Rini's posts with tag: buku
 Kemarin sore, saya menemani keponakan jalan-jalan ke Jatos. Kasihan, jauh-jauh datang 'cuma' untuk terperangkap di kaki gunung dan berkutat dengan skripsinya. Saya didrop Mas Agus yang perlahan-lahan nyetir karena motornya belum sehat juga, sementara ponakan naik ojek duluan. Sampai sana, ternyata dia diturunkan bang ojek di Plaza Pajajaran. Haduh..
Mbak yang jaga di pintu masuk Tisera sudah hafal wajah saya, jadi kami boleh masuk tanpa titip jaket. Selain angin sore, AC mal lumayan dinginnya. Keponakan bilang agak pusing. Tapi kami sempat melihat-lihat rak diskonan (ada Nora Roberts yang belum saya punya, cuma otak sedang kocar-kacir dan nggak ada rencana beli buku) serta sejumlah buku baru. Ia tertarik pada Sherlock Holmes terjemahan Mizan, namun juga tidak belanja.
Seperti biasa, saya 'cuci mata'. Ada 365-nya Mbak Ai, 99-nya Kang Iwok di Special Corner, Seri Asyiknya Menulis terjemahan saya yang --kalau tidak salah periksa-- naik beberapa ribu, Happy-Go-Lucky!, Virgin Mary, dan Kerjaku Ibadahku. Berminat juga sih terhadap buku anak-anak berbahasa Inggris terbitan Erlangga for Kids yang berilustrasi. Kapan-kapan deh, harganya lumayan soalnya.

 Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini. Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel. Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri. Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The NakedFace-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget. Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli terjemahannya, dompet bisa nangis. Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of TwoCities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik, keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-) Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya. Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa Prancis! Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-) 
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 'Namanya juga pendatang baru. Tentu masih banyak coba dan salahnya. Dan kebanyakan pendatang baru adalah penerbit yang bermodal idealisme dan keberanian. Minim ilmu. Baik mengenai lalu lintas keuangan maupun strategi pemasaran. Manajemen kertasnya pun buruk. Jika penerbit demikian menyalahi penulis, tidak bisa serta-merta kita sebut sebagai kekurangajaran. Tergantung, apakah ketidakbenaran itu dilakukan secara sengaja atau tidak. Kalau sengaja berarti zalim. Kalau tidak, berarti ya sekadar belum profesional saja.
Menghadapi penerbit macam demikian, penerbit harus mempunyai stok kesabaran yang tak berwatas. Bentuk kesabaran itu adalah keikhlasan untuk bermuka tebal. Jangan berputus harap untuk terus menanyakan laporan penjualan dan royalti. Itu dilakukan dalam rangka mendidik penerbit agar profesional. Mengingatkan mereka bahwa dalam bisnis kepercayaan, kejujuran sangat penting. Penerbit sesekali boleh saja melakukan kesalahan tapi tetap harus jujur, tidak boleh bohong.' (halaman 86) 
sumber: milis penulisbestseller
Mohon diperhatikan, bahwa pengumuman ini dibuat oleh Penerbit Gradien dan bukan saya. Maka saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda terkait postingan ini. Terima kasih.
WANTED: GOKILDAD
Apakah Anda seorang pria? Apakah Anda telah menikah? Apakah Anda telah menjadi seorang ayah?
Jangan ke mana-mana! Mungkin Anda-lah yang kami buru!
Apakah Anda punya pengalaman ngocol sebagai seorang ayah? Apakah Anda punya daya humor dan gokil yang over dosis? Apakah Anda bisa menuliskannya dengan narsis?
Jangan ke mana-mana! Anda-lah yang kami buru!
Kami sedang mencari-cari soulmate untuk buku bestseller kami: Gokilmom http://gradienmediatama.com/buku_detail.php?PageNo=2&id=62&idkat=3 Tanpa bermacam-macam teori, cukup baca buku ini lalu bertuturlah "seperti itu" dari sisi seorang ayah.
