Rini's posts with tag: film
| Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Tak sempat ke bioskop (dan emang nggak suka sih, pada dasarnya), ternyata bulan lalu DVD originalnya sudah nangkring di sebuah mini market dekat rumah kakakku. Tema yang diusung adalah pernikahan alias mencari jodoh. Mungkin terdengar klise dan tradisional, seorang anak ingin membahagiakan ibunya yang shock karena kepikiran masa depan anak perempuan satu-satunya. Saya lebih bisa nerima kata-kata si ibu bahwa dia ingin tenang jika anaknya ada yang bertanggungjawab (suaminya gitu..).
Cukup segar, sih. Tapi dibanding karya-karya Pak Musfar yang lain, saya nggak terlalu puas. Akhir ceritanya sudah ditebak, meski mungkin akan mengecewakan jika Nirina menikah dengan Agus Ringgo. Tapi terlalu banyak kata makian kasar di sepanjang film. Okelah, itu potret pergaulan jaman sekarang. Tapi nggak usah pake binatang, gitu lho..maunya saya..
Kemudian yang bikin rada bete, tawuran yang begitu bombastis. Dialog-dialognya sih lumayan untuk mikir, dan perjalanan mencari rumah dukun juga cukup lucu.
 Saya tidak hendak mengomentari atau menyatakan kepuasan terhadap novel-novel yang difilmkan atau sebaliknya. Ini sekadar aktivitas berangan-angan yang muncul begitu saja ketika sedang menonton film atau membaca sebuah buku.
Buku-buku yang menurut saya bagus untuk difilmkan:
1. Confession of A Shopaholic. Pilihan aktornya suka-suka banget, nih: Renee Zellwegger sebagai Becky, Colin Firth sebagai Luke, Julia Stiles sebagai Suze, Claire Danes sebagai Alicia.
2. Parijs Van Java-nya Remy Sylado. Tapi soal pemain, saya nggak komen deh.
3. The Professor and the Madman. Kalo boleh nawar sih, profesornya Denzel Washington:p
4. The Stars Shine Down. Catherine Zeta-Jones memerankan Lara, Hugh Jackman menjadi Philip Adler, Robert de Niro sebagai Paul Martin.
5. Samurai. Pokoknya Ken Watanabe jadi Genji. Lainnya terserah, hehehe..
Film yang asyik untuk dibukukan:
1. A Moment to Remember. Dapet nggak tuh karakter si suami baik hati?
2. Hide and Seek.
3. John Q.
4. Michael.
5. Something's Gotta Give.
sumber foto: sxc.hu 
 '..kebanyakan orang berpikir bahwa karena mereka telah dilatih untuk mengarang dalam pelajaran bahasa ketika mereka bersekolah dahulu, yang mereka perlukan hanyalah mendapatkan sebuah program perangkat lunak tentang menulis naskah, mencari bahan sumber yang sedang digandrungi sudah sampai pada halaman ke-120, naskah tersebut diklip, dilempar ke pasaran, dan JREEENG! Turunlah sebuah cek bernilai jutaan rupiah.' (halaman 1)
'Tentu, ada saja pribadi-pribadi khusus yang mampu menjual naskah pertama mereka dengan harga selangit, tetapi bicaralah dengan kebanyakan penulis naskah di lapangan dan mereka akan mendendangkan lagu yang sama, "Menulis adalah pekerjaan berat. Menghasilkan sebuah karya yang bagus jauh lebih berat lagi, dan keterampilan menulis skenario bisa jadi merupakan pekerjaan yang paling berat dari ketiga kegiatan tersebut. Biasanya dibutuhkan banyak draf dan sepuluh atau dua puluh naskah jadi sebelum sebuah naskah bisa dijual.." (halaman 2)

