Rini's posts with tag: cerita anak
 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 Buku cerita anak pertama-tama harus memberikan kenikmatan membaca. "Anak-anak dulu kalau membaca sampai masuk ke kolong supaya tidak diganggu," kenangnya tentang masa kecil ketujuh anaknya. Sukanto dan istrinya membuat anak-anak mereka tak bisa dipisahkan dari buku. "Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang bersifat mendikte," lanjut Pak Kanto. (halaman x-xi)
Saya ini 'selamat' karena 'digembala' Ibu," ujarnya, tersenyum. "Dia keras, disiplin, dan tak bisa ditawar dalam prinsip. Rapor anak boleh merah, tetapi tidak akhlaknya.. (halaman xi)
Paragraf terakhir ini mengingatkan saya kepada mendiang Ibu (mertua saya). Persis benar dengan cara beliau mendidik putra-putrinya. Kami semua merasa sangat kehilangan. 
 'Keberanian adalah Mau mengakui kau takut Lalu berusaha mengatasi rasa takut
Keberanian adalah Mau mengakui kau lemah Lalu berjuang meningkatkan kekuatan
Keberanian adalah Mau mengakui kau salah Lalu berkata, "Maafkan aku. Tak akan kuulangi."
(halaman 43) 
 Membujuk Mas Agus menulis memerlukan bertahun-tahun. Pada masa awal menjadi karyawan, ia masih sempat menenteng majalah Horison ke kantor dan disapa teman kampus kami, "Belum kehilangan jiwa sastra, ya?" Seiring dengan waktu, terlebih setelah menanggalkan predikat orang kantoran, porsi agendanya untuk membaca kian tersita.
Tentu saja Mas Agus masih membaca. Surat kabar, bahan riset naskahnya di Internet, buku-buku politik, psikologi, manajemen, sampai hasil terjemahan saya yang terkadang ia sunting. Ketika menyampul buku-buku saya, ia sempat mengintip beberapa halaman di antaranya dan memberikan komentar. Ia nyaris melupakan cita-citanya menulis untuk anak-anak ketika tawaran datang tahun kemarin.
Saya berjanji tidak mengolok-oloknya, tidak menertawakannya, tidak meledek gaya bahasanya dan menyebutnya 'Arab banget' seperti kala berbantahan menyunting naskah terjemahan. Semangatnya terlihat saat ia menyempatkan mampir ke warnet sepulang bertemu klien dan mengumpulkan referensi. Saya membiarkan ia menulis perlahan-lahan, mengembangkan apa yang dibacanya dan memadukannya dengan apa yang dipelajarinya dari guru mengaji sewaktu masih di kampung halaman.
Kemudian tibalah saatnya menyunting. Saya melakukannya setelah ia berangkat, agar tak tergoda berceloteh macam-macam yang berpotensi membuatnya mogok nulis lagi. Untuk mengubah beberapa paragraf, saya berkonsultasi dengan seorang penulis cerita anak dari Tasik..hehehe, nuhun, Kang. Semua perbaikan ini saya sampaikan kepada Mas Agus berikut alasannya. Dan jadilah buku Kisah Berhikmah ini.
Saya, yang terbiasa melangkah sendiri (meski kadang-kadang merepotkan dia juga untuk meriksa ini dan itu), belajar lebih banyak lagi untuk empati. Tidak ada istilah superior, tidak ada yang lebih senior. Sekarang kami sama-sama membayangkan senyum di wajah Bapak jika melihat nama kami terpampang di sampul buku yang, sayangnya, tidak beredar untuk umum ini. Semoga ada kesempatan berduet lagi lain kali. 
 Cerpen ini dimuat di Kumcer Lebaran dan Tahun Baru Valens, tahun 2003. Saya kehilangan filenya dan tidak terlalu ingat garis besar isinya.
Dalam Perjalanan Pulang mengisahkan pemandangan di jalan yang macet ketika seorang anak dijemput oleh ayahnya. Dari dalam mobil, ia melihat Pak Pos dengan setumpuk surat dan paket. Si anak baru mengerti beratnya tugas Pak Pos, yang seringkali tidak libur untuk mengantarkan kartu-kartu ucapan yang sangat banyak itu. 
 Dimuat di majalah Valens, tahun 2004
Kancil dan teman-temannya menepati janji. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri menengok si bayi di rumah Pak dan Bu Monyet serta membantu merawatnya.
