Rini's posts with tag: biblioterapi
 Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini. Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel. Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri. Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The NakedFace-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget. Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli terjemahannya, dompet bisa nangis. Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of TwoCities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik, keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-) Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya. Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa Prancis! Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-) 
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 ..il y a trés longtemps que je ne fais la siéste. Il fait plus froid de jour en jour, mais je dois toujours faire le ménage. Pas d’excuse.
Il y a presque une semaine que je quitte une révision. Heureusement, j’ai encore du temps pour lire (avant coucher), mais jamais pour écrire. Je me trouve assez difficile de concentrer à des pages d’un livre. Une silence est tellement mon besoin.
Il faut arranger mieux mon emploi du temps. Je suis en train de penser à mes boulouts, puis un neveu va venir chez nous dans deux jours. Plus d’attention, certainement, car il devra finir le plus tôt que possible un grand devoir: son mémoire.
sumber foto: sxc.hu 
 Alhamdulillah, bisa beli Jangan Berkedip! langsung dari Donna dan Isman dengan harga spesial (baca: belum naik). Teman yang hendak dikirimi ternyata sudah punya, hohoho..rizki saya deh. Sudah pernah baca sedikit, tapi belum memilikinya. Ada tandatangannya lagi. Tengok-tengok Rumah Pernik, rupanya Master of the Game-nya Sidney Sheldon masih ada. Cihuy..15 ribu untuk buku hardcover meskipun second! Karya Sheldon satu inilah yang membius saya dalam pesona hingga jatuh cinta padanya 11 tahun silam. Waktu itu saya pinjam terjemahannya dari teman KKN, tamat 3 buku dalam semalam. Nggak nyangka juga buku ini begitu tebal. Begitu menyentuh bungkusan paket, saya tahu ada yang lain di dalamnya. Horeee..hadiah bros karya Donna sendiri! Memang suatu saat, saya pernah berbincang dengannya dan bilang bros pasti lebih sering dipakai dibanding aksesoris lain. Tak menyangka Donna mengingatnya. Senaaaang deh.  Bros itu saya sematkan di jaket bermotor saya (sok keren gini ya, kesannya saya yang nyetir) biar tidak terlalu maskulin. Warnanya yang coklat kehijau-hijauan bikin jaket ini sering saru dan disangka milik Mas ipar saya. Oh ya, minggu ini saya juga menerima hadiah dari seorang karib. Buku Bestseller Sejak Cetakan Pertama terbitan Indiva. Keren abis..walaupun belum kelar dibaca:) Alhamdulillah.  Donna dan Nursalam, semoga rizki kalian berlimpah ruah. Amin. 
 'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'
(halaman 259) Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini 
 Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk kesekian kali.
Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya ditolak di sana).
Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah jalan.
Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.
Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.
Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.
Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.
Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun demikian.
Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula saya.
Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang tahu:)..).
Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril. 
 (Lirik-lirik Nad, ehm..)
Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya. Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.
Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona. Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di ulasannya nanti:)
Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli novel ini.
sumber foto: amazon 
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
Kemarin sore pulang dari warnet kehujanan. Alhamdulillah nggak sampai masuk angin, cuman bersin-bersin. Niatnya abis Maghrib mulai kerja, eeh..PLN matiin listrik. Busyet deh, mana di luar gelap banget..masih hujan dan dingiiiinnnn... Byar-petnya terjadi 4-5 kali sampe Mas Agus nyaris bete lantaran nunggu siaran bola. Alhasil, saya baru tidur menjelang jam 3 pagi. Kerja nggak bisa, malah baca novel untuk menunggu kantuk. Nggak berani deh maksain melek sampai terbit matahari, bisa juntay daku. Pagi tiba, tugas rumahtangga sudah menanti. Melihat saya belum nyalain laptop, Mas Agus dengan sukacita mematikan listrik dan mengoprek lampu depan. Nggak tega melarang, wong lagi mood begitu.. ia sudah banyak memanjakan saya hari ini..ehm.. Biar nggak bengong, saya nempel-nempel kertas stiker untuk membedakan genre buku di rak. Supaya nggak susah kalo nyariin, sekalian ngerapiin ulang. Waks..banyak yang tumpang-tindih. Paling banyak fiksi terjemahan. Rame kertas stikernya, bahkan ada kategori karya teman-teman seperti Nad, Kang Iwok, Mbak Mei Rose, Mbak Ai, Nunik, Isman-Donna, Tria Barmawi. Lumayan deh, udah tertata baik. Jika kakak-kakak dan para keponakan jadi datang akhir bulan ini, nggak akan blingsatan lagi ngambil buku. Bebas? Nggak dong. Saya yang ngambilin dari raknya:p
Ternyata nggak sukar menginjak rem kuat-kuat pada waktu masuk toko buku, yang lagi sale sekalipun. Menggabungkan semua trik yang pernah dilakukan, mulai dari baca 'mantra', bawa catatan, uang terbatas, dan kebutuhan segambreng yang belum dipenuhi.
