Rini's posts with tag: cerpen
sumber: http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=123
PT ROHTO-MENTHOLATUM Kembali menyelenggarakan LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008) Memperebutkan LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD Berhadiah Total Rp 80 Juta • Peserta: Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum Kategori Lomba Lomba terdiri dari (tiga) kategori peserta. Kategori A, Peserta Pelajar SLTP, Kategori B, Peserta Pelajar SLTA. Kategori C, Peserta Mahasiswa/Umum Syarat-syarat Lomba 1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri. Kecuali, karyawan PT ROHTO Lab. Indonesia/agennya dan Panitia Pelaksana 2. Lomba dibuka tanggal 1 Juli 2008 dan ditutup tanggal 10 Oktober 2008 (Stempel Pos) 3. Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan maupun kekecewaan 4. Judul bebas tetapi harus mengacu pada tema Butir 3 5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul 6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, indah (literer) dan komunikatif 7. Naskah harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba serupa yang bukan diselenggarakan oleh PT ROHTO 8. Ketentuan naskah: a. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, format 12 point, font Times New Roman, margin kiri-kanan rata (Justified) b. Panjang naskah minimal 6 (enam) halaman, maksimal 10 (sepuluh) halaman c. Naskah yang dikirimkan ke Panitia LMCR-2008 dalam bentuk print-out 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD d. Naskah disertai ringkasan cerita (synopsis), biodata singkat pengarang, foto pose bebas ukuran 4R dan fotocopy identitas pengarang (pilih satu: KTP/Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa, SIM atau Paspor yang masih berlaku e. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1(satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau seal/segel pengaman SELSUN GOLD FOR TEENS/SENSUN BLUE 5 f. Naskah yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup (dilem), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2008 dan Kategorinya g. Naskah dan persyaratan (Butir f) dikirim ke alamat Panitia LMCR-2008 LIP ICE- SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat h. Hasil lomba diumumkan 10 November 2008 melalui Tabloid Rayakultura Edisi November 2008, www.rayakultura.net dan www.rohto.co.id atau hub HP 08158118140 9. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat 10. Naskah yang dilombaklan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya Hasil Lomba Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama serta 10 (Sepuluh) Pemenang Harapan Hadiah Untuk Pemenang - Kategori A: SLTP • Pemenang I: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Selanjutnya, 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Untuk 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi - Kategori B:SLTA • Pemenang I: Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Hadiah untuk 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi - Kategori C:Mahasiswa, Guru dan Umum • Pemenang I: Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE SELSUN. Bagi 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Pemenang Harapan 10 pemenang, masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN + Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Catatan: Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia Ketua Panitia LMCR-2008 Dra. Naning Pranoto, MA
Inilah tiga paragraf pertama cerpen Guy de Maupassant yang termasyhur.
M. Lantin ayant rencontré cette jeune fille, dans une soirée, chez son sous-chef de bureau, l'amour l'enveloppa comme un filet.
Tuan Lantin bertemu dengan gadis ini suatu petang di rumah wakil kepala kantornya. Seketika ia tak ubahnya remaja yang dilanda asmara.
C'était la fille d'un percepteur de province, mort depuis plusieurs années. Elle était venue ensuite à Paris avec sa mère, qui fréquentait quelques familles bourgeoises de son quartier dans l'espoir de marier la jeune personne. Elles étaient pauvres et honorables, tranquilles et douces. La jeune fille semblait le type absolu de l'honnête femme à laquelle le jeune homme sage rêve de confier sa vie. Sa beauté modeste avait un charme de pudeur angélique, et l'imperceptible sourire qui ne quittait point ses lèvres semblait un reflet de son coeur.
Ayah gadis itu seorang petugas pajak tingkat provinsi dan telah wafat beberapa tahun lampau. Si gadis kemudian pindah ke Paris bersama ibunya, yang mengunjungi beberapa keluarga borjuis di wilayah tersebut guna mencarikan jodoh untuk putrinya. Mereka miskin namun terpandang, tak banyak bicara dan lemah-gemulai. Si gadis tampak sangat jujur, sesuai pasangan impian Tuan Lantin. Kecantikannya yang bersahaja memancarkan pesona bak malaikat nan pemalu, dan senyum lembut lagi tulus senantiasa tersungging di bibirnya.
Tout le monde chantait ses louanges; tous ceux qui la connaissaient répétaient sans fin: «Heureux celui qui la prendra. On ne pourrait trouver mieux.»
Semua orang melontarkan pujian tanpa henti, terutama mereka yang mengenal gadis itu."Berbahagialah orang yang menjadi suaminya. Tak ada wanita yang lebih baik dari dia."
sumber: manybooks.net
 Sejak beberapa tahun belakangan, banyak pendapat bahwa pasar kurang bergairah terhadap kumpulan cerpen. Sekarang ini, masih ada penerbit yang bersedia memproduksinya walaupun terbatas dan seleksinya pun cukup ketat. Saya pribadi cenderung lebih suka membaca kumcer dibandingkan novel, khususnya untuk karya lokal. Berikut kesan saya mengenai kumcer-kumcer yang pernah 'disantap'.
1. Alamak! - Fira Basuki. Dibandingkan novelnya 'Jendela', saya lebih menyukai kumpulan cerpen ini. Lebih berwarna-warni, perspektif perempuan dalam berbagai segi termasuk seorang ibu.
2. Harga Perempuan - Sirikit Syah. Saya membelinya karena tertarik pada tulisan beliau di Pantau dulu. Salah satu cerpen yang saya sukai berkisah tentang perpisahan suami-istri secara baik-baik demi kebahagiaan masing-masing. Ada pula yang berlatarbelakang dunia jurnalistik televisi, tempat Sirikit sempat berkiprah.
3. Gairah di Gurun - Honore de Balzac. Penerjemahannya top, walaupun bukan dari bahasa Prancis. Nggak bosan-bosan dibaca ulang karena serba unik, terutama yang berbau horor dan thriller:-)
4. Metamorfosa Cicak di Atas Peta - Raudal Tanjung Banua dkk. Kumcer pemenang lomba cerpen Citra Kasih ini masih diwarnai kekerasan Mei secara dominan, akan tetapi yang paling saya ingat adalah kisah kekerasan antar suku di Kalimantan yang berakhir tragis.
5. Cerita Rakyat dari Jawa Tengah - James Danandjaja. Satu dari sedikit koleksi masa kanak-kanak yang selamat dari sapuan banjir.
6. Cerita Rakyat 33 Provinsi - Dea Rosa. Cukup baik sebagai referensi, meski cara bertuturnya kurang mengalir.
7. Flash!Flash!Flash! - Blogfammers. Covernya seru, isinya keren-keren, walaupun sampai sekarang saya masih keteteran kalo harus nulis flash fiction:p
8. Mahligai Kedua - Taufan E. Prast. Kumcer yang saya kira novel. Ternyata tidak semua cerpennya bertema serupa dengan Mahligai Kedua tersebut.
9. Melacur - GA Rella Mart. Banyak kegetiran di dalamnya, tetapi ada juga cerpen bertokoh sentral laki-laki. Itu yang paling menarik.
10. Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan - Imam Muhtarom. Hadiah istimewa dari Grasindo. Semoga suatu hari saya dapat mencerna dengan baik kumcer sastra bersampul menawan ini.
11. Sagra - Oka Rusmini. Karya fenomenal yang selalu bikin jatuh cinta, khususnya 'Putu Menolong Tuhan' yang menjuarai Sayembara Femina.
12. Siapa Bilang Kawin Itu Enak? - Tria Barmawi. Berkesan spesial karena meletupkan ide memodifikasi resensi, walau tidak menang dalam lombanya:)
13. Selamat Datang di Pengadilan - Daniel Mahendra. Sastra nggak selalu menyeramkan karena beratnya, kumcer ini merupakan sebuah bukti.
14. Sihir Perempuan - Intan Paramaditha. Kreativitas pengarang begitu mengagumkan, walau rada ngeri dan ngilu di sana-sini.
15. Tanabata - Antonius Pujo Purnomo. Cerita rakyat Jepang yang padat dan menambah pengetahuan mengenai budaya bangsa negeri matahari terbit. Adik saya, yang peminat Jepang, juga menyukainya.
16. Tembang Bukit Kapur - Titon Rahmawan dkk. Sampulnya mempesona, demikian pula cerpen-cerpen di dalamnya. 
 Memenuhi janji pada Mbak Roostinah, saya akan memaparkan sepercik kesan mengenai masing-masing karya. Beberapa sudah diceritakan di jurnal terpisah, jadi saya akan menuturkan selebihnya saja. Kumpulan Cerpen Lebaran dan Tahun Baru Valens. Tujuh cerpen saya terpilih dalam buku ini. Saat itu saya diminta menulis sebanyak mungkin dan membawa belasan ke kantor redaksi. Keputusan diambil oleh dua orang yang berwenang dan membaca bergantian. Mengesankan karena saya masih menggunakan disket untuk menyimpan file naskahnya. Dan yang saya ingat, sekretaris redaksi menyukai cerpen berjudul Sandal Sintayang diilhami pengalaman pribadi saya semasa kecil. Jatuh Bangun Cintaku. Seperti halnya The Real Dezperate Housewives, saya hampir lupa telah mengirimkan esai ketika Mbak Asma mengumumkannya di milis. Penantian sekitar enam bulan tidak terasa karena tahun itu saya sedang asyik ngomik. Esai I dola Bergitar adalah pengalaman yang menggelikan sekaligus penuh pelajaran. Entah apa komentar teman-teman SMP jika membacanya, hahaha.. Kumpulan Cerpen Tiga Belas. Ini pengalaman menyunting pertama dan langsung ketemu fiksi. Kumpulan cerpen, pula. Penerbit Malka baru akan meluncurkannya. Saat-saat menyunting lebih merupakan kegiatan membaca karena kedua penulis sudah matang dalam berbahasa dan berolah ide. Kisah Kehidupan. Pengalaman menyunting buku terbitan Avatar Press ini tak terlupakan. Pemilik gagasan memberi pengarahan untuk menguntai kisah-kisah nyata dalam urutan peristiwa: esai pertama mengenai kelahiran dan penutup tentang kematian. Termasuk di dalamnya esai saya, Sabar yang Romantis. Tulisan tersebut menceritakan hari-hari permulaan mengayuh bahtera rumahtangga bersama Mas Agus. Dengan sedikit daur ulang, esai yang pernah gugur di proyek berbeda ini lolos seleksi. Lelaki yang Menangis. Kendati idenya sudah lama menghuni benak saya, pengejawantahannya memakan waktu karena saya tidak ingin melahirkan naskah yang bombastis dan sensasional. Pilihan jatuh pada penerbit Akar Media, lini populer Mirqat. Keseluruhan naskah yang melalui linangan airmata dalam penggarapannya ini memuaskan sebab bersih dari sentuhan korektor. LYM adalah sebentuk teguran bagi diri sendiri, bahwa seorang istri, anak, orangtua, tante, atau apa pun posisinya harus berhati-hati dalam bertindak dan memperlakukan anggota keluarga. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati. Terbitnya sang ilham sungguh merupakan rahmat, dan akan sangat dimudahkan bila Sang Maha Pintar telah berkehendak. Buku ini merupakan hasil pengendapan dan renungan panjang, riset sejumlah besar bacaan termasuk referensi online, yang alhamdulillah...berkembang terus hingga sekarang. Tahukah Anda kapan idenya menampakkan diri? Saat saya membaca suatu edisi Matabaca yang mengupas kesuksesan Imelda Akmal, sang penulis seri arsitektur! Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor. Judul aslinya B ekerja TanpaKantor. Naskah yang diselesaikan dalam tempo sebulan ini menghadiahkan pembelajaran bahwa saya harus lebih teliti dan cermat menyunting isi sebelum proses penerbitan terjadi. Buku tersebut debut saya, sebuah kenangan berarti dalam jalur kepenulisan sekaligus kemantapan saya menjadi seorang freelancer. Spirituality in Work. Undangan menjadi kontributor datang ketika saya sedang lahap-lahapnya menulis non fiksi, khususnya esai dan bertema dunia kerja. Berbagai pengalaman ngantor sampai menjadi penerjemah lepas saya tuangkan dalam empat artikel, yang lolos dalam kumpulan cerita terbitan Pustaka Inti tersebut. Nello. Sebuah kerja penulisan ulang (istilah Read! adalah menggubah) yang cukup 'menyesakkan'. Pasalnya, saya tak henti-henti menangis membaca kisahnya. Saat mengetik sub plot kematian Kakek Nello, saya berjuang menahan airmata karena dalam ruangan yang sama ada keponakan dan ibu saya. The Lost Princess of Oz. Lebih dikenal dengan judul Wizard of Oz. Pertama kali mendengarnya semasa SMA, kala menggemari Radio Oz. Kemudian sepenggal frasa yang tertera di sebuah halaman buku Menjadi Penerbit. Ceritanya sangat imajinatif namun logis, sehingga saya terdorong menjadikannya subjek dalam esai Apresiasi Dongeng komunitas Apresiasi Sastra. Kumpulan cerpen Sahabat. Menulis kumpulan cerpen adalah impian semenjak dulu kala, akan tetapi kesempatan baru mampir tahun kemarin kendati tidak diterbitkan untuk umum. Saya sangat bersyukur karena cerpen-cerpen lama dalam arsip serta beberapa yang kalah lomba dapat disertakan di buku ini. Pemilihan nama pena Rinurbad pun atas keputusan penerbit. 
 Cerpen ini saya tulis di komputer rental, saat masih berwirausaha bareng Mas Agus, sekitar tahun 2004. Tentu saja tidak sewaktu pelanggan penuh, apa lagi komputer yang saya gunakan berada dekat pintu masuk. Saya paling nggak tahan diliatin orang saat menulis sesuatu yang belum selesai.
