Rini's posts with tag: kiat menulis
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Celia Warren |
SMS dari Nunik Utami pagi ini: 'Ya ampun, bukunya enaak bgt! Cakeeeep bgt! Seneng bgt bs jd penerjemah buku keren begini.' http://nunikutami.multiply.com
 "Ceritakan padaku sebuah kisah!" adalah harapan lazim setiap pembaca. "Bikin aku peduli, senang, takut..." dan malanglah penulis yang tidak mengerti pesan itu.' (halaman 13)
'Penulis yang mengabaikan pengharapan pembaca akan merugikan diri sendiri, dan pembaca yang mengabaikan kecakapan teknis penulisanya tidak akan menemukan signifikansi cerita yang dibacanya. Hargai pembacamu! Mungkin inilah perintah yang tepat untuk semua penulis... Namun, para pembaca juga harus didesak: Hargai penulismu! Kemitraan, itu intinya.' (halaman 14) 
 'Hari semua orang memiliki jumlah jam yang sama. Jika kamu ingin mengerjakan sebuah tugas istimewa, seperti mengarang cerita, kamu harus meluangkan waktu khusus untuk itu. Dan meluangkan waktu biasanya berarti kamu harus mengambilnya dari bagian kehidupanmu yang lain. Mematikan televisi. Berlatih menulis tiga puluh menit sehari sebagai ganti main Marimba. Mengatur menyelesaikan PR dan ritual waktu tidur secara lebih efisien. Sebuah cerita bukan sebuah berkah yang diberikan saat kamu sedang memikirkan hal lain. Ia adalah sebuah proyek yang harus kamu garap secara cermat dan hati-hati.' (halaman 19-20) 
  Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha menerjemahkan sebaik mungkin. Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi ZonaRawan, Jones' Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar aliterasinya utuh, dan ' wd like 2 c my band m'bers agn menjadi inginbtm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa. Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama. Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu. Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng. Hal-hal seperti ini terkesan 'sepele' tetapi merupakan bekal penting di kemudian hari. 
 Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit, mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun hanya sekilas, dari milis Apsas. Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor, saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8 (teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut: Hari Senin diguyur hujanAir menggenang di semua saluranSelasa, angin sungguh kencangMematahkan cabang-cabang Persoalan lain timbul kala saya menghadapi clerihew (halaman 12). Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling. Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa 'naked' diterjemahkan 'hanya pakai baju dalam'. Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini. Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti ' Kucingkuning berkeliling di tanah kering' (halaman 20). Alhamdulillah, koreksi editor di buku ini hampir tidak ada. 
 Inilah buku yang paling cocok dikonsumsi orang dewasa, selain anak-anak. Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi: mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur cerita. Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex, nama seorang klien yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu. Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal klien saya jauh lebih muda:p  Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa ' Kenneth Grahame's gentle,friendly Reluctant Dragon.' Konteksnya simbol hewan dengan karakter berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang familiar bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan 'kera yangsakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti'. Sebelumnya saya mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu. 
 Pekerjaan ini saya dapatkan 'tidak sengaja'. Mbak Andar dari penerbit Tiga Serangkai memposting lowongan freelance di milis bahtera. Tadinya saya pikir, akan kalah saing dengan para ahli bahasa senior di sana. Alhamdulillah, Mbak Andar menanggapi email saya. Setelah bincang-bincang singkat, termasuk kesanggupan menerima materi dalam format PDF dan kecocokan jadwal, saya memulai tugas ini. Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat. Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu. Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya, sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya. Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru, meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga. Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26). Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah Anda menebak isi surat di bawah ini? Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolongtak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumahseminggu, ke sumur!Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu. 
 Kita tidak ingin surat kita terlihat seperti halaman diary atau autobiografi, misalnya 'Keadaanku sejauh ini'. Hindari mengawali kalimat dengan 'Aku' (walaupun boleh saja menggunakannya sesekali!)
(halaman 12) 
 - Tips
Sangat dianjurkan menulis jenis cerita yang kalian sukai.
Bacalah buku dengan genre berbeda sebanyak mungkin. Makin banyak membaca, makin meningkat kemampuan menulis kalian.
(halaman 5)

 Dalam penulisan puisi, menggambarkan atau membandingkan sesuatu seolah-olah seperti hal lain disebut metafora, yakni pemakaian kata sebagai lukisan atau gambaran suatu persamaan atau perbandingan misalnya, 'angin adalah singa yang mengaum'.
