Rini's posts with tag: fiksi
 Saya suka sekali nonton film hasil olahan dari novel. Tak pernah berakhir dengan pembandingan, walaupun saya sudah baca bukunya. Film Indonesia pun ada satu-dua yang saya tonton, meski banyak mengerutkan kening seperti film Roro Mendut.
Pada Ramadhan suatu tahun (CMIIW, kalau ternyata bukan Ramadhan waktu itu), saya menyaksikan cerpen-cerpen Annida dilayargelaskan. Lupa nama programnya, karena sudah cukup lama. Paling saya ingat, Koran Gondrong-nya Mbak Asma diperankan antara lain oleh Ali Zainal. Protes banget deh sama endingnya, sebab Ali tidak dicukur pendek seperti dalam cerpen. Dia masih gondrong dan menagih janji keluarganya untuk membantu biaya pengobatan Udin si bocah penjual koran. Nggak total banget deh..
Sore ini, saya melihat iklan tayangan Bioskop Indonesia di Trans TV. Ada beberapa pelajar SMA, menyebut-nyebut nama Rangga. Ah, jelaslah ini bukan AADC, apalagi ketika ada potongan dialog, "Upit nggak mau Papa cerai!" Lho, itu kan Upit Kejepit?
Terlepas dari ketidakkeberatan Tria Barmawi sebagai penulis, yang belum saya ketahui sampai sekarang, rasanya sayang aja melihat peristiwa ini. Upit Kejepit adalah satu dari sedikit novel remaja yang saya baca dan sukai sehingga saya rekomendasikan pada si Tengah. Lagipula pemeran utamanya Sheila Marcia, duuh..jauh banget dari bayangan saya. Hiks.. 
 Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menonton siaran berita kriminal. Karena memang kurang suka nonton TV, berita yang disantap amat terseleksi. Tayangan kriminal termasuk yang dihindari karena bikin paranoid, baik berada di rumah maupun bepergian (jadi mau ke mana, dong?:p).
Untuk membunuh kejenuhan di sela mendampingi keponakan bikin skripsi (baca: biar dia nggak ngegame melulu), saya membaca The Naked Face. Nyambung juga, karena ada psikoanalisisnya..hehehe, maksa. TV cukup sering menyala, sehingga tidak jarang pindah saluran ke berita yang isinya lagi-lagi kriminal.
Entah ada hubungannya atau tidak, selagi membaca novel ini, saya relatif 'terbiasa' menyimak berita tindak kejahatan. Pembunuhan seorang wanita muda di kamar kos, misalnya, yang beruntun dengan tewasnya seorang lelaki tanpa identitas akibat jeratan di leher. Keduanya diberitakan beruntun sehingga saya berpikir, "Wah, ini bisa jadi novel thriller yang seru."
Sinkron atau tidak, keseringan nonton TV tidak sehat. Mesti dihentikan segera. Kebanyakan perbuatan yang percuma, contohnya waktu nonton pledoi Arthalyta malah terdorong mengomentari make-up tebalnya. Duh, buang-buang listrik aja. 
 Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini. Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel. Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri. Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The NakedFace-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget. Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli terjemahannya, dompet bisa nangis. Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of TwoCities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik, keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-) Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya. Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa Prancis! Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-) 
 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 ..sudah terbit. Alhamdulillah, hari ini kiriman jatah penyunting dari Pustaka Insan Madani sudah saya terima. Novel ini dihiasi ilustrasi hitam-putih di setiap babnya. Berikut sinopsis kaver belakang: Sejak kecil, Handoyo harus mengenyam kepahitan hidup. Ibunyameninggal, ayahnya larut dalam duka berkepanjangan, sehingga ia harusputus sekolah dan menjadi orangtua untuk adik-adiknya yang masihmembutuhkan kasih sayang. Penderitaan masih mengoyaknya kala sang ayahmenikah lagi dan membuang mereka bertiga ke dalam hutan.Kehadiran seorang lelaki budiman yang berteman dengan harimau membalutluka batin Handoyo, Sekar dan Ningsih. Tetapi kebahagiaan merekaberakhir karena orang tua angkatnya itu menghembuskan nafas di tanganpara pemburu yang ingin merusak hutan. Sanggupkah Handoyo meraihkembali masa depannya sekaligus memperjuangkan kelestarian alam dariorang-orang serakah?Malam Pemburuan ditulis oleh Varuni Dian W., salah satu juara lomba menulis cerita Departemen Agama. Kisah di balik dapur penyuntingan menyusul. 