Ketika meneruskannya suatu sore, eh..ketahuan juga. Keponakan saya yang masih SD melongok ke monitor dan berseru, "Idiiih, Tante!!" Dia memang paling hobi menggoda saya, merebut buku ide saya yang dikiranya diary dan dibaca di kamar mandi, ikutan membaca majalah yang saya beli padahal belum ngerti, dan sebagainya. Karena saya sangat ingin menjaga suasana cerpen ini, waktu itu saya melotot padanya.
Cerpen tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan judul Kan Kubuat Kau Mencintaiku. Judul itu menari-nari di otak karena saya berpikir bahwa ada jenis cinta yang agresif namun tetap dewasa (bingung, kan?). Tentang seorang wanita yang dilamar sahabatnya sendiri dan berusaha menghindar dengan dalih masih mencintai almarhum tunangannya. Dialog-dialognya mengucur ketika saya mengetik, bahkan keponakan saya yang usil masuk juga sebagai salah satu karakter meski namanya diganti.
Karakter utama pria terinspirasi dari seorang teman baik saya yang sangat serius. Konon, ia berani menyatakan kesungguhan untuk menikahi gadis yang baru didekatinya. Saya memperlihatkan cerpen itu kepada si gadis (yang tidak lama kemudian menjadi mantannya) dan ia menyangkal, "Ini bukan dia, ah." Tentu saja, wong saya banyak membumbuinya:p
Saya mengirimkannya melalui email ke Jakarta Post karena pernah dengar bahwa redaksi menerima naskah bahasa Indonesia juga. Cukup menggembirakan saat mengetahui pemuatannya sekitar dua minggu kemudian. Sebuah pengalaman berkesan mengingat saya hampir tak pernah menulis cerpen di media cetak lagi. 
Karena sudah dua tahunan pemuatannya, boleh-boleh saja saya posting di sini. Versi majalah sendiri telah mengalami penyuntingan.
SATU SANGKAR DUA BURUNG
From: Bena Bestari Nye, kamu minta alamat tapi sampai sekarang nggak ada surat yang nyampe.
Reply Sabar dong Non (eh Nyonya ya:p), pokoknya kejutan deh. Besok ada rencana ke jasa kurir. Tapi nyampe nggak ya? Send Message
From: Bena Bestari Emang mau kirim surat setebel apa sih?
Reply Nyonya ini gimana sih. Jelas-jelas jasa kurir, ngapain kirim surat. Paket lah, bo. Send Message
Kulirik bungkusan yang sudah seminggu teronggok di rak bawah. Aku benar-benar menulis Nyonya di situ.
1 New Message Read? Yes From: Bena Bestari Tumben aja. Emang mau kirim apa? Bom?
Reply Pengen ya? Pokoknya nggak bakalan deh kirim surat sama kamu. Rugi, tahu. Dibalasnya lama, nggak sepadan lagi isinya. Lagian sekarang udah nggak zaman surat-suratan, tau. Email kek. Yahoo Messenger kek. Send Message From: Bena Bestari Iya deh..yang anak gaul di internet..di sini mah adanya indomi telor kornet. Reply Tunggu aja baik-baik di rumah ya, Bu. Arum Anyelir nggak akan ingkar janji. Dijamin halal. Send Message
From: Bena Bestari Bener ya?
Ampun. Kurang kerjaan banget. Tiga ratus lima puluh dibuang untuk sebuah pesan yang tidak mencapai sepuluh karakter.
Reply Iye, emangnya elo? Udah deh, pulsa gue abis ntar.
Ponsel kumatikan. Bena jenis makhluk dengan kadar kekeraskepalaan yang luar biasa. Selama report tanda pesan berhasil terkirim masih ia terima, ia takkan berhenti melanjutkan pembicaraan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Paket yang sudah kusiapkan ini berisi sebuah novel. Benda yang belum pernah kuberikan seumur pertemananku dengan Bena, bahkan pada hari ulangtahunnya sekalipun (yang belakangan ini sengaja kulupakan). Menjelang ujian masuk perguruan tinggi, kuhadiahkan sebuah majalah bersampul luks mengkilat yang khusus membahas seluk-beluk orang dewasa muda disertai bonus tebal seputar kehidupan wanita. Tapi dengan entengnya Bena mengatakan belum pernah membacanya (mungkin hanya melihat-lihat gambarnya) dan aku percaya. Meski berkacamata, bukan berarti ia kutu buku. Kutu TV sih iya. Berbekal pengalaman menjengkelkan itu (yang kuutarakan secara terus terang), boleh jadi Bena akan tercengang menerima kiriman ini. Tapi ini bukan sembarang novel. Selain baru sekali kubaca sehingga halaman-halamannya utuh tanpa noda minyak, lipatan, dan coretan apa pun (sebab ceritanya tidak terlalu menarik untukku namun pembatas bukunya kuambil), kupastikan Bena tidak akan melewatkan biodata singkat penulisnya. Bahkan kemungkinan besar matanya akan terpaku pada halaman belakang novel yang masuk kategori chicklit tersebut. Pasalnya, penulisnya adalah adik angkatannya di kampus. Tidak secara langsung, memang. Alaina, sang penulis itu, anak D3 sedangkan Bena S1. Aku menohok ego jurusan dan senioritas Bena di sini. Walau cerita novel Musim Bunga di Kota Gudeg itu terlalu renyah untukku, di sana-sini Alaina menyelipkan dialog berbahasa Inggris yang cukup taat asas sekaligus akrab di pergaulan generasi muda masa kini. Sedangkan Bena yang berprofesi sebagai guru privat bahasa Inggris, calon Sarjana Sastra Inggris dan mengenyam kursus di lembaga bahasa terkemuka tingkat nasional kutahu persis sesungguhnya tidak terlalu lihai bercakap-cakap ala Beatles. Bahkan aku yang lebih familiar dengan kosakata Inggris Amerika (hasil nonton DVD) berani adu kemampuan dengannya. Dapat kubayangkan ekspresi Bena begitu menerima novel Alaina itu. Kusangsikan ia membaca isinya, namun langsung membahas profil penulisnya melalui telepon dengan Cakra, sang kekasih tercinta yang selalu disebutnya sebagai calon suami karena sudah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya. “Anyelir kirim novel, penulisnya anak D3 Inggris. Junior aku di kampus!”
“Bagus dong,” Cakra tak terlalu antusias, karena kubayangkan Bena menodongnya sepulang kuliah. Ia benar-benar tak sabar menunggu Cakra melepas penat lebih dulu. “Memang..mahasiswa jurusanku kan hebat-hebat.” Kalau Bena memandang Alaina sebagai satu kesatuan (yaitu bagian dari jurusan yang sama dengan dirinya), ia akan berkata demikian. Terciprat rasa bangga. Tapi kemungkinannya kecil. Bena alergi mendengar pujian dari mulut Cakra yang ditujukan pada orang lain (baca: perempuan lain). Beberapa tahun silam, ia memasang wajah masam karena Cakra mengatakan aku pintar setelah membaca buku linguistik Inggris yang kuberikan. Salahnya sendiri. Buku itu khusus kuhadiahkan agar ia dapat menggunakannya, tapi diambil Cakra setelah menganggur di atas meja beberapa hari. Memang di kemudian hari buku tersebut tak terlalu bermanfaat mengingat Bena mengambil spesialisasi Sastra. Aku juga yang bodoh, memberinya buku padahal jelas-jelas Bena tidak suka membaca. Sikap yang sungguh ganjil untuk ukuran intelektual walau toh ia meraih IPK gemilang tiap semester. “Bagus apanya, aku juga bisa nulis cerita kayak gini.”