(halaman 10) 
 Meresensi Buku Cerita atau Buku Bergambar
Beritahukan lokasi cerita dan gambarkan karakter-karakter utamanya kepada pembaca. Jelaskan hubungan antarkarakter tersebut. Apakah mereka satu sekolah atau bertemu secara kebetulan? Jelaskan plotnya, tapi jangan terlalu detail. Lalu, berikanlah pendapat kalian tentang buku itu. Apa yang kalian sukai dari ceritanya? Plotnya meyakinkan? Karakternya masuk akal? Memesona? Jika disertai ilustrasi, bagian apa yang kalian sukai? Apakah ilustrasi tersebut sesuai?
(halaman 12) 
 Sore ini Pakcik Ahmad, seorang rekan Apsasian (sebutan untuk member milis Apsas), berkomentar sbb:
selamat teh Rini.. saya sudah lihat buku2 ini di Gramedia Pondok Indah. berbaur dalam tumpukan buku2 anak2 yang campur aduk. yang saya baca 2, how to write stories dan how to write poems... kepada 2 panglimaku aku katakan, "buku ini yg terjemahkan kawan baba lho.. ini namanya Rini Nurul Badariah".
aku selalu senang ke toko buku untuk menemukan banyak nama-nama yang aku kenal.
menurutku buku How To Write Poems nya cukup simple dan dapat dijadikan text book untuk para pembimbing kelas sastra pada murid2 pada tahap awal mereka mengenal puisi. bisa-bisa ini menjadi step 1 sebelum membaca Menapak Ke Puncak Sajaknya Hasan Aspahani...
salam Daun Sirih
Saya terharu sekali. Mendadak pusing kepala jadi nggak terasa:-) 
Buku seri Asyiknya Menulis ini telah mendarat di pasaran, termasuk di toko buku Gramedia. Terima kasih banyak saya haturkan pada Mbak Ai yang telah membeli dan menyampaikan informasi ini.
Apa judulnya dan siapa penulisnya? Diproduksi penerbit apa? Asyiknya Menulis Cerita karya Celia Warren dan Asyiknya Menulis Puisi karangan Wes Magee. Diterbitkan oleh Tiga Serangkai.
Apa kelebihan kedua buku ini? Genrenya adalah non fiksi untuk anak, akan tetapi isinya layak dikonsumsi pembaca dewasa dan remaja yang senang dan ingin tahu lebih banyak soal tulis-menulis. Harganya terjangkau, halaman berwarna dan dihiasi ilustrasi menarik sehingga uraiannya tidak terasa berat apalagi membosankan (khususnya Asyiknya Menulis Puisi).
Mengapa cocok juga untuk kalangan pembaca selain anak-anak? Bukankah covernya terlihat 'anak-anak' sekali? Isinya relatif taat pada naskah asli yang diterbitkan di London, sehingga beberapa bagian mungkin terbilang 'asing' bagi anak-anak Indonesia. Contohnya jenis-jenis puisi yang mencakup haiku dan limerick. Keceriaan tampilan kedua buku ini mengajak pembaca, baik anak maupun dewasa, untuk belajar menulis sambil 'bermain'. Di samping itu, uraian di dalamnya tidak mengedepankan teori melulu melainkan banyak latihan disertai unsur-unsur perangsang kreativitas.
Apa judul dua buku lainnya? Asyiknya Menulis Surat dan Email dan Asyiknya Menulis Laporan.
Selain Gramedia, bisa diperoleh di mana lagi? Tisera, toko buku milik Penerbit Tiga Serangkai yang terdapat di beberapa kota.
 Ini khusus menyangkut pengajuan naskah buku ke penerbit. Bukan artikel atau cerpen ke media cetak, sebab saya kurang berpengalaman dalam soal itu.
Resep dasarnya klise: jangan kecil hati (kecewa boleh, tapi jangan lama-lama), cek ulang, kirimkan lagi. Mengapa harus dicek ulang? Kaitannya dengan beberapa sebab penolakan di bawah ini.
