 Saya memutuskan untuk menjemput pulang beberapa buku anak yang tadinya hendak diwariskan kepada si Tengah dan si Bungsu. Mereka tak pernah menyentuhnya lantaran, mungkin, sudah terlalu besar dan beralih minat. Mengamati rak buku si Tengah yang nano-nano, saya tersenyum juga. Ada Philophobia-nya Tessa Intanya, beberapa novel Sitta Karina, Zauri, Upit Kejepit, buku nama bayi saya, Pacarku Tulalit, Dan Hujan Pun Berhenti, Kambing Jantan, Fairish, Chicken Soup for the Teenagers Soul, buku Dale Carnegie untuk remaja, Query Pita, Ayat-ayat Cinta, berbaur dengan buku agama dan buku pendukung pelajaran yang bersampul warna-warni.
Sampai rumah, saya bernostalgia dengan Tamasya Panci Ajaib karangan Edith Unnerstad. Lumayan, memanaskan otak yang sempat mogok diajak baca kemarin-marin. Minggu malam saya bahkan menuntaskan baca Interlude-Jeda. Sebuah pertanda baik.
Saat meneruskan tulisan fiksi yang baru 6 halaman, saya terpaku sejenak. Ketahuanlah sebab kelambatan prosesnya. Saya asyik mengutak-atik tema besar yang memang banyak cabang untuk dikembangkan. Seperti biasa, tak ada ide untuk sub plot. Semua konflik mengacu ke pokok masalah itu. Kali ini saya tak mau mempermasalahkannya. Ada beberapa novel, yang penulisnya saya kagumi, tetap menarik meski fokus dari awal sampai akhir. Tak menjemukan. Jadi pede aja, deh.
sumber foto: sxc.hu 
 | Wah, mulai nulis fiksi Mba, cool! :-p
|
 | Huehehehe, aku juga sering Mba lemot gini :-)
Mungkin kudu berlibur dulu kali, krn otaknya sedang overload :-p Mungkin... :-) |
 | Wuaaaaaa ... jadi kangen nulis lagi. |
 | Ima, thanks. Kalau mulai sih sering, tapi jarang tuntas hehehe..jangan ditiru, ya. @balzach, makasih. Semoga lancar kerjaannya. Kang Iwok, saatnya akan tiba kan?:) |
| |