Rini's posts with tag: filmoterapi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag filmoterapi
Blog EntryMata Pedih dan PegalJul 9, '08 11:31 PM
for everyone
..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras
kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi
residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada
penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.

Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh
dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar
segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang
mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel
pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!

Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton
Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan
latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya
membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di
rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak
perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya
menjelaskan.

Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku,
tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook
begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun
lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p


ReviewReviewReviewReviewWaterworldJun 21, '08 11:34 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Selain Dances With Wolves, inilah film Kevin Costner yang saya sukai karena karakternya unik dan tidak menebar pesona sebagai pria yang menjerat lawan jenis di mana-mana.
Sudah berulang kali ditayangkan di TV, saya nonton sampai tamat baru dua hari lalu di Trans. Imajinasinya tentang dunia yang terendam banjir raksasa sudah hebat. Belum lagi aneka properti dan makhluk mutan berinsang yang sampai ujung film tidak jelas kenapa (mungkin korban teknologi dan ulah manusia yang kacau?)

Suka banget sama Enola si kecil yang suka gambar dan polos. Dari keseluruhan, ada dialog yang paling mengesankan ketika si pelaut dikatai Enola karena tak banyak bicara.

"Kamu pernah dengar suara dunia? Tentu saja tidak, karena kamu terlalu berisik dan selalu banyak bergerak."

sumber foto: wikipedia


Blog EntryMenonton Ulang 'Never Talk to Strangers'Feb 28, '08 9:40 PM
for everyone
Berhubung film ini adalah produksi 13 tahun silam, nggak apa-apa ya
saya kasih bocoran:-)

Saya nonton NTtS di bioskop Jatinangor bersama Mas Agus dan dua orang
teman kos. Waktu itu sangat ramai sehingga nontonnya nggak konsen
(makanya saya nggak suka ke bioskop) dan saya merasa perlu mengetahui
bagian-bagian yang kurang jelas ketika film ini ditayangkan Trans7
semalam. Lagipula genrenya thriller psikologi, favorit saya dan dapat
dijadikan referensi untuk menulis cerita sejenis suatu hari kelak.

NTts dibuka dengan adegan Dr. Sarah Allison Taylor (Rebecca de Mornay)
mewawancarai seorang tahanan yang melakukan pemerkosaan. Sarah adalah
psikolog yang bertugas menilai apakah sang napi layak disidang atau
tidak sebab menurut pengakuannya kepada pengacara, ia mengidap
kepribadian ganda dan tidak menyadari perbuatannya ketika kepribadian
lain (biasa disebut alter) beraksi. Sarah kemudian berkenalan dengan
sorang pria bernama Tony Ramirez (Antonio Banderas) saat sedang
berbelanja. Tony mengaku mantan polisi dan konsultan keamanan yang
baru saja pindah dari Puerto Rico. Ia langsung mendekati Sarah dan
mengajaknya berkunjung ke apartemennya. Setelah mereka menjalin
hubungan, tiba-tiba Sarah mendapat kiriman misterius. Bunga kematian
(kemungkinan lili), disusul mayat kucingnya yang telah dimutilasi.

Salah satu kelebihan film ini ialah permainan judulnya yang
'mengecoh'. 'Stranger' ditujukan kepada Tony, yang pada suatu adegan
mengaduk-aduk isi tas Sarah. Penonton digiring untuk mencurigainya,
terlebih detektif swasta yang disewa Sarah mendapati bahwa Tony
menemui seorang wanita dan anak kecil di New York setelah sebelumnya
pergi ke Albany. Padahal ia mengaku pergi ke Boston. Albany adalah
tempat asal Sarah. Kemudian sang psikolog menemukan berbagai data
dirinya, termasuk foto, di salah satu laci apartemen Tony. Serta-merta
ia menuduh sang kekasih telah mengintainya, memasuki apartemennya dan
menghajar tetangganya, Cliff, sampai masuk rumah sakit.

Aroma keganjilan sudah terlihat ketika Sarah ketakutan dihampiri
ayahnya, Henry. Botol anggur yang dibawanya sampai jatuh dan ia terus
memperhatikan langkah kaki Henry yang bersepatu. Lalu sang ayah
mengambil fotonya sewaktu kanak-kanak dan berkata, "Kau gadis kecil yang
cantik." Tatkala berada di pasar malam untuk menembak badut mainan,
Sarah pingsan membayangkan ibunya jatuh dari tangga. Ia mengaku takut
pada senjata.

Potongan teka-teki itu makin mudah dipahami bila kita sudah membaca
novel Sidney Sheldon, Ceritakan Mimpi-mimpimu. Klimaksnya, Tony
memperlihatkan rekaman kamera bahwa pelaku yang sesungguhnya adalah
Sarah sendiri. Tepatnya, kepribadian sang psikolog yang lain.
Terungkaplah rahasia masa lalu Sarah, yang menimbulkan tanda tanya
pada artikel koran temuan Tony: Mother Killed in Gun Accident.

Sarah cilik shock luar biasa menyaksikan ibunya didorong dari tangga
oleh sang ayah. Henry menggenggamkan pistol ke tangannya dan
menembakkan ke arah sang ibu yang tengah pingsan. Mereka berdua tengah
bertengkar hebat karena ibu Sarah mengetahui bahwa suaminya melakukan
perundungan seksual kepada putri tunggal mereka. Karena itulah,
Sarah dibesarkan oleh bibinya dan tidak diperkenankan bertemu dengan
Henry. Mirip kisah malang Ashley yang diperkosa ayah kandungnya.
Bedanya, ibu Ashley tidak mempercayainya sehingga ia bahkan membenci
anak perempuannya dan dibiarkan mati dalam kecelakaan mobil. Ashley
berumur 8 tahun, sedangkan usia Sarah tiga tahun lebih muda.

Penderitaan itu membelah jiwa Sarah, yang kemudian mendendam pada
semua pria. Ia membunuh Benny, sepupu Tony. Di awal film, dikisahkan
bahwa Benny pergi begitu saja dua tahun sebelumnya. Karena ia
menghilang, Tony memutuskan menyelidiki Sarah. Ucapan "Trust me"
justru mengingatkan psikolog tersebut pada kata-kata ayahnya dahulu
dan meletuskan pistol. Kembali, Henry mengatakan, "It's not your
fault" sehingga ia pun ditembak sampai mati.

Kesimpulannya, kepribadian ganda hampir selalu merupakan dampak
pelecehan seksual secara inses. Sarah meneror dirinya sendiri lantaran
dihantui perasaan bersalah atas kematian ibunya. Malangnya, pukulan
batin paling tragis justru berasal dari rumah. Seperti kisah pilu
Sybil, yang mendukung perkataan orangtua jaman dulu bahwa 'kegilaan
itu bisa 'menular'."

sumber foto: wikipedia


ReviewReviewReviewHead Over HeelsFeb 24, '08 7:44 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Bagi Amanda Pierce (Monica Potter), tak mungkin ada laki-laki yang
sempurna. Ia sudah begitu patah hati, meski memutuskan untuk segera
mencari tempat tinggal sendiri begitu mengetahui bahwa teman kerjanya,
Lisa, adalah penyuka sesama jenis. Amanda merasa hidupnya akan dilanda
kesepian sepanjang masa seperti rekan-rekan kerjanya yang lajang
sampai tua, setelah memergoki kekasihnya berselingkuh.

