Rini's posts with tag: dongeng
 Pada masa angin keras (yang dikabarkan media sebagai badai) belakangan ini, saya dan Mas Agus jarang keluar rumah. Kondisi badan sedang rapuh, jadi kami memilih bergelung di selimut bila tidak bertempur dengan berkas kerja masing-masing. Sinyal sering kocar-kacir, maka saya tak pernah online kalau tidak sangat perlu. Hikmahnya, kami bisa mengurangi gundukan utang buku dengan membaca setiap hari. Kalau sedang pusing, Mas Agus menghibur dengan membacakan dongeng bahasa Jawa. Sambil ngakak-ngakak, saya memintanya menerjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Seperti anak kecil lagi balapan, saya sering bilang, "Udah tamat!" setelah satu buku rampung dibaca. Toh, di sela deadlinenya yang lumayan rapat, Mas Agus pun berhasil menyelesaikan baca Anak Bajang Menggiring Angin yang baru saya lihat-lihat sekilas. Kemudian ia beralih pada Ki Ageng Mangir, sebuah novel sejarah.
Walaupun angin gemuruh dan memukul-mukul atap fiber di belakang rumah, semalam ia tetap harus pergi meronda. Apa yang dibacanya menjadi bekal buat ngobrol. Tetangga sekitar rata-rata menaruh minat pada sejarah dan politik, maka Mas Agus bercerita mengenai Mataram dan Majapahit.

 Seraya menyampul buku menunggu jam giliran ronda, Mas Agus meminta saya membacakan sebuah dongeng. Saya ambil Dongeng-dongeng Asia kanggo Bocah-bocah Jilid Loro yang sudah disampul rapi. "Awas ya kalo diketawain cara bacanya," ancam saya sebelumnya. Saya jatuhkan pilihan pada cerita dari Pakistan, mBok Tani karo Macan (halaman 34), dan membacakannya dengan aksen Banjarnegara.
Sebentar-sebentar saya berhenti untuk menanyakan apakah lafalnya benar atau bila terdapat kata yang tidak dipahami. Parahnya, saat ditanya 'nyrantekkake', Mas Agus bilang nggak tahu. Oalah.."Priwe, jal?" komentar saya sambil geleng-geleng.
Dongeng satu ini menceritakan suami-istri petani yang mengakali seekor macan. Alkisah, si macan ingin memangsa sapi yang membantu Pak Tani membajak ladang gandum. Ia berusaha menawar dengan sapi betina kesayangan istrinya. Tentu saja sang istri marah karena ia memerlukannya untuk menyediakan susu bagi anak-anak dan mentega.
Mas Agus ngakak ketika saya sampai pada kalimat: "O, goblog temen ta kowe kuwi," panggebrage mBok Tani. Katanya, penjiwaan saya 'dapet'. Kami tertawa bareng saat membaca bagian yang mengandung onomatope khas bahasa Jawa, 'sakala nggero, buntute njlenthar'.
Kami sepakat bahwa dongeng karangan Ikram Chungtai tersebut tidak cocok untuk anak-anak. Pasalnya, di akhir cerita, serigala tewas karena terseret-seret macan yang lari tunggang langgang oleh tipu muslihat mBok Tani. Bahkan saya merasa iba pada hewan buas itu. 
 Bangun pagi, abis bikin kopi dan ritual lainnya, saya pasang musik keras-keras. Seperti biasa, lagu Cake dan Simple Plan untuk menggerus radio kompetitor yang muter dangdut di seberang jalan. Teriak-teriak sampe lega, ngoprek sebuah naskah yang baru sampai 70 halaman.
File Word macet. Bagus! Satunya lagi nggak mau dibuka. Oh, tidak! Saya restart laptop, baru lancar. Acak-acak, obrak-abrik, aduk-aduk, selesai! Total sembilan puluh lima halaman naskah dongeng tersebut. Baru 99% sih. Tinggal merapikan daftar isi. Pokoknya 'utang' satu ini lunas.
Jangan tanya betenya saya dua hari kemarin. Sekarang? Pengen menandak dan menari-nari. 
 Tangan sampai beku dan nyaris sulit digerakkan. Super dingin. Saya bangun sejak jam dua pagi dan nggak bisa tidur lagi. Banyak yang muter-muter di kepala.
Naskah dongeng yang ditolak kemarin pelan-pelan direvisi..alhamdulillah! Untuk buku remaja, masih kurang sekitar sepuluh halaman lagi. Tapi yang penting sudah dicicil. Sambil ngoprek-oprek bahan yang dikumpulkan dulu untuk nulis tambahannya. 
 Yang ketemu hanya file episode ke-5 sampai 10. Maka yang saya posting Negeri Bianglala 5 saja. Ilustrasinya malah yang episode kedua:(
Semoga bermanfaat.
