Rini's posts with tag: coretan
 Saat sampai di sini seminggu lalu, keponakan bercerita tentang 'goreng adat' (apa ya bahasa Indonesianya? kira-kira 'tabiat buruk') dosen pembimbingnya yang sama-sama perempuan jika sedang datang bulan. Apesnya, hari ini, hari terakhir ia berada di rumah kami dan menata keseluruhan proposal untuk dibawa pulang nanti malam, saya memiliki banyak alasan untuk gampang kesal.
1. Sedang haid. Kondisi luar biasa: tidak terlalu mules, tidak pusing, 'hanya' jerawatan dan kurang selera makan akibat flu.
2. Kurang tidur. Jadilah ekstra capek.
3. Sekarang sudah lewat pertengahan Juli, sementara beberapa hal yang bertenggat akhir Juli (misalnya sebuah lomba fiksi) belum saya tuntaskan. Memang keponakan tak ada sangkut-paut dengan masalah ini, tahu saja tidak, namun dia makhluk hidup terdekat yang paling mudah dijadikan sasaran amuk.
Pagi ini, saya memaksanya minum susu beruang (istilah populer Bear Brand). Ia tidak sakit panas, hanya tak suka susu 'biasa' yang bergula dan pernah bilang bahwa susu Bendera yang saya buatkan berbau kambing. Ketika ia meledek saya 'tikus makannya nggak habis nih' karena meninggalkan sepotong biskuit keju di dapur lantaran harus menyelesaikan bikin sarapan, saya mengganjarnya dengan keharusan menghabiskan semua yang sudah dimasak kemarin. Tanpa senyum.
Diminta membaca ulang ketikan proposalnya? Oh, dengan senang hati saya mengasah taring. "Setelah sub judul, tidak boleh langsung points." "Kasih jarak dari paragraf ini ke sini." "Bisa dizoom seratus persen dulu? Aku susah bacanya." "Kalo pake the, berarti merujuk sesuatu yang telah disebut sebelumnya." "To know itu kurang ilmiah, pakai to identify." "Ketika skripsi ditulis, penelitian dianggap sudah selesai. Jadi semua pake past tense." "Kalimatnya nggak bunyi." dan seterusnya..dan seterusnya..
Toh dia tidak jera. Sudah biasa dengan kesangaran saya yang dibilangnya serem kayak Hantu Korea (dasar anak nakal!). "Jadi sebelah sini dikembangkan awalnya gimana, Lik?"
"Aku kasih kata permulaan aja, in order to..terusin sendiri."
Ia memikirkannya sambil main Bookworm, berusaha mengalahkan skor tertinggi yang berjejer di sana. Nama saya, nama Mas Agus, dan nama kakak sepupunya. 
 Kemarin Subuh keponakan tiba di rumah kecil kami, mengobrol ini-itu tentang kuliahnya. Tentang dosennya yang nyentrik abis (kata dia, 'kayak Black Magic Woman'). Tentang skripsinya, yang membahas novel Lord of the Rings, karena dia memang doyan sekuel, fantasi dan kolosal. Tentang usulan dosennya untuk ganti topik ke puisi T.S Eliot dan novel Of Mice and Men, tapi dia tidak suka. Tentang keharusan berbahasa Inggris sejak seminar proposal sampai sidang akhir kelak.
Habis-habisan dia meledek saya karena makan melulu. "Lik Rini, hahaha..jam segini udah makan," katanya sambil main Bookworm. Saya tersenyum juga sebab ia memuji rawon jadi-jadian bikinan saya, dan bilang supaya dia nggak usah diet lagi.
Untuk dia, saya buka-buka Teori Psikoanalisis Freud. Membaca lagi telaah strukturalisme Lucien Goldmann dan kajian sastra intrinsik. Mencari-cari file teori Saussure dan membaca ulang teori motivasi Abraham Maslow. Saya tidak bisa bantu dalam urusan novel JRR Tolkien tersebut karena belum baca (dan ia sendiri lupa membawanya:p).
