Rini's posts with tag: bacaan
 Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menonton siaran berita kriminal. Karena memang kurang suka nonton TV, berita yang disantap amat terseleksi. Tayangan kriminal termasuk yang dihindari karena bikin paranoid, baik berada di rumah maupun bepergian (jadi mau ke mana, dong?:p).
Untuk membunuh kejenuhan di sela mendampingi keponakan bikin skripsi (baca: biar dia nggak ngegame melulu), saya membaca The Naked Face. Nyambung juga, karena ada psikoanalisisnya..hehehe, maksa. TV cukup sering menyala, sehingga tidak jarang pindah saluran ke berita yang isinya lagi-lagi kriminal.
Entah ada hubungannya atau tidak, selagi membaca novel ini, saya relatif 'terbiasa' menyimak berita tindak kejahatan. Pembunuhan seorang wanita muda di kamar kos, misalnya, yang beruntun dengan tewasnya seorang lelaki tanpa identitas akibat jeratan di leher. Keduanya diberitakan beruntun sehingga saya berpikir, "Wah, ini bisa jadi novel thriller yang seru."
Sinkron atau tidak, keseringan nonton TV tidak sehat. Mesti dihentikan segera. Kebanyakan perbuatan yang percuma, contohnya waktu nonton pledoi Arthalyta malah terdorong mengomentari make-up tebalnya. Duh, buang-buang listrik aja. 
 Kemarin sore, saya menemani keponakan jalan-jalan ke Jatos. Kasihan, jauh-jauh datang 'cuma' untuk terperangkap di kaki gunung dan berkutat dengan skripsinya. Saya didrop Mas Agus yang perlahan-lahan nyetir karena motornya belum sehat juga, sementara ponakan naik ojek duluan. Sampai sana, ternyata dia diturunkan bang ojek di Plaza Pajajaran. Haduh..
Mbak yang jaga di pintu masuk Tisera sudah hafal wajah saya, jadi kami boleh masuk tanpa titip jaket. Selain angin sore, AC mal lumayan dinginnya. Keponakan bilang agak pusing. Tapi kami sempat melihat-lihat rak diskonan (ada Nora Roberts yang belum saya punya, cuma otak sedang kocar-kacir dan nggak ada rencana beli buku) serta sejumlah buku baru. Ia tertarik pada Sherlock Holmes terjemahan Mizan, namun juga tidak belanja.
Seperti biasa, saya 'cuci mata'. Ada 365-nya Mbak Ai, 99-nya Kang Iwok di Special Corner, Seri Asyiknya Menulis terjemahan saya yang --kalau tidak salah periksa-- naik beberapa ribu, Happy-Go-Lucky!, Virgin Mary, dan Kerjaku Ibadahku. Berminat juga sih terhadap buku anak-anak berbahasa Inggris terbitan Erlangga for Kids yang berilustrasi. Kapan-kapan deh, harganya lumayan soalnya.

 Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini. Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel. Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri. Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The NakedFace-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget. Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli terjemahannya, dompet bisa nangis. Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of TwoCities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik, keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-) Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya. Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa Prancis! Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-) 
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 Kemarin Subuh keponakan tiba di rumah kecil kami, mengobrol ini-itu tentang kuliahnya. Tentang dosennya yang nyentrik abis (kata dia, 'kayak Black Magic Woman'). Tentang skripsinya, yang membahas novel Lord of the Rings, karena dia memang doyan sekuel, fantasi dan kolosal. Tentang usulan dosennya untuk ganti topik ke puisi T.S Eliot dan novel Of Mice and Men, tapi dia tidak suka. Tentang keharusan berbahasa Inggris sejak seminar proposal sampai sidang akhir kelak.
Habis-habisan dia meledek saya karena makan melulu. "Lik Rini, hahaha..jam segini udah makan," katanya sambil main Bookworm. Saya tersenyum juga sebab ia memuji rawon jadi-jadian bikinan saya, dan bilang supaya dia nggak usah diet lagi.
Untuk dia, saya buka-buka Teori Psikoanalisis Freud. Membaca lagi telaah strukturalisme Lucien Goldmann dan kajian sastra intrinsik. Mencari-cari file teori Saussure dan membaca ulang teori motivasi Abraham Maslow. Saya tidak bisa bantu dalam urusan novel JRR Tolkien tersebut karena belum baca (dan ia sendiri lupa membawanya:p).
Faktor X dalam obrak-abrik skripsi itu jamak terjadi. Dia hanya stres oleh tekanan orang-orang yang tidak paham bahwa kuliah sastra bukan sulap sekedip mata. Hanya perlu keluar sejenak dan main Hangaroo. Ia menceritakan kedua temannya yang sama-sama ambil topik novel Danielle Steel, hingga yang satu harus ganti objek. Saya menyarankan agar temannya yang satu lagi meneliti karya Sidney Sheldon saja.
