Rini's posts with tag: bahasa
 Suatu hari saya menemani si Tengah nonton TV. Waktu itu tayangan di sebuah saluran mengangkat tema Mitos Bebek Menunjang Vitalitas.
Jujur aja, saya sering geli sendiri karena ingat dalam konteks apa kata 'vital' diperkenalkan dahulu. Mendadak si Tengah bertanya, "Vitalitas itu apa, Tante?"
Glek. Saya berpikir sejenak. "Tenaga."
Adegan pertama menerangkan sejelas-jelasnya maksud tema tayangan itu. Suami-istri makan bersama, menyantap hidangan serba bebek. Terakhir si suami meneguk madu campur telur bebek. Kemudian mereka bergandengan dan bilang, "Yuk." Saya melirik si Tengah. Biar gimanapun dia sudah remaja dan dapat pendidikan seks dari sekolah. "Kamu ngerti apa maksudnya yang tadi?"
"Yap," ia mengangguk. Syukurlah dia tak terus membahas, malah tertarik pada adegan seorang reporter mengejar bebek dan berusaha menangkapnya di sawah. "Aku mau jadi reporter kayak gitu!" katanya penuh semangat.
"Boleh," saya mendukung. Malah saya teringat janji yang sudah lama belum dipenuhi, memperlihatkan buku nikah. Dasar pikooon:p 
Avoir bon dos - tidak mudah tersinggung
Avoir d’autres chats à fouetter - ada hal penting lain yang harus dilakukan
Avoir le coeur sur la main - dermawan
Comme un éléphant dans un magasin de porcelaine - bagaikan rusa masuk kampung
Coûter les yeux de la tête - sangat mahal
Ça me dit quelque-chose - Mengingatkan pada sesuatu
Ça me prend la tête - Itu membuatku gila
Ça ne tient pas debout - Hal itu tidak masuk akal
ça passe ou ça casse - take it or leave it
En un clin d’œil - dalam sekejap
Être avec le pamplemousse - yakin pada diri sendiri
Être un singe sur un branche - berada di rumah, tempat asal
Faire la sourde oreille - mengabaikan
Faire quelque chose à la barbe de quelqu’un - melakukan sesuatu diam-diam
Jetter l'éponge - menyerah
Ce ne sont pas vos oignons - Bukan urusanmu
Se casser la tête - Menghadapi banyak persoalan
Tomber dans les pommes - Pingsan
Voler de ses propres ailes - berdiri di atas kedua kaki sendiri
sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_idioms_in_the_French_language
 Menjadi orangtua menuntut kesiapan kita untuk menyunting ucapan sendiri di hadapan anak. Ini bukan hanya berlaku untuk ayah dan ibu anak-anak tersebut, tapi juga 'orangtua psikologis' misalnya om-tantenya dan gurunya.
Ada kejadian yang bikin saya geregetan. Seseorang dengan enteng mengomentari sesuatu sambil tertawa keras dan bilang (maaf), "Goblog!" Teman kami yang lain mengingatkan bahwa anak-anak di ruangan sebelah dapat mendengar dan menirunya. Orang pertama berkilah, "Kan mendingan daripada ngomong 'goblok'."
Saat itulah saya gatel untuk mengeluarkan jurus-jurus 'meupeuh' (bahasa Indonesianya kira-kira 'memukul', CMIIW). "Segala sesuatu ada bukan tanpa maksud," kata saya. "'G' dan 'k' adalah dua konsonan yang berbeda. Coba dengarkan baik-baik bunyi pengucapannya. Waktu bilang 'g', suara yang dihasilkan lebih tebal dan lebih banyak alat suara kita yang bekerja. Makanya 'goblog' lebih menyinggung daripada 'goblok'."
Maunya sih, kenalan tadi nggak ngomong kasar sama sekali. Tapi itu berkaitan dengan unsur lain. Minimal saya sudah mengatakan apa yang dipikirkan dan lawan bicara menyerah 'kalah'. Dalam hati saya bilang, "Ada gunanya juga kuliah Fonologi yang bikin nangis darah dulu itu."
sumber foto: sxc.hu 
 Percaya atau tidak, yang namanya bahasa dan pelajaran 'abstrak' lainnya kerap dihakimi sembarangan. Bahkan orang-orang berpendidikan tinggi sekalipun tampaknya meyakini bahwa disiplin ilmu hanya terdiri dari dua kelompok besar: ilmu sosial dan eksak.
