Rini's posts with tag: kerja
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 Yang pertama, Mas Agus. Sastra Arab pilihan kedua setelah Pertanian. Alasan: batal masuk pesantren. Spesialisasi Sastra. Ngajar ngaji waktu masih kuliah saja. Darah guru yang diwariskan almarhumah Ibu diteruskan dalam bentuk..ngajar Statistik.
Setelah itu, saya. 'Bakat warisan' dari pengalaman Mama ngajar TK selama dua tahun, era 70-an. Sastra Prancis pilihan kedua setelah Inggris (tadinya mau Jerman). Spesialisasi Linguistik. Terakhir ngajar tahun 2002, bidang IT.
Kemudian, ponakan dari Mas sulung kami. Jurusannya Kependidikan Bahasa Inggris, di bawah Fakultas Ilmu Budaya. Meneliti kata-kata makian dalam film Eminem untuk bahan skripsi. Kakaknya dosen dan bilang dengan sangat yakin bahwa ia amat 'terpengaruh' keseharian saya dan Mas Agus menjadi freelancer. Keponakan kami suka dan pernah menerjemahkan, namun untuk jadi guru, ia bilang, "Memang masa depannya sudah jelas mau ke sana-sini. Tapi aku lebih tertarik yang belum kelihatan itu."
Lalu, ponakan dari kakak perempuan tertua. Sastra Inggris, dinaungi FISIP dengan sebutan Humaniora. Bapaknya orang pendidikan, ibunya guru. Di kampusnya sendiri ada jurusan Terjemahan dan Kependidikan selain Lingustik dan Sastra. Saya tanya mau jadi apa setelah ini, jawabannya, "Pokoknya nggak ngajar." Dalam hati saya nyengir, o..ow..kecipratan pengaruh juga ini anak. 
 Dua hari yang lalu, Mas Agus bilang bosan dengan lokasi meja kerjanya yang sangat dekat dapur. Entah itu membuatnya lapar terus atau lebih rajin berurusan dengan kerjaan rumahtangga daripada PR dari klien. Begitu dikatakan, langsung jebred. PC dan mejanya nangkring dekat pintu ruang tamu, kursi rotan digeser ke sebelah tengah dan karpet dicopot. Bikin lebih luas, memang. Lagian repot bersihin karpetnya. Dasar sudah bertekad bulat, malam harinya dia..ngepel. Saya nggak ngeh, tahu-tahu pagi lantai sudah enak diinjak saja. Kadang saya ledek 'meja resepsionis' karena begitu dekat dengan pintu. "Segar," katanya sambil membuka pintu dan memandang ke luar. Alasan lain jelas, biar bebas ngerokok lantaran banyak angin. Lagipula dia jadi sekertaris panitia HUT RI di RT kami tahun ini, disebabkan adanya komputer di rumah (sekali lagi peringatan/perayaan tanpa dangdutan, horeeee!). Giliran berikutnya, meja saya. Repot sih, harus menyalakan lampu duduk (yang berefek romantis itu) di musim byar pet listrik sekarang ini. Pindahlah sang meja ke sisi lain, dekat jendela. Gampang membuang pandangan kalau mata lelah, seperti langit biru yang bening sewaktu saya mengetik postingan ini. Mungkin karena suasana baru, tidur kami jadi lebih lelap. Bahkan hari pertama setelah ditata ulang, kesiangan:p  Supaya tempat tidur tidak mudah menggoda di tengah kesibukan kerja, saya ganti sprei dan tetek-bengeknya dengan warna kuning. Bukan kesengajaan sih, tapi hadiah satu set (tepatnya: hibah) dari kado mantenan Teteh di Jakarta. Katanya, warna terang bikin hangat. 
 "Pasti coklat," tebak seorang sahabat, yang menginap di rumah kami, penuh keyakinan saat saya ngemil beng-beng usai makan. Saya nyengir sementara ia sendiri...makan jelly.