Saat saya menyebut-nyebut Stephen King, ponakan bertanya, "Nah ini judulnya apa dong, Lik?" Di layar PC masih terbentang Hangaroo, soal Book Title/Author. Saya menjawab, "Pet Sematary."

 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 ..il y a trés longtemps que je ne fais la siéste. Il fait plus froid de jour en jour, mais je dois toujours faire le ménage. Pas d’excuse.
Il y a presque une semaine que je quitte une révision. Heureusement, j’ai encore du temps pour lire (avant coucher), mais jamais pour écrire. Je me trouve assez difficile de concentrer à des pages d’un livre. Une silence est tellement mon besoin.
Il faut arranger mieux mon emploi du temps. Je suis en train de penser à mes boulouts, puis un neveu va venir chez nous dans deux jours. Plus d’attention, certainement, car il devra finir le plus tôt que possible un grand devoir: son mémoire.
sumber foto: sxc.hu 
 Alhamdulillah, bisa beli Jangan Berkedip! langsung dari Donna dan Isman dengan harga spesial (baca: belum naik). Teman yang hendak dikirimi ternyata sudah punya, hohoho..rizki saya deh. Sudah pernah baca sedikit, tapi belum memilikinya. Ada tandatangannya lagi. Tengok-tengok Rumah Pernik, rupanya Master of the Game-nya Sidney Sheldon masih ada. Cihuy..15 ribu untuk buku hardcover meskipun second! Karya Sheldon satu inilah yang membius saya dalam pesona hingga jatuh cinta padanya 11 tahun silam. Waktu itu saya pinjam terjemahannya dari teman KKN, tamat 3 buku dalam semalam. Nggak nyangka juga buku ini begitu tebal. Begitu menyentuh bungkusan paket, saya tahu ada yang lain di dalamnya. Horeee..hadiah bros karya Donna sendiri! Memang suatu saat, saya pernah berbincang dengannya dan bilang bros pasti lebih sering dipakai dibanding aksesoris lain. Tak menyangka Donna mengingatnya. Senaaaang deh.  Bros itu saya sematkan di jaket bermotor saya (sok keren gini ya, kesannya saya yang nyetir) biar tidak terlalu maskulin. Warnanya yang coklat kehijau-hijauan bikin jaket ini sering saru dan disangka milik Mas ipar saya. Oh ya, minggu ini saya juga menerima hadiah dari seorang karib. Buku Bestseller Sejak Cetakan Pertama terbitan Indiva. Keren abis..walaupun belum kelar dibaca:) Alhamdulillah.  Donna dan Nursalam, semoga rizki kalian berlimpah ruah. Amin. 
 'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'
(halaman 259) Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini 
 Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk kesekian kali.
Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya ditolak di sana).
Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah jalan.
Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.
Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.
Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.
Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.
Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun demikian.
Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula saya.
Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang tahu:)..).
Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril. 
 (Lirik-lirik Nad, ehm..)
Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya. Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.
Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona. Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di ulasannya nanti:)
Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli novel ini.
sumber foto: amazon 
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
Bahwa keponakan satu ini 'mewarisi' temperamen saya yang cepat panas, saya sudah lama tahu. Tapi bahwa dia bisa ngamuk sama teman sekantor gara-gara buku, saya baru tahu kemarin lewat ceritanya di telepon.
Alkisah, si teman hobi membaca novel bahasa Inggris seperti dirinya. Ponakan saya dengan manis bertanya, "Aku boleh pinjem nggak? Sehari aja."
Dijawab: "Emang lo berani bayar berapa?"
Hanya satu kalimat, dan darah sudah naik ke ubun-ubun.
Beberapa hari kemudian, keponakan saya pulang kampung. Begitu kembali, ia menenteng buku sebagai pengisi waktu istirahat kantor. Si teman tertarik.
"Pinjem, dong." "Lo berani bayar berapa emang?" ponakan saya copy-paste dengan dendam kesumatnya.
"Lho, kok gitu sih?"
Ponakan saya malah bilang, "Kasian deh loe, gue punya banyak bukunya."
"Yaah, banyak duit dong?" Nggak jelas juga sih, kok pake 'yaah'?
"Ya iyalah, masa ya iya deh!!"
sumber foto: sxc.hu
Minggu lalu saya menerima paket dari Rani. Salah satunya buku Keajaiban Al Quran (Harun Yahya), hasil terjemahan duet dengan Mbak Ai dan diterbitkan Arkan (grup Sygma). Sudah lupa karena hampir 4 tahun sejak dikerjakan bareng. Senang deh menimang buku hard cover bertaburan foto ini. Tapi belum sempat membaca ulang. Pengen nyari file terjemahannya dulu, untuk melihat sejauh mana disesuaikan oleh editor. Rani membuat saya makin bahagia hari itu (saya inget banget, Jumat) dengan dua buku barunya. Kisah 25 Nabi yang berilustrasi warna-warni. Membukanya hati-hati sekali. Hatur nuhun, Ran. 
