Rini's posts with tag: bukuku
 Baru sempat posting sekarang. Dua-tiga hari ke belakang, Kang Iwok bercerita bahwa ia sedang berada di Gramedia Tasik dan melihat buku Trik Nyaman Berponsel Ria di rak hobi.
Senangnya, buku saya bisa 'jalan-jalan' sejauh itu. Hatur nuhun, Kang Iwok. 
Beberapa hari yang lalu, Mas Agus singgah di GM Merdeka. Katanya, buku nama bayi saya ada di rak bersama buku sejenis. Cukup strategis karena seingat saya, dekat jendela kaca dan paling pinggir. Dekat rak psikologi.
Alhamdulillah, setelah hampir dua tahun terbit, masuk ke sana juga. Semoga makin menjangkau pembaca sebab peminat buku di Bandung rata-rata ingetnya Gramedia duluan dan yang utama di Merdeka ini.
 Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera. Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.
Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain. 
 ...selalu menarik, terutama setelah menerbitkan buku lebih dari satu dan penerbitnya berbeda. Oh, buku X bisa terjual sekian eks dalam tempo satu setengah tahun. Masih mendingan daripada buku Y yang cetakan pertamanya belum habis setelah hampir tiga tahun. Tentu banyak faktor berperan, di antaranya distribusi.
Saya ingin berterima kasih kepada pembaca, karena cetakan pertama buku Tips Nyaman Berponsel Ria telah terjual setengahnya dalam periode empat bulan ini. Sungguh tak disangka. Alhamdulillah.
sumber foto: sxc.hu

Salah satu distributor buku yang besar di Bandung, Bandung Book Centre sekrang punya situs sendiri untuk melayani transaksi online. Saya sudah intip, ada buku Tips Nyaman Berponsel-ria diskon 30% dan terjemahan saya, Asyiknya Menulis Cerita diskon 20%. Asyik, kan?
Gembira tak terkira memperoleh informasi ini dari seorang sahabat. Hatur nuhun, Dick. Inilah pertama kalinya buku karya saya menghuni rak Togamas, salah satu toko favorit saya. Ketika ditanya sebelah mana, Dicky menjawab, "Rak A...di tengah." Dasar pustakawan!:p Kabar baik ini juga untuk Anda, karena di Togamas diskonnya 15 persen:)   
 Bagi saya, diskon buku jauh lebih menggiurkan dibandingkan diskon pakaian. Yah, satu peringkat di atas diskon peralatan rumahtangga:) Alhamdulillah, Mas Agus ekstra berbaik hati (karena ia harus memerangi AC di berbagai gedung, sedangkan badannya capek banget dan banyak yang harus dikerjakan) menemani saya tur toko buku. Jalan-jalan yang saya idamkan dan membuat saya bertahan dalam kerepotan perhelatan nikah tempo hari. Tujuan pertama, BBC Suci. Tampilan luarnya saja sudah mempesona, dibandingkan yang di Jatos. Biasa deh, yang dilakukan aktivitas narsis dulu. Senyum-senyum melihat buku nama bayi saya di rak buku Agama, buku Asyiknya Menulis di etalase depan, juga beberapa buku terbitan grup Mirqat dan Virgin Mary di rak bestseller. Sale Mizan-nya sudah habis di sini, tapi Elexmedia masih. Saya sambar dua buku anak dan VCD Postman Pat. Tidak lupa misi utama, memenuhi pesanan untuk para keponakan kecil. Yang kedua, cari bahan bakar untuk tulisan-tulisan selanjutnya alias buku referensi. Di sini saya ambil nomik terbitan Read! lantaran arsip pribadi nihil. Mas Agus sendiri membeli buku rujukan untuk pekerjaannya dan Nagara Kretagama. Lumayan, diskon 20 persen.  Menyenangkan deh belanja di situ. Pramuniaganya tidak keberatan melayani pertanyaan bolak-balik kendati mereka sedang sibuk menata rak. Bahkan petugas di bagian sampul mengizinkan seorang ibu membuka majalah yang plastiknya flap. Oh ya, di sini buku-buku disampul gratis bila masih berharga 15 ribu setelah diskon. Kasirnya juga ramah banget. Tujuan berikut sebenarnya cari charger Mas Agus di BEC. Tapi sengaja minta parkir di Gramedia. Tulisan sale 80% langsung menyergap mata. Ikutan deh di antrian diskonan, novel-novel horor terjemahan Elex memenuhi tangan. Sekitar tujuh buku, 43 ribu saja:)  Ingat arsip saya yang masih kosong, nyebranglah ke Gunung Agung BIP. Alhamdulillah, Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor masih ada. Ambil satu. Juga Lelaki yang Menangis pesanan teman. Mas Agus membeli majalah Basis. Di lantai dasar, Mas Agus membisikkan, "Buku sepuluh ribuan.." Saya tarik tangannya sebelum kalimat selesai. Mizan sale di sini! Ambil novel Bang Jonru, buku anak terbitan Read!, Anastasia Krupnik pertama pengganti milik saya yang hilang, lalu Makan Tuh Cinta di dekat kasir. Syukurlah, udah gempor nyari ini buku di mana-mana. Sudah cukup? Belum. Saya pinjam C hicken Soup for the Working WomanSoul milik kakak sepupu. Memang saya yang belikan, tapi sopannya nunggu dia selesai baca dong:) Lalu buku Kisah dari Hadits terbitan Malaysia dari rak anak-anak.  Puas. Senang. Arsip yang bolong tinggal satu, Happy-Go-Lucky! Nggak bisa ngabur ke Gramedia terdekat di PVJ, karena para keponakan mengelilingi saya terus. Lain kali, deh. 
 Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kabar dari seorang sahabat bahwa ia mengunjungi BBC Surapati dekat Itenas. Saya sendiri belum pernah bertandang ke sana meski sering lewat. Menurut Dicky, koleksinya cukup lengkap dan diskonnya lumayan. Dua puluh persen. Buku nama-nama bayi saya tersedia di sana. Dicky membeli Lelaki yangMenangis. Komentarnya setelah membaca, "Aku terbawa emosi." Terima kasih, Dicky, atas informasi dan kesediaan mengapresiasi bukuku. Jadi pengen ke BBC deh.. 
Pagi ini dapat SMS dari editor Akar Media, dua naskah yang saya geber dan email kepada beliau minggu lalu sudah oke! Horeeee..horeee..alhamdulillah 
Keduanya non fiksi. Yang satu untuk remaja, satu lagi umum. Tentang apa? Nggak jauh-jauh deh dari keseharian saya.
 Dapat dua kabar dari dua kawan. Tips Nyaman Berponsel Ria tersedia di Gramedia Pajajaran, Bogor. Sedangkan Nama-nama Islami ditemukan di Gramedia Balikpapan. Alhamdulillah, semoga makin dipermudah. Terima kasih Dedew dan Mas Sismanto. 
Seorang gadis remaja yang sedang mengendarai motor tertabrak sebuah mobil. Disinyalir pengemudi mobil tersebut tengah membaca SMS dan tidak melihat adanya si gadis di depan. Korban kecelakaan tersebut adalah keponakan saya.
Banyak peristiwa mengenaskan terjadi sehubungan dengan penggunaan ponsel yang tidak pada tempatnya. Salah satunya, yang pernah saya saksikan, adalah penjambretan ponsel tatkala si empunya berhaha-hihi sambil teleponan di pinggir jalan. Itulah sekelumit sisi 'seram' dalam dunia selular yang mengasyikkan, saat saya sedang getol-getolnya mengikuti tren (dengan penyesuaian kantong yang rada-rada maksa). Ponsel 'canggih' saya terakhir, Siemens M55 sampai teler karena saya jadikan barang percobaan. Tes kecepatan GPRS, ulik-ulik ringtone, dan entah berapa kali ganti casing.
Tahun 2005 adalah puncak 'kegilaan' tersebut. Nongkrong di warnet subuh dan tengah malam, aktif di forumponsel, berbalas posting di milis ponsel, belum lagi dana mengalir untuk sejumlah bacaan yang relevan. Puas memang berbagi ilmu, bahkan jadi rujukan harga pasar setiap kali saudara dan keponakan hendak membeli ponsel baru. Pernah juga jadi tukang reparasi amatiran, mulai dari ngeset koneksi GPRS sampai mencarikan PUK operator tertentu.
Hobi yang lumayan bikin kantong bolong (meski cukup bermanfaat) itu disalurkan dalam sebuah naskah. Jalannya terjal dan berliku. Ditolak sebuah penerbit, kemudian saya ajukan ke penerbit lain dan tiada kabar selama 9 bulan. Setelah berhasil mengontak pihak redaksinya untuk menarik naskah itu, ia meminta dikirim ulang dan membacanya dalam 5 hari. Hasilnya menggembirakan, tetapi memang belum jodoh rupanya..banyak kendala, termasuk kesulitan finansial, yang menyebabkan naskah ini mengendap selama setahun lebih.
