Rini's posts with tag: anak-anak
 Suatu hari saya menemani si Tengah nonton TV. Waktu itu tayangan di sebuah saluran mengangkat tema Mitos Bebek Menunjang Vitalitas.
Jujur aja, saya sering geli sendiri karena ingat dalam konteks apa kata 'vital' diperkenalkan dahulu. Mendadak si Tengah bertanya, "Vitalitas itu apa, Tante?"
Glek. Saya berpikir sejenak. "Tenaga."
Adegan pertama menerangkan sejelas-jelasnya maksud tema tayangan itu. Suami-istri makan bersama, menyantap hidangan serba bebek. Terakhir si suami meneguk madu campur telur bebek. Kemudian mereka bergandengan dan bilang, "Yuk." Saya melirik si Tengah. Biar gimanapun dia sudah remaja dan dapat pendidikan seks dari sekolah. "Kamu ngerti apa maksudnya yang tadi?"
"Yap," ia mengangguk. Syukurlah dia tak terus membahas, malah tertarik pada adegan seorang reporter mengejar bebek dan berusaha menangkapnya di sawah. "Aku mau jadi reporter kayak gitu!" katanya penuh semangat.
"Boleh," saya mendukung. Malah saya teringat janji yang sudah lama belum dipenuhi, memperlihatkan buku nikah. Dasar pikooon:p 
 Alhamdulillah, kegembiraan datang susul-menyusul. Siang ini saya menerima kiriman dari Nunik, buku 40 Kisah Pengantar Anak Tidurterbitan GIP. Makasih ya, Mama Rexy. Karena untuk mengantar tidur, fotonya di atas bantal (seperti biasa:p). Saya tergolong balita (bawah lima puluh tahun) yang doyan baca sebelum tidur, hehehe.. 
 Insomnia saya masih berlanjut. Tadi malam, saya terjaga dari jam dua belas sampai sekitar setengah tiga pagi. Sambil mengisi perut yang mendadak kruyukan, saya membaca sebuah novel anak koleksi masa SD. 'Liburan di Peternakan Cherry' karya Enid Blyton, terbitan 1986.
Nggak pernah bosan menyimak uraian Tammylan mengenai kehidupan satwa di alam terbuka. Cara-caranya menyesuaikan diri dengan flora dan fauna. Pengetahuannya yang luas perihal aneka hewan. Dan yang selalu saya ingat, gerakan dan suara sangat perlahan agar binatang-binatang tidak kaget.
Wilayah kediaman kami tergolong sunyi sepi. Para ibu dan ayah rajin mendiamkan anak mereka bila sedang rewel. Apakah karena itu para belalang, capung, lintah, congcorang, rama-rama, kepik, kumbang, ulat bulu, tikus, merpati, burung hantu, kaki seribu, tonggeret, dan kawanannya betah berada di sekeliling rumah? Dalam novel ini, diterangkan juga soal penglihatan dan pendengaran yang tajam jika terbiasa berinteraksi dengan hewan. Apakah karena itu jugakah saya mudah mendapati seekor ulat bulu yang hitam legam di atas karpet biru gelap kami di ruang tengah sebelum terinjak?
sumber foto: sxc.hu 
 Saya memutuskan untuk menjemput pulang beberapa buku anak yang tadinya hendak diwariskan kepada si Tengah dan si Bungsu. Mereka tak pernah menyentuhnya lantaran, mungkin, sudah terlalu besar dan beralih minat. Mengamati rak buku si Tengah yang nano-nano, saya tersenyum juga. Ada Philophobia-nya Tessa Intanya, beberapa novel Sitta Karina, Zauri, Upit Kejepit, buku nama bayi saya, Pacarku Tulalit, Dan Hujan Pun Berhenti, Kambing Jantan, Fairish, Chicken Soup for the Teenagers Soul, buku Dale Carnegie untuk remaja, Query Pita, Ayat-ayat Cinta, berbaur dengan buku agama dan buku pendukung pelajaran yang bersampul warna-warni.
Sampai rumah, saya bernostalgia dengan Tamasya Panci Ajaib karangan Edith Unnerstad. Lumayan, memanaskan otak yang sempat mogok diajak baca kemarin-marin. Minggu malam saya bahkan menuntaskan baca Interlude-Jeda. Sebuah pertanda baik.
