Rini's posts with tag: horor
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
 Sejak remaja, saya menaruh minat pada film berbau ketegangan. Bukan berarti nggak suka drama, tapi kadar ketertarikan terhadap tema thriller (apalagi psikologis) dan horor memang lebih besar. Saya ingat komentar seorang kawan baik di YM beberapa tahun lalu ketika saya membahas film Kafir dan Jelangkung. Film Hollywood yang pertama kali saya tonton (kalau nggak salah masih SD) pun tak lain tidak bukan 'Nightmare on the Elm Street'. Tiap Kamis malam, sekeluarga nonton 'Friday the 13th' (waktu itu masih di TVRI) meski dampaknya saya tambah fobia sama boneka:p
Tatkala horor mulai naik daun di layar kaca sekitar 4 tahunan lalu, saya sudah kerepotan. Ngaku sama ponakan-ponakan bahwa pada dasarnya saya penakut, nggak diketawain sih. Mereka terbelalak dan bilang, "Masa?" Di mata anak-anak, mungkin yang namanya orang dewasa nggak kenal rasa takut. Saat itulah saya memperkenalkan fakta bahwa orang dewasa atau orangtua bukan makhluk sempurna kepada mereka.
Karena sering ketiban tugas ngasuh, mau nggak mau harus nemenin mereka nonton segala rupa sinetron yang dihiasi hantu. Jujur aja, saya lebih berani nonton film horor Barat ketimbang bikinan Asia. Barangkali karena Asia identik dengan hantu perempuan bermuka pucat, rambut panjang dan baju putih sambil ngikik, "Hihihihi.." (Percaya atau tidak, saya nonton semua film Sundel Bolong waktu kecil dan sakit panas). Sekali waktu 'kecolongan' nonton film horor Filipina di TV, dan..kapok.
Mendampingi anak-anak yang nongkrongin TV lantas berkhayal kesana-kemari jelas tugas berat. Saya kepaksa membesarkan nyali. Awalnya dari sebuah film horor Taiwan. Pengennya sih lari terbirit-birit waktu si hantu nongol di cermin, tapi saya kuat-kuatkan melihat si Bungsu menutup mata. Idealnya, bila takut nggak boleh dipaksa. Namun terkadang saya harus menekankan padanya, "Ini hanya film, Nak." Lambat-laun saya dapat menerangkan (sambil rada olok-olok) adegan di TV, "Masa' jurig bisa nyekek manusia?"
Film horor dalam negeri yang terakhir saya tonton adalah Tusuk Jelangkung. Liatnya di DVD bareng para keponakan itu. Jangan ditanya deh seremnya, meski masih kalah menakutkan dibanding Shutter yang bikin saya takut sendirian di rumah siang-siang. Sekarang saya cek nyali baik-baik sebelum memutuskan nonton film horor Hollywood sekalipun, agar tidak mimpi buruk tiap malam seperti waktu nonton film dari novel Stephen King (yang judulnya Cat apa gitu..). Bulan lalu sempat tertarik nonton sebuah horor jam sembilanan, dengan setting rumah besar (khas banget kan). Namun karena hantunya anak kecil yang nongol di cermin..hiii, nggak jadi.
Bagaimana dengan buku? Semasa SD, saya sering pinjam novel-novel Abdullah Harahap dari rental. Dengan bimbingan orang dewasa tentu, yaitu kakak sepupu saya. Baru baca horor lokal lagi sewaktu pinjam terbitan Gagas yang diadaptasi dari film. Bangsal 13, kalo nggak salah. Sengaja baca siang-siang di tangga kamar keponakan, meski nggak terlalu serem.
Sekarang ini saya lebih banyak baca horor terjemahan. Yang pertama adalah Samurai-Jembatan Musim Gugur karangan Takashi Matsuoka. Butuh bertahun-tahun untuk memupuk keberanian baca bagian berhantunya. Apalagi waktu itu saya baru pindah ke rumah kakak dan sering banget sendirian sampai malam. Kini saya sudah bisa melihat bedanya. Karena bersifat visual, film horor lebih nancap di otak. Kasarnya, biar liat sebentar bisa terbayang berhari-hari. Bacaan lebih bisa dikontrol. Begitu saya melihat hal-hal yang berpotensi seram, diskim aja. Hehehe.. Seringkali deskripsi cerita menyeret imajinasi pada kengerian yang cukup tebal. Ini menurut saya.
BTW, salah satu film horor yang bermutu bagi saya adalah 'The Others' yang dibintangi Nicole Kidman. Keren banget!
sumber foto: sxc.hu 
 'Yang penting bukan penderitaan yang telah ditimpakan pada kita, melainkan kepedihan yang berhasil kita atasi.' (halaman 434) 
 ..bekerja, katanya, selalu menjadi obat paling baik untuk suasana hati melankolis.. (halaman 171) 
| |