Rini's posts with tag: kamus
 Mungkin Mas Agus tergolong mahasiswa Sastra Arab yang 'aneh', tapi dia bukan satu-satunya. 'Aneh' di sini maksudnya ia dapat melampaui kuliah dengan aman tanpa memiliki kamus Arab. Namun tidak mengherankan, mengingat atmosfir dosen-dosen jurusan dan himpunan mahasiswanya yang begitu kompak -- tak pernah pelit meminjamkan properti demi kepentingan pendidikan. Apa lagi yang namanya solidaritas sesama perantau (baca: anak kos), bikin iri deh!
Sudah ratusan kali kami datang ke toko buku sejak menikah. Sudah tak terhitung saya menawarinya membeli saja, tiap kali mendapatinya menimang kamus Arab di toko mana pun. Tetapi sifatnya yang 'ngeyelan' dalam segi berhemat memang tak bisa diganggu gugat. Saya putuskan untuk menunggunya 'berteriak' saja.
Kemarin ia dititipi buku oleh Mas kami yang sedang kuliah lagi. Sebelumnya, Mas Agus sudah memberitahu saya akan membeli kamus Arab. Saya pikir dia bercanda (sering banget cuma niat, tapi nggak jadi:p) tetapi melihat ranselnya yang menggelembung kemarin sore, saya tahu ia benar-benar membawa kamus itu pulang. Mas Agus tersenyum lebar memperlihatkan kamus yang telah lama diincarnya, berikut oleh-oleh tatakan gelas dari Bali (buah tangan kakak sepupu yang kunker di sana), juga segepok sampul plastik kira-kira untuk seratus eksemplar buku. Semangatnya memakaikan baju pada buku-buku kami makin hebat saja:) 
 Tidak diurutkan secara kronologis, karena tidak ingat sama sekali. Tapi ada beberapa yang merupakan bacaan ulang.
1. Memugar Kata Memahat Dunia - Ary Nilandari (editor) 2. Ortu, Kenapa Sih? - Iwok, Nunik, dll 3. Free Things - Iwok Abqary 4. The Lover - Marguerite Duras 5. Flash! Flash! Flash! - Ryu, Pritha, Iwok, dll 6. Cincin Monster - Bruce Coville 7. Quadrangle - Nadiah Alwi 8. Keajaiban Bunga - Nunik, Dedew, Anik 9. Upit Kejepit - Tria Barmawi 10. Dan Hujan Pun Berhenti - Farida Susanty 11. Zauri - Dian K. 12. Pacarku Tulalit - Luh Putu Dewi Pratami 13. Mahasati - Qaris Tajudin 14. The Shooting Star - Arleen Amidjaja 15. Salju - Honor Head 16. Hostage - Robert Crais 17. Zaman Edan - Ronggowarsito 18. Tapak Sabda - Fauz Noor 19. Saudagar Buku dari Kabul - Asne Seierstad 20. 7 Dosa Besar (Penggunaan) Powerpoint - Isman H. Suryaman 21. Tanabata - Antonius R. Pujo Purnomo 22. On Writing - Stephen King 23. Stardust - Neil Gaiman 24. Back to My World - Nura 25. Ocean Sea - Alesandro Baricco 26. Mitsuko - Kara Dalkey 27. Kitab Jawa Kuno - Dr. Purwadi, M. Hum 28. Siapakah Ronald Reagan? - Joyce Milton 29. Si Bundel - Jojok Sulaiman 30. Jakarta Luar Dalem - Benny dan Mice 31. Sayur Emas - Farhat Abbas dan Mustofa B. Nahrawardaya 32. Sengsara Membawa Nikmat - Tulis Sutan Sati 33. Sihir Perempuan - Intan Paramaditha 34. Jejak Hujan - Hary B. Kori'un 35. Chicken Soup for the Soul at Work - Jack Canfield dkk 36. The Expected One - Kathleen McGowan 37. The Girl Who Loved Tom Gordon - Stephen King 38. The Highest Tide - Jim Lynch 39. Irresistible Forces - Danielle Steel 40. Accident - Danielle Steel 41. Jalan Sunyi Seorang Penulis - Muhidin M. Dahlan 42. The Trouble With Tink - Kiki Thorpe 43. 