Saat meneruskan tulisan fiksi yang baru 6 halaman, saya terpaku sejenak. Ketahuanlah sebab kelambatan prosesnya. Saya asyik mengutak-atik tema besar yang memang banyak cabang untuk dikembangkan. Seperti biasa, tak ada ide untuk sub plot. Semua konflik mengacu ke pokok masalah itu. Kali ini saya tak mau mempermasalahkannya. Ada beberapa novel, yang penulisnya saya kagumi, tetap menarik meski fokus dari awal sampai akhir. Tak menjemukan. Jadi pede aja, deh.
sumber foto: sxc.hu 
 Pada tanggal 28 April lalu (pukul 20.36, jadi sudah masuk 29), lahir seorang keponakan yang sudah lama saya tunggu. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, meskipun terbelit tali pusar. Beratnya 3,8 kg dan panjang 52 cm.
Teteh, kakak sepupu saya, meminta saya menggendongnya. Ini pertama kalinya saya menggendong bayi di bawah umur 6 bulan (melirik Nad). Perasaan tenang hadir karena ibunya mempercayakan saya melihat dari dekat bayi yang sangat kalem itu, tak pernah menangis ataupun rewel. Sama dengan kakak-kakaknya.
Kakaknya nomor dua, Windi, wanti-wanti agar saya yang memberikan nama. "Kan punya koleksi nama bayi," katanya. Saya sendiri tak ingat pernah memberitahu keponakan yang termasuk paling dekat ini (karena sama-sama anak nomor dua:p). Sejak lama memperhatikan dari kandungan ibunya, saya mantap memberi nama si bungsu Muhammad Rizki. Simpel saja. Teriring doa agar rizkinya senantiasa dimudahkan. Amin.
Saat menjenguk Rizki, saya tidak membawa digicam. Khawatir juga memotret bayi umur sehari dengan blitz. Maka saya pampang foto keluarganya saja, dalam pernikahan kakak tempo hari. Rizki masih berada dalam perut waktu itu:) 
 Tatkala menulis jurnal ini, saya teringat seorang keponakan di Jawa Tengah. Ia pernah menghubungi saya untuk mengkonfirmasikan harga Laskar Pelangi yang didapatinya di Semarang. Mengingat keponakan saya ini bergerak di bidang pendidikan, ia merasa perlu membaca novel tersebut.
Beberapa waktu kemudian, saya menanyakan kesan dan pendapatnya. Jawabannya benar-benar di luar dugaan, "Baru dipegang aja, belum dibaca." Gemes, deh. Minat bacanya memang bermasalah, kalah oleh adiknya yang bekerja di bidang sejenis tetapi masih sempat menjenguk perpustakaan terdekat.
Soal buku keponakan-keponakan, saya sering bertindak sebagai Tante Galak. Saat si Tengah hendak ulangan umum dan mendadak kehilangan buku pegangannya, saya biarkan ia mencari sendiri meski makan waktu berjam-jam. Melihat buku si Bungsu - apalagi yang saya berikan - tergeletak di lantai, saya langsung berseru, "Lima menit nggak dirapikan, milik negara ya!" Maksudnya saya akan langsung mengambilnya kembali dan takkan pernah memberinya lagi.
Si Bungsu tahu saya tidak main-main. Lucunya, setiap kali saya datang ke rumahnya, ia memperlihatkan jejeran buku pemberian saya yang ditata rapi. Perkembangan minat baca berpengaruh langsung pada prestasi belajar mereka. Dalam rapor, tercantum poin-poin seperti Pemahaman dan Membaca. Di situlah saya memperhatikan komentar guru mereka, bukan sekadar angka.
sumber foto: sxc.hu 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Celia Warren |
SMS dari Nunik Utami pagi ini: 'Ya ampun, bukunya enaak bgt! Cakeeeep bgt! Seneng bgt bs jd penerjemah buku keren begini.' http://nunikutami.multiply.com
 Kalau sudah tergerak berbuat sesuatu, saya akan segera melakukannya. Demikian pula si Tengah. Maghrib baru saja turun sempurna saat saya dan Mas Agus mendengar suaranya di halaman, diantar omnya yang lain dengan motor. Ia terpesona melihat lampu-lampu mobil yang melintasi jalan tol dari teras rumah, sementara Mas Agus merapikan 'kantor'nya agar si Tengah bisa duduk nikmat dan melakukan kegiatan favoritnya: makan mi goreng.