“Ini kan sama dengan praktek langsung,” Kancil berkata suatu hari. “Jadi kita dapat menambah pengetahuan juga.”
Tikus memperhatikan si bayi minum susu dengan seksama. “Apakah ia harus selalu minum susu? Tidak bisakah ia minum air biasa saja?”
“Bisa,” Bu Monyet menjawab. “Tapi airnya harus matang dan bersih. Sebelum diminum, didihkan dulu di atas api.” “Merepotkan sekali.”
“Karena dia masih kecil, susulah yang terbaik,” Pak Monyet menjelaskan. “Susu berguna untuk pertumbuhan otaknya, juga tulang dan giginya. Lagipula ia belum dapat makan yang keras-keras selama beberapa bulan ini.”
Sapi mengamati si bayi dari dekat. “Hei, giginya sudah mulai tumbuh!” Semua yang mendengar spontan mendekati bayi itu. “Benar, benar, tapi baru empat buah. Dua di atas, dua di bawah.”
Bu Monyet tersenyum. “Lambat-laun dia akan bisa makan makanan selain susu dan buah-buahan yang dilunakkan ini. Dia juga akan dapat bicara.”
Burung Pipit berseru, “Bicara? Bagaimana kita dapat bicara dengan dia nanti? Bukankah bahasa manusia berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari?” Kancil menyahut, “Mungkin Pak Burung Hantu tahu seperti apa bahasa manusia.”
Bu Monyet menengahi, “Bayi ini tinggal bersama kita, jadi bahasa kitalah yang akan dia pelajari.”
Kelinci mengangguk-angguk. “Ya, untuk sementara. Kita kan belum tahu berapa lama bayi itu tinggal di sini. Yang penting ia dapat berkomunikasi dengan semua yang ada di sekitarnya.”
Si bayi menatap hewan-hewan yang mengelilinginya tanpa suara. “Matanya bening sekali, seperti air telaga,” Kucing berkata.
Tiba-tiba si bayi menguap. “Lebih baik kalian sekarang pulang dulu,” ujar Bu Monyet. “Biarkan si bayi beristirahat.”
“Anak bayi memang harus banyak tidur, karena tubuhnya belum sekuat manusia dewasa,” kata Pak Monyet.
Kancil dan teman-temannya bergegas keluar dari rumah Pak dan Bu Monyet. Mendadak Burung Pipit berhenti. “Pak, Bu, apakah bayi manusia ini tidak diberi nama?” “Benar juga,” Kancil bergumam. “Selama ini tak terpikirkan olehku.”
“Kita kan tidak mungkin memanggil dia si bayi terus,” ucap Kelinci. “Di sini ada banyak bayi. Kita juga tidak mungkin memanggil dia dengan nama Manusia.” “Justru nama itu yang paling tepat untuknya,” seloroh Tupai. “Ma-nu-sia?”
“Aku setuju,” Bu Monyet berkata. “Dia kan satu-satunya manusia di sini. Jadi tidak akan ada yang menoleh bila nama itu dipanggil.”
Akhirnya seluruh penghuni Negeri Bianglala sepakat, bayi itu diberi nama Manusia.
Kancil sering sekali mengunjungi Manusia dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sebelum dan sepulang sekolah ia meluangkan waktu mampir ke rumah Pak dan Bu Monyet. Akibatnya, ia sering terlambat sampai di rumah dan dimarahi ibunya.
“Apa saja yang kau kerjakan selama ini?” tanya Bu Kancil dengan kesal. “Aku belajar mengenai kehidupan manusia, Bu,” jawab Kancil takut-takut. “Segala sesuatu mengenainya sangat menarik. Aku juga membantu Pak dan Bu Monyet mengurusnya.”
“Kalau kau tiap hari datang ke sana, mereka justru akan terganggu,” tegur Bu Kancil. “Teman-temanmu yang lain juga ingin membantu, tidak perlu selalu kau yang mengurus Manusia.” Kancil menunduk.
“Sepanjang hari kau bermain-main saja dan tidak membantu Ibu. Kalau sikapmu tidak berubah juga, Ibu akan melarangmu menjenguk Manusia. Mengerti?” “Ya, Bu,” kata Kancil dengan suara lirih.