Oleh sebab itu, ia berusaha keras menampik getaran hatinya ketika
berjumpa dengan Jim Winston (Freddie Prinze Jr). Pria yang bekerja
sebagai eksekutif bidang fashion itu tinggal di seberang apartemen
Amanda yang dihuninya bersama empat orang supermodel. Walaupun Jim
sangat menawan, Amanda mati-matian menghindar lantaran curiga bahwa
lelaki itu membunuh seseorang.

Sebenarnya Amanda memperoleh lemari kecil mereka yang disulap sebagai kamar,
sebab para model itu mengkhususkan ruangan besar untuk dijadikan
tempat pakaian dan perlengkapan lainnya. Karakter empat model yang berlainan etnis ini
amat menarik. Tidak seperti cerita-cerita klise, mereka sangat ringan tangan dan
bersahabat terhadap Amanda. Mereka mendandaninya, meminjamkan pakaian,
memberikan saran-saran dan berusaha melindunginya saat mencium
ketidakberesan pada diri Jim. Bersama teman-teman barunya ini, Amanda
mengenal apa yang disebut daftar tunggu para pria dan betapa mereka
berlomba-lomba membayari makan malam mereka di restoran mahal. Bahkan
tanpa celetukan Roxana, yang berasal dari Rusia, Jim takkan memperoleh
petunjuk mengenai konspirasi orang-orang jahat yang mengancam nyawa
mereka.

Perekrutan Amanda dan teman-temannya menjadi model peragaan busana
secara tak sengaja terbilang masuk akal. Walaupun peragaan yang
diselingi kejar-kejaran itu sukses, Amanda tak lantas meninggalkan
pekerjaannya sebagai ahli restorasi lukisan dan bergabung dengan empat
kawannya di dunia serba glamor itu. Sebuah adegan yang sebenarnya
menjijikkan (baca: jangan sampai ditonton sambil makan) menunjukkan
bahwa pria seelok Jim pun punya kekurangan. Film ini membuat saya
banyak tertawa, termasuk adegan opsir polisi yang meledek para model
ini tak dapat berhitung.


sumber foto: wikipedia


ReviewReviewReviewWhatever It TakesFeb 24, '08 7:41 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Butuh waktu cukup lama bagi seseorang untuk menyadari bahwa hatinya
sudah terpaut pada orang yang tidak jauh-jauh dari tempatnya berada.
Demikianlah yang terjadi pada Ryan Woodman (Shane West) dan sahabat
sekaligus tetangganya, Maggie Carter (Marla Solokoff). Ryan sibuk
tergila-gila kepada primadona sekolah, Ashley Grant (Jodi Lynn
O'Keefe) yang tak pernah menaruh perhatian kepadanya. Untuk itu ia
menerima tawaran Chris Campbell (James Franco), sepupu Ashley, yang
berniat memikat Maggie.

Karakter paling menonjol jelas Chris seorang. Ia sekadar penasaran
karena Maggie selalu menolaknya dan merupakan satu-satunya gadis yang
belum dikencaninya (di tempat tidur). Ryan mempromosikannya
mati-matian, mengubah Chris sesuai karakter yang diharapkan
sahabatnya, sementara ia sendiri perlahan menyadari bahwa Ashley tidak
sehebat dugaannya dulu. Gadis itu kasar, angkuh, dan anehnya malah
memohon-mohon tatkala Ryan meninggalkannya. Guna mengikuti siasat
Chris, Ryan harus menghina kawan-kawan baiknya sendiri padahal Chris,
Ashley dan gerombolannya bahkan selalu memanggilnya 'Brian'.

Film ini mengekspos kenakalan-kenakalan remaja yang sedang memuncak di
usia menjelang akhir SMA. Ryan berusaha membalas pukulan pelatih
softballnya yang selalu meledeknya 'ibu-ibu' atau 'Nona' karena
pukulannya sering meleset. Ada Cosmo yang menghendaki pesta dansa
sebagai momen meledakkan cita-cita menjadi 'anak badung' dan menaikkan
pamornya di depan lawan jenis. Meski endingnya sudah dapat diterka,
film yang diadaptasi dari drama Cyrano de Bergerac ini lumayan juga
(kecuali bagian-bagian jijiknya..wekk). Mungkin karena itulah
'Whatever It Takes' mendapat nominasi Teen Choice Awards untuk
kategori film komedi.

sumber foto: wikipedia




Blog EntryFilm dan Buku HororFeb 24, '08 8:05 AM
for everyone
Sejak remaja, saya menaruh minat pada film berbau ketegangan. Bukan
berarti nggak suka drama, tapi kadar ketertarikan terhadap tema
thriller (apalagi psikologis) dan horor memang lebih besar. Saya ingat
komentar seorang kawan baik di YM beberapa tahun lalu ketika saya
membahas film Kafir dan Jelangkung. Film Hollywood yang pertama kali
saya tonton (kalau nggak salah masih SD) pun tak lain tidak bukan
'Nightmare on the Elm Street'. Tiap Kamis malam, sekeluarga nonton
'Friday the 13th' (waktu itu masih di TVRI) meski dampaknya saya
tambah fobia sama boneka:p

Tatkala horor mulai naik daun di layar kaca sekitar 4 tahunan lalu,
saya sudah kerepotan. Ngaku sama ponakan-ponakan bahwa pada dasarnya
saya penakut, nggak diketawain sih. Mereka terbelalak dan bilang,
"Masa?" Di mata anak-anak, mungkin yang namanya orang dewasa nggak
kenal rasa takut. Saat itulah saya memperkenalkan fakta bahwa orang
dewasa atau orangtua bukan makhluk sempurna kepada mereka.

Karena sering ketiban tugas ngasuh, mau nggak mau harus nemenin mereka
nonton segala rupa sinetron yang dihiasi hantu. Jujur aja, saya lebih
berani nonton film horor Barat ketimbang bikinan Asia. Barangkali
karena Asia identik dengan hantu perempuan bermuka pucat, rambut
panjang dan baju putih sambil ngikik, "Hihihihi.." (Percaya atau
tidak, saya nonton semua film Sundel Bolong waktu kecil dan sakit
panas). Sekali waktu 'kecolongan' nonton film horor Filipina di TV,
dan..kapok.

