Rini's posts with tag: freelance
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 ..il y a trés longtemps que je ne fais la siéste. Il fait plus froid de jour en jour, mais je dois toujours faire le ménage. Pas d’excuse.
Il y a presque une semaine que je quitte une révision. Heureusement, j’ai encore du temps pour lire (avant coucher), mais jamais pour écrire. Je me trouve assez difficile de concentrer à des pages d’un livre. Une silence est tellement mon besoin.
Il faut arranger mieux mon emploi du temps. Je suis en train de penser à mes boulouts, puis un neveu va venir chez nous dans deux jours. Plus d’attention, certainement, car il devra finir le plus tôt que possible un grand devoir: son mémoire.
sumber foto: sxc.hu 
 ..saya bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Kemarin sore, sedang membaca ulang draft yang harus direvisi berikut pengarahannya, seorang sahabat menelepon. Kemudian ponsel saya tinggalkan di ruang tamu.
"Kamu reject? Sadis juga," kata Mas Agus. Saya angkat bahu. Sahabat tersebut sangat paham bahwa saya jungkir balik mengatur waktu. Apalagi kemarin ada empat undangan khitanan di tempat yang sangat berdekatan, ditambah musik dangdut hingar-bingar sampai sore dan bikin kami tak bisa istirahat apalagi kerja. Masih untung saya bisa bantu Mas Agus cari bahan. Tidur? Lupakan.
Saat saya telepon kembali, sahabat tadi tentu saja sangat mengerti. Ia bahkan tertawa-tawa dan kami saling ledek mengenai RBT masing-masing (namanya juga gratisan).
Mas Agus sendiri balapan dengan waktu. Walau badan pegel abis nyuci segudang, habis Maghrib ia harus meluncur ke rumah klien. Telepon berdering dari teman sekampung yang ingin berkunjung, ia tak sampai hati menolak. Jadilah iring-iringan habis Isya, yang buntutnya tetap saja membicarakan pekerjaan juga:p
Soal persadisan, sebenarnya dialah yang memberikan 'contoh' untuk berlaku tega di saat-saat tertentu. Misalnya seorang teman lama (ngakunya) yang mencoba bergurau melalui SMS ke nomor Mas Agus kemarin. Dijawab: siapa ini? Teman itu masih bercanda, menganggap Mas Agus pura-pura lupa. Diketiklah jawaban 'Mun teu nyebutkeun ngaran, moal diwaro deui' (Kalo nggak nyebutin nama, nggak akan ditanggepin lagi). Sinyal tegas itu tak ditangkap. Begitu melihat pesan bernada kelakar lagi, Mas Agus langsung menghapus semua SMS dari nomor bersangkutan. "Dadah.." katanya, kemudian berpaling ke meja kerja. "Mengganggu orang sibuk."
sumber foto: sxc.hu 
 Alhamdulillah, draft saya tak dikembalikan. Cukup dengan catatan singkat yang saya pahami. Suka serem membayangkan draft itu di-resend, ingat cerita guru-guru di Malory Towers yang mengembalikan PR sampai dikerjakan dengan benar..
Merenung semalaman, memikirkan saran-saran untuk mengubah sedikit naskah itu. Sedikit, tapi harus mikir keras. Ada panggung manten sunat dekat rumah, semoga tak bising seharian. Mana mungkin saya minta pengertian hanya karena seorang pekerja tak lazim (baca: freelancer) butuh konsentrasi di hari Minggu. Besok bersih-bersih rumah, kakak dari Demak hendak berkunjung. Rencananya, Mama juga.
Bantu Mas Agus nyuci dulu, kali ya..
sumber foto: sxc.hu 
 Tadinya, saya sering merasa bersalah kalau ngejogrok di depan komputer pagi-pagi. Apalagi jika piring dan baju kotor menanti. Tapi terkadang sore hari saya ingin keluar atau sekadar nangkring di teras sambil istirahat. Kerja malem? Jauh-jauh, deh.
