Rini's posts with tag: fiksi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fiksi
Blog EntryNovel di Layar KacaJul 17, '08 8:54 AM
for everyone
Saya suka sekali nonton film hasil olahan dari novel. Tak pernah
berakhir dengan pembandingan, walaupun saya sudah baca bukunya. Film
Indonesia pun ada satu-dua yang saya tonton, meski banyak mengerutkan
kening seperti film Roro Mendut.

Pada Ramadhan suatu tahun (CMIIW, kalau ternyata bukan Ramadhan waktu
itu), saya menyaksikan cerpen-cerpen Annida dilayargelaskan. Lupa nama
programnya, karena sudah cukup lama. Paling saya ingat, Koran
Gondrong-nya Mbak Asma diperankan antara lain oleh Ali Zainal. Protes
banget deh sama endingnya, sebab Ali tidak dicukur pendek seperti
dalam cerpen. Dia masih gondrong dan menagih janji keluarganya untuk
membantu biaya pengobatan Udin si bocah penjual koran. Nggak total
banget deh..

Sore ini, saya melihat iklan tayangan Bioskop Indonesia di Trans TV.
Ada beberapa pelajar SMA, menyebut-nyebut nama Rangga. Ah, jelaslah
ini bukan AADC, apalagi ketika ada potongan dialog, "Upit nggak mau
Papa cerai!" Lho, itu kan Upit Kejepit?

Terlepas dari ketidakkeberatan Tria Barmawi sebagai penulis, yang
belum saya ketahui sampai sekarang, rasanya sayang aja melihat
peristiwa ini. Upit Kejepit adalah satu dari sedikit novel remaja yang
saya baca dan sukai sehingga saya rekomendasikan pada si Tengah.
Lagipula pemeran utamanya Sheila Marcia, duuh..jauh banget dari
bayangan saya. Hiks..


Blog EntryNaked Face dan Berita KriminalJul 17, '08 8:17 AM
for everyone
Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menonton siaran berita
kriminal. Karena memang kurang suka nonton TV, berita yang disantap
amat terseleksi. Tayangan kriminal termasuk yang dihindari karena
bikin paranoid, baik berada di rumah maupun bepergian (jadi mau ke
mana, dong?:p).

Untuk membunuh kejenuhan di sela mendampingi keponakan bikin skripsi
(baca: biar dia nggak ngegame melulu), saya membaca The Naked Face.
Nyambung juga, karena ada psikoanalisisnya..hehehe, maksa. TV cukup
sering menyala, sehingga tidak jarang pindah saluran ke berita yang
isinya lagi-lagi kriminal.

Entah ada hubungannya atau tidak, selagi membaca novel ini, saya
relatif 'terbiasa' menyimak berita tindak kejahatan. Pembunuhan
seorang wanita muda di kamar kos, misalnya, yang beruntun dengan
tewasnya seorang lelaki tanpa identitas akibat jeratan di leher.
Keduanya diberitakan beruntun sehingga saya berpikir, "Wah, ini bisa
jadi novel thriller yang seru."

Sinkron atau tidak, keseringan nonton TV tidak sehat. Mesti dihentikan
segera. Kebanyakan perbuatan yang percuma, contohnya waktu nonton
pledoi Arthalyta malah terdorong mengomentari make-up tebalnya. Duh,
buang-buang listrik aja.


LinkUlasan Mbak Leila Tentang Happy-Go-LuckyJul 16, '08 10:43 PM
for everyone
Link: http://niwanda.multiply.com/journal/item/304/Bacaan_Juni_2008

..dan beberapa bacaan lainnya. Matur nuwun, Mbak Lei:)

Blog EntryBelanja Buku di Reading LightsJul 10, '08 10:36 PM
for everyone
Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini.
Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King
selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel.
Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri.

Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The Naked
Face-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi
setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi
terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung
dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget.  Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli
terjemahannya, dompet bisa nangis.

Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of Two
Cities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik,
keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu
atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-)

Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya.
Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya
bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa
Prancis!
Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-)


Blog EntryBuku Baru, Hangat-hangat SegarJul 8, '08 2:33 AM
for everyone
Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC
Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau
buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh
beliau.

Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi
tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak
kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng..Misteri Hilangnya Novelis
Terkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p

Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok
nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo
hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik

Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen.

sumber foto: blognya Ichen


Blog EntryMalam Pemburuan, Novel Remaja Islami EditankuJul 5, '08 8:19 AM
for everyone
..sudah terbit. Alhamdulillah, hari ini kiriman jatah penyunting dari
Pustaka Insan Madani sudah saya terima.
Novel ini dihiasi ilustrasi hitam-putih di setiap babnya. Berikut
sinopsis kaver belakang:

Sejak kecil, Handoyo harus mengenyam kepahitan hidup. Ibunya
meninggal, ayahnya larut dalam duka berkepanjangan, sehingga ia harus
putus sekolah dan menjadi orangtua untuk adik-adiknya yang masih
membutuhkan kasih sayang. Penderitaan masih mengoyaknya kala sang ayah
menikah lagi dan membuang mereka bertiga ke dalam hutan.

Kehadiran seorang lelaki budiman yang berteman dengan harimau membalut
luka batin Handoyo, Sekar dan Ningsih. Tetapi kebahagiaan mereka
berakhir karena orang tua angkatnya itu menghembuskan nafas di tangan
para pemburu yang ingin merusak hutan. Sanggupkah Handoyo meraih
kembali masa depannya sekaligus memperjuangkan kelestarian alam dari
orang-orang serakah?

Malam Pemburuan ditulis oleh Varuni Dian W., salah satu juara lomba
menulis cerita Departemen Agama.
Kisah di balik dapur penyuntingan menyusul.


sumber:
http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=123


PT ROHTO-MENTHOLATUM
Kembali menyelenggarakan
LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008)
Memperebutkan
LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Berhadiah Total Rp 80 Juta 
• Peserta: Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum 
 
Kategori Lomba
Lomba terdiri dari (tiga) kategori peserta. Kategori
A, Peserta Pelajar
 SLTP, Kategori B, Peserta Pelajar SLTA. Kategori C,
Peserta
 Mahasiswa/Umum 
 
Syarat-syarat Lomba
1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP, SLTA dan
Mahasiswa/Umum dari
 seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di
luar negeri. Kecuali,
 karyawan PT ROHTO Lab. Indonesia/agennya dan Panitia
Pelaksana
2. Lomba dibuka tanggal 1 Juli 2008 dan ditutup
tanggal 10 Oktober 2008
 (Stempel Pos)
3. Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta
aneka rona
 kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan,
kegagalan, cita-cita,
 penderitaan maupun kekecewaan 
4. Judul bebas tetapi harus mengacu pada tema Butir 3
5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu
judul
6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik,
benar, indah
 (literer) dan komunikatif
7. Naskah harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah
dipublikasikan
 serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba serupa
yang bukan
 diselenggarakan oleh PT ROHTO
8. Ketentuan naskah:
a. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik
berjarak 1,5
 spasi, format 12 point, font Times New Roman, margin
kiri-kanan rata
 (Justified) 
b. Panjang naskah minimal 6 (enam) halaman, maksimal
10 (sepuluh)
 halaman
c. Naskah yang dikirimkan ke Panitia LMCR-2008 dalam
bentuk print-out 3
 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD 
d. Naskah disertai ringkasan cerita (synopsis),
biodata singkat
 pengarang, foto pose bebas ukuran 4R dan fotocopy
identitas pengarang (pilih
 satu: KTP/Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa, SIM
atau Paspor yang masih
 berlaku
e. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri
1(satu) kemasan
 LIP ICE jenis apa saja atau seal/segel pengaman
SELSUN GOLD FOR
 TEENS/SENSUN BLUE 5
f. Naskah yang dilombakan beserta persyaratannya
dimasukkan ke dalam
 amplop tertutup (dilem), cantumkan tulisan PESERTA
LMCR-2008 dan
 Kategorinya 
g. Naskah dan persyaratan (Butir f) dikirim ke alamat
Panitia LMCR-2008
 LIP ICE- SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar
No.25 Bukit Golf
 Hijau, Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat
h. Hasil lomba diumumkan 10 November 2008 melalui
Tabloid Rayakultura
 Edisi November 2008, www.rayakultura.net dan
www.rohto.co.id atau hub HP
 08158118140
9. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
10. Naskah yang dilombaklan jadi milik PT ROHTO, hak
cipta milik
 pengarangnya 
 
Hasil Lomba
Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5
(lima) Pemenang
 Harapan Utama serta 10 (Sepuluh) Pemenang Harapan 
 