Mendampingi anak-anak yang nongkrongin TV lantas berkhayal
kesana-kemari jelas tugas berat. Saya kepaksa membesarkan nyali.
Awalnya dari sebuah film horor Taiwan. Pengennya sih lari
terbirit-birit waktu si hantu nongol di cermin, tapi saya kuat-kuatkan
melihat si Bungsu menutup mata. Idealnya, bila takut nggak boleh
dipaksa. Namun terkadang saya harus menekankan padanya, "Ini hanya
film, Nak." Lambat-laun saya dapat menerangkan (sambil rada olok-olok)
adegan di TV, "Masa' jurig bisa nyekek manusia?"

Film horor dalam negeri yang terakhir saya tonton adalah Tusuk
Jelangkung. Liatnya di DVD bareng para keponakan itu. Jangan ditanya
deh seremnya, meski masih kalah menakutkan dibanding Shutter yang
bikin saya takut sendirian di rumah siang-siang. Sekarang saya cek
nyali baik-baik sebelum memutuskan nonton film horor Hollywood
sekalipun, agar tidak mimpi buruk tiap malam seperti waktu nonton film
dari novel Stephen King (yang judulnya Cat apa gitu..). Bulan lalu
sempat tertarik nonton sebuah horor jam sembilanan, dengan setting
rumah besar (khas banget kan). Namun karena hantunya anak kecil yang
nongol di cermin..hiii, nggak jadi.

Bagaimana dengan buku? Semasa SD, saya sering pinjam novel-novel
Abdullah Harahap dari rental. Dengan bimbingan orang dewasa tentu,
yaitu kakak sepupu saya. Baru baca horor lokal lagi sewaktu pinjam
terbitan Gagas yang diadaptasi dari film. Bangsal 13, kalo nggak
salah. Sengaja baca siang-siang di tangga kamar keponakan, meski nggak
terlalu serem.

Sekarang ini saya lebih banyak baca horor terjemahan. Yang pertama
adalah Samurai-Jembatan Musim Gugur karangan Takashi Matsuoka. Butuh
bertahun-tahun untuk memupuk keberanian baca bagian berhantunya.
Apalagi waktu itu saya baru pindah ke rumah kakak dan sering banget
sendirian sampai malam. Kini saya sudah bisa melihat bedanya. Karena
bersifat visual, film horor lebih nancap di otak. Kasarnya, biar liat
sebentar bisa terbayang berhari-hari. Bacaan lebih bisa dikontrol.
Begitu saya melihat hal-hal yang berpotensi seram, diskim aja.
Hehehe.. Seringkali deskripsi cerita menyeret imajinasi pada kengerian yang
cukup tebal. Ini menurut saya.

BTW, salah satu film horor yang bermutu bagi saya adalah 'The Others'
yang dibintangi Nicole Kidman. Keren banget!

sumber foto: sxc.hu


ReviewReviewReviewReviewThe JackalFeb 19, '08 7:44 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Voila! Bisa nonton sampai tamat juga akhirnya, setelah lama menanti.
Alhamdulillah iklannya di Trans semalem nggak segambreng amat, jadi
selesainya nggak terlalu larut.

Bruce Willis main film action? Itu biasa. Jadi antagonis, pun bukan
hal baru. Tapi Richard Gere tidak memerankan laki-laki penebar pesona
penjerat hati wanita seperti dalam Pretty Woman, Autumn in New York,
dan Dr.T and the Women? Perlu ditelusuri lebih lanjut.

Peringatan: mengandung bocoran

Jackal adalah sebutan seorang pembunuh bayaran top berskala
internasional, yang sebelumnya diragukan keberadaannya. Ketika ia
disewa oleh seorang pembunuh lain dari Rusia untuk menghabisi Direktur
FBI, tak ada jalan lain bagi tim yang melindunginya kecuali meminta
bantuan eks penembak IRA, Declan Mulqueen. Tawar-menawar terjadi,
sebab hanya Mulqueen dan kekasih lamanya, Isabela Zancona, yang pernah
melihat wajah Jackal.

Film ini mempesona dalam banyak hal, antara lain penyamaran Bruce
Willis. Ia benar-benar menghayati peran sebagai lelaki tak
berperasaan, menembak orang sambil makan, menjadikan perancang senjata
sebagai kelinci percobaan dalam uji kecepatan senjata itu sampai
tewas, menembak Mayor Koslova sambil berbaring santai di sofa dan
berkata, "Wow, darahmu hampir hitam. Artinya peluru bersarang di
hatimu. Tekan di sini agak keras, untuk menghentikan pendarahannya.
Kau punya waktu 20 menit lagi. Tapi kalau tak tahan, angkat saja
tanganmu."

Lalu Koslova menjawab, "Bila Declan membunuhmu, ingatlah padaku."

Karakter Declan sendiri lain daripada yang lain. Bila sudah berjanji,
ia akan menepatinya. Tak peduli Isabela menggenggamkan kunci untuk
kabur, ia tetap mengikuti misi sampai selesai.

Jelas, film ini berlumuran darah di mana-mana. Yang paling saya ingat
adalah pesan berkode dari Jackal, "You could never protect your
women."

sumber foto: wikipedia


ReviewReviewReviewReviewJerry MaguireFeb 17, '08 2:01 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Tema: 8
Profesi agen olahraga terbilang unik untuk diangkat, dikemas
sedemikian rupa dengan bahasan perihal etos kerja, persahabatan dan
cinta terhadap keluarga.

Tom Cruise: 8
Film ini menampilkan akting terbaiknya selain Interview with the
Vampire. Suatu saat menjadi Jerry yang begitu percaya diri terutama
saat menyampaikan pernyataan misi sebagai ekspresi kegelisahannya
terhadap situasi kantor, kali lain 'melorot' sebagai lelaki yang
bangkrut dan mempertaruhkan muka hingga disebut 'pria yang sedang ada
di bawah' oleh kakak iparnya, Laurel (Bonnie Hunt). Sukar dibayangkan
jika Tom Hanks atau John Travolta, yang ditawari lebih dulu,
menerima peran ini (sesuai data wikipedia).

Renee Zellwegger: 8
Cantik di setiap kesempatan, total dalam segala tindakan. Saya
tersentuh sekaligus kagum saat Dorothy meminta Jerry meninggalkannya
saja, mengakui kesalahannya 'menjerat' pria itu melalui putranya dan
menjawab pertanyaan Jerry: "What do you want? My soul?" dengan tegas,
"Why not? I deserve that."

Jonathan Lipnicki: 8,5
Bocah mungil dengan senyum menawan ini merupakan salah satu faktor
pendorong saya nonton JM berulang-ulang. Saat ia melemparkan bola
dengan sekuat tenaga, memeluk Jerry dan menciumnya, kemudian berbisik,
"You said 'fuck'. I won't tell." Manisnya..

Cuba Gooding, Jr: 8,5
Selalu memukau. Sebagai Rod Tidwell yang emosional, keras kepala,
menandak-nandak gila di lapangan setelah terbanting dalam
pertandingan, dan sangat mencintai keluarganya. Ia lebih dari pantas
memenangkan Oscar untuk Best Supporting Actor dari film ini.