Seseorang pernah keheranan sewaktu saya cerita harus mengulang Dasar-dasar Filsafat I. "Bukannya filsafat itu hafalan?" Ampun, kasian banget deh. Kalo sekadar hafalan, nggak mungkin teman-teman saya yang kuliah Fisip dan Hukum meringis lantaran sulit lulus Filsafat bahkan menjelang sidang skripsi mereka. Saya sampai butuh dukungan seorang teman yang, alhamdulillah, meyakinkan bahwa Filsafat dan Sastra (termasuk bahasa) adalah ilmu humaniora.
Menjelaskan kepada anak-anak butuh perjuangan sama besarnya. Pada dasarnya, anak-anak di usia tertentu masih 'jernih' otaknya sehingga tak perlu bertele-tele dengan teori dan segala macam landasan untuk memahami sesuatu. Yang repot, kalo mereka sudah dijejali stigma yang keliru. Itulah sebabnya mas Agus keukeuh walaupun keponakan-keponakan kami waktu itu masih SD. Dia selalu bilang, "Dalam bahasa dan sastra, 1+1 belum tentu 2. Bisa jadi 4. Karena bahasa bukan ilmu pasti." Para keponakan sampai hafal kalimatnya yang diucapkan sekitar 7 tahun lalu itu:p
Mereka punya kebiasaan belajar bahasa Inggris dengan menitikberatkan rumus. Jujur saja, itu kelemahan saya. Semasa SMP, saya hobi banget ngafalin konjugasi 'bring-brought-brought', 'take-took-taken', dan sebagainya tapi kalo rumus harus berpikir ekstra. Saya nggak pernah menempelkan tabel rumus di dinding kamar atau meja belajar seperti yang dianjurkan guru. Kayaknya bahasa yang lentur jadi kaku.
Suatu hari, keponakan saya minta dites pagi-pagi sebelum ulangan umum. Dia sudah mulai menyerap penjelasan kami bahwa aturan dalam bahasa memiliki banyak pengecualian dan harus dihafal. Mendadak seseorang di rumah (nggak usah disebutin deh siapa dan apa kaitannya dengan anak ini) nyeletuk, "Vokal -ea itu dibacanya pasti -i kok."
Keponakan saya rada kesel dan melancarkan 'serangan balik'. "Jadi kalo 'bear' dibacanya 'bir' gitu? Kalo emang beraturan, 'door' dibacanya 'dur' bukan 'dor'?" Saya ngikik diam-diam. Kena juga 'racun' soal bahasa bukan ilmu pasti itu. Sewaktu saya mengendap-endap keluar ruangan, perdebatan itu masih berlangsung. Terdengar kata keponakan, "Makanya di dalam bahasa Inggris ada regular and irregular.." bla-bla-bla.
sumber: sxc.hu

 Mungkin karena latar belakang suku dan jurusan di kampus yang berbeda, saya dan Mas Agus punya hobi bersimulasi dengan kosakata. Ketika baru kenal, lama sekali saya mengajarinya membedakan 'poek' (gelap) dengan 'poe' (menjemur). Dia malah sering menggoda saya dengan melafalkan 'lidah' dalam bahasa Sunda sebagai 'letak' dan bukan 'letah'. Kalau sudah kesel, saya timpali, "Iya, letakkan saja..letakkan di atas meja!"