NEGERI BIANGLALA 5
Kelas kembali menjadi gaduh. Burung Hantu mengetuk-ngetukkan pensilnya ke atas meja kayu. Spontan Kelinci bertanya, “Apakah Pak Burung Hantu tahu di mana orangtua bayi manusia itu berada?” “Tidak,” Burung Hantu menggeleng.
“Kamu ini bagaimana, sih?” Kancil menyergah. “Kalau Pak Burung Hantu tahu, mana mungkin si bayi dititipkan di tempat tinggal kita. Pasti ia akan dikembalikan pada keluarganya!” “Betul,” Burung Hantu berkata. “Kelinci, tidak ada makhluk Tuhan yang sempurna. Walaupun aku di sini menjadi guru kalian, bisa saja kalian tahu lebih banyak hal dari aku.” “Contohnya manusia itu,” Kancil menimpali.
Burung Pipit berkata, “Tapi aku sangsi, bagaimana manusia dapat melebihi Pak Burung Hantu yang pintar ini? Sekarang saja ia masih memerlukan bantuan orang lain untuk mengurus dirinya.” Burung Hantu tersenyum bijak. “Jawabannya, karena manusia dikaruniai akal pikiran.” Seisi kelas tersentak. “Akal pikiran? Apa itu?”
Burung Hantu menjelaskan, “Sesuatu yang menjadikan manusia makhluk paling sempurna. Ia dapat menggunakan akalnya untuk memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah-masalahnya.” Tikus mempermainkan kumisnya. “Tadi Bapak mengatakan tidak ada makhluk paling sempurna di dunia. Mengapa sekarang berubah?” “Maksudku..”
Kancil menyela, “Manusia paling sempurna, artinya ia lebih pandai daripada hewan dan tumbuh-tumbuhan.” “Betul, Kancil,” Burung Hantu menanggapi. “Tapi lain kali, tolong jangan memotong perkataan orang lain ya? Itu tidak sopan.” Senyum di wajah Kancil yang tadi dipuji Burung Hantu lenyap mendengar akhir kalimatnya. “Hukum saja, Pak!” seru Kucing.
“Ya, suruh dia menulis Saya tidak akan memotong pembicaraan orang lain lagi sebanyak seratus kali,” kata Burung Pipit. “Laporkan pada orangtuanya, Pak,” kata Tikus tak kalah sengit.
“Sudah, sudah,” Burung Hantu melirik wajah Kancil yang masam. “Yang lain juga mendapat hukuman menulis Saya tidak akan bergembira ketika teman saya berada dalam kesusahan. Kalian mengerti?” Kelinci buka mulut, “Pak, kembali pada pertanyaan semula. Kalau orangtua bayi itu tidak ada, bagaimana dia bisa sampai kemari?” “Pertanyaanmu cukup sulit, Kelinci,” ucap Burung Hantu. “Mungkin saja ia yatim piatu. Kalian tahu apa artinya itu?” “Tidak punya ayah dan ibu,” sahut Kancil pelan.
“Benar,” mata Burung Hantu bersinar. “Mungkin orangtuanya mendapat musibah, yang menyebabkan mereka meninggal. Mungkin juga mereka tersesat jauh dari sini sehingga terpisah dari si bayi.” “Kalau benar dia tidak punya orangtua,” seru Kura-kura, “..apakah itu berarti kita harus mengurus dia untuk selamanya?”
“Tentu tidak,” jelas Burung Hantu. “Ia hanya membutuhkan bantuan dan pengawasan untuk sementara waktu. Pada saatnya, ia akan mampu mengurus diri sendiri.” “Juga mengurus kita,” seloroh Kura-kura. Yang lain tergelak.
“Lho, bukankah dia makhluk yang sempurna?” kilah Kura-kura. “Tentu mudah saja baginya untuk mengurus kita semua.” “Menurutku, yang harus diurusnya adalah Pak dan Bu Monyet,” ujar Kelinci. “Karena mereka yang berjasa membesarkan si bayi manusia. Bukan begitu, Pak Burung Hantu?”
“Benar,” Burung Hantu mengangguk-angguk. “Karena manusia dikaruniai akal budi, mereka dapat memahami itu dengan cepat.”
“Tapi menurutku, belum tentu ia akan melakukannya,” Kancil berkata tiba-tiba sehingga hewan-hewan yang lain memandanginya. 
 Kemarin saya mendapat SMS dari sebuah penerbit di Jakarta bahwa naskah saya ditolak. Tanpa memakan waktu, saya langsung menariknya. Telah dua penerbit yang mengatakan bahwa di kemudian hari akan menghubungi saya kembali setelah membaca naskah ini, namun saya memutuskan untuk tidak menundanya terlalu lama.
Naskah fiksi yang saya tulis setahun lalu ini akan dirombak lebih dulu. Saya sudah tahu hendak ke mana tujuan karya satu ini dalam waktu dekat. Sebuah order telah menanti. InsyaAllah cocok dengan kriteria naskah tersebut. Jadi jadwal hari ini: revisi. 
| |