Rini's posts with tag: karyaku
| Category: | Books | | Price: | Rp 65.000,00 |
Mohon diabaikan tanda For Sale itu. Saya memposting sebagai kabar promosi.
Naskah ini dikerjakan berdua dengan Mbak Ary Nilandari sekitar 3 tahun lalu, saya sebagai co-translatornya. Diterbitkan oleh Arkan. Dilengkapi ilustrasi foto, kertas glossy, dan hardcover. Click a thumbnail to enlarge:
Terima kasih banyak-banyak pada Kang Iwok dan Dedew yang telah ngabarin, saya udah lupa ngikut proyek ini.. Begitu listrik nyala, langsung meluncur ke pengumuman ini. Alhamdulillah.
 Sebenarnya tidak bisa dibilang baru, karena ditulis hampir setahun silam. Dalam penyusunan dan proses kompilasinya, karya Mbak Elie Mulyadi ini mengalami perjalanan panjang. Tetapi alhamdulillah, Kerjaku, Ibadahku terbit juga di tangan Gramedia Pustaka Utama.
Dalam buku berkategori Pengembangan Diri dan Inspirasional ini, terdapat satu esai saya berjudul My Great Boss. Belum tahu di halaman berapa, karena bukunya masih dalam perjalanan dari Jakarta:)
sumber kaver: gramedia.com 
 Terilhami oleh posting Dedew, saya ingin bercerita sedikit mengenai perubahan judul dalam karya berupa artikel atau buku. Alhamdulillah, sebagian besar tulisan saya yang berbentuk esai dan cerpen sejauh ini 'lolos' judulnya. Beberapa di antaranya adalah: 1. Sandal Sinta (cerita anak)
2. Ketika Lala Benci Sekolah (cerita anak)
3. Gairah Warnet Kota Kembang (artikel)
4. Asal Bos Senang (artikel karir)
5. I'm Gonna Make You Love Me (cerpen dewasa)
6. Satu Sangkar Dua Burung (cerpen remaja)
7. Pengantin Santai (esai)
Justru artikel pertama saya yang dimuat di HU Pikiran Rakyat-lah yang diubah judulnya. Itu dikarenakan tulisan saya mengenai Sharon Stone digabungkan dengan tulisan orang lain mengenai Mira Sorvino. Hasilnya jauuuuh dari konsep awal, menjadi: Siapakah Wanita yang Paling Seksi, Sharon Stone atau Mira Sorvino? Waks..untung nama saya disingkat dan ditulis kecil di akhir artikel.
Ulasan film pada tahun 2000 di koran yang sama pun berubah total, dicocokkan dengan 'penyesuaian' oleh redaktur di bagian akhir artikel. Saya lupa judul aslinya, yang pasti mengandung kata 'Arogansi Amerika' dan disulap jadi End of Days Hanyalah Khayalan Sineas Amerika.
Buku Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor semula berjudul Bekerja Tanpa Kantor. Penerbit membicarakan perubahan ini lebih dahulu, dan alasannya cukup dipahami. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati juga kreasi editor, seperti halnya Tips Nyaman Berponsel-ria. Tidak masalah, mengingat judul dari saya masih standar banget dan kurang 'menohok' perhatian. Happy-Go-Lucky awalnya adalah Kutu Loncat. Setelah melalui diskusi dengan editor, saya menambahkan sub judul Bekerja dengan Cinta dan disetujui.
Sebuah draft non fiksi kumpulan esai yang pernah diproses di sebuah penerbit tiga tahun lalu dikritik habis penjudulannya oleh editor. Saya tak bisa mengatakan judul aslinya, sebab sedang disiapkan untuk dicetak oleh penerbit lain:) Yang terang, editor di penerbit sebelumnya menilai pilihan judul saya - terutama untuk esai-esai di dalamnya - seperti film Indonesia jaman dulu. Wajar saja karena penerbit itu memproduksi buku-buku berkaver dan judul serba gaul. Toh, ketika saya alihkan, penerbit yang sekarang tidak bermasalah dengan ketentuan judul saya. Namun bukan berarti saya menarik naskah tersebut karena judul semata, lho:)
Intinya, perubahan judul selalu bisa dibicarakan kenapa dan bagaimana. Ada subjektivitas menyangkut kemenarikan suatu pokok bahasan. Sejauh alasan editor dapat diterima, berubah tidak jadi soal. Kalau menyangkut media cetak, memang sulit, mungkin karena tenggat harian sehingga tak sempat berkomunikasi dengan penulis. 