Sampai sekarang, kegemaran iseng itu masih berlanjut. Mas Agus kerap membuat kata-kata baru, misalnya 'berterima' dan 'bersohibi' untuk menggantikan 'cocok' dan 'nyaman'. Saya sendiri lebih suka bilang 'bersesuaian'. Kalo tingkat isengnya sedang tinggi, dia mengomentari peristilahan di benda-benda sekitar. Contohnya shampo yang kami pakai. "Hair fall.. rambut terjun?" Atau seperti waktu kami nonton VH1 kemarin dan Backstreet Boys menyanyikan sebuah lagu lama. "Barudak jalan tukang," katanya dengan asal. "Kamu kan pernah bilang, 'backstreet' mah di kebon," tukas saya mengingatkan obrolan kami pada suatu tahun, yang tentu saja sudah ia lupakan.
sumber foto: sxc.hu 
sumber: milis FLP
Balai Bahasa Bandung akan menyelenggarakan Kompetisi Blog pada tahun 2008 untuk memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda, 100 tahun Kebangkitan Nasional, dan Tahun Bahasa. Tema : Kebahasaan dan Kesastraan Peserta : Umum Waktu : 1 Januari -- 20 September 2008 Informasi lebih lanjut hubungi Balai Bahasa Bandung Kompetisi Blog PDF Cetak E-mail Ditulis Oleh Admin Friday, 04 January 2008
LOMBA BLOG
KEBAHASAAN DAN KESASTRAAN INDONESIA
BALAI BAHASA BANDUNG 2008
1. Penjelasan tentang Lomba
1. • Lomba ini berkenaan dengan blog yang sepenuhnya tentang bahasa dan sastra Indonesia.
1. • Tema blog adalah "Menuju bahasa dan sastra Indonesia yang mencerdaskan dan meninggikan kemanusiaan"
1. • Lomba bertujuan untuk menyumbangkan gagasan untuk pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra Indonesia.
1. • Lomba ini mengajak para penggubah blog (blogger) untuk menuangkan aspirasi, gagasan, dan pengetahuan tentang bahasa dan sastra Indonesia melalui media blog.
2. Ketentuan Lomba
1. • Lomba ini terbuka bagi siapa saja. Jumlah, latar belakang usia, pendidikan, dan kewarganegaraan, serta domisili peserta tidak dibatasi. Namun, berkenaan dengan hadiah uang yang disediakan oleh panitia, pajak dan biaya transfer/pengiriman ditanggung oleh peserta pemenang.
1. • Kompetisi blog ini akan berlangsung sejak 1 Januari – 20 September 2008.
1. • Pemutakhiran (updating) dilakukan dengan pemajangan (posting) artikel.
1. • Penggubah blog dapat berinteraksi dengan pembaca dan mengembangkan diskusi tentang isu kebahasaan dan kesastraan Indonesia. Interaksi dan diskusi itu dapat dianggap sebagai pemutakhiran.
1. • Peserta bebas berkreasi untuk mengembangkan tema lomba sejauh tidak dimaksudkan untuk menyerang pribadi, mengeksploitasi pornografi, atau memicu konflik SARA..
1. • Foto atau bentuk grafis lain dapat digunakan untuk menunjang isi ataupun tampilan blog sejauh tidak bersifat mempromosikan produk atau jasa secara komersial. Penggunaan foto atau gambar tidak boleh melanggar hak cipta (copy rights).
1. • Penyelenggara berhak menganulir materi blog yang tidak sesuai dengan tema atau mengarah ke pornografi atau konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)
1. • Materi yang diikutsertakan pada kompetisi blog ini (artikel ataupun foto/gambar) akan menjadi hak milik Balai Bahasa Bandung. Materi terpilih akan menjadi salah satu artikel yang akan mengisi Laman balaibahasabandung.web.id.
1. • Keputusan tentang pemenang adalah hak prerogatif Balai Bahasa Bandung dan tidak dapat diganggu-gugat.
3. Syarat Lomba
1. • Isi blog dibatasi hanya pada masalah kebahasaan dan/atau kesastraan Indonesia.
1. • Pembahasan boleh difokuskan hanya pada aspek tertentu dari bahasa dan sastra Indonesia.
1. • Isi blog terutama memuat gagasan penggubah blog, yang dapat berupa pengembangan tanggapan pembaca.
1. • Setelah melewati proses registrasi, peserta harus memutakhirkan (meng-up date) blognya secara berkala dengan pemajangan artikel ataupun diskusi/interaksi dengan pembaca.
1. • Pemutakhiran blog dilakukan sampai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh penyelenggara kompetisi.
