Rini's posts with tag: dongeng

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag dongeng
Blog EntryDongeng RondaFeb 12, '08 9:41 PM
for everyone
Pada masa angin keras (yang dikabarkan media sebagai badai) belakangan
ini, saya dan Mas Agus jarang keluar rumah. Kondisi badan sedang
rapuh, jadi kami memilih bergelung di selimut bila tidak bertempur
dengan berkas kerja masing-masing. Sinyal sering kocar-kacir, maka
saya tak pernah online kalau tidak sangat perlu. Hikmahnya, kami bisa
mengurangi gundukan utang buku dengan membaca setiap hari. Kalau
sedang pusing, Mas Agus menghibur dengan membacakan dongeng bahasa
Jawa. Sambil ngakak-ngakak, saya memintanya menerjemahkan langsung ke
dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seperti anak kecil lagi balapan, saya sering bilang, "Udah tamat!"
setelah satu buku rampung dibaca. Toh, di sela deadlinenya yang
lumayan rapat, Mas Agus pun berhasil menyelesaikan baca Anak Bajang
Menggiring Angin yang baru saya lihat-lihat sekilas. Kemudian ia
beralih pada Ki Ageng Mangir, sebuah novel sejarah.

Walaupun angin gemuruh dan memukul-mukul atap fiber di belakang rumah,
semalam ia tetap harus pergi meronda. Apa yang dibacanya menjadi bekal
buat ngobrol. Tetangga sekitar rata-rata menaruh minat pada sejarah
dan politik, maka Mas Agus bercerita mengenai Mataram dan Majapahit.



Blog EntryDongeng yang Bukan Untuk AnakJan 15, '08 8:24 PM
for everyone
Seraya menyampul buku menunggu jam giliran ronda, Mas Agus meminta
saya membacakan sebuah dongeng. Saya ambil Dongeng-dongeng Asia kanggo
Bocah-bocah Jilid Loro yang sudah disampul rapi. "Awas ya kalo
diketawain cara bacanya," ancam saya sebelumnya. Saya jatuhkan pilihan
pada cerita dari Pakistan, mBok Tani karo Macan (halaman 34), dan
membacakannya dengan aksen Banjarnegara.

Sebentar-sebentar saya berhenti untuk menanyakan apakah lafalnya benar
atau bila terdapat kata yang tidak dipahami. Parahnya, saat ditanya
'nyrantekkake', Mas Agus bilang nggak tahu. Oalah.."Priwe, jal?"
komentar saya sambil geleng-geleng.

Dongeng satu ini menceritakan suami-istri petani yang mengakali seekor
macan. Alkisah, si macan ingin memangsa sapi yang membantu Pak Tani
membajak ladang gandum. Ia berusaha menawar dengan sapi betina
kesayangan istrinya. Tentu saja sang istri marah karena ia
memerlukannya untuk menyediakan susu bagi anak-anak dan mentega.

Mas Agus ngakak ketika saya sampai pada kalimat: "O, goblog temen ta
kowe kuwi," panggebrage mBok Tani. Katanya, penjiwaan saya 'dapet'.
Kami tertawa bareng saat membaca bagian yang mengandung onomatope khas
bahasa Jawa, 'sakala nggero, buntute njlenthar'.

Kami sepakat bahwa dongeng karangan Ikram Chungtai tersebut tidak
cocok untuk anak-anak. Pasalnya, di akhir cerita, serigala tewas
karena terseret-seret macan yang lari tunggang langgang oleh tipu
muslihat mBok Tani. Bahkan saya merasa iba pada hewan buas itu.


Blog EntryBeres Satu Naskah..Uhuyyy!!!Jan 8, '08 8:57 PM
for everyone
Bangun pagi, abis bikin kopi dan ritual lainnya, saya pasang musik
keras-keras. Seperti biasa, lagu Cake dan Simple Plan untuk menggerus
radio kompetitor yang muter dangdut di seberang jalan. Teriak-teriak
sampe lega, ngoprek sebuah naskah yang baru sampai 70 halaman.

File Word macet. Bagus! Satunya lagi nggak mau dibuka. Oh, tidak! Saya
restart laptop, baru lancar. Acak-acak, obrak-abrik, aduk-aduk, selesai! Total
sembilan puluh lima halaman naskah dongeng tersebut. Baru 99% sih.
Tinggal merapikan daftar isi. Pokoknya 'utang' satu ini lunas.

Jangan tanya betenya saya dua hari kemarin. Sekarang? Pengen menandak
dan menari-nari.


Blog EntryRevisi Tahap Pertama Kelar!Dec 27, '07 9:30 PM
for everyone
Tangan sampai beku dan nyaris sulit digerakkan. Super dingin. Saya
bangun sejak jam dua pagi dan nggak bisa tidur lagi. Banyak yang
muter-muter di kepala.

Naskah dongeng yang ditolak kemarin pelan-pelan
direvisi..alhamdulillah! Untuk buku remaja, masih kurang sekitar
sepuluh halaman lagi. Tapi yang penting sudah dicicil. Sambil
ngoprek-oprek bahan yang dikumpulkan dulu untuk nulis tambahannya.


Blog EntryCerpen Anak: Negeri BianglalaDec 27, '07 7:07 PM
for everyone
Yang ketemu hanya file episode ke-5 sampai 10. Maka yang saya posting
Negeri Bianglala 5 saja. Ilustrasinya malah yang episode kedua:(

Semoga bermanfaat.