Bahkan karakter mentor Jerry menambah poin plus, dengan pesan-pesan
singkat seputar pekerjaan. Khususnya kalimat terakhir, "I don't have all the answers.
In life, to be honest, I've failed as much as I've succeeded."

sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Jerry_Maguire


ReviewReviewReviewReviewAt First SightFeb 15, '08 11:16 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Ini film Val Kilmer yang paling saya sukai, selain Batman kala ia
berpasangan dengan Nicole Kidman (tetapi Batman urutan kedua). Mas
Agus sangat menyenanginya gara-gara memerankan Jim Morrison. Ia selalu
keliru antara Val dengan Kurt Russell, yang memang lumayan mirip.

Saya juga tertarik menyimak akting Mira Sorvino dalam film drama,
karena imejnya sebagai pemain action setelah berduet dengan Chow
Yun-fat lumayan sulit dilupakan.

Dengan dalih cinta, kita kerap berkehendak mengubah seseorang tanpa
menyadari bahwa orang itu sudah cukup berbahagia dengan keadaannya.
Begitu pula Amy Benic yang terus mendorong Virgil Adamson untuk
memperoleh penglihatannya kembali. Serem banget melihat adegan
operasinya, juga memperhatikan bekas-bekas merah di sekitar mata
Virgil kemudian.

Saya menangkap kesan bahwa Amy berbuat demikian karena malu terhadap
Duncan (Steven Weber), mantan suami sekaligus mitra bisnisnya. Tetapi
kemudian ia dihadapkan pada sebuah kenyataan sekaligus pelajaran: apa
yang kita inginkan tidak selalu menghasilkan kebahagiaan atau
kehidupan yang lebih baik setelah kita dapat mewujudkannya. Setelah
dapat melihat, hubungan Amy dan Virgil diwarnai ketegangan. Ia terus
bertanya apa makna tatapan Amy, terguncang melihat Amy mengecup mantan
suaminya di pesta ulang tahun, dan tersiksa karena setiap saat
membicarakan matanya.

Ada baiknya saya nonton ulang film ini, karena dulu melewatkan
pertemuan Virgil dengan ayahnya. Itulah pangkal persoalannya. Virgil
merasa Amy terlalu mendesaknya, seperti sang ayah yang kemudian kecewa
dan meninggalkan keluarga.

At First Sight, yang diangkat dari kisah nyata, benar-benar menawan.
Lebih dari sekadar cerita cinta.

sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/At_first_sight


ReviewReviewReviewReviewLove ActuallyFeb 15, '08 11:14 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Saya sudah menonton film ini sekitar 4 tahun yang lampau, tapi kurang
menikmatinya karena ditingkahi keributan dua keponakan yang sedang
saya asuh waktu itu. Meskipun demikian, saya masih ingat sebagian
besar jalan ceritanya.

Love Actually, yang posternya cukup mirip dengan poster film Berbagi
Suami (menurut majalah Djakarta!), menghadirkan banyak aktor Inggris.
Ada Hugh Grant, sudah pasti ada Colin Firth. Kedua aktor ini agak
sering muncul bersamaan dalam satu film, kecuali (seingat saya) dalam
What A Girl Wants dan Two Weeks Notice.

Cerita keseluruhan dapat diintip di
http://en.wikipedia.org/wiki/Love_actually, tempat saya mendownload
foto poster film ini. Keragaman karakter dan plot menjadikan Love
Actually mengasyikkan untuk diikuti, sampai kemudian dipertemukan
keterkaitan satu sama lain di bagian akhir.

Poin istimewa:

1. Colin Firth memerankan seorang penulis. Saya baru menyadarinya
ketika nonton kemarin. Adegan paling keren adalah ketika Jamie menulis
di sebuah meja di tempat terbuka, kemudian kertas-kertasnya
diterbangkan angin hingga masuk ke kolam. Adegan keren kedua, sewaktu
Aurelia bertanya dengan bahasa Portugis dan bahasa tubuh mengenai
apakah cerita yang ditulisnya, dan Jamie menerangkan bahwa ia
mengarang novel thriller dengan kisah pembunuhan.

2. Sungguh menakjubkan betapa cinta mendobrak perbedaan bahasa.
Kendati menggunakan bahasa masing-masing, obrolan Jamie dan Aurelia
sangat nyambung. Jamie bilang saat mengantarkan gadis itu pulang
adalah favoritnya setiap hari, sementara Aurelia bilang selalu sedih
meninggalkan lelaki itu. Betapa romantisnya tatkala Jamie melamar
Aurelia dan susah payah belajar bahasa Portugis, sementara gadis itu
ternyata juga sudah belajar bahasa Inggris.

3. Keterusterangan Mark melalui tulisan di kartu pada malam Natal di
ambang pintu Juliet. "To me you are perfect," wow. Dan ini tidak
berlanjut menjadi sebuah affair.

4. Tangisan Karen di kamar ketika mengetahui bahwa kalung yang
dibelikan suaminya bukan untuk dirinya. Ikut sedih dan tertekan karena
ia harus menyembunyikan luka itu dari anak-anaknya. Tidak heran bila
Emma Thompson menyabet Empire Award for Best British Actress dan
Evening Standard British Film Award for Best Actress untuk aktingnya
di film ini.

5. Kegelisahan Perdana Menteri yang menyadari dirinya menaruh hati
pada bawahannya. Hugh Grant mengekspresikan hal itu dengan baik
sekali.

6. Dialog Daniel (Liam Neeson) dengan anak tirinya yang sangat akrab.
Dengan sabar ia membiarkan Sam berlatih drum di kamar. Sam tanpa ragu
bertanya, "Bagaimana kehidupan cintamu sendiri?" kemudian Daniel
mengatakan, "Kalau Claudia Schiffer meneleponku, aku terpaksa harus
mengusirmu dan kau akan jadi gelandangan."

Minus:

1. Kisah Sarah (Laura Linney) dan Karl (Rodrigo Santoro) menyebalkan.
Sedih banget karena seluruh isi kantor, termasuk bos dan si lelaki itu
sendiri, sudah tahu perasaan cintanya serta menunjukkan tanda-tanda
memiliki rasa serupa tetapi tak dapat berbuat apa pun kecuali
memendamnya.

2. Pemotongan di sana-sini. Memang agak kagok menayangkan film ini di
televisi pada jam 18.30. Tetapi bila belum pernah nonton, kita takkan
tahu bahwa kekasih Jamie berselingkuh dengan saudaranya sendiri
sehingga ia memutuskan pergi ke Prancis sebelum bertemu Aurelia. Kisah
Colin yang berambisi menjadi dewa seks di Amerika pun sebaiknya
dipotong habis saja karena jadi sangat membingungkan, sedangkan
ditampilkan utuh memang tak mungkin.


