Rini's posts with tag: filmoterapi
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Selain Dances With Wolves, inilah film Kevin Costner yang saya sukai karena karakternya unik dan tidak menebar pesona sebagai pria yang menjerat lawan jenis di mana-mana. Sudah berulang kali ditayangkan di TV, saya nonton sampai tamat baru dua hari lalu di Trans. Imajinasinya tentang dunia yang terendam banjir raksasa sudah hebat. Belum lagi aneka properti dan makhluk mutan berinsang yang sampai ujung film tidak jelas kenapa (mungkin korban teknologi dan ulah manusia yang kacau?)
Suka banget sama Enola si kecil yang suka gambar dan polos. Dari keseluruhan, ada dialog yang paling mengesankan ketika si pelaut dikatai Enola karena tak banyak bicara.
"Kamu pernah dengar suara dunia? Tentu saja tidak, karena kamu terlalu berisik dan selalu banyak bergerak."
sumber foto: wikipedia 
 Berhubung film ini adalah produksi 13 tahun silam, nggak apa-apa ya saya kasih bocoran:-)
Saya nonton NTtS di bioskop Jatinangor bersama Mas Agus dan dua orang teman kos. Waktu itu sangat ramai sehingga nontonnya nggak konsen (makanya saya nggak suka ke bioskop) dan saya merasa perlu mengetahui bagian-bagian yang kurang jelas ketika film ini ditayangkan Trans7 semalam. Lagipula genrenya thriller psikologi, favorit saya dan dapat dijadikan referensi untuk menulis cerita sejenis suatu hari kelak.
NTts dibuka dengan adegan Dr. Sarah Allison Taylor (Rebecca de Mornay) mewawancarai seorang tahanan yang melakukan pemerkosaan. Sarah adalah psikolog yang bertugas menilai apakah sang napi layak disidang atau tidak sebab menurut pengakuannya kepada pengacara, ia mengidap kepribadian ganda dan tidak menyadari perbuatannya ketika kepribadian lain (biasa disebut alter) beraksi. Sarah kemudian berkenalan dengan sorang pria bernama Tony Ramirez (Antonio Banderas) saat sedang berbelanja. Tony mengaku mantan polisi dan konsultan keamanan yang baru saja pindah dari Puerto Rico. Ia langsung mendekati Sarah dan mengajaknya berkunjung ke apartemennya. Setelah mereka menjalin hubungan, tiba-tiba Sarah mendapat kiriman misterius. Bunga kematian (kemungkinan lili), disusul mayat kucingnya yang telah dimutilasi.
Salah satu kelebihan film ini ialah permainan judulnya yang 'mengecoh'. 'Stranger' ditujukan kepada Tony, yang pada suatu adegan mengaduk-aduk isi tas Sarah. Penonton digiring untuk mencurigainya, terlebih detektif swasta yang disewa Sarah mendapati bahwa Tony menemui seorang wanita dan anak kecil di New York setelah sebelumnya pergi ke Albany. Padahal ia mengaku pergi ke Boston. Albany adalah tempat asal Sarah. Kemudian sang psikolog menemukan berbagai data dirinya, termasuk foto, di salah satu laci apartemen Tony. Serta-merta ia menuduh sang kekasih telah mengintainya, memasuki apartemennya dan menghajar tetangganya, Cliff, sampai masuk rumah sakit.
Aroma keganjilan sudah terlihat ketika Sarah ketakutan dihampiri ayahnya, Henry. Botol anggur yang dibawanya sampai jatuh dan ia terus memperhatikan langkah kaki Henry yang bersepatu. Lalu sang ayah mengambil fotonya sewaktu kanak-kanak dan berkata, "Kau gadis kecil yang cantik." Tatkala berada di pasar malam untuk menembak badut mainan, Sarah pingsan membayangkan ibunya jatuh dari tangga. Ia mengaku takut pada senjata.
Potongan teka-teki itu makin mudah dipahami bila kita sudah membaca novel Sidney Sheldon, Ceritakan Mimpi-mimpimu. Klimaksnya, Tony memperlihatkan rekaman kamera bahwa pelaku yang sesungguhnya adalah Sarah sendiri. Tepatnya, kepribadian sang psikolog yang lain. Terungkaplah rahasia masa lalu Sarah, yang menimbulkan tanda tanya pada artikel koran temuan Tony: Mother Killed in Gun Accident.
Sarah cilik shock luar biasa menyaksikan ibunya didorong dari tangga oleh sang ayah. Henry menggenggamkan pistol ke tangannya dan menembakkan ke arah sang ibu yang tengah pingsan. Mereka berdua tengah bertengkar hebat karena ibu Sarah mengetahui bahwa suaminya melakukan perundungan seksual kepada putri tunggal mereka. Karena itulah, Sarah dibesarkan oleh bibinya dan tidak diperkenankan bertemu dengan Henry. Mirip kisah malang Ashley yang diperkosa ayah kandungnya. Bedanya, ibu Ashley tidak mempercayainya sehingga ia bahkan membenci anak perempuannya dan dibiarkan mati dalam kecelakaan mobil. Ashley berumur 8 tahun, sedangkan usia Sarah tiga tahun lebih muda.
Penderitaan itu membelah jiwa Sarah, yang kemudian mendendam pada semua pria. Ia membunuh Benny, sepupu Tony. Di awal film, dikisahkan bahwa Benny pergi begitu saja dua tahun sebelumnya. Karena ia menghilang, Tony memutuskan menyelidiki Sarah. Ucapan "Trust me" justru mengingatkan psikolog tersebut pada kata-kata ayahnya dahulu dan meletuskan pistol. Kembali, Henry mengatakan, "It's not your fault" sehingga ia pun ditembak sampai mati.
