Rini's posts with tag: coretan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag coretan
Blog EntryMalang Nian Dirimu, Wahai PonakanJul 17, '08 1:26 AM
for everyone
Saat sampai di sini seminggu lalu, keponakan bercerita tentang 'goreng
adat' (apa ya bahasa Indonesianya? kira-kira 'tabiat buruk') dosen
pembimbingnya yang sama-sama perempuan jika sedang datang bulan.
Apesnya, hari ini, hari terakhir ia berada di rumah kami dan menata
keseluruhan proposal untuk dibawa pulang nanti malam, saya memiliki
banyak alasan untuk gampang kesal.

1. Sedang haid. Kondisi luar biasa: tidak terlalu mules, tidak pusing,
'hanya' jerawatan dan kurang selera makan akibat flu.

2. Kurang tidur. Jadilah ekstra capek.

3. Sekarang sudah lewat pertengahan Juli, sementara beberapa hal yang
bertenggat akhir Juli (misalnya sebuah lomba fiksi) belum saya
tuntaskan. Memang keponakan tak ada sangkut-paut dengan masalah ini,
tahu saja tidak, namun dia makhluk hidup terdekat yang paling mudah
dijadikan sasaran amuk.

Pagi ini, saya memaksanya minum susu beruang (istilah populer Bear
Brand). Ia tidak sakit panas, hanya tak suka susu 'biasa' yang bergula
dan pernah bilang bahwa susu Bendera yang saya buatkan berbau kambing.
Ketika ia meledek saya 'tikus makannya nggak habis nih' karena
meninggalkan sepotong biskuit keju di dapur lantaran harus
menyelesaikan bikin sarapan, saya mengganjarnya dengan keharusan
menghabiskan semua yang sudah dimasak kemarin. Tanpa senyum.

Diminta membaca ulang ketikan proposalnya? Oh, dengan senang hati saya
mengasah taring.
"Setelah sub judul, tidak boleh langsung points."
"Kasih jarak dari paragraf ini ke sini."
"Bisa dizoom seratus persen dulu? Aku susah bacanya."
"Kalo pake the, berarti merujuk sesuatu yang telah disebut
sebelumnya."
"To know itu kurang ilmiah, pakai to identify."
"Ketika skripsi ditulis, penelitian dianggap sudah selesai. Jadi semua
pake past tense."
"Kalimatnya nggak bunyi."
dan seterusnya..dan seterusnya..

Toh dia tidak jera. Sudah biasa dengan kesangaran saya yang
dibilangnya serem kayak Hantu Korea (dasar anak nakal!). "Jadi sebelah
sini dikembangkan awalnya gimana, Lik?"

"Aku kasih kata permulaan aja, in order to..terusin sendiri."

Ia memikirkannya sambil main Bookworm, berusaha mengalahkan skor
tertinggi yang berjejer di sana. Nama saya, nama Mas Agus, dan nama
kakak sepupunya.


Blog EntrySkripsi KeponakanJul 9, '08 10:32 PM
for everyone
Kemarin Subuh keponakan tiba di rumah kecil kami, mengobrol ini-itu tentang
kuliahnya. Tentang dosennya yang nyentrik abis (kata dia, 'kayak Black
Magic Woman'). Tentang skripsinya, yang membahas novel Lord of the
Rings, karena dia memang doyan sekuel, fantasi dan kolosal. Tentang
usulan dosennya untuk ganti topik ke puisi T.S Eliot dan novel Of Mice
and Men, tapi dia tidak
suka. Tentang keharusan berbahasa Inggris sejak seminar proposal
sampai sidang akhir kelak.

Habis-habisan dia meledek saya karena makan melulu. "Lik Rini,
hahaha..jam segini udah makan," katanya sambil main Bookworm. Saya
tersenyum juga sebab ia memuji rawon jadi-jadian bikinan saya, dan
bilang supaya dia nggak usah diet lagi.

Untuk dia, saya buka-buka Teori Psikoanalisis Freud. Membaca lagi
telaah strukturalisme Lucien Goldmann dan kajian sastra intrinsik.
Mencari-cari file teori Saussure dan membaca ulang teori motivasi
Abraham Maslow. Saya tidak bisa bantu dalam urusan novel JRR Tolkien
tersebut karena belum baca (dan ia sendiri lupa membawanya:p).

Faktor X dalam obrak-abrik skripsi itu jamak terjadi. Dia hanya stres
oleh tekanan orang-orang yang tidak paham bahwa kuliah sastra bukan
sulap sekedip mata. Hanya perlu keluar sejenak dan main Hangaroo. Ia
menceritakan kedua temannya yang sama-sama ambil topik novel Danielle
Steel, hingga yang satu harus ganti objek. Saya menyarankan agar
temannya yang satu lagi meneliti karya Sidney Sheldon saja.

