Rini's posts with tag: cerpen anak
 Buku cerita anak pertama-tama harus memberikan kenikmatan membaca. "Anak-anak dulu kalau membaca sampai masuk ke kolong supaya tidak diganggu," kenangnya tentang masa kecil ketujuh anaknya. Sukanto dan istrinya membuat anak-anak mereka tak bisa dipisahkan dari buku. "Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang bersifat mendikte," lanjut Pak Kanto. (halaman x-xi)
Saya ini 'selamat' karena 'digembala' Ibu," ujarnya, tersenyum. "Dia keras, disiplin, dan tak bisa ditawar dalam prinsip. Rapor anak boleh merah, tetapi tidak akhlaknya.. (halaman xi)
Paragraf terakhir ini mengingatkan saya kepada mendiang Ibu (mertua saya). Persis benar dengan cara beliau mendidik putra-putrinya. Kami semua merasa sangat kehilangan. 
 Baru-baru ini saya merevisi terjemahan cerita anak berdasarkan hasil koreksi naskah asli dari editor penerbitannya. Memang ada beberapa catatan yang saya sampaikan ketika mengirimkan terjemahan pertama kalinya.
Merujuk koreksian editor itu, saya mencek kembali kalau-kalau terjemahan tempo hari perlu disesuaikan. Untuk itu, saya berkomunikasi dengan penulis naskahnya. Ini kesempatan yang jarang sekali. Alhamdulillah saya mengenal cukup baik penulis cerita yang saya terjemahkan itu sehingga bertanya-tanya pun lebih mudah.
Misalnya ketika tokoh dalam sebuah cerpen diubah menjadi anak laki-laki. Saya mendapati kalimat yang janggal, anak tersebut mengipas-ngipaskan tangan karena kepanasan. Lewat telepon, saya berkata pada sang penulis, "Kayaknya anak cowok nggak pernah kipas-kipas deh." Ia tertawa dan langsung mengubahnya menjadi 'mengelap keringatnya'.
Tidak semua penulis dapat dihubungi, tetapi perubahan yang dilakukan editor relatif tidak banyak. Cerpen saya sendiri mengalami penyederhanaan kata pada suatu paragraf. Satu lagi ilmu baru.
sumber foto: sxc.hu 
 Selain mengenal penulis yang terbuka terhadap masukan, kebahagiaan seorang penerjemah/penyunting adalah mendapati materi berupa naskah yang berbobot. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya ketika kesempatan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris hinggap ke pangkuan kali ini.
Jantung saya berdetak keras mendapati cerpen karya seorang penulis senior, yang juga editor dan penerjemah dengan jam terbang tinggi. Sungguh memalukan kalau saya sampai terpeleset menggarap buah pena penulis favorit satu ini. Karena beliau memang enak diajak diskusi, saya meneleponnya untuk menanyakan beberapa hal dalam cerpen tersebut guna mencocokkan pemahaman. Misalnya apakah karakter xxxx (sensor ah:p) laki-laki atau perempuan?
Seperti dikatakan seorang editor dalam buku Menjadi Penerbit, terasa sekali bedanya membaca dan 'membaca'. Namun saya mengerjakan terjemahan cerpen ini dengan bahagia. Bahasanya komunikatif, ceritanya berupa petualangan yang sangat unik (tak terpikirkan oleh saya untuk mengembangkan ide yang sebenarnya demikian dekat dengan keseharian ke dalam cerita anak), dan beberapa bagian menantang kreativitas saya berimprovisasi tanpa merusak bangunan asli karya beliau. Jadi teringat saat menerjemahkan seri How to Write kemarin.
Sungguh memuaskan memperoleh pembelajaran dari sebuah cerpen yang bermutu. Saya benar-benar bersyukur.
sumber foto: sxc.hu 
 Dimuat di Majalah Valens edisi 10.
Sudah berbulan-bulan Ratu menderita penyakit aneh. Tubuhnya kurus karena kehilangan nafsu makan. Ia tak kuat bangkit dari tempat tidurnya. Ratu juga tak mampu berbicara. Ia hanya menatap semua orang dengan matanya yang hampir tak bersinar.
Sudah banyak tabib didatangkan, bahkan dari negeri seberang. Namun tak seorang pun mampu menyembuhkan Ratu. Mereka bahkan tak tahu apa penyakit yang diidapnya.