Kemungkinan kedua ini juga tipis. Semangat kompetisi Bena meluap senantiasa, tetapi mengaku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik sementara dirinya belum pernah mencoba adalah kenekadan yang bodoh. Teorinya, yang tidak hobi membaca akan sulit menulis. Tentu saja itu pendapatku semata. Mungkin saja orang tertentu dikaruniai talenta ajaib dan dapat melakukannya dalam seketika. Jadi, menurutku lebih besar kemungkinan Bena berkata, “Tahu bagus darimana? Belum juga baca.” Aku tak tahu karakter Cakra. Cowok-cowok lain akan menjawab, “Gimana mau baca dong, pulang aja baru?” Karena Cakra tidak dapat terlibat dalam diskusi yang seru, Bena akan mengirimiku SMS. Tahu nggak Nye, yang nulis ini anak mana? Anak D3 kan kuliahnya banyak di gedung C. Pertanyaan keliru. Salah alamat, tepatnya. Bena punya sepupu yang kuliah di D3 Inggris. Dialah yang lebih berwenang memberikan informasi walau ada kemungkinan tidak kenal juga dengan Alaina. Kalau aku mengaku kenal, pasti lebih heboh lagi. Faktanya, aku hanya pernah melihatnya beberapa kali lalu-lalang di sekitar kantin dan perpustakaan. Khayalanku sudah terlalu jauh.
Bena memang seperti itu. Aku mengenalnya dengan sangat baik, meski ia tak bisa dikatakan sahabat karibku (beberapa hal menyebabkannya begitu). Ia tidak tahan melihat orang lain lebih sukses, lebih hebat, dan lebih-lebih lain dari dirinya dalam arti positif. Dengan segera Bena akan menemukan ‘cacatnya’. “Nye, tahu Cantik kan? Ternyata dia ngulang satu mata kuliah bareng aku. Malu-maluin, deh.”
Tentu saja aku tahu siapa Cantik. Ia berparas menawan sesuai namanya. Cantik kakak kelas kami di SMU dan kebetulan tetanggaku sejak kecil. Ia ramah dan disukai banyak orang, termasuk cowok-cowok. “Memangnya kenapa kalau ngulang? Aku juga ngulang kok, lebih banyak malah,” jawabku santai.
“Ya tapi kan..” “Aku bukan primadona kayak Cantik, gitu? Terus orang cantik nggak boleh salah dikit aja?” aku menyerang. “Ya, bukan gitu sih. Ternyata..” Bena tidak meneruskan kalimatnya. Namun matanya memancarkan kepuasan. “Mana ada orang yang sempurna, Ben,” aku jadi gemas. “Kamu lagi berdoa biar Cantik cepet-cepet lulus ya? Dengan ngulang begitu, berarti cowok-cowok masih punya kesempatan lebih lama untuk mandangin dan deketin dia.” “Emang cowok Cantik anak kampus kita juga?” Tatapan Bena menyelidik.
“Kayaknya sih bukan. Cantik tuh seneng cowok yang jauh lebih tua. Tapi yaah, nggak dapetin orangnya, natap sampe puas juga lumayan kan. Pemandangan indah kayak dia, gitu.” Aku memang keterlaluan. Tapi Bena memang paling enak dikompori. Nasihat baginya hanya angin lalu. Atau radio rusak. “Omong-omong..Rara apa kabarnya?” Bena mengalihkan pembicaraan. Kali ini subjeknya adik kelas kami, yang juga teman bermainku di masa kanak-kanak. “Dia lagi sekolah mode di..di mana ya? Belanda atau Itali, gitu.” Duh, aku kok jadi ikut-ikutan norak gini. Serasa infotainment deh. “Itali, kali,” Bena meralat. “Ke Belanda mah orang mau belajar main bola.” “Kali,” aku angkat bahu. “Soalnya kakaknya memang ada yang tinggal di Belanda.”
Bena menghela nafas. “Rara tuh cantik, ya.” “Banget. Adam aja kagum berat sama dia,” kusebut nama adikku yang super cuek. “Kamu tahu kan Ben, Adam tuh bawaannya nyela melulu sama cewek. Tapi sama Rara, nggak. Soalnya cantiknya asli, bukan polesan.” Bibir Bena mengerucut kini. Alisnya yang segaris agak terhalang bingkai lensa itu kerap dicabut dengan dalih kerapian. Aku sendiri tak peduli. Masih bagus ia tidak mentatonya.
Aku memang bukan teman yang baik. Bukan meredam hati Bena yang dijilat bara, malah menyiramnya dengan bensin. Meski tidak iri, aku pun tak luput dari perasaan terhenyak akibat kehebatan orang-orang tertentu. Menemukan novel Alaina di toko buku terbesar di Bandung cukup menamparku. Ia sudah menulis lebih dulu, laris manis pula! Tapi cukup sampai di situ. Aku tidak berlaku norak dengan mengumumkan pada semua orang, “Hei, Alaina yang nulis Musim Bunga di Kota Gudeg itu satu almamater denganku lho!” Apa untungnya? Malah akan jadi bumerang. Bayangkan bila ada yang bertanya, “Memangnya kamu jurusan Inggris juga, Nye?” “Bukan. Jurusanku Prancis.” “Lagian kamu bukan D3 kan?” “Bukan sih, tapi Alaina kuliahnya satu gedung denganku.” “Angkatannya juga beda kan?” “Iya. Tapi beda setahun aja lah..sebenernya lulus SMU-nya sih sama.” “Emang kamu kenal?” “Mm, nggak.” Perbuatan nekad yang akan membuatku kehilangan muka. Lebih-lebih bila ternyata orang yang bertanya itu adalah kenalan baik Alaina, atau lebih parah lagi, saudaranya.
Antrian di perusahaan kurir tidak terlalu panjang. Aku sengaja datang pagi-pagi karena jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sebenarnya ada kantor cabang, tapi aku merasa lebih yakin jika langsung mendatangi kantor pusat. Petugasnya lebih ramah dan siap menjawab pertanyaan apa saja. Aku ingin tahu berapa hari paket ini sampai ke tangan Bena yang kini bermukim nun di Cimahi sana. Aku bangkit dari kursi ketika lelaki di depanku berdiri. “Terima kasih, selamat pagi,” ucap petugas yang melayaninya.
Lelaki itu berhenti saat melihatku.
“Anyelir?”
“Hai, Ang,” kusunggingkan senyum. “Sebentar, ya.”
Ia tidak langsung pergi, bahkan menungguku selesai melakukan transaksi. Dibacanya sekilas alamat tujuan di kemasan paketku. “Kamu masih kontak sama Bena, Nye?”