Faktor X dalam obrak-abrik skripsi itu jamak terjadi. Dia hanya stres oleh tekanan orang-orang yang tidak paham bahwa kuliah sastra bukan sulap sekedip mata. Hanya perlu keluar sejenak dan main Hangaroo. Ia menceritakan kedua temannya yang sama-sama ambil topik novel Danielle Steel, hingga yang satu harus ganti objek. Saya menyarankan agar temannya yang satu lagi meneliti karya Sidney Sheldon saja.
Saat saya menyebut-nyebut Stephen King, ponakan bertanya, "Nah ini judulnya apa dong, Lik?" Di layar PC masih terbentang Hangaroo, soal Book Title/Author. Saya menjawab, "Pet Sematary."

 Misuh-misuh nggak ada gunanya. Di TV juga banyak berita class action dari warga desa, terus asosiasi perusahaan jasa. PLN emang tooop deh..paling dalam hati ngedumel, "Kapan siih kita pernah telat bayar tagihan?"
Kaget-kaget banget sih, nggak. Udah ada perkiraan, abis Nangor kita kebagian. Teman di Selatan cerita, kemarin rumahnya mati lampu jam 16.00-19.00. Saya mencoba sabar.
Mas Agus membukakan tirai jendela, yang baru diganti tadi pagi. Sadaaaa..(niru komik Bangor), langit bertabur bintang. Serasa di film-film Hollywood jadinya. Berbaring memandang bulan yang menyerupai lampu di atas pohon-pohon pisang, tepat sebelah jendela kamar. Boro-boro deh inget kerjaan yang masih setampah.
Maafkan bila foto bulannya buram, pake kamera HP yang masih VGA sih:p 
 | Sakit | Jun 18, '08 6:36 PM for everyone |
 Saya pernah baca entah di mana, 'kata hati adalah suara surga'. Ini terbukti benar pada kasus hari ini. Diajak Mas Agus ke warnet. "Kasihan, mereka nunggu-nunggu langganan favorit," gurau saya. Di warnet, kami sering lupa waktu saking nyamannya. Berasa di rumah sendiri aja..udah hafal ke kamar mandinya, mushallanya, jajannya banyak, bahkan kenal dengan petugas parkir dan resepsionis. Hebat nggak, tuh?
"Eh, telepon dulu. Siapa tahu listriknya mati," celetuk Mas Agus. Saya mesem doang. Lha wong nggak pernah dengar bunyi telepon di sana. Tahu nomornya aja nggak. Kami meluncur. Risikonya lumayan tinggi memang. Sama-sama ngantuk (Mas Agus karena ronda sampai setengah satu pagi dilanjut bola, saya karena melek dari jam tiga) dan langsung kena matahari Jatinangor yang panaaas!! Macet pula di gerbang. Sempet teringat suatu kejadian masa kuliah, teman sekelas saya liat orang gantung diri di pohon bambu tepat sebelah gerbang itu. Dekat jendela bisnya banget, mayatnya menghadap ke muka dia. Pohonnya sih udah nggak ada sekarang.
Perasaan saya udah nggak enak. Menuju Cileunyi tadi, liat mobil PLN setempat. Warnet pertama dari gerbang Nangor tutup. Ah, lagi libur kali (ngarang pisan:p). Beberapa meter dari warnet yang kami tuju, sebuah jasa fotokopi memasang tulisan MAAF, MATI LAMPU. "Pantesan banyak orang di jalan," kata Mas Agus. Lemes memang, selain nggak deket, motor kesenggol orang pula. Pas lagi nyebrang jalan, sementara di depan ada truk tronton dari Pantura (asal aja sih..Pantura emang lewat Nangor kah?). Telat sedikit, gepeng deh kami dicium truk itu.
Ya wis, jalan-jalan wae. Rencana beli lauk buat makan siang (pemalas abis..), terus pengen iseng cari bakso Malang di pelataran kampus. Halah..ngayal banget. Ternyata di deket gerbang, ada demo. Balik lagi deh..
Es campur depan Wisma Caringin menggiurkan banget. Buahnya segar-segar. Sempet tergiur jus jambu, liat buahnya gede-gede mantep. Abangnya bilang, mereka pake genset jadi bisa ngejus. Tapi es campur pun tak apalah..tanpa tape, tentu.
Sedap..panas-panas makan es..di rumah:p Udah makan siang, sih. Mendadak kepala nyut-nyutan. Kirain karena manisnya (saya nggak tahan terlalu banyak gula). Beranjak siang, jadi batuk-batuk. Pusing. Sorenya malah demam. Haduuuuh!!