Akhirnya diketahui bahwa obat paling manjur untuk Ratu dimiliki oleh Dewi Melati. Akan tetapi Dewi Melati hanya bersedia menyerahkan obat itu kepada orang yang dapat menjawab tiga buah pertanyaannya.
Seluruh cendekiawan telah dikerahkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Dewi Melati itu. Tetapi belum ada yang memuaskan hati Sang Dewi. Orang-orang keluar dari istana sambil menunduk sedih karena tak dapat membantu Sang Raja mendapatkan obat bagi Ratu.
Demi kesembuhan Ratu, Raja mengumumkan kepada rakyat negerinya, "Barang siapa yang dapat menjawab ketiga pertanyaan Dewi Melati, akan kuberi hadiah besar."
Banyak sudah yang tertarik akan sayembara itu. Mereka memberanikan diri datang ke istana. Tetapi orang-orang yang pandai sekalipun pulang dengan tangan hampa.
Sementara itu keadaan Ratu semakin memburuk. Dalam kepanikannya, Raja menjadi murka. Siapa saja yang datang tetapi gagal menjawab pertanyaan Dewi Melati mendapat hukuman cambuk.
Seorang pemuda miskin datang menghadap. Sang Raja memandangnya dengan sangsi, "Bagaimana mungkin kau dapat menjawab pertanyaan yang sulit-sulit itu? Pendidikanmu tidak tinggi. Para ahli di istana saja tidak mampu."
"Hamba akan mencoba, Yang Mulia," kata si pemuda tenang.
"Kalau kau tidak berhasil, nyawamu taruhannya," Raja mengancam.
"Hamba siap, karena Hamba memang hidup sebatang kara," kata si pemuda lagi.
Dengan harap-harap cemas seluruh penghuni istana menyaksikan pemuda itu berhadapan dengan Dewi Melati.
"Apakah yang tidak dapat dinilai dengan uang?" tanya Dewi Melati.
"Kesehatan," jawab si pemuda mantap.
"Mengapa?"
"Sebanyak apa pun uang dan harta yang kita miliki, tak ada gunanya bila kita sakit. Kita takkan bisa menikmatinya," si pemuda menerangkan.
Dewi Melati meneruskan, "Hutang apa yang tak pernah dapat kita bayar?"
"Hutang kepada seorang ibu," jawab pemuda itu dengan mantap. "Ibu telah mengandung kita selama sembilan bulan, merasakan sakit yang luar biasa hingga menjelang ajal ketika melahirkan, dan banyak lagi. Seumur hidup pun kita takkan pernah dapat membalas jasa seorang ibu yang telah mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang."
"Benar," ucap Dewi Melati. "Yang ketiga, pemberian apakah yang tidak akan membuat kita miskin?"
"Senyuman," ujar si pemuda. "Senyum menyenangkan hati setiap orang yang melihatnya. Kita tidak menjadi kekurangan dengan memberikan senyum, justru mendapat banyak teman."
Semua orang bertepuk tangan hingga suara gemuruh memenuhi sudut-sudut istana. Dewi Melati menyerahkan obat untuk Ratu sambil berkata, "Sesungguhnya ini teguran untukmu, hai Raja. Kau terlalu lalim dan bengis selama memerintah. Karena keangkuhanmu, banyak orang menderita. Justru pemuda miskin yang kauhina inilah yang dapat menolongmu."
Raja terdiam mendengar itu. Ia tak dapat membantah. Jangankan penasihat istana, kata-kata Ratu seringkali diabaikannya. Tak heran jika Ratu sampai jatuh sakit karena sedih.
Dengan tulus Raja mengucapkan terima kasih kepada si pemuda miskin. Setelah Ratu sembuh, pemuda itu diizinkan tinggal di istana. Bahkan akhirnya Raja dan Ratu yang tidak mempunyai keturunan mengangkat si pemuda sebagai anak mereka.

 Saya baru saja menerima email cover buku cerita anak muslim yang disusun berdua beberapa bulan lalu untuk proyek buku penunjang pelajaran Bapusda Jabar. Duh, senang dan terharu. Kesampaian juga liat nama saya dan Mas Agus bersanding di sampul depan. Ada satu cover buku anak lagi, juga hasil susunan kami, serta satu kumpulan cerpen untuk pelajar SMA. Semuanya saya upload di album ini. 