 Ibu saya punya istilah 'uang di luar' untuk tagihan-tagihan yang belum cair atau belum jatuh tempo. Maka saya ingin sedikit bercerita mengenai naskah-naskah di luar, yang masih dalam proses dan 'melayang-layang'. Sekadar menghimpun ingatan.
1. Sebuah novel anak yang dinyatakan acc. Kabar terakhir via email sekitar enam bulan lalu.
2. Tiga naskah non fiksi di penerbit yang sama. Penasaran banget menantikan yang pertama, setelah mengetahui covernya.
3. Sebuah novel remaja yang direvisi dua kali. Baru kirim outline sesuai ketentuan penerbit. Mudah-mudahan tak perlu revisi lagi bila diterima. Amin.
4. Sebuah naskah kumpulan dongeng. Editor mengkonfirmasi email dan meminta saya bersabar karena panjangnya antrean, awal bulan ini.
5. Tiga naskah non fiksi di satu penerbit. Satu di-acc menjelang akhir tahun lalu, sedang penentuan cover. Kabar terakhir bulan kemarin. Yang dua, kumpulan esai untuk dewasa dan cerita anak, belum ketahuan hasil evaluasinya.
6. Satu naskah karya bersama (alias keroyokan). Hampir terlupakan karena sudah setahun umurnya. Koordinator mengontak terakhir kali: tiga bulan lalu. Memang prosesnya makan waktu sangat lama, tapi insyaAllah koordinator ini amanah.
Agar penantiannya tak terasa, menulis lagi ah..
sumber foto: sxc.hu 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Celia Warren |
SMS dari Nunik Utami pagi ini: 'Ya ampun, bukunya enaak bgt! Cakeeeep bgt! Seneng bgt bs jd penerjemah buku keren begini.' http://nunikutami.multiply.com
 Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Siang ini saya dan Mas Agus meluncur ke Tisera mencari seri Asyiknya Menulis. Langsung ketemu di rak paling depan dari arah kasir. Saya membelai-belainya dengan penuh sayang, karena setelah sekilas membuka..sedikit saja yang kena koreksi editor. Alhamdulillah. Mumpung ke toko buku, saya menyambar Catatan Hati di Setiap Sujudku karena ingin baca tulisan Nunik dan memenuhi janji pada keponakan tersayang.. Ayat-ayat Cinta! Alhamdulillah dia sudah dipinjami trilogi Laskar Pelangi, jadi tak perlu dibelikan lagi:p  Langsung deh potret-potret dan membalik-balik perlahan halaman 365yang dijemput dari agen dalam perjalanan pulang. Nanti saya akan cerita 'di balik layar' keempat buku ini.
 Sore ini Pakcik Ahmad, seorang rekan Apsasian (sebutan untuk member milis Apsas), berkomentar sbb:
selamat teh Rini.. saya sudah lihat buku2 ini di Gramedia Pondok Indah. berbaur dalam tumpukan buku2 anak2 yang campur aduk. yang saya baca 2, how to write stories dan how to write poems... kepada 2 panglimaku aku katakan, "buku ini yg terjemahkan kawan baba lho.. ini namanya Rini Nurul Badariah".
aku selalu senang ke toko buku untuk menemukan banyak nama-nama yang aku kenal.
menurutku buku How To Write Poems nya cukup simple dan dapat dijadikan text book untuk para pembimbing kelas sastra pada murid2 pada tahap awal mereka mengenal puisi. bisa-bisa ini menjadi step 1 sebelum membaca Menapak Ke Puncak Sajaknya Hasan Aspahani...
salam Daun Sirih
Saya terharu sekali. Mendadak pusing kepala jadi nggak terasa:-) 
Buku seri Asyiknya Menulis ini telah mendarat di pasaran, termasuk di toko buku Gramedia. Terima kasih banyak saya haturkan pada Mbak Ai yang telah membeli dan menyampaikan informasi ini.
Apa judulnya dan siapa penulisnya? Diproduksi penerbit apa? Asyiknya Menulis Cerita karya Celia Warren dan Asyiknya Menulis Puisi karangan Wes Magee. Diterbitkan oleh Tiga Serangkai.