1. • Memasang button secara permanen pada blog yang didaftarkan. Button dapat dipasang di header, di sidebar, atau di footer; tetapi bukan sebagai bagian dari posting. Button juga seharusnya ditampilkan di setiap halaman posting dan page yang relevan.
informasi dapat dilihat di : balaibahasabandung.web.id
4. Dasar Penilaian
1. • Originalitas gagasan penggubah blog
1. • Nilai ilmiah gagasan penggubah blog
1. • Kreativitas penggarapan materi yang sesuai dengan tema dan tujuan lomba
1. • Popularitas blog, yang ditunjukkan dengan banyaknya tanggapan
5. Juri:
1. • Pakar Bahasa dan Sastra
1. • Pakar IT
6. Hadiah
Hadiah yang akan diterima pemenang kompetisi blog adalah (sebagai berikut.): Juara1 : Rp5.000.000
Juara II : Rp4.000.000
Juara III : Rp3.000.000
* Pengumuman pemenang kompetisi blog ini akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2008.
Catatan: Selama masa kompetisi, penyelenggara tidak melayani pertanyaan tentang hal lain kecuali tentang masalah teknis ke pos-el (e-mail): admin@balaibahasabandung.web.id.
 Mungkin Mas Agus tergolong mahasiswa Sastra Arab yang 'aneh', tapi dia bukan satu-satunya. 'Aneh' di sini maksudnya ia dapat melampaui kuliah dengan aman tanpa memiliki kamus Arab. Namun tidak mengherankan, mengingat atmosfir dosen-dosen jurusan dan himpunan mahasiswanya yang begitu kompak -- tak pernah pelit meminjamkan properti demi kepentingan pendidikan. Apa lagi yang namanya solidaritas sesama perantau (baca: anak kos), bikin iri deh!
Sudah ratusan kali kami datang ke toko buku sejak menikah. Sudah tak terhitung saya menawarinya membeli saja, tiap kali mendapatinya menimang kamus Arab di toko mana pun. Tetapi sifatnya yang 'ngeyelan' dalam segi berhemat memang tak bisa diganggu gugat. Saya putuskan untuk menunggunya 'berteriak' saja.
Kemarin ia dititipi buku oleh Mas kami yang sedang kuliah lagi. Sebelumnya, Mas Agus sudah memberitahu saya akan membeli kamus Arab. Saya pikir dia bercanda (sering banget cuma niat, tapi nggak jadi:p) tetapi melihat ranselnya yang menggelembung kemarin sore, saya tahu ia benar-benar membawa kamus itu pulang. Mas Agus tersenyum lebar memperlihatkan kamus yang telah lama diincarnya, berikut oleh-oleh tatakan gelas dari Bali (buah tangan kakak sepupu yang kunker di sana), juga segepok sampul plastik kira-kira untuk seratus eksemplar buku. Semangatnya memakaikan baju pada buku-buku kami makin hebat saja:) 
 Tidak diurutkan secara kronologis, karena tidak ingat sama sekali. Tapi ada beberapa yang merupakan bacaan ulang.
1. Memugar Kata Memahat Dunia - Ary Nilandari (editor) 2. Ortu, Kenapa Sih? - Iwok, Nunik, dll 3. Free Things - Iwok Abqary 4. The Lover - Marguerite Duras 5. Flash! Flash! Flash! - Ryu, Pritha, Iwok, dll 6. Cincin Monster - Bruce Coville 7. Quadrangle - Nadiah Alwi 8. Keajaiban Bunga - Nunik, Dedew, Anik 9. Upit Kejepit - Tria Barmawi 10. Dan Hujan Pun Berhenti - Farida Susanty 11. Zauri - Dian K. 12. Pacarku Tulalit - Luh Putu Dewi Pratami 13. Mahasati - Qaris Tajudin 14. The Shooting Star - Arleen Amidjaja 15. Salju - Honor Head 16. Hostage - Robert Crais 17. Zaman Edan - Ronggowarsito 18. Tapak Sabda - Fauz Noor 19. Saudagar Buku dari Kabul - Asne Seierstad 20. 