Blog EntryDari 'Along Came Polly'Feb 14, '08 10:12 PM
for everyone
Selain Adam Sandler, saya paling males nonton Ben Stiller. Alasannya:
film komedi selalu bertaburan adegan jorok. Sandler masih mending,
saya mau nonton Click dan Anger Management (dengan mempercepat
beberapa bagian). Juga Water Boy dan Mr. Deeds. Tapi saya memalingkan
muka dari Meet the Parents dan Meet the Fockers karena nggak tahan
lihat Ben Stiller jadi objek penderita. Cukuplah Donal Bebek saja yang
selalu apes.

Along Came Polly pernah saya tonton di DVD. Lumayanlah, di sini
Jennifer Aniston memainkan karakter yang agak beda dibandingkan
Picture Perfect dan Rumors. Tak lagi perempuan bingung karena masalah
cinta. Bukan berarti saya bersedia menyimak penuh. Semalam saya pencet
remote beberapa kali dan terpaksa nonton launching sebuah stasiun TV
baru meskipun harus lihat penyanyi-penyanyi yang tidak saya sukai.

Film ini tidak seluruhnya buruk, malah Hank Azaria sukses memerankan
instruktur selam Prancis (walaupun saya lebih suka Kevin Kline di
French Kiss). Kalimat yang dilontarkan Reuben kepada Polly cukup
nendang, "Kalau kamu pergi ke Cincinnati, Tanzania, atau kemana pun,
bagaimana bisa tahu kelanjutan hubungan ini?"

Yang menyita perhatian justru Philip Seymour Hoffman, pemeran Sandy
mantan bintang film dan sahabat Reuben. Saya ikut terpaku ketika ia
ditegur ayah Reuben, "Kamu bermain dalam satu film dan itu sudah lama
sekali..." (dan seterusnya). Teguran yang kemudian menggugah kesadaran
Reuben untuk berkata pada Lisa, mantan istri yang mengkhianatinya,
"Seharusnya aku tak memintamu datang karena aku tak akan kembali
bersamamu."

sumber foto: wikipedia



ReviewReviewReviewReviewReviewHitchFeb 14, '08 8:14 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Alasan saya menonton ulang film ini di Trans TV
dan menerobos jam malam (tamatnya
hampir jam 12 karena iklan segambreng) adalah:
1. Will Smith adalah aktor favorit saya, bahkan paling favorit di
jajaran bintang film Hollywood seangkatannya
2. Waktu pinjam DVDnya beberapa tahun lalu, saya belum nonton bagian
awalnya.

Karena ini bukan film baru, saya tidak akan mencuplik ceritanya.
Tetapi langsung pada catatan-catatan khusus keistimewaan Hitch di mata
saya.
1. Tema yang sederhana menjadi luar biasa. Hitch bukan sekadar mak
comblang (atau istilahnya date doctor), tetapi konsultan yang
berkarakter. Ia tidak mau melayani klien yang sekadar mencari pasangan
one night stand, tetapi hanya mereka yang benar-benar jatuh cinta.

2. Tidak ada adegan menjijikkan, seperti kebanyakan film komedi
lainnya, antara lain 'Along Came Polly' yang saya tonton sebelumnya di
stasiun TV lain.

3. Romantisme bagi pasangan yang sudah dewasa dapat dinyatakan dengan
banyak hal. Saya ikut terharu saat Sara Melas terisak menghadapi tanda
tangan kakek buyutnya (walaupun suara tangisnya agak aneh), melonjak
senang saat ia menerima bingkisan berisi sejenis walkie-talkie,
tersenyum menyimak dialog yang tidak 'to the point' di kafe.

4. Adegan slapstick ditempatkan dengan halus dan proporsional. Lucu
banget deh waktu Albert Brenneman joget-joget, panik saat menelepon
Allegra dan ternyata langsung diangkat, rebutan memberikan pulpen
sampai menjepit tangan bosnya, dan menarik isi jambangan sampai
berhamburan dan membuatnya terjungkal.

5. Pertengkaran Sara dengan Hitch menunjukkan betapa kita gemar
mengungkit kekurangan pasangan. "Dengan senang hati aku akan
mengajakmu makan di restoran sea food!" sembur Sara. "Kenapa tidak kau
ambil pisaumu, Tukang Jagal?" Hitch tak kalah sengit.

6. Para karakternya, termasuk Allegra Cole, ditampilkan sangat manusiawi.
Ia malu karena tak bisa bersiul dan dansa. Hitch tetap gelagapan
mengutarakan isi hatinya kepada Sara, sebaliknya Sara memaki dirinya
sendiri di balik bantal sofa ketika mendapati Hitch pergi di pagi hari
dan mengira ia tidak akan datang lagi.

7. Kalimat Hitch yang menyentuh tatkala menghadapi Sara di acara temu
jodoh. "Inilah yang membuat jatuh cinta begitu sulit." Kemudian sebuah
penekanan, "Because of that man, I had a job. HAD a job!" Juga
perselisihannya dengan Albert. "Love is my life," ujar Hitch. "No,
love is your job!" tampik Albert.

8. Kekontrasan yang memukau antara dua profesi. Sara bertugas
mengungkap 'kebenaran' (ala kolumnis gosip) sedangkan kode etik
pekerjaan Hitch mengharuskannya merahasiakan klien-kliennya.

9. Unsur-unsur pengetahuan Hitch mengenai wanita jauh lebih mengena
dibandingkan karakter Mel Gibson dalam 'What Women Want'. Wanita akan
merasakan jika pasangannya tidak fokus, wanita ingin didengarkan,
wanita ingin ditanggapi.

10. Eva Mendes adalah pasangan paling 'sempurna' untuk Will Smith
(selain Denzel Washington di sebuah film yang saya lupa judulnya).
Inilah film mereka berdua yang paling merebut hati saya. Bahkan adegan
penutupnya yang ceria membuat Hitch super spesial.

sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Hitch_(film)


Blog EntryBeberapa Film yang BerkesanFeb 7, '08 9:52 PM
for everyone
Saya jarang nonton film baru. Tentang Hallyu (film Korea) sudah banyak
dibahas, jadi saya akan cerita tentang film Hollywood, Hongkong dan
Taiwan yang pernah ditonton saja.

1. Swordfish. Daya tarik utamanya terletak pada karakter seorang
hacker.

2. Basic. Kombinasi keren John Travolta dan Samuel L Jackson.
Misterinya membuat film berbau militer ini mengasyikkan.

3. 10 Things I Hate About You. Betapa kompaknya Heath Ledger dan Julia
Stiles. Adegan favorit: Legder menyanyikan Can't Take My Eyes Off of
You.

4. 16 Blocks. Bruce Willis tampil berbeda, dan film bersetting cerita yang
pendek selalu menarik untuk diikuti.

5. Crimson Rivers. Ada Jean Reno dan thriller.

6. Hide and Seek. Robert de Niro jadi orang 'sakit', itu biasa. Tapi
berkepribadian ganda? Oke banget.

7. Anna and the King. Duet indah Chow Yun-fat dan Jodie Foster.

8. As Good as It Gets. Jack Nicholson sebagai penulis eksentrik.

9. Anger Management. Film Adam Sandler yang paling menarik buat saya.
Nggak bosen-bosen nonton dan nyanyi, "I feel happy.."