Belakangan ini saya mengubah jadwal. Masak dilakukan sore hari, kadang malam. Asyik juga makan malem dadakan, anget-anget dan nggak bikin males. Tidur jadi lebih lelap, meskipun bangun paginya udah laper berat lagi..:p
Dengan demikian, saya bisa menulis di pagi hari. Siang juga, kalo mau. Pikiran tidak terbelah-belah. Seperti pagi ini, satu revisi sudah kelar. Revisi selanjutnya nanti siang, insyaAllah.
sumber foto: sxc.hu 
 Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera. Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.
Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain. 
Sering saya membaca atau mendengar pernyataan Perempuan lebih suka dibohongi. Sebenarnya, menurut saya, manusia pada dasarnya tak suka mendengar kebenaran. Baik yang benar-benar pahit bagi semua pihak, maupun yang pahit bagi dirinya karena menyenangkan bagi orang lain.
Ini pun terkait soal kerja, hal yang cukup sering ditanyakan kepada saya dan Mas Agus. Baru-baru ini Mas Agus menjawab dengan jujur, "Saya jualan teh botol." Dia tidak bohong, benar-benar naro teh botol satu krat di sebuah bengkel di kota sebelah utara sana. Namun pandangan dan pertanyaan berikutnya meluncurkan ketidakpuasan serta ketidakpercayaan. "Masa sih? Masa sarjana jualan teh botol?" Seolah-olah jualan teh botol itu haram dan melanggar hukum.
Menyangkut bengkel, itu juga menggelikan. Mas Agus mengelolanya bersama beberapa teman, walaupun ia menolak keras disebut pemilik. Melihat bengkel tersebut ramai pengunjung sejak hari pertama dibuka, seseorang yang cukup dekat berkomentar, "Wah, kapan nih 'gajian', Gus?"
Kemarin dia memasang pompa air baru di rumah Mama yang dikontrakkan. Ibu penyewa memperhatikan Mas Agus bolak-balik meminta adik saya mengambil obeng dan alat lainnya di dalam tas (tasnya tuh gede kayak mahasiswa S2 atau tugas belajar gitu), dan bingung. "Wah, isinya apa aja, Mas? Komplit banget." Doraemon kale..
Dunia memang aneh. Kalo nggak aneh, nggak rame kali ya.
 | Mabal | Jun 19, '08 8:30 PM for everyone |
 Istilah populernya, bolos. Dulu, ada teman kuliah yang tak pernah muncul di kampus sampai berhari-hari. Tak jelas alasannya. Dia bilang bahwa orangtuanya tidak mempertanyakan sebab ia selalu ada di rumah. Teman KKN saya tak pernah meninggalkan tempat kosnya pada hari-hari UTS atau minggu tenang. Dia bilang, "Nggak belajar nggak apa-apa, asal jangan keluyuran."
Sikap saya setali tiga uang. Satu-dua kali saudara atau kerabat mengajak ketemuan atau pergi bareng ke suatu acara, saya jawab, "Nggak bisa. Ada kerjaan/deadline." Ketika ia menelepon dan bertanya, "Kamu lagi ngapain, Rin?" terkadang saya sedang tidur, nyuci baju, atau baca buku. Apa saja, pokoknya bukan sedang main. Biar tidak merasa terlalu bersalah:p
sumber foto: sxc.hu 
 Di samping ngoprek komputer, hobi saya lainnya yang tak terlalu berkaitan dengan tulis-menulis adalah otak-atik ponsel. Seperti halnya komputer, saya gagap berurusan dengan hardware. Berani membuka baterai (jika ponsel hang) atau mengganti simcard pun setelah sebuah ponsel berumur lebih dari enam bulan di tangan kami.
Saya pernah menekuni hobi ini dengan amat serius. Siemens M55 saya sampai habis dicincang karena ganti casing transparan, error phonebooknya (entry hilang semua tanpa sebab), dan saya mengalami 'kecelakaan' karena salah membidik kamera bawaannya sehingga blitz mengenai mata. Lumayan tuh, ongkos ke dokter bolak-balik. Ditambah obat tetesnya yang bikin nangis guling-guling karena kesakitan.
Sekitar 3 tahun lalu, minat pada bidang ini mereda. Saya mulai keteter dan kebalap ponakan-ponakan dalam urusan pergigibiruan (bluetooth maksudnya), infra merah, Java, Symbian, dan seterusnya. Mereka terus bereksperimen, sampai menginstall software khusus pengusir nyamuk segala. Bahkan belum lama ini si Tengah memperoleh software Bluetooth Hack yang dapat mengendalikan ponsel orang lain (dalam jarak dekat) dan menguras habis pulsanya untuk telepon serta membaca inbox SMSnya.