7 Dosa Besar (Penggunaan) Powerpoint - Isman H. Suryaman 21. Tanabata - Antonius R. Pujo Purnomo 22. On Writing - Stephen King 23. Stardust - Neil Gaiman 24. Back to My World - Nura 25. Ocean Sea - Alesandro Baricco 26. Mitsuko - Kara Dalkey 27. Kitab Jawa Kuno - Dr. Purwadi, M. Hum 28. Siapakah Ronald Reagan? - Joyce Milton 29. Si Bundel - Jojok Sulaiman 30. Jakarta Luar Dalem - Benny dan Mice 31. Sayur Emas - Farhat Abbas dan Mustofa B. Nahrawardaya 32. Sengsara Membawa Nikmat - Tulis Sutan Sati 33. Sihir Perempuan - Intan Paramaditha 34. Jejak Hujan - Hary B. Kori'un 35. Chicken Soup for the Soul at Work - Jack Canfield dkk 36. The Expected One - Kathleen McGowan 37. The Girl Who Loved Tom Gordon - Stephen King 38. The Highest Tide - Jim Lynch 39. Irresistible Forces - Danielle Steel 40. Accident - Danielle Steel 41. Jalan Sunyi Seorang Penulis - Muhidin M. Dahlan 42. The Trouble With Tink - Kiki Thorpe 43. 9 Oktober 1740 - Remy Sylado 44. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing - Alif Danya Munsyi 45. Can You Keep A Secret? - Sophie Kinsella 46. Shopaholic and Baby - Sophie Kinsella 47. Sisi Lain Diriku - Sidney Sheldon 48. Kelinci di Bulan - Yunus Nur Arif 49. Lily's Pesky Plant - Kirsten Larsen 50. Mahligai Kedua - Taufan E. Prast 51. Devdas, Kisah Cinta Dua Dunia - Saratchandra Chattopadhyay 52. 99 Kisah Menakjubkan Al Qur'an - Ridwan Abqary 53. Drop Out - Arry Risaf Arisandi 54. Berzikir Cara Nabi - Abdur Razzaq Ash-Shadr 55. Sister of My Heart - Chitra Banerjee Divakaruni 56. Vine of Desire- Chitra Banerjee Divakaruni 57. The Mistress of Spices - Chitra Banerjee Divakaruni 58. Harga Sebuah Impian - Jack Canfield dkk 59. Palestina, Duka Orang-orang Terusir - Joe Sacco 60. How to Write and Market A Novel - R. Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaja 61. Pergaulan - Anita Brookner 62. Uups..Selingkuh! - Inez Han dan Dien Bachtiar 63. The Professor and The Madman - Simon Winchester 64. Ramadhankan Dirimu - Ishaq Subu 65. Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan - Imam Muhtarom 66. 1001 Ways to Make You Smile - Marion Kaplinsky 67. Gairah di Gurun - Honore de Balzac 68. Clockwork - Philip Pullman 69. Firework's Daughter - Philip Pullman 70. Blithe Images - Nora Roberts 71. Loving Jack - Nora Roberts 72. Kamus Istilah Islam - MA Qazi 73. Khadijah - Dr. Muhammad Abduh Yamani 74. Heidi - Johanna Spyri 75. Of Mice and Men - John Steinbeck 76. Kung Pao Chicken Love - La Mian 77. Turquoise - Titon Rahmawan 78. Kapten March - Geraldine Brooks 79. BBC - Primadonna Angela 80. Kambing Jantan - Raditya Dika 81. Rani in the Mermaid Lagoon - lupa penulisnya 82. 3 Permintaan - Enid Blyton 83. Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia - lupa penulisnya 84. Alamak! - Fira Basuki 85. Anak dalam Cermin - Enid Blyton 86. Si Babi Ungu - Enid Blyton 87. Buku Pintar Penyuntingan Naskah - Pamusuk Eneste 88. Kami Anak-anak Bullerbyn - Astrid Lindgren 89. Catatan dari Senayan - AM Fatwa 90. Cermin Ajaib - Enid Blyton 91. Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller - Edy Zaqeus 92. EO for Teens - Ryu Tri 93. Like Father Like Son - Muhamad Zaka AL Farisi 94. Female Brain - Louann Brizendine 95. Si Gadis Penakut - Enid Blyton 96. Imaji Terindah - Sitta Karina 97. Pesan dari Bintang - Sitta Karina 98. Lukisan Hujan - Sitta Karina 99. It's Not What You Say, It's What You Do - Laurence Haughton 100. Untuk Yang Sedang Jatuh Cinta - Oyas dan Iput 101. Aku Cinta Al Qur'an, Juz-Amma Bergambar - Tim Syaamil 102. Kevin - Torey Hayden 103. Anastasia Krupnik, Rahasia Si Gadis Kecil - Lois Lowry 104. Penerjemahan Teks Inggris - Arif. .... 105. The Power of First Love - Syarifah Aliyyah 106. Crayon Shinchan 45 - Yoshito Usui 107. Sarjana Kebut Skripsi - Hendry Lukman 108. Tommy Si Pengadu - Enid Blyton 109. Wizard at Work - Vivian Vande Velde
Sekarang sudah hari ke-3 bulan 2008 dan belum ada bacaan yang selesai, ha-ha-ha.. 