Kesimpulannya, kepribadian ganda hampir selalu merupakan dampak pelecehan seksual secara inses. Sarah meneror dirinya sendiri lantaran dihantui perasaan bersalah atas kematian ibunya. Malangnya, pukulan batin paling tragis justru berasal dari rumah. Seperti kisah pilu Sybil, yang mendukung perkataan orangtua jaman dulu bahwa 'kegilaan itu bisa 'menular'."
sumber foto: wikipedia 
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Bagi Amanda Pierce (Monica Potter), tak mungkin ada laki-laki yang sempurna. Ia sudah begitu patah hati, meski memutuskan untuk segera mencari tempat tinggal sendiri begitu mengetahui bahwa teman kerjanya, Lisa, adalah penyuka sesama jenis. Amanda merasa hidupnya akan dilanda kesepian sepanjang masa seperti rekan-rekan kerjanya yang lajang sampai tua, setelah memergoki kekasihnya berselingkuh.
Oleh sebab itu, ia berusaha keras menampik getaran hatinya ketika berjumpa dengan Jim Winston (Freddie Prinze Jr). Pria yang bekerja sebagai eksekutif bidang fashion itu tinggal di seberang apartemen Amanda yang dihuninya bersama empat orang supermodel. Walaupun Jim sangat menawan, Amanda mati-matian menghindar lantaran curiga bahwa lelaki itu membunuh seseorang.
Sebenarnya Amanda memperoleh lemari kecil mereka yang disulap sebagai kamar, sebab para model itu mengkhususkan ruangan besar untuk dijadikan tempat pakaian dan perlengkapan lainnya. Karakter empat model yang berlainan etnis ini amat menarik. Tidak seperti cerita-cerita klise, mereka sangat ringan tangan dan bersahabat terhadap Amanda. Mereka mendandaninya, meminjamkan pakaian, memberikan saran-saran dan berusaha melindunginya saat mencium ketidakberesan pada diri Jim. Bersama teman-teman barunya ini, Amanda mengenal apa yang disebut daftar tunggu para pria dan betapa mereka berlomba-lomba membayari makan malam mereka di restoran mahal. Bahkan tanpa celetukan Roxana, yang berasal dari Rusia, Jim takkan memperoleh petunjuk mengenai konspirasi orang-orang jahat yang mengancam nyawa mereka.
Perekrutan Amanda dan teman-temannya menjadi model peragaan busana secara tak sengaja terbilang masuk akal. Walaupun peragaan yang diselingi kejar-kejaran itu sukses, Amanda tak lantas meninggalkan pekerjaannya sebagai ahli restorasi lukisan dan bergabung dengan empat kawannya di dunia serba glamor itu. Sebuah adegan yang sebenarnya menjijikkan (baca: jangan sampai ditonton sambil makan) menunjukkan bahwa pria seelok Jim pun punya kekurangan. Film ini membuat saya banyak tertawa, termasuk adegan opsir polisi yang meledek para model ini tak dapat berhitung.
sumber foto: wikipedia 
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Butuh waktu cukup lama bagi seseorang untuk menyadari bahwa hatinya sudah terpaut pada orang yang tidak jauh-jauh dari tempatnya berada. Demikianlah yang terjadi pada Ryan Woodman (Shane West) dan sahabat sekaligus tetangganya, Maggie Carter (Marla Solokoff). Ryan sibuk tergila-gila kepada primadona sekolah, Ashley Grant (Jodi Lynn O'Keefe) yang tak pernah menaruh perhatian kepadanya. Untuk itu ia menerima tawaran Chris Campbell (James Franco), sepupu Ashley, yang berniat memikat Maggie.
Karakter paling menonjol jelas Chris seorang. Ia sekadar penasaran karena Maggie selalu menolaknya dan merupakan satu-satunya gadis yang belum dikencaninya (di tempat tidur). Ryan mempromosikannya mati-matian, mengubah Chris sesuai karakter yang diharapkan sahabatnya, sementara ia sendiri perlahan menyadari bahwa Ashley tidak sehebat dugaannya dulu. Gadis itu kasar, angkuh, dan anehnya malah memohon-mohon tatkala Ryan meninggalkannya. Guna mengikuti siasat Chris, Ryan harus menghina kawan-kawan baiknya sendiri padahal Chris, Ashley dan gerombolannya bahkan selalu memanggilnya 'Brian'.
Film ini mengekspos kenakalan-kenakalan remaja yang sedang memuncak di usia menjelang akhir SMA. Ryan berusaha membalas pukulan pelatih softballnya yang selalu meledeknya 'ibu-ibu' atau 'Nona' karena pukulannya sering meleset. Ada Cosmo yang menghendaki pesta dansa sebagai momen meledakkan cita-cita menjadi 'anak badung' dan menaikkan pamornya di depan lawan jenis. Meski endingnya sudah dapat diterka, film yang diadaptasi dari drama Cyrano de Bergerac ini lumayan juga (kecuali bagian-bagian jijiknya..wekk). Mungkin karena itulah 'Whatever It Takes' mendapat nominasi Teen Choice Awards untuk kategori film komedi.
sumber foto: wikipedia

 Sejak remaja, saya menaruh minat pada film berbau ketegangan. Bukan berarti nggak suka drama, tapi kadar ketertarikan terhadap tema thriller (apalagi psikologis) dan horor memang lebih besar. Saya ingat komentar seorang kawan baik di YM beberapa tahun lalu ketika saya membahas film Kafir dan Jelangkung. Film Hollywood yang pertama kali saya tonton (kalau nggak salah masih SD) pun tak lain tidak bukan 'Nightmare on the Elm Street'. Tiap Kamis malam, sekeluarga nonton 'Friday the 13th' (waktu itu masih di TVRI) meski dampaknya saya tambah fobia sama boneka:p
Tatkala horor mulai naik daun di layar kaca sekitar 4 tahunan lalu, saya sudah kerepotan. Ngaku sama ponakan-ponakan bahwa pada dasarnya saya penakut, nggak diketawain sih. Mereka terbelalak dan bilang, "Masa?" Di mata anak-anak, mungkin yang namanya orang dewasa nggak kenal rasa takut. Saat itulah saya memperkenalkan fakta bahwa orang dewasa atau orangtua bukan makhluk sempurna kepada mereka.