sumber: http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=123
PT ROHTO-MENTHOLATUM Kembali menyelenggarakan LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008) Memperebutkan LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD Berhadiah Total Rp 80 Juta • Peserta: Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum Kategori Lomba Lomba terdiri dari (tiga) kategori peserta. Kategori A, Peserta Pelajar SLTP, Kategori B, Peserta Pelajar SLTA. Kategori C, Peserta Mahasiswa/Umum Syarat-syarat Lomba 1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri. Kecuali, karyawan PT ROHTO Lab. Indonesia/agennya dan Panitia Pelaksana 2. Lomba dibuka tanggal 1 Juli 2008 dan ditutup tanggal 10 Oktober 2008 (Stempel Pos) 3. Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan maupun kekecewaan 4. Judul bebas tetapi harus mengacu pada tema Butir 3 5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul 6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, indah (literer) dan komunikatif 7. Naskah harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba serupa yang bukan diselenggarakan oleh PT ROHTO 8. Ketentuan naskah: a. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, format 12 point, font Times New Roman, margin kiri-kanan rata (Justified) b. Panjang naskah minimal 6 (enam) halaman, maksimal 10 (sepuluh) halaman c. Naskah yang dikirimkan ke Panitia LMCR-2008 dalam bentuk print-out 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD d. Naskah disertai ringkasan cerita (synopsis), biodata singkat pengarang, foto pose bebas ukuran 4R dan fotocopy identitas pengarang (pilih satu: KTP/Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa, SIM atau Paspor yang masih berlaku e. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1(satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau seal/segel pengaman SELSUN GOLD FOR TEENS/SENSUN BLUE 5 f. Naskah yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup (dilem), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2008 dan Kategorinya g. Naskah dan persyaratan (Butir f) dikirim ke alamat Panitia LMCR-2008 LIP ICE- SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat h. Hasil lomba diumumkan 10 November 2008 melalui Tabloid Rayakultura Edisi November 2008, www.rayakultura.net dan www.rohto.co.id atau hub HP 08158118140 9. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat 10. Naskah yang dilombaklan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya Hasil Lomba Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama serta 10 (Sepuluh) Pemenang Harapan Hadiah Untuk Pemenang - Kategori A: SLTP • Pemenang I: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Selanjutnya, 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Untuk 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi - Kategori B:SLTA • Pemenang I: Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Hadiah untuk 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi - Kategori C:Mahasiswa, Guru dan Umum • Pemenang I: Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE SELSUN. Bagi 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Pemenang Harapan 10 pemenang, masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN + Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007 Catatan: Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia Ketua Panitia LMCR-2008 Dra. Naning Pranoto, MA
 'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'
(halaman 259) Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini 
 (Lirik-lirik Nad, ehm..)
Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya. Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.
Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona. Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di ulasannya nanti:)
Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli novel ini.
sumber foto: amazon 
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
 Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera. Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.
Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain. 
 Kabar naskah teenlit saya hari ini: sudah mencapai 7570 kata (nggak mau ngitung halaman lagi, supaya kenikmatannya tak terganggu). Hopla! Hopla!
Cerita berbelok lumayan jauh dari outline. Muncul karakter baru, dan konflik berubah drastis. Lumrah, sih..sekarang saya hendak merenung dulu untuk melanjutkan bab kelima.
sumber: sxc.hu 
Seminggu lebih saya memikirkan dua ide yang hendak dituangkan ke dalam naskah novel. Keduanya sudah dijadikan outline. Payahnya, mereka seperti berantem di otak saya ingin dikembangkan lebih dahulu.
Setelah lama gebuk-gebukan, saya berpikir untuk mengkombinasi keduanya. Tapi sangat tidak nyambung dan sama-sama bercabang banyak. Bisa-bisa naskahnya nggak pernah selesai, sedangkan waktu berjalan terus.
Maka saya tuliskan yang satu. Sudah sampai halaman ke-16. Enak deh, nggak pake itung halaman melulu. Hanya siang ini terinterupsi suatu kejadian tak menyenangkan yang mengubah mood seketika jadi sedih. Kabur dulu, aaah..
