Rini's posts with tag: dongeng anak
 Dimuat di Majalah Valens edisi 10.
Sudah berbulan-bulan Ratu menderita penyakit aneh. Tubuhnya kurus karena kehilangan nafsu makan. Ia tak kuat bangkit dari tempat tidurnya. Ratu juga tak mampu berbicara. Ia hanya menatap semua orang dengan matanya yang hampir tak bersinar.
Sudah banyak tabib didatangkan, bahkan dari negeri seberang. Namun tak seorang pun mampu menyembuhkan Ratu. Mereka bahkan tak tahu apa penyakit yang diidapnya.
Akhirnya diketahui bahwa obat paling manjur untuk Ratu dimiliki oleh Dewi Melati. Akan tetapi Dewi Melati hanya bersedia menyerahkan obat itu kepada orang yang dapat menjawab tiga buah pertanyaannya.
Seluruh cendekiawan telah dikerahkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Dewi Melati itu. Tetapi belum ada yang memuaskan hati Sang Dewi. Orang-orang keluar dari istana sambil menunduk sedih karena tak dapat membantu Sang Raja mendapatkan obat bagi Ratu.
Demi kesembuhan Ratu, Raja mengumumkan kepada rakyat negerinya, "Barang siapa yang dapat menjawab ketiga pertanyaan Dewi Melati, akan kuberi hadiah besar."
Banyak sudah yang tertarik akan sayembara itu. Mereka memberanikan diri datang ke istana. Tetapi orang-orang yang pandai sekalipun pulang dengan tangan hampa.
Sementara itu keadaan Ratu semakin memburuk. Dalam kepanikannya, Raja menjadi murka. Siapa saja yang datang tetapi gagal menjawab pertanyaan Dewi Melati mendapat hukuman cambuk.
Seorang pemuda miskin datang menghadap. Sang Raja memandangnya dengan sangsi, "Bagaimana mungkin kau dapat menjawab pertanyaan yang sulit-sulit itu? Pendidikanmu tidak tinggi. Para ahli di istana saja tidak mampu."
"Hamba akan mencoba, Yang Mulia," kata si pemuda tenang.
"Kalau kau tidak berhasil, nyawamu taruhannya," Raja mengancam.
"Hamba siap, karena Hamba memang hidup sebatang kara," kata si pemuda lagi.
Dengan harap-harap cemas seluruh penghuni istana menyaksikan pemuda itu berhadapan dengan Dewi Melati.
"Apakah yang tidak dapat dinilai dengan uang?" tanya Dewi Melati.
"Kesehatan," jawab si pemuda mantap.
"Mengapa?"
"Sebanyak apa pun uang dan harta yang kita miliki, tak ada gunanya bila kita sakit. Kita takkan bisa menikmatinya," si pemuda menerangkan.
Dewi Melati meneruskan, "Hutang apa yang tak pernah dapat kita bayar?"
"Hutang kepada seorang ibu," jawab pemuda itu dengan mantap. "Ibu telah mengandung kita selama sembilan bulan, merasakan sakit yang luar biasa hingga menjelang ajal ketika melahirkan, dan banyak lagi. Seumur hidup pun kita takkan pernah dapat membalas jasa seorang ibu yang telah mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang."
"Benar," ucap Dewi Melati. "Yang ketiga, pemberian apakah yang tidak akan membuat kita miskin?"
"Senyuman," ujar si pemuda. "Senyum menyenangkan hati setiap orang yang melihatnya. Kita tidak menjadi kekurangan dengan memberikan senyum, justru mendapat banyak teman."
Semua orang bertepuk tangan hingga suara gemuruh memenuhi sudut-sudut istana. Dewi Melati menyerahkan obat untuk Ratu sambil berkata, "Sesungguhnya ini teguran untukmu, hai Raja. Kau terlalu lalim dan bengis selama memerintah. Karena keangkuhanmu, banyak orang menderita. Justru pemuda miskin yang kauhina inilah yang dapat menolongmu."
Raja terdiam mendengar itu. Ia tak dapat membantah. Jangankan penasihat istana, kata-kata Ratu seringkali diabaikannya. Tak heran jika Ratu sampai jatuh sakit karena sedih.
Dengan tulus Raja mengucapkan terima kasih kepada si pemuda miskin. Setelah Ratu sembuh, pemuda itu diizinkan tinggal di istana. Bahkan akhirnya Raja dan Ratu yang tidak mempunyai keturunan mengangkat si pemuda sebagai anak mereka.