Karena sering ketiban tugas ngasuh, mau nggak mau harus nemenin mereka nonton segala rupa sinetron yang dihiasi hantu. Jujur aja, saya lebih berani nonton film horor Barat ketimbang bikinan Asia. Barangkali karena Asia identik dengan hantu perempuan bermuka pucat, rambut panjang dan baju putih sambil ngikik, "Hihihihi.." (Percaya atau tidak, saya nonton semua film Sundel Bolong waktu kecil dan sakit panas). Sekali waktu 'kecolongan' nonton film horor Filipina di TV, dan..kapok.
Mendampingi anak-anak yang nongkrongin TV lantas berkhayal kesana-kemari jelas tugas berat. Saya kepaksa membesarkan nyali. Awalnya dari sebuah film horor Taiwan. Pengennya sih lari terbirit-birit waktu si hantu nongol di cermin, tapi saya kuat-kuatkan melihat si Bungsu menutup mata. Idealnya, bila takut nggak boleh dipaksa. Namun terkadang saya harus menekankan padanya, "Ini hanya film, Nak." Lambat-laun saya dapat menerangkan (sambil rada olok-olok) adegan di TV, "Masa' jurig bisa nyekek manusia?"
Film horor dalam negeri yang terakhir saya tonton adalah Tusuk Jelangkung. Liatnya di DVD bareng para keponakan itu. Jangan ditanya deh seremnya, meski masih kalah menakutkan dibanding Shutter yang bikin saya takut sendirian di rumah siang-siang. Sekarang saya cek nyali baik-baik sebelum memutuskan nonton film horor Hollywood sekalipun, agar tidak mimpi buruk tiap malam seperti waktu nonton film dari novel Stephen King (yang judulnya Cat apa gitu..). Bulan lalu sempat tertarik nonton sebuah horor jam sembilanan, dengan setting rumah besar (khas banget kan). Namun karena hantunya anak kecil yang nongol di cermin..hiii, nggak jadi.
Bagaimana dengan buku? Semasa SD, saya sering pinjam novel-novel Abdullah Harahap dari rental. Dengan bimbingan orang dewasa tentu, yaitu kakak sepupu saya. Baru baca horor lokal lagi sewaktu pinjam terbitan Gagas yang diadaptasi dari film. Bangsal 13, kalo nggak salah. Sengaja baca siang-siang di tangga kamar keponakan, meski nggak terlalu serem.
Sekarang ini saya lebih banyak baca horor terjemahan. Yang pertama adalah Samurai-Jembatan Musim Gugur karangan Takashi Matsuoka. Butuh bertahun-tahun untuk memupuk keberanian baca bagian berhantunya. Apalagi waktu itu saya baru pindah ke rumah kakak dan sering banget sendirian sampai malam. Kini saya sudah bisa melihat bedanya. Karena bersifat visual, film horor lebih nancap di otak. Kasarnya, biar liat sebentar bisa terbayang berhari-hari. Bacaan lebih bisa dikontrol. Begitu saya melihat hal-hal yang berpotensi seram, diskim aja. Hehehe.. Seringkali deskripsi cerita menyeret imajinasi pada kengerian yang cukup tebal. Ini menurut saya.
BTW, salah satu film horor yang bermutu bagi saya adalah 'The Others' yang dibintangi Nicole Kidman. Keren banget!
sumber foto: sxc.hu 
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Voila! Bisa nonton sampai tamat juga akhirnya, setelah lama menanti. Alhamdulillah iklannya di Trans semalem nggak segambreng amat, jadi selesainya nggak terlalu larut.
Bruce Willis main film action? Itu biasa. Jadi antagonis, pun bukan hal baru. Tapi Richard Gere tidak memerankan laki-laki penebar pesona penjerat hati wanita seperti dalam Pretty Woman, Autumn in New York, dan Dr.T and the Women? Perlu ditelusuri lebih lanjut.
Peringatan: mengandung bocoran
Jackal adalah sebutan seorang pembunuh bayaran top berskala internasional, yang sebelumnya diragukan keberadaannya. Ketika ia disewa oleh seorang pembunuh lain dari Rusia untuk menghabisi Direktur FBI, tak ada jalan lain bagi tim yang melindunginya kecuali meminta bantuan eks penembak IRA, Declan Mulqueen. Tawar-menawar terjadi, sebab hanya Mulqueen dan kekasih lamanya, Isabela Zancona, yang pernah melihat wajah Jackal.
Film ini mempesona dalam banyak hal, antara lain penyamaran Bruce Willis. Ia benar-benar menghayati peran sebagai lelaki tak berperasaan, menembak orang sambil makan, menjadikan perancang senjata sebagai kelinci percobaan dalam uji kecepatan senjata itu sampai tewas, menembak Mayor Koslova sambil berbaring santai di sofa dan berkata, "Wow, darahmu hampir hitam. Artinya peluru bersarang di hatimu. Tekan di sini agak keras, untuk menghentikan pendarahannya. Kau punya waktu 20 menit lagi. Tapi kalau tak tahan, angkat saja tanganmu."
Lalu Koslova menjawab, "Bila Declan membunuhmu, ingatlah padaku."
Karakter Declan sendiri lain daripada yang lain. Bila sudah berjanji, ia akan menepatinya. Tak peduli Isabela menggenggamkan kunci untuk kabur, ia tetap mengikuti misi sampai selesai.