Saat saya menyebut-nyebut Stephen King, ponakan bertanya, "Nah ini
judulnya apa dong, Lik?" Di layar PC masih terbentang Hangaroo, soal
Book Title/Author. Saya menjawab, "Pet Sematary."



Blog EntryMembelanjakan HonorJun 21, '08 8:54 PM
for everyone
Posting ini merupakan janji lama untuk menjawab pertanyaan yang sering
sekali terlontar: Honor kamu dipake apa, Rin?

Pertanyaan sepribadi itu sebenarnya dapat dijawab dengan simpel:
selain beli buku,
juga untuk keperluan rumahtangga. Saya merasa tak perlu merinci item demi item, tanpa memungkiri kegembiraan dan kepuasan tersendiri dapat membeli benda-benda yang dikehendaki khususnya untuk kebutuhan di rumah. Seperti poci mungil yang satu set dengan cangkir ini.
Nemunya nggak sengaja ketika belanja bulanan, dan tumben..begitu lihat, Mas Agus bilang, "Boleh-boleh aja tuh kalo mau beli, buat nyeduh teh."
Memang sih, sampai sekarang dia kerap menggoda warna pinknya itu. Bukan Rini banget, katanya 

Blog EntryMati Lampu LagiJun 18, '08 6:50 PM
for everyone

Misuh-misuh nggak ada gunanya. Di TV juga banyak berita class action
dari warga desa, terus asosiasi perusahaan jasa. PLN emang tooop
deh..paling dalam hati ngedumel, "Kapan siih kita pernah telat bayar
tagihan?"

Kaget-kaget banget sih, nggak. Udah ada perkiraan, abis Nangor kita
kebagian. Teman di Selatan cerita, kemarin rumahnya mati lampu jam
16.00-19.00. Saya mencoba sabar.

Mas Agus membukakan tirai jendela, yang baru diganti tadi pagi.
Sadaaaa..(niru komik Bangor), langit bertabur bintang. Serasa di
film-film Hollywood jadinya. Berbaring memandang bulan yang menyerupai
lampu di atas pohon-pohon pisang, tepat sebelah jendela kamar.
Boro-boro deh inget kerjaan yang masih setampah.

Maafkan bila foto bulannya buram, pake kamera HP yang masih VGA sih:p


Blog EntrySakitJun 18, '08 6:36 PM
for everyone
Saya pernah baca entah di mana, 'kata hati adalah suara surga'. Ini
terbukti benar pada kasus hari ini. Diajak Mas Agus ke warnet.
"Kasihan, mereka nunggu-nunggu langganan favorit," gurau saya. Di
warnet, kami sering lupa waktu saking nyamannya. Berasa di rumah
sendiri aja..udah hafal ke kamar mandinya, mushallanya, jajannya
banyak, bahkan kenal dengan petugas parkir dan resepsionis. Hebat
nggak, tuh?

"Eh, telepon dulu. Siapa tahu listriknya mati," celetuk Mas Agus. Saya
mesem doang. Lha wong nggak pernah dengar bunyi telepon di sana. Tahu
nomornya aja nggak.
Kami meluncur. Risikonya lumayan tinggi memang. Sama-sama ngantuk (Mas
Agus karena ronda sampai setengah satu pagi dilanjut bola, saya karena
melek dari jam tiga) dan langsung kena matahari Jatinangor yang
panaaas!! Macet pula di gerbang. Sempet teringat suatu kejadian masa
kuliah, teman sekelas saya liat orang gantung diri di pohon bambu
tepat sebelah gerbang itu. Dekat jendela bisnya banget, mayatnya
menghadap ke muka dia. Pohonnya sih udah nggak ada sekarang.

Perasaan saya udah nggak enak. Menuju Cileunyi tadi, liat mobil PLN
setempat. Warnet pertama dari gerbang Nangor tutup. Ah, lagi libur
kali (ngarang pisan:p). Beberapa meter dari warnet yang kami tuju,
sebuah jasa fotokopi memasang tulisan MAAF, MATI LAMPU. "Pantesan
banyak orang di jalan," kata Mas Agus. Lemes memang, selain nggak
deket, motor kesenggol orang pula. Pas lagi nyebrang jalan, sementara
di depan ada truk tronton dari Pantura (asal aja sih..Pantura emang
lewat Nangor kah?). Telat sedikit, gepeng deh kami dicium truk itu.