 Insomnia saya masih berlanjut. Tadi malam, saya terjaga dari jam dua belas sampai sekitar setengah tiga pagi. Sambil mengisi perut yang mendadak kruyukan, saya membaca sebuah novel anak koleksi masa SD. 'Liburan di Peternakan Cherry' karya Enid Blyton, terbitan 1986.
Nggak pernah bosan menyimak uraian Tammylan mengenai kehidupan satwa di alam terbuka. Cara-caranya menyesuaikan diri dengan flora dan fauna. Pengetahuannya yang luas perihal aneka hewan. Dan yang selalu saya ingat, gerakan dan suara sangat perlahan agar binatang-binatang tidak kaget.
Wilayah kediaman kami tergolong sunyi sepi. Para ibu dan ayah rajin mendiamkan anak mereka bila sedang rewel. Apakah karena itu para belalang, capung, lintah, congcorang, rama-rama, kepik, kumbang, ulat bulu, tikus, merpati, burung hantu, kaki seribu, tonggeret, dan kawanannya betah berada di sekeliling rumah? Dalam novel ini, diterangkan juga soal penglihatan dan pendengaran yang tajam jika terbiasa berinteraksi dengan hewan. Apakah karena itu jugakah saya mudah mendapati seekor ulat bulu yang hitam legam di atas karpet biru gelap kami di ruang tengah sebelum terinjak?
sumber foto: sxc.hu 
 Saya memutuskan untuk menjemput pulang beberapa buku anak yang tadinya hendak diwariskan kepada si Tengah dan si Bungsu. Mereka tak pernah menyentuhnya lantaran, mungkin, sudah terlalu besar dan beralih minat. Mengamati rak buku si Tengah yang nano-nano, saya tersenyum juga. Ada Philophobia-nya Tessa Intanya, beberapa novel Sitta Karina, Zauri, Upit Kejepit, buku nama bayi saya, Pacarku Tulalit, Dan Hujan Pun Berhenti, Kambing Jantan, Fairish, Chicken Soup for the Teenagers Soul, buku Dale Carnegie untuk remaja, Query Pita, Ayat-ayat Cinta, berbaur dengan buku agama dan buku pendukung pelajaran yang bersampul warna-warni.
Sampai rumah, saya bernostalgia dengan Tamasya Panci Ajaib karangan Edith Unnerstad. Lumayan, memanaskan otak yang sempat mogok diajak baca kemarin-marin. Minggu malam saya bahkan menuntaskan baca Interlude-Jeda. Sebuah pertanda baik.
Saat meneruskan tulisan fiksi yang baru 6 halaman, saya terpaku sejenak. Ketahuanlah sebab kelambatan prosesnya. Saya asyik mengutak-atik tema besar yang memang banyak cabang untuk dikembangkan. Seperti biasa, tak ada ide untuk sub plot. Semua konflik mengacu ke pokok masalah itu. Kali ini saya tak mau mempermasalahkannya. Ada beberapa novel, yang penulisnya saya kagumi, tetap menarik meski fokus dari awal sampai akhir. Tak menjemukan. Jadi pede aja, deh.
sumber foto: sxc.hu 
 Sudah sepekan lalu saya menerima kabar bahwa sebuah paket buku dititipkan melalui sebuah alamat. Karena masih berjibaku dengan PR ini dan itu, baru sempat diambil kemarin. Aih senangnya, dua novel retelling cerita rakyat klasik karya Femmy Syahrani. Genre yang sangat saya sukai, apalagi dari Jawa Barat. Biar bersaing deh dengan buku-buku Jawa Tengah (dan Timur) di rak buku (melirik Mas Agus:p). Sangkuriang saya baca duluan, karena legendanya berkaitan dengan gunung tempat kami bermukim ini. Tamat dalam satu jam! Merci beaucoup, Fem. Tepat datangnya, saat saya lagi beteeeee pisan. 