Saya dan Mas Agus terlanjur menapakkan sebelah kaki di dunia satu ini. Saat ramai registrasi kartu perdana, saya duduk di depan meja dengan ponsel berjejer di rumah sepupu. Penghuni rumah ada enam orang dan masing-masing punya ponsel lebih dari satu. Kebayang deh jereng mata dan pegelnya meregistrasi satu demi satu, apalagi tiap operator memiliki format berbeda. Ada yang kasih nomor registrasi, ada yang tidak. Tapi seneng juga sih, dapat imbalan spaghetti dan JCo..hehehe..
Dalam perjalanan ke Jakarta April lalu, kedua teman Mama spontan meneriakkan nama saya untuk urusan Combo nomor masing-masing. Alamak..kesannya kita tahu segala, deh. Udah biasa banget ditelepon atau SMS saudara, teman atau Mama dengan kalimat, "Hpku anu anu anu..kenapa ya?"
Makin sulit menjauhkan diri ketika baru-baru ini seorang relasi yang sudah akrab sekali meminta saya memeriksakan GPRS di PDA-nya. Ia tak mau tahu saya sudah amnesia dengan oprekan PDA itu, katanya, "Kan dulu sukses connect juga sama Rini." Pengen menciut jadi miniatur dan kabur..tapi oke, deh. Otak-atik gatewaynya, berhasil.
Beberapa hari belakangan saya dan Mas Agus dapat pekerjaan berbau lapangan (halah) untuk tes koneksi Internet dengan beberapa kartu CDMA untuk keperluan seorang klien. Mondar-mandir ke service dan CSR, telepon sampai panas, nguping pelanggan lain kalau-kalau masalahnya sama, kembung deh nyedot AC yang bikin mata perih. Saya sering ngerem di 'lab' (sok gaya banget:p), membandingkan kecepatan kartu A dan kartu B. Ponsel dan kabel berserakan. Untuk urusan ini, saya bisa tahan melek sampai hampir pagi. Lupa waktu, kayak kalau asyik baca dan nulis. Semua perangkat boleh dibawa pulang karena akan lebih meyakinkan mengujinya di tempat kami yang mirip gua lantaran susah sinyal. Lagipula saya nggak akan bisa konsentrasi di tempat lain. Suara printer aja bisa bikin kesel kalau sedang fokus mendengarkan pengarahan operator.
Seru juga sih, buat penyegaran dan ngasah otak. Tinggal bagian yang paling males, bikin laporan. Catatan saya bertebaran, harus dikumpulkan lagi deh.. 
..karena pemadaman bergilir. Hari ini meluncur pagi-pagi ke Jatinangor, dan...tebakan saya tepat. Mati lampu lagee..
Dua pekan ini jadwal rutin saya berubah total. Kerja malem-malem, selain males dan nggak biasa, sebenarnya nggak menghemat energi juga. Padahal yang digarap tuh setrikaan..masak nasi..dan sebagainya yang membutuhkan listrik. Ga nahan juga kalo melek sampai midnight mulu, sempet ambruk soalnya.
Akhirnya diubah, bangun jam 3 pagi dan memulai rutinitas rumah..nyuci, cuci piring, masak nasi (ini paling vital, kalo beli mulu bisa tekor!), berkomputer-ria, ngecharge HP, dsb..dsb.. Seperti tadi pagi, dinihari sudah 'nemenin' Mas Agus yang kerja sambil nonton F1 
Apa boleh buat, deh. Semoga darah rendah nggak kambuh di saat-saat serba genting begini. Kalo masuk angin sih, biasa..heheheh..