Salah sendiri, memang. Udah badan kurang tidur, sarapan telat (keasyikan nyetrika, takut mati listrik seh), malah angin-anginan dan makan es lagi. Di luar sana memang panas, tapi sekitar rumah kan dingin bangedd..

 Kemarin sore kami turun gunung, sempat terhenti menonton rombongan Lengser Art yang menyuguhkan kuda renggong di dekat salah satu komplek. Mereka baru akan berangkat dan sudah mulai menari-nari. Dobel bonus deh, soalnya kami juga nonton kesenian ini hari Rabu lalu. Menurut pengalaman semasa KKN dan ngekos dulu, orang Sumedang suka hajatan hari Rabu.
Langsung menuju warnet Kubus di Jatinangor, sebelah Hotel Citra Papan yang disebut Mas Agus 'hotel balong'. Enak memang di warnet ini. Lega, kenceng, dan pelayanannya oke. Pas daftar di resepsionis, alhamdulillah dapat yang lesehan. Di pojok lagi, bisa nyender ke tembok.
Kali ini Mas Agus memenuhi permintaan saya: ngelencer ke kampus! Mau motong lewat Unwim dekat halte Damri, weh..ditutup. Mungkin jalan kaki sih bisa, tapi kendaraan cuma bisa sampe BNI dan Mandiri. Sebelahnya ada jalan juga yang lagi dibangun. Eks kebun jagung yang dulu sering jadi jalan motong dari dekat GOR menuju Damri. Mulailah saling ejek antar jurusan. "Kelasnya kamu mah mana pernah jalan sini," ledek Mas Agus. "Nggak ada tuh sejarahnya anak Prancis jalan kaki." Tentu saja saya nggak mau terima, wong dulu sering mblusuk ke situ meski deg-degan karena pohonnya serba rapat dan takut salah belok:p
Akhirnya muter deh ke gerbang utama yang dipadati kaki lima itu. Wow, pohon-pohon yang dulu masih kecil sekarang sudah rimbun sepanjang jalan. Trotoar jadi teduh semua. Sayang kami nggak bisa masuk Fasa lantaran sepi dan dijaga satpam (di mana-mana ada portal). Tapi sempat lihat jalan belakang kantin yang dulu terkenal dengan sebutan Tanjakan Mesra. Di seberang bunderan, gedung FKU yang pas madep kamar mayatnya. Dulu sering dipake uji nyali jaman ikutan panitia opspek, gelap geto loh..
Belok kanan, mengagumi Student Center. Terus ke Fapet, yang sebelahnya ada Milk Shop dan Kandang Kelinci. Di dekat kebun, tampak beberapa mahasiswa sedang praktikum dengan bimbingan seorang cowok ganteng yang kami asumsikan sebagai kakak pembina atawa asisten lab. Terjadilah reka adegan oleh dua alumni iseng di seberang jalan, di atas motor.
Saya mendubbing ucapan salah satu mahasiswi dalam hati: "Nggak apa-apa deh, bela-belain Sabtu sore naik ke kampus. Demi kakak pembina yang keren." Mas Agus melanjutkan: "Kak, aku jomblo." Saya: "Aku padamu, Kak. Bagaimana dengan Kakak?" Sebelum mereka menyadari ulah kami, cabs deh.. melintasi Faperta yang rindang dan sejuk. Jauuuh deh dengan terakhir kali kami di sini.
Karena nggak direncanakan, saya nggak bawa digicam. Foto ini diambil di ujung jalan dekat rumah, untuk memperlihatkan betapa cerahnya cuaca kemarin sore. Kapan-kapan kami akan ke sana lagi pada hari kerja, nangkring di Kansas alias Kantin Sastra. 