 Yang ketemu hanya file episode ke-5 sampai 10. Maka yang saya posting Negeri Bianglala 5 saja. Ilustrasinya malah yang episode kedua:(
Semoga bermanfaat.
NEGERI BIANGLALA 5
Kelas kembali menjadi gaduh. Burung Hantu mengetuk-ngetukkan pensilnya ke atas meja kayu. Spontan Kelinci bertanya, “Apakah Pak Burung Hantu tahu di mana orangtua bayi manusia itu berada?” “Tidak,” Burung Hantu menggeleng.
“Kamu ini bagaimana, sih?” Kancil menyergah. “Kalau Pak Burung Hantu tahu, mana mungkin si bayi dititipkan di tempat tinggal kita. Pasti ia akan dikembalikan pada keluarganya!” “Betul,” Burung Hantu berkata. “Kelinci, tidak ada makhluk Tuhan yang sempurna. Walaupun aku di sini menjadi guru kalian, bisa saja kalian tahu lebih banyak hal dari aku.” “Contohnya manusia itu,” Kancil menimpali.
Burung Pipit berkata, “Tapi aku sangsi, bagaimana manusia dapat melebihi Pak Burung Hantu yang pintar ini? Sekarang saja ia masih memerlukan bantuan orang lain untuk mengurus dirinya.” Burung Hantu tersenyum bijak. “Jawabannya, karena manusia dikaruniai akal pikiran.” Seisi kelas tersentak. “Akal pikiran? Apa itu?”
Burung Hantu menjelaskan, “Sesuatu yang menjadikan manusia makhluk paling sempurna. Ia dapat menggunakan akalnya untuk memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah-masalahnya.” Tikus mempermainkan kumisnya. “Tadi Bapak mengatakan tidak ada makhluk paling sempurna di dunia. Mengapa sekarang berubah?” “Maksudku..”
Kancil menyela, “Manusia paling sempurna, artinya ia lebih pandai daripada hewan dan tumbuh-tumbuhan.” “Betul, Kancil,” Burung Hantu menanggapi. “Tapi lain kali, tolong jangan memotong perkataan orang lain ya? Itu tidak sopan.” Senyum di wajah Kancil yang tadi dipuji Burung Hantu lenyap mendengar akhir kalimatnya. “Hukum saja, Pak!” seru Kucing.
“Ya, suruh dia menulis Saya tidak akan memotong pembicaraan orang lain lagi sebanyak seratus kali,” kata Burung Pipit. “Laporkan pada orangtuanya, Pak,” kata Tikus tak kalah sengit.
“Sudah, sudah,” Burung Hantu melirik wajah Kancil yang masam. “Yang lain juga mendapat hukuman menulis Saya tidak akan bergembira ketika teman saya berada dalam kesusahan. Kalian mengerti?” Kelinci buka mulut, “Pak, kembali pada pertanyaan semula. Kalau orangtua bayi itu tidak ada, bagaimana dia bisa sampai kemari?” “Pertanyaanmu cukup sulit, Kelinci,” ucap Burung Hantu. “Mungkin saja ia yatim piatu. Kalian tahu apa artinya itu?” “Tidak punya ayah dan ibu,” sahut Kancil pelan.
“Benar,” mata Burung Hantu bersinar. “Mungkin orangtuanya mendapat musibah, yang menyebabkan mereka meninggal. Mungkin juga mereka tersesat jauh dari sini sehingga terpisah dari si bayi.” “Kalau benar dia tidak punya orangtua,” seru Kura-kura, “..apakah itu berarti kita harus mengurus dia untuk selamanya?”
“Tentu tidak,” jelas Burung Hantu. “Ia hanya membutuhkan bantuan dan pengawasan untuk sementara waktu. Pada saatnya, ia akan mampu mengurus diri sendiri.” “Juga mengurus kita,” seloroh Kura-kura. Yang lain tergelak.
“Lho, bukankah dia makhluk yang sempurna?” kilah Kura-kura. “Tentu mudah saja baginya untuk mengurus kita semua.” “Menurutku, yang harus diurusnya adalah Pak dan Bu Monyet,” ujar Kelinci. “Karena mereka yang berjasa membesarkan si bayi manusia. Bukan begitu, Pak Burung Hantu?”