9 Oktober 1740 - Remy Sylado 44. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing - Alif Danya Munsyi 45. Can You Keep A Secret? - Sophie Kinsella 46. Shopaholic and Baby - Sophie Kinsella 47. Sisi Lain Diriku - Sidney Sheldon 48. Kelinci di Bulan - Yunus Nur Arif 49. Lily's Pesky Plant - Kirsten Larsen 50. Mahligai Kedua - Taufan E. Prast 51. Devdas, Kisah Cinta Dua Dunia - Saratchandra Chattopadhyay 52. 99 Kisah Menakjubkan Al Qur'an - Ridwan Abqary 53. Drop Out - Arry Risaf Arisandi 54. Berzikir Cara Nabi - Abdur Razzaq Ash-Shadr 55. Sister of My Heart - Chitra Banerjee Divakaruni 56. Vine of Desire- Chitra Banerjee Divakaruni 57. The Mistress of Spices - Chitra Banerjee Divakaruni 58. Harga Sebuah Impian - Jack Canfield dkk 59. Palestina, Duka Orang-orang Terusir - Joe Sacco 60. How to Write and Market A Novel - R. Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaja 61. Pergaulan - Anita Brookner 62. Uups..Selingkuh! - Inez Han dan Dien Bachtiar 63. The Professor and The Madman - Simon Winchester 64. Ramadhankan Dirimu - Ishaq Subu 65. Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan - Imam Muhtarom 66. 1001 Ways to Make You Smile - Marion Kaplinsky 67. Gairah di Gurun - Honore de Balzac 68. Clockwork - Philip Pullman 69. Firework's Daughter - Philip Pullman 70. Blithe Images - Nora Roberts 71. Loving Jack - Nora Roberts 72. Kamus Istilah Islam - MA Qazi 73. Khadijah - Dr. Muhammad Abduh Yamani 74. Heidi - Johanna Spyri 75. Of Mice and Men - John Steinbeck 76. Kung Pao Chicken Love - La Mian 77. Turquoise - Titon Rahmawan 78. Kapten March - Geraldine Brooks 79. BBC - Primadonna Angela 80. Kambing Jantan - Raditya Dika 81. Rani in the Mermaid Lagoon - lupa penulisnya 82. 3 Permintaan - Enid Blyton 83. Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia - lupa penulisnya 84. Alamak! - Fira Basuki 85. Anak dalam Cermin - Enid Blyton 86. Si Babi Ungu - Enid Blyton 87. Buku Pintar Penyuntingan Naskah - Pamusuk Eneste 88. Kami Anak-anak Bullerbyn - Astrid Lindgren 89. Catatan dari Senayan - AM Fatwa 90. Cermin Ajaib - Enid Blyton 91. Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller - Edy Zaqeus 92. EO for Teens - Ryu Tri 93. Like Father Like Son - Muhamad Zaka AL Farisi 94. Female Brain - Louann Brizendine 95. Si Gadis Penakut - Enid Blyton 96. Imaji Terindah - Sitta Karina 97. Pesan dari Bintang - Sitta Karina 98. Lukisan Hujan - Sitta Karina 99. It's Not What You Say, It's What You Do - Laurence Haughton 100. Untuk Yang Sedang Jatuh Cinta - Oyas dan Iput 101. Aku Cinta Al Qur'an, Juz-Amma Bergambar - Tim Syaamil 102. Kevin - Torey Hayden 103. Anastasia Krupnik, Rahasia Si Gadis Kecil - Lois Lowry 104. Penerjemahan Teks Inggris - Arif. .... 105. The Power of First Love - Syarifah Aliyyah 106. Crayon Shinchan 45 - Yoshito Usui 107. Sarjana Kebut Skripsi - Hendry Lukman 108. Tommy Si Pengadu - Enid Blyton 109. Wizard at Work - Vivian Vande Velde
Sekarang sudah hari ke-3 bulan 2008 dan belum ada bacaan yang selesai, ha-ha-ha.. 