1. Tidak ada pasar yang menyerap naskah kita. Tren berubah dengan cepat dan bisa dimaklumi jika penerbit tertentu tidak berani mengambil risiko untuk 'melawan arus'. Belum lama ini, naskah fiksi saya ditolak dengan alasan demikian dan penerbit sekaligus memberitahukan bahwa segmentasi naskah yang diterima sekarang adalah A, B dan C. Menghadapi penolakan seperti ini, kita bisa menulis naskah baru yang benar-benar sesuai kebutuhan penerbit itu, menyimpan naskah yang ditolak sampai mendapatkan penerbit yang bersedia mencetaknya, atau mengirimkannya kepada penerbit lain yang kira-kira sesuai.
2. Penerbit tidak menyebutkan alasan, sekadar 'tidak dapat menerbitkannya' namun menilai naskah kita berkualitas baik. Segera layangkan ke penerbit lain.
3. Beberapa bagian perlu dikoreksi, misalnya gaya bahasa. Perhatikan saran-saran penerbit. Apabila kita merasa mampu dan tidak 'berseberangan' dengan visi penerbit tersebut, tak ada salahnya mengubah di sana-sini. Minta waktu untuk revisi dan ajukan ke penerbit itu kembali.
4. Koreksi vital, yakni tata bahasa dan ejaan. Mau tidak mau, kita harus memperbaikinya bila ingin naskah diterbitkan. Ada saja yang meloloskan naskah seperti ini (meski jumlahnya satu dari seribu) namun itu akan mencemari reputasi kita sendiri sebagai penulis.
5. Tema sudah terlalu banyak diterbitkan, baik oleh penerbit itu sendiri maupun yang lain. Kita perlu berjalan-jalan ke toko buku, menelaah perpustakaan, mencari tahu di Internet untuk menemukan celah perbaikan naskah dan mempertajamnya sehingga berbeda dengan yang sudah ada. Setelah itu, diajukan lagi.
sumber foto: sxc.hu 
 Sudah sering terjadi, ide-ide yang tidak berhubungan menerobos otak ketika berusaha konsentrasi menulis sebuah naskah. Mencatatnya di satu file atau buku ide kadang-kadang tidak membantu. Rencana menuangkan kemudian di naskah yang berbeda kerap urung karena kehilangan greget atawa letupan emosionalnya.
Apa yang saya siapkan semalam pun terasa lain kala diketik pagi ini. Tapi saya melawan 'godaan' untuk menggunakan ide tersebut dalam naskah lain di kemudian hari. Saya harus bisa mengaitkannya dengan cerita ini, menjadikannya perangkat untuk mengembangkan plot. Lagi pula dengan demikian, saya terbantu dari 'kengerian' terhadap kuota naskah. Ngitung-ngitung terus, nggak akan ada habisnya. Bukan fokus ke penulisan, malah mikir: 'sudah berapa halaman, ya?' atau 'sekian halaman lagi, nih'. Atau malah lebih parah, 'duh, masih banyak nih'. Lebih-lebih saya suka mengetik dengan font yang tidak jamak karena bosen liat Times New Roman.
Jadi kalau ditanya berapa halaman naskah yang sedang saya tulis sekarang, jawabannya 'nggak tahu'. Kenapa? Saya melakukan metode loncat-loncat seperti waktu nulis 'Happy-Go-Lucky' dulu. Membuka beberapa window MS Word, jadi ide X dapat ditaruh di bab pertama, ide lainnya lagi di bab tiga, atau mungkin langsung ke bagian akhir, sehingga penulisan lebih lancar. Singkirkan jauh-jauh kekhawatiran akan habis gagasan bila ke depan akan menulis lagi. Optimis aja, yang namanya inspirasi sebenarnya nggak sukar dicari.

 Beberapa hari yang lalu dikirimi cover buku ini oleh editor Akar Media yang baik hati dan sangat penyabar:) Hiburan di saat-saat pemulihan kondisi tubuh. Setelah hampir setahun menanti naskah ini digodok.
Kepastian terbitnya menyusul, yang pasti: segera. Mohon doanya, dan semoga buku ini bermanfaat.

 Tip ringan ini tidak bermaksud mengajarkan cara meloloskan diri dari tuduhan penjiplakan, melainkan untuk menepis kekhawatiran terhadap dugaan tersebut akibat kemiripan-kemiripan yang tidak disengaja.