“Benar,” Burung Hantu mengangguk-angguk. “Karena manusia dikaruniai akal budi, mereka dapat memahami itu dengan cepat.”
“Tapi menurutku, belum tentu ia akan melakukannya,” Kancil berkata tiba-tiba sehingga hewan-hewan yang lain memandanginya. 
Inginnya sih menepati janji pada Nad, apa daya file cerber Negeri Bianglala nggak ketemu. Yang ada cerpen ini, juga dimuat di Majalah Valens tahun 2003. Bahkan ini cerpen pertama. Naskah aslinya untuk dewasa dan dibabat banyak sebelum dikirim ke redaksi. Setelah melihat beberapa cerpen saya, redaksi bilang saya punya ciri khas: dongeng dan fabel. Kalo dipikir-pikir, saya memang rada payah nyari ide cerita anak dari kehidupan nyata. KISAH SEKEPING UANG LOGAM Rini Nurul Badariah
Hai, teman-teman. Namaku Seratus. Aku adalah sekeping uang logam bernilai seratus rupiah. Saat ini aku berada di dalam kantung baju seorang pemuda. Gelap sekali di sini. Aku tak bisa melihat apa-apa. Kurasakan tubuhku terangkat. Aha, rupanya pemuda yang mengantungiku membeli sesuatu di sebuah kedai yang berada di pinggir jalan. Kasihan, ia tidak mampu mengganjal perutnya yang kosong dengan makanan yang cukup. Aku diberikannya pada si penjaga kios sebagai pengganti segelas teh tawar. Kuperhatikan jari tengah si penjaga kios. Hai, itu saudaraku si logam kuning. Bentuknya sudah berubah menjadi sebentuk cincin yang kilaunya hampir menyamai emas murni. Si penjaga kios memamerkannya dengan bangga dan sesekali menggosokkannya pada pakaiannya. Kotak tempatku berada kini cukup penuh. Kusapa riang para kerabatku, logam lima puluh bergambar burung cendrawasih, saudara kembarku yang bertubuh tebal, bahkan kutemukan pula adik-adikku para logam dua puluh lima yang sangat ringan. Kami bercakap-cakap tentang pengalaman masing-masing. “Aku diperoleh tuan baru kita sekarang ini dari seorang kernet angkutan umum,” kisah Lima Puluh. “Syukurlah aku bisa bebas. Tangan kernet itu selalu berkeringat.” “Aku berasal dari kantung kain seorang pengemis,” ujar Si Seratus Tebal. “Sebelumnya, aku hendak digunakan untuk menelepon. Tapi lubang kotak teleponnya terlalu sempit untuk tubuhku. Maka orang yang batal menelepon itu memberikanku pada si pengemis.” “Bagaimana dengan kalian?” aku beralih pada si mungil Dua Puluh Lima dan saudara-saudaranya. “Mengapa sedari tadi kalian diam saja?” Si Dua Puluh Lima berkata perlahan, “Kami malu, Seratus. Pengalaman kami agaknya paling mengerikan. Kami dipungut pemilik kios ini dari selokan, tak jauh dari sini.” “Apa?” aku dan yang lain tercengang. “Bagaimana kalian bisa sampai di tempat itu?” “Kami dibuang oleh dua orang preman. Semula pemilik kami adalah seorang pelajar miskin. Ia membiayai sekolahnya dengan menjadi pedagang asongan. Suatu hari, di perjalanan pulang, ia dihadang oleh preman-preman itu dan semua pendapatannya dirampas.” “Apakah majikan kalian itu tidak melawan?” Seratus Tebal bertanya. “Tidak mungkin,” Dua Puluh Lima terisak-isak. “Tubuhnya terlalu kecil dibanding orang-orang jahat itu. Ia tak berdaya ketika kami dan seluruh isi sakunya dikuras habis. Karena kami dianggap tak berharga, preman-preman itu membuang kami ke selokan yang kotor.” “Kalau begitu pemilik kios ini baik hati, ya,” gumam Lima Puluh. “Ia telah menyelamatkan kalian.” “Ia merawat kami baik-baik,” kata Dua Puluh Lima. “Ia sangat menghargai nilai uang, meskipun kami sudah tak dipakai lagi.” Di tengah suasana yang mengharukan itu, tiba-tiba terdengar denting gitar mengiringi suara setengah sumbang. Pemilik kios mendengus kesal dan meraih tubuhku. Dalam sekejap aku telah pindah ke dalam kantung bekas kemasan permen yang dipegang seorang pengamen. Sebelum tubuhku benar-benar lenyap ke dasar kantung itu, kulambaikan tangan pada saudara-saudaraku. “Sampai jumpa lagi! Semoga kita mendapatkan pengalaman yang lebih menarik!”