10. Carlito's Way. Ending tak terlupakan.

11. Dodgeball. Asyik buat ditonton sekeluarga:-)

12. Erin Brockovich. Julia Roberts terjun di bidang hukum.

13. Face Off. John Travolta sebagai pria baik-baik, mesti ditonton.

14. Gossip. Bertabur bintang, mengandung teka-teki.

15. Identity. Thriller psikologis yang mempesona.

16. John Q. Denzel Washington mengukuhkan citranya sebagai family man.

17. A Nightmare on Elm Street. Sukses bikin saya jadi penakut:p

18. Interview with the Vampire. Tom Cruise sebagai antagonis,
jarang-jarang:-)

19. Wishmaster. Lumayan bikin mikir untuk penyelesaiannya.

20. The Faculty. Teka-tekinya yang oke, juga ide unik bahwa narkotika
bisa mendeteksi alien.

21. Panic Room. Jodie Foster dan perkembangan ide dari satu poin. Luar
biasa.

22. Love Actually. Paling menawan: Keira Knightley.

23. Lucky Number Slevin. Bruce Willis dan penuh kejutan.

24. Matchstick Men. Mengharukannya Nicholas Cage.

25. Michael. Lagi-lagi John Travolta memikat hati.

26. Salem's Lot. Stephen King memang juara.

27. Something's Gotta Give. Keanu Reeves kalah, horeeee!!

28. Wicker Park. Jlimetnya tidak memusingkan, malah mengundang
penasaran.

Yang belum ketonton juga:
Hero, Unbreakable, Ronin, The Jackal

foto: wikipedia


ReviewReviewReviewReviewPursuedFeb 5, '08 9:16 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Nonton di Global TV, 5 Februari 2008, jam 20.00

Jasa headhunter biasa digunakan perusahaan-perusahaan untuk mencari
eksekutif yang cocok menduduki jabatan tertentu. Dalam film yang
diproduseri Andrew Stevens ini, Vincent Palmer (Christian Slater)
menggunakan segala cara dengan penafsirannya sendiri. Ia menekan,
mengintai, mengintimidasi, mengancam, dan berbuat lebih parah daripada
kekasih gelap yang diputuskan ataupun seorang penggemar yang
membuntuti idolanya.

Sasarannya adalah Ben Keats (Gil Bellow), pakar teknologi yang melejit
dengan temuannya dan mengembangkan perusahaan VizTrax bersama
mitranya, Franklin (Michael Clarke-Duncan). Vincent melamar Ben untuk
RazNet dengan iming-iming kompensasi menggiurkan, akan tetapi pria itu
sangat loyal pada bisnis yang dirintisnya. Karena tak mau diabaikan,
Vincent mengincar keluarga Ben. Ia mendekati istrinya, Emily (Estella
Warren) dan putrinya, Alison, serta merebut hati mereka dengan
berbagai hadiah seraya meyakinkan bahwa masa depan gemilang Ben akan
tercapai jika bergabung dengan RazNet.

Tatkala Ben meradang, Vincent tetap bermuka manis dan melakukan aneka
strategi. Ia menyebarkan gosip dalam VizTrax sehingga Ben dan timnya
saling mencurigai. Bahkan Ben memecat sekretarisnya yang telah bekerja
selama 6 tahun dan menyangka Emily tidur dengan Vincent. Belakangan
terungkap bahwa Vincent menderita kelainan jiwa yang sangat kronis
dan melakukan tindakan-tindakan sadis untuk mencapai keinginannya,
antara lain membunuh istri John Blakely, seorang eksekutif yang
didekatinya sebelum ini. Ia mengetahui segala kelemahan Ben, termasuk
kesulitan keuangan dalam keluarganya, penyakit yang diderita Franklin,
sampai konsep teknologi baru yang dirancangnya di VizTrax.

Siapa kaki-tangan Vincent di VizTrax dan benda-benda yang digunakannya
untuk menyelipkan video pengintai dapat diterka. Agaknya film
action-thriller ini disuguhkan secara terbuka sehingga ketegangan
berpusat pada upaya Ben melepaskan diri dan menyelamatkan keluarganya
dari kekejaman Vincent. Sangat menarik menyimak penampilan Christian
Slater sebagai seorang voyeur, sedikit menggelikan dan ironis karena
Vincet dapat mendeteksi keberadaan Ben yang menggagas teknologi
mencari orang hilang.

Selain genrenya, keasyikan Pursued bagi saya terletak pada hal-hal
berbau teknologi komputer di dalamnya. Unsur sains cukup proporsional,
dengan banyak pelajaran mengenai politik dalam bisnis.

foto: imdb.com


ReviewReviewReviewReviewBlood WorkFeb 3, '08 9:14 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Tiga kali film ini diputar di televisi, tiga kali itu pula saya
menontonnya tanpa merasa bosan.

Blood Work, yang disutradarai Clint Eastwood (merangkap pemeran
utama), diangkat dari novel berjudul sama karangan Michael Connelly,
peraih Edgar Award. Film misteri-thriller ini menghantarkan Eastwood
menyabet Future Film Festival Digital Award di Venice Film Festival.

Alkisah seorang mantan agen FBI bernama Terry McCaleb, yang kini
menjadi Sheriff. Ia menyelidiki pembunuhan terhadap dua orang yang
terjadi dalam waktu berdekatan. Saudara salah satu korban, Graciella
Rivers (Wanda de Jesus) bahkan mendatanginya untuk mencari tahu lebih
banyak. Saudaranya itu, Gloria, ditembak di sebuah toko saat
berbelanja.

Bersama tetangganya yang juga menetap di kapal, Buddy (Jeff Daniels),
Terry perlahan mengetahui bahwa pelaku tidak bermaksud merampok.
Dibantu sahabatnya, Detektif Jaye Winston, Terry mengumpulkan
data-data untuk membongkar tujuan si pembunuh sebenarnya. Ternyata di
antara mereka ada kaitan di masa lalu. Terry pun menemukan kesamaan
perilaku kedua korban, yang secara langsung berpengaruh pada dirinya.
Ia tak peduli kesehatannya mundur dan ditegur oleh sang dokter
(Anjelica Huston). Apalagi Terry mengetahui bahwa jantung Gloria
didonorkan pada dirinya.

Motif yang 'aneh' senantiasa menjadi daya pikat dalam sebuah film
thriller. Seringkali si pelaku sebenarnya berseliweran di depan hidung
pencarinya.

foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Blood_Work_(film)


ReviewReviewReviewReviewView from the TopFeb 3, '08 9:11 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Adalah seorang gadis dari kota kecil, Donna Jensen (Gwyneth Paltrow),
yang bermimpi meraih masa depan di tempat lain. Harapannya sempat
kandas setelah sang kekasih, yang akan membawanya ke luar kota,
memutuskannya pada hari ulang tahun. Donna nyaris tenggelam dalam
keputusasaan tatkala menonton talkshow mengenai Sally Weston (Candice
Bergen), seorang pramugari senior di TV sebuah kafe.