Apa kelebihan kedua buku ini? Genrenya adalah non fiksi untuk anak, akan tetapi isinya layak dikonsumsi pembaca dewasa dan remaja yang senang dan ingin tahu lebih banyak soal tulis-menulis. Harganya terjangkau, halaman berwarna dan dihiasi ilustrasi menarik sehingga uraiannya tidak terasa berat apalagi membosankan (khususnya Asyiknya Menulis Puisi).
Mengapa cocok juga untuk kalangan pembaca selain anak-anak? Bukankah covernya terlihat 'anak-anak' sekali? Isinya relatif taat pada naskah asli yang diterbitkan di London, sehingga beberapa bagian mungkin terbilang 'asing' bagi anak-anak Indonesia. Contohnya jenis-jenis puisi yang mencakup haiku dan limerick. Keceriaan tampilan kedua buku ini mengajak pembaca, baik anak maupun dewasa, untuk belajar menulis sambil 'bermain'. Di samping itu, uraian di dalamnya tidak mengedepankan teori melulu melainkan banyak latihan disertai unsur-unsur perangsang kreativitas.
Apa judul dua buku lainnya? Asyiknya Menulis Surat dan Email dan Asyiknya Menulis Laporan.
Selain Gramedia, bisa diperoleh di mana lagi? Tisera, toko buku milik Penerbit Tiga Serangkai yang terdapat di beberapa kota.
 Sebelum mengirimkan cover Buntu Menulis yang kini masih dalam proses cetak, editor saya di Akar Media telah memberitahukan bahwa buku tip ponsel ini akan lahir lebih dulu. Kemungkinan besar dengan pertimbangan tren praktis di dalamnya jangan sampai aus, meskipun tidak berdasarkan teknologi tertentu dan sangat umum. Kemarin beliau SMS saya bahwa buku tersebut telah terbit. Senangnya.. Subuh ini, saya iseng-iseng browsing nama sendiri di web toko Gunung Agung. Ternyata buku solo kelima saya ini sudah ada di sana:-) Berhubung jatah cetaknya belum sampai, saya baru melihat cover di web ini juga (dan tak bisa dicopy gambarnya, tapi tak apalah). Akan saya upload belakangan, segera setelah bukunya diterima. Alhamdulillah, setelah dua tahun naskah ini mendapat jodohnya jua. Apa saja isinya? Tip-tip ringan seputar mengelola banyak nomor, berhemat pulsa, pemakaian ponsel untuk ibu rumahtangga (terutama yang sudah mendekati usia setengah abad), yang harus dilakukan jika ponsel hilang, dan lain-lain. Terima kasih kepada Andhika, Dedew, dan Mbak Ifah yang bersedia menggoreskan testimoninya ketika naskah ini masih hangat di harddisk saya walaupun akhirnya Tips Nyaman Berponsel Ria terbit tanpa endorsement. 
 Iseng-iseng untuk evaluasi dan ngetes daya ingat.
1994: 1 cerpen, 3 artikel
1999: 1 resensi film
2000: 1 cerber, beberapa artikel komputer
2001: Beberapa artikel komputer, beberapa kolom IT, 1 cerpen
2002: Beberapa kolom IT, naskah handout, beberapa web copy
2003: beberapa cerpen anak, satu cerber anak, 1 buku bersama
2004: Copywriting untuk billboard, 1 buku bersama,1 naskah drama, 1 cerpen
2005: 1 buku sendiri, 1 cerpen, 4 buku bersama, 1 komik
2006: 2 buku
2007: 7 buku editan/terjemahan, 2 buku sendiri, 4 buku bersama, beberapa resensi buku
Ini semua yang sudah terbit/dipublikasikan. Benar-benar grafik yang zigzag.
foto: sxc.hu 
 Sebetulnya nggak baru-baru amat, setidaknya yang satu adalah buku non fiksi how to ukuran saku hasil suntingan saya akhir tahun kemarin. Rupanya tim penerbit Exceed menambahkan ilustrasi lucu-lucu di dalamnya. Dengan begitu, buku tetap asyik dibaca.
Yang satu lagi kumpulan cerpen Tembang Bukit Kapur hasil Ajang Kreasi Kumcer Escaeva-Bukukita, khusus saya pesan dari penerbitnya langsung. Kepincut banget sama covernya. Buku itu sudah selesai saya baca dan resensinya diposting bersamaan dengan jurnal ini.