 Seraya memperlihatkan Koontz-nya, Gemuruh memeluk dan mencium kening saya. "Bacanya lumayan susah, tapi aku akan coba," katanya manis. Si Tengah dengan gembira mendekap terus bantal lebah pinknya sambil membuka-buka cerita berima Mbak Arleen yang saya berikan untuk dibaca sewaktu-waktu. PRnya selalu banyak, maka saya pilih bacaan ringan saja. Ia tak pernah pilih-pilih buku, meski sudah hampir SMA, bacaan anak pun disantapnya dengan senang. "Zauri-nya bagus banget, Te," ia bercerita mengenai novel fantasi Dian K yang saya pinjamkan. "Aku kirain itu buku terjemahan, lho."
Si Bungsu juga bersukacita menerima Ulysses dan mengagumi gambar-gambar di dalamnya. Kemudian mereka menarik tangan saya ke kamar bermain dan memperlihatkan komputer baru di sana. Saya menepati janji untuk mengajari si Tengah chatting dengan YM. Ia di kamar bermain, saya di ruang kerja ibunya. Walaupun agak sulit karena saya pakai meebo (belum install YM), tapi si Tengah puas dengan apa yang saya terangkan. Di sela-sela itu, saya sempat menengok pesan Friendster dari kawan baik di SMP dulu dan disapa oleh teman sekelas zaman SMA.
Mengajari mereka bikin account MP membuat saya teringat masa-masa mengajar dulu. Meskipun kompak, si Tengah dan Bungsu masih suka saling ledek. Susah payah saya mengajari si Bungsu mengeluarkan idenya sendiri, tidak tergantung orang lain. Misalnya saat membuat site title dan memilih theme.
Sesuai dugaan saya, mereka heboh dan antusias ketika berurusan dengan theme. Saya harus menunjukkan langkah-langkah tersebut dengan mengubah theme MP ini, oleh sebab itulah skinnya berubah lagi. Lagian mumpung koneksinya ngebut dan semua pernik muncul dengan baik.
Saya mulai cerewet karena gemas melihat si Bungsu ngetik dengan huruf kecil terus. Ibunya berseloroh, "Anak sekarang tuh males karena biasa di Word ada fitur otomatis untuk bikin caps di awal kalimat." Betul juga. Kelucuan terjadi saat saya berkata, "Centangnya.." Rupanya dia bingung apa itu centang, dan lebih familiar dengan 'checklist'. "Ya kalo gitu uncheck deh," kata saya. "Ya, aku uncentang," ujar si Bungsu. Kami ketawa sampai mules. Sembarangan banget sih anak ini kalo nyamber!

 Menerjemahkan Virgin Mary adalah anugerah tak terlupakan sepanjang hidup. Bukan berarti yang lain tak berkesan, namun kesempatan ini mengukir kenangan tersendiri karena tiba menjelang bulan suci yang istimewa.
Awalnya, saya mendapati posting di pasarbuku tentang lowongan penerjemah freelance bahasa Prancis. Salah satu poinnya amat menarik hati, yakni 'pria atau wanita, tidak ada batasan umur'. Memang tidak ada lowongan freelancer yang (rasanya) menetapkan umur, namun posting tersebut terlihat cemerlang saja.