Laptop saya matikan, buku-buku masuk kolong meja. Bukan karena takut dipinjam, tapi agar saya dapat menyimak dan menanggapi obrolan si Tengah dengan atensi penuh. Sewaktu kecil, bila saya atau Mas Agus (juga orangtuanya) meleng, ia spontan bernyanyi, "Teu diwaro, teu ngeunah hate.." (Nggak dianggep, nggak enak hati)
Sambil mencicipi manisan belimbing dan kerupuk kampung (lupa namanya), ia berbincang-bincang dan menanyakan segerobak hal. Mulai dari mengapa kami menabur garam di ambang pintu sampai mendiskusikan cita-citanya kelak. Saya tak tahan melawan kantuk kendati sempat menemaninya nonton Indonesian Idol. Alhamdulillah, tak ada angin kencang atau hujan. Masih bisa tergelak-gelak menyimak komentar si Tengah terhadap apa saja yang muncul di layar kaca. Tentang Fedi Nuril yang rambutnya belah tengah di iklan sebuah kartu GSM, 3 diva yang dikatainya 'tua-tua centil', juga soal gorila yang menurut saya lucu banget di iklan sebuah operator.
Setelah tidur nyenyak sekali, si Tengah bangun dengan segar pagi harinya dan melancarkan sejumlah celotehan lagi. Kalau sudah berhadapan dengan hal-hal yang dipandangnya 'aneh' (karena tidak biasa), sama sekali ia tak terlihat akan masuk SMA. Ia meminta saya memegang congcorang untuk mengetahui apakah serangga itu menggigit, melonjak gembira melihat merpati berjalan memasuki halaman kami, dan burung kutilang yang melompat-lompat riang di kebun seberang. Matanya membulat melihat tumpukan berkas Mas Agus dan mereka asyik bercakap-cakap mengenai dunia kerja.
Sayang, ia harus pulang sebelum kangkung kesukaannya matang. Tak apalah, meski kunjungan perdana ini singkat tapi si Tengah akan kembali. Mungkin pasca ujian. Katanya ia berminat 'memanjat' gunung yang nampak jelas puncaknya dari halaman samping rumah kami. Terima kasih, Nak. Keberadaanmu tak hanya menceriakan, tetapi menerbitkan ide-ide bagiku. 
 Rangkaian acara pernikahan kakak belum benar-benar usai, tapi saya sudah harus kembali mendampingi Mas Agus di rumah. Mama sudah berkutat dengan tradisi 'mulang', yakni mengirimkan makanan kepada keluarga dekat yang berhalangan hadir namun menitipkan angpau. Saat membahas ini dengan seorang sahabat (yang tinggal di pedesaan seperti kami), dia bilang kalau ikut 'aturan' lebih ribet lagi. Harus benar-benar senilai. Ngado piring, dikasih piring juga. Makanya kasian anak bungsu, karena mulangnya lebih banyak.
Namun bukan berarti saya sudah lepas total dari urusan keluarga. Kala menjenguk para keponakan, mereka manyun mengetahui kami akan pulang. Ngalah, deh, sebab telah berkali-kali kami menolak nginap. Bukan untuk bersantai, tentu saja, tetapi memantau perkembangan anak-anak dengan mengobrol. Seperti si Tengah yang penuh semangat mengatakan, "Tante harus baca Ayat-ayat Cinta. Ulysses Moore juga rame banget! Trus bukunya Sitta Karina rameee pisan!" Saya menjawab, "Jadi aku harus baca yang mana dulu?" Dia tersenyum lebar. Senang sih melihat keceriaannya di tengah rasa bete menghadapi UAN. Ia dan si Bungsu menghadiahi saya pelukan. Si Tengah karena saya belikan All About Prom Nite yang cocok dengan kegiatannya sebagai panitia prom nite nanti, si Bungsu karena saya hadiahi buku terjemahan Asyiknya Menulis Laporan sesuai tugas sekolah (busyet deh, kelas 1 SMP ada pelajaran Pengembangan Diri segala). Ibunya pun saya belikan buku psikologi Ketika Anak Remaja, yang langsung dinikmati dengan asyik.