Maka, jangan ke mana-mana! Tulis dan segera kirimkan naskah Anda ke: Gradien Mediatama gradienmediatama@gmail.com
 Alhamdulillah, bisa beli Jangan Berkedip! langsung dari Donna dan Isman dengan harga spesial (baca: belum naik). Teman yang hendak dikirimi ternyata sudah punya, hohoho..rizki saya deh. Sudah pernah baca sedikit, tapi belum memilikinya. Ada tandatangannya lagi. Tengok-tengok Rumah Pernik, rupanya Master of the Game-nya Sidney Sheldon masih ada. Cihuy..15 ribu untuk buku hardcover meskipun second! Karya Sheldon satu inilah yang membius saya dalam pesona hingga jatuh cinta padanya 11 tahun silam. Waktu itu saya pinjam terjemahannya dari teman KKN, tamat 3 buku dalam semalam. Nggak nyangka juga buku ini begitu tebal. Begitu menyentuh bungkusan paket, saya tahu ada yang lain di dalamnya. Horeee..hadiah bros karya Donna sendiri! Memang suatu saat, saya pernah berbincang dengannya dan bilang bros pasti lebih sering dipakai dibanding aksesoris lain. Tak menyangka Donna mengingatnya. Senaaaang deh.  Bros itu saya sematkan di jaket bermotor saya (sok keren gini ya, kesannya saya yang nyetir) biar tidak terlalu maskulin. Warnanya yang coklat kehijau-hijauan bikin jaket ini sering saru dan disangka milik Mas ipar saya. Oh ya, minggu ini saya juga menerima hadiah dari seorang karib. Buku Bestseller Sejak Cetakan Pertama terbitan Indiva. Keren abis..walaupun belum kelar dibaca:) Alhamdulillah.  Donna dan Nursalam, semoga rizki kalian berlimpah ruah. Amin. 
| Category: | Books | | Price: | Rp 65.000,00 |
Mohon diabaikan tanda For Sale itu. Saya memposting sebagai kabar promosi.
Naskah ini dikerjakan berdua dengan Mbak Ary Nilandari sekitar 3 tahun lalu, saya sebagai co-translatornya. Diterbitkan oleh Arkan. Dilengkapi ilustrasi foto, kertas glossy, dan hardcover. Click a thumbnail to enlarge:
 'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'
(halaman 259) Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini 
 Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk kesekian kali.
Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya ditolak di sana).
Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah jalan.
Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.
Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.
Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.
Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.
Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun demikian.
Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula saya.
Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang tahu:)..).
Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril. 
 (Lirik-lirik Nad, ehm..)
Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya. Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.
Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona. Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di ulasannya nanti:)
Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli novel ini.
sumber foto: amazon 
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
