 Terilhami oleh posting Dedew, saya ingin bercerita sedikit mengenai perubahan judul dalam karya berupa artikel atau buku. Alhamdulillah, sebagian besar tulisan saya yang berbentuk esai dan cerpen sejauh ini 'lolos' judulnya. Beberapa di antaranya adalah: 1. Sandal Sinta (cerita anak)
2. Ketika Lala Benci Sekolah (cerita anak)
3. Gairah Warnet Kota Kembang (artikel)
4. Asal Bos Senang (artikel karir)
5. I'm Gonna Make You Love Me (cerpen dewasa)
6. Satu Sangkar Dua Burung (cerpen remaja)
7. Pengantin Santai (esai)
Justru artikel pertama saya yang dimuat di HU Pikiran Rakyat-lah yang diubah judulnya. Itu dikarenakan tulisan saya mengenai Sharon Stone digabungkan dengan tulisan orang lain mengenai Mira Sorvino. Hasilnya jauuuuh dari konsep awal, menjadi: Siapakah Wanita yang Paling Seksi, Sharon Stone atau Mira Sorvino? Waks..untung nama saya disingkat dan ditulis kecil di akhir artikel.
Ulasan film pada tahun 2000 di koran yang sama pun berubah total, dicocokkan dengan 'penyesuaian' oleh redaktur di bagian akhir artikel. Saya lupa judul aslinya, yang pasti mengandung kata 'Arogansi Amerika' dan disulap jadi End of Days Hanyalah Khayalan Sineas Amerika.
Buku Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor semula berjudul Bekerja Tanpa Kantor. Penerbit membicarakan perubahan ini lebih dahulu, dan alasannya cukup dipahami. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati juga kreasi editor, seperti halnya Tips Nyaman Berponsel-ria. Tidak masalah, mengingat judul dari saya masih standar banget dan kurang 'menohok' perhatian. Happy-Go-Lucky awalnya adalah Kutu Loncat. Setelah melalui diskusi dengan editor, saya menambahkan sub judul Bekerja dengan Cinta dan disetujui.
Sebuah draft non fiksi kumpulan esai yang pernah diproses di sebuah penerbit tiga tahun lalu dikritik habis penjudulannya oleh editor. Saya tak bisa mengatakan judul aslinya, sebab sedang disiapkan untuk dicetak oleh penerbit lain:) Yang terang, editor di penerbit sebelumnya menilai pilihan judul saya - terutama untuk esai-esai di dalamnya - seperti film Indonesia jaman dulu. Wajar saja karena penerbit itu memproduksi buku-buku berkaver dan judul serba gaul. Toh, ketika saya alihkan, penerbit yang sekarang tidak bermasalah dengan ketentuan judul saya. Namun bukan berarti saya menarik naskah tersebut karena judul semata, lho:)
Intinya, perubahan judul selalu bisa dibicarakan kenapa dan bagaimana. Ada subjektivitas menyangkut kemenarikan suatu pokok bahasan. Sejauh alasan editor dapat diterima, berubah tidak jadi soal. Kalau menyangkut media cetak, memang sulit, mungkin karena tenggat harian sehingga tak sempat berkomunikasi dengan penulis. 
 | yang penting judulnya nyambung dengan apa yang ditulis saja... hehehehe... |
 | pengalamanku, kayaknya berimbang deh antara yang diubah judulnya dan yang enggak.. Sejauh ini sih yang diubah oleh editornya jadi lebih menarik he..he.. sering jadi kepikir, "iya ya.. kok kemarin gak kepikir bikin judul kayak gini sih?" |
 | Begitulah warna-warni dunia penulisan Lin, Fita:) |
 | cerpenku yg pernah diubah judulnya itu di Girls...hehe...:) |
 | Saya malah banyakan judul yang dikasih editor. hihihi ... kacau ya? yang saat ini ngantri terbit malah belum dapet judul terus. padahal udah bikin lebih dari 5 judul alternatif, duuuuh |
 | Ichen, :)
Kang Iwok, belum ada yang pas juga? Waduh..bingung banget ya.. |
 | Assalamu'alaikum... Bagi-bagi ilmu 'menulisnya' dong mbak... Pengen deh punya kumpulan cerpen yang diterbitin n digemari banyak orang. |
 | Waalaikumsalam wr.wb Saya coba bagikan apa yang saya punya di blog ini. Kumcer, saya sendiri belum menerbitkannya. Semoga Anda berhasil. Salam. |
 | Hehehe, kalau judul Kutu Loncat mungkin agak berkonotasi negatif ya Mbak. |
 | Sepertinya begitu, Mbak Lei:) |
| |
|