Saya memberikan buku penuh ilustrasi itu lantaran memang diperlukan oleh si Bungsu. Sebenarnya saya bertekad 'mengeluarkan' dia sedikit demi sedikit dari dunia kanak-kanak yang begitu ia nikmati, dengan memperkenalkan bacaan yang agak lebih berat. Tetapi rupanya ia ingat pada Ulysses Moore dan bertanya, "Buku lanjutannya belum ada ya, Tante?" Heheh..memang nggak boleh ngakalin anak:p
Gairah membaca si Tengah makin oke aja, sampai diskusi panjang lebar. Rupanya ia ingin memiliki buku Kisah 25 Nabi. Catat deh..nggak ada salahnya karena ia baru saja khatam Al Quran. Saya godain, "Kalau di desa, kamu udah boleh dinikahin lho." Makin seru setelah kumpul dengan keponakan perempuan terbesar sebelum kembali ke kantor. Mereka menghendaki saya nginep lagi sih, tapi pekerjaan benar-benar tak bisa ditunda. Si Bungsu dadah-dadah sampai ribuan kali di hadapan guru ngajinya. Dalam perjalanan, sudah terasa capek dan tak kuat kerja tadi malam. Tapi seperti kata Sara Henderson dalam Chicken Soup for the Working Woman's Soul (halaman 25), 'Lama sedikit dengan kehidupan dengan mereka sebelum mereka tumbuh besar dan pergi. Memangnya kenapa jika target karierku tidak sesuai dengan rencana awalku?'

  Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha menerjemahkan sebaik mungkin. Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi ZonaRawan, Jones' Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar aliterasinya utuh, dan ' wd like 2 c my band m'bers agn menjadi inginbtm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa. Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama. Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu. Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng. Hal-hal seperti ini terkesan 'sepele' tetapi merupakan bekal penting di kemudian hari. 
 Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit, mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun hanya sekilas, dari milis Apsas. Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor, saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8 (teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut: Hari Senin diguyur hujanAir menggenang di semua saluranSelasa, angin sungguh kencangMematahkan cabang-cabang Persoalan lain timbul kala saya menghadapi clerihew (halaman 12). Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling. Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa 'naked' diterjemahkan 'hanya pakai baju dalam'. Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini. Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti ' Kucingkuning berkeliling di tanah kering' (halaman 20). Alhamdulillah, koreksi editor di buku ini hampir tidak ada. 
 Inilah buku yang paling cocok dikonsumsi orang dewasa, selain anak-anak. Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi: mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur cerita. Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex, nama seorang klien yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu. Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal klien saya jauh lebih muda:p  Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa ' Kenneth Grahame's gentle,friendly Reluctant Dragon.' Konteksnya simbol hewan dengan karakter berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang familiar bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan 'kera yangsakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti'. Sebelumnya saya mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu. 
 Pekerjaan ini saya dapatkan 'tidak sengaja'. Mbak Andar dari penerbit Tiga Serangkai memposting lowongan freelance di milis bahtera. Tadinya saya pikir, akan kalah saing dengan para ahli bahasa senior di sana. Alhamdulillah, Mbak Andar menanggapi email saya. Setelah bincang-bincang singkat, termasuk kesanggupan menerima materi dalam format PDF dan kecocokan jadwal, saya memulai tugas ini. Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat. Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu. Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya, sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya. Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru, meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga. Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26). Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah Anda menebak isi surat di bawah ini? Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolongtak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumahseminggu, ke sumur!Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu. 
 Kita tidak ingin surat kita terlihat seperti halaman diary atau autobiografi, misalnya 'Keadaanku sejauh ini'. Hindari mengawali kalimat dengan 'Aku' (walaupun boleh saja menggunakannya sesekali!)
(halaman 12) 
 - Tips
Sangat dianjurkan menulis jenis cerita yang kalian sukai.
Bacalah buku dengan genre berbeda sebanyak mungkin. Makin banyak membaca, makin meningkat kemampuan menulis kalian.