|  | Saya kumpulkan di satu album, supaya tidak berceceran. Ada karya bersama, ada juga yang menulis sendiri. |
 Kemarin Nunik bilang bahwa tanpa disadari, ia sering menggunakan nama saya dalam cerpen-cerpen anak yang ditulisnya. Memang nama saya tidak spesifik (dalam arti mudah saja diingat secara ejaan) dan lumrah jika seseorang memakai nama orang-orang di lingkungannya, tapi perkataannya membuat saya tersentuh. Nunik bilang, "Sudah melekat di hati," dan itu membahagiakan. Saya percaya bahwa ia tulus banget. Terima kasih, Nik. Semoga karya-karyamu (di dunia cerita anak khususnya) kian cemerlang dan prestasimu makin mengkilap, dengan atau tanpa namaku di dalamnya. 
Sejak usai Maghrib, saya sedang berpacu dengan waktu untuk memeriksa keseluruhan naskah cerita anak muslim yang harus disetor malam ini juga. Suami sudah anteng nonton bola, tapi saya ganggu saja. "Kata 'demi' di awal kalimat itu aneh lho buat anak-anak.." "Kenapa batu hajar aswad bisa lepas? Ada keterangannya nggak?" "Dialognya dikurangi ya, banyakin narasi.." "'Pula' di awal kalimat aku ganti." "Hahaha..ini ada kata 'berhari-hari-hari'.." "Anak-anak sepertinya lebih paham 'lanjut usia' daripada 'renta'."
Tinggal beberapa halaman lagi..jebred!! Listrik mati. Saya terpaku sejenak di depan laptop, sampai suami mengingatkan untuk segera save. Lilin baru dinyalakan, alhamdulillah lampu terang lagi. Bisa stres kalo nggak, saya udah telepon editor untuk mengemailkan naskahnya.
Fyuh..syukurlah. Proyek duet kedua ini benar-benar sudah kelar. Judul di atas mencuat karena inget istilah tersebut pada akhir 80-an:p
Dua hari yang lalu, saya bersih-bersih inbox sebuah account lama yang gampang sekali penuh atau bahkan over kuota. Memang kapasitasnya terbatas, sih. Ternyata ada pesan dari sebuah penerbit, khususnya divisi cerita anak. Untung aja belum terlalu lama. Saya layangkan balasan yang melampirkan naskah novel anak stok tahun lalu. Siapa tahu berjodoh.
Sewaktu ngobrak-abrik referensi baru untuk mempercantik naskah terjemahan saya semalam, datang kabar baik. Cerita pengantar tidur yang saya tulis untuk proyek Puspaswara dua pekan lalu tidak perlu diperbaiki lagi. Alhamdulillah. Belum tahu sih judul final dan penulis yang satunya (karena saya diduetkan di situ oleh kepala tim). Pokoknya seneng, seneng..:)
Alhamdulillah, cerita anak yang saya tulis untuk sebuah proyek naskah kisah pengantar tidur di-acc pagi ini. Hanya setengahnya sih, tapi tepat pada yang saya jagokan. Alhamdulillah..dua jam dilewatkan untuk menyelesaikannya dan kirim ke email penanggungjawab kami. Terima kasih ya Allah, saya jadi pede lagi nulis cerita anak. Satu lagi mengenai suamiku. Karena dia telah banyak berkontribusi dalam tugas menyunting kemarin, kepala proyek mengizinkan saya mencantumkan namanya berdampingan sebagai editor. Horeeee..beliau bisa mengerti alasan saya, yang merasa tidak jujur jika mengklaim hasil suntingan itu seorang diri. Semangat!!