“Masih,” tak urung ada rasa heran dalam hatiku. “Kamu masih inget Bena?”
“Inget dong,” kini ia yang tersenyum.
Kami berjalan menuju halaman parkir. “Sori Nye, aku nggak bisa antar pulang. Ada kuliah setengah jam lagi.” “Nggak apa-apa.” Sebal. Di dekatnya, seluruh kemampuan bercandaku raib.
Namanya Anggabaya. Dua tahun ia satu kelas denganku dan Bena. Dari segi fisik, sesungguhnya Angga tidak terlalu istimewa. Tutur katanya lembut dan wajahnya menampakkan kesabaran. Ia aktif dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan jago matematika, akuntansi serta apa saja yang berkaitan dengan hitung-menghitung. Aku menyukainya dan Angga juga menyukaiku. Bahkan sebelum ia mengenalku. Teman-teman akrabnya yang memberitahukan hal itu, namun tak pernah ada tindak lanjut apa pun. Bena juga menyukainya. Tak ada alasan bagiku untuk menyembunyikan perasaanku. Kami sama-sama tidak punya peluang. Angga tidak mau punya pacar satu kelas. Meskipun demikian, ia memperlakukanku ekstra baik. Ia mengajariku akuntansi, mengirimiku kartu Lebaran dan menyampaikan pesan pada guru tatkala aku tak masuk sekolah.
Agar tak kentara di depan teman-temannya, Angga sering meledekku. Saat aku menulis di papan (atas instruksi guru, mengingat aku adalah sekertaris kelas) dan menemukan seekor ulat besar memasuki kelas, kuinjak binatang itu sampai mati seketika. “Pembunuhan sadis,” katanya berulang-ulang. Aku tak menanggapi. Matanya tertawa. Angga hanya mencari topik pembicaraan. Seiring berjalannya waktu, aku kian tak berniat memberi isyarat apa-apa pada Angga. Daya tariknya ekspansi ke luar kelas. Dian, anak teater yang tomboy, tak bosan-bosan mengirim salam yang hanya dibalas senyum oleh Angga. “Pendiem banget, penasaran gue,” ujar Dian selalu.
Bena berusaha mencari tahu komentarku. “Kayaknya nggak mungkin ya Nye, Angga mau jadi cowok Dian?” “Belum tentu. Kita kan nggak tahu tipenya Angga kayak siapa.” “Kalo sampe kejadian..kamu sakit hati dong?” “Kenapa?” kucoba menyangkal. “Ya, rasanya gimana gitu..kamu yang deket nggak bisa menjangkau dia. Malah kalah sama anak kelas lain.” “Kalau jarak yang jadi ukuran, Angga udah pacaran sama tetangganya dong.” “Jadi bener kamu nggak sakit hati?” Bena menggoda. “Emangnya kamu nggak?” “Sakit hati sih nggak..tapi panas, iya. Aku kan lebih cantik daripada Dian.” “Ge-er!”
Kala kami naik ke kelas tiga, Bena berkenalan dengan Cakra. Tetapi ia tak pernah lupa pada apa yang terjadi antara aku dengan Angga.
From: 0819000000 Malem, Anyelir. Lagi ngapain?
Keningku berkerut.
Reply Siapa nih? Send Message
From: 0819000000 Anggabaya. Galak amat. Reply
Sori, Ang. Nomer asing malem-malem..aku jadi takut. Save dulu yah. Send Message From: Anggabaya Kenapa? Punya utang? Atau takut diteror penggemar?
Reply Ngeledek nih. BTW tahu nomorku darimana? Send Message
Ya ampun, gampang banget Non. Tinggal cek di jalan-jalan protokol, ada billboard segede gajah mampang nomer Hpmu. Delete
From: Anggabaya Becanda, Nye. Kamu kan aktif di milis angkatan. Dwi yang kasihtahu nomor kamu ke anak-anak. Reply
Dasar Dwi ember bocor..dari dulu nggak tobat juga. Send Message
From: Anggabaya Salah sendiri. Internet kan area publik. Oya Nye, Bu Flora opname. Anak-anak mau nengok ke sana.
Reply Kok Dwi nggak cerita sih? Sakit apa? Di mana? Send Message
From: Anggabaya Lupa kali. Di Advent. Darah tinggi. Reply
Ketemu di sana aja, ya. Aku ada waktu besok sore. Send Message
From: Anggabaya Oke. Bye.
Rasanya aku tak percaya. Anggabaya sendiri yang menghubungiku. Dia menghubungiku lebih dulu. Apa kata Bena tentang hal ini? Kuforward SMS Angga perihal sakitnya Ibu Flora, wali kelas kami dulu, ke nomor Bena. Tak ada jawaban. Kulirik jam dinding. Bena pasti sudah tidur.
Sewaktu masih mengajar kami, rambut Ibu Flora sudah memutih. Keadaannya kini tak jauh berbeda. Aku terharu karena ia masih mengingat wajah kami. Kalau nama memang tak mungkin. Bu Flora punya banyak sekali murid. “Kita pulang aja, yuk,” bisikku pada Angga. “Biar Bu Flora istirahat.” Mata Bu Flora berkaca-kaca ketika kami mencium tangan beliau bergantian. Rautnya yang pucat dan lemah masih memenuhi ingatanku saat kami tiba di lobi.
“Anak-anak jadi datang nggak sih?” aku berpaling pada Angga. “Sekarang jam besuk sudah hampir habis.” “Sebenarnya..” “Kenapa?” potongku tak sabar. “Nye, sebenarnya mereka udah besuk duluan kemarin.”
Aku benar-benar tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. “Nye, kamu marah ya?” “Maksud kamu tuh apa sih Ang? Kok bisa-bisanya kamu..” Angga meletakkan telunjuk di bibirnya. Kupelankan suara. “Oke. Aku mau pulang.” “Aku antar.” “Nggak perlu. Terima kasih.” “Nye.”
Kupercepat langkah. Angga mengejarku. Ia menarik tanganku ketika sampai di pelataran rumah sakit. “Aku yang salah. Aku sengaja mencari kesempatan agar bisa ketemu sama kamu.” Lidahku bertambah kelu. Aku hanya menurut kala Angga mengajakku naik mobilnya. “Kamu..memanfaatkan sakitnya Bu Flora sebagai alasan?” desisku. “Sori, Nye. Aku nggak punya pilihan. Kalau ada yang lain, aku pasti nggak leluasa ngomong sama kamu. Sedangkan aku harus menyampaikan ini sekarang juga.” “Soal apa?” “Aku ingin jadi pacarmu.”
Tuhan, katakan ini hanya mimpi.
Sudah terlalu lama aku ingin mengatakan ini. Aku ingin jadi cowok kamu, jadi kekasihmu, jadi orang yang paling dekat dengan kamu. Aku ingin jadi orang yang lebih dulu tahu apa yang terjadi padamu. Aku ingin selalu di sampingmu, Anyelir. Sesampai di rumah, Mama memberitahuku bahwa Bena menelepon.