Jelas, film ini berlumuran darah di mana-mana. Yang paling saya ingat adalah pesan berkode dari Jackal, "You could never protect your women."
sumber foto: wikipedia 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Tema: 8 Profesi agen olahraga terbilang unik untuk diangkat, dikemas sedemikian rupa dengan bahasan perihal etos kerja, persahabatan dan cinta terhadap keluarga. Tom Cruise: 8 Film ini menampilkan akting terbaiknya selain Interview with the Vampire. Suatu saat menjadi Jerry yang begitu percaya diri terutama saat menyampaikan pernyataan misi sebagai ekspresi kegelisahannya terhadap situasi kantor, kali lain 'melorot' sebagai lelaki yang bangkrut dan mempertaruhkan muka hingga disebut 'pria yang sedang ada di bawah' oleh kakak iparnya, Laurel (Bonnie Hunt). Sukar dibayangkan jika Tom Hanks atau John Travolta, yang ditawari lebih dulu, menerima peran ini (sesuai data wikipedia). Renee Zellwegger: 8 Cantik di setiap kesempatan, total dalam segala tindakan. Saya tersentuh sekaligus kagum saat Dorothy meminta Jerry meninggalkannya saja, mengakui kesalahannya 'menjerat' pria itu melalui putranya dan menjawab pertanyaan Jerry: "What do you want? My soul?" dengan tegas, "Why not? I deserve that." Jonathan Lipnicki: 8,5 Bocah mungil dengan senyum menawan ini merupakan salah satu faktor pendorong saya nonton JM berulang-ulang. Saat ia melemparkan bola dengan sekuat tenaga, memeluk Jerry dan menciumnya, kemudian berbisik, "You said 'fuck'. I won't tell." Manisnya.. Cuba Gooding, Jr: 8,5 Selalu memukau. Sebagai Rod Tidwell yang emosional, keras kepala, menandak-nandak gila di lapangan setelah terbanting dalam pertandingan, dan sangat mencintai keluarganya. Ia lebih dari pantas memenangkan Oscar untuk Best Supporting Actor dari film ini. Bahkan karakter mentor Jerry menambah poin plus, dengan pesan-pesan singkat seputar pekerjaan. Khususnya kalimat terakhir, "I don't have all the answers. In life, to be honest, I've failed as much as I've succeeded." sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Jerry_Maguire
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Ini film Val Kilmer yang paling saya sukai, selain Batman kala ia berpasangan dengan Nicole Kidman (tetapi Batman urutan kedua). Mas Agus sangat menyenanginya gara-gara memerankan Jim Morrison. Ia selalu keliru antara Val dengan Kurt Russell, yang memang lumayan mirip. Saya juga tertarik menyimak akting Mira Sorvino dalam film drama, karena imejnya sebagai pemain action setelah berduet dengan Chow Yun-fat lumayan sulit dilupakan. Dengan dalih cinta, kita kerap berkehendak mengubah seseorang tanpa menyadari bahwa orang itu sudah cukup berbahagia dengan keadaannya. Begitu pula Amy Benic yang terus mendorong Virgil Adamson untuk memperoleh penglihatannya kembali. Serem banget melihat adegan operasinya, juga memperhatikan bekas-bekas merah di sekitar mata Virgil kemudian. Saya menangkap kesan bahwa Amy berbuat demikian karena malu terhadap Duncan (Steven Weber), mantan suami sekaligus mitra bisnisnya. Tetapi kemudian ia dihadapkan pada sebuah kenyataan sekaligus pelajaran: apa yang kita inginkan tidak selalu menghasilkan kebahagiaan atau kehidupan yang lebih baik setelah kita dapat mewujudkannya. Setelah dapat melihat, hubungan Amy dan Virgil diwarnai ketegangan. Ia terus bertanya apa makna tatapan Amy, terguncang melihat Amy mengecup mantan suaminya di pesta ulang tahun, dan tersiksa karena setiap saat membicarakan matanya. Ada baiknya saya nonton ulang film ini, karena dulu melewatkan pertemuan Virgil dengan ayahnya. Itulah pangkal persoalannya. Virgil merasa Amy terlalu mendesaknya, seperti sang ayah yang kemudian kecewa dan meninggalkan keluarga. At First Sight, yang diangkat dari kisah nyata, benar-benar menawan. Lebih dari sekadar cerita cinta. sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/At_first_sight
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Saya sudah menonton film ini sekitar 4 tahun yang lampau, tapi kurang menikmatinya karena ditingkahi keributan dua keponakan yang sedang saya asuh waktu itu. Meskipun demikian, saya masih ingat sebagian besar jalan ceritanya. Love Actually, yang posternya cukup mirip dengan poster film Berbagi Suami (menurut majalah Djakarta!), menghadirkan banyak aktor Inggris. Ada Hugh Grant, sudah pasti ada Colin Firth. Kedua aktor ini agak sering muncul bersamaan dalam satu film, kecuali (seingat saya) dalam What A Girl Wants dan Two Weeks Notice. Cerita keseluruhan dapat diintip di http://en.wikipedia.org/wiki/Love_actually, tempat saya mendownload foto poster film ini. Keragaman karakter dan plot menjadikan Love Actually mengasyikkan untuk diikuti, sampai kemudian dipertemukan keterkaitan satu sama lain di bagian akhir. Poin istimewa: 1. Colin Firth memerankan seorang penulis. Saya baru menyadarinya ketika nonton kemarin. Adegan paling keren adalah ketika Jamie menulis di sebuah meja di tempat terbuka, kemudian kertas-kertasnya diterbangkan angin hingga masuk ke kolam. Adegan keren kedua, sewaktu Aurelia bertanya dengan bahasa Portugis dan bahasa tubuh mengenai apakah cerita yang ditulisnya, dan Jamie menerangkan bahwa ia mengarang novel thriller dengan kisah pembunuhan. 2. Sungguh menakjubkan betapa cinta mendobrak perbedaan bahasa. Kendati menggunakan bahasa masing-masing, obrolan Jamie dan Aurelia sangat nyambung. Jamie bilang saat mengantarkan gadis itu pulang adalah favoritnya setiap hari, sementara Aurelia bilang selalu sedih meninggalkan lelaki itu. Betapa romantisnya tatkala Jamie melamar Aurelia dan susah payah belajar bahasa Portugis, sementara gadis itu ternyata juga sudah belajar bahasa Inggris. 3. Keterusterangan Mark melalui tulisan di kartu pada malam Natal di ambang pintu Juliet. "To me you are perfect," wow. Dan ini tidak berlanjut menjadi sebuah affair. 4. Tangisan Karen di kamar ketika mengetahui bahwa kalung yang dibelikan suaminya bukan untuk dirinya. Ikut sedih dan tertekan karena ia harus menyembunyikan luka itu dari anak-anaknya. Tidak heran bila Emma Thompson menyabet Empire Award for Best British Actress dan Evening Standard British Film Award for Best Actress untuk aktingnya di film ini. 5. Kegelisahan Perdana Menteri yang menyadari dirinya menaruh hati pada bawahannya. Hugh Grant mengekspresikan hal itu dengan baik sekali. 6. Dialog Daniel (Liam Neeson) dengan anak tirinya yang sangat akrab. Dengan sabar ia membiarkan Sam berlatih drum di kamar. Sam tanpa ragu bertanya, "Bagaimana kehidupan cintamu sendiri?" kemudian Daniel mengatakan, "Kalau Claudia Schiffer meneleponku, aku terpaksa harus mengusirmu dan kau akan jadi gelandangan." Minus: 1. Kisah Sarah (Laura Linney) dan Karl (Rodrigo Santoro) menyebalkan. Sedih banget karena seluruh isi kantor, termasuk bos dan si lelaki itu sendiri, sudah tahu perasaan cintanya serta menunjukkan tanda-tanda memiliki rasa serupa tetapi tak dapat berbuat apa pun kecuali memendamnya. 2. Pemotongan di sana-sini. Memang agak kagok menayangkan film ini di televisi pada jam 18.30. Tetapi bila belum pernah nonton, kita takkan tahu bahwa kekasih Jamie berselingkuh dengan saudaranya sendiri sehingga ia memutuskan pergi ke Prancis sebelum bertemu Aurelia. Kisah Colin yang berambisi menjadi dewa seks di Amerika pun sebaiknya dipotong habis saja karena jadi sangat membingungkan, sedangkan ditampilkan utuh memang tak mungkin. 