 ..semua 'gara-gara' Stephen King. Saya melonjak senang ketika mengetahui bahwa minggu ini adalah pekan film Stephen King di Trans 7.
Selasa nonton Secret Window, nggak utuh karena sudah pernah. tapi pas di bagian pembantaian pengacara dan tetangga si penulis. Malam harinya, saya mimpi buruk dan teriak-teriak sampai dibangunkan Mas Agus.
Rabu nonton Cat's Eye. Idenya sih unik, yaitu terapi stop merokok ala mafia (dasar SK, kepikir aja..) tapi terapisnya mafia dan orang sakit. Kalo si pasien gagal, jari tangan istrinya akan dipotong. Setengah jam teror mengerikan yang ada di layar kaca. Malamnya, saya mimpi lebih buruk lagi. Jejeritannya nggak sampai bangunin Mas Agus, tapi saya bangun sendiri dan mendapati wajah sudah basah airmata.
Kemarin malam, habis Maghrib Mas Agus ketemu klien. Nggak jauh dari sini, tapi tetep aja merinding. Inget Needful Things yang ditayangkan, tapi nggak berani nonton. Mana siangnya baca Hostage, yang ternyata mengandung bagian-bagian penuh darah. Menyibukkan diri aja deh. 
 "Many of our customs seem strange to you. And the same is true of yours. For example, not to introduce yourself is considered extremely rude, even among enemies."
Emperor Meiji: "Tell me how he died." Algren: "I will tell you how he lived."
"My ancestors have ruled Japan for 2,000 years. And for all that time we have slept. During my sleep I have dreamed. I dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern... And now we are awake. We have railroads and cannon and Western clothing. But we cannot forget who we are. Or where we come from."
Katsumoto: "You have nightmares?" Algren: "Every soldier has nightmares." Katsumoto: "Only one who is ashamed of what he has done."
Katsumoto: "You believe a man can change his destiny?" Algren: "I think a man does what he can, until his destiny is revealed."

Victims — aren't we all...
He was already dead. He died a year ago, the moment he touched her. They're all dead. They just don't know it yet.
If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn. People die. But real love is forever.
Albrecht: Police! Don't move - I said don't move! Eric: I thought the police always said 'Freeze'. Albrecht: Well I am the police and I say 'don't move' Snow White — you move, you're dead. Eric: And I say I'm dead — and I move...
  
  | Heart | Dec 31, '06 10:48 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Mengapa film ini menjadi box office? Demikian tanya saya dalam hati ketika berkesempatan menyaksikannya di RCTI semalam. Nirina memang pantas mendapat piala Citra, tetapi selebihnya hati saya terus dipenuhi pertanyaan. Nuansa Korea kental sekali, khususnya pada gambar-gambar indah (mungkin biar romantis banget ya) dan pengantar kisah berupa cerita masa kecil Rachel dan Farrel. Saya hanya merasa ikut sedih ketika Farrel membaca surat Rachel di depan makamnya. Itupun tidak lama karena pertanyaan yang sudah panjang kian berkecamuk. Farrel kuliah di mana? Mengapa Rachel tidak tampak punya kegiatan selain basket dan mencuci mobil? Kapan dia kuliah? Oke, Luna menyendiri karena butuh inspirasi menulis komik. Tapi mengapa tidak ada yang menemaninya? Bukankah dia sedang sakit? Mengapa Farrel dan Rachel tinggal sendirian juga? Memang ibu Rachel muncul di rumah sakit. Tapi ke mana dia selama ini? Dan apakah kegiatan menulis komik itu seperti yang ditunjukkan Luna melalui lukisan-lukisannya? Selain ekspresi wajah ibu Rachel yang datar, saya juga terganggu oleh adegan Luna melukis berulang kali. Saya memang sedikit terpengaruh oleh banyak bocoran, termasuk ulasan sinemaindonesia.com. Tapi saya juga tak habis pikir soal adegan Rachel mengejar-ngejar mobil Farrel dan Luna sampai berlari naik turun di kebun teh. Bagian Rachel menusuk bola basket sebelum melemparkannya pada sekumpulan anak muda (bule?) yang main di dekatnya juga bisa dihilangkan. Saya dibuat bosan oleh ucapan berkali-kali Farrel tentang, “peri yang beterbangan dengan sayap bercahaya,” serta Luna yang bilang, “semoga tumbuhan ini akan berbunga dengan indahnya.” Okelah. Barangkali saya memang bukan tipe romantis. Barangkali yang romantis itu memang tidak pernah masuk akal. Pertanyaan lain: bagaimana cara Rachel mendonorkan hati untuk Luna? Apakah ia sengaja tidak makan selama di rumah sakit hingga kemudian meninggal dunia? BTW, suara Nirina cukup bagus. Saya lebih suka daripada vokal Acha.

