Rini's posts with tag: fantasi
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
 ..kadang-kadang jalanan membentang panjang di depan kita. Dan kita pikir jalanannya panjang sekali, takkan ada yang sanggup, begitu kita pikir." ..."Dan habis itu kita mulai terburu-buru. Semakin lama kita semakin terburu-buru. Dan setiap kali menoleh, kita melihat bahwa jalanan yang belum dikerjakan tetap saja panjang. Dan kita semakin kalang-kabut, kita mulai ketakutan, akhirnya kita kehabisan napas dan tidak sanggup meneruskan pekerjaan. Dan jalanan tetap saja membentang. Itu cara yang keliru." ..."Kita jangan pikirkan seluruh jalanan sekaligus, kau mengerti? Pikirkan langkah berikut saja, tarikan napas berikut, ayunan sapu berikut. Lalu yang berikutnya lagi." .."Dengan cara itu, pekerjaan kita akan menyenangkan. Itu penting, sebab kita jadi bekerja dengan baik. Dan begitulah seharusnya." ..."Tiba-tiba kita sadar bahwa seluruh jalanan sudah selesai dikerjakan, selangkah demi selangkah. Kita sendiri tidak ingat bagaimana caranya, dan kita juga tidak kehabisan napas." (halaman 42-43) 
 Saya ketiduran menunggu Mas Agus pulang rapat RT malam itu. Sekitar jam sepuluh, saya mendapatinya duduk di sebelah tempat tidur membuka-buka halaman sebuah buku yang belum saya tuntaskan dengan kening berkerut dalam.
"Editingnya nggak berfungsi, nih," ia berkata. "Masa' salah ketik dibiarin aja? Hal-hal yang mendasar mestinya dikasihtahu ke penulis."
Pendapat Mas Agus tak bisa disalahkan. Salah ketik dalam novel itu bertaburan dan cukup mengganggu. 'anda' dan 'dating' termasuk di antaranya. Kemudian kami membahas lebih jauh buku karangan seorang penulis anak yang pernah diwawancarai sebuah media cetak ibukota tersebut.
Kami sepakat bahwa fantasi yang dikisahkan penulis cilik ini kurang natural, bahkan bisa disebut 'bentukan'. Saya pernah membaca cerpen karya anak-anak, antara lain di Kompas Minggu, dan nuansa polosnya amat terasa. Dalam novel yang kami hadapi, penulis berusaha untuk canggih dan nampaknya banyak terpengaruh oleh tontonan. Bukan bacaan.
Sangat disayangkan, logika cerita terkesan lemah. Saya teringat obrolan dengan seorang sahabat perihal kawan editor yang sangat teliti. Ia melontarkan pertanyaan, "Apakah anak SD sudah bisa berpikir sejauh itu? Anak umur berapa yang mampu berbuat A dan B seperti ini?"
Mungkin editor novel fantasi anak yang kami baca ini tidak sampai hati, khawatir melemahkan semangat kreatif si penulis. Namun, meminjam kata Nanny Stella dalam episode Nanny 911 hari Minggu kemarin, ada sesuatu yang disebut 'tough love'. Alangkah baiknya bila penulis cilik ini mengetahui kekurangannya sejak awal dan menggunakannya sebagai dasar untuk membangun karya yang lebih bagus. Tentu saja kritik yang disampaikan dengan mengenakkan hati, tidak memojokkan apalagi menyerang secara pribadi.
Saya teringat pengalaman lain dengan seorang penulis yang sungguh-sungguh meminta masukan. Yang saya katakan tidak banyak, hanya agar ia lebih banyak membaca karya sejenis dengan tema yang digarapnya supaya semakin matang karena sebelumnya ia menekuni bidang penulisan yang berbeda sama sekali. Reaksinya sungguh menyenangkan. Tidak setiap hari kita bertemu dengan penulis yang mau menerima kritik, penulis yang mendorong saya untuk menyusun umpan balik agar kian 'berterima' (pinjam istilah Mas Agus) di hati yang bersangkutan. 
 Tujuan utama pagi ini ialah mengambil pesanan Harry Potter di Tisera. Merchandise baru datang lusa. Akhirnya tengak-tengok sebentar, Bartimaeus terakhir masih nangkring. Selebihnya, nggak ada yang baru.
Kami melangkah ke BBC, ada titipan untuk melihat harga kamus hukum dan Catatan Pinggir Gunawan Muhamad. Busyet deh, harganya setara dengan koleksi 1 Darren Shan. Mas Agus menemukan benda yang sudah lama saya inginkan: penahan rak buku warna biru dengan bentuk cantik!
Tujuan terakhir adalah membeli soto Adi Ada Aja. Di sebelah Munggaran, nampak sebuah toko kecil memampang sederet buku dengan tulisan BUKU ANAK SEPULUH RIBU 3. Singgah, deh. Lumayan, dapat buku mengenai skenario terbitan Kaifa seharga 15 ribu saja. 
