Rini's posts with tag: horor

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag horor
Blog EntryTalisman Telah DatangJun 23, '08 2:28 AM
for everyone
"Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari
kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa
pengirimnya.

Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih
sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka
dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti.
Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh
nuansanya..hehehe..

Tengkyu, bukumurmer.


Blog EntryFilm dan Buku HororFeb 24, '08 8:05 AM
for everyone
Sejak remaja, saya menaruh minat pada film berbau ketegangan. Bukan
berarti nggak suka drama, tapi kadar ketertarikan terhadap tema
thriller (apalagi psikologis) dan horor memang lebih besar. Saya ingat
komentar seorang kawan baik di YM beberapa tahun lalu ketika saya
membahas film Kafir dan Jelangkung. Film Hollywood yang pertama kali
saya tonton (kalau nggak salah masih SD) pun tak lain tidak bukan
'Nightmare on the Elm Street'. Tiap Kamis malam, sekeluarga nonton
'Friday the 13th' (waktu itu masih di TVRI) meski dampaknya saya
tambah fobia sama boneka:p

Tatkala horor mulai naik daun di layar kaca sekitar 4 tahunan lalu,
saya sudah kerepotan. Ngaku sama ponakan-ponakan bahwa pada dasarnya
saya penakut, nggak diketawain sih. Mereka terbelalak dan bilang,
"Masa?" Di mata anak-anak, mungkin yang namanya orang dewasa nggak
kenal rasa takut. Saat itulah saya memperkenalkan fakta bahwa orang
dewasa atau orangtua bukan makhluk sempurna kepada mereka.

Karena sering ketiban tugas ngasuh, mau nggak mau harus nemenin mereka
nonton segala rupa sinetron yang dihiasi hantu. Jujur aja, saya lebih
berani nonton film horor Barat ketimbang bikinan Asia. Barangkali
karena Asia identik dengan hantu perempuan bermuka pucat, rambut
panjang dan baju putih sambil ngikik, "Hihihihi.." (Percaya atau
tidak, saya nonton semua film Sundel Bolong waktu kecil dan sakit
panas). Sekali waktu 'kecolongan' nonton film horor Filipina di TV,
dan..kapok.

Mendampingi anak-anak yang nongkrongin TV lantas berkhayal
kesana-kemari jelas tugas berat. Saya kepaksa membesarkan nyali.
Awalnya dari sebuah film horor Taiwan. Pengennya sih lari
terbirit-birit waktu si hantu nongol di cermin, tapi saya kuat-kuatkan
melihat si Bungsu menutup mata. Idealnya, bila takut nggak boleh
dipaksa. Namun terkadang saya harus menekankan padanya, "Ini hanya
film, Nak." Lambat-laun saya dapat menerangkan (sambil rada olok-olok)
adegan di TV, "Masa' jurig bisa nyekek manusia?"

Film horor dalam negeri yang terakhir saya tonton adalah Tusuk
Jelangkung. Liatnya di DVD bareng para keponakan itu. Jangan ditanya
deh seremnya, meski masih kalah menakutkan dibanding Shutter yang
bikin saya takut sendirian di rumah siang-siang. Sekarang saya cek
nyali baik-baik sebelum memutuskan nonton film horor Hollywood
sekalipun, agar tidak mimpi buruk tiap malam seperti waktu nonton film
dari novel Stephen King (yang judulnya Cat apa gitu..). Bulan lalu
sempat tertarik nonton sebuah horor jam sembilanan, dengan setting
rumah besar (khas banget kan). Namun karena hantunya anak kecil yang
nongol di cermin..hiii, nggak jadi.

Bagaimana dengan buku? Semasa SD, saya sering pinjam novel-novel
Abdullah Harahap dari rental. Dengan bimbingan orang dewasa tentu,
yaitu kakak sepupu saya. Baru baca horor lokal lagi sewaktu pinjam
terbitan Gagas yang diadaptasi dari film. Bangsal 13, kalo nggak
salah. Sengaja baca siang-siang di tangga kamar keponakan, meski nggak
terlalu serem.

Sekarang ini saya lebih banyak baca horor terjemahan. Yang pertama
adalah Samurai-Jembatan Musim Gugur karangan Takashi Matsuoka. Butuh
bertahun-tahun untuk memupuk keberanian baca bagian berhantunya.
Apalagi waktu itu saya baru pindah ke rumah kakak dan sering banget
sendirian sampai malam. Kini saya sudah bisa melihat bedanya. Karena
bersifat visual, film horor lebih nancap di otak. Kasarnya, biar liat
sebentar bisa terbayang berhari-hari. Bacaan lebih bisa dikontrol.
Begitu saya melihat hal-hal yang berpotensi seram, diskim aja.
Hehehe.. Seringkali deskripsi cerita menyeret imajinasi pada kengerian yang
cukup tebal. Ini menurut saya.

BTW, salah satu film horor yang bermutu bagi saya adalah 'The Others'
yang dibintangi Nicole Kidman. Keren banget!

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryKutipan Novel Horor Terjemahan: Rose MadderFeb 23, '08 3:39 AM
for everyone
'Yang penting bukan penderitaan yang telah ditimpakan pada kita,
melainkan kepedihan yang berhasil kita atasi.'
(halaman 434)


..bekerja, katanya, selalu menjadi obat paling baik untuk suasana hati
melankolis..
(halaman 171)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help