Hadiah Untuk Pemenang
- Kategori A: SLTP
• Pemenang I: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP
ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
 Pemenang II: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP
ICE-SELSUN;
 Pemenang III: Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP
ICE-SELSUN. Selanjutnya,
 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, masing-masing
mendapat Uang Tunai Rp
 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Untuk 10
(sepuluh) Pemenang Harapan
 masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan
Bingkisan dari PT
 ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1
(satu) Buku Kumpulan
 Cerpen Pemenang LMCR-2007
Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III
masing-masing memperoleh
 hadiah sebuah televisi 
 
- Kategori B:SLTA
• Pemenang I: Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP
ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
 Pemenang II: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP
ICE-SELSUN;
 Pemenang III: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP
ICE-SELSUN. Hadiah untuk
 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing
mendapat Uang Tunai Rp
 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 10
(sepuluh) Pemenang Harapan
 masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan
Bingkisan dari PT
 ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1
(satu) Buku Kumpulan Cerpen
 Pemenang LMCR-2007
Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III
masing-masing memperoleh
 hadiah sebuah televisi 
 
- Kategori C:Mahasiswa, Guru dan Umum
• Pemenang I: Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP
ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
 Pemenang II: Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP
ICE-SELSUN;
 Pemenang III: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP
ICE SELSUN. Bagi 5 (lima)
 Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang
Tunai Rp
 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Pemenang Harapan
10 pemenang, masing-masing
 mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN + Bingkisan dari PT
ROHTO. Seluruh
 Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku
Kumpulan Cerpen Pemenang
 LMCR-2007 
 
Catatan:
Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO
Laboratories
 Indonesia 
 
Ketua Panitia LMCR-2008
Dra. Naning Pranoto, MA 



Blog EntryKutipan Novel: NectarJun 28, '08 8:01 AM
for everyone
'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'

(halaman 259)

Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini



Blog EntryTergoda NectarJun 26, '08 8:09 AM
for everyone
(Lirik-lirik Nad, ehm..)

Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel
berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus
perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak
diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya.
Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.

Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona.
Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di
sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di
ulasannya nanti:)

Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli
novel ini.

sumber foto: amazon


Blog EntryTalisman Telah DatangJun 23, '08 2:28 AM
for everyone
"Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari
kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa
pengirimnya.

Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih
sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka
dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti.
Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh
nuansanya..hehehe..

Tengkyu, bukumurmer.


Blog EntryHappy-Go-Lucky di Tisera Jatinangor Town SquareJun 20, '08 8:50 AM
for everyone
Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu
Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera.
Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.

Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain.


Blog Entry7570 Kata!May 19, '08 7:33 AM
for everyone

Kabar naskah teenlit saya hari ini: sudah mencapai 7570 kata (nggak
mau ngitung halaman lagi, supaya kenikmatannya tak terganggu).
Hopla! Hopla!

Cerita berbelok lumayan jauh dari outline. Muncul karakter baru, dan
konflik berubah drastis. Lumrah, sih..sekarang saya hendak merenung
dulu untuk melanjutkan bab kelima.

sumber: sxc.hu


Blog EntryDua Cerita Tarik MenarikMay 17, '08 3:15 AM
for everyone
Seminggu lebih saya memikirkan dua ide yang hendak dituangkan ke dalam naskah novel. Keduanya sudah dijadikan outline. Payahnya, mereka seperti berantem di otak saya ingin dikembangkan lebih dahulu.

Setelah lama gebuk-gebukan, saya berpikir untuk mengkombinasi keduanya. Tapi sangat tidak nyambung dan sama-sama bercabang banyak. Bisa-bisa naskahnya nggak pernah selesai, sedangkan waktu berjalan terus.

Maka saya tuliskan yang satu. Sudah sampai halaman ke-16. Enak deh, nggak pake itung halaman melulu. Hanya siang ini terinterupsi suatu kejadian tak menyenangkan yang mengubah mood seketika jadi sedih. Kabur dulu, aaah..

Blog EntryMenikmati Novel Anak LagiMay 13, '08 5:47 AM
for everyone
Insomnia saya masih berlanjut. Tadi malam, saya terjaga dari jam dua
belas sampai sekitar setengah tiga pagi. Sambil mengisi perut yang
mendadak kruyukan, saya membaca sebuah novel anak koleksi masa SD.
'Liburan di Peternakan Cherry' karya Enid Blyton, terbitan 1986.