Kemarin sore pulang dari warnet kehujanan. Alhamdulillah nggak sampai masuk angin, cuman bersin-bersin. Niatnya abis Maghrib mulai kerja, eeh..PLN matiin listrik. Busyet deh, mana di luar gelap banget..masih hujan dan dingiiiinnnn... Byar-petnya terjadi 4-5 kali sampe Mas Agus nyaris bete lantaran nunggu siaran bola. Alhasil, saya baru tidur menjelang jam 3 pagi. Kerja nggak bisa, malah baca novel untuk menunggu kantuk. Nggak berani deh maksain melek sampai terbit matahari, bisa juntay daku. Pagi tiba, tugas rumahtangga sudah menanti. Melihat saya belum nyalain laptop, Mas Agus dengan sukacita mematikan listrik dan mengoprek lampu depan. Nggak tega melarang, wong lagi mood begitu.. ia sudah banyak memanjakan saya hari ini..ehm.. Biar nggak bengong, saya nempel-nempel kertas stiker untuk membedakan genre buku di rak. Supaya nggak susah kalo nyariin, sekalian ngerapiin ulang. Waks..banyak yang tumpang-tindih. Paling banyak fiksi terjemahan. Rame kertas stikernya, bahkan ada kategori karya teman-teman seperti Nad, Kang Iwok, Mbak Mei Rose, Mbak Ai, Nunik, Isman-Donna, Tria Barmawi. Lumayan deh, udah tertata baik. Jika kakak-kakak dan para keponakan jadi datang akhir bulan ini, nggak akan blingsatan lagi ngambil buku. Bebas? Nggak dong. Saya yang ngambilin dari raknya:p
Cintanya Ichen masih buat Benny (yang juga menulis di buku terbitan Jendela ini) dan Saski. Buku keroyokan mengenai curhat cinta suami-istri ini tiba melalui kurir JNE menjelang Dhuhur. Senaaang deh, bacanya sambil tidur-tiduran melepas lelah (kebiasaan jelek yang sulit dihilangkan:p). Bacanya acak, mulai dari tulisan Ichen dulu. Ketahuan deh rahasianya Benny..ehm.. juga ‘masa lalu’ Ichen yang sampai disangka cowok sama camer. Wakakaka.. Ada tulisan Fita yang semanis orangnya, pengalaman Teh Pipiet sendiri, Anneke Putri, Kang Iwok, dan tentu saja..Dedew yang selalu heboh lagi seru saat berkisah. Ciri khasnya dapet banget. Tengkyu, Chen. Semoga cintamu dan Benny selalu bertaut erat seindah kisah-kisah dalam buku ini.
Bahwa keponakan satu ini 'mewarisi' temperamen saya yang cepat panas, saya sudah lama tahu. Tapi bahwa dia bisa ngamuk sama teman sekantor gara-gara buku, saya baru tahu kemarin lewat ceritanya di telepon.
Alkisah, si teman hobi membaca novel bahasa Inggris seperti dirinya. Ponakan saya dengan manis bertanya, "Aku boleh pinjem nggak? Sehari aja."
Dijawab: "Emang lo berani bayar berapa?"
Hanya satu kalimat, dan darah sudah naik ke ubun-ubun.
Beberapa hari kemudian, keponakan saya pulang kampung. Begitu kembali, ia menenteng buku sebagai pengisi waktu istirahat kantor. Si teman tertarik.
"Pinjem, dong." "Lo berani bayar berapa emang?" ponakan saya copy-paste dengan dendam kesumatnya.
"Lho, kok gitu sih?"
Ponakan saya malah bilang, "Kasian deh loe, gue punya banyak bukunya."
"Yaah, banyak duit dong?" Nggak jelas juga sih, kok pake 'yaah'?
"Ya iyalah, masa ya iya deh!!"
sumber foto: sxc.hu
Minggu lalu saya menerima paket dari Rani. Salah satunya buku Keajaiban Al Quran (Harun Yahya), hasil terjemahan duet dengan Mbak Ai dan diterbitkan Arkan (grup Sygma). Sudah lupa karena hampir 4 tahun sejak dikerjakan bareng. Senang deh menimang buku hard cover bertaburan foto ini. Tapi belum sempat membaca ulang. Pengen nyari file terjemahannya dulu, untuk melihat sejauh mana disesuaikan oleh editor. Rani membuat saya makin bahagia hari itu (saya inget banget, Jumat) dengan dua buku barunya. Kisah 25 Nabi yang berilustrasi warna-warni. Membukanya hati-hati sekali. Hatur nuhun, Ran. 
Kemarin adik saya telepon, ada paket dari Mizan katanya. Novel King Sulaiman yang dua hari lalu saya timang-timang di Togamas (lirik Kang Iwok). Senangnyaaa..jadi endorser, hehehe.
Ternyata nggak sukar menginjak rem kuat-kuat pada waktu masuk toko buku, yang lagi sale sekalipun. Menggabungkan semua trik yang pernah dilakukan, mulai dari baca 'mantra', bawa catatan, uang terbatas, dan kebutuhan segambreng yang belum dipenuhi.