 Setelah sempat mengalami hang yang lumayan beberapa hari lamanya, tampaknya otak saya tak butek lagi. Tanda-tandanya sbb:
1. Sudah bisa ketawa ketika membaca ulang Anak Kos Dodol. 2. Sudah bisa menikmati baca novel tebal. Percobaan awal, Pangeran Diponegoro-nya Remy Sylado. Dapet dua bab pagi ini. 3. Sudah bisa menulis dan menguntai ide lagi, walaupun baru dihimpun di kepala. Biarkan Dynabook menikmati cutinya, hehehe..(alesan:p) 4. Sudah enak makan dan tidur 5. Sudah bisa mendengarkan curhat si Tengah yang tergila-gila film Ayat-ayat Cinta dan terus mengutip dialog, "Kamu percaya jodoh, Fahri?" untuk ke-1500 kalinya. 6. Sudah menamatkan nonton VCD Postman Pat yang baru diliat setengahnya (melirik Uci).
Alhamdulillah, tidak sia-sia mengarungi siang dan malam untuk...jalan-jalan berdua (kikikik..). Ditambah beberapa masa dalam kesenyapan, tiada dering telepon tak diundang, SMS iklan yang bikin kepala panas dan kepengen banting HP (seolah-olah duit tinggal meraup di kolong meja), bahkan tayangan TV yang sampai kini masih nginep di tempat service. Senangnya hatiku, turun panas demamku..
sumber foto: sxc.hu 
 Pukul 9.45 Waktu Indonesia Bagian Manglayang, Mas Agus sudah meringkuk nyaman. Jam 5.45 tadi dia meluncur ketemu klien, dan kembali pukul 7.30 menenteng beras. Seperti nasihat mas kami yang sulung, "Tangine gasik, ben rejekine ora ilang."
Sebelum lelap, ia merangkai dialog imajiner sebagai berikut. "Kerjanya jam berapa?" "Dari pagi, pulang pagi lagi..di hari yang sama." "Dua puluh empat jam?" "Dua puluh empat menit." (baca: keluar dari rumah klien)
Usai sarapan, terima telepon dari klien satunya. Sementara saya cuci piring, dia masak. Terus..terjun bebas deh ke tempat tidur.
Indahnya hidup ini. Versi Mas Agus, "Uenak-e puolll!" 
 Senin mendatang, 28 April, adalah hari lahir seorang wanita yang cukup penting dalam kehidupan kami.
Beliau yang membiasakan para keponakan terhadap ritme kerja saya dan Mas Agus di rumah, kendati orangtua mereka pun tak lagi berpayung di bawah satu perusahaan. Saya ingat setiap kali si Tengah terlihat duduk di samping saya, beliau akan bertanya, "Meis, kamu sudah tanya apakah Tante Ade sedang sibuk?" atau "Tante Ade sedang kerja, Meis, bukan main. Sedang business (demikian beliau melafalkan kata bisnis)."
Sekali waktu, saya berkutat di depan komputer dalam keremangan. Mendadak beliau muncul dari dalam rumah dan menyalakan lampu meja, lalu berkata tegas, "Kamu mau mata kamu rusak?" Kali lain, ketika saya dan Mas Agus membelikan keponakan-keponakan nasi goreng, beliau berkomentar, "Kenapa jajan-jajan terus? Lebih baik simpan uangnya, untuk beli rumah."
Walaupun usianya sudah sepuh, beliau senantiasa menjadi teman diskusi yang menyenangkan soal pekerjaan. Saat saya sakit dan tenggat tak terkejar, disarankannya untuk tidak ragu mengontak klien dan meminta perpanjangan waktu. Tatkala terjemahan selesai dicetak, beliau membuka halaman-halaman yang ditata rapi dan tersenyum penuh kelegaan.
Menurut kakak sepupu saya, menjelang wafatnya pun beliau masih mencemaskan kami. Katanya, "Mereka berdua itu punya potensi, tapi belum 'berbunga'."
Kini, di rumah ini, saya terkenang dan merasa rindu kepada beliau. Mungkin suatu hari kelak, jika mental sudah siap, saya akan mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya di kota sebelah.
Mama, doamu sudah terkabul.
sumber foto: sxc.hu 
 Pagi ini, saya ambruk. Sakit kepala, batuk-batuk, dan demam. Tidak begitu mencemaskan karena masih punya selera makan. Memang sudah dua malam saya tak dapat tidur. Entah 'ketularan' keponakan yang telepon dan cerita bahwa dia stres berat, padahal saya rasanya tidak sedang banyak pikiran.