| Category: | Books | | Price: | Rp 25.000,00 |
Penulis: Raymond Frank Baum Penerbit: Read!
Dorothy terjebak di sebuah Negeri Serba Hijau Emerald setelah dihempaskan badai Tornado. Untuk kembali ke rumah Bibi Em di Kansas, dia harus meminta tolong kepada penyihir digdaya. Yang Mulia Oz. Dalam perjalanannya ke istana Oz, dia bertemu Orang-orangan Sawah yang akan meminta otak, Manusia Kaleng yang memohon sebuah hati, dan si singa Penakut yang mendambakan keberanian khas sang raja hutan. Mereka lalu bersahabat. Namun, pengembaraannya tak semudah seperti yang mereka harapkan. Karida sang serigala pembunuh, penyihir dari Barat yang bengis, bahkan kawanan kera bersayap telah siap menyantap mereka. Akankah petualangan Dorothy yang ditemani si Toto, anjing kecilnya, berhasil? Apakah dia bisa kembali lagi bertemu dengan Paman Henry dan Bibi Em?
FYI, ini sekadar upaya promosi, saya tidak melakukan penjualan atau menyimpan stok. Click a thumbnail to enlarge:
| Category: | Books | | Price: | Rp 20000.00 |
Penulis : Ouida
Nello, seorang anak laki-laki yatim piatu yang tampan dari daerah Flanders. Sejak berumur dua tahun, dia tinggal bersama kakeknya, Jehan Daas. Kakek Jehan Daas adalah seorang mantan tentara yang pincang karena luka parah dalam peperangan. Walaupun miskin, dia tidak merasa terbebani dengan adanya Nello. Bahkan, dia menganggap Nello sebagai bagian yang sangat penting dalam hidupnya. Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, Kakek Jehan Daas bekerja sebagai pengantar susu sapi dari Desa Hoboken ke Kota Antwerp. Kaleng-kaleng susu itu diangkut dengan gerobak yang dia tarik setiap pagi hingga sore. Namun, Kakek Jehan Daas semakin tua. Dia tidak bisa lagi menarik gerobak susu yang berat, sedangkan Nello masih kecil. Suatu hari, Nello dan Kakek Jehan Daas menemukan seekor anjing Fleming yang hampir mati. Karena kasihan, mereka membawa dan merawat anjing itu sampai sembuh. Patrasche, nama anjing itu, tahu bagaimana membalas budi dan bertekad akan menggantikan kakek menarik gerobak. Sejak saat itu, Patrasche dan Nello kecil menggantikan kakek mengantar susu. Suatu hari, di Kota Antwerp diadakan sayembara melukis berhadiah uang yang jumlahnya besar. Memang, setiap hari, Nello bekerja sebagai penjual susu. Namun, tidak ada yang tahu kalau Nello punya bakat dan cita-cita menjadi pelukis terkenal. Berhasilkah Nello? Akankah pandangan penduduk desa, terutama keluarga si Cantik Alois, berubah terhadapnya?
FYI, ini sekadar upaya promosi, saya tidak melakukan penjualan atau menyimpan stok. Click a thumbnail to enlarge:
| Category: | Books | | Price: | Rp 20.000,00 |
Penulis : Frances Hodgson Burnett Penerbit: Read!
Ceddie, seorang anak tampan yang tinggal bersama ibunya di pinggiran kota New York. Ayahnya telah lama meninggal dunia. Ceddie hidup sangat sederhana, tetapi bahagia. Suatu hari, seorang pengacara Inggris menemuinya dan mengatakan kalau Ceddie adalah pewaris kekayaan bangsawan Inggris. Namanya pun berubah menjadi Lord Fauntleroy. Akankah Ceddie berubah setelah menjadi kaya raya? Lalu, apa yang akan terjadi ketika pewaris palsu datang untuk menggusur posisi Ceddie?
FYI, ini sekadar upaya promosi, saya tidak melakukan penjualan atau menyimpan stok. Click a thumbnail to enlarge:
 ..atau mungkin tepatnya, kenekadan.
Sekitar akhir tahun 2003, saya bergabung sebagai kontributor lepas Majalah Valens (kini menjadi majalah komik). Iseng-iseng mengajukan ide cerita bersambung dan disetujui. Deg-degan juga, khawatir kehabisan ilham di tengah jalan.
Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan. Judul Negeri Bianglala meletup begitu saja di otak. Saat itu saya terpaksa berpaling dari ruang kerja karena keponakan-keponakan yang masih kecil ngajak bermain. Hujan baru reda dan saya menunjukkan pelangi pada mereka. Sementara mereka asyik motret-motret (maklum anak kota:p), saya kembali ke komputer dan langsung membuat judul Negeri Bianglala.
Negeri tersebut adalah tempat para hewan dan tumbuhan dapat berbicara. Kehebohan terjadi ketika seorang bayi manusia terdampar di sana, sementara banyak yang tidak tahu makluk apakah manusia itu. Mereka bergantian merawatnya, meski bingung dan harus mendapat petunjuk Pak Burung Hantu.
Saya tidak ingat akhir cerber ini, namun umurnya sekitar 9-10 episode saja. 
Dikasih tahu Kang Iwok mengenai link di situs Mizan ini. Nggak nyangka juga..novel komik terjemahan saya termasuk salah satu yang laris. Terharu..terharu.. Nuhun, Kang.
 "Kau Tinker Bell, kuat dan cerdas bagaikan bel. Berkilat dan percaya diri bagaikan panci baru." (halaman 77) 
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Wikan Satriati |
Judul: 8 Mudah diingat, pas dengan tujuan. Melangkah dan Bismillah sama-sama mendukung makna ‘awal’.
Desain cover: 8 Sesuai untuk anak-anak, warna cerah membuatnya mudah ditemukan di antara tumpukan buku lain.
Bismillah, Kuawali Setiap Langkah dengan Nama-Mu: 8 Kisah seorang bocah yang mengalahkan kebengisan Raksasa Hitam dengan katapel dan ucapan Bismillah penuh keyakinan hati dikemukakan dengan lembut namun logis untuk pemahaman anak-anak maupun orang dewasa.
Alhamdulillah, Kami Bersyukur: 8 Saya sudah sering mendengar perihal kesabaran Ayyub. Tetapi kehadiran setan sebagai pengirim cobaan dan penyakit mengerikan membuat kisah ini terasa lain.
Assalammu’alaikum, Salam Sejahtera Bagimu: 8,5 Kombinasi dongeng dan kisah teladan raja Umar yang dikritik rakyatnya amat proporsional lagi mengena. Saya paling suka bagian yang menceritakan bahwa ribuan malaikat menjawab salam kita dengan salam. Kalimat salam benar-benar perlu diperhatikan.
Subhanallah, Alangkah Indahnya: 8 Ini kisah kesabaran dan kebesaran hati Muhammad yang juga telah berkali-kali saya dengar, antara lain dari ceramah Ustadz Zainuddin MZ di radio sewaktu kecil.
Laa ilaha illallah, Allah, Engkau Tuhanku: 8 Pendek tapi berkesan. Bahwa manusia perlu berusaha. Bahwa manusia tak boleh mengeluh. Bahwa manusia harus mencontoh kegembiraan pak tua meski hidupnya sederhana.
Astaghfirullah, Aku Menyesal: 9 Ini kisah favorit saya. Wikan Satriati sukses mengupas kisah si kancil dari kacamata berbeda. Sudah lama saya meyakini bahwa kancil itu binatang licik, seperti halnya kelinci yang kerap mengerjai hewan lain dalam dongeng dan komik. Dengan membaca kisah ini, insyaAllah anak-anak pun akan berubah pandangan dan menilai bahwa perbuatan kancil tidak layak ditiru. Seperti halnya dalam lagu “Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun..”
Ladang Kata: 8 Kisah sederhana ini bagai rangkuman yang menunjukkan keterkaitan enam cerpen lain. Indah, indah sekali. Menggambarkan dengan jelas petikan ayat dari Surat Ibrahim yang menutupnya “kata-kata yang baik itu seperti pohon yang indah, akarnya kokoh menghunjam ke dalam bumi dan dahannya menjulang ke angkasa. Pohon-pohon itu selalu berbuah sepanjang musim.”
Kesimpulan: Karya Wikan Satriati ini merupakan pedoman dan rujukan penting untuk menulis cerita anak dengan gaya tutur menyejukkan hati.

|  | Karya-karyaku yang pernah dipublikasikan dan ikut lomba |
| |