Buku karangan Sally (inilah salah satu pesona film ini)
menggugah semangat hidup Donna untuk memberanikan diri menggapai cita-citanya kembali.
Ia merintis sebagai pramugari sebuah maskapai kecil, tempatnya
berkenalan dengan Sherry (Kelly Preston, istri John Travolta yang
tetap cantik jelita) dan Christine (Christina Applegate). Ketiganya
memburu karir yang lebih baik di maskapai besar Royal Airlines, tempat
Sally bekerja. Kendati gagal dalam ujian di luar dugaannya, Donna
mengecap kebahagiaan bersama Ted Stewart (Mark Ruffalo), seorang
mahasiswa sekolah hukum di Cleveland. Pertemuannya kembali dengan
Christine menyadarkan Donna bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada
ujiannya terdahulu.

Banyak sekali pelajaran moral dari film yang mengetengahkan tahap
realisasi impian ini. Itulah sebabnya saya bela-belain nonton di
Global beberapa hari yang lalu (pernah nonton di DVD pinjaman, tapi
harus dikembalikan sebelum selesai). Hikmah tersebut antara lain:

1. Jangan takut bermimpi, sesuai tagline film ini "Don't stop till you
reach the top."

2. Kehati-hatian, etika dan tatakrama sangat penting dalam pekerjaan
apa pun. Sungguh mengerikan saat Christine dengan leluasa meraup
barang-barang milik perusahaan padahal hal tersebut jelas dilarang
dalam buku panduan pegawai yang sangat ketat. Walau agak menggelikan,
sikap Sherry yang menyinggung perasaan John Whitney (Mike Myers) dalam
wawancara melontarkannya ke luar jalur yang seharusnya ia tapaki.

3. Impian sebesar apa pun harus dimulai dari nol. Karena itulah, Donna
bersedia mengawali karir di maskapai kecil.

4. Profesionalisme, di mana pun kita berada. Seperti John Whitney yang
tidak dapat menjadi pramugara karena kelainan mata meskipun hasil
tesnya gemilang dan Donna yang berhasil menjadi Employee of the Month
saat masih bertugas di Royal Express Cleveland.

5. Hati-hati mencerna pesan seseorang. Donna menduga ia harus
'menyingkirkan' Ted yang dicintainya demi kesuksesan, padahal Sally
mengatakan, "Every pilot needs a co-pilot." Maka dengan penuh
pengertian, Sally menggantikan shift Donna agar gadis itu dapat segera
menjumpai Ted.

6. Selalu ada jalan tengah yang terbaik untuk semua pihak bila kita
mau realistis dan menyadari apa yang terpenting bagi diri sendiri.
Penutup film ini menawarkan jalan keluar yang mengesankan bagi Donna
dan Ted. Tetap berkarir dan berbahagia. View from the Top bukan film
yang menyarankan seorang wanita menjadi egois untuk merengkuh
cita-citanya. Melalui keluarga Ted yang hangat, Donna memahami bahwa
ada rumah yang penuh cinta dan tidak dihiasi perselisihan seperti
ibunya dengan ayah tirinya dulu.

Catatan khusus: Mark Ruffalo tampaknya berbakat menjadi pria baik hati
yang ditinggalkan sejenak untuk kemudian diraih kembali. Ini sudah
ketiga kalinya, setelah 13 Going 30 dan Rumors.
Mike Myers luar biasa. Saya tidak tahan menonton ulahnya di Austin
Powers, namun karakter John Whitney dimainkannya dengan cemerlang.
Instruktur yang cerdas, tegas, sekaligus pasien terapi Anger
Management yang tiap kali meledak langsung membunyikan lonceng kecil
dan berkata lembut, "I'm a little bird.."

sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/View_from_the_top


ReviewReviewReviewThe ReturnFeb 3, '08 12:37 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
PERINGATAN: mengandung bocoran

Tanpa bocoran ini, film The Return akan sukar dimengerti. Sarah Michelle Gellar
memerankan Joanna, seorang sales representative perusahaan produsen
truk yang berkeliling dari kota ke kota. Karirnya terbilang sukses,
namun tidak dengan kehidupan pribadinya. Joanna diteror oleh Kurt
(yang dalam sinopsis disebut-sebut sebagai mantan pacarnya),
saingannya di kantor. Ia juga kerap mendapat bayangan mengerikan
mengenai seorang pria misterius yang suka mengintai dan membuatnya
melukai diri sendiri dengan torehan pisau lipat. Kebiasaan ini terjadi
sejak Joanna berumur 11 tahun sehingga ia tak bisa dekat dengan sang
ayah.

Setelah sukses melakukan suatu transaksi bisnis, Joanna mendatangi La
Salle, Texas. Ia pernah tinggal di sana sewaktu masih kecil dan
mendapati tempat-tempat yang familiar dengan bayangannya selama ini,
termasuk gambar kuda laut dalam sketsa yang merupakan bagian penting
di tempat kejadian. Gudang pertanian di rumah Terry Stahl (Peter
O'Brien), pria yang dikenalnya di bar dan menolongnya dari ancaman
pemerkosaan Kurt. Terry dikucilkan oleh masyarakat sekitar karena diduga
membunuh istrinya sendiri, Annie, lima belas tahun silam.

Di gudang itu, bayangan Joanna bertambah utuh. Annie dibunuh oleh
seorang pria, tepat seperti orang yang membuntuti dan memanggilnya
'Sunshine' selama ini. Bagaimana ia bisa tahu padahal tidak saling
mengenal? Pada malam Terry membawa Annie yang sekarat ke rumah sakit,
mobil yang dilarikannya menabrak mobil lain yang tengah berhenti di
sebuah persimpangan jalan. Mobil itu milik ayah Joanna, dan di
dalamnya Joanna kecil tengah meregang nyawa akibat suatu penyakit
(kemungkinan demam). Keduanya meninggal pada saat bersamaan, namun
arwah Annie menitis ke raga Joanna sehingga ia kembali hidup dan
menuntaskan persoalannya dengan si pembunuh di La Salle.