 ..setelah lama ngidam. Tahu kabarnya dari milis Bahtera beberapa tahun lalu, kemudian baca berita peluncurannya di Matabaca, terus nimang-nimang di Alebene.. Kemarin siang adik saya nggak tega rupanya melihat kakaknya bengong setelah denger Alebene tutup, lalu bolak-balik googling. Meskipun cuaca panas sekaligus mendung, ia menawarkan diri ke Palasari. Saya udah membekalinya dengan foto cover, keterangan arah BBC, sekaligus usaha yang perlu ditempuh setelah tanya-tanya ke bagian informasi. Kini kamus ini sudah ada di tangan. Senangnya hatiku..:) 
Enaknya punya pasangan yang berdisiplin ilmu dan profesi serupa tapi tak sama (ditambah pengertian dalam huruf yang dicetak tebal dan porsi besar) adalah menyemarakkan suasana dari hari ke hari dengan permainan yang sangat dekat dengan aktivitas kami -- memilin kata. Berhubung latar belakang budaya dan usia kami berbeda, kami kerap menggali nostalgia. Misalnya waktu SMA, saya sering denger temen-temen cowok menggunakan berbagai istilah untuk menilai fisik (baca: kecantikan) seseorang. Ada yang bilang, "Lauk mas koki (ikan mas koki), euy!" kalo liat cewek cakep. Tersinggung juga disamain dengan ikan, walaupun maksudnya (kata temen saya dengan keukeuh) memuji. Kalo dianggap kurang cantik? Katanya, "Diher!" FYI, her = ulangan perbaikan. Mungkin istilah anak sekarang, remedial. Semasa kuliah, peristilahan ini berkembang. Saya dan teman-teman biasa bilang, "Cowok itu cakep, tapi ada sesuatu yang nggak simetris di wajahnya." Seiring dengan pertambahan umur, kami nggak lagi memandang fisik secara sempit. Kalo cowok bersangkutan jutek, maka 'nggak simetris' itulah yang jadi gelarnya. Dengan suami, saya kerap beradu pelintir kosakata. Permainan berlangsung sukses tanpa sakit hati karena kami punya 'timbre' selera humor dan kepekaan setara. Artinya, bisa liat kalo salah satu lagi sensitif. Seminggu yang lalu, suami kirim SMS kepada seorang relasi yang mengundang kami ke resepsi pernikahan. Apa daya, jadwalnya bentrok dengan tahlilan di rumah sodara. Maka ia mengetik, "Beribu maaf berbapak doa, semoga bahtera rumahtangga .."bla-bla-bla. Suatu ketika, suami menolak pengalihan pekerjaan dari seorang penanggungjawab proyek yang sama sekali nggak mempelajari deskripsi materinya. Segala bujuk rayu nihil belaka. Untuk menggambarkan kondisi itu, suami punya analogi yang lumayan garang. Dia bilang, "Bayangkan, saya disuruh ngelompatin jurang yang lebarnya lima meter. Saya coba ukur dan lompatin, eh nggak nyampe. Malahan kejeblos. Ini judulnya bunuh diri atau malah dibunuh? Kalo bukan mau bunuh, kasih dong saya tali. Jadi kalo jatuh pun, saya nggak sampe mati." Kali lain, kami bertanding menyusun kalimat. Sambil kerja, sih. Saya bertanya, "Diganti apa ya enaknya..'senyumnya hampir pudar di wajahnya'?" suami menjawab, "'dengan wajah yang hampir kehilangan cahayanya'." "Jangan 'cahaya' ah, Arab pisan!" protes saya. Suami ngakak, "Kan karya kolaborasi, atuh." Pernah juga saya mencari kata lain untuk 'teriakan'. "Aku butuh Eko," saya raih TBI. Di sana, yang tersedia 'pekik' dan 'jerit'. Keduanya udah sama-sama saya pakai dalam naskah bersangkutan. Suami nyeletuk, "'Lolongan'." "Anda dapat skor seratus, Saudara," saya tersenyum berterima kasih. "Nah, kenapa harus tanya Eko? Kan ada Agus," suami nyengir.