 Selain Adam Sandler, saya paling males nonton Ben Stiller. Alasannya: film komedi selalu bertaburan adegan jorok. Sandler masih mending, saya mau nonton Click dan Anger Management (dengan mempercepat beberapa bagian). Juga Water Boy dan Mr. Deeds. Tapi saya memalingkan muka dari Meet the Parents dan Meet the Fockers karena nggak tahan lihat Ben Stiller jadi objek penderita. Cukuplah Donal Bebek saja yang selalu apes.
Along Came Polly pernah saya tonton di DVD. Lumayanlah, di sini Jennifer Aniston memainkan karakter yang agak beda dibandingkan Picture Perfect dan Rumors. Tak lagi perempuan bingung karena masalah cinta. Bukan berarti saya bersedia menyimak penuh. Semalam saya pencet remote beberapa kali dan terpaksa nonton launching sebuah stasiun TV baru meskipun harus lihat penyanyi-penyanyi yang tidak saya sukai.
Film ini tidak seluruhnya buruk, malah Hank Azaria sukses memerankan instruktur selam Prancis (walaupun saya lebih suka Kevin Kline di French Kiss). Kalimat yang dilontarkan Reuben kepada Polly cukup nendang, "Kalau kamu pergi ke Cincinnati, Tanzania, atau kemana pun, bagaimana bisa tahu kelanjutan hubungan ini?"
Yang menyita perhatian justru Philip Seymour Hoffman, pemeran Sandy mantan bintang film dan sahabat Reuben. Saya ikut terpaku ketika ia ditegur ayah Reuben, "Kamu bermain dalam satu film dan itu sudah lama sekali..." (dan seterusnya). Teguran yang kemudian menggugah kesadaran Reuben untuk berkata pada Lisa, mantan istri yang mengkhianatinya, "Seharusnya aku tak memintamu datang karena aku tak akan kembali bersamamu."
sumber foto: wikipedia

     | Hitch | Feb 14, '08 8:14 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Alasan saya menonton ulang film ini di Trans TV dan menerobos jam malam (tamatnya hampir jam 12 karena iklan segambreng) adalah: 1. Will Smith adalah aktor favorit saya, bahkan paling favorit di jajaran bintang film Hollywood seangkatannya 2. Waktu pinjam DVDnya beberapa tahun lalu, saya belum nonton bagian awalnya. Karena ini bukan film baru, saya tidak akan mencuplik ceritanya. Tetapi langsung pada catatan-catatan khusus keistimewaan Hitch di mata saya. 1. Tema yang sederhana menjadi luar biasa. Hitch bukan sekadar mak comblang (atau istilahnya date doctor), tetapi konsultan yang berkarakter. Ia tidak mau melayani klien yang sekadar mencari pasangan one night stand, tetapi hanya mereka yang benar-benar jatuh cinta. 2. Tidak ada adegan menjijikkan, seperti kebanyakan film komedi lainnya, antara lain 'Along Came Polly' yang saya tonton sebelumnya di stasiun TV lain. 3. Romantisme bagi pasangan yang sudah dewasa dapat dinyatakan dengan banyak hal. Saya ikut terharu saat Sara Melas terisak menghadapi tanda tangan kakek buyutnya (walaupun suara tangisnya agak aneh), melonjak senang saat ia menerima bingkisan berisi sejenis walkie-talkie, tersenyum menyimak dialog yang tidak 'to the point' di kafe. 4. Adegan slapstick ditempatkan dengan halus dan proporsional. Lucu banget deh waktu Albert Brenneman joget-joget, panik saat menelepon Allegra dan ternyata langsung diangkat, rebutan memberikan pulpen sampai menjepit tangan bosnya, dan menarik isi jambangan sampai berhamburan dan membuatnya terjungkal. 5. Pertengkaran Sara dengan Hitch menunjukkan betapa kita gemar mengungkit kekurangan pasangan. "Dengan senang hati aku akan mengajakmu makan di restoran sea food!" sembur Sara. "Kenapa tidak kau ambil pisaumu, Tukang Jagal?" Hitch tak kalah sengit. 6. Para karakternya, termasuk Allegra Cole, ditampilkan sangat manusiawi. Ia malu karena tak bisa bersiul dan dansa. Hitch tetap gelagapan mengutarakan isi hatinya kepada Sara, sebaliknya Sara memaki dirinya sendiri di balik bantal sofa ketika mendapati Hitch pergi di pagi hari dan mengira ia tidak akan datang lagi. 7. Kalimat Hitch yang menyentuh tatkala menghadapi Sara di acara temu jodoh. "Inilah yang membuat jatuh cinta begitu sulit." Kemudian sebuah penekanan, "Because of that man, I had a job. HAD a job!" Juga perselisihannya dengan Albert. "Love is my life," ujar Hitch. "No, love is your job!" tampik Albert. 8. Kekontrasan yang memukau antara dua profesi. Sara bertugas mengungkap 'kebenaran' (ala kolumnis gosip) sedangkan kode etik pekerjaan Hitch mengharuskannya merahasiakan klien-kliennya. 9. Unsur-unsur pengetahuan Hitch mengenai wanita jauh lebih mengena dibandingkan karakter Mel Gibson dalam 'What Women Want'. Wanita akan merasakan jika pasangannya tidak fokus, wanita ingin didengarkan, wanita ingin ditanggapi. 10. Eva Mendes adalah pasangan paling 'sempurna' untuk Will Smith (selain Denzel Washington di sebuah film yang saya lupa judulnya). Inilah film mereka berdua yang paling merebut hati saya. Bahkan adegan penutupnya yang ceria membuat Hitch super spesial. sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Hitch_(film) 
 Saya jarang nonton film baru. Tentang Hallyu (film Korea) sudah banyak dibahas, jadi saya akan cerita tentang film Hollywood, Hongkong dan Taiwan yang pernah ditonton saja.