Sejak kemarin mata sudah pedas dan badan pegal-pegal. Mas Agus sudah terkapar duluan. Saya malah berpikir keras merevisi sebuah naskah novel sampai sore. Sempat tergoda untuk menyerah saja, tapi saya melawannya. Jangan sampai naskah yang ditulis susah payah itu berakhir di Recycle Bin. Alhamdulillah, usai revisi saya dapat mengirimkan outline kepada penerbit. Mudah-mudahan bersesuaian.
Setelah Mas Agus berangkat, saya lelap sampai siang. Dininabobokkan oleh suara degung dan kawih dari acara pernikahan di kampung sebelah. Langit gelap tapi tidak hujan, hanya ditingkahi suara jangkrik. Karena bosan harus berbaring terus, saya membaca. Lumayan untuk mengurangi utang.
Mendengar hebohnya acara sawer di pernikahankampung tetangga itu, saya ingat pada mimpi yang mengganggu tidur saya dua malam berturut-turut. Mimpi itu berkaitan dengan outline sebuah novel yang sudah hampir sebulan menganggur saja. Semakin banyak membaca, semakin ingin meneruskan nulis.
sumber foto: sxc.hu 
 Semasa sekolah, kosakata proyek identik dengan pekerjaan di lapangan. Yang paling cepat terbayang adalah pembangunan rumah atau gedung. Sewaktu ngantor, malah saya menganggap proyek sama dengan ngobyek (terima job di luar). Baru beberapa tahun ini saya memahami bahwa proyek di kantoran itu lazim, terima kasih antara lain pada Donna melalui Quarter Life Dilemma-nya dan Tria melalui The Lunch Gossip-nya. Kembali pada peristilahan yang saya tangkap maknanya di jaman ngantor dulu, itulah makna yang dilekatkan pada seorang freelancer. Sering sekali saya ditanya, "Lagi garap proyek apa, Rin?" Pengertian proyek kerap disamakan dengan order. Padahal menurut saya, proyek bisa diciptakan sendiri. Menulis, misalnya, dapat dikerjakan setiap hari tanpa perlu menunggu ada lomba, undangan menulis atau pesanan dari penerbit. Inilah daftar pekerjaan sementara: 1. Persiapan sebuah naskah komik untuk studio independen di Jakarta. Draft kontrak sudah disetujui, menunggu print-outnya dikirim ke rumah. Proses pencarian ide dipergiat, sebab gagasan yang tempo hari diterima sebenarnya telah dieksekusi untuk proyek sejenis 3-4 tahun silam. Pikunnya diriku.. 2. Revisi besar sebuah naskah fiksi. Ada angin sejuk dari sebuah penerbit yang saya kontak beberapa hari lalu. Senang sih, karena saya hampir bete memikirkan nasib novel satu ini. Tapi banyak yang harus dijahit dan dibuang, huaaa..operasi bedah habis-habisan nih. 3. Menulis sebuah naskah non fiksi. Kemarin menjajaki ketertarikan pembaca melalui diskusi dengan dua orang sahabat. Mereka mendukung dan menyatakan suka pada judul yang saya rancang (setelah diubah untuk kelima kalinya). Ada beberapa lagi, tapi belum pasti. Kerja..mari kita kerja.. sumber foto: sxc.hu 
 Kalau deadline mepet, jantung berpacu lebih kencang dan..stress.
Kalau deadline panjang, malah malas-malasan. Ntar lagi..ntar lagi.
Duh, kenapa saya cuma bisa berkeluh-kesah? Bukankah menunda berarti mencuri waktu? Teringat cerita seorang sahabat kemarin, naskah proyek yang diselesaikannya makan waktu terlalu lama sehingga akhirnya tak jadi diterbitkan. Hmm..
Jadi, kerjakan saja. Tak ada waktu untuk berleha-leha.
sumber foto: sxc.hu 
 ...adalah hal biasa bagi seorang freelancer. Karena itulah, keluarga dekat kami tak lagi heran bila saya dan Mas Agus buru-buru pulang setelah meluangkan waktu untuk mengikuti suatu acara atau bahkan berhalangan sama sekali. Komentarnya, "Lagi banyak kerjaan ya?" Mau malam Minggu kek, mau malam Jumat nek, kalau memang ada tenggat ya tak ada istilah libur.