Ya wis, jalan-jalan wae. Rencana beli lauk buat makan siang (pemalas
abis..), terus pengen iseng cari bakso Malang di pelataran kampus.
Halah..ngayal banget. Ternyata di deket gerbang, ada demo. Balik lagi
deh..

Es campur depan Wisma Caringin menggiurkan banget. Buahnya
segar-segar. Sempet tergiur jus jambu, liat buahnya gede-gede mantep.
Abangnya bilang, mereka pake genset jadi bisa ngejus. Tapi es campur
pun tak apalah..tanpa tape, tentu.

Sedap..panas-panas makan es..di rumah:p Udah makan siang, sih.
Mendadak kepala nyut-nyutan. Kirain karena manisnya (saya nggak tahan
terlalu banyak gula). Beranjak siang, jadi batuk-batuk. Pusing.
Sorenya malah demam. Haduuuuh!!

Salah sendiri, memang. Udah badan kurang tidur, sarapan telat
(keasyikan nyetrika, takut mati listrik seh), malah angin-anginan dan
makan es lagi. Di luar sana memang panas, tapi sekitar rumah kan
dingin bangedd..



Blog EntryMomotaro ke KampusMay 17, '08 8:35 PM
for everyone
Kemarin sore kami turun gunung, sempat terhenti menonton rombongan
Lengser Art yang menyuguhkan kuda renggong di dekat salah satu
komplek. Mereka baru akan berangkat dan sudah mulai menari-nari. Dobel
bonus deh, soalnya kami juga nonton kesenian ini hari Rabu lalu.
Menurut pengalaman semasa KKN dan ngekos dulu, orang Sumedang suka
hajatan hari Rabu.

Langsung menuju warnet Kubus di Jatinangor, sebelah Hotel Citra Papan
yang disebut Mas Agus 'hotel balong'. Enak memang di warnet ini. Lega,
kenceng, dan pelayanannya oke. Pas daftar di resepsionis,
alhamdulillah dapat yang lesehan. Di pojok lagi, bisa nyender ke
tembok.

Kali ini Mas Agus memenuhi permintaan saya: ngelencer ke kampus! Mau
motong lewat Unwim dekat halte Damri, weh..ditutup. Mungkin jalan kaki
sih bisa, tapi kendaraan cuma bisa sampe BNI dan Mandiri. Sebelahnya
ada jalan juga yang lagi dibangun. Eks kebun jagung yang dulu sering
jadi jalan motong dari dekat GOR menuju Damri. Mulailah saling ejek
antar jurusan. "Kelasnya kamu mah mana pernah jalan sini," ledek Mas
Agus. "Nggak ada tuh sejarahnya anak Prancis jalan kaki." Tentu saja
saya nggak mau terima, wong dulu sering mblusuk ke situ meski
deg-degan karena pohonnya serba rapat dan takut salah belok:p

Akhirnya muter deh ke gerbang utama yang dipadati kaki lima itu. Wow,
pohon-pohon yang dulu masih kecil sekarang sudah rimbun sepanjang
jalan. Trotoar jadi teduh semua. Sayang kami nggak bisa masuk Fasa
lantaran sepi dan dijaga satpam (di mana-mana ada portal). Tapi sempat
lihat jalan belakang kantin yang dulu terkenal dengan sebutan Tanjakan
Mesra. Di seberang bunderan, gedung FKU yang pas madep kamar mayatnya.
Dulu sering dipake uji nyali jaman ikutan panitia opspek, gelap geto
loh..

Belok kanan, mengagumi Student Center. Terus ke Fapet, yang sebelahnya
ada Milk Shop dan Kandang Kelinci. Di dekat kebun, tampak beberapa mahasiswa
sedang praktikum dengan bimbingan seorang cowok ganteng yang kami asumsikan
sebagai kakak pembina atawa asisten lab. Terjadilah reka adegan oleh
dua alumni iseng di seberang jalan, di atas motor.

Saya mendubbing ucapan salah satu mahasiswi dalam hati: "Nggak apa-apa
deh, bela-belain Sabtu sore naik ke kampus. Demi kakak pembina yang
keren."
Mas Agus melanjutkan: "Kak, aku jomblo."
Saya: "Aku padamu, Kak. Bagaimana dengan Kakak?"
Sebelum mereka menyadari ulah kami, cabs deh.. melintasi Faperta yang
rindang dan sejuk. Jauuuh deh dengan terakhir kali kami di sini.

Karena nggak direncanakan, saya nggak bawa digicam. Foto ini diambil
di ujung jalan dekat rumah, untuk memperlihatkan betapa cerahnya cuaca
kemarin sore. Kapan-kapan kami akan ke sana lagi pada hari kerja,
nangkring di Kansas alias Kantin Sastra.