Kemarin mampir ke BBM Mizan di GM Merdeka, hm..yang menarik-menarik sudah saya miliki. Selebihnya ada sih yang 'mengundang', tapi utang bacaan di rumah masih banyak ah..jadi beli buku pesanan aja di Gunung Agung, termasuk buku perdana (solo) Non cantik ini:)
Sempat cek-cek stok buku sendiri, lalu menuju Togamas. Rada bete karena ngantuk dan kena AC, juga abis ngadepin CS suatu operator yang bikin pengen ngagaplok. Dapat juga apa yang dibutuhkan. Nyari-nyari buku kehamilan..duuuh, binun! Pada tebal dan mahal. Alhamdulillah nemu yang cocok buat Teteh. Tadi pagi paket meluncur ke Jakarta, kabarnya dia ambruk lagi..hiks..
Kembali bersemedi, ah.
 Saya terjaga jam tiga teng. Begitu saja, seolah ada alarm alami. Sambil menunggu Subuh, untuk melawan dingin saya memutuskan untuk merapikan buku-buku di rak. Sesekali berbunyi ketika menggeser deretan, semoga saja Mas Agus tak terusik istirahatnya.
Tak bisa lagi diurutkan semua berdasarkan penulis/pengarang/editor. Beberapa masih, tapi yang sangat tebal kadang dipencarkan di rak berbeda. Demi ketahanan dan keselamatan. Saya masih menjunjung petunjuk pemakaian dari Mas Agus, tebal-tebal di ujung dan tipis-tipis di tengah. Kalo nekad dan ambrol, rasa bersalahnya bisa nggak ilang berhari-hari.
Mas Agus sendiri telah menata koleksinya di rak terbawah. Buku psikologi, statistik, hukum pemerintahan, heh..nampak It's Not What You Say nyelonong dekat besi penahan yang ia gunakan. Mungkin Mas Agus benar-benar tertarik membacanya sebab topiknya manajemen dan bisnis. Sementara ini saya ambil dulu, toh dapat ditarik lagi jika kapan-kapan diperlukan.
Novel dengan novel..terjemahan dengan terjemahan..misteri..novel remaja..kumcer..komik..buku how to tulis-menulis..buku sejarah..agama..how to lagi...terjemahan lagi..EYD selip di sini..buku saya sendiri nangkring di sana..beberapa non fiksi dari satu penerbit di situ. Fyuh, selesai tepat saat adzan berkumandang. Perasaan saya jadi lebih baik:)

Dua alasan untuk menyiapkan rak lain adalah: 1 Rak buku di kamar depan sering rubuh 2. Rak buku di belakang nempel dinding kamar mandi di sebelahnya, jadi beueus (bahasa Sunda..lembab gitu deh)
Alhamdulillah minggu ini keinginan itu tercapai dengan mendaur ulang papan dan tripleks yang ada, termasuk beberapa bilah dari bawah kasur belakang yang kini sudah dipasangi ranjang. Mas Agus mencat dengan penuh semangat, menjemurnya di sela komentar para tetangga yang bilang, "Iya mendingan bikin, daripada noel bujur." Arti kata per katanya nyolek pantat, maksudnya sih ngerogoh saku alias beli.
Penataan ala saya dulu bubar sudah, karena kekuatan rak ini berlainan. Mas Agus wanti-wanti agar yang tebal di ujung kiri dan kanan. Dia waswas melihat saya masih mondar-mandir ke kamar depan mengisi rak ketiga. "Aku kebagian nggak ya.." Tapi syukurlah, rak terbawah tersedia untuk berkas-berkas dan bukunya yang tebal semua itu. Sesuai keinginan beliau agar mudah menjangkau dan merapikannya.