Angga berada di ruang tamu. Aku sampai harus mencubit tangan sendiri untuk memastikan bahwa ia benar-benar datang kemari. Dulu ia pernah mengantarku pulang sekolah tetapi tidak turun dari mobilnya. Papa dan Adam melayangkan senyum penuh arti, sementara Mama mengedipkan mata. Sepertinya ini peristiwa luar biasa. Aku tak ingat kapan terakhir kali menerima tamu lelaki. “Dia teman SMU Anyelir, Ma,” kataku perlahan seraya mengaduk minuman hangat. “Lebih dari temen juga nggak apa-apa, Nye,” Adam menimpali. “Kita sih seneng-seneng aja ya Ma, Pa?” Keduanya tersenyum lagi. Masya Allah. Kedatangan satu lelaki saja agaknya membuat mereka berpikir bahwa aku akan menikah besok.
Angga sama sekali tidak mau membuang waktu. “Kamu belum memberiku jawaban, Nye.” “Kukira kamu nggak butuh jawaban.” Aku ingin sekali bergurau seperti biasanya, tetapi lagi-lagi sulit melakukannya di hadapan Angga. Air mukanya begitu serius. Kubalas tatapannya. Wajahku terasa panas. Jangan-jangan orang serumah sedang mengintip saat ini.
Nama Bena tertera di LCD ponselku. “Kok kamu nggak telpon balik, sih? Tadi sore nggak diangkat-angkat malah.” “Sori. Tadi Angga datang. Nggak enak kan ninggalin dia untuk terima telepon.” “Angga? Anggabaya?!” suara Bena meninggi. “Busyet, kira-kira dong. Kupingku cuma dua nih.” Kulirik Adam yang lewat di depan kamar sambil tersenyum-senyum. Pasti dia menduga Angga yang menelepon. Alih-alih minta maaf karena memekakkan telingaku, Bena justru makin keras bersuara. “Yang bener, Nye? Angga datang ke rumah kamu? Ngapain?” “Numpang ke toilet,” jawabku seenaknya. “Ya main aja, Ben. Nggak boleh emang?” “Alah, nggak mungkin..Angga kan nggak pernah main ke rumah cewek.” “Tahu darimana? Emang kamu emaknya?” “Kalau ngomel-ngomel gini biasanya ada yang diumpetin nih..” “Nggak.” “Tuh kan.” “Nggak, beneran. Kamu mau tanya apa hayo?” “Nggak ada yang dirahasiain ya..” “Nggak. Buat apa rahasia-rahasiaan segala? Angga bilang pengen jadi pacarku, dan aku udah bilang iya. Puas?” Terdengar sorak Adam dari ruangan sebelah. Anak itu nguping rupanya. Atau suaraku terlalu nyaring.
“Ben?” kujauhkan ponsel sejenak dari telinga. Hubungan masih tersambung. “Bena, kamu denger nggak?” “Aku nyaris pingsan, Nye.” “Ngawur!” “Nggak sih,” kutangkap perubahan dalam suara Bena. “Selamat ya, Nye. Makan-makan dong buat ngerayain.” “Ogah. Udah nggak musim, lagi.”
Sesungguhnya aku belum mengatakan apa-apa pada Angga. Aku minta waktu untuk memikirkan perkataannya yang begitu mendadak (dan begitu tidak romantis, mengingat ia mengutarakannya di pelataran rumah sakit). Tetapi telepon Bena mendorongku mengambil keputusan. Aku akan menerima Angga di sisiku. Aku akan menjadi kekasihnya agar Bena cemburu. Aku senang bila ia gigit jari. AKU yang mendapatkan Angga, padahal sejak dulu tak pernah menempuh upaya apa pun untuk sekedar menyatakan isi hati. Angga sendiri yang berinsiatif sekarang.
Bena selalu menganggapku saingan, padahal aku menganggapnya teman. Bena yang malang. Semasa SMU yang kupikirkan adalah bersenang-senang menikmati masa remaja di samping berjuang untuk kuliah nanti, namun ia menggenggam ambisi untuk diakui dalam pergaulan dengan punya cowok. Setidak-tidaknya pada pesta ulang tahunnya yang ke-17. Kedengarannya sulit dipercaya, tapi aku menemukan bukti tertulis. Buku harian Bena yang terbuka dan tergeletak di kamarnya. Saat itu ia berada di kamar mandi.
“Kenapa dibaca, sih?” Bena merenggut buku itu dan segera memasukkannya ke dalam laci. Mukanya memerah. “Sori. Tadi terbuka..” “..bukan alesan dong!” “Sori, Bena. Aku tergoda.” Tidak sampai setengah halaman yang kubaca, tapi masih segar dalam ingatanku apa yang tertulis di sana. Gue pengen kayak Anyelir atau Maya, udah pinter..gampang bergaul..cowok-cowok pada seneng sama mereka. Aku tidak merasa diri sebagai kembang sekolah, apalagi disamakan dengan Maya yang memang punya segudang penggemar. Tetapi tidak seharusnya Bena menjadikan teman kami yang berwajah sayu itu sebagai tolok ukur. Kukatakan hal itu padanya ketika akhirnya Bena berterus terang mengenai apa yang ia inginkan (mungkin karena aku sudah terlanjur tahu). “Ben, kamu jangan sirik sama Maya. Hidupnya nggak pernah tenang. Kamu kan tahu dia sering didatangin kakak-kakak kelas, diancam, dianggep genit dan dicap tukang rebut cowok orang. Aku sih nggak mau tenar kayak dia.” “Itu cuma contoh kasus, Nye. Aku pengen yakin bahwa diriku menarik..” “..dengan punya pacar?” selaku. “Buat diri sendiri atau pengen diakuin orang lain?” Bena tersenyum kecut. “Ya ampun Ben, dunia nggak bakalan kiamat hanya karena kita belum ngerasain pacaran.” “Kamu sih gampang ngomong gitu! Banyak yang mau deketin kamu. Bahkan Angga nganggap aku nggak ada, dia hanya merhatiin kamu!!”
Aku lelah bersikap manis. Bena selalu mengartikan lain. Insiden selepas UMPTN adalah puncaknya. Bena marah karena aku mengobrol dengan Cakra dan cowok itu menilaiku teman diskusi yang mengasyikkan. Maka kubiarkan Bena mencengkeram pacarnya erat-erat. Aku tak mau disalahkan kalau bersikap dingin dan hanya berbicara satu-dua patah kata dengan Cakra bila kebetulan bertemu. Padahal sampai hari ini, cowok itu kerap mengirim SMS untuk sekedar curhat yang tak pernah kutanggapi.
Kututup telinga untuk setiap keluhan Bena, tentang keributan-keributan kecilnya dengan Cakra yang selalu berpangkal dari rasa cemburu. Aku juga berlagak tuli kalau Bena menggembar-gemborkan kelebihan cowok tercintanya itu. Masa bodoh dia jadi mahasiswa teladan, dapat beasiswa ke luar negeri, punya emas segerobak pun aku tak peduli. Boleh jadi Cakra lebih ganteng dari Angga. Lebih keren. Tapi sikap romantis Angga tak ada bandingannya. Ia juara memberi perhatian, juga mencuri hati keluargaku. Yang paling penting, Bena pernah menginginkannya. Dan ia kalah telak.