Kemarin adik saya telepon, ada paket dari Mizan katanya. Novel King Sulaiman yang dua hari lalu saya timang-timang di Togamas (lirik Kang Iwok). Senangnyaaa..jadi endorser, hehehe.
Pas buka email dan cek milis, terdapat kabar menggembirakan. Bursa Buku Murah Mizan lagi, dan sudah berlangsung sejak tanggal 16 kemarin. Ngiler euy.. Pada kesempatan yang sama, seorang sahabat memberitahukan link ini. Harga buku naik? Heks..wajar sih, BBM mau merangkak. Sebagai penulis, saya kasihan pada beban penerbit. Sebagai penyuka buku, harus siap-siap puasa deh..hiks.. Oh, buku-bukuku sayang..(memeluk dan membelai koleksi yang sudah dipunyai)..kian berhargalah kalian di mataku..
 Saya terjaga jam tiga teng. Begitu saja, seolah ada alarm alami. Sambil menunggu Subuh, untuk melawan dingin saya memutuskan untuk merapikan buku-buku di rak. Sesekali berbunyi ketika menggeser deretan, semoga saja Mas Agus tak terusik istirahatnya.
Tak bisa lagi diurutkan semua berdasarkan penulis/pengarang/editor. Beberapa masih, tapi yang sangat tebal kadang dipencarkan di rak berbeda. Demi ketahanan dan keselamatan. Saya masih menjunjung petunjuk pemakaian dari Mas Agus, tebal-tebal di ujung dan tipis-tipis di tengah. Kalo nekad dan ambrol, rasa bersalahnya bisa nggak ilang berhari-hari.
Mas Agus sendiri telah menata koleksinya di rak terbawah. Buku psikologi, statistik, hukum pemerintahan, heh..nampak It's Not What You Say nyelonong dekat besi penahan yang ia gunakan. Mungkin Mas Agus benar-benar tertarik membacanya sebab topiknya manajemen dan bisnis. Sementara ini saya ambil dulu, toh dapat ditarik lagi jika kapan-kapan diperlukan.
Novel dengan novel..terjemahan dengan terjemahan..misteri..novel remaja..kumcer..komik..buku how to tulis-menulis..buku sejarah..agama..how to lagi...terjemahan lagi..EYD selip di sini..buku saya sendiri nangkring di sana..beberapa non fiksi dari satu penerbit di situ. Fyuh, selesai tepat saat adzan berkumandang. Perasaan saya jadi lebih baik:)

Dua alasan untuk menyiapkan rak lain adalah: 1 Rak buku di kamar depan sering rubuh 2. Rak buku di belakang nempel dinding kamar mandi di sebelahnya, jadi beueus (bahasa Sunda..lembab gitu deh)
Alhamdulillah minggu ini keinginan itu tercapai dengan mendaur ulang papan dan tripleks yang ada, termasuk beberapa bilah dari bawah kasur belakang yang kini sudah dipasangi ranjang. Mas Agus mencat dengan penuh semangat, menjemurnya di sela komentar para tetangga yang bilang, "Iya mendingan bikin, daripada noel bujur." Arti kata per katanya nyolek pantat, maksudnya sih ngerogoh saku alias beli.
Penataan ala saya dulu bubar sudah, karena kekuatan rak ini berlainan. Mas Agus wanti-wanti agar yang tebal di ujung kiri dan kanan. Dia waswas melihat saya masih mondar-mandir ke kamar depan mengisi rak ketiga. "Aku kebagian nggak ya.." Tapi syukurlah, rak terbawah tersedia untuk berkas-berkas dan bukunya yang tebal semua itu. Sesuai keinginan beliau agar mudah menjangkau dan merapikannya.
 Alhamdulillah, kegembiraan datang susul-menyusul. Siang ini saya menerima kiriman dari Nunik, buku 40 Kisah Pengantar Anak Tidurterbitan GIP. Makasih ya, Mama Rexy. Karena untuk mengantar tidur, fotonya di atas bantal (seperti biasa:p). Saya tergolong balita (bawah lima puluh tahun) yang doyan baca sebelum tidur, hehehe.. 
 Kami baru saja selesai brunch ketika terdengar suara motor memasuki halaman. "Kiriman, kali," kata saya pada Mas Agus, yang menyongsong Pak Pos dengan handuk membelit kepala. Petugasnya tinggi besar, lain dengan yang biasa datang kemari. Walah..ternyata bapak ini dari kantor Pos Asia Afrika berhubung paketnya ekspres. Bukan dari Cileunyi yang sudah saya hafal suaranya:)
Tak sabar membuka kemasannya, eng ing eng..La Tahzan dari Nopi:-). Tepat sesuai kebutuhan saya. Sempat saya bacakan beberapa bait syair di dalamnya dan Mas Agus berkomentar, "Terjemahannya bagus banget, tuh."
Makasih ya, Nop..semoga Nopi selalu diberkahiNya dalam setiap tarikan nafasmu. Amin. 
| |