 Alhamdulillah, kegembiraan datang susul-menyusul. Siang ini saya menerima kiriman dari Nunik, buku 40 Kisah Pengantar Anak Tidurterbitan GIP. Makasih ya, Mama Rexy. Karena untuk mengantar tidur, fotonya di atas bantal (seperti biasa:p). Saya tergolong balita (bawah lima puluh tahun) yang doyan baca sebelum tidur, hehehe.. 
 Kami baru saja selesai brunch ketika terdengar suara motor memasuki halaman. "Kiriman, kali," kata saya pada Mas Agus, yang menyongsong Pak Pos dengan handuk membelit kepala. Petugasnya tinggi besar, lain dengan yang biasa datang kemari. Walah..ternyata bapak ini dari kantor Pos Asia Afrika berhubung paketnya ekspres. Bukan dari Cileunyi yang sudah saya hafal suaranya:)
Tak sabar membuka kemasannya, eng ing eng..La Tahzan dari Nopi:-). Tepat sesuai kebutuhan saya. Sempat saya bacakan beberapa bait syair di dalamnya dan Mas Agus berkomentar, "Terjemahannya bagus banget, tuh."
Makasih ya, Nop..semoga Nopi selalu diberkahiNya dalam setiap tarikan nafasmu. Amin. 
 Saya memutuskan untuk menjemput pulang beberapa buku anak yang tadinya hendak diwariskan kepada si Tengah dan si Bungsu. Mereka tak pernah menyentuhnya lantaran, mungkin, sudah terlalu besar dan beralih minat. Mengamati rak buku si Tengah yang nano-nano, saya tersenyum juga. Ada Philophobia-nya Tessa Intanya, beberapa novel Sitta Karina, Zauri, Upit Kejepit, buku nama bayi saya, Pacarku Tulalit, Dan Hujan Pun Berhenti, Kambing Jantan, Fairish, Chicken Soup for the Teenagers Soul, buku Dale Carnegie untuk remaja, Query Pita, Ayat-ayat Cinta, berbaur dengan buku agama dan buku pendukung pelajaran yang bersampul warna-warni.
Sampai rumah, saya bernostalgia dengan Tamasya Panci Ajaib karangan Edith Unnerstad. Lumayan, memanaskan otak yang sempat mogok diajak baca kemarin-marin. Minggu malam saya bahkan menuntaskan baca Interlude-Jeda. Sebuah pertanda baik.
Saat meneruskan tulisan fiksi yang baru 6 halaman, saya terpaku sejenak. Ketahuanlah sebab kelambatan prosesnya. Saya asyik mengutak-atik tema besar yang memang banyak cabang untuk dikembangkan. Seperti biasa, tak ada ide untuk sub plot. Semua konflik mengacu ke pokok masalah itu. Kali ini saya tak mau mempermasalahkannya. Ada beberapa novel, yang penulisnya saya kagumi, tetap menarik meski fokus dari awal sampai akhir. Tak menjemukan. Jadi pede aja, deh.
sumber foto: sxc.hu 
 Sudah sepekan lalu saya menerima kabar bahwa sebuah paket buku dititipkan melalui sebuah alamat. Karena masih berjibaku dengan PR ini dan itu, baru sempat diambil kemarin. Aih senangnya, dua novel retelling cerita rakyat klasik karya Femmy Syahrani. Genre yang sangat saya sukai, apalagi dari Jawa Barat. Biar bersaing deh dengan buku-buku Jawa Tengah (dan Timur) di rak buku (melirik Mas Agus:p). Sangkuriang saya baca duluan, karena legendanya berkaitan dengan gunung tempat kami bermukim ini. Tamat dalam satu jam! Merci beaucoup, Fem. Tepat datangnya, saat saya lagi beteeeee pisan. 
 Terakhir di sini bukan dalam arti 'last', tapi 'recent'.
Buku anak yang terakhir dibaca: Lokal: Aduh, Telingaku Sakit! (dr. Rani Maria) Terjemahan: Anastasia Krupnik. Status: baca ulang
Novel yang terakhir dibaca: Lokal: Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar). Status: belum tamat. Terjemahan: Prajurit-prajurit Salamina (Javier Cercas). Status: masih bab 1.
