Posting ini untuk memenuhi janji saya kepada
Ima.
Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, saya tidak langsung memilih
genre. Prosesnya mengalir begitu saja, sampai saya menyadari bahwa
karya yang berjenis non fiksi lebih banyak daripada yang fiksi.
Bukan berarti saya tidak suka fiksi. Bacaan pertama saya sewaktu kecil
adalah fiksi. Tulisan pertama yang diterbitkan di media pun berupa
cerpen.
Kalau mau dirunut, mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang.
Sewaktu kuliah, saya mengambil spesialisasi linguistik dan lebih
sering berkutat dengan buku teks yang berbau teori dibandingkan roman,
drama dan puisi. Pekerjaan terakhir (baca: di kantoran) yang
berhubungan dengan menulis ialah mengisi content situs web.
Tetapi ketertarikan untuk berfiksi-ria tetap tumbuh, walau tidak
berbanding lurus dengan rasa percaya diri akibat kurangnya berlatih.
Saya memulai dengan cerpen anak dan naskah komik. Yang kedua ini
dengan pertimbangan punya sedikit bekal dari perkuliahan dulu. Cerpen
anak tak berarti mudah, tetapi sifatnya yang serba singkat
memungkinkan saya untuk belajar lebih giat lagi dalam waktu dan
referensi yang masih terbatas. Kepercayaan diri meningkat saat tujuh
cerpen saya terpilih untuk dibukukan bersama penulis-penulis lain
(ingat kejadian ini, Donna dan Isman?).
Setelah menerbitkan empat buku non fiksi karya bersama dan satu buku
solo, barulah saya menulis novel secara serius. Itupun karena
ditawari. Naskah novel saya itu pun masih kental rasa non fiksinya,
dengan narasi panjang dan sedikit dialog.
Perlu saya sampaikan bahwa tahap-tahap ini bersifat kasuistis. Banyak
penulis lain yang mahir dalam fiksi dan lincah pula di non fiksi. Saya
juga sempat mengenal bentuk non fiksi yang lebih cair, dengan selipan
dialog dan bahasa yang terkesan seperti bercerita. Keasyikan
mempelajari non fiksi gaya baru ini tidak menyurutkan rasa suka saya
pada fiksi, meski untuk nyemplung total di sana saya memerlukan usaha
ekstra.
Jadi yang saya lakukan sejauh ini hanyalah mengikuti kata hati dan
'sang pena' (lebih tepatnya, sang jari di keyboard). Tak jarang
niatnya menulis fiksi, lho..lama-lama kok jadi lebih cocok ke non
fiksi. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah, saya masih merengkuh
cerita anak sebagai wilayah fiksi terdekat untuk menuangkan ide-ide.
Menyuburkan perfiksian di pulau gagasan dalam benak saya dengan banyak
membaca. Yang paling penting, saya tak mau memaksakan diri. Non fiksi
pun tak semuanya saya kuasai.
Semoga jurnal ini bermanfaat.
sumber foto: sxc.hu