Kemarin masih 'ngewarnet' informal alias nebeng akses di rumah sepupu. Penuh dengan 'risiko', di ruang kerja dia karena sering dilewatin orang. Anak-anak kalo pulang juga langsung masuk ke situ menuju lorong ruang tengah. Mau pindah ke kamar tengah? Busyet deh, jejak browsing anak-anak yang terdiri dari game, musik de el el segambreng. Takut keclose jadinya. Ditambah lagi mouse wireless, gapteknya dirikuw.. Di kamar si Sulung? Ribut oleh ABG-ABG yang main PS dengan segala kehebohannya. Halah.. Puas sih, dari beberapa jam itu sudah bisa cek email, chat dengan beberapa sahabat, bantu kakak sepupu ngoprek setting internet PDA-nya yang tak mau konek juga karena salah setting gateway, kemudian makan whities (brownies putih) nyaris setengah piring dan menemani si Tengah nonton film jadul John Travolta di HBO. Seru deh, bisa 'meracuni' dia untuk ikutan ngefans cowok ini..hahahaha.. Abis Maghrib, nyempetin nongkrong berdua di Ujungberung. Aih, serasa makan malam di..manaaa gitu (kayak sering dinner aje). Sampai rumah jam 20.00, nyungsep di kasur!! Walhasil, bangun subuh dengan segar dan penuh stamina untuk menyelesaikan semua kerjaan rumahtangga. Di antaranya nyuci baju sebelum berubah jadi setrikaan tujuh bakul (pinjem istilah Mbak Poppy). Penuh tantangan karena dalam prosesnya 'bertemu' dua ekor cacing yang lumayan panjangnya., kemudian masakan saya agak gosong..sementara Mas Agus berkutat dengan rak buku buatannya sendiri di teras, yang dikomentari para tetangga 'mirip lemari'. Sore ini, turun gunung lagi deh. Menikmati warnet baru di Jalan Percobaan Cileunyi. Rada lambat memang, tapi mantap deh suasananya...hening banget! Ruang duduknya bak lobi kantoran. Dan di daftar yang tertempel di sebelah monitor, tertera sejumlah larangan di antaranya Dilarang Mengganggu User Lain. Asyik juga, online sambil mendengarkan suara bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang lalu-lalang. Ide pun tumbuh subur di kepala. Tralala..
Semua telah berlangsung secara bertahap. Membatasi download kecuali update anti virus, membatasi chatting dengan install Instant Messenger jadul, mengalihkan ke HP, mengurangi posting di MP (meski awalnya karena 'tuduhan' robot dari MP sendiri), membatasi email belaka...kemudian membuka telinga lebar-lebar pada keluhan Mas Agus perihal seringnya saya online daripada jalan-jalan dengan beliau..
Kemudian bermunculan banyak alasan lain. Maka.. setelah saya berhasil menginjak pedal rem untuk belanja buku, kini saatnya saya diet online. Bukan puasa, yang sekali buka kayak balas dendam dan buntutnya jebol-jebol juga. Disiplin hanya berlaku pada diri saya dengan 'kekerasan'. Demi kesehatan, demi keselamatan perekonomian, demi konsentrasi pada pekerjaan, dan demi-demi yang lainnya (demikianlah).
Terima kasih pada sahabat-sahabatku yang senantiasa mendukung dan mengarahkan pada kebaikan, pada Geng Kompor: Kang Iwok, Nunik, Dedew, Nad..yang telah memberikan semangat, pengertian terhadap prioritas berkeluarga dan contoh baik secara langsung maupun tidak, bahwa kita nggak akan mati meski 'hanya' berselancar di warnet. Paling oke deh masukan dari bapak dan sesama ibu-ibu erte ini.. Doakan ya..
 Niatnya sih begitu, tapi apa daya jalanan Bandung memasuki kemarau ini penuh debu beterbangan dan bikin mata pedih. Meskipun demikian, saya dan Mas Agus tetap semangat momotaro (istilah dia untuk momotoran alias naik motor jalan-jalan) sambil menikmati masa 'pacaran'.
Berhubung kami mukim di Timur, sering mblasak-mblusuk jalan tikus dan menyusuri perumahan berbagai bentuk. Pemandangan yang aneka ragam membuat kami bersyukur tinggal di desa terpencil sekalipun, karena setidak-tidaknya punya tempat berteduh yang layak dan nyaman serta sehat.