Blog EntryHari Pertama NgewarnetMay 15, '08 5:40 AM
for everyone
Kemarin masih 'ngewarnet' informal alias nebeng akses di rumah sepupu. Penuh dengan 'risiko', di ruang kerja dia karena sering dilewatin orang. Anak-anak kalo pulang juga langsung masuk ke situ menuju lorong ruang tengah.
Mau pindah ke kamar tengah? Busyet deh, jejak browsing anak-anak yang terdiri dari game, musik de el el segambreng. Takut keclose jadinya. Ditambah lagi mouse wireless, gapteknya dirikuw.. Di kamar si Sulung? Ribut oleh ABG-ABG yang main PS dengan segala kehebohannya. Halah..
Puas sih, dari beberapa jam itu sudah bisa cek email, chat dengan beberapa sahabat, bantu kakak sepupu ngoprek setting internet PDA-nya yang tak mau konek juga karena salah setting gateway, kemudian makan whities (brownies putih) nyaris setengah piring dan menemani si Tengah nonton film jadul John Travolta di HBO. Seru deh, bisa 'meracuni' dia untuk ikutan ngefans cowok ini..hahahaha..
Abis Maghrib, nyempetin nongkrong berdua di Ujungberung. Aih, serasa makan malam di..manaaa gitu (kayak sering dinner aje). Sampai rumah jam 20.00, nyungsep di kasur!! Walhasil, bangun subuh dengan segar dan penuh stamina untuk menyelesaikan semua kerjaan rumahtangga. Di antaranya nyuci baju sebelum berubah jadi setrikaan tujuh bakul (pinjem istilah Mbak Poppy). Penuh tantangan karena dalam prosesnya 'bertemu' dua ekor cacing yang lumayan panjangnya., kemudian masakan saya agak gosong..sementara Mas Agus berkutat dengan rak buku buatannya sendiri di teras, yang dikomentari para tetangga 'mirip lemari'.
Sore ini, turun gunung lagi deh. Menikmati warnet baru di Jalan Percobaan Cileunyi. Rada lambat memang, tapi mantap deh suasananya...hening banget! Ruang duduknya bak lobi kantoran. Dan di daftar yang tertempel di sebelah monitor, tertera sejumlah larangan di antaranya Dilarang Mengganggu User Lain.
Asyik juga, online sambil mendengarkan suara bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang lalu-lalang. Ide pun tumbuh subur di kepala. Tralala..


Blog EntryKarena Saya Bukan Pecandu..May 14, '08 2:00 AM
for everyone
Semua telah berlangsung secara bertahap. Membatasi download kecuali update anti virus, membatasi chatting dengan install Instant Messenger jadul, mengalihkan ke HP, mengurangi posting di MP (meski awalnya karena 'tuduhan' robot dari MP sendiri), membatasi email belaka...kemudian membuka telinga lebar-lebar pada keluhan Mas Agus perihal seringnya saya online daripada jalan-jalan dengan beliau..

Kemudian bermunculan banyak alasan lain. Maka..
setelah saya berhasil menginjak pedal rem untuk belanja buku, kini saatnya saya diet online. Bukan puasa, yang sekali buka kayak balas dendam dan buntutnya jebol-jebol juga. Disiplin hanya berlaku pada diri saya dengan 'kekerasan'. Demi kesehatan, demi keselamatan perekonomian, demi konsentrasi pada pekerjaan, dan demi-demi yang lainnya (demikianlah).

Terima kasih pada sahabat-sahabatku yang senantiasa mendukung dan mengarahkan pada kebaikan, pada Geng Kompor: Kang Iwok, Nunik, Dedew, Nad..yang telah memberikan semangat, pengertian terhadap prioritas berkeluarga dan contoh baik secara langsung maupun tidak, bahwa kita nggak akan mati meski 'hanya' berselancar di warnet. Paling oke deh masukan dari bapak dan sesama ibu-ibu erte ini.. Doakan ya..

Blog EntryCuci MataMay 13, '08 5:47 AM
for everyone
Niatnya sih begitu, tapi apa daya jalanan Bandung memasuki kemarau ini
penuh debu beterbangan dan bikin mata pedih. Meskipun demikian, saya
dan Mas Agus tetap semangat momotaro (istilah dia untuk momotoran
alias naik motor jalan-jalan) sambil menikmati masa 'pacaran'.

Berhubung kami mukim di Timur, sering mblasak-mblusuk jalan tikus dan
menyusuri perumahan berbagai bentuk. Pemandangan yang aneka ragam
membuat kami bersyukur tinggal di desa terpencil sekalipun, karena
setidak-tidaknya punya tempat berteduh yang layak dan nyaman serta
sehat.