Nggak pernah bosan menyimak uraian Tammylan mengenai kehidupan satwa
di alam terbuka. Cara-caranya menyesuaikan diri dengan flora dan
fauna. Pengetahuannya yang luas perihal aneka hewan. Dan yang selalu
saya ingat, gerakan dan suara sangat perlahan agar binatang-binatang
tidak kaget.

Wilayah kediaman kami tergolong sunyi sepi. Para ibu dan ayah rajin
mendiamkan anak mereka bila sedang rewel. Apakah karena itu
para belalang, capung, lintah, congcorang, rama-rama, kepik, kumbang,
ulat bulu, tikus, merpati, burung hantu, kaki seribu, tonggeret, dan
kawanannya betah berada di sekeliling rumah? Dalam novel ini,
diterangkan juga soal penglihatan dan pendengaran yang tajam jika
terbiasa berinteraksi dengan hewan. Apakah karena itu jugakah saya
mudah mendapati seekor ulat bulu yang hitam legam di atas karpet biru
gelap kami di ruang tengah sebelum terinjak?

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryMulai Baca dan Nulis LagiMay 12, '08 7:37 PM
for everyone
Saya memutuskan untuk menjemput pulang beberapa buku anak yang tadinya
hendak diwariskan kepada si Tengah dan si Bungsu. Mereka tak pernah
menyentuhnya lantaran, mungkin, sudah terlalu besar dan beralih minat.
Mengamati rak buku si Tengah yang nano-nano, saya tersenyum juga. Ada
Philophobia-nya Tessa Intanya, beberapa novel Sitta Karina, Zauri,
Upit Kejepit, buku nama bayi saya, Pacarku Tulalit, Dan Hujan Pun
Berhenti, Kambing Jantan, Fairish, Chicken Soup for the Teenagers
Soul, buku Dale Carnegie untuk remaja, Query Pita, Ayat-ayat Cinta,
berbaur dengan buku agama dan buku pendukung pelajaran yang bersampul warna-warni.

Sampai rumah, saya bernostalgia dengan Tamasya Panci Ajaib karangan
Edith Unnerstad. Lumayan, memanaskan otak yang sempat mogok diajak
baca kemarin-marin. Minggu malam saya bahkan menuntaskan baca
Interlude-Jeda. Sebuah pertanda baik.

Saat meneruskan tulisan fiksi yang baru 6 halaman, saya terpaku
sejenak. Ketahuanlah sebab kelambatan prosesnya. Saya asyik
mengutak-atik tema besar yang memang banyak cabang untuk dikembangkan.
Seperti biasa, tak ada ide untuk sub plot. Semua konflik mengacu ke
pokok masalah itu. Kali ini saya tak mau mempermasalahkannya. Ada
beberapa novel, yang penulisnya saya kagumi, tetap menarik meski fokus
dari awal sampai akhir. Tak menjemukan. Jadi pede aja, deh.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryLangsung dari PenulisnyaMay 8, '08 8:30 PM
for everyone
Sudah sepekan lalu saya menerima kabar bahwa sebuah paket buku
dititipkan melalui sebuah alamat. Karena masih berjibaku dengan PR ini
dan itu, baru sempat diambil kemarin. Aih senangnya, dua novel
retelling cerita rakyat klasik karya Femmy Syahrani. Genre yang sangat
saya sukai, apalagi dari Jawa Barat. Biar bersaing deh dengan
buku-buku Jawa Tengah (dan Timur) di rak buku (melirik Mas Agus:p).

Sangkuriang saya baca duluan, karena legendanya berkaitan dengan
gunung tempat kami bermukim ini. Tamat dalam satu jam!

Merci beaucoup, Fem. Tepat datangnya, saat saya lagi beteeeee pisan.



Blog EntryTentang Menulis Fiksi dan Non FiksiApr 25, '08 10:01 PM
for everyone
Posting ini untuk memenuhi janji saya kepada Ima.

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, saya tidak langsung memilih
genre. Prosesnya mengalir begitu saja, sampai saya menyadari bahwa
karya yang berjenis non fiksi lebih banyak daripada yang fiksi.
Bukan berarti saya tidak suka fiksi. Bacaan pertama saya sewaktu kecil
adalah fiksi. Tulisan pertama yang diterbitkan di media pun berupa
cerpen.

Kalau mau dirunut, mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang.
Sewaktu kuliah, saya mengambil spesialisasi linguistik dan lebih
sering berkutat dengan buku teks yang berbau teori dibandingkan roman,
drama dan puisi. Pekerjaan terakhir (baca: di kantoran) yang
berhubungan dengan menulis ialah mengisi content situs web.