Demikian pula hari ini. Sejak kemarin, saya sudah memantapkan hati untuk menuntaskan PR dengan batas waktu terdekat. Rupanya Mas Agus juga harus setor kerjaan besok. Jadilah kami menekuri meja masing-masing. Alhamdulillah, saat adzan Dhuhur berkumandang, tugas saya selesai. Langsung email ke klien, lalu...main! Terasa benar manfaat 'play hard' yang dipraktikkan belakangan, sebagaimana masukan kakak saya. Kala ngebut tugas satu ini, jedanya juga banyak. Telepon sahabat (dapat ide baru deh buat nulis), cek email, sarapan, dan mandi.
Saya belum menjenguk tabel pekerjaan. Masih menimbang-nimbang mana yang sebaiknya dilakukan lebih dulu.
1. Mencuci piring yang sudah bejibun. 2. Menyetrika pakaian kering yang menggunung di kamar sebelah. 3. Meneruskan nulis. 4. Melanjutkan baca sebuah novel. 5. Tidur. 6. Makan lagi (untuk kesekian kalinya).
Yang saya pilih adalah ... nonton VCD:p
sumber foto: sxc.hu

 Rencananya, malam Minggu ini Mas Agus dan saya akan jalan-jalan ke Jatinangor. Nostalgia sambil 'berlagak kayak ABG malam Mingguan', begitu katanya seraya terkekeh.
Sebelum itu, kami mampir ke warnet dulu. Sinyal di rumah jeleknya minta ampun, jadi memaksakan koneksi untuk browsing sama saja dengan memboroskan pulsa. Saya punya kesempatan memenuhi permintaan si Bungsu untuk memperbaiki blognya, bahkan menemukan theme Nightmare before Christmas favoritnya. Ia langsung menelepon dan mengucapkan terima kasih dengan suara serak.
Mendadak Mas Agus menghampiri bilik dan mengajak pulang. Kirain karena masuk waktu Maghrib. Ternyata kliennya menelepon dan minta ketemu malam ini. Batallah acara jalan-jalan. Nasib..nasib..
Beberapa menit setelah tiba di rumah, Mas Agus berkutat dengan pekerjaannya agar cepat selesai. "Maaf ya Sayang, mudah-mudahan besok kita bisa pergi," katanya. Saya tidak marah, sih. Ini bukan yang pertama kalinya. Kesibukan Mas Agus sedang tinggi sekali, sampai-sampai kliennya menelepon hampir setiap waktu.
sumber foto: sxc.hu 
 Kembali ke rumah setelah empat belas hari, kemarau masih saja menggigilkan kulit. Beberapa bagian rumah diserang tikus, termasuk rak buku yang acak-acakan. Syukurlah tak ada buku yang jadi korban, dan pagi ini satu tikus sukses dijerat.
Berhubung keluarga dari Jawa sempat menginap, PC naik ke meja guna memberikan ruang lebih lapang. Mau kembali ke posisi lama, malas. Maka hijrahlah laptop dan meja kerja saya ke dalam kamar. Biar bisa duduk di tempat tidur, nggak pegal-pegal. Capek tinggal baring. Aman dari terpaan angin yang kian keras saja, tinggal tarik selimut. Saat saya bilang mesti menyalakan lampu terus, Mas Agus berkata bahwa itu membuat saya hangat. Kamar memang lembab, bahkan kursi sampai berjamur selama kami tinggalkan.
Penempatan baru ini menyenangkan, kendati bersebelahan dengan TV yang kerap menjadi benda kontra produktif. Remote-nya hancur, gara-gara dilempar Mas Agus untuk mengagetkan tikus yang berisik di langit-langit rumah. Jadi TV tetap lebih banyak nangkring membisu. Risikonya, Mas Agus harus bangun lebih cepat. Jam enam saya sudah menyalakan laptop dan membuka tirai jendela supaya cahaya matahari masuk.
Apa yang sudah dikerjakan pagi ini? Pembenahan progress report. Naskah X sekian halaman, naskah Y sampai bab anu, naskah Z baru ide kasar. 
| |