 Suatu hari, keponakan yang kuliah Sastra Inggris meminta bantuan mencari bahan untuk tugas telaah cerpen. Saya menawarkan buah pena sendiri. Ia berkata spontan, "Cerpennya Lik Rini bukannya buat anak-anak?" Saya tertawa geli. Rupanya ia menarik kesimpulan itu setelah melihat beberapa majalah Valens (kini menjadi majalah komik) yang memuat cerpen saya dan kami kirimkan kepada sepupunya yang masih SD. Dari tampilan hasil scan dan ilustrasinya, nyata benar karya saya satu ini memang untuk anak-anak. 'Negeri Bianglala' ialah cerita bersambung pertama yang saya tulis. Kalau tidak salah, dimuat dalam 8 kali terbit. Saya tidak menyimpan keseluruhan naskahnya tetapi ingat betul bahwa temanya adalah bayi manusia yang terdampar di negeri para hewan. Binatang-binatang kebingungan karena belum pernah melihat manusia, kemudian bersama merawatnya. 
 Siang ini dapat kabar dari Kang Iwok bahwa resensi saya dimuat lagi di Batam Pos. Ternyata buku Melangkah dengan Bismillah-nya Mbak Wikan. Horee, senangnya..syukur alhamdulillah. 
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Enid Blyton |
Kue Kismis Bu Topple: 8 Bagian yang menggambarkan kuenya menggiurkan sekali. Orang rakus memang menyebalkan. Tapi kenapa di beberapa halaman Bu Topple terlihat jutek ya?
Dolly Pembuang Waktu: 9 Paling sebel sama jawaban ‘ntar sok..’..apalagi kalau sudah dilakukan oleh orang dewasa.
Kesalahan Teddy: 8 Walaupun fatal karena salah sangka, akhirnya Teddy dapat mengubah perilakunya.
Karena Malas: 8 Saya ikut kesal saat pak Malas memarahi Cherry karena terlambat mengantarkan paket ban sepeda yang ditemukannya di jalan, padahal semua akibat kemalasannya sendiri. Ia bahkan tak ingat untuk berterima kasih.
Anak dalam Cermin: 8 Rasa fantasinya asyik sebab di akhir cerita, boneka beruangnya ditemukan berkaki satu dan bukunya tetap robek satu halaman.
Anak yang Terbelakang: 8,5 Ini membesarkan hati anak-anak yang memang lemah dalam pelajaran sehingga mereka tetap dapat berprestasi dan percaya diri.
Gara-gara Jinky: 8 Cerita yang lucu, mengenai kebaikan yang berputar.
Kalau Suka Berbohong: 8 Kisah ini agak keras, tapi anak yang berbohong memang harus segera disikapi. Acung jempol karena orangtuanya tidak langsung mengabulkan kemauannya sebelum si anak berubah.

 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Enid Blyton |
Cermin Ajaib: 8,5 Ide sederhana namun memukau, yaitu mengenai senyum dan karakter wajah seseorang.
Boneka Paling Agung: 8 Sebuah pelajaran simpel mengenai kepemimpinan dan keteladanan.
Anjing yang Tahu Membalas Budi: 8 Seekor anjing pun dapat mengajari manusia berterima kasih kepada penolongnya.
Gadis Berupa Buruk: 9 Ini cerita favorit saya di buku ini. Rupa bukan segalanya, tetapi kebaikan dan perhatian membuat seseorang nampak manis serta disukai banyak orang.
Anak Kambing yang Lincah: 7,5 Mengingatkan saya pada kebandelan masa kecil dulu, meski tidak sampai dihukum dan rugi berat kayak gini..hehehe..
Lucy Periang dan Dick yang Membosankan: 8 Kelebihannya pada akhir cerita yang tidak ‘bahagia’. Tidak semua orang mampu menyerap nasihat dan akhirnya hidup dengan kesedihan.
Pak Licik: 8 Cerita yang bagus tentang keburukan yang berputar-putar. Senjata makan tuan.

 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Enid Blyton |
Tiga Permintaan: 7 Sebetulnya ceritanya bagus, mengajarkan bahwa pertengkaran apalagi antara kakak dan adik pasti menimbulkan masalah. Tetapi pesawat yang mendadak bisa diterbangkan si peri agak membingungkan.
Charlie si Pembohong: 8 Ini cerita yang keras namun manjur, untuk menegur sekaligus mengingatkan anak-anak bahwa sifat pembohong kelak akan mengantarkan seseorang menjadi maling.