Sebetulnya saya menerima dua paket. Tetapi paket kedua terlalu pribadi untuk dibahas dan dipublikasikan. Isinya hadiah ulang tahun yang dikirim lebih awal oleh seorang sahabat baik. Seneng banget, deh! 
 Beberapa hari yang lalu dikirimi cover buku ini oleh editor Akar Media yang baik hati dan sangat penyabar:) Hiburan di saat-saat pemulihan kondisi tubuh. Setelah hampir setahun menanti naskah ini digodok.
Kepastian terbitnya menyusul, yang pasti: segera. Mohon doanya, dan semoga buku ini bermanfaat.

 Buku non fiksi terbitan Exceed, lini Escaeva, yang saya sunting sekitar akhir tahun lalu akan segera terbit. Berikut ini covernya. Ingin tahu lebih lanjut? Klik di sini.
 Diam-diam saat ibunya dinas di Bali, keponakan saya membaca Virgin Mary sampai tamat. "Bu, kok bagian akhir ceritanya lari-lari ya?" Ibunya tersenyum. "Kenapa kamu nekad baca buku aku? Awalnya memang enak, tapi halaman-halaman akhir terlalu berat buat kamu." "Ibu baca deh, nanti kita diskusi."
Malam itu keponakan saya mengerjakan tugas IPA yang, seperti biasa, berlimpah ruah. Ia menangis karena frustrasi, otaknya capek mencerna. Si Bungsu menenangkan, "Cup cup cup..aku bantu deh." Weleh weleh..begitu rupanya dampak sebuah novel bagi seorang pembaca yang belum siap. 
 Kali ini yang dimuat adalah resensi buku How to Write and Market A Novel terbitan Kolbu. Pada edisi yang sama, Virgin Mary tampil di rubrik Info Buku. Alhamdulillah:-) 
 Artikel yang dimuat di tabloid PC Plus, Februari 2001 ini adalah hasil stres. Saya dan seorang sahabat sedang sama-sama dilanda kekalutan pada suatu hari, saya memikirkan skripsi yang tak kunjung selesai sedangkan sahabat dengan lamaran dan tes-tes perekrutan yang tidak berkelanjutan.
Kami menghabiskan hari itu dengan jalan-jalan, bahkan tur keliling warnet di Bandung. Tidak seluruh Bandung sih, tapi hampir semua warnet yang berjejer di ruas jalan Buahbatu kami datangi. Mulai dari bilik kecil di ujung sebuah ruko (yang tarifnya tiga ribu per jam), ruangan luas dan nyaman dengan interior ala kafe, warnet penuh anak sekolah yang temaram kayak lampu disko, sampai tempat besar yang lapang dan lesehan sampai-sampai anak SD pun berlarian di dalamnya. Kami juga menyambangi warnet di belakang kantor pos. Leletnya minta ampun, nggak ada satu situs pun kebuka. Kemudian singgah di daerah Dago, berseberangan dengan tempat main games online yang lagi ngetren waktu itu. Bener-bener ngabisin uang untuk coba koneksi di sana-sini. Nggak inget pula apa aja yang diakses, pokoknya bukan buka email atau chatting.
Apa yang saya temui dari jalan-jalan itu dituangkan dalam artikel ini dan dikirimkan ke PC Plus. Nggak nyangka dimuat juga, bahkan ada pembaca yang menghubungi saya dan menduga saya punya warnet:p 
 Dimuat di SDA Indonesia, Agustus 2007
Seorang wanita mengeluhkan layanan operator CDMA yang baru digunakannya selama sebulan. SMS sering terlambat sampai, bahkan kadang-kadang tidak masuk ke inboxnya sama sekali. Akibatnya, ia diprotes oleh para kenalan dan kerabat. Keberadaan ponsel yang seharusnya memudahkan komunikasi ternyata malah menciptakan persoalan baru. Untuk apa punya ponsel apabila tidak dapat dihubungi?
Sebenarnya layanan yang digunakan wanita ini cocok dengan profesinya sebagai ibu rumahtangga, terutama dari segi tarif. Akan tetapi di samping trouble di atas, keterbatasan penggunaan CDMA di wilayah tertentu juga dipandang sebagai kelemahan. Fitur pendukung supaya nomor tersebut tetap dapat dipakai di luar kota masih dianggap merepotkan sebab ia harus memberitahukan nomor baru tersebut kepada kontak-kontaknya.