 Posting ini untuk memenuhi janji saya kepada Ima. Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, saya tidak langsung memilih genre. Prosesnya mengalir begitu saja, sampai saya menyadari bahwa karya yang berjenis non fiksi lebih banyak daripada yang fiksi. Bukan berarti saya tidak suka fiksi. Bacaan pertama saya sewaktu kecil adalah fiksi. Tulisan pertama yang diterbitkan di media pun berupa cerpen. Kalau mau dirunut, mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang. Sewaktu kuliah, saya mengambil spesialisasi linguistik dan lebih sering berkutat dengan buku teks yang berbau teori dibandingkan roman, drama dan puisi. Pekerjaan terakhir (baca: di kantoran) yang berhubungan dengan menulis ialah mengisi content situs web. Tetapi ketertarikan untuk berfiksi-ria tetap tumbuh, walau tidak berbanding lurus dengan rasa percaya diri akibat kurangnya berlatih. Saya memulai dengan cerpen anak dan naskah komik. Yang kedua ini dengan pertimbangan punya sedikit bekal dari perkuliahan dulu. Cerpen anak tak berarti mudah, tetapi sifatnya yang serba singkat memungkinkan saya untuk belajar lebih giat lagi dalam waktu dan referensi yang masih terbatas. Kepercayaan diri meningkat saat tujuh cerpen saya terpilih untuk dibukukan bersama penulis-penulis lain (ingat kejadian ini, Donna dan Isman?). Setelah menerbitkan empat buku non fiksi karya bersama dan satu buku solo, barulah saya menulis novel secara serius. Itupun karena ditawari. Naskah novel saya itu pun masih kental rasa non fiksinya, dengan narasi panjang dan sedikit dialog. Perlu saya sampaikan bahwa tahap-tahap ini bersifat kasuistis. Banyak penulis lain yang mahir dalam fiksi dan lincah pula di non fiksi. Saya juga sempat mengenal bentuk non fiksi yang lebih cair, dengan selipan dialog dan bahasa yang terkesan seperti bercerita. Keasyikan mempelajari non fiksi gaya baru ini tidak menyurutkan rasa suka saya pada fiksi, meski untuk nyemplung total di sana saya memerlukan usaha ekstra. Jadi yang saya lakukan sejauh ini hanyalah mengikuti kata hati dan 'sang pena' (lebih tepatnya, sang jari di keyboard). Tak jarang niatnya menulis fiksi, lho..lama-lama kok jadi lebih cocok ke non fiksi. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah, saya masih merengkuh cerita anak sebagai wilayah fiksi terdekat untuk menuangkan ide-ide. Menyuburkan perfiksian di pulau gagasan dalam benak saya dengan banyak membaca. Yang paling penting, saya tak mau memaksakan diri. Non fiksi pun tak semuanya saya kuasai. Semoga jurnal ini bermanfaat. sumber foto: sxc.hu 
 Baru-baru ini saya merevisi terjemahan cerita anak berdasarkan hasil koreksi naskah asli dari editor penerbitannya. Memang ada beberapa catatan yang saya sampaikan ketika mengirimkan terjemahan pertama kalinya.
Merujuk koreksian editor itu, saya mencek kembali kalau-kalau terjemahan tempo hari perlu disesuaikan. Untuk itu, saya berkomunikasi dengan penulis naskahnya. Ini kesempatan yang jarang sekali. Alhamdulillah saya mengenal cukup baik penulis cerita yang saya terjemahkan itu sehingga bertanya-tanya pun lebih mudah.
Misalnya ketika tokoh dalam sebuah cerpen diubah menjadi anak laki-laki. Saya mendapati kalimat yang janggal, anak tersebut mengipas-ngipaskan tangan karena kepanasan. Lewat telepon, saya berkata pada sang penulis, "Kayaknya anak cowok nggak pernah kipas-kipas deh." Ia tertawa dan langsung mengubahnya menjadi 'mengelap keringatnya'.
Tidak semua penulis dapat dihubungi, tetapi perubahan yang dilakukan editor relatif tidak banyak. Cerpen saya sendiri mengalami penyederhanaan kata pada suatu paragraf. Satu lagi ilmu baru.
sumber foto: sxc.hu 
 Masih hangat dari Tasik. Dua teenlit hasil nitip Kang Iwok di Gramedia kota santri yang sedang menggelar diskon menggiurkan. Satu lagi, tak lain dan tidak bukan, Suster Nengok dengan tandatangan penulisnya sendiri. Hatur nuhun, Kang. Juga Mas Agus yang menyempatkan diri ke tempat Kang Iwok training di sela-sela kesibukannya nguriling Bandung. Ternyata Mas Agus bukan sosok asing, ya..hehehe.. 
| |