Judul yang sama tidak serta-merta memicu kecurigaan di atas. Saya pernah mendapati dua novel berjudul persis serupa. Satu terjemahan, satu lokal. Tetapi adem-ayem saja. Ini berlaku untuk kosakata yang lazim dan banyak digunakan, misalnya Mawar Merah atau Cinta Buta yang tidak mengingatkan kita pada suatu produk. Namun alangkah baiknya, saat menulis kita meriset dulu judul-judul yang sudah ada. Ini pun berguna supaya judul pilihan kita spesifik dan tetap menarik, alias tidak kelewat 'jamak'.
Apabila mengambil data dari artikel surat kabar, buku, atau Internet, selalu cantumkan sumbernya. Usahakanlah meminta izin dari pemilik blog. Jika menghubunginya terasa sulit, upayakan mengambil rujukan dari surat kabar, majalah dan situs berita. Prosedur dan kontak mereka relatif lebih mudah. Seringkali pemilik blog mencantumkan alamat email yang jarang dicek (mungkin untuk menghindari spam). Saya pernah membatalkan pencantuman secuplik kandungan blog karena pemiliknya baru membalas email berbulan-bulan kemudian. Hal ini berlaku untuk penulisan fiksi juga. Dalam sebuah novel Tria Barmawi, ia mencantumkan muasal pemikiran 'kosmetik sebagai investasi' dari sebuah media cetak di Malaysia.
Saya tidak ingat persentase cuplikan (atau salinan) data asli yang memungkinkan seorang penulis dianggap menjiplak. Ingat saja aturan dalam penyusunan skripsi, selalu mengutip secara tidak langsung. Tindakan ini bukan hanya mengasah kemampuan menulis kita (sekaligus cara berpikir untuk tidak potong kompas), namun juga menyeragamkan gaya berbahasa yang belum tentu senada. Contohnya seperti paragraf berikut ini:
Bahan kutipan: 'Setelah diganti dengan simcard operator lain, sinyalnya tetap hilang-timbul. Jadi hape-nya yang tidak beres.'
Tulisan saya yang hendak dilanjutkan dengan kutipan di atas: 'Masih menjadi tanda tanya, apakah ini diakibatkan oleh masalah jaringan selama migrasi frekwensi atau ponsel yang tidak kompatibel. Untuk itu, perlu dilakukan suatu langkah.'
Jika kutipan di atas dilekatkan begitu saja, akan terjadi 'jurang' gaya bahasa yang mengganggu. Pemakaian istilahnya pun sudah berbeda. Maka sang kutipan ditulis ulang sebagai berikut:
'Saya mengganti simcard dengan nomor operator lain. Ternyata, sinyalnya tetap hilang-timbul. Sampailah saya pada kesimpulan bahwa ponsel yang saya gunakan pun patut 'dicurigai'.'
Semoga bermanfaat.

 1. Kumpulkan cover buku karya kita (jika lebih dari satu) dalam satu album. Pastikan bahwa album tersebut 'strategis' dan mudah diakses oleh pengunjung blog. Misalnya di album Multiply, dapat diatur agar album muncul di halaman utama.
2. Bila mempunyai account friendster, update selalu foto di dalamnya dengan cover buku karangan kita. Hal ini juga berlaku untuk artikel atau karya fiksi yang dimuat di media cetak.
3. Jadikan cover buku sebagai headshot Multiply atau foto utama dalam profil friendster.
4. Pastikan komputer yang kita gunakan bebas dari virus apabila memasang signature email yang mencantumkan judul karya. Saya pernah diserang virus ganas (namanya KAK worm) yang memakan habis seluruh data di komputer ketika menggunakan signature email beberapa tahun lalu.
5. Suntinglah signature email apabila daftar karya kita sudah cukup banyak. Cantumkan judul buku terbaru saja atau link ke blog yang memajang seluruh karya kita.
6. Hindari hard marketing dan tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan seperti crossposting ke sejumlah milis mengenai penerbitan buku baru kita, apa lagi jika penerbit yang bersangkutan telah mengabarkannya lebih dahulu. Dunia maya amat sempit. Satu orang dapat berlangganan beberapa milis sekaligus, dan tentu akan menjengkelkan melihat posting informasi yang sama di milis-milis tersebut pada waktu bersamaan. Lebih-lebih jika komposisi teksnya sekadar copy-paste, tidak berbeda sehuruf pun.
