Rini's posts with tag: juri cerpen
 Pada suatu ketika, saya menjadi anggota sebuah tim juri lomba cerpen. Timnya kecil saja. Kami berkoordinasi sesekali, namun lebih pada pemeriksaan kelengkapan rekapitulasi naskah, pengelompokan berdasarkan skor, dan mengabaikan biodata sejauh mungkin. Bahkan arsip biodata diletakkan terpisah, kalau perlu dihide dalam komputer.
Saat itu saya menyelesaikan penilaian lebih dahulu. File hasil disetor kepada kepala tim, tetapi tidak langsung dibukanya. Anggota tim lain diharapkan menyerahkan bersamaan pada waktu yang ditentukan. Penilaian yang telah saya buat tidak ditembuskan kepada sesama juri dan panitia lomba supaya tidak mempengaruhi pendapat mereka. Dengan alasan yang sama, ketua tim juri baru membuka file tersebut setelah ia selesai membaca keseluruhan naskah. Oleh sebab itu, saya diwanti-wanti untuk tidak menghapus file naskah peserta berikut penjurian kalau-kalau ada kerusakan teknis saat ia mengakses daftar yang saya kirimkan sebelumnya.
Diskusi berlangsung lancar. Setelah keputusan mengenai juara satu dan seterusnya diambil, ketua tim menceritakan sebuah pengalamannya. Ia pernah teledor menembuskan hasil penjurian suatu lomba kepada panitia dan salah satu anggota panitia itu membocorkannya pada peserta.
Peristiwa yang sudah lama berselang ini senantiasa saya camkan, terutama dalam penjurian tertutup. Lain dengan lomba yang melibatkan peserta atau anggota milisnya untuk turut menilai, seperti Ajang Cerpen Escaeva tahun lalu dan beberapa lomba di milis Apsas. 
 C'est la tour de mes yeux. Selagi mengistirahatkan penglihatan, saya ingat suatu masa kala diminta menjadi juri sebuah lomba cerpen di Bandung. Lomba tersebut diselenggarakan untuk umum, jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya naskah yang masuk. Tim juri sepakat menetapkan juklak yang ketat. Format acak-acakan, gugur. Tema tidak relevan, KO. Di situlah saya menyadari betapa sulitnya bikin cerpen yang baik dan menarik. Saya juga melihat bukti nyata betapa orang Indonesia ini hobi nekad dan menganggap aturan dibuat untuk dilanggar. Benar kata Remy Sylado dalam sebuah wawancara di Matabaca, kalimat pembuka dan paragraf awal adalah senjata ampuh. Alinea pertama sudah membosankan, apalagi penuh dengan salah ketik yang berulang-ulang, males banget rasanya nerusin baca sampai tamat. Apa mau dikata, jarang sekali penulis yang mau mematuhi pedoman penggunaan tata bahasa dalam penulisan. Akhirnya cerpen yang bagus tergusur beberapa peringkat. Membaca naskah yang begitu banyak dan berbagai-bagai bisa jadi hiburan juga, lho. Ada yang menyertakan foto diri, padahal nggak diminta. Ada yang biodatanya sampai dua halaman, mencakup hal-hal yang nggak ada kaitannya seperti jenjang pendidikan dari SD atau kursus-kursus yang diikuti. Di antara peserta, terdapat dosen suatu universitas. Mahasiswanya ikut juga, dan uniknya justru dia yang keluar sebagai pemenang. Kami menyortir data itu dengan hati-hati sebab di sana banyak banget alamat email dan nomor telepon yang berpotensi besar untuk dijailin orang iseng. Tetapi satu fenomena yang memprihatinkan dan masih saya kenang menyangkut kreativitas peserta waktu itu. Menurut ketentuan, seorang penulis boleh mengirimkan lebih dari satu naskah. Kebanyakan cerpen karya satu orang nyaris seragam. Monoton jadinya. Ada satu-dua penulis yang dapat skor sama persis, ada juga yang semuanya masuk kotak karena kualitasnya serupa. Pengalaman beberapa tahun silam tersebut merupakan bekal berharga, termasuk kala menjadi juri lagi dalam lomba-lomba yang berbeda. Mabok, sudah pasti. Tapi membaca naskah yang bermutu ibarat menemukan harta karun. Kebayang deh pusing dan repotnya jadi editor di penerbitan, atau media cetak. Baru jadi penyunting 'musiman' aja, saya perlu pil sabar dosis tinggi.
sumber gambar: tidak diketahui 
| |
|