Dengan komunikasi intensif, editornya berbaik hati menyerahkan kembali sang naskah tanpa menuntut penggantian apa pun meski sudah disetting dan dibuatkan cover. Apa yang terjadi benar-benar di luar kekuasaan kami semua. Saya baru saja berbincang-bincang dengan manajer redaksi Akar Media dan beliau berkenan meninjau naskah tersebut. Tanpa menunggu lagi, saya kirimkan langsung ke emailnya. Revisi telah dilakukan pada beberapa bagian agar tetap up to date, misalnya membahas CDMA dan Ring Back Tone. Juga sedikit menyenggol 3G. Yang penting, suguhan buku ini diperuntukkan semua kalangan. Tidak teknis, malah sangat umum. Saya menyisipkan masalah privacy dalam penggunaan ponsel, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pengemudi, dan persoalan yang kerap dikeluhkan seperti layanan pascabayar, etika ponsel dalam berbisnis, borosnya pulsa karena SMS dan membawa ponsel ke tempat service.
Hanya dalam hitungan hari, Akar Media menyatakan acc. Ketika saya menanyakan, naskah sedang disetting. Saya berlega hati karena judulnya yang dulu standar banget telah diubah sesuai harapan. Singkatnya waktu menyebabkan profil tak sempat direvisi, begitu pula ucapan terima kasih dan contoh-contoh ponsel yang disebut dalam beberapa kasus. Namun seperti kata Mas Agus, "Biarin aja ponselnya jadul, kan di sub judulnya nggak bikin kantong kempes."
 Ketika menggarap naskah ini, tak pernah terbersit keinginan untuk menjadi penulis bestseller. Yang penting menghasilkan sebuah karya dari hati, yang mudah-mudahan bermanfaat dan berkah.
Tatkala mengetahui bahwa Nama-nama Islami Pilihan memasuki cetakan kedelapan, yang dapat saya lakukan hanya bersyukur. Syukur tak terhingga dan tak terungkap dengan kata-kata terindah sekalipun. Terima kasih banyak-banyak kepada semua personil Mirqat, para pembaca, peresensi, jaringan toko buku dan teman-teman yang mendukung selama ini. 
 Siang ini pak pos mengetuk pintu. Kiriman yang kemarin dijanjikan Akar Media melalui telepon sampai dengan selamat. Terima kasih, Pak Pos.
Inilah dia sampul buku non fiksi terbaru saya, Tips Nyaman Berponsel-ria. Sepertinya tahun ini identik dengan merah (ingat buku-buku terjemahan kemarin).
Di sini nama saya dieja Rini Nurul Badariyah. Sub judulnya, Panduan Praktis Menggunakan Handphone Secara Asyik Tapi Nggak Bikin Kantong Kempes!
Proses kreatif penulisannya akan diceritakan segera. 
 Sebelum mengirimkan cover Buntu Menulis yang kini masih dalam proses cetak, editor saya di Akar Media telah memberitahukan bahwa buku tip ponsel ini akan lahir lebih dulu. Kemungkinan besar dengan pertimbangan tren praktis di dalamnya jangan sampai aus, meskipun tidak berdasarkan teknologi tertentu dan sangat umum. Kemarin beliau SMS saya bahwa buku tersebut telah terbit. Senangnya.. Subuh ini, saya iseng-iseng browsing nama sendiri di web toko Gunung Agung. Ternyata buku solo kelima saya ini sudah ada di sana:-) Berhubung jatah cetaknya belum sampai, saya baru melihat cover di web ini juga (dan tak bisa dicopy gambarnya, tapi tak apalah). Akan saya upload belakangan, segera setelah bukunya diterima. Alhamdulillah, setelah dua tahun naskah ini mendapat jodohnya jua. Apa saja isinya? Tip-tip ringan seputar mengelola banyak nomor, berhemat pulsa, pemakaian ponsel untuk ibu rumahtangga (terutama yang sudah mendekati usia setengah abad), yang harus dilakukan jika ponsel hilang, dan lain-lain. Terima kasih kepada Andhika, Dedew, dan Mbak Ifah yang bersedia menggoreskan testimoninya ketika naskah ini masih hangat di harddisk saya walaupun akhirnya Tips Nyaman Berponsel Ria terbit tanpa endorsement. 