Setelah membaca CV dan email saya, Pustaka Iiman memberikan tes yang ternyata beberapa halaman awal Virgin Mary. Hari-hari itu heboh karena saya sedang kurang sehat dan langsung menumpuk kamus di kasur. Syukurlah, saya dapat menyelesaikannya dalam 4 hari. Kabar baik datang sekitar dua minggu kemudian setelah urusan right rampung.
Saya mengerahkan konsentrasi yang kian lama kian besar porsinya, terutama di tengah-tengah naskah. Di sela proses itu, saya mengintip-intip profil Marek Halter (yang sebagian besar dalam bahasa Prancis), mencocokkan peristilahan dengan beberapa teman Katolik sekaligus mencari referensi mulai dari peta sampai ayat-ayat Alkitab. Kamus Prancis-Prancis merupakan perangkat super penting karena ternyata jauh lebih lengkap dibandingkan Prancis-Indonesia. Kandungannya termasuk peta (yang tetap bikin puyeng tujuh puluh keliling karena menggunakan ejaan Prancis), tokoh-tokoh, yah..semi ensiklopedia deh. Alhamdulillah Mas Agus sedang mengumpulkan bahan untuk penulisan cerita anak muslim dan memperoleh rujukan sejumlah istilah. Contohnya Sanhadurim untuk Sanhedrin, kalangan pejabat yang mengeruk pajak dari rakyat atas nama kepentingan agama.
Nama saja sudah memiliki banyak versi, baik nama diri maupun tempat. Sepphoris adalah Safuria, Tiberiade adalah Tiberias, Joseph d'Arimathie menjadi Joseph d'Arimatea, Guiora disederhanakan menjadi Giora, pula ada dua karakter bernama sama: Miriam dan Miryem. Saya mengubahnya menjadi Maria dan Maryam, namun kebijakan penerbit menerapkan ejaan Inggris: Mary dan bukan Maria.
Pekerjaan ini menyedot emosi. Saya menghabiskan banyak tisu saat Mary histeris oleh kematian Abdias, kala ia mengetahui bahwa Halwa sahabat karibnya meninggal dunia, deg-degan ketika Joachim berada di antara hidup dan mati, serta tegang tatkala Mary dikecam gara-gara mengandung tanpa suami.
Waktu yang disepakati untuk menggarap penerjemahan buku ini adalah satu setengah bulan, tetapi alhamdulillah saya dapat menyelesaikannya beberapa hari sebelum tenggat (termasuk revisi). 
 Dosen Pengantar Teori Terjemahan mewanti-wanti adaptasi budaya yang perlu diperhatikan benar ketika mengalihbahasakan sebuah naskah. Waktu itu beliau mencontohkan 'seputih salju'. Karena di Indonesia tidak ada salju, maka padanannya ialah 'seputih susu' atau 'seputih kapas'. Sewaktu saya dapat giliran ditunjuk untuk memberikan gagasan lain, saya jawab, "'Seputih melati'." Ternyata saya menemukan kasus tersebut beberapa hari yang lalu. Kalimat aslinya, secara harfiah berarti 'Ia lebih gesit daripada kera'. Kera memang tangkas, tapi rasanya gimana gitu..menganalogikan manusia dengan hewan satu ini. Maka saya putuskan menerjemahkannya menjadi 'Ia lebih gesit daripada kijang'. Ada gunanya juga suka baca dongeng dan komik waktu kanak-kanak, hehehe..
sumber gambar: wikimedia 
Pernah dengar istilah ‘yes man’? Di Indonesia, padanannya adalah ‘Asal Bapak Senang’. Ternyata dalam bahasa Prancis, terminologi ini diterjemahkan ‘béni oui-oui’. Menurut kamus, artinya ‘orang yang selalu langsung setuju pada perkataan atau tindakan orang yang berwenang atau berkuasa’. Lucu juga membayangkan seseorang mengangguk-angguk manut sambil ngomong, “Oui, oui.” (Iya Tuan, iya Nyonya).