Tapi sifat jail memang susah diredam. Di tengah lalu lintas yang macet, saya sering mendapati tulisan-tulisan menarik untuk dibahas. Misalnya sebuah reklame di pinggir jalan yang mengiklankan sebuah operator berbunyi: 'Mau?' memperoleh jawaban langsung dalam huruf besar berpilox hitam 'Tidak!' Kami ngakak bareng membaca tulisan di belakang mobil box, 'Cintamu Tak Seberat Muatanku'.
Kemarin juga begitu. Mas Agus menunjuk tulisan di belakang truk, 'Bojo Loro? Boros, Boss!'
sumber foto: sxc.hu 
 Sepanjang hari kemarin, saya melakukan serangkaian kesalahan bodoh. Entah karena berangkat pagi-pagi sekali dan nggak sempat persiapan, entah karena otak 'beku' oleh hawa kemarau yang menggigit (nyalahin cuaca, nggak banget deh!), kepikiran Teteh yang belum sehat benar, atau ketularan stres para keponakan yang sedang UAN (halah, teu nyambung pisan). Yang pasti, sejak Minggu saya udah kebanyakan bengong. Bukan cuma tertegun oleh kenaikan BBM, tapi serentetan insiden di rumah: jam dinding tewas (udah ganti batre tapi malah jadi lambat, bener kali gunung ini mengandung banyak magnet), bantal listrik tersayang meninggal dunia, dan TV pun tak tertolong.
Saya dan Mas Agus berangkat ke kota untuk beberapa keperluan. Di tengah jalan, ada SMS dari klien membatalkan pertemuan. Yang tadinya tancap gas jadi santai, malah sempat nyasar segala. Kami menikmati rute berbeda sambil melihat-lihat sekitar. Rumah susun, misalnya. Teringat tahun-tahun awal pernikahan, sempat kepikir mau tinggal di rusun. Ketika hampir sampai, saya teringat ketinggalan dua paket. Nggak apalah, meski satunya untuk sahabat yang akan berulangtahun. Kalaupun terpaksa terlambat, saya yakin dia akan mengerti dengan hati seluas samudra seperti biasanya.
Beberapa meter kemudian, ingat barang lain yang terlupa. Beberapa buku untuk saudara yang rencananya akan dititipkan pada keponakan. Ia akan pulang kampung minggu ini. Ya sud. Masih ada hari esok, atau kalau tak sempat ketemu, dipaketkan juga.
Saya masih merasakan ada yang nggak beres. Sekitar lepas Dhuhur, sadar deh..dompet ketinggalan! Dasar nggak biasa berdompet-ria. Rencana beli pompa air batal. Mas Agus yang datang dari sebuah kantor institusi nyengir karena orang yang akan ditemui cuti seminggu.
Apakah kelemotan ini diakibatkan kurang asupan energi? Tidak. Malah saya ngeh akan dompet yang tertinggal setelah makan mi goreng, pizza dan ayam paprika (hebat nggak tuh?). Ketika hendak pulang, kepala terasa berat. Weleh..salah ambil helm! Syukurlah baru dua meter, jadi balik lagi. Si Bungsu menunggu dengan manisnya dan membukakan pintu.
Kecerobohan (atau kram otak?) ini masih berlanjut di rumah. Setelah cek email, saya lupa disconnect sampai-sampai pulsa tinggal seribuan!! Ampun..ampun..mendingan saya tidur sebelum melakukan kebodohan lainnya.
sumber foto: Dear Diary themes, customizedthemes.multiply.com 
 Malam ini dingin banget, tapi saya sudah melek dari jam setengah tiga pagi. Dibilang 'kenyang' tidur, nggak juga. Lelap bergelung selimut sekitar jam sepuluh. Nonton The Departed bolak-balik ke Sleepy Hollow yang 'oh, suraaam!' itu.
Waktu masih lajang, saya sering beres-beres kamar (termasuk isi lemari) malam hari kalo nggak bisa tidur. Tapi sekarang? Alhamdulillah Mas Agus nggak terganggu istirahatnya ketika saya menyalakan Dynabook yang mulai berdebu. Ntar bersihin, ah.
Akhirnya saya putuskan: membungkus sebuah paket untuk dikirimkan besok.
sumber foto: sxc.hu 
Yang namanya bete dan bad mood sangat mudah menular. Beberapa hari yang lalu saya kehilangan nafsu makan, susah tidur dan sakit perut terus karena suatu pikiran. Nggak tahu harus ngapain. Di komputer bosen, baca juga nggak pengen..ajaib, kan?