Tapi sifat jail memang susah diredam. Di tengah lalu lintas yang
macet, saya sering mendapati tulisan-tulisan menarik untuk dibahas.
Misalnya sebuah reklame di pinggir jalan yang mengiklankan sebuah
operator berbunyi: 'Mau?' memperoleh jawaban langsung dalam huruf
besar berpilox hitam 'Tidak!' Kami ngakak bareng membaca tulisan di
belakang mobil box, 'Cintamu Tak Seberat Muatanku'.

Kemarin juga begitu. Mas Agus menunjuk tulisan di belakang truk, 'Bojo
Loro? Boros, Boss!'

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryKacau BeliauMay 12, '08 7:37 PM
for everyone
Sepanjang hari kemarin, saya melakukan serangkaian kesalahan bodoh.
Entah karena berangkat pagi-pagi sekali dan nggak sempat persiapan,
entah karena otak 'beku' oleh hawa kemarau yang menggigit
(nyalahin cuaca, nggak banget deh!), kepikiran Teteh yang belum sehat
benar, atau ketularan stres para keponakan yang sedang UAN (halah, teu
nyambung pisan). Yang pasti, sejak Minggu saya udah kebanyakan
bengong. Bukan cuma tertegun oleh kenaikan BBM, tapi serentetan
insiden di rumah: jam dinding tewas (udah ganti batre tapi malah jadi
lambat, bener kali gunung ini mengandung banyak magnet), bantal
listrik tersayang meninggal dunia, dan TV pun tak tertolong.

Saya dan Mas Agus berangkat ke kota untuk beberapa keperluan. Di
tengah jalan, ada SMS dari klien membatalkan pertemuan. Yang tadinya
tancap gas jadi santai, malah sempat nyasar segala. Kami menikmati
rute berbeda sambil melihat-lihat sekitar. Rumah susun, misalnya.
Teringat tahun-tahun awal pernikahan, sempat kepikir mau tinggal di
rusun. Ketika hampir sampai, saya teringat ketinggalan dua paket.
Nggak apalah, meski satunya untuk sahabat yang akan berulangtahun.
Kalaupun terpaksa terlambat, saya yakin dia akan mengerti dengan hati
seluas samudra seperti biasanya.

Beberapa meter kemudian, ingat barang lain yang terlupa. Beberapa buku
untuk saudara yang rencananya akan dititipkan pada keponakan. Ia akan
pulang kampung minggu ini. Ya sud. Masih ada hari esok, atau kalau tak
sempat ketemu, dipaketkan juga.

Saya masih merasakan ada yang nggak beres. Sekitar lepas Dhuhur, sadar
deh..dompet ketinggalan! Dasar nggak biasa berdompet-ria. Rencana beli
pompa air batal. Mas Agus yang datang dari sebuah kantor institusi
nyengir karena orang yang akan ditemui cuti seminggu.

Apakah kelemotan ini diakibatkan kurang asupan energi? Tidak. Malah
saya ngeh akan dompet yang tertinggal setelah makan mi goreng, pizza
dan ayam paprika (hebat nggak tuh?). Ketika hendak pulang, kepala
terasa berat. Weleh..salah ambil helm! Syukurlah baru dua meter, jadi
balik lagi. Si Bungsu menunggu dengan manisnya dan membukakan pintu.

Kecerobohan (atau kram otak?) ini masih berlanjut di rumah. Setelah
cek email, saya lupa disconnect sampai-sampai pulsa tinggal seribuan!!
Ampun..ampun..mendingan saya tidur sebelum melakukan kebodohan
lainnya.

sumber foto: Dear Diary themes, customizedthemes.multiply.com


Blog EntryInsomnia..Ngapain Ya?May 10, '08 7:07 PM
for everyone
Malam ini dingin banget, tapi saya sudah melek dari jam setengah tiga
pagi. Dibilang 'kenyang' tidur, nggak juga. Lelap bergelung selimut
sekitar jam sepuluh. Nonton The Departed bolak-balik ke Sleepy Hollow
yang 'oh, suraaam!' itu.

Waktu masih lajang, saya sering beres-beres kamar (termasuk isi
lemari) malam hari kalo nggak bisa tidur. Tapi sekarang? Alhamdulillah
Mas Agus nggak terganggu istirahatnya ketika saya menyalakan Dynabook
yang mulai berdebu. Ntar bersihin, ah.