Pantas Jadi Tukang Sapu: 7,5 Kebersihan memang penting untuk dijaga, akan tetapi di sini tidak dijelaskan mengapa Dick jorok dan tidak suka mandi.
Pak Topple dan Sebutir Telur: 8 Kisah kabar burung yang beredar cepat. Pesan yang jelas diutarakan bahwa menuduh tanpa bukti sangat buruk akibatnya.
Masalah Sepele: 8,5 Ini kisah yang baik untuk orang dewasa sekalipun. Semoga saya tak akan lalai mengancingkan sepatu atau perbuatan ringan lainnya sampai memakan korban kecelakaan.
Baskom Cuci Bu Cepat: 8 Karena jengkel oleh si peri badung, saya sempat berharap Bu Cepat tidak mengambil baskom ajaibnya dan membiarkan saja peri itu dicuci terus-terusan.
Sally Ceroboh dan Tabby Jujur: 8,5 Kecerdikan si nenek untuk meletakkan upah di tempat-tempat yang harus dibersihkan merupakan nilai istimewa cerita ini.
Kena Batunya: 8 Cara yang cukup manjur untuk membuat jera seorang pembual. Cocok juga dipraktekkan oleh orang dewasa bila mendesak.

 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Enid Blyton |
Celengan Melia: 8 Kasih sayang kepada sesama membuat Melia rela mengorbankan tabungannya sampai kosong. Ialah satu-satunya yang memperhatikan kesenangan nenek ketika jatuh dan kakinya patah, meski disalahkan oleh saudara-saudaranya.
Sapi-sapi yang Lolos: 8 Dua orang anak tetap menolong pak tani mengambil kembali sapi-sapinya yang kabur dari kandang meski si pemilik selalu ketus dan tak suka pada anak-anak.
Manfaat Batu bagi Keledai: 8 Anak-anak diajarkan mencintai binatang, tidak menyiksanya dan berpikir jernih sehingga dapat memanfaatkan alam sekitar untuk membantu binatang yang sedang ketakutan di jalan es nan licin. Putri Raja dan Gadis Desa: 7 Ceritanya tergolong biasa, namun pembaca diajarkan untuk bersyukur atas apa yang dimiliki. Anna menyadari bahwa kehidupan putri raja tidak semenarik yang dibayangkannya, maka ia tak mau iri hati lagi kepada Putri Peronel.
Uang Logam yang Hilang: 7,5 Saya sudah pernah membaca cerita ini di sisipan Bobo sewaktu kecil. Tindakan Benny yang berusaha menebus rasa bersalahnya karena membelanjakan uang Sally dan mengakuinya sekaligus patut diacungi jempol.
Tukang Sulap Terkenal: 8,5 Cerita ini menunjukkan betapa besar kewibawaan seorang guru. Ia berhak melarang murid-muridnya menonton pertunjukan sulap. Di sisi lain, pelajaran untuk menjaga sopan santun sangat terasa.
Si Gadis Penakut: 8 Cerita yang sangat memikat sebab si penakut yang sering dicemooh teman-temannya ternyata berani menolong anak sapi di hadapan yang lainnya.
Kami Semua Temanmu: 7 Sebetulnya moral cerita bagus, yakni mengajarkan sayang pada hewan. Tetapi penyelesaian terlalu sederhana yakni dialog para binatang ternak dengan Tommy. Mungkin inti pesannya ialah kegunaan setiap hewan dalam hidup manusia.

 Saya masih harus belajar banyak menulis fiksi, tetapi semua yang pernah saya kerjakan menorehkan kesan tersendiri. Non fiksi jauh lebih banyak namun sudah terwakili oleh beberapa foto di album. Mohon maaf kepada teman-teman yang telah memberikan komentar di entri terdahulu, sebelum saya merapikan dan mengeditnya di sini.