Saya telepon seorang keponakan yang biasanya ketawa-ketiwi. Walah, dia juga lagi dihantam masalah di kantor sampai-sampai (temperamennya memang mirip saya) nyaris berantem dengan teman kantornya itu. Setelah mendengarkan curhatnya panjang lebar hingga kuping panas, saya memutuskan menekuni urusan rumah saja. Cuci pakaian biasanya manjur, karena setelahnya melihat pakaian yang bersih.
Meskipun sakit pinggang, dijalani aja deh. Bolak-balik menggeser jemuran sesuai arah sorotan matahari yang reup-bray (redup dan terang). Apalagi Mas Agus pulang dengan muka ditekuk delapan belas. Capek berat dan stres, tiap pagi nyubuh ketemu klien dan pulang nyaris malam harus kerja lagi. Wah, nggak bisa dibiarkan. Dua orang yang bete berpotensi ribut besar.
Kalo lagi suntuk, rambut Mas Agus mekar (dulu saya kerap meledeknya surai). Tapi setelah memakai shampoo tertentu, terkulai terus sehingga saya tak punya indikator lagi. Kini dia menampakkan sisinya yang lain: cerewet dan jail berat. Yang jadi sasaran? Anak balita tetangga yang sedang senang-senangnya main di teras. Saat mas Agus ngoprek motor, dia menyanyi..
"Balonku ada lima.." "Dor!" Mas Agus bangkit dan membuat dia kaget. Si balita menengok sejenak, lalu dengan cuek meneruskan, "Rupa-rupa warnanya.." "Dor!" Mas Agus berseru lagi. Masih untunglah, setidaknya si balita ini tak sampai menangis. Malah tampak senang digodain. Kalau yang ditemui Mas Agus adalah anak tetangga yang memanjat atap fiber kami untuk mengambil layangan dan membuat talang air kami bocor, tak akan seriang itu air mukanya.
Malamnya, saya mengajak dia nonton Gothika bareng di TV. Kami juga sempat iseng-iseng nonton sinetron Suami-suami Takut Istri, diselingi iklan yang terus dicelotehi Mas Agus. Melihat iklan sebuah biskuit, misalnya, dia bilang, "Jangan makan biskuit ini, nanti jadi anak licik!"
Pagi ini, selera makan saya sudah pulih. Si stres saya larikan ke makan sebanyak-banyaknya, termasuk coklat (melirik Nad, ehm..). Mas Agus sedang istirahat setelah kakinya yang rematik saya pijat. Semoga setelah ini semuanya kembali ceria. Amin.
sumber foto: capture DVD Crayon Shinchan The Movie   
 Orangtua bilang, pamali jika kehamilan masih muda dikabar-kabari sama orang banyak. Tapi saya nggak peduli, karena terlalu bahagia. 'Kecurigaan' saya memperhatikan Teteh yang tidak enak badan akhir pekan lalu terbukti: dia positif hamil!
Alhamdulillah, alhamdulillah. Mama berbahagia akan beroleh cucu pertama. Untuk keluarga besar Jakarta, ini pun cucu pertama. Kebayang deh, jadi 'putra mahkota' (atau 'putri mahkota').
Semoga Teteh dan bayinya senantiasa diberkahi kesehatan dan kemudahan, begitu pula untuk masnya. Amin. 
 ..yang berjudul Jendela-jendela. Elemen paling memikat adalah soal urusan rumahtangga yang serba manual, termasuk mencuci pakaian.
Mengingat perumahan yang kami tempati sekadar label, dan tetap lebih tepat disebut desa, saya tak perlu rikuh lagi menjemur pakaian di teras rumah. Terlebih jarangnya sinar matahari menyentuh wilayah lereng gunung ini (walaupun tidak sekelam Alaska di film The Barber). Betapa sayangnya membiarkan cahaya tak dimanfaatkan sementara cucian kami cukup banyak setelah kehujanan dalam macet dua setengah jam malam Minggu kemarin.