Kemarin mampir ke BBM Mizan di GM Merdeka, hm..yang menarik-menarik sudah saya miliki. Selebihnya ada sih yang 'mengundang', tapi utang bacaan di rumah masih banyak ah..jadi beli buku pesanan aja di Gunung Agung, termasuk buku perdana (solo) Non cantik ini:)
Sempat cek-cek stok buku sendiri, lalu menuju Togamas. Rada bete karena ngantuk dan kena AC, juga abis ngadepin CS suatu operator yang bikin pengen ngagaplok. Dapat juga apa yang dibutuhkan. Nyari-nyari buku kehamilan..duuuh, binun! Pada tebal dan mahal. Alhamdulillah nemu yang cocok buat Teteh. Tadi pagi paket meluncur ke Jakarta, kabarnya dia ambruk lagi..hiks..
Kembali bersemedi, ah.
Pas buka email dan cek milis, terdapat kabar menggembirakan. Bursa Buku Murah Mizan lagi, dan sudah berlangsung sejak tanggal 16 kemarin. Ngiler euy.. Pada kesempatan yang sama, seorang sahabat memberitahukan link ini. Harga buku naik? Heks..wajar sih, BBM mau merangkak. Sebagai penulis, saya kasihan pada beban penerbit. Sebagai penyuka buku, harus siap-siap puasa deh..hiks.. Oh, buku-bukuku sayang..(memeluk dan membelai koleksi yang sudah dipunyai)..kian berhargalah kalian di mataku..
 Saya terjaga jam tiga teng. Begitu saja, seolah ada alarm alami. Sambil menunggu Subuh, untuk melawan dingin saya memutuskan untuk merapikan buku-buku di rak. Sesekali berbunyi ketika menggeser deretan, semoga saja Mas Agus tak terusik istirahatnya.
Tak bisa lagi diurutkan semua berdasarkan penulis/pengarang/editor. Beberapa masih, tapi yang sangat tebal kadang dipencarkan di rak berbeda. Demi ketahanan dan keselamatan. Saya masih menjunjung petunjuk pemakaian dari Mas Agus, tebal-tebal di ujung dan tipis-tipis di tengah. Kalo nekad dan ambrol, rasa bersalahnya bisa nggak ilang berhari-hari.
Mas Agus sendiri telah menata koleksinya di rak terbawah. Buku psikologi, statistik, hukum pemerintahan, heh..nampak It's Not What You Say nyelonong dekat besi penahan yang ia gunakan. Mungkin Mas Agus benar-benar tertarik membacanya sebab topiknya manajemen dan bisnis. Sementara ini saya ambil dulu, toh dapat ditarik lagi jika kapan-kapan diperlukan.
Novel dengan novel..terjemahan dengan terjemahan..misteri..novel remaja..kumcer..komik..buku how to tulis-menulis..buku sejarah..agama..how to lagi...terjemahan lagi..EYD selip di sini..buku saya sendiri nangkring di sana..beberapa non fiksi dari satu penerbit di situ. Fyuh, selesai tepat saat adzan berkumandang. Perasaan saya jadi lebih baik:)

Dua alasan untuk menyiapkan rak lain adalah: 1 Rak buku di kamar depan sering rubuh 2. Rak buku di belakang nempel dinding kamar mandi di sebelahnya, jadi beueus (bahasa Sunda..lembab gitu deh)
Alhamdulillah minggu ini keinginan itu tercapai dengan mendaur ulang papan dan tripleks yang ada, termasuk beberapa bilah dari bawah kasur belakang yang kini sudah dipasangi ranjang. Mas Agus mencat dengan penuh semangat, menjemurnya di sela komentar para tetangga yang bilang, "Iya mendingan bikin, daripada noel bujur." Arti kata per katanya nyolek pantat, maksudnya sih ngerogoh saku alias beli.
Penataan ala saya dulu bubar sudah, karena kekuatan rak ini berlainan. Mas Agus wanti-wanti agar yang tebal di ujung kiri dan kanan. Dia waswas melihat saya masih mondar-mandir ke kamar depan mengisi rak ketiga. "Aku kebagian nggak ya.." Tapi syukurlah, rak terbawah tersedia untuk berkas-berkas dan bukunya yang tebal semua itu. Sesuai keinginan beliau agar mudah menjangkau dan merapikannya.
| |