Biarpun gigi tidak karuan dan sempat vakum ngunyah coklat selama setahun sejak Ibu wafat, saya tetap gemar makanan manis ini. Lagi deadline, lagi PMS, coklat adalah penganan wajib.
Pagi ini saya mencoba kerja dan..jdar! Laptop kena oleh-oleh virus dari sebuah file Word. Sambil nunggu scan selesai, saya minum jus sayuran. Jangan tanya deh rasanya..tapi ditutup dengan sekotak coklat. Sedapnya.. 
 ..il y a trés longtemps que je ne fais la siéste. Il fait plus froid de jour en jour, mais je dois toujours faire le ménage. Pas d’excuse.
Il y a presque une semaine que je quitte une révision. Heureusement, j’ai encore du temps pour lire (avant coucher), mais jamais pour écrire. Je me trouve assez difficile de concentrer à des pages d’un livre. Une silence est tellement mon besoin.
Il faut arranger mieux mon emploi du temps. Je suis en train de penser à mes boulouts, puis un neveu va venir chez nous dans deux jours. Plus d’attention, certainement, car il devra finir le plus tôt que possible un grand devoir: son mémoire.
sumber foto: sxc.hu 
 ..bukan rumah, sih. Sudah rapi jali karena ada yang lebih rajin:p Bukan pula beresin rak buku, karena belakangan saya lagi males baca maka semua masih pada tempatnya.
Pengennya bersih-bersih PC, tapi Mas Agus selalu di sana pada saat-saat yang bersamaan. Daripada merusak konsentrasi kerjanya, saya mundur dulu. Meski begitu banyak file tak berguna yang ingin saya buang dan hanya memadati harddisknya.
Bersih-bersih email, baru separuh jalan. Sebagian milis saya set nomail, bahkan unsubscribe. Banyak yang crossposting. Jadi demi penghematan waktu dan biaya, diseleksi yang benar-benar dibaca saja.
Bersih-bersih MP, ini agak sulit. Lebih repot daripada delete SMS yang tinggal pencet - Cleanup Messages. Jumlah entry membuat saya dua kali dicurigai robot oleh admin. Wajar saja, numpuk sih. Hari Minggu sudah di-sweeping beberapa, terutama yang basi-basi. Info tahun lalu, atau bahkan posting yang sudah kadaluarsa namun masih dipertanyakan. Itu prioritas untuk 'disikat'.
Revisi tulisan baru 4 halaman, nyetrika dulu ah.. 
 ..saya bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Kemarin sore, sedang membaca ulang draft yang harus direvisi berikut pengarahannya, seorang sahabat menelepon. Kemudian ponsel saya tinggalkan di ruang tamu.
"Kamu reject? Sadis juga," kata Mas Agus. Saya angkat bahu. Sahabat tersebut sangat paham bahwa saya jungkir balik mengatur waktu. Apalagi kemarin ada empat undangan khitanan di tempat yang sangat berdekatan, ditambah musik dangdut hingar-bingar sampai sore dan bikin kami tak bisa istirahat apalagi kerja. Masih untung saya bisa bantu Mas Agus cari bahan. Tidur? Lupakan.
Saat saya telepon kembali, sahabat tadi tentu saja sangat mengerti. Ia bahkan tertawa-tawa dan kami saling ledek mengenai RBT masing-masing (namanya juga gratisan).
Mas Agus sendiri balapan dengan waktu. Walau badan pegel abis nyuci segudang, habis Maghrib ia harus meluncur ke rumah klien. Telepon berdering dari teman sekampung yang ingin berkunjung, ia tak sampai hati menolak. Jadilah iring-iringan habis Isya, yang buntutnya tetap saja membicarakan pekerjaan juga:p
Soal persadisan, sebenarnya dialah yang memberikan 'contoh' untuk berlaku tega di saat-saat tertentu. Misalnya seorang teman lama (ngakunya) yang mencoba bergurau melalui SMS ke nomor Mas Agus kemarin. Dijawab: siapa ini? Teman itu masih bercanda, menganggap Mas Agus pura-pura lupa. Diketiklah jawaban 'Mun teu nyebutkeun ngaran, moal diwaro deui' (Kalo nggak nyebutin nama, nggak akan ditanggepin lagi). Sinyal tegas itu tak ditangkap. Begitu melihat pesan bernada kelakar lagi, Mas Agus langsung menghapus semua SMS dari nomor bersangkutan. "Dadah.." katanya, kemudian berpaling ke meja kerja. "Mengganggu orang sibuk."