1. Swordfish. Daya tarik utamanya terletak pada karakter seorang hacker.
2. Basic. Kombinasi keren John Travolta dan Samuel L Jackson. Misterinya membuat film berbau militer ini mengasyikkan.
3. 10 Things I Hate About You. Betapa kompaknya Heath Ledger dan Julia Stiles. Adegan favorit: Legder menyanyikan Can't Take My Eyes Off of You.
4. 16 Blocks. Bruce Willis tampil berbeda, dan film bersetting cerita yang pendek selalu menarik untuk diikuti.
5. Crimson Rivers. Ada Jean Reno dan thriller.
6. Hide and Seek. Robert de Niro jadi orang 'sakit', itu biasa. Tapi berkepribadian ganda? Oke banget.
7. Anna and the King. Duet indah Chow Yun-fat dan Jodie Foster.
8. As Good as It Gets. Jack Nicholson sebagai penulis eksentrik.
9. Anger Management. Film Adam Sandler yang paling menarik buat saya. Nggak bosen-bosen nonton dan nyanyi, "I feel happy.."
10. Carlito's Way. Ending tak terlupakan.
11. Dodgeball. Asyik buat ditonton sekeluarga:-)
12. Erin Brockovich. Julia Roberts terjun di bidang hukum.
13. Face Off. John Travolta sebagai pria baik-baik, mesti ditonton.
14. Gossip. Bertabur bintang, mengandung teka-teki.
15. Identity. Thriller psikologis yang mempesona.
16. John Q. Denzel Washington mengukuhkan citranya sebagai family man.
17. A Nightmare on Elm Street. Sukses bikin saya jadi penakut:p
18. Interview with the Vampire. Tom Cruise sebagai antagonis, jarang-jarang:-)
19. Wishmaster. Lumayan bikin mikir untuk penyelesaiannya.
20. The Faculty. Teka-tekinya yang oke, juga ide unik bahwa narkotika bisa mendeteksi alien.
21. Panic Room. Jodie Foster dan perkembangan ide dari satu poin. Luar biasa.
22. Love Actually. Paling menawan: Keira Knightley.
23. Lucky Number Slevin. Bruce Willis dan penuh kejutan.
24. Matchstick Men. Mengharukannya Nicholas Cage.
25. Michael. Lagi-lagi John Travolta memikat hati.
26. Salem's Lot. Stephen King memang juara.
27. Something's Gotta Give. Keanu Reeves kalah, horeeee!!
28. Wicker Park. Jlimetnya tidak memusingkan, malah mengundang penasaran.
Yang belum ketonton juga: Hero, Unbreakable, Ronin, The Jackal
foto: wikipedia 
    | Pursued | Feb 5, '08 9:16 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Nonton di Global TV, 5 Februari 2008, jam 20.00
Jasa headhunter biasa digunakan perusahaan-perusahaan untuk mencari eksekutif yang cocok menduduki jabatan tertentu. Dalam film yang diproduseri Andrew Stevens ini, Vincent Palmer (Christian Slater) menggunakan segala cara dengan penafsirannya sendiri. Ia menekan, mengintai, mengintimidasi, mengancam, dan berbuat lebih parah daripada kekasih gelap yang diputuskan ataupun seorang penggemar yang membuntuti idolanya.
Sasarannya adalah Ben Keats (Gil Bellow), pakar teknologi yang melejit dengan temuannya dan mengembangkan perusahaan VizTrax bersama mitranya, Franklin (Michael Clarke-Duncan). Vincent melamar Ben untuk RazNet dengan iming-iming kompensasi menggiurkan, akan tetapi pria itu sangat loyal pada bisnis yang dirintisnya. Karena tak mau diabaikan, Vincent mengincar keluarga Ben. Ia mendekati istrinya, Emily (Estella Warren) dan putrinya, Alison, serta merebut hati mereka dengan berbagai hadiah seraya meyakinkan bahwa masa depan gemilang Ben akan tercapai jika bergabung dengan RazNet.
Tatkala Ben meradang, Vincent tetap bermuka manis dan melakukan aneka strategi. Ia menyebarkan gosip dalam VizTrax sehingga Ben dan timnya saling mencurigai. Bahkan Ben memecat sekretarisnya yang telah bekerja selama 6 tahun dan menyangka Emily tidur dengan Vincent. Belakangan terungkap bahwa Vincent menderita kelainan jiwa yang sangat kronis dan melakukan tindakan-tindakan sadis untuk mencapai keinginannya, antara lain membunuh istri John Blakely, seorang eksekutif yang didekatinya sebelum ini. Ia mengetahui segala kelemahan Ben, termasuk kesulitan keuangan dalam keluarganya, penyakit yang diderita Franklin, sampai konsep teknologi baru yang dirancangnya di VizTrax.