Akhirnya saya putuskan: membungkus sebuah paket untuk dikirimkan
besok.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntrySuntuk BersamaMay 10, '08 4:19 AM
for everyone
Yang namanya bete dan bad mood sangat mudah menular. Beberapa hari
yang lalu saya kehilangan nafsu makan, susah tidur dan sakit perut
terus karena suatu pikiran. Nggak tahu harus ngapain. Di komputer
bosen, baca juga nggak pengen..ajaib, kan?

Saya telepon seorang keponakan yang biasanya ketawa-ketiwi. Walah, dia
juga lagi dihantam masalah di kantor sampai-sampai (temperamennya
memang mirip saya) nyaris berantem dengan teman kantornya itu. Setelah
mendengarkan curhatnya panjang lebar hingga kuping panas, saya
memutuskan menekuni urusan rumah saja. Cuci pakaian biasanya manjur,
karena setelahnya melihat pakaian yang bersih.

Meskipun sakit pinggang, dijalani aja deh. Bolak-balik menggeser
jemuran sesuai arah sorotan matahari yang reup-bray (redup dan
terang). Apalagi Mas Agus pulang dengan muka ditekuk delapan belas.
Capek berat dan stres, tiap pagi nyubuh ketemu klien dan pulang nyaris
malam harus kerja lagi. Wah, nggak bisa dibiarkan. Dua orang yang bete
berpotensi ribut besar.

Kalo lagi suntuk, rambut Mas Agus mekar (dulu saya kerap meledeknya
surai). Tapi setelah memakai shampoo tertentu, terkulai terus sehingga
saya tak punya indikator lagi. Kini dia menampakkan sisinya yang lain:
cerewet dan jail berat. Yang jadi sasaran? Anak balita tetangga yang
sedang senang-senangnya main di teras. Saat mas Agus ngoprek motor,
dia menyanyi..

"Balonku ada lima.."
"Dor!" Mas Agus bangkit dan membuat dia kaget.
Si balita menengok sejenak, lalu dengan cuek meneruskan, "Rupa-rupa
warnanya.."
"Dor!" Mas Agus berseru lagi.
Masih untunglah, setidaknya si balita ini tak sampai menangis. Malah
tampak senang digodain. Kalau yang ditemui Mas Agus adalah anak
tetangga yang memanjat atap fiber kami untuk mengambil layangan dan
membuat talang air kami bocor, tak akan seriang itu air mukanya.

Malamnya, saya mengajak dia nonton Gothika bareng di TV. Kami juga
sempat iseng-iseng nonton sinetron Suami-suami Takut Istri,
diselingi iklan yang terus dicelotehi Mas Agus. Melihat iklan sebuah
biskuit, misalnya, dia bilang, "Jangan makan biskuit ini, nanti jadi
anak licik!"

Pagi ini, selera makan saya sudah pulih. Si stres saya larikan ke
makan sebanyak-banyaknya, termasuk coklat (melirik Nad, ehm..). Mas
Agus sedang istirahat setelah kakinya yang rematik saya pijat. Semoga
setelah ini semuanya kembali ceria. Amin.

sumber foto: capture DVD Crayon Shinchan The Movie


Blog EntryCalon Keponakan LagiMay 7, '08 11:06 PM
for everyone
Orangtua bilang, pamali jika kehamilan masih muda dikabar-kabari sama
orang banyak. Tapi saya nggak peduli, karena terlalu bahagia.
'Kecurigaan' saya memperhatikan Teteh yang tidak enak badan akhir
pekan lalu terbukti: dia positif hamil!

Alhamdulillah, alhamdulillah. Mama berbahagia akan beroleh cucu
pertama. Untuk keluarga besar Jakarta, ini pun cucu pertama. Kebayang
deh, jadi 'putra mahkota' (atau 'putri mahkota').

Semoga Teteh dan bayinya senantiasa diberkahi kesehatan dan kemudahan,
begitu pula untuk masnya. Amin.


Blog EntryTeringat Novel Fira Basuki..May 5, '08 9:41 PM
for everyone

..yang berjudul Jendela-jendela. Elemen paling memikat adalah soal
urusan rumahtangga yang serba manual, termasuk mencuci pakaian.

Mengingat perumahan yang kami tempati sekadar label, dan tetap lebih
tepat disebut desa, saya tak perlu rikuh lagi menjemur pakaian di
teras rumah. Terlebih jarangnya sinar matahari menyentuh wilayah
lereng gunung ini (walaupun tidak sekelam Alaska di film The Barber).
Betapa sayangnya membiarkan cahaya tak dimanfaatkan sementara cucian
kami cukup banyak setelah kehujanan dalam macet dua setengah jam malam
Minggu kemarin.