2008
- Dongeng anak - sebuah majalah di Bandung
- Cerpen teknologi untuk anak - sebuah majalah di Bandung
2007
- Kisah-kisah Teladan II, cerita anak muslim, duet dengan Agus Hadiyono - proyek Bapusda Jabar
- Kumpulan cerpen remaja Hitam Manis, proyek Bapusda Jabar
- Kisah-kisah Teladan I, cerita anak muslim, duet dengan Agus Hadiyono - proyek Bapusda Jabar
- Cerita pengantar tidur untuk proyek perpustakaan sekolah - Puspaswara
- Ghostwriter cerita anak untuk komik
2006
- Juri Apresiasi Cerpen Arjuna Apresiasi-Sastra
- Cerpen Satu Sangkar Dua Burung, ShopnShop, Surabaya
- Novel komik Melodrama Bintang, TextPict Studio
2005
- Juri pameran komik online Merdeka Komik Kita 2005 Rekamatra
- Naskah komik Jabang Tutuka Gugur
- Naskah komik Pengantin Bratasena
- Anggota tim penulis skenario sinetron seri Semoga Lekas Sembuh, EMGE Creative Room, Jakarta
- Naskah komik Kakek Bejo: Maling Kondang, Text n Pict Studio, Jakarta
- Juara I Lomba Menulis FanFiction Gebyar Komik dan Buku UPINet, Bandung
- Cerpen Jodoh Jelita, antologi Milad FLP terbitan Darussalam
- Naskah komik Lazuardi
2004
- Naskah komik Saliyah - Studio Rekamatra, Jakarta
- 15 cerpen terbaik (Ketika Lala Benci Sekolah) Lomba Cerita Hak Anak Plan International Indonesia
- Naskah komik Dakocan - Local Studio, Jakarta
- Naskah komik Gibug episode 10 - Local Studio
2003
- Naskah komik Namaku Bram - Local Studio
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Wikan Satriati |
Judul: 8 Mudah diingat, pas dengan tujuan. Melangkah dan Bismillah sama-sama mendukung makna ‘awal’.
Desain cover: 8 Sesuai untuk anak-anak, warna cerah membuatnya mudah ditemukan di antara tumpukan buku lain.
Bismillah, Kuawali Setiap Langkah dengan Nama-Mu: 8 Kisah seorang bocah yang mengalahkan kebengisan Raksasa Hitam dengan katapel dan ucapan Bismillah penuh keyakinan hati dikemukakan dengan lembut namun logis untuk pemahaman anak-anak maupun orang dewasa.
Alhamdulillah, Kami Bersyukur: 8 Saya sudah sering mendengar perihal kesabaran Ayyub. Tetapi kehadiran setan sebagai pengirim cobaan dan penyakit mengerikan membuat kisah ini terasa lain.
Assalammu’alaikum, Salam Sejahtera Bagimu: 8,5 Kombinasi dongeng dan kisah teladan raja Umar yang dikritik rakyatnya amat proporsional lagi mengena. Saya paling suka bagian yang menceritakan bahwa ribuan malaikat menjawab salam kita dengan salam. Kalimat salam benar-benar perlu diperhatikan.
Subhanallah, Alangkah Indahnya: 8 Ini kisah kesabaran dan kebesaran hati Muhammad yang juga telah berkali-kali saya dengar, antara lain dari ceramah Ustadz Zainuddin MZ di radio sewaktu kecil.
Laa ilaha illallah, Allah, Engkau Tuhanku: 8 Pendek tapi berkesan. Bahwa manusia perlu berusaha. Bahwa manusia tak boleh mengeluh. Bahwa manusia harus mencontoh kegembiraan pak tua meski hidupnya sederhana.
Astaghfirullah, Aku Menyesal: 9 Ini kisah favorit saya. Wikan Satriati sukses mengupas kisah si kancil dari kacamata berbeda. Sudah lama saya meyakini bahwa kancil itu binatang licik, seperti halnya kelinci yang kerap mengerjai hewan lain dalam dongeng dan komik. Dengan membaca kisah ini, insyaAllah anak-anak pun akan berubah pandangan dan menilai bahwa perbuatan kancil tidak layak ditiru. Seperti halnya dalam lagu “Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun..”
Ladang Kata: 8 Kisah sederhana ini bagai rangkuman yang menunjukkan keterkaitan enam cerpen lain. Indah, indah sekali. Menggambarkan dengan jelas petikan ayat dari Surat Ibrahim yang menutupnya “kata-kata yang baik itu seperti pohon yang indah, akarnya kokoh menghunjam ke dalam bumi dan dahannya menjulang ke angkasa. Pohon-pohon itu selalu berbuah sepanjang musim.”
Kesimpulan: Karya Wikan Satriati ini merupakan pedoman dan rujukan penting untuk menulis cerita anak dengan gaya tutur menyejukkan hati.

| |