Biasanya perangkat jemur kami adalah rangka kayu untuk rak buku saya yang baru. Tapi menggesernya agak repot, setiap kali cahaya matahari berpindah sorot. Maka tikar-tikar di kamar belakang dikaryakan. Lumayan, memanaskan barang 15 menit sampai setengah jam sampai awan hitam yang bergulung di puncak Manglayang menukik turun.
Sambil menunggui jemuran ini, saya memandang ke arah Bandung (demikian sebutan penduduk sini untuk kota) yang mulai berhujan. Ingat pertemuan dengan seorang famili kemarin sore. "Rumah di Manglayang, yang jalannya naik terus ke atas dan kecil itu? Yang udaranya dingin sekali itu?"
Saya membenarkan. "Di sana kalo malem kan cuma dengar suara kodok." Saya tertawa. Enam bulan tinggal di sini, tak sekalipun kami mendengar kodok. Selain jangkrik, tonggeret dan merpati, ada suara hewan lain yang sudah akrab di telinga jika melewati rerimbunan malam hari. Burung hantu. Mas Agus bilang, "Ulik-ulik tuhu!" 
 Pada tanggal 28 April lalu (pukul 20.36, jadi sudah masuk 29), lahir seorang keponakan yang sudah lama saya tunggu. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, meskipun terbelit tali pusar. Beratnya 3,8 kg dan panjang 52 cm.
Teteh, kakak sepupu saya, meminta saya menggendongnya. Ini pertama kalinya saya menggendong bayi di bawah umur 6 bulan (melirik Nad). Perasaan tenang hadir karena ibunya mempercayakan saya melihat dari dekat bayi yang sangat kalem itu, tak pernah menangis ataupun rewel. Sama dengan kakak-kakaknya.
Kakaknya nomor dua, Windi, wanti-wanti agar saya yang memberikan nama. "Kan punya koleksi nama bayi," katanya. Saya sendiri tak ingat pernah memberitahu keponakan yang termasuk paling dekat ini (karena sama-sama anak nomor dua:p). Sejak lama memperhatikan dari kandungan ibunya, saya mantap memberi nama si bungsu Muhammad Rizki. Simpel saja. Teriring doa agar rizkinya senantiasa dimudahkan. Amin.
Saat menjenguk Rizki, saya tidak membawa digicam. Khawatir juga memotret bayi umur sehari dengan blitz. Maka saya pampang foto keluarganya saja, dalam pernikahan kakak tempo hari. Rizki masih berada dalam perut waktu itu:) 
  ..bisa main layangan. Hore!! 
 Senin mendatang, 28 April, adalah hari lahir seorang wanita yang cukup penting dalam kehidupan kami.
Beliau yang membiasakan para keponakan terhadap ritme kerja saya dan Mas Agus di rumah, kendati orangtua mereka pun tak lagi berpayung di bawah satu perusahaan. Saya ingat setiap kali si Tengah terlihat duduk di samping saya, beliau akan bertanya, "Meis, kamu sudah tanya apakah Tante Ade sedang sibuk?" atau "Tante Ade sedang kerja, Meis, bukan main. Sedang business (demikian beliau melafalkan kata bisnis)."
Sekali waktu, saya berkutat di depan komputer dalam keremangan. Mendadak beliau muncul dari dalam rumah dan menyalakan lampu meja, lalu berkata tegas, "Kamu mau mata kamu rusak?" Kali lain, ketika saya dan Mas Agus membelikan keponakan-keponakan nasi goreng, beliau berkomentar, "Kenapa jajan-jajan terus? Lebih baik simpan uangnya, untuk beli rumah."
Walaupun usianya sudah sepuh, beliau senantiasa menjadi teman diskusi yang menyenangkan soal pekerjaan. Saat saya sakit dan tenggat tak terkejar, disarankannya untuk tidak ragu mengontak klien dan meminta perpanjangan waktu. Tatkala terjemahan selesai dicetak, beliau membuka halaman-halaman yang ditata rapi dan tersenyum penuh kelegaan.
Menurut kakak sepupu saya, menjelang wafatnya pun beliau masih mencemaskan kami. Katanya, "Mereka berdua itu punya potensi, tapi belum 'berbunga'."
Kini, di rumah ini, saya terkenang dan merasa rindu kepada beliau. Mungkin suatu hari kelak, jika mental sudah siap, saya akan mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya di kota sebelah.
