Rini's posts with tag: kiat menulis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kiat menulis
ReviewReviewReviewReviewAsyiknya Menulis CeritaApr 19, '08 9:31 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:Celia Warren
SMS dari Nunik Utami pagi ini:
'Ya ampun, bukunya enaak bgt! Cakeeeep bgt! Seneng bgt bs jd penerjemah buku keren begini.'

http://nunikutami.multiply.com


"Ceritakan padaku sebuah kisah!" adalah harapan lazim setiap pembaca.
"Bikin aku peduli, senang, takut..." dan malanglah penulis yang tidak
mengerti pesan itu.'
(halaman 13)

'Penulis yang mengabaikan pengharapan pembaca akan merugikan diri
sendiri, dan pembaca yang mengabaikan kecakapan teknis penulisanya
tidak akan menemukan signifikansi cerita yang dibacanya. Hargai
pembacamu! Mungkin inilah perintah yang tepat untuk semua penulis...
Namun, para pembaca juga harus didesak: Hargai penulismu!
Kemitraan, itu intinya.'
(halaman 14)


'Hari semua orang memiliki jumlah jam yang sama. Jika kamu ingin
mengerjakan sebuah tugas istimewa, seperti mengarang cerita, kamu
harus meluangkan waktu khusus untuk itu. Dan meluangkan waktu
biasanya berarti kamu harus mengambilnya dari bagian kehidupanmu yang
lain. Mematikan televisi. Berlatih menulis tiga puluh menit sehari
sebagai ganti main Marimba. Mengatur menyelesaikan PR dan ritual waktu
tidur secara lebih efisien. Sebuah cerita bukan sebuah berkah yang
diberikan saat kamu sedang memikirkan hal lain. Ia adalah sebuah
proyek yang harus kamu garap secara cermat dan hati-hati.'
(halaman 19-20)


Blog EntrySaat Menerjemahkan Asyiknya Menulis LaporanMar 18, '08 10:30 AM
for everyone
Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap
mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau
laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha
menerjemahkan sebaik mungkin.

Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya
menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi
mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi Zona
Rawan, Jones' Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar
aliterasinya utuh, dan 'wd like 2 c my band m'bers agn menjadi ingin
btm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa.

Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama.
Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar
aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi
Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu.
Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng.
Hal-hal seperti ini terkesan 'sepele' tetapi merupakan bekal penting
di kemudian hari.


Blog EntryKisah Penerjemahan Asyiknya Menulis PuisiMar 18, '08 10:29 AM
for everyone
Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi
saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut
ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit,
mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun
hanya sekilas, dari milis Apsas.

Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor,
saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka
saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8
(teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi
unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari
dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut:

Hari Senin diguyur hujan
Air menggenang di semua saluran

Selasa, angin sungguh kencang
Mematahkan cabang-cabang

Persoalan lain timbul kala saya menghadapi clerihew (halaman 12).
Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling.
Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi
jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh
tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan
berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling
ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu
kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa 'naked' diterjemahkan
'hanya pakai baju dalam'.

Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini.
Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti 'Kucing
kuning berkeliling di tanah kering' (halaman 20).

Alhamdulillah, koreksi editor di buku ini hampir tidak ada.


Blog EntryDapur Terjemahan Asyiknya Menulis CeritaMar 18, '08 10:29 AM
for everyone
Inilah buku yang paling cocok dikonsumsi orang dewasa, selain
anak-anak. Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain
tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi:
mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur
cerita.

Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai
sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya
mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex,
nama seorang klien yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu.
Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal klien saya jauh lebih muda:p


Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa 'Kenneth Grahame's gentle,
friendly Reluctant Dragon.' Konteksnya simbol hewan dengan karakter
berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang
familiar bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan 'kera yang
sakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti'. Sebelumnya saya
mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu.





Pekerjaan ini saya dapatkan 'tidak sengaja'. Mbak Andar dari penerbit
Tiga Serangkai
memposting lowongan freelance di milis bahtera. Tadinya
saya pikir, akan kalah saing dengan para ahli bahasa senior di sana.
Alhamdulillah, Mbak Andar menanggapi email saya. Setelah
bincang-bincang singkat, termasuk kesanggupan menerima materi dalam
format PDF dan kecocokan jadwal, saya memulai tugas ini.

Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat.
Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya
ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi
untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu.

Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa
mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan
sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer
grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya,
sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal
bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca
Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya.

Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru,
meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku
ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat
formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang
kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga.

Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26).
Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah
Anda menebak isi surat di bawah ini?

Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolong
tak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumah
seminggu, ke sumur!

Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan
anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu.


Kita tidak ingin surat kita terlihat seperti halaman diary atau
autobiografi, misalnya 'Keadaanku sejauh ini'. Hindari mengawali
kalimat dengan 'Aku' (walaupun boleh saja menggunakannya sesekali!)

(halaman 12)


  • Tips

    Sangat dianjurkan menulis jenis cerita yang kalian sukai.

    Bacalah buku dengan genre berbeda sebanyak mungkin. Makin banyak
    membaca, makin meningkat kemampuan menulis kalian.

    (halaman 5)



Dalam penulisan puisi, menggambarkan atau membandingkan sesuatu
seolah-olah seperti hal lain disebut metafora, yakni pemakaian kata
sebagai lukisan atau gambaran suatu persamaan atau perbandingan
misalnya, 'angin adalah singa yang mengaum'.

(halaman 10)


Meresensi Buku Cerita atau Buku Bergambar

Beritahukan lokasi cerita dan gambarkan karakter-karakter utamanya
kepada pembaca. Jelaskan hubungan antarkarakter tersebut. Apakah
mereka satu sekolah atau bertemu secara kebetulan? Jelaskan plotnya,
tapi jangan terlalu detail. Lalu, berikanlah pendapat kalian tentang
buku itu. Apa yang kalian sukai dari ceritanya? Plotnya meyakinkan?
Karakternya masuk akal? Memesona? Jika disertai ilustrasi, bagian apa
yang kalian sukai? Apakah ilustrasi tersebut sesuai?

(halaman 12)


Blog EntryPakcik Ahmad tentang How to Write PoemsMar 11, '08 7:00 AM
for everyone
Sore ini Pakcik Ahmad, seorang rekan Apsasian (sebutan untuk member
milis Apsas), berkomentar sbb:

selamat teh Rini..
saya sudah lihat buku2 ini di Gramedia Pondok Indah.
berbaur dalam tumpukan buku2 anak2 yang campur aduk.
yang saya baca 2, how to write stories dan how to write poems...
kepada 2 panglimaku aku katakan, "buku ini yg terjemahkan kawan baba
lho.. ini namanya Rini Nurul Badariah".

aku selalu senang ke toko buku untuk menemukan banyak nama-nama yang
aku kenal.

menurutku buku How To Write Poems nya cukup simple dan dapat
dijadikan text book untuk para pembimbing kelas sastra pada murid2
pada tahap awal mereka mengenal puisi.
bisa-bisa ini menjadi step 1 sebelum membaca Menapak Ke Puncak
Sajaknya Hasan Aspahani...

salam Daun Sirih


Saya terharu sekali. Mendadak pusing kepala jadi nggak terasa:-)


Blog EntryTelah Terbit: Seri Asyiknya MenulisMar 8, '08 7:51 PM
for everyone
Buku seri Asyiknya Menulis ini telah mendarat di pasaran,
termasuk di toko buku Gramedia. Terima kasih banyak saya haturkan pada
Mbak Ai yang telah membeli dan menyampaikan informasi ini.

Apa judulnya dan siapa penulisnya? Diproduksi penerbit apa?
Asyiknya Menulis Cerita karya Celia Warren dan Asyiknya Menulis Puisi
karangan Wes Magee. Diterbitkan oleh Tiga Serangkai.

Apa kelebihan kedua buku ini?
Genrenya adalah non fiksi untuk anak, akan tetapi isinya layak
dikonsumsi pembaca dewasa dan remaja yang senang dan ingin tahu lebih
banyak soal tulis-menulis. Harganya terjangkau, halaman berwarna dan
dihiasi ilustrasi menarik sehingga uraiannya tidak terasa berat
apalagi membosankan (khususnya Asyiknya Menulis Puisi).