Biasanya perangkat jemur kami adalah rangka kayu untuk rak buku saya
yang baru. Tapi menggesernya agak repot, setiap kali cahaya matahari
berpindah sorot. Maka tikar-tikar di kamar belakang dikaryakan.
Lumayan, memanaskan barang 15 menit sampai setengah jam sampai awan
hitam yang bergulung di puncak Manglayang menukik turun.

Sambil menunggui jemuran ini, saya memandang ke arah Bandung
(demikian sebutan penduduk sini untuk kota) yang mulai berhujan. Ingat
pertemuan dengan seorang famili kemarin sore. "Rumah di Manglayang,
yang jalannya naik terus ke atas dan kecil itu? Yang udaranya dingin
sekali itu?"

Saya membenarkan.
"Di sana kalo malem kan cuma dengar suara kodok."
Saya tertawa. Enam bulan tinggal di sini, tak sekalipun kami mendengar
kodok. Selain jangkrik, tonggeret dan merpati, ada suara hewan lain
yang sudah akrab di telinga jika melewati rerimbunan malam hari.
Burung hantu. Mas Agus bilang, "Ulik-ulik tuhu!"


Blog EntrySelamat Datang, RizkiMay 1, '08 6:54 AM
for everyone
Pada tanggal 28 April lalu (pukul 20.36, jadi sudah masuk 29), lahir
seorang keponakan yang sudah lama saya tunggu. Seorang bayi laki-laki
yang sehat dan lucu, meskipun terbelit tali pusar. Beratnya 3,8 kg dan
panjang 52 cm.

Teteh, kakak sepupu saya, meminta saya menggendongnya. Ini pertama
kalinya saya menggendong bayi di bawah umur 6 bulan (melirik Nad).
Perasaan tenang hadir karena ibunya mempercayakan saya melihat dari
dekat bayi yang sangat kalem itu, tak pernah menangis ataupun rewel.
Sama dengan kakak-kakaknya.

Kakaknya nomor dua, Windi, wanti-wanti agar saya yang memberikan nama.
"Kan punya koleksi nama bayi," katanya. Saya sendiri tak ingat pernah
memberitahu keponakan yang termasuk paling dekat ini (karena sama-sama
anak nomor dua:p). Sejak lama memperhatikan dari kandungan ibunya,
saya mantap memberi nama si bungsu Muhammad Rizki. Simpel saja.
Teriring doa agar rizkinya senantiasa dimudahkan. Amin.

Saat menjenguk Rizki, saya tidak membawa digicam. Khawatir juga
memotret bayi umur sehari dengan blitz. Maka saya pampang foto
keluarganya saja, dalam pernikahan kakak tempo hari. Rizki masih
berada dalam perut waktu itu:)


Blog EntryAsyiknya Tinggal di Desa Terpencil..Apr 26, '08 11:12 PM
for everyone
..bisa main layangan. Hore!!



Blog EntryMengenang Seorang Pemberi SemangatApr 25, '08 7:33 AM
for everyone
Senin mendatang, 28 April, adalah hari lahir seorang wanita
yang cukup penting dalam kehidupan kami.

Beliau yang membiasakan para keponakan terhadap ritme kerja saya dan
Mas Agus di rumah, kendati orangtua mereka pun tak lagi berpayung di
bawah satu perusahaan. Saya ingat setiap kali si Tengah terlihat duduk
di samping saya, beliau akan bertanya, "Meis, kamu sudah tanya apakah
Tante Ade sedang sibuk?" atau "Tante Ade sedang kerja, Meis, bukan
main. Sedang business (demikian beliau melafalkan kata bisnis)."

Sekali waktu, saya berkutat di depan komputer dalam keremangan.
Mendadak beliau muncul dari dalam rumah dan menyalakan lampu meja,
lalu berkata tegas, "Kamu mau mata kamu rusak?"
Kali lain, ketika saya dan Mas Agus membelikan keponakan-keponakan
nasi goreng, beliau berkomentar, "Kenapa jajan-jajan terus? Lebih baik
simpan uangnya, untuk beli rumah."

Walaupun usianya sudah sepuh, beliau senantiasa menjadi teman diskusi
yang menyenangkan soal pekerjaan. Saat saya sakit dan tenggat tak
terkejar, disarankannya untuk tidak ragu mengontak klien dan meminta
perpanjangan waktu. Tatkala terjemahan selesai dicetak, beliau membuka
halaman-halaman yang ditata rapi dan tersenyum penuh kelegaan.

Menurut kakak sepupu saya, menjelang wafatnya pun beliau
masih mencemaskan kami. Katanya, "Mereka berdua itu punya potensi,
tapi belum 'berbunga'."

Kini, di rumah ini, saya terkenang dan merasa rindu kepada beliau.
Mungkin suatu hari kelak, jika mental sudah siap, saya akan
mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya di kota sebelah.