Mama, doamu sudah terkabul.
sumber foto: sxc.hu 
 Sejak kecil, saya tergolong manusia yang ceuli lentaheun (bahasa Sunda). Kalau sedang tidur pun, bunyi apa saja bisa bikin melek. Dan buntutnya sudah pasti, susah merem lagi. Itulah sebabnya saya tak kerasan di tempat yang gaduh.
Tinggal di lembah berhutan seperti sekarang membuat si ceuli lentaheun ini makin akut. Saya terbiasa meminta Mas Agus menutup pagar bila ia pergi (ya kan, Nik?) supaya ketahuan kalau ada orang masuk. Tak pernah saya memasang musik atau TV keras-keras jika sendirian di rumah. Lambat laun saya dapat membedakan langkah kucing, tikus, atau cecak di atap rumah.
Tikus adalah musuh besar saya, walaupun binatang-binatang lain juga suka 'main' ke dalam rumah. Saya mau membalikkan tubuh kumbang yang terpeleset ketika sedang mencuci piring di belakang atau mengeluarkan congcorang ke halaman samping agar bisa bermain di antara rerumputan. Tapi tiada ampun bagi sakadang beurit (makhluk yang bernama tikus).
Sejauh ini, saya suka mengagetkan hewan satu itu kalau mengendap dari dapur. Begitu langkahnya terdengar memasuki ruang tengah yang lampunya dimatikan, saya sorot dengan lampu senter dari dalam kamar dan langsung kejar.
Jujur saja, saya tadinya jijik doang sama tikus. Kemudian saya menyaksikan sendiri mbaknya para keponakan yang gagah perkasa. Dengan heboh, ia memburu dan menghajar si tikus (yang ukurannya dua kali lipat tikus di rumah saya, maklum di kota) dengan pipa besi. "Keren banget," keponakan-keponakan bertepuk tangan. Wow, saya juga terkagum-kagum. Kenapa mesti takut sama tikus?
Hati-hatilah kau tikus, kalau berani masuk ke rumah ini..! Hehehe..
sumber foto: tak diketahui 
 1. Apakah saya mengikuti semua lomba dan peluang menulis yang diposting di MP?
Tidak selalu. Saya masih pemalas lomba yang lumayan akut (ya kan, Nad?) dan memilih-milih tema yang sesuai. Paling tidak dengan ide yang tersedia saat ini, atau naskah di harddisk yang belum dapat 'rumah'. Kadang-kadang saya kebablas deadline. Bukan bermaksud bangga, lho.
2. Apakah saya mengenal semua contact person penerbit yang infonya disebarkan di MP ini?
Kebanyakan tidak. Saya menjumput info dari milis-milis, dengan standar pertimbangan seleksi pribadi. Bukan apa-apa, saya tak dapat menjawab kesangsian user perihal penerbit yang penjelasannya kurang rinci. Karena itulah tak semua yang saya temukan di milis atau blog orang lain saya copy paste. Apalagi yang sudah banyak diumumkan.
3. Dari semua karya, termasuk terjemahan dan menyunting, adakah yang paling memuaskan atau mengecewakan?
Bagi saya semuanya menyenangkan. Ukuran hasil memang sangat relatif, dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Akan tetapi buku-buku yang saya tulis, terjemahkan dan sunting menghadirkan pengalaman berharga.
4. Dalam sehari, berapa kali posting di MP?
Tidak menentu. Bisa dikatakan minimal satu. Syukurlah ada fasilitas posting via email yang sangat memudahkan. Untuk blog resensi, saya usahakan seminggu paling tidak ada satu ulasan baru. 
Alhamdulillah, blokir sudah dilepas. Ada hikmahnya memang, selama MP hanya dapat diterobos lewat jalan belakang dan tak bisa posting apa pun..saya bisa istirahat.
Pasca perhelatan nikah kakak hari minggu lalu, rasanya capeknya tak hilang-hilang. Semua kegiatan (baca: kerjaan) dibekukan sementara.
Sempat sih kirim satu naskah ke penerbit, ngacir ke warnet di sela kesibukan tugas panitia. Bikin satu esai, tapi malas nenteng flashdisk karena pernah kesetrum. Banyak alesan ya..
| |