sumber foto: sxc.hu 
 Alhamdulillah, draft saya tak dikembalikan. Cukup dengan catatan singkat yang saya pahami. Suka serem membayangkan draft itu di-resend, ingat cerita guru-guru di Malory Towers yang mengembalikan PR sampai dikerjakan dengan benar..
Merenung semalaman, memikirkan saran-saran untuk mengubah sedikit naskah itu. Sedikit, tapi harus mikir keras. Ada panggung manten sunat dekat rumah, semoga tak bising seharian. Mana mungkin saya minta pengertian hanya karena seorang pekerja tak lazim (baca: freelancer) butuh konsentrasi di hari Minggu. Besok bersih-bersih rumah, kakak dari Demak hendak berkunjung. Rencananya, Mama juga.
Bantu Mas Agus nyuci dulu, kali ya..
sumber foto: sxc.hu 
 Tadinya, saya sering merasa bersalah kalau ngejogrok di depan komputer pagi-pagi. Apalagi jika piring dan baju kotor menanti. Tapi terkadang sore hari saya ingin keluar atau sekadar nangkring di teras sambil istirahat. Kerja malem? Jauh-jauh, deh.
Belakangan ini saya mengubah jadwal. Masak dilakukan sore hari, kadang malam. Asyik juga makan malem dadakan, anget-anget dan nggak bikin males. Tidur jadi lebih lelap, meskipun bangun paginya udah laper berat lagi..:p
Dengan demikian, saya bisa menulis di pagi hari. Siang juga, kalo mau. Pikiran tidak terbelah-belah. Seperti pagi ini, satu revisi sudah kelar. Revisi selanjutnya nanti siang, insyaAllah.
sumber foto: sxc.hu 
Sering saya membaca atau mendengar pernyataan Perempuan lebih suka dibohongi. Sebenarnya, menurut saya, manusia pada dasarnya tak suka mendengar kebenaran. Baik yang benar-benar pahit bagi semua pihak, maupun yang pahit bagi dirinya karena menyenangkan bagi orang lain.
Ini pun terkait soal kerja, hal yang cukup sering ditanyakan kepada saya dan Mas Agus. Baru-baru ini Mas Agus menjawab dengan jujur, "Saya jualan teh botol." Dia tidak bohong, benar-benar naro teh botol satu krat di sebuah bengkel di kota sebelah utara sana. Namun pandangan dan pertanyaan berikutnya meluncurkan ketidakpuasan serta ketidakpercayaan. "Masa sih? Masa sarjana jualan teh botol?" Seolah-olah jualan teh botol itu haram dan melanggar hukum.
Menyangkut bengkel, itu juga menggelikan. Mas Agus mengelolanya bersama beberapa teman, walaupun ia menolak keras disebut pemilik. Melihat bengkel tersebut ramai pengunjung sejak hari pertama dibuka, seseorang yang cukup dekat berkomentar, "Wah, kapan nih 'gajian', Gus?"
Kemarin dia memasang pompa air baru di rumah Mama yang dikontrakkan. Ibu penyewa memperhatikan Mas Agus bolak-balik meminta adik saya mengambil obeng dan alat lainnya di dalam tas (tasnya tuh gede kayak mahasiswa S2 atau tugas belajar gitu), dan bingung. "Wah, isinya apa aja, Mas? Komplit banget." Doraemon kale..