 Sekitar tiga belas tahun yang lalu, banyak orang berpendapat bahwa sastra dan bahasa asing hanya cocok dipelajari wanita. Waktu itu belum ada penelitian atau peristilahan Linguistic Quotient segala rupa, tapi maaf saja, pernyataan itu konyol menurut saya. Bahkan di jurusan kami, yang kerap diolok-olok 'Himpunan Mahasiswa Perempuan' karena mayoritas mahasiswinya menyerupai SMEA (kini SMK), seorang mahasiswa angkatan saya luwes sekali berbahasa Prancis sehingga terbilang melesat dan relatif berhasil di bidang ini.
Seiring dengan banyaknya pria penerjemah dan penulis, beberapa di antaranya saya kenal baik dan memiliki karya mengagumkan, anggapan di atas mulai patah. Saya yakin sekali bahwa kepekaan dan ketelitian bukan semata milik kaum wanita. Kemarin, misalnya, dalam diskusi dengan suami yang tengah menyunting hasil terjemahan saya. "Nggak parah kok, hanya ada beberapa kalimat yang maknanya kebalik," katanya. Belum lama ini, saya mendapati sehelai coret-coret terjemahan seorang teman akrab kami terselip di halaman buku Jawahirul Adab miliknya. Salah satu kalimatnya (dengan tulisan tangan yang bikin saya minder berat) berbunyi, "Mereka tidak menangis sebagaimana menangisi saudaraku, akan tetapi aku menghibur diri dengan kesabaran."
Setelah beberapa kali membantu proofread yang sangat mendasar, adik saya mulai terpapar virus rasa bahasa ini. Ia ngomel-ngomel membaca sebuah artikel di koran lokal. "Bahasanya kasar banget, sih? Kayak koran XXXXX saja," ia menyebut nama sebuah koran kriminal yang terkenal dengan tajuk beritanya yang vulgar.
sumber gambar: wikimedia 
 L'air ne fait pas la chanson = Jangan menilai buku dari sampulnya.
L'appetit vient en mangeant = semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula yang kita inginkan.
Apres la pluie, le beau temps = Habis gelap, terbitlah terang.
A quelque chose, malheur est bon = Kejadian yang awalnya mengesalkan dapat mengandung kebaikan di kemudian hari.
C'est le ton qui fait la musique = Cara kita mengatakan sesuatu biasanya mengungkapkan maksud yang sebenarnya.
Le chat parti, les souris dansent = Bila majikan tidak di tempat, bawahan bersukaria.
Contentement passe richesse = kebahagiaan lebih penting daripada harta.
La faim chasse le loup hors du bois = Karena terdesak kebutuhan, seseorang mengerjakan hal yang tidak disukainya.
Dikutip dari Le Petit Larousse Compact.
sumber gambar: wikimedia 
'Jahat' dalam bahasa Indonesia berarti sifat atau perbuatan yang sangat buruk, bengis, dan keji. Tetapi 'jahat' dalam bahasa Sunda bermakna 'menghamburkan' atau 'membuang'. Contoh kalimat, "Usum halodo kieu, tong sok ngajajahat cai!" Artinya, 'musim kemarau gini, jangan hambur-hambur air!'
Namanya saja kapital. Bukan inget sama modal, atau semata besar, tapi menjadi cikal bakal kata 'kapitalis'. Menohok hati, bikin sakit mata. Huruf kapital dipandang tidak sopan di email, YM, dan lain sebagainya sama halnya dengan tulisan berhuruf merah di buku kita sewaktu masih sekolah. Tapi belakangan ini saya sering menerima SMS huruf kapital. Khusus untuk Mama tercinta, sudah jauh-jauh hari saya mengajari beliau mengenai fungsi Shift. Saya tak ragu pula memberitahunya bahwa huruf gede-gede itu sama aja ngajak berantem (kalau emang lagi marah sih, terserah ya). Kalau muncul sewaktu chatting, saya hanya bilang, "Kepencet ya Caps Lock-nya?" Di respon blog, saya berusaha manis-manis dan alhamdulillah yang bersangkutan memahami. Lha di SMS? Banting hapenya, kan sayang. Marahin orangnya? Hmh, kayaknya percuma soalnya itu sudah gaya dia. Kayaknya nggak afdol gitu kalo tanpa huruf kapital dan tanda seru. Sekarang saya lagi mikir..enaknya gimana kalo SMS seperti itu masuk lagi. Saya kan bisa kehabisan stok sabar juga.
| |