 Minggu yang lalu menemukan DVDnya di meja belajar si Sulung. Tadinya saya pikir film horor biasa. Tapi membaca sinopsisnya, saya sangat tertarik. Karena kesamaan frekuensi, hantu-hantu bisa menerobos ke alam manusia melalui koneksi internet dan teknologi jaringan komputer. Wah, menarik itu..karena saya juga pernah terpikir hal semacam itu (iseng aja terbersit). "Wah, ini jenis film yang aku suka Kak," saya bilang pada si Sulung setelah kecewa karena DVD ini dan juga Dejavu-nya Denzel Washington masih cekak kualitas suara dan gambarnya. Keponakan saya yang tengah membersihkan kamarnya pasca ulangan umum nyengir. "Aku tahu. Karena berbau IT, kan?" Tepat sekali. Dari film, saya kerap mendapat pembelajaran baru untuk menulis.
sumber foto: wikipedia

Tepatnya melengkapi. Semalam Haniya Press SMS lagi, minta naskah saya
ditambah dengan suatu bahan yang sedang naik daun topiknya saat ini.
Haduuuuh puyeng..mulai browsing deh, karena teman tidak ada yang bisa
jadi narasumber (untuk saat ini). Tapi harus diupayakan secepatnya.
Harus, harus.
Untuk jeda, saya nonton Along Came Polly
sama suami di Trans semalam. Lumayan sih, walaupun banyak jijiknya
seperti dugaan saya pada umumnya film komedi Amerika..ada pesan
tersirat yang cukup bagus dan inspiratif. Jadi ingat pada sebuah
gagasan yang ingin saya tulis.
 Mendengar bahwa aktor terbaik FFAP berasal dari Korea saja, motivasi saya menulis buku terbaru yang digarap sejak dua pekan lalu meningkat dalam sekejap mata. Apalagi setelah mengetahui bahwa aktris terbaiknya Son Ye-jin, si cantik melankolis di Autumn of My Heart (juga dikenal dengan Summer Scent). Wah, saya merasa wajib menonton DVD A Moment to Remember dan The Art of Seduction yang selama ini menanti giliran di meja kerja. Tak diragukan lagi, kontribusinya akan sangat besar. Lebih-lebih, amat erat kaitannya dengan tema buku yang saya tulis. Apalagi ditambah mendung pagi ini yang menjadikan hawa kembali sejuk setelah beberapa minggu mencapai 35 derajat. InsyaAllah bisa (dan harus) konsen, soalnya nanti malam sudah dijadwalkan nonton "Bandits"-nya Bruce Willis:) Semangat..semangat..chayyyoooo!

Berkali-kali lihat iklan episode terbaru Dunia Tanpa Koma, tertarik banget untuk nonton malam ini. Pengen liat Christian Sugiono jadi antagonis (daripada lihat dia jadi guru BP di sinetron niru-niru Korea itu, bah!). Tapi..aduh, ternyata tayangnya bentrok dengan The Score. Robert de Niro lagi.. akh, harus nonton pokoknya. Gimanapun caranya. Siapa tahu berbuah inspirasi dari skenario-nya Leila S. Chudori yang keren ini.
   | Madeline | Aug 19, '06 8:37 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
sumber foto: http://www.imdb.com/title/tt0123987/ Film ini saya tonton maraton setelah Big di Trans TV kemarin. Awalnya saya kira kartun, ternyata diangkat dari novel anak-anak. Lokasinya di Paris, namun tampaknya anak-anak yang bersekolah di asrama (sekaligus rumah) Lord Covington berasal dari luar Prancis. Madeline ialah nama salah satu dari 12 murid, yang kebetulan yatim piatu. Hubungan ke-12 gadis cilik ini sangat erat dengan guru mereka, Bu Clavel (Frances McDormand). Geli juga melihat suster satu ini sebentar-sebentar berkata, “Something is not right.” Dugaan saya meleset, Bu Clavel sama sekali tidak bertangan besi. Bahkan ia melindungi Genevieve, anjing piaraan para murid yang telah menyelamatkan Madeline di sungai meski harus bersin-bersin. Pembuat film dan penulis novel Madeline ini benar-benar memperhatikan dampak karya mereka pada pemirsa anak. Nyaris tidak ada kekerasan, walau adegan kaburnya Madeline dan Pepito (anak duta besar Spanyol yang semula dimusuhinya) menjadi garing. Dugaan saya yang lain bahwa ayah Pepito-lah yang membujuk Lord Covington agar mempertahankan gedung sekolah dengan alasan berhutang budi pada Madeline juga meleset jauh sekali. Film yang sangat menarik.
    | Big | Aug 19, '06 8:21 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Ini kali kedua saya nonton, tapi melengkapi potongan dari tayangan sebelumnya yaitu bagian awal dan akhir. Nggak nyangka Tom Hanks bisa main komedi yang jorseu (jorok sekali) gini. Adegan yang paling saya sukai adalah saat Josh Baskin bermain piano raksasa dengan kakinya bersama direktur perusahaan mainan, yang menghasilkan kedudukan Wakil Presiden bagian pengembangan pada minggu berikutnya. Sumber foto: image.amazon.com

| |