Tetapi ketertarikan untuk berfiksi-ria tetap tumbuh, walau tidak
berbanding lurus dengan rasa percaya diri akibat kurangnya berlatih.
Saya memulai dengan cerpen anak dan naskah komik. Yang kedua ini
dengan pertimbangan punya sedikit bekal dari perkuliahan dulu. Cerpen
anak tak berarti mudah, tetapi sifatnya yang serba singkat
memungkinkan saya untuk belajar lebih giat lagi dalam waktu dan
referensi yang masih terbatas. Kepercayaan diri meningkat saat tujuh
cerpen saya terpilih untuk dibukukan bersama penulis-penulis lain
(ingat kejadian ini, Donna dan Isman?).

Setelah menerbitkan empat buku non fiksi karya bersama dan satu buku
solo, barulah saya menulis novel secara serius. Itupun karena
ditawari. Naskah novel saya itu pun masih kental rasa non fiksinya,
dengan narasi panjang dan sedikit dialog.

Perlu saya sampaikan bahwa tahap-tahap ini bersifat kasuistis. Banyak
penulis lain yang mahir dalam fiksi dan lincah pula di non fiksi. Saya
juga sempat mengenal bentuk non fiksi yang lebih cair, dengan selipan
dialog dan bahasa yang terkesan seperti bercerita. Keasyikan
mempelajari non fiksi gaya baru ini tidak menyurutkan rasa suka saya
pada fiksi, meski untuk nyemplung total di sana saya memerlukan usaha
ekstra.

Jadi yang saya lakukan sejauh ini hanyalah mengikuti kata hati dan
'sang pena' (lebih tepatnya, sang jari di keyboard). Tak jarang
niatnya menulis fiksi, lho..lama-lama kok jadi lebih cocok ke non
fiksi. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah, saya masih merengkuh
cerita anak sebagai wilayah fiksi terdekat untuk menuangkan ide-ide.
Menyuburkan perfiksian di pulau gagasan dalam benak saya dengan banyak
membaca. Yang paling penting, saya tak mau memaksakan diri. Non fiksi
pun tak semuanya saya kuasai.

Semoga jurnal ini bermanfaat.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryTertawa Bersama Sang PenulisApr 22, '08 8:29 PM
for everyone
Baru-baru ini saya merevisi terjemahan cerita anak berdasarkan hasil
koreksi naskah asli dari editor penerbitannya. Memang ada beberapa
catatan yang saya sampaikan ketika mengirimkan terjemahan pertama
kalinya.

Merujuk koreksian editor itu, saya mencek kembali kalau-kalau
terjemahan tempo hari perlu disesuaikan. Untuk itu, saya berkomunikasi
dengan penulis naskahnya. Ini kesempatan yang jarang sekali. Alhamdulillah
saya mengenal cukup baik penulis cerita yang saya terjemahkan itu
sehingga bertanya-tanya pun lebih mudah.

Misalnya ketika tokoh dalam sebuah cerpen diubah menjadi anak
laki-laki. Saya mendapati kalimat yang janggal, anak tersebut
mengipas-ngipaskan tangan karena kepanasan. Lewat telepon, saya
berkata pada sang penulis, "Kayaknya anak cowok nggak pernah
kipas-kipas deh." Ia tertawa dan langsung mengubahnya menjadi
'mengelap keringatnya'.

Tidak semua penulis dapat dihubungi, tetapi perubahan yang dilakukan
editor relatif tidak banyak. Cerpen saya sendiri mengalami
penyederhanaan kata pada suatu paragraf. Satu lagi ilmu baru.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryLagi-lagi Buku BaruMar 28, '08 8:41 AM
for everyone
Masih hangat dari Tasik. Dua teenlit hasil nitip Kang Iwok di Gramedia
kota santri yang sedang menggelar diskon menggiurkan. Satu lagi, tak
lain dan tidak bukan, Suster Nengok dengan tandatangan penulisnya
sendiri.

Hatur nuhun, Kang. Juga Mas Agus yang menyempatkan diri ke tempat Kang
Iwok training di sela-sela kesibukannya nguriling Bandung. Ternyata
Mas Agus bukan sosok asing, ya..hehehe..


LinkCandide by Voltaire - Free eBookMar 25, '08 5:53 PM
for everyone

Pages:1234567
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help