(Bersambung)

 dimuat di Majalah Valens tahun 2004
“Kamu sok tahu, Kancil!” Ular mendesis. “Tenang!” Burung Hantu menengahi. “Hargailah pendapat orang lain. Kancil, kamu tentu punya alasan sampai menarik kesimpulan demikian, bukan?” “Ya, Pak,” Kancil berkata penuh percaya diri. “Jelaskanlah.”
Kancil bangkit dari tempat duduknya. “Teman-teman, di dunia ini tidak ada yang persis sama. Selalu ada dua hal yang bertentangan.” “Jangan berbelit-belit begitu, aku jadi pusing,” Tikus berkata.
Kancil melanjutkan, “Di dunia hewan saja, ada yang jahat dan ada yang baik. Begitu pula manusia yang mempunyai akal budi dan kelebihan dari kita para hewan.” Kelinci bingung mendengarnya. “Lalu apa hubungannya dengan manusia dan keluarga Pak Monyet?” Kancil tersenyum lebar. “Kalau manusia itu tumbuh menjadi makhluk yang baik hati, ia akan membalas budi pada Pak dan Bu Monyet. Tapi kalau tidak? Ia justru akan melupakan jasa-jasa mereka.”
Burung Pipit menyeletuk, “Kau ini bicara berputar-putar. Bukankah Pak Burung Hantu sudah mengatakan, semua itu tergantung pada didikan terhadap si bayi? Bukan hanya manusia yang dapat terpengaruh, kau juga mempunyai kemungkinan jadi Kancil yang jahat.” Kancil melongo mendengar Burung Pipit menambahkan, “Kesimpulannya, kita bersama-sama harus mengusahakan agar bayi manusia itu dididik dengan baik dan diarahkan ke jalan yang benar.”
Burung Hantu merasa iba melihat wajah Kancil merah padam. “Kau benar, Pipit. Tapi Kancil juga tidak keliru. Ia mempunyai dugaan sendiri. Yang penting, jangan sampai dugaan itu menjadi kecurigaan yang tidak semestinya.”
Kelinci menggerakkan kuping panjangnya. “Pak, saya masih punya satu pertanyaan lagi.” “Apa itu?”
“Bapak pernah mengatakan bahwa pengaruh lingkungan, terutama sejak usia dini, sangat kuat.” “Betul,” Burung Hantu senang karena Kelinci mengingat penjelasannya di kelas.
“Kalau begitu, ada kemungkinan si bayi manusia ini tumbuh menjadi seperti monyet? Hanya bedanya ia tidak berbulu dan berekor?” “Mungkin saja,” Burung Hantu membenarkan.
“Jika sampai terjadi, namanya manusia monyet dong, Pak,” seloroh Tikus. Burung Hantu tersenyum.
“Kasihan,” Kelinci berkata. “Ia tidak akan diterima oleh sesamanya kalau suatu saat menemukan mereka.” “Betul juga,” kata Kancil. “Tapi masalahnya, kita tidak tahu bagaimana perilaku dan cara hidup manusia pada umumnya.”
“Kalaupun tahu, akan sulit mengajarkannya,” Burung Hantu berkata. “Manusia tidak bersayap, jadi ia tidak dapat terbang. Manusia juga tidak bertelur. Jadi bisa kalian bayangkan sulitnya menemukan hewan yang benar-benar menyerupai mereka sehingga bisa mengajari si bayi dengan benar.”
Kancil berpikir sejenak. “Usulku, kita harus membantu Pak dan Bu Monyet mendidik bayi itu. Bila perlu, bergantian.”
“Usul yang bagus,” ucap Burung Hantu. “Aku senang bila kalian peduli pada sesama makhluk dan mau meringankan beban orang lain.”
“Menurutku si bayi akan bingung,” Tikus berkata. “Kancil, apa yang akan kau ajarkan? Makan ketimun langsung dari pohonnya? Lalu aku mengajarinya menggali lubang di tanah. Kura-kura mengajarinya berenang. Kambing mengajarinya mengembik dan makan rumput. Wah, akan jadi makhluk yang aneh manusia itu nanti.”
Semua tertawa.
“Aku akan tetap membantu dalam hal ini,” Burung Hantu berjanji. “Sedikit banyak aku tahu mengenai cara hidup manusia dan kita usahakan bersama mengurus anak itu sebaik-baiknya.” Hari telah larut. Burung Hantu menyuruh murid-muridnya pulang. “Kita masih punya waktu besok, kalau ada yang masih ingin kalian tanyakan.” Kelinci pun pulang dengan hati puas.
(Bersambung)

| |