NEGERI BIANGLALA 5

Kelas kembali menjadi gaduh. Burung Hantu mengetuk-ngetukkan pensilnya ke atas meja kayu.
Spontan Kelinci bertanya, “Apakah Pak Burung Hantu tahu di mana orangtua bayi manusia itu berada?”
“Tidak,” Burung Hantu menggeleng.

“Kamu ini bagaimana, sih?” Kancil menyergah. “Kalau Pak Burung Hantu tahu, mana mungkin si bayi dititipkan di tempat tinggal kita. Pasti ia akan dikembalikan pada keluarganya!”
“Betul,” Burung Hantu berkata. “Kelinci, tidak ada makhluk Tuhan yang sempurna. Walaupun aku di sini menjadi guru kalian, bisa saja kalian tahu lebih banyak hal dari aku.”
“Contohnya manusia itu,” Kancil menimpali.

Burung Pipit berkata, “Tapi aku sangsi, bagaimana manusia dapat melebihi Pak Burung Hantu yang pintar ini? Sekarang saja ia masih memerlukan bantuan orang lain untuk mengurus dirinya.”
Burung Hantu tersenyum bijak. “Jawabannya, karena manusia dikaruniai akal pikiran.”
Seisi kelas tersentak. “Akal pikiran? Apa itu?”

Burung Hantu menjelaskan, “Sesuatu yang menjadikan manusia makhluk paling sempurna. Ia dapat menggunakan akalnya untuk memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah-masalahnya.”
Tikus mempermainkan kumisnya. “Tadi Bapak mengatakan tidak ada makhluk paling sempurna di dunia. Mengapa sekarang berubah?”
“Maksudku..”

Kancil menyela, “Manusia paling sempurna, artinya ia lebih pandai daripada hewan dan tumbuh-tumbuhan.”
“Betul, Kancil,” Burung Hantu menanggapi. “Tapi lain kali, tolong jangan memotong perkataan orang lain ya? Itu tidak sopan.”
Senyum di wajah Kancil yang tadi dipuji Burung Hantu lenyap mendengar akhir kalimatnya.
“Hukum saja, Pak!” seru Kucing.

“Ya, suruh dia menulis Saya tidak akan memotong pembicaraan orang lain lagi sebanyak seratus kali,” kata Burung Pipit.
“Laporkan pada orangtuanya, Pak,” kata Tikus tak kalah sengit.

“Sudah, sudah,” Burung Hantu melirik wajah Kancil yang masam. “Yang lain juga mendapat hukuman menulis Saya tidak akan bergembira ketika teman saya berada dalam kesusahan. Kalian mengerti?”
Kelinci buka mulut, “Pak, kembali pada pertanyaan semula. Kalau orangtua bayi itu tidak ada, bagaimana dia bisa sampai kemari?”
“Pertanyaanmu cukup sulit, Kelinci,” ucap Burung Hantu. “Mungkin saja ia yatim piatu. Kalian tahu apa artinya itu?”
“Tidak punya ayah dan ibu,” sahut Kancil pelan.

“Benar,” mata Burung Hantu bersinar. “Mungkin orangtuanya mendapat musibah, yang menyebabkan mereka meninggal. Mungkin juga mereka tersesat jauh dari sini sehingga terpisah dari si bayi.”
“Kalau benar dia tidak punya orangtua,” seru Kura-kura, “..apakah itu berarti kita harus mengurus dia untuk selamanya?”

“Tentu tidak,” jelas Burung Hantu. “Ia hanya membutuhkan bantuan dan pengawasan untuk sementara waktu. Pada saatnya, ia akan mampu mengurus diri sendiri.”
“Juga mengurus kita,” seloroh Kura-kura. Yang lain tergelak.

“Lho, bukankah dia makhluk yang sempurna?” kilah Kura-kura. “Tentu mudah saja baginya untuk mengurus kita semua.”
“Menurutku, yang harus diurusnya adalah Pak dan Bu Monyet,” ujar Kelinci. “Karena mereka yang berjasa membesarkan si bayi manusia. Bukan begitu, Pak Burung Hantu?”

“Benar,” Burung Hantu mengangguk-angguk. “Karena manusia dikaruniai akal budi, mereka dapat memahami itu dengan cepat.”

“Tapi menurutku, belum tentu ia akan melakukannya,” Kancil berkata tiba-tiba sehingga hewan-hewan yang lain memandanginya.


Blog EntrySatu Naskah Pulang ke RumahDec 27, '07 4:59 PM
for everyone
Kemarin saya mendapat SMS dari sebuah penerbit di Jakarta bahwa naskah
saya ditolak. Tanpa memakan waktu, saya langsung menariknya. Telah dua
penerbit yang mengatakan bahwa di kemudian hari akan menghubungi saya
kembali setelah membaca naskah ini, namun saya memutuskan untuk tidak
menundanya terlalu lama.

Naskah fiksi yang saya tulis setahun lalu ini akan dirombak lebih
dulu. Saya sudah tahu hendak ke mana tujuan karya satu ini dalam waktu
dekat. Sebuah order telah menanti. InsyaAllah cocok dengan kriteria
naskah tersebut. Jadi jadwal hari ini: revisi.



Link: http://www.mordent.com/folktales/french/boat/

Cerita rakyat Prancis dalam bahasa Inggris

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help