Idealnya, konsumen adalah raja. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa slogan itu sulit direalisasikan di negeri ini. Maka kita harus pintar-pintar memilih produk atau jasa teknologi yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
Kita sering enggan meminta informasi secara terperinci kepada penyedia layanan ketika tengah mempertimbangkan membeli atau berlangganan suatu produk. Selain sempitnya waktu (apalagi bila berada di counter yang ramai pengunjung), kadang-kadang perilaku petugas yang berada di garda depan tidak memungkinkan untuk bertanya A sampai Z. Memang tidak semua staf penjualan seperti itu. Saya pernah menjumpai seorang pedagang yang terlihat menguasai benar produk di tokonya. Bahkan tanpa diminta, ia menawarkan layanan purna jual dengan kalimat khas, “Kalau ada apa-apa, datang saja ke sini.” Lebih lanjut, ia menyatakan kesediaan untuk memberi keterangan kepada siapa pun yang berkunjung ke toko tersebut asalkan mau bertanya. Wajar saja karena jika penjaga outlet sudah membeberkan kekurangan suatu produk sejak awal, tentu akan berdampak negatif pada penjualan barang-barangnya.
Kesalahan paling umum masyarakat Indonesia adalah terpukau pada iklan. Kita tak dapat sepenuhnya meminta pertanggungjawaban produsen atau pihak pembuat promosi yang merumuskan kalimat penarik hati secara bombastis. Rasanya belum pernah terjadi seorang staf Customer Service membeberkan kekurangan jasa dan produk yang ditawarkan kepada konsumen, baik sebelum yang bersangkutan ini berlangganan maupun sudah.
Salah satu langkah efektif ialah tidak terburu nafsu. Jangan terpancing oleh informasi pengurangan tarif yang didengungkan berkali-kali, apalagi dalam iklan berdurasi singkat. Alihkan perhatian dari angka atau huruf berukuran besar di layar televisi atau halaman media cetak, kemudian cari keterangan tambahan yang biasanya kecil-kecil. Sejumlah promosi menyertakan tanda bintang di akhir kalimat, umumnya berbunyi “Syarat dan Ketentuan Berlaku”. Pastikan mengetahui apa yang dimaksud syarat dan ketentuan ini lebih mendetil. Barangkali kita harus menggunakan suatu merk atau tipe ponsel, mengaktifkan layanan GPRS, atau mengisi pulsa dalam jumlah minimal yang ditetapkan untuk memperoleh bonus.
Pendekatan kepada penjual di outlet-outlet biasanya bermanfaat, apalagi bila kita sudah berlangganan. Walaupun mengusung semangat dagang, penjual bersedia memberikan sedikit bocoran sejauh tidak terlampau merugikan kedua belah pihak (terutama pengecer dan produsen). Belum lama ini seorang pemilik outlet menginformasikan kepada saya bahwa wilayah kediaman kami belum terjangkau sinyal sebuah operator baru yang tengah naik daun. Keterangan tersebut sangat berguna meskipun mengungkap fakta yang aneh tapi nyata. Mengapa kartu perdana operator itu dijual di kawasan yang belum tercakup dalam jaringan?
Yang terpenting, kita harus menyadari bahwa teknologi adalah buatan manusia. Kita tak mungkin mengharapkan kesempurnaan. Bayangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh layanan seluler berkualitas nomor satu dengan sinyal stabil, suara bening, tarif murah, akses internet handal, dan aneka fasilitas lainnya.
Produk yang ada di pasaran sekarang ini saling melengkapi. Jika kantong tidak gembur sehingga memiliki lebih dari satu nomor (dengan operator berlainan) atau lebih dari satu ponsel justru mengganggu anggaran, pastikan pilihan kita sudah tepat. Setiap layanan menawarkan kelebihan masing-masing berikut kekurangan yang perlu dicermati dan dimaklumi.
Kebutuhan manusia terus berkembang, termasuk dalam komunikasi. Kalau dulu kita mementingkan tarif hemat, bisa jadi sekarang layanan akses internet merupakan prioritas kebutuhan. Begitu pula sebaliknya. Sah-sah saja bila keputusan kita berubah di lain kesempatan.

| |