 Seorang sahabat menyampaikan pendapatnya bahwa trilogi jin yang sangat unik ini kurang cocok untuk anak-anak. Bahasanya lebih dapat dinikmati, minimal, oleh anak yang sudah duduk di bangku SMP.
Saya membaca satu bab lebih dahulu. Wah, benar sekali. Peralihan sudut pandangnya menuntut konsentrasi tinggi. Tanpa bermaksud menyepelekan kemampuan membaca anak-anak, dalam hal ini si Bungsu yang akan saya hadiahi, bahkan pelajar SMP pun harus benar-benar gemar membaca supaya dapat meresapinya. Novel fantasi ini bukan jenis yang dapat di-skim. Mendadak saya teringat catatan di rapor si Bungsu, bahwa ia belum menguasai skimming pula.
Bila saya 'nekad' memberikannya kepada keponakan, bisa dipastikan kakak-kakaknya yang akan membaca. Bukan tidak mungkin saya malah dicemberuti si Sulung, yang pernah bilang, "Barangkali Tante akan dapat inspirasi untuk membeli Bartimaeus buat aku." Bisa aja saya membeli trilogi ini sekaligus kemudian 'menjatah' mereka bertiga masing-masing satu supaya membacanya dengan rukun, namun itu berarti saya tidak mengerti perasaan mereka bahwa anak pun ingin mempunyai propertinya sendiri.
Setelah berpusing-pusing, saya tetapkan membatalkan kado ini dan menggantinya dengan buku lain. Si Bungsu suka sekali Ulysses, tetapi ternyata lanjutannya memang belum terbit. Mudah-mudahan hari ini saya menemukan Clockwork dan Firework Maker's Daughter di Jatos. Itu bacaan yang sangat sesuai sebab si Bungsu sangat menggemari Nightmare before Christmas.
Plong sudah. Alasan lainnya? Saya sudah terjerat pesona Bartimaeus sejak halaman pertama, hahaha.. Telah terbetik maksud untuk membeli buku ketiganya. Jika si Sulung benar-benar menginginkannya, nanti saja dibelikan lagi. Toh ulang tahunnya masih lama. 
 Secara kejiwaan, membaca buku yang 'berat' -- dalam arti membuat kita berpikir-- sangat tidak dianjurkan sebelum tidur. Tapi saya nggak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Berhenti baca sambil makan jauh lebih mudah, namun baca buku justru bikin tidur makin lelap.
Karena penasaran, saya terus menyimak halaman demi halaman The Bookaholic Club ini. Keteledoran saya ialah tak pernah mengintip sinopsis sampul belakang dengan baik (yah, namanya juga cuman ngintip). Begitu liat..heh? Ada hantunya segala. Glek..inget apa yang terjadi saat menemukan penampakan dalam novel Tarothalia dan baca malem-malem beberapa bulan lalu.
Cerita sudah menuju klimaks dan keseraman merambat. Oh, stop dulu..imajinasi saya udah menjalar sana-sini. Dan semalam saya mimpi buruk. Nggak menakutkan sih (dalam arti ada jurig atau sebangsanya), tapi bikin saya khawatir sama ibu saya yang lagi sakit. Syukurlah nggak ada ekstra jejeritan yang bikin Mas Agus ngebangunin kayak dulu, tapi pake nangis. Mimpi yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan isi novel remaja tersebut.
Jadi pagi ini, saya terusin lagi bacanya sampai kelar. Hehehe.. 
 | Nyerah.. | Dec 27, '07 4:59 PM for everyone |
 Kemarin siang saya dan Mas Agus jalan-jalan sesuai niat sejak pagi. Rencananya sih beli sampul plastik lagi karena udah abis. Saya juga kepingin beli cemilan yang banyak, pokoknya pengen makan enak setelah suatu insiden yang lumayan ngeselin. Muter-muter Tisera, takjub liat raknya yang berubah posisi. Makin rapi. Sempat liat buku anak-anak karangan seorang teman yang sudah senior. Penasaran lirik Pullman, yah..stoknya masih yang kemaren (lagian baru dua hari gitu:p). Bukan rizki si Bungsu deh. Males nyari di BBC. Selain bukan hari diskon, banyak sales maksa berseliweran di sekitarnya. Udah niat nggak akan beli, nggak akan beli..tapi kayaknya tekad kurang kuat. Saya menghampiri sebuah rak dan menemukan novel Sarah Singleton, Century. Covernya menarik, juga ceritanya. Saya ingin sekali tahu novel fantasi remaja yang bernuansa dark begini..apa lagi harganya sangat terjangkau. Dua puluh lima ribu saja. Mas Agus tersenyum lebar melihat bandrol tersebut. Sampai sekarang, novel itu belum dibuka plastiknya:p 
| |