Non fiksi yang terakhir dibaca: Lokal: Interlude-Jeda (Syarifuddin Azhar dan KEF). Status: lompat-lompat. Terjemahan: Al Quran Bercerita Tentang Wanita (GIP). Status: belum tamat.
sumber foto: sxc.hu 
 Mas Agus: Mau jalan-jalan sore, sekalian belanja bulanan?
Saya: Boleh beli buku nggak? Satuuu aja.
Mas Agus: Iya, boleh. Annida doang, kan?
Saya: Yeee, Annida mah majalah.
Mas Agus: Tapi berbentuk buku. Iya..iya, deh. Satu.Jadilah kami memasuki Tisera Jatos yang ACnya tumben dingiiin banget. Saya mantapkan hati hanya membeli La Tahzan for Broken Hearted Muslimah, demi melihat karya Dedew dan Nopi. Naskah Dedew masuk dua judul. Wow! Dapat kamus Undak-usuk Basa Sunda yang sudah lama diminta kakak sepupu untuk dicarikan. Annida nemu juga di dekat pintu keluar mal. Maksud hati ingin lihat resensi Suster Nengok dan sejumlah bahasan menarik soal buku terjemahan, ternyata komentar saya terpampang juga (narsis lagi deh:p). Saya menabahkan hati menyusuri lorong yang tak disangka..tempat Tisera mengadakan diskon lagi. Aduh, sabar..sabar.. dan mulai 'merapal mantra'. Ingat tumpukan buku yang belum dituntaskan bacanya di rumah? Bukan. Ingat pekerjaan yang harus diselesaikan alih-alih membaca buku seharian? Juga bukan. Cicilan rumah..cicilan rumah..cicilan rumah. 
 Saya pernah mendapati entah di mana dan ucapan siapa, bahwa salah satu ciri karya fiksi yang baik adalah membuat pembaca merasa terlibat di dalamnya. Tepatnya, pembaca mengidentifikasi diri dengan suatu karakter dalam cerita yang disimaknya.
Itulah yang terasa tatkala saya membaca fiksi lokal. Lindaniel adalah novel remaja pertama yang menghanyutkan saya sampai akhir kisah, karena saya merasa sebagai Linda yang meledak-ledak (walaupun di bangku SMA, saya tidak seaktif Linda dalam organisasi). Saya adalah Keisha dalam The Lunch Gossip, Thalia dalam Tarothalia, juga si pelamun Kelana dalam novel Rumah Cinta Kelana. Beberapa aspek karakter Jemi dalam novel Drop Out-nya Arry Risaf Arisandi bak cermin pribadi saya yang pernah tersaruk-saruk menyelesaikan skripsi. Antareja Antasena melemparkan emosi saya sepenuhnya pada kedua tokoh wayang ini lantaran kematian mereka yang mengenaskan dan berkorban atas kehendak para dewa.
Fiksi terjemahan lebih cenderung 'menjerat' saya dalam keberpihakan. Saya berkhayal menjadi orangtua Anastasia Krupnik yang suka membaca dan mencintai pekerjaan sekaligus mampu menempatkan diri sebagai teman anak mereka. Kala memegang 'Misteri Burung Merah' (Sharon Creech), saya merasakan kepedihan hati Zinnie yang juga anak kedua dalam keluarga. Saya merasa terwakili oleh karakter Jo dalam Little Women, terutama segi kepenulisannya. Saya menangis bersama Ashley Patterson kala mengemukakan bahwa dirinya dirundung pelecehan oleh ayah kandungnya (Ceritakan Mimpi-mimpimu karangan Sidney Sheldon), terseret dalam kegeraman Andrea Sachs kendati tak pernah punya bos sebengis Miranda (Devil Wears Prada), terlena dalam perjalanan serba rahasia Petter (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng). Samurai lebih sukses lagi mempermainkan perasaan sebab saya menangis untuk Makoto dan Yorimasa sekaligus.
Intinya, penulis yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada karakter dalam ceritanya patut diacungi jempol.
Paragraf awal jurnal ini dapat dimodifikasi menjadi resep membaca fiksi: melarut dalam cerita bersama salah satu karakternya, sehingga aktivitas membaca lebih 'hidup'.
sumber foto: sxc.hu 
| |