Mama, doamu sudah terkabul.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryMouse HuntApr 22, '08 8:29 PM
for everyone
Sejak kecil, saya tergolong manusia yang ceuli lentaheun (bahasa
Sunda). Kalau sedang tidur pun, bunyi apa saja bisa bikin melek. Dan
buntutnya sudah pasti, susah merem lagi. Itulah sebabnya saya tak
kerasan di tempat yang gaduh.

Tinggal di lembah berhutan seperti sekarang membuat si ceuli lentaheun
ini makin akut. Saya terbiasa meminta Mas Agus menutup pagar bila ia
pergi (ya kan, Nik?) supaya ketahuan kalau ada orang masuk. Tak pernah
saya memasang musik atau TV keras-keras jika sendirian di rumah.
Lambat laun saya dapat membedakan langkah kucing, tikus, atau cecak di
atap rumah.

Tikus adalah musuh besar saya, walaupun binatang-binatang lain juga
suka 'main' ke dalam rumah. Saya mau membalikkan tubuh kumbang yang
terpeleset ketika sedang mencuci piring di belakang atau mengeluarkan
congcorang ke halaman samping agar bisa bermain di antara rerumputan.
Tapi tiada ampun bagi sakadang beurit (makhluk yang bernama tikus).

Sejauh ini, saya suka mengagetkan hewan satu itu kalau mengendap dari
dapur. Begitu langkahnya terdengar memasuki ruang tengah yang lampunya
dimatikan, saya sorot dengan lampu senter dari dalam kamar dan
langsung kejar.

Jujur saja, saya tadinya jijik doang sama tikus. Kemudian saya
menyaksikan sendiri mbaknya para keponakan yang gagah perkasa. Dengan
heboh, ia memburu dan menghajar si tikus (yang ukurannya dua kali
lipat tikus di rumah saya, maklum di kota) dengan pipa besi. "Keren
banget," keponakan-keponakan bertepuk tangan. Wow, saya juga
terkagum-kagum. Kenapa mesti takut sama tikus?

Hati-hatilah kau tikus, kalau berani masuk ke rumah ini..! Hehehe..

sumber foto: tak diketahui


Blog EntryPertanyaan yang Sering Dialamatkan PadakuApr 20, '08 10:29 PM
for everyone
1. Apakah saya mengikuti semua lomba dan peluang menulis yang
diposting di MP?


Tidak selalu. Saya masih pemalas lomba yang lumayan akut (ya kan,
Nad?) dan memilih-milih tema yang sesuai. Paling tidak dengan ide yang
tersedia saat ini, atau naskah di harddisk yang belum dapat 'rumah'.
Kadang-kadang saya kebablas deadline. Bukan bermaksud bangga, lho.

2. Apakah saya mengenal semua contact person penerbit yang infonya
disebarkan di MP ini?


Kebanyakan tidak. Saya menjumput info dari milis-milis, dengan standar
pertimbangan seleksi pribadi. Bukan apa-apa, saya tak dapat menjawab
kesangsian user perihal penerbit yang penjelasannya kurang rinci.
Karena itulah tak semua yang saya temukan di milis atau blog orang
lain saya copy paste. Apalagi yang sudah banyak diumumkan.

3. Dari semua karya, termasuk terjemahan dan menyunting, adakah yang
paling memuaskan atau mengecewakan?


Bagi saya semuanya menyenangkan. Ukuran hasil memang sangat relatif,
dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Akan tetapi buku-buku yang
saya tulis, terjemahkan dan sunting menghadirkan pengalaman berharga.

4. Dalam sehari, berapa kali posting di MP?

Tidak menentu. Bisa dikatakan minimal satu. Syukurlah ada
fasilitas posting via email yang sangat memudahkan. Untuk
blog resensi, saya usahakan seminggu paling tidak ada satu ulasan
baru.


Blog EntryKala Multiply LumpuhApr 10, '08 11:38 PM
for everyone
Alhamdulillah, blokir sudah dilepas. Ada hikmahnya memang, selama MP hanya dapat diterobos lewat jalan belakang dan tak bisa posting apa pun..saya bisa istirahat.

Pasca perhelatan nikah kakak hari minggu lalu, rasanya capeknya tak hilang-hilang. Semua kegiatan (baca: kerjaan) dibekukan sementara. 

 Sempat sih kirim satu naskah ke penerbit, ngacir ke warnet di sela kesibukan tugas panitia. Bikin satu esai, tapi malas nenteng flashdisk karena pernah kesetrum. Banyak alesan ya..

Pages:123456
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help