Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menonton siaran berita kriminal. Karena memang kurang suka nonton TV, berita yang disantap amat terseleksi. Tayangan kriminal termasuk yang dihindari karena bikin paranoid, baik berada di rumah maupun bepergian (jadi mau ke mana, dong?:p).
Untuk membunuh kejenuhan di sela mendampingi keponakan bikin skripsi (baca: biar dia nggak ngegame melulu), saya membaca The Naked Face. Nyambung juga, karena ada psikoanalisisnya..hehehe, maksa. TV cukup sering menyala, sehingga tidak jarang pindah saluran ke berita yang isinya lagi-lagi kriminal.
Entah ada hubungannya atau tidak, selagi membaca novel ini, saya relatif 'terbiasa' menyimak berita tindak kejahatan. Pembunuhan seorang wanita muda di kamar kos, misalnya, yang beruntun dengan tewasnya seorang lelaki tanpa identitas akibat jeratan di leher. Keduanya diberitakan beruntun sehingga saya berpikir, "Wah, ini bisa jadi novel thriller yang seru."
Sinkron atau tidak, keseringan nonton TV tidak sehat. Mesti dihentikan segera. Kebanyakan perbuatan yang percuma, contohnya waktu nonton pledoi Arthalyta malah terdorong mengomentari make-up tebalnya. Duh, buang-buang listrik aja.
Mbak Rini... Ada rencana tidak? Menggunakan tampilan 'megah' Artalyta, terutama alisnya yang menjulang ke angkasa, sebagai karakter dalam fiksi? Hihi ;-)