(halaman 5)

 Dalam penulisan puisi, menggambarkan atau membandingkan sesuatu seolah-olah seperti hal lain disebut metafora, yakni pemakaian kata sebagai lukisan atau gambaran suatu persamaan atau perbandingan misalnya, 'angin adalah singa yang mengaum'.
(halaman 10) 
 Meresensi Buku Cerita atau Buku Bergambar
Beritahukan lokasi cerita dan gambarkan karakter-karakter utamanya kepada pembaca. Jelaskan hubungan antarkarakter tersebut. Apakah mereka satu sekolah atau bertemu secara kebetulan? Jelaskan plotnya, tapi jangan terlalu detail. Lalu, berikanlah pendapat kalian tentang buku itu. Apa yang kalian sukai dari ceritanya? Plotnya meyakinkan? Karakternya masuk akal? Memesona? Jika disertai ilustrasi, bagian apa yang kalian sukai? Apakah ilustrasi tersebut sesuai?
(halaman 12) 
 Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Siang ini saya dan Mas Agus meluncur ke Tisera mencari seri Asyiknya Menulis. Langsung ketemu di rak paling depan dari arah kasir. Saya membelai-belainya dengan penuh sayang, karena setelah sekilas membuka..sedikit saja yang kena koreksi editor. Alhamdulillah. Mumpung ke toko buku, saya menyambar Catatan Hati di Setiap Sujudku karena ingin baca tulisan Nunik dan memenuhi janji pada keponakan tersayang.. Ayat-ayat Cinta! Alhamdulillah dia sudah dipinjami trilogi Laskar Pelangi, jadi tak perlu dibelikan lagi:p  Langsung deh potret-potret dan membalik-balik perlahan halaman 365yang dijemput dari agen dalam perjalanan pulang. Nanti saya akan cerita 'di balik layar' keempat buku ini.
 Benar kata orangtua, bangun pagi menjemput rizki. Saya melonjak senang mendengar dering ponsel dan mendapati nama Tiki Kopo di layar. "Bu Rini, ada paket buku dari Cimahi," kata agen langganan saya itu. Aah, airmata saya berebutan mengalir. Meskipun buku belum sampai ke tangan (harus dijemput nanti sore di agen Jatinangor) dan saya sudah dikabari kemarin sore oleh penulisnya, tetap saja ini hadiah yang spesial. Mendapat kesempatan belajar menulis cerita anak langsung dari sebuah karya menakjubkan karangan penulis, penerjemah dan editor kesayangan saya, sekaligus mengobati kesedihan lebih dari 20 tahun lalu ketika saya kehilangan buku dongeng berukuran kurang-lebih sama. Mbak Ai, terima kasih banyak. Harus siap-siap tisu nih biar nanti pas baca, halaman bukunya nggak basah. Itulah yang terjadi ketika membaca Misteri Burung Merah, Samurai dan Shiloh. Tiga ratus enam puluh lima hari saya akan bertambah indah dengan keberadaan buku ini di rak. Bila keponakan-keponakan datang bulan depan, biarlah mereka menangis meraung-raung untuk mendapatkannya..  Ulasan menyusul. Mau tahu cerita sang penulis kala berjibaku 'melahirkannya'? Simak juga fase kerja editornya. sumber foto: multiply Mbak Ai 
 Sore ini Pakcik Ahmad, seorang rekan Apsasian (sebutan untuk member milis Apsas), berkomentar sbb:
selamat teh Rini.. saya sudah lihat buku2 ini di Gramedia Pondok Indah. berbaur dalam tumpukan buku2 anak2 yang campur aduk. yang saya baca 2, how to write stories dan how to write poems... kepada 2 panglimaku aku katakan, "buku ini yg terjemahkan kawan baba lho.. ini namanya Rini Nurul Badariah".
aku selalu senang ke toko buku untuk menemukan banyak nama-nama yang aku kenal.
menurutku buku How To Write Poems nya cukup simple dan dapat dijadikan text book untuk para pembimbing kelas sastra pada murid2 pada tahap awal mereka mengenal puisi. bisa-bisa ini menjadi step 1 sebelum membaca Menapak Ke Puncak Sajaknya Hasan Aspahani...
salam Daun Sirih
Saya terharu sekali. Mendadak pusing kepala jadi nggak terasa:-) 
| |