampir mirip2 sih kejadiannya
rinurbad wrote on Apr 25
sama-sama, Bang Timmy:)
ayahara1 wrote on Apr 25
fiksi sih boleh asal berdasarkan kisah nyata yg dibumbui,

tapi kadang2 ada fiksi yg berkebihan jadi gak realistis
rinurbad wrote on Apr 25
Kalo fiksi berdasarkan kisah nyata, saya malah hasilnya jadi non fiksi sekalian mas..:)
arweneldarin wrote on Apr 25
Hehe, I always know that I'll be writing fantasy. Kalo nulis2 esay non fiksi sih buat komunitas tertentu aja, belon berani nawarin ke penerbit, hehe.
nitacandra wrote on Apr 26
kebalikan ya mbak Rin, saya mah kalo nulis non fiksi ujung2nya kok jadi banyak dialognya ya?hehe...jadin ngerasa lebih cocok ke fiksi nih.
imazahra wrote on Apr 26
Huehehehe, sudah jadi jurnal aja, hebaaaaaaaat! :-p
Mengalir pula, enak dibaca dan menyublim dalam hatiku! Makasiy banyak sudah dibagi 'rahasia' perjalanan kepenulisannya ya Mba sayang, mwah mwah mwah :-D

Aku mood nulisnya aja timbul tenggelam. Padahal pertama kali nulis dan dimuat di majalah jaman masih SMP kelas tiga! [keliatannya emang condong ke non fiksi, hehehe. Sayangnya gak kutekuni... baru skr tersadar, berjuang lewat pena juga penting, supaya meninggalkan jejak walau kita sudah mati :-)

Btw, aku jadi kepingin baca fiksi Mba Rini yg pertama, judulnya apa ya Mba??? Apakah yang Happy Go Lucky itu?
sophiazahra wrote on Apr 26
Berbagi terus resep nulisnya ya...rin, manfaat banget buat modal pemula seperti saya nih..
rinurbad wrote on Apr 26
Mbak Pop, suatu saat pasti bisa. Aku yakin Mbak mampu, kok:)

Mbak Nita, whoa..tapi jagoan nulis cerita anak. Hebat!

Ima, makasih kembali.. iya, Happy-Go-Lucky novel pertamaku. Kalo cerpen ada yang kupublish di MP ini.

Mbak Sophia, insyaAllah.. terima kasih telah menyempatkan berkunjung dan membaca:)

bruziati wrote on Apr 26
Ow, Happy Go Lucky aku pikir non fiksi, ternyata novel toh? Aku liat di perpustakaannya Zoe waktu itu, tapi karena nggak begitu suka non-fiksi, nggak jadi minjem....
rinurbad wrote on Apr 26
Oh, di Zoe ada juga? Thanks infonya, Ci. Kalo gitu, LYM juga nggak begitu suka donk:p
dedew80 wrote on Apr 28
aku juga serabutan mbak, lagi coba belajar nulis tinlit..pengeen banget..
rinurbad wrote on Apr 28
Dedew belajar nulis tinlit? yang beneeer? Dirimu kan udah bisa nembus Cerkit, Jeng
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help