Dunia memang aneh. Kalo nggak aneh, nggak rame kali ya.
 | Mabal | Jun 19, '08 8:30 PM for everyone |
 Istilah populernya, bolos. Dulu, ada teman kuliah yang tak pernah muncul di kampus sampai berhari-hari. Tak jelas alasannya. Dia bilang bahwa orangtuanya tidak mempertanyakan sebab ia selalu ada di rumah. Teman KKN saya tak pernah meninggalkan tempat kosnya pada hari-hari UTS atau minggu tenang. Dia bilang, "Nggak belajar nggak apa-apa, asal jangan keluyuran."
Sikap saya setali tiga uang. Satu-dua kali saudara atau kerabat mengajak ketemuan atau pergi bareng ke suatu acara, saya jawab, "Nggak bisa. Ada kerjaan/deadline." Ketika ia menelepon dan bertanya, "Kamu lagi ngapain, Rin?" terkadang saya sedang tidur, nyuci baju, atau baca buku. Apa saja, pokoknya bukan sedang main. Biar tidak merasa terlalu bersalah:p
sumber foto: sxc.hu 
..karena pemadaman bergilir. Hari ini meluncur pagi-pagi ke Jatinangor, dan...tebakan saya tepat. Mati lampu lagee..
Dua pekan ini jadwal rutin saya berubah total. Kerja malem-malem, selain males dan nggak biasa, sebenarnya nggak menghemat energi juga. Padahal yang digarap tuh setrikaan..masak nasi..dan sebagainya yang membutuhkan listrik. Ga nahan juga kalo melek sampai midnight mulu, sempet ambruk soalnya.
Akhirnya diubah, bangun jam 3 pagi dan memulai rutinitas rumah..nyuci, cuci piring, masak nasi (ini paling vital, kalo beli mulu bisa tekor!), berkomputer-ria, ngecharge HP, dsb..dsb.. Seperti tadi pagi, dinihari sudah 'nemenin' Mas Agus yang kerja sambil nonton F1 
Apa boleh buat, deh. Semoga darah rendah nggak kambuh di saat-saat serba genting begini. Kalo masuk angin sih, biasa..heheheh..
 Senin mendatang, 28 April, adalah hari lahir seorang wanita yang cukup penting dalam kehidupan kami.
Beliau yang membiasakan para keponakan terhadap ritme kerja saya dan Mas Agus di rumah, kendati orangtua mereka pun tak lagi berpayung di bawah satu perusahaan. Saya ingat setiap kali si Tengah terlihat duduk di samping saya, beliau akan bertanya, "Meis, kamu sudah tanya apakah Tante Ade sedang sibuk?" atau "Tante Ade sedang kerja, Meis, bukan main. Sedang business (demikian beliau melafalkan kata bisnis)."
Sekali waktu, saya berkutat di depan komputer dalam keremangan. Mendadak beliau muncul dari dalam rumah dan menyalakan lampu meja, lalu berkata tegas, "Kamu mau mata kamu rusak?" Kali lain, ketika saya dan Mas Agus membelikan keponakan-keponakan nasi goreng, beliau berkomentar, "Kenapa jajan-jajan terus? Lebih baik simpan uangnya, untuk beli rumah."
Walaupun usianya sudah sepuh, beliau senantiasa menjadi teman diskusi yang menyenangkan soal pekerjaan. Saat saya sakit dan tenggat tak terkejar, disarankannya untuk tidak ragu mengontak klien dan meminta perpanjangan waktu. Tatkala terjemahan selesai dicetak, beliau membuka halaman-halaman yang ditata rapi dan tersenyum penuh kelegaan.
Menurut kakak sepupu saya, menjelang wafatnya pun beliau masih mencemaskan kami. Katanya, "Mereka berdua itu punya potensi, tapi belum 'berbunga'."
Kini, di rumah ini, saya terkenang dan merasa rindu kepada beliau. Mungkin suatu hari kelak, jika mental sudah siap, saya akan mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya di kota sebelah.
Mama, doamu sudah terkabul.
sumber foto: sxc.hu 
 Rencananya, malam Minggu ini Mas Agus dan saya akan jalan-jalan ke Jatinangor. Nostalgia sambil 'berlagak kayak ABG malam Mingguan', begitu katanya seraya terkekeh.