Siapa kaki-tangan Vincent di VizTrax dan benda-benda yang digunakannya untuk menyelipkan video pengintai dapat diterka. Agaknya film action-thriller ini disuguhkan secara terbuka sehingga ketegangan berpusat pada upaya Ben melepaskan diri dan menyelamatkan keluarganya dari kekejaman Vincent. Sangat menarik menyimak penampilan Christian Slater sebagai seorang voyeur, sedikit menggelikan dan ironis karena Vincet dapat mendeteksi keberadaan Ben yang menggagas teknologi mencari orang hilang.
Selain genrenya, keasyikan Pursued bagi saya terletak pada hal-hal berbau teknologi komputer di dalamnya. Unsur sains cukup proporsional, dengan banyak pelajaran mengenai politik dalam bisnis.
foto: imdb.com 
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Tiga kali film ini diputar di televisi, tiga kali itu pula saya menontonnya tanpa merasa bosan. Blood Work, yang disutradarai Clint Eastwood (merangkap pemeran utama), diangkat dari novel berjudul sama karangan Michael Connelly, peraih Edgar Award. Film misteri-thriller ini menghantarkan Eastwood menyabet Future Film Festival Digital Award di Venice Film Festival. Alkisah seorang mantan agen FBI bernama Terry McCaleb, yang kini menjadi Sheriff. Ia menyelidiki pembunuhan terhadap dua orang yang terjadi dalam waktu berdekatan. Saudara salah satu korban, Graciella Rivers (Wanda de Jesus) bahkan mendatanginya untuk mencari tahu lebih banyak. Saudaranya itu, Gloria, ditembak di sebuah toko saat berbelanja. Bersama tetangganya yang juga menetap di kapal, Buddy (Jeff Daniels), Terry perlahan mengetahui bahwa pelaku tidak bermaksud merampok. Dibantu sahabatnya, Detektif Jaye Winston, Terry mengumpulkan data-data untuk membongkar tujuan si pembunuh sebenarnya. Ternyata di antara mereka ada kaitan di masa lalu. Terry pun menemukan kesamaan perilaku kedua korban, yang secara langsung berpengaruh pada dirinya. Ia tak peduli kesehatannya mundur dan ditegur oleh sang dokter (Anjelica Huston). Apalagi Terry mengetahui bahwa jantung Gloria didonorkan pada dirinya. Motif yang 'aneh' senantiasa menjadi daya pikat dalam sebuah film thriller. Seringkali si pelaku sebenarnya berseliweran di depan hidung pencarinya. foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Blood_Work_(film) 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Adalah seorang gadis dari kota kecil, Donna Jensen (Gwyneth Paltrow), yang bermimpi meraih masa depan di tempat lain. Harapannya sempat kandas setelah sang kekasih, yang akan membawanya ke luar kota, memutuskannya pada hari ulang tahun. Donna nyaris tenggelam dalam keputusasaan tatkala menonton talkshow mengenai Sally Weston (Candice Bergen), seorang pramugari senior di TV sebuah kafe. Buku karangan Sally (inilah salah satu pesona film ini) menggugah semangat hidup Donna untuk memberanikan diri menggapai cita-citanya kembali. Ia merintis sebagai pramugari sebuah maskapai kecil, tempatnya berkenalan dengan Sherry (Kelly Preston, istri John Travolta yang tetap cantik jelita) dan Christine (Christina Applegate). Ketiganya memburu karir yang lebih baik di maskapai besar Royal Airlines, tempat Sally bekerja. Kendati gagal dalam ujian di luar dugaannya, Donna mengecap kebahagiaan bersama Ted Stewart (Mark Ruffalo), seorang mahasiswa sekolah hukum di Cleveland. Pertemuannya kembali dengan Christine menyadarkan Donna bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada ujiannya terdahulu. Banyak sekali pelajaran moral dari film yang mengetengahkan tahap realisasi impian ini. Itulah sebabnya saya bela-belain nonton di Global beberapa hari yang lalu (pernah nonton di DVD pinjaman, tapi harus dikembalikan sebelum selesai). Hikmah tersebut antara lain: 1. Jangan takut bermimpi, sesuai tagline film ini "Don't stop till you reach the top." 2. Kehati-hatian, etika dan tatakrama sangat penting dalam pekerjaan apa pun. Sungguh mengerikan saat Christine dengan leluasa meraup barang-barang milik perusahaan padahal hal tersebut jelas dilarang dalam buku panduan pegawai yang sangat ketat. Walau agak menggelikan, sikap Sherry yang menyinggung perasaan John Whitney (Mike Myers) dalam wawancara melontarkannya ke luar jalur yang seharusnya ia tapaki. 3. Impian sebesar apa pun harus dimulai dari nol. Karena itulah, Donna bersedia mengawali karir di maskapai kecil. 4. Profesionalisme, di mana pun kita berada. Seperti John Whitney yang tidak dapat menjadi pramugara karena kelainan mata meskipun hasil tesnya gemilang dan Donna yang berhasil menjadi Employee of the Month saat masih bertugas di Royal Express Cleveland. 5. Hati-hati mencerna pesan seseorang. Donna menduga ia harus 'menyingkirkan' Ted yang dicintainya demi kesuksesan, padahal Sally mengatakan, "Every pilot needs a co-pilot." Maka dengan penuh pengertian, Sally menggantikan shift Donna agar gadis itu dapat segera menjumpai Ted. 6. Selalu ada jalan tengah yang terbaik untuk semua pihak bila kita mau realistis dan menyadari apa yang terpenting bagi diri sendiri. Penutup film ini menawarkan jalan keluar yang mengesankan bagi Donna dan Ted. Tetap berkarir dan berbahagia. View from the Top bukan film yang menyarankan seorang wanita menjadi egois untuk merengkuh cita-citanya. Melalui keluarga Ted yang hangat, Donna memahami bahwa ada rumah yang penuh cinta dan tidak dihiasi perselisihan seperti ibunya dengan ayah tirinya dulu. Catatan khusus: Mark Ruffalo tampaknya berbakat menjadi pria baik hati yang ditinggalkan sejenak untuk kemudian diraih kembali. Ini sudah ketiga kalinya, setelah 13 Going 30 dan Rumors. Mike Myers luar biasa. Saya tidak tahan menonton ulahnya di Austin Powers, namun karakter John Whitney dimainkannya dengan cemerlang. Instruktur yang cerdas, tegas, sekaligus pasien terapi Anger Management yang tiap kali meledak langsung membunyikan lonceng kecil dan berkata lembut, "I'm a little bird.." sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/View_from_the_top
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
PERINGATAN: mengandung bocoran
Tanpa bocoran ini, film The Return akan sukar dimengerti. Sarah Michelle Gellar memerankan Joanna, seorang sales representative perusahaan produsen truk yang berkeliling dari kota ke kota. Karirnya terbilang sukses, namun tidak dengan kehidupan pribadinya. Joanna diteror oleh Kurt (yang dalam sinopsis disebut-sebut sebagai mantan pacarnya), saingannya di kantor. Ia juga kerap mendapat bayangan mengerikan mengenai seorang pria misterius yang suka mengintai dan membuatnya melukai diri sendiri dengan torehan pisau lipat. Kebiasaan ini terjadi sejak Joanna berumur 11 tahun sehingga ia tak bisa dekat dengan sang ayah.