 Orang Prancis memang aneh. Setebal ini koq dibilang Petit? Padahal kalo dipakai nyambit orang lumayan lho.. Beli kamus ini sekitar tahun 1998 atau 1999. Pokoknya pas mulai seminar linguistik. Titip kakak di Gramedia Jakarta. Salah satu alasan adalah sindiran seseorang yang tak saya ingat: "Masa' anak semester 7 masih pake kamus Prancis-Indonesia?" Ketika pertama kali sang Petit Larousse dibawa masuk kelas, semua dosen bergilir memegangnya. "Ini berapa harganya sekarang, Rini?" tanya salah seorang Madame (begitu kami memanggil dosen). "Deux-cents et demi, Madame (dua ratus lima puluh, Bu)," jawab saya mantap. Mata sang Madame membulat. "Dijilid, dong. Minimal disampul." Sebelum saya sempat melaksanakan saran (yang sudah diniatkan) itu, kamus ini dipinjam seorang teman lain jurusan. Jurusan di sini maksudnya spesialisasi sastra. Lupa untuk apa. Kesel juga, karena menunggu dia janji datang ke kantor dan tidak nongol..padahal saya sampai malam ngetem dan membatalkan acara makan malam penting dengan seorang relasi. Kedua, dia akhirnya ngeyel nitip ke FO kantor. Ini tindakan berisiko. Bagi kami, kamus tak ubahnya 'nyawa'. Seorang teman lain pernah nyemprot orang karena kamusnya dikembalikan dengan nitip seorang petugas cafe CCF, bukan ke rumahnya. "Ari kamu jalmi??!" semburnya (bahasa Sunda, artinya 'kamu ini orang apa bukan?). Bayangkan jika kamus itu sampai hilang, atau cacat. Faktor terakhir ini membuat saya muntab (istilah suami untuk murka). Pasalnya, kamus yang saya jaga baik ini kembali dalam keadaan KERITING. Seperti habis kehujanan. Masuklah nama si teman dalam daftar hitam. FYI, kamus ini menarik karena ada semacam ensiklopedia tokoh di bagian belakangnya. Juga sisipan locution alias peribahasa.

Link: http://www.ebsoft.web.idAda kamus gratis, dan ada terjemah Quran. Makasih buat Kang Iman yang telah kasih info situs ini.
 | Category: | Books | | Genre: | Reference | | Author: | W.J.S Poerwadarminta |
Belinya sekitar 3 tahun lalu di Palasari, dengan honor menerjemahkan:-) Merasa perlu memilikinya setelah mengerjakan sebuah proyek terjemahan dan berdebat dengan mitra sekaligus supervisor sampai hal sekecil-kecilnya. Maklum, daftar istilah teknologi informasi waktu itu. Kamus ini tidak terlalu lengkap, tetapi sudah banyak membantu utamanya dalam penulisan cerita dan penyusunan nama. 
 | Category: | Books | | Genre: | Reference | | Author: | Eko Endarmoko |
Saya membeli TBI setelah berdiskusi dengan beberapa teman penulis dan penyunting. Sebelum pikiran berubah lagi, nitip suami deh..ke Gramedia Merdeka, walaupun harganya sudah naik 20 ribu. Tampilan covernya ilmiah banget, mirip buku-buku linguistik karangan Gorys Keraf, Harimurti Kridalaksana dan JS Badudu. Tapi pada hari pertama sudah terasa manfaatnya, ketika saya menyunting naskah novel anak-anak. Saya bosan dengan kata 'segerombolan', maka saya pilih 'sekawanan' dan 'sekelompok'. Sayangnya, waktu nyunting naskah hasil terjemahan Arab memang kurang terpakai. Kata serapannya kurang banyak. Alhasil, tetap harus beli KBBI nih. Biar bagaimanapun, TBI adalah karya penting yang luar biasa. Setelah membaca beberapa halaman, saya jadi bersemangat menulis lagi. 
Alhamdulillah, kesampaian juga beli tesaurus ini. Kalau nggak dipaksain, entah kapan bisa terwujud padahal sangat perlu. Lagipula, khawatir harganya naik lagi:p
Seharusnya punya ini, nih, sejak dulu. Harganya lumayan terjangkau. Tapi sekarang pun nggak terlambat untuk memilikinya. Pasti ada gunanya.
| |