7. Posting dengan elegan. Jangan sampai pembaca/anggota milis merasa diteriaki untuk membeli. Menurut saya, kalimat promosi paling 'ramah konsumen' adalah yang ditata dengan bahasa setengah resmi atau resmi sekalian. Usahakan posting tidak terlalu panjang dan kelewat menggebu-gebu sehingga memadamkan minat pembacanya.
8. Ucapkan terima kasih setiap kali seorang member milis/pengunjung blog menyatakan minatnya untuk membaca buku kita. Jangan kesal apabila ia membaca buku pinjaman teman, keluarga, atau bahkan di perpustakaan/rental buku. Hargai kesediaannya meluangkan waktu mengapresiasi apa yang telah kita tuliskan.
9. Sesekali googling dengan keyword judul buku kita. Apabila menemukan resensi, sapalah penulisnya dan sampaikan keinginan kita untuk mencantumkan link resensi tersebut dalam blog.
10. Proses kreatif senantiasa menarik untuk disimak, seperti halnya behind the scene sebuah film. Ceritakan tahap-tahap penggarapan buku, darimana ide awalnya kita peroleh, langkah pemilihan judul, bahkan sampai penggodokan di penerbit.
11. Beritakan dalam blog mengenai diskon dari toko buku online, misalnya, atau diskon di toko-toko tertentu. Tidak ada salahnya menginformasikan rak tempat buku kita berada di sebuah toko buku, karena tidak jarang peletakan buku tidak sesuai kategori sehingga menyulitkan calon pembeli.
Mudah-mudahan tip ini bermanfaat. 
 'Persoalannya, kadang kita cukup puas dan bangga jika punya ide saja. Padahal, sebelum sebuah ide dieksekusi menjadi sebentuk karya, ide itu belum aktual nilainya. Nah, keberanian dan hasrat 100% untuk mewujudkan ide adalah kata kuncinya.' (halaman 48) 
 Permintaan revisi adalah suatu bentuk 'penolakan'. Wajar saja apabila kita merasa kesal, kesulitan, atau kurang bersemangat baik saat merevisi naskah untuk dikirimkan ke penerbit yang berbeda maupun menyesuaikan dengan kriteria yang ditetapkan suatu penerbit (tempat kita mengajukan draft).
Langkah pertama, lupakan sejenak surat/email/pemberitahuan dalam format apa pun yang menyampaikan bahwa naskah kita belum dapat diterbitkan. Bila nada dan kalimat yang digunakan dalam pemberitahuan itu 'bersahabat', jangan dibuang atau dihapus. Suatu saat kita pasti dapat membacanya lagi dengan pikiran yang lebih jernih.
Kedua, simpan dahulu naskah di suatu tempat. Jangan terlalu jauh dan pastikan tetap mudah dijangkau. Kita perlu 'mendinginkan' kepala guna memperoleh ide perbaikan, seperti halnya menyunting.
Ketiga, jalan-jalan ke toko buku. Lihat buku-buku baru yang semakin banyak jumlahnya. Perhatikan covernya yang menarik, sinopsisnya yang mengundang penasaran, dan bayangkan bahwa salah satu dari buku itu adalah karya kita sendiri. Hal ini dapat memicu antusiasme untuk segera melakukan revisi dan tidak menundanya terlalu lama.
Masih tidak terdorong juga? Cobalah trik keempat. Tanamkan sejenis sugesti negatif dalam benak kita. Bagaimana kalau penulis lain menghasilkan karya yang temanya kurang lebih sama dan lebih cepat menerbitkannya? Atau bahkan mengajukannya ke penerbit yang kita tuju? Ini bukan pencurian ide. Di antara sekian banyak gagasan yang bertebaran di sekitar kita, selalu ada kemungkinan kemiripan dengan penulis yang bahkan tidak kita kenal. Yang membedakan adalah tekad dan kemauan. Membuang waktu dengan berkeluh-kesah tidak akan mengubah apa pun. Toh kita tetap harus menjahit ulang naskah. Jadi mengapa tidak melakukannya sekarang juga?
Saat membuka kembali arsip naskah tersebut, bayangkan saja kita sedang menulis naskah baru. Seringkali membuat yang baru lebih menyenangkan daripada merevisi. Anggap saja kita tengah menulis naskah lain dan hampir selesai.
Semoga kiat sederhana ini berguna. 
| |