Penjelasan keterkaitan Annie dengan Joanna ini cukup menarik, akan
tetapi banyak hal yang terabaikan dalam The Return. Pertama, motif si
pembunuh tetap menjadi tanda tanya. Apakah dia sekadar iseng membunuh
perempuan cantik yang mengabaikan sapaannya di jalan? Kedua, Terry
sekarang dan 15 tahun lalu sama sekali tak terlihat berbeda. Ketiga,
tidak ada dialog atau adegan yang menerangkan bahwa Kurt adalah mantan
kekasih Joanna. Namun
yang paling mengesalkan, mengapa seseorang atau karakter utama dalam
film (yang kebetulan wanita pula) selalu berlari ke tempat gelap yang
kemudian malah mengurungnya ketika dikejar orang jahat? Kalau dua saja
dari tiga poin yang mengganggu di atas dibuat logis, maka The Return
berhak mendapat lima bintang.

sumber foto: wikipedia


Blog EntryNostalgia Video Klasik HongkongDec 27, '07 4:59 PM
for everyone
Di samping kaset lagu Barat, berlangganan video silat klasik Hongkong
berkontribusi besar dalam pengenalan bahasa Inggris ketika saya masih
duduk di bangku SD. Awalnya selera persewaan ini mengikuti usul adik
saya, yaitu film seri Jepang. Megaloman lah, Goggle Five lah, Lion Man
lah.

Nonton silat Hongkong adalah aktivitas keluarga yang menyenangkan.
Saya mengira bahasa Inggris yang bagus dan fasih itu diucapkan sendiri
oleh para pemainnya, dan baru ngeh saat nonton film seorang pendeta
konyol Chi Kung yang pake bahasa asli. Saking seriusnya, saya megang
kipas dan menirukan peragaan adegan tarung Miao Chiao Wei sebagai Chor
Lau Heung si Pendekar Harum (bukan versi Adam Cheung). Kami semua
terpukau oleh aktor dan aktris yang tetap rapi make-up serta asesoris
rambutnya walaupun sudah terbang melayang dan berciat-ciat dengan
pedang. Gemas melihat polah Tony Leung di The Duke and Mount Deer,
kesal ketika sebuah film diperpanjang karena karakter yang diperankan
Moon Lee mendadak ada kembarannya (cikal bakal sinetron Indonesia
nih), pula saat seorang perempuan memerankan laki-laki dalam Yang's
Saga
. Paling seru waktu suatu hari Minggu, kami sekeluarga nonton
sebuah seri pendekar golok (pokoknya ingetnya si jagoan bernama Wu Yat
Do) sampai tamat episode ke-20. Hujan turun seharian jadi nggak ke
mana-mana.

Salah satu dampak nonton serial klasik Hongkong pada saya adalah doyan
mi bakso. Kalo bisa, di depan layar TV sambil makan mi juga. Jadi
meresapi:p

Kegemaran ini tak berlanjut sampai sekarang. Nggak kuat lagi nonton
berseri-seri. Tapi masih suka yang klasik.

foto: House of Flying Dagger


ReviewReviewReviewDuelistDec 27, '07 3:46 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Film klasik Korea ini mengisahkan seorang pendekar bertopeng yang
aksinya memukau orang-orang di pasar tradisional. Ia berhasil mencuri
sebuah patung Buddha dari emas serta mengalihkan massa dengan tebaran
uang logam dalam gerobak yang ternyata palsu.

Sepasang detektif berusaha mengejarnya, salah satunya Namsoon (Ha
Ji-won). Mereka mencurigai Menteri Keamanan dan mulai mengintainya.
Sedangkan identitas si lelaki bertopeng yang lihai bertarung tersebut
hanya dapat disebut sebagai Sad Eyes. Namsoonlah yang melihat wajahnya
di balik topeng saat berkelahi. Kemudian keduanya diam-diam saling
menaruh hati.

Karakter Ha ji-won di film ini sangat unik dan segar, dibandingkan
perannya yang ngeselin di serial Memories of Bali. Ia bukan hanya
mahir menggunakan sepasang pisau, tetapi tampil sebagai detektif yang
brangasan dan gemar memakai kekerasan sehingga menyulitkan mitranya.
Selipan adegan-adegan lucu memeriahkan Duelist, misalnya ketika
Namsoon dan mitranya mengepung seorang pencuri.

Sayang, saya tak dapat menikmati adegan-adegan pertarungannya karena
banyak berlangsung di malam hari dan sangat remang-remang (jika tidak
ingin dibilang gelap). Mungkin supaya tampak dramatis seperti
Shadowless Sword. Apa lagi dikisahkan Namsoon dan Sad Eyes berkelahi
justru untuk menyatakan cinta masing-masing. Hampir semua adegan laga
itu disajikan secara slow motion, sehingga kurang seru.


ReviewReviewReviewReviewStardustDec 26, '07 12:40 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Menceritakan isi film ini sama saja dengan menceritakan sebagian besar
isi novelnya yang dilabeli 'dongeng untuk orang dewasa'. Penerjemahan
karya Neil Gaiman ke layar perak luar biasa berhasil, menurut saya.
Membuat saya meresapi film secara keseluruhan dan tidak
sedikit-sedikit membandingkan dengan novelnya, walaupun penulis
skenarionya bukan sang pengarang sendiri.

Semua casting pas, terkecuali Claire Danes. Ia kurang cocok menjadi si
Bintang Jatuh alias Yvaine. Alisnya yang tipis dan nyaris gundul
membuyarkan bayangan saya tentang Yvaine yang amat elok rupawan.
Semestinya Danes bertukar peran dengan Sienna Miller (Victoria).

Mas Agus, yang sangat menyukai Robert DeNiro, terkecoh dan mengira ia
pemeran utama di film ini. Akan tetapi terbukti bahwa keberadaannya
esensial, bukan sekadar menambah nilai jual. Rasanya saya tidak ingat
bahwa Kapten Shakespeare ternyata seorang waria. Ngakak abis deh
ketika ia menari-nari dalam busana wanita diiringi lagu klasik (Mozart
atau siapa gitu..) sementara Pangeran Septimus menerobos ke dalam
kabinnya.

Michelle Pfeiffer pun menyuguhkan performa jempolan. Asyik banget
melihat ia kembali ke rupa seramnya setiap kali menggunakan kekuatan
sihir. Aksi favorit saya adalah kala ia memarahi Sal karena memberinya
makan sejenis rumput yang membuatnya membocorkan misi menangkap
Yvaine. Pfeiffer benar-benar aktris hebat.

Modifikasi yang paling terasa di Stardust versi film ini adalah
ketiadaan ibu tiri Tristan. Tapi itu tidak mengganggu keseluruhan
cerita sama sekali. Saat saya berpikir mengapa pada siang hari Yvaine
masih melek (di atas kapal Kapten Shakespeare), ia menampakkan
'keajaiban' berupa kemilau sinar pada waktu-waktu tertentu yang baru
saya sadari. Jangan lewatkan kematian putra-putra Raja Stormhold yang
menggelikan. Darahnya berwarna biru!

Satu hal yang saya herankan: bagaimana caranya Victoria dan Humphrey
menghadiri pelantikan Tristan? Bukankah Stormhold berada di seberang
Tembok, yang konon terlarang bagi orang-orang di baliknya? Mungkin
jawabannya adalah para penghuni Stormhold dan sekitarnya dapat mati
bila melewati tembok tersebut namun tidak bila sebaliknya.

Film fantasi dan action yang benar-benar seru dan memukau. Bikin saya
makin cinta sama novelnya:-)


Pages:12345
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help