Pada hari wisuda Cakra minggu lalu, aku dan Bena benar-benar seperti dua orang yang sedang bertanding. Ia memamerkan Cakra, sementara aku menikmati tatapan irinya pada cincin yang melingkar di jari manis tangan kiriku. Pasti Bena menyangka kami bertunangan. Aku tak merasa berdosa sengaja menyakiti Bena seperti ini. Angga memang sangat baik, tetapi tak pernah sekalipun ia menyatakan cinta padaku. Ia hanya ingin jadi pacarku.
Terdengar dering lembut tanda SMS masuk. From: Bena Bestari Nye, emang Angga udah ngelamar kamu? Pokoknya kalian NGGAK BOLEH MERIT DULUAN. Aku nggak rela sampe 17 turunan.
 Cerpen yang dimuat di majalah ShopnShop, Surabaya, ini adalah satu dari sedikit cerpen yang saya hasilkan tahun 2007. Nama-nama karakternya pun saya sudah lupa, apa lagi mengalami perubahan sedikit oleh sentuhan editor.
Judulnya diambil dari suatu peribahasa, yang artinya dua perempuan berebut hati seorang laki-laki. Naskah ini sudah cukup lama bermukim di hard disk saya namun waktu itu para karakternya lebih dewasa dan telah bekerja. Karena ShopnShop mencari tema remaja, maka saya konversi menjadi romansa anak muda kampus.
Kisahnya mengenai dua orang sahabat yang diam-diam saling bersaing. Yang satu menaruh hati pada seorang pemuda, teman SMA keduanya. Sahabatnya, yang kesal dianggap sebagai kompetitor kendati si teman sudah mempunyai kekasih, sengaja menanggapi sikap pendekatan teman SMA mereka itu dan bahkan bertunangan dengannya.
Saya tidak terlalu biasa menulis cerita untuk remaja, tetapi untuk mahasiswa masih bisa deh:-) 
 Sewaktu singgah di Gunung Agung Merdeka tempo hari, saya sempat jalan-jalan mengitari rak demi rak. Senyum sendiri melihat Virgin Mary yang mejeng di dekat pintu masuk, kemudian berkeliling. Saking asyiknya, diomelin Mas Agus karena nggak denger suara telepon yang dibenamkan ke dalam saku jeans.
Kejutan! Kumpulan cerpen terbitan Darussalam ini masih nangkring di rak novel. Ada beberapa eksemplar. Senang juga mendapatinya.
Cerpen Jodoh Jelita bertema perkawinan, seperti judulnya. Jelita adalah nama seorang gadis yang mapan dan dianggap sudah cukup umur untuk menikah, namun malah dilangkahi adiknya. Alih-alih meledek, sang adik justru berusaha membuat Jelita tidak minder dengan statusnya karena masyarakat sekitar sudah terlalu sering mendesak dengan aneka pertanyaan. Hubungan kakak-adik ini pula yang coba saya rangkum dalam sebuah potret manis, tidak melulu menguarkan hawa persaingan di kalangan saudara sesama jenis. 
|  | Ada yang belum terbit, ada juga beberapa yang nggak punya covernya karena 'hanya' menjadi proofreader. Tapi semuanya pengalaman berharga, kok:-) |
|  | Saya kumpulkan di satu album, supaya tidak berceceran. Ada karya bersama, ada juga yang menulis sendiri. |
 Sesiangan kemarin, saya dan Nad cekakak-cekikik bareng membaca pengumuman Lomba Cerpen Femina di situs webnya. Saya langsung SMS kakak untuk lapor bahwa cerpen saya nyungsep lagi, dan dijawab dengan dorongan semangat untuk tetap berkarya.
Nggak apa-apa, sih. Kayaknya kalah di lomba ini sudah jadi makanan:p Saya bisa ngoprek lagi kedua cerpen tersebut untuk dikonversi sebagai novel (maunya). Tapi..ngng, filenya di mana ya? 
sumber: milis Apsas
Dalam rangka memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta akan mengadakan Lomba Menulis Ceritera Pendek (Cerpen) dengan tema " Memperkokoh persatuan bangsa"
Lomba terbuka untuk umum dengan syarat/ketentuan sebagai berikut :
a.. Peserta harus melampirkan foto copy KTP/Kartu identitas lainnya. b.. Bahasa yang digunakan bahasa Indonesia EYD. c.. Naskah harus asli bukan terjemahan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan baik melalui media cetak maupun elektronik. d.. Setiap peserta paling banyak mengirim 2 (dua) buah naskah. e.. Naskah harus diketik dengan menggunakan Microsoft Word di atas kertas HVS ukuran kwarto dengan jarak 2 (dua) spasi, font areal ukuran 12 (duabelas). f.. Panjang naskah 1500 - 2000 kata dikirim rangkap 3 (tiga) disertai sebuah CD. g.. Naskah dikirim melalui Pos ke alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA paling lambat cap pos15 Maret 2008. h.. Alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA : Superblok Megaglodok Kemayoran (MGK), Office Tower B lantai 10, Jl.Angkasa kav.B 6, Kota Baru Bandar Kemayoran. JAKARTA 10610. i.. Pada bagian kiri amplop harus ditulis Sayembara Menulis Cerpen INTI 2008. j.. Naskah yang tidak memenuhi syarat/ketentuan akan diabaikan. k.. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat. l.. Duapuluh Cerpen terbaik akan diterbitkan dengan copy right milik Perhimpunan INTI DKI JAKARTA termasuk hak untuk menyunting judul dan isinya. m.. Hasil lomba akan diumumkan dalam suatu acara memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional,Mei 2008 dan akan dipublikasikan melalui Website Perhimpunan INTI (www.inti.or.id), majalah Suara Baru dan Sinergi. n.. Hadiah : 1.. Juara pertama uang sejumlah 5 (lima) juta rupiah. 2.. Juara kedua uang sejumlah 3 (tiga) juta rupiah. 3.. Juara ketiga uang sejumlah 2 (dua) juta rupiah. 4.. Juara harapan lima orang masing-masing 1 (satu) juta rupiah. Jakarta, 17 November 2007
Benny G.Setiono Henry Boen Ketua Sekretaris
 Sepulang meeting kemarin, saya pengen banget mampir ke Tisera. Niatnya mencari novel terbitan Sheila, sebagai syarat ikut lomba novel Inspirasi tahun depan. Di rak Cerita Remaja, mata saya tertumbuk pada cover buku ini. Judul yang sangat lekat dalam benak saya, karena saya menulis cerpen dengan judul sama tiga tahun lalu dan mengirimkannya untuk seleksi Antologi Milad FLP. Waktu itu cerpen saya dinyatakan sebagai salah satu karya penulis non FLP yang lolos.