Sebelum itu, kami mampir ke warnet dulu. Sinyal di rumah jeleknya minta ampun, jadi memaksakan koneksi untuk browsing sama saja dengan memboroskan pulsa. Saya punya kesempatan memenuhi permintaan si Bungsu untuk memperbaiki blognya, bahkan menemukan theme Nightmare before Christmas favoritnya. Ia langsung menelepon dan mengucapkan terima kasih dengan suara serak.
Mendadak Mas Agus menghampiri bilik dan mengajak pulang. Kirain karena masuk waktu Maghrib. Ternyata kliennya menelepon dan minta ketemu malam ini. Batallah acara jalan-jalan. Nasib..nasib..
Beberapa menit setelah tiba di rumah, Mas Agus berkutat dengan pekerjaannya agar cepat selesai. "Maaf ya Sayang, mudah-mudahan besok kita bisa pergi," katanya. Saya tidak marah, sih. Ini bukan yang pertama kalinya. Kesibukan Mas Agus sedang tinggi sekali, sampai-sampai kliennya menelepon hampir setiap waktu.
sumber foto: sxc.hu 
 Bekerja freelance memungkinkan saya dan Mas Agus membangun hubungan personal dengan klien tanpa memandang jabatan dan umur, sejauh minat dan cara berpikir cocok serta - tentu saja - hasil kerja sesuai harapan. Tidak jarang mereka memberikan buah tangan yang beragam namun penuh kesan, sehingga menorehkan keindahan tersendiri dalam perjalanan kami sebagai pekerja lepas.
Salah satunya sirup terong Belanda ini, berikut teh bubuk khas yang baru diterima Mas Agus tadi malam. Kadang-kadang sang klien memberikan sebotol sirup Markisa yang kami nikmati sekeluarga. Pada suatu tahun, Mas Agus memperoleh sejumlah beras sebagai bonus. Ada juga klien yang menghadiahkan liburan gratis di sebuah pemandian air panas dekat kediamannya.
Tetapi yang paling tak terlupakan adalah ketika Mas Agus menjadi ghostwriter untuk seseorang yang diundang menjadi pembicara di sebuah kota di pulau seberang. Seminar diadakan oleh himpunan pengusaha kecil dan menengah, maka sang klien turun dari pesawat membawakan kami ...berkilo-kilo kerupuk! Saking banyaknya, ibu saya juga kebagian:) 
 Risiko tinggal di kaki gunung berhutan adalah berbagi ruang dengan makhluk hidup lainnya, termasuk merpati-merpati peliharaan tetangga. Mereka sering megat-megot masuk ke dalam rumah sejak kami kerap memberi makan dengan nasi sisa kemarin. Kadang-kadang ada yang menemani saya mencuci piring sambil mematuk-matuk butiran nasi di lantai dapur.
Kemarin pun demikian. Saya sedang memusatkan perhatian pada naskah terjemahan ketika terdengar langkah kaki yang tidak asing lagi di belakang. Tidak masalah meski saya harus mengawasi kalau-kalau para burung ini pup dan kena cucian yang tengah dijemur. Mas Agus pernah menggoda pemiliknya, "Japati abus ka imah, yeuh. Peuncit wae?" (Merpati masuk ke rumah, nih. Sembelih aja?) Tetangga kami menjawab dengan tawa.
Burung-burung itu berkeliaran dengan centilnya (dengan suara yang menurut Mas Agus 'lagi pacaran') di belakang dan halaman. Lucu juga sih, bikin saya makin menjiwai cerita anak di depan mata. Namun begitu satu kaki mereka menginjak ubin dalam rumah, saya menghentakkan kaki dan para merpati beterbangan menjauh.
Foto di sebelah ini diambil beberapa minggu lalu. Tetapi si merpati berbulu coklat sudah nongol di ambang pintu, mengucapkan selamat pagi kepada kami. Mungkin juga mencari-cari butiran nasi yang biasa disebarkan sebagai sarapan. 
| |