Mengapa cocok juga untuk kalangan pembaca selain anak-anak? Bukankah
covernya terlihat 'anak-anak' sekali?
Isinya relatif taat pada naskah asli yang diterbitkan di London,
sehingga beberapa bagian mungkin terbilang 'asing' bagi anak-anak
Indonesia. Contohnya jenis-jenis puisi yang mencakup haiku dan
limerick. Keceriaan tampilan kedua buku ini mengajak pembaca, baik
anak maupun dewasa, untuk belajar menulis sambil 'bermain'. Di samping
itu, uraian di dalamnya tidak mengedepankan teori melulu melainkan
banyak latihan disertai unsur-unsur perangsang kreativitas.

Apa judul dua buku lainnya?
Asyiknya Menulis Surat dan Email dan Asyiknya Menulis Laporan.

Selain Gramedia, bisa diperoleh di mana lagi?
Tisera, toko buku milik Penerbit Tiga Serangkai yang terdapat di
beberapa kota.




Blog EntryMenyikapi Penolakan NaskahFeb 7, '08 9:51 PM
for everyone
Ini khusus menyangkut pengajuan naskah buku ke penerbit. Bukan artikel
atau cerpen ke media cetak, sebab saya kurang berpengalaman dalam soal
itu.

Resep dasarnya klise: jangan kecil hati (kecewa boleh, tapi jangan
lama-lama), cek ulang, kirimkan lagi. Mengapa harus dicek ulang?
Kaitannya dengan beberapa sebab penolakan di bawah ini.

1. Tidak ada pasar yang menyerap naskah kita. Tren berubah dengan
cepat dan bisa dimaklumi jika penerbit tertentu tidak berani mengambil
risiko untuk 'melawan arus'. Belum lama ini, naskah fiksi saya ditolak
dengan alasan demikian dan penerbit sekaligus memberitahukan bahwa
segmentasi naskah yang diterima sekarang adalah A, B dan C. Menghadapi
penolakan seperti ini, kita bisa menulis naskah baru yang benar-benar
sesuai kebutuhan penerbit itu, menyimpan naskah yang ditolak sampai
mendapatkan penerbit yang bersedia mencetaknya, atau mengirimkannya
kepada penerbit lain yang kira-kira sesuai.

2. Penerbit tidak menyebutkan alasan, sekadar 'tidak dapat
menerbitkannya' namun menilai naskah kita berkualitas baik. Segera
layangkan ke penerbit lain.

3. Beberapa bagian perlu dikoreksi, misalnya gaya bahasa.
Perhatikan saran-saran penerbit.
Apabila kita merasa mampu dan tidak 'berseberangan' dengan visi
penerbit tersebut, tak ada salahnya mengubah di sana-sini.
Minta waktu untuk revisi dan ajukan ke penerbit itu kembali.

4. Koreksi vital, yakni tata bahasa dan ejaan. Mau tidak mau, kita
harus memperbaikinya bila ingin naskah diterbitkan. Ada saja yang
meloloskan naskah seperti ini (meski jumlahnya satu dari seribu) namun
itu akan mencemari reputasi kita sendiri sebagai penulis.

5. Tema sudah terlalu banyak diterbitkan, baik oleh penerbit itu
sendiri maupun yang lain. Kita perlu berjalan-jalan ke toko buku,
menelaah perpustakaan, mencari tahu di Internet untuk menemukan celah
perbaikan naskah dan mempertajamnya sehingga berbeda dengan yang sudah
ada. Setelah itu, diajukan lagi.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryPertarungan Ide dan Kuota Halaman NaskahJan 27, '08 9:14 PM
for everyone
Sudah sering terjadi, ide-ide yang tidak berhubungan menerobos otak
ketika berusaha konsentrasi menulis sebuah naskah. Mencatatnya di satu
file atau buku ide kadang-kadang tidak membantu. Rencana menuangkan
kemudian di naskah yang berbeda kerap urung karena kehilangan greget
atawa letupan emosionalnya.

Apa yang saya siapkan semalam pun terasa lain kala diketik pagi ini.
Tapi saya melawan 'godaan' untuk menggunakan ide tersebut dalam naskah
lain di kemudian hari. Saya harus bisa mengaitkannya dengan cerita
ini, menjadikannya perangkat untuk mengembangkan plot. Lagi pula
dengan demikian, saya terbantu dari 'kengerian' terhadap kuota naskah.
Ngitung-ngitung terus, nggak akan ada habisnya. Bukan fokus ke
penulisan, malah mikir: 