Rini's posts with tag: chicklit
 Penulis bernama asli Madeleine Wickman ini sudah menjerat saya sejak buku pertama Shopaholic-nya (versi asli) diulas sekilas di sebuah majalah wanita franchise. Masih ada satu buku yang belum saya beli, dan kemungkinannya tipis karena satu dan lain hal. Jadi inilah yang saya kecap dari novel-novel Kinsella.
1. Confessions of a Shopaholic. Walaupun agak berlebihan, tapi yang namanya shopaholic memang ada. Karakteristik heboh yang bikin geleng-geleng kala Becky berharap tagihan kartu kreditnya salah atau berbohong soal kaki patah, bagi saya, adalah bagian dari imajinasi penulisnya sekaligus bukti betapa parahnya suatu penyakit yang dinamakan berutang. Cerita favorit: Becky vs Luke Brandon di Morning Coffee.
2. Shopaholic Abroad. Kekonyolan Becky ketika berharap mendapat pekerjaan di TV Amerika, kecerobohan dan sejumlah masalah lainnya membuat saya belajar betapa cepat dunia berubah. Daily World, yang dulu memuat tulisan Becky soal salah satu klien Luke, berpihak pada keculasan Alicia untuk menjatuhkan citra keduanya. Tim Morning Coffee malah ingin mengekspos aib Becky di layar kaca. Cerita favorit: Becky melelang barang-barangnya. Saya berhasil 'menulari' seorang sahabat untuk membeli buku kedua ini.
3. Shopaholic Ties the Knot. Terus terang, kisah perkawinannya tak begitu saya sukai. Namun keponakan saya begitu cinta pada buku ini. Setelah baca ulang, saya trenyuh oleh tuduhan Janice bahwa Becky hanya mengarang soal hubungannya dengan Luke. Pekerjaannya sendiri sebagai konsultan busana pribadi dipaparkan begitu menarik. Cerita favorit: Becky menjebak selingkuhan suami kliennya yang mencuri perhiasan.
4. Shopaholic and Sister. Kontradiksi yang mengagumkan, ditambah kepolosan Becky yang mendambakan kemesraan kasih sayang dengan seorang saudara. Gemes juga atas keteledorannya menjanjikan jasa humas Luke tanpa berunding, demi sebuah tas mahal. Cerita favorit: Becky dan Jess tersesat di hutan.
5. Shopaholic and Baby. Kisah dokter kandungan selebriti agak kelewatan. Ibu-ibu arisan banget, gitu. Motif sang dokter untuk merebut Luke juga terkesan lemah. Saya lebih tertarik pada konflik Becky dengan Suze, yang sempat tersingkir oleh kehadiran Lulu di buku terdahulu. Pula upayanya mendapatkan rumah baru. Cerita favorit: Becky mendapat fakta soal Lulu, hasil jepretan detektif swasta yang disewanya.
6. Can You Keep a Secret? Cantik. Cakep. Sip markusip. Top markotop. Sejak halaman awal sudah bikin ketawa, nggak membosankan. Ada unsur mengharukan juga. Semua bertolak pada satu pemikiran: setiap orang punya rahasia. Cerita favorit: Jake membongkar perlakuan Kerry kepada Emma di depan keluarga mereka. 
'Christine sedang berusaha keluar dari Fashionista, dan rute yang dia ambil adalah menjadi kritikus makanan. Dia bermimpi menjadi penulis tentang makanan. Dia ingin menjadi orang yang dibayar untuk mendeteksi rasa kunyit dalam sepotong lumpia. Dia ingin menghadiri acara makan malam yayasan James Beard dan duduk di sebelah Julia Child. Dia ingin bekerja di majalah yang memiliki lebih banyak substansi daripada sekadar aroma dupa yang menyusup.' (halaman 15)
'Maya yakin perubahan kecil adalah riak dalam kolam keberadaanmu. Dia yakin riak-riak itu akan bergulir menjadi perubahan raksasa yang mempengaruhi segalanya. Tapi kehidupan tidak seperti itu. Kau bukan maskapai penerbangan. Kau tidak bisa mengambil buah-buah zaitun dari setiap salad yang disajikan di kursi kelas satu dan menghemat satu koma dua juta dolar.' (halaman 158)
  
 "Mengapa kau benci cermin?" Tak ada suara, selain dengung angin. Akhirnya Jess menengadah. "Entahlah," katanya. "Mungkin karena setiap kali aku melihat cermin sewaktu masih kecil, ayahku bilang aku tak boleh pongah." "Pongah?" Aku menatapnya dengan mata lebar. "Apa, setiap kali?" "Hampir setiap kali." Ia mengangkat bahu, lalu melihat raut mukaku. "Kenapa? Kalau orangtuamu bilang apa?" "Orangtuaku dulu selalu bilang..." Sekarang aku sedikit malu. "Mereka dulu selalu bilang aku malaikat kecil paling cantik yang pernah jatuh dari surga." "Nah." Bahu Jess melorot seolah ia bilang "pantas saja". (halaman 440)