Setelah sukses melakukan suatu transaksi bisnis, Joanna mendatangi La Salle, Texas. Ia pernah tinggal di sana sewaktu masih kecil dan mendapati tempat-tempat yang familiar dengan bayangannya selama ini, termasuk gambar kuda laut dalam sketsa yang merupakan bagian penting di tempat kejadian. Gudang pertanian di rumah Terry Stahl (Peter O'Brien), pria yang dikenalnya di bar dan menolongnya dari ancaman pemerkosaan Kurt. Terry dikucilkan oleh masyarakat sekitar karena diduga membunuh istrinya sendiri, Annie, lima belas tahun silam.
Di gudang itu, bayangan Joanna bertambah utuh. Annie dibunuh oleh seorang pria, tepat seperti orang yang membuntuti dan memanggilnya 'Sunshine' selama ini. Bagaimana ia bisa tahu padahal tidak saling mengenal? Pada malam Terry membawa Annie yang sekarat ke rumah sakit, mobil yang dilarikannya menabrak mobil lain yang tengah berhenti di sebuah persimpangan jalan. Mobil itu milik ayah Joanna, dan di dalamnya Joanna kecil tengah meregang nyawa akibat suatu penyakit (kemungkinan demam). Keduanya meninggal pada saat bersamaan, namun arwah Annie menitis ke raga Joanna sehingga ia kembali hidup dan menuntaskan persoalannya dengan si pembunuh di La Salle.
Penjelasan keterkaitan Annie dengan Joanna ini cukup menarik, akan tetapi banyak hal yang terabaikan dalam The Return. Pertama, motif si pembunuh tetap menjadi tanda tanya. Apakah dia sekadar iseng membunuh perempuan cantik yang mengabaikan sapaannya di jalan? Kedua, Terry sekarang dan 15 tahun lalu sama sekali tak terlihat berbeda. Ketiga, tidak ada dialog atau adegan yang menerangkan bahwa Kurt adalah mantan kekasih Joanna. Namun yang paling mengesalkan, mengapa seseorang atau karakter utama dalam film (yang kebetulan wanita pula) selalu berlari ke tempat gelap yang kemudian malah mengurungnya ketika dikejar orang jahat? Kalau dua saja dari tiga poin yang mengganggu di atas dibuat logis, maka The Return berhak mendapat lima bintang.
sumber foto: wikipedia 
 Di samping kaset lagu Barat, berlangganan video silat klasik Hongkong berkontribusi besar dalam pengenalan bahasa Inggris ketika saya masih duduk di bangku SD. Awalnya selera persewaan ini mengikuti usul adik saya, yaitu film seri Jepang. Megaloman lah, Goggle Five lah, Lion Man lah.
Nonton silat Hongkong adalah aktivitas keluarga yang menyenangkan. Saya mengira bahasa Inggris yang bagus dan fasih itu diucapkan sendiri oleh para pemainnya, dan baru ngeh saat nonton film seorang pendeta konyol Chi Kung yang pake bahasa asli. Saking seriusnya, saya megang kipas dan menirukan peragaan adegan tarung Miao Chiao Wei sebagai Chor Lau Heung si Pendekar Harum (bukan versi Adam Cheung). Kami semua terpukau oleh aktor dan aktris yang tetap rapi make-up serta asesoris rambutnya walaupun sudah terbang melayang dan berciat-ciat dengan pedang. Gemas melihat polah Tony Leung di The Duke and Mount Deer, kesal ketika sebuah film diperpanjang karena karakter yang diperankan Moon Lee mendadak ada kembarannya (cikal bakal sinetron Indonesia nih), pula saat seorang perempuan memerankan laki-laki dalam Yang's Saga. Paling seru waktu suatu hari Minggu, kami sekeluarga nonton sebuah seri pendekar golok (pokoknya ingetnya si jagoan bernama Wu Yat Do) sampai tamat episode ke-20. Hujan turun seharian jadi nggak ke mana-mana.
Salah satu dampak nonton serial klasik Hongkong pada saya adalah doyan mi bakso. Kalo bisa, di depan layar TV sambil makan mi juga. Jadi meresapi:p
Kegemaran ini tak berlanjut sampai sekarang. Nggak kuat lagi nonton berseri-seri. Tapi masih suka yang klasik.
foto: House of Flying Dagger 
| |