 Kemarin sempat ngobrol ringan dengan seorang sahabat penulis. Takjub juga mengetahui ia menyimpan stok buku karyanya masing-masing lima eksemplar. Saya sendiri tidak serajin itu, malah ada beberapa buku hasil nulis dan nerjemahin yang tidak punya arsipnya. Bukan karena tidak diberi penerbit, namun kalah oleh sesuatu yang bernama 'tidak tega'. Tak tega menolak permintaan, lebih-lebih yang minta sodara dan datang jauh-jauh alias jarang ketemuan. Meskipun pemberian itu masih dengan syarat: orangnya benar-benar suka membaca dan buku tersebut ada manfaatnya buat dia.
Perasaan menyesal pasti ada. Tidak semua buku saya mudah didapati di toko. Kalaupun ada, pas nemu nggak punya duit. Meski uangnya ada, masih ngiler sama buku lain (maksudnya buku karangan orang lain). Payah memang. Saya tidak sendiri. Seorang penulis senior mengutarakan hal serupa.
Itulah sebabnya, saya meneguhkan hati sejak merapikan rak-rak buku di rumah. Bila saudara bertandang dan tergiur pada salah satu (atau salah dua) buku yang bertengger di sana, saya akan bilang dengan tegas agar mereka mencatat sebagai pesanan saja. Lebih baik saya kirimin daripada mencabut buku dari posisinya. 
 Beberapa hari yang lalu dikirimi cover buku ini oleh editor Akar Media yang baik hati dan sangat penyabar:) Hiburan di saat-saat pemulihan kondisi tubuh. Setelah hampir setahun menanti naskah ini digodok.
Kepastian terbitnya menyusul, yang pasti: segera. Mohon doanya, dan semoga buku ini bermanfaat.

 Memenuhi janji pada Mbak Roostinah, saya akan memaparkan sepercik kesan mengenai masing-masing karya. Beberapa sudah diceritakan di jurnal terpisah, jadi saya akan menuturkan selebihnya saja. Kumpulan Cerpen Lebaran dan Tahun Baru Valens. Tujuh cerpen saya terpilih dalam buku ini. Saat itu saya diminta menulis sebanyak mungkin dan membawa belasan ke kantor redaksi. Keputusan diambil oleh dua orang yang berwenang dan membaca bergantian. Mengesankan karena saya masih menggunakan disket untuk menyimpan file naskahnya. Dan yang saya ingat, sekretaris redaksi menyukai cerpen berjudul Sandal Sintayang diilhami pengalaman pribadi saya semasa kecil. Jatuh Bangun Cintaku. Seperti halnya The Real Dezperate Housewives, saya hampir lupa telah mengirimkan esai ketika Mbak Asma mengumumkannya di milis. Penantian sekitar enam bulan tidak terasa karena tahun itu saya sedang asyik ngomik. Esai I dola Bergitar adalah pengalaman yang menggelikan sekaligus penuh pelajaran. Entah apa komentar teman-teman SMP jika membacanya, hahaha.. Kumpulan Cerpen Tiga Belas. Ini pengalaman menyunting pertama dan langsung ketemu fiksi. Kumpulan cerpen, pula. Penerbit Malka baru akan meluncurkannya. Saat-saat menyunting lebih merupakan kegiatan membaca karena kedua penulis sudah matang dalam berbahasa dan berolah ide. Kisah Kehidupan. Pengalaman menyunting buku terbitan Avatar Press ini tak terlupakan. Pemilik gagasan memberi pengarahan untuk menguntai kisah-kisah nyata dalam urutan peristiwa: esai pertama mengenai kelahiran dan penutup tentang kematian. Termasuk di dalamnya esai saya, Sabar yang Romantis. Tulisan tersebut menceritakan hari-hari permulaan mengayuh bahtera rumahtangga bersama Mas Agus. Dengan sedikit daur ulang, esai yang pernah gugur di proyek berbeda ini lolos seleksi. Lelaki yang Menangis. Kendati idenya sudah lama menghuni benak saya, pengejawantahannya memakan waktu karena saya tidak ingin melahirkan naskah yang bombastis dan sensasional. Pilihan jatuh pada penerbit Akar Media, lini populer Mirqat. Keseluruhan naskah yang melalui linangan airmata dalam penggarapannya ini memuaskan sebab bersih dari sentuhan korektor. LYM adalah sebentuk teguran bagi diri sendiri, bahwa seorang istri, anak, orangtua, tante, atau apa pun posisinya harus berhati-hati dalam bertindak dan memperlakukan anggota keluarga. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati. Terbitnya sang ilham sungguh merupakan rahmat, dan akan sangat dimudahkan bila Sang Maha Pintar telah berkehendak. Buku ini merupakan hasil pengendapan dan renungan panjang, riset sejumlah besar bacaan termasuk referensi online, yang alhamdulillah...berkembang terus hingga sekarang. Tahukah Anda kapan idenya menampakkan diri? Saat saya membaca suatu edisi Matabaca yang mengupas kesuksesan Imelda Akmal, sang penulis seri arsitektur! Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor. Judul aslinya B ekerja TanpaKantor. Naskah yang diselesaikan dalam tempo sebulan ini menghadiahkan pembelajaran bahwa saya harus lebih teliti dan cermat menyunting isi sebelum proses penerbitan terjadi. Buku tersebut debut saya, sebuah kenangan berarti dalam jalur kepenulisan sekaligus kemantapan saya menjadi seorang freelancer. Spirituality in Work. Undangan menjadi kontributor datang ketika saya sedang lahap-lahapnya menulis non fiksi, khususnya esai dan bertema dunia kerja. Berbagai pengalaman ngantor sampai menjadi penerjemah lepas saya tuangkan dalam empat artikel, yang lolos dalam kumpulan cerita terbitan Pustaka Inti tersebut. Nello. Sebuah kerja penulisan ulang (istilah Read! adalah menggubah) yang cukup 'menyesakkan'. Pasalnya, saya tak henti-henti menangis membaca kisahnya. Saat mengetik sub plot kematian Kakek Nello, saya berjuang menahan airmata karena dalam ruangan yang sama ada keponakan dan ibu saya. The Lost Princess of Oz. Lebih dikenal dengan judul Wizard of Oz. Pertama kali mendengarnya semasa SMA, kala menggemari Radio Oz. Kemudian sepenggal frasa yang tertera di sebuah halaman buku Menjadi Penerbit. Ceritanya sangat imajinatif namun logis, sehingga saya terdorong menjadikannya subjek dalam esai Apresiasi Dongeng komunitas Apresiasi Sastra. Kumpulan cerpen Sahabat. Menulis kumpulan cerpen adalah impian semenjak dulu kala, akan tetapi kesempatan baru mampir tahun kemarin kendati tidak diterbitkan untuk umum. Saya sangat bersyukur karena cerpen-cerpen lama dalam arsip serta beberapa yang kalah lomba dapat disertakan di buku ini. Pemilihan nama pena Rinurbad pun atas keputusan penerbit. 
 Membujuk Mas Agus menulis memerlukan bertahun-tahun. Pada masa awal menjadi karyawan, ia masih sempat menenteng majalah Horison ke kantor dan disapa teman kampus kami, "Belum kehilangan jiwa sastra, ya?" Seiring dengan waktu, terlebih setelah menanggalkan predikat orang kantoran, porsi agendanya untuk membaca kian tersita.
Tentu saja Mas Agus masih membaca. Surat kabar, bahan riset naskahnya di Internet, buku-buku politik, psikologi, manajemen, sampai hasil terjemahan saya yang terkadang ia sunting. Ketika menyampul buku-buku saya, ia sempat mengintip beberapa halaman di antaranya dan memberikan komentar. Ia nyaris melupakan cita-citanya menulis untuk anak-anak ketika tawaran datang tahun kemarin.
Saya berjanji tidak mengolok-oloknya, tidak menertawakannya, tidak meledek gaya bahasanya dan menyebutnya 'Arab banget' seperti kala berbantahan menyunting naskah terjemahan. Semangatnya terlihat saat ia menyempatkan mampir ke warnet sepulang bertemu klien dan mengumpulkan referensi. Saya membiarkan ia menulis perlahan-lahan, mengembangkan apa yang dibacanya dan memadukannya dengan apa yang dipelajarinya dari guru mengaji sewaktu masih di kampung halaman.
Kemudian tibalah saatnya menyunting. Saya melakukannya setelah ia berangkat, agar tak tergoda berceloteh macam-macam yang berpotensi membuatnya mogok nulis lagi. Untuk mengubah beberapa paragraf, saya berkonsultasi dengan seorang penulis cerita anak dari Tasik..hehehe, nuhun, Kang. Semua perbaikan ini saya sampaikan kepada Mas Agus berikut alasannya. Dan jadilah buku Kisah Berhikmah ini.
Saya, yang terbiasa melangkah sendiri (meski kadang-kadang merepotkan dia juga untuk meriksa ini dan itu), belajar lebih banyak lagi untuk empati. Tidak ada istilah superior, tidak ada yang lebih senior. Sekarang kami sama-sama membayangkan senyum di wajah Bapak jika melihat nama kami terpampang di sampul buku yang, sayangnya, tidak beredar untuk umum ini. Semoga ada kesempatan berduet lagi lain kali. 
| |