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Alberthiene Endah |
Waks! Ngeri banget deh baca pendahuluan chicklit yang dibeli adik saya ini. Kok kesannya membenarkan gaya hidup sebagai cewek matre? Bacanya harus sambil dengerin lagu rap (yang saya lupa penyanyinya), “Cewek matre, cewek matre..ke laut aje..” Lola, seorang PR officer di sebuah radio Jakarta, gelisah. Ia merasa pendapatannya tak cukup dibandingkan kesuksesan yang dicapai adiknya, Barbie. Selain perusahaan tempat Barbie bekerja lebih bonafid, sampingannya juga banyak. Lola mulai minder, karena dengan gajinya yang 4 juta (buset dah!) ia hanya bisa hidup ‘pas-pasan’. Padahal kalau ditilik sih, itu kesalahannya sendiri yang doyan mampir di mal sebentar-sebentar. Yang awalnya cuci mata, jadi ngeborong dan saldo di ATMnya mengering sebelum hari gajian tiba. Chicklit ini punya kekhasan penuturan seperti halnya chicklit lain (atau novel sejenis), yaitu uraian dalam bentuk poin-poin. Didukung teman-teman segank-nya yang merasa termiskin di dunia (waduh!), Lola menetapkan sasaran. Gampang diterka, akhirnya ia mengorbankan tubuh segala. Bahkan untuk laki-laki yang tidak disukainya sedikitpun, hanya demi transfer pertama senilai sepuluh juta. Keseluruhan kisah ‘Cewek Matre’ mengetengahkan kehidupan yang mendongak ke atas. Saya tahu rutinitas kerja di Jakarta sangat menyiksa, belum ditambah kemacetan lalu lintasnya yang super depresif. Tapi menyimak bab demi bab strategi Lola menjerat korban, jadi mikir juga nih..apa semua cewek kelas atas Jakarta begitu? Nggak pake baju bermerk, badan jadi sakitkah? Seharusnya ada cerita Lola ditodong waktu naik taksi gara-gara pake perangkat gemerlapan yang menggoda iman. Namanya juga hedonisme. Lambat-laun jiwa Lola capek juga. Semua uang yang ia peroleh raib tanpa bekas untuk hura-hura. Ia dicap miring oleh beberapa teman sekantor yang disainginya dalam hal gaya. Dengan sikap begini, ia sebenarnya tidak berhak ngamuk atau tersinggung karena ‘dilecehkan’ oleh teman-teman Philip saat bertemu di Bali. Toh, dirinya memang simpanan kok. Jadi cewek matre nggak malu, kenapa nggak sekalian aja pasang merk di jidat? Cerita mulai terasa garing saat Lola berjumpa Clift, seorang fotografer yang mencoba berdiri di kaki sendiri. Argh, sudah cukup tampang indo. Sudah cukup keluarga menengah ke atas. Sudah cukup pekerjaan glamour ala model. Akan lebih seru bila Clift ternyata beneran morotin Lola, kemudian pura-pura memutuskan hubungan dengan dalih ada main dengan pamannya. Biar lebih asyik, mestinya keluarga Clift dan istri Philip juga tahu. Soalnya ganjaran yang diterima Lola kurang heboh, setelah skenario bombastis demi hidup senang itu.
  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Icha Rahmanti |
Telat kali ya, membahas chicklit laris ini sekarang. Kakak saya membelinya karena penasaran membaca liputan soal chicklit di majalah Femina sekitar dua tahun yang lalu. Saya paling hobi baca profil penulis dulu, jadi begitu melihat biodata singkat dan foto-foto di sampul belakang..”Wow.” Memang baru sih ada anak ITB yang nulis novel, selain Andi Erianto waktu itu. Saya sempat mendiskusikan ini dengan kawan lain dari FSRD, tapi karena sudah lama..lupa argumen apa aja yang dia kemukakan, hehehe.. Huruf yang rapat (masalah klise) bikin kepala nyut-nyutan. Tapi isi ceritanya memang kayak orang ngobrol. Bedanya, waktu baca ‘Jendela-jendela’ saya masih bisa tarik nafas sedangkan ‘Cintapuccino’ seperti mitraliur. Brrr...bla-bla-bla..kalau dianalogikan orang, mungkin nggomongnya cepet dan terus-terusan. Alur cepat ini lumayan membantu sehingga detilnya tidak terasa membosankan, meski masih jenuh juga karena sering flashback di hampir semua bagian. Membaca Nimo, saya teringat film animasi yang ngetop itu. Mungkin hanya kebetulan, sebab dalam prakata atau mana pun tak ada referensi bahwa Icha terinspirasi ‘Finding Nemo’. Sejumlah metode agresif Nimo saat berjumpa dengan Ami lumayan kreatif, dan ini terlihat dalam dialog-dialognya yang menyerupai naskah film Barat. Saya ketawa pada sebuah bagian yang cukup sarkas, yaitu saat telepon Ami ke ponsel Raka ditolak. Saat itu Ami sangat marah dan menyumpahi Raka jalan mundur. Sayang, kemenarikan itu mentah abis dengan perkelahian Raka dan Nimo di depan swalayan sampai ditonton banyak orang (Emang masih ada ya zaman sekarang? Katanya Raka dewasa orangnya). Pertautan hati Nimo dan Ami terkesan dipaksakan. Akan lebih seru jika Nimo jadian aja sama Alin, kalau perlu tunangan deh. Biar Ami tambah puyeng, gitu. Semula saya menduga novel ini tidak akan berkisah sepenuhnya tentang cinta, melainkan ada unsur pengetahuan soal kopi atau kedai cappucino. Judul-judul bab juga tidak semua mengetengahkan sesuatu mengenai kopi. Peringatan keras dari chicklit ini ialah rasa penasaran sama gebetan waktu SMA jangan terlalu dimasukkan hati, supaya tidak menjadi obsesi. Ngeri juga kalau harus kayak Ami gitu, saking ngebetnya sama Nimo sampai mendata terperinci dan daftar di kuliah serta perusahaan yang sama. Ampun!

| |