Saya lihat di cover belakang..benar!! Ada nama saya (walaupun salah eja, Rini Nurul Badriyah) bersama beberapa kontributor lain, di antaranya Taufan E. Prast, Arul Khan, Leyla Imtichanah, Pipiet Senja. Karena buku ini tinggal satu-satunya, segera saya boyong ke kasir.
Sampai rumah, cepet-cepet dibuka. Di bagian dalam (cerpen saya urutan kedua), ejaan nama saya benar. Dan..biodata saya nggak ada, hehehe..Memang waktu itu nggak ngasih, belum paham tata cara nulis rame-rame begini.
Bangga banget karena cerpen saya dijadikan judul kumcer ini:) 
 Kemarin kakak saya pulang membawakan Femina edisi 27 September. Selain mendorong saya ikut sebuah sayembara esai, ia menunjuk sejumlah artikel mengenai tulis-menulis dalam majalah tersebut. Saya langsung terpukau pada cerpen di deretan pertama, Istri Yang Sempurna karya Clara Ng (halaman 146). Saya beberapa kali main ke blog beliau. Sering juga dengar soal dedikasinya menulis yang hebat, sampai sedang hamil pun tetap produktif. Menilik profil singkatnya di akhir cerpen, saya yakin Mbak Clara Ng menganggap menulis bukan profesi sambilan atau sampingan. Apa lagi main-main sekadar mengisi waktu. Metafora-metafora indah yang digunakannya dalam hampir semua kalimat amat menawan. Misalnya begini, "Kami menikah pada musim yang kaya akan matahari tropis dan angin lembut bertiup manja dari pori-pori awan. Hujan daun berjatuhan dari ranting, ketika kami saling mengucapkan janji seia sekata, sehidup semati." Cerpen itu sendiri mengharu-biru, menceritakan seorang suami yang sangat mencintai istrinya kendati telah mengalami keguguran berkali-kali. Ah, jadi kepingin baca salah satu buku Mbak Clara Ng kapan-kapan. 
Suatu senja minggu lalu, seorang karib lama menyapa saya di YM. Ia sering ngubek-ngubek blog resensi saya. Menurut pengakuannya, koleksi bacaannya sendiri segudang dan jarang diselesaikan. "Ntar gw kirim deh biar harta karun lo tambah banyak," katanya. Horeeee..! Tadi malam, saya ngobrol dengan seorang sahabat lain mengenai lomba Femina. Nggak ada habis-habisnya ngomongin, bukannya praktek:p Ia memberi suatu gagasan, dan saya kepikiran semaleman sampai kejedot (haduuuh pusing sampe sekarang). Tidur saya jadi gelisah. Balik ke sini, muncul beberapa frasa. Balik sana, timbul beberapa kalimat. Maka, bangun pagi, hajaaaaar..Jadilah dua naskah cerpen. Ide sahabat itu saya olah jadi cerita rada thriller, sesuai cita-cita saya selama ini. Entah bagaimana pendapat para juri yang membacanya, hihi..Pokoknya pede aja lah.
Ini judulnya narsis berat. Sudah lama saya nggak melongok dua cerpen yang diupload di kolomkita untuk kepentingan lomba menulisnya, ternyata sudah ada respon. Semuanya positif, mengandung masukan berharga. Baik cerpen bernuansa humor maupun yang cerita cinta melankolis. Alhamdulillah, tambah semangat menulis 
'Dan kamu memang akan sakit, Mei, tetapi ini adalah imunisasi. Sebentar atau lama sesudah itu kamu akan kuat. Lagipula selain kami letakkan gumpalan-gumpalan kesakitan itu, kami juga tanam pohon-pohon kasih sayang. Supaya ketika kesadaran itu relatif lengkap dan membuat hatimu gerah, sudah ada kerindangan yang menaungi hatimu. Sehingga inilah harapan kami, meski kamu ditanam dalam kebencian, kamu akan tumbuh dalam cinta. Pada akhirnya segala akar pahit akan tercerabut dan kamu akan menghasilkan buah-buah yang manis.' (cerpen 'Adikku, Mei' --Lis Dhaniati; halaman 19-20)
Dear all, semua pertanyaan langsung tujukan ke email di bawah ini ya. Saya bukan anggota redaksi, hanya penyampai info. sumber: milis penulislepas rekan-rekan penulis, kalo punya cerpen dan mau di muat, boleh juga di kirim ke Majalah Matra. lumayan loh. kiriman berupa softcopi (email) dan juga hardcopy (hasil printout). Cerpen yang dikirim bakal tanggapi kalo memenuhi syarat dan ada identitas yang jelas. Sekali lagi jangan lupa identitasnya, Fotocopi KTP sama Foto. Cerpen bisa ditulis dengan jumlah 14.000 karakter. jangan kurang dan jangan kebanyakan ya. Pakai font apa saja yang penting jelas dibacanya atawa gak susah. Kirim aja ke email: redaksi@indosat.net.id. Kami tunggu ya! moga bisa kerjasama.
 Saya masih harus belajar banyak menulis fiksi, tetapi semua yang pernah saya kerjakan menorehkan kesan tersendiri. Non fiksi jauh lebih banyak namun sudah terwakili oleh beberapa foto di album. Mohon maaf kepada teman-teman yang telah memberikan komentar di entri terdahulu, sebelum saya merapikan dan mengeditnya di sini.
2008
- Dongeng anak - sebuah majalah di Bandung
- Cerpen teknologi untuk anak - sebuah majalah di Bandung
2007
- Kisah-kisah Teladan II, cerita anak muslim, duet dengan Agus Hadiyono - proyek Bapusda Jabar
- Kumpulan cerpen remaja Hitam Manis, proyek Bapusda Jabar
- Kisah-kisah Teladan I, cerita anak muslim, duet dengan Agus Hadiyono - proyek Bapusda Jabar
- Cerita pengantar tidur untuk proyek perpustakaan sekolah - Puspaswara
- Ghostwriter cerita anak untuk komik
2006
- Juri Apresiasi Cerpen Arjuna Apresiasi-Sastra
- Cerpen Satu Sangkar Dua Burung, ShopnShop, Surabaya
- Novel komik Melodrama Bintang, TextPict Studio
2005
- Juri pameran komik online Merdeka Komik Kita 2005 Rekamatra
- Naskah komik Jabang Tutuka Gugur
- Naskah komik Pengantin Bratasena
- Anggota tim penulis skenario sinetron seri Semoga Lekas Sembuh, EMGE Creative Room, Jakarta
- Naskah komik Kakek Bejo: Maling Kondang, Text n Pict Studio, Jakarta
- Juara I Lomba Menulis FanFiction Gebyar Komik dan Buku UPINet, Bandung
- Cerpen Jodoh Jelita, antologi Milad FLP terbitan Darussalam
- Naskah komik Lazuardi
2004
- Naskah komik Saliyah - Studio Rekamatra, Jakarta
- 15 cerpen terbaik (Ketika Lala Benci Sekolah) Lomba Cerita Hak Anak Plan International Indonesia
- Naskah komik Dakocan - Local Studio, Jakarta
- Naskah komik Gibug episode 10 - Local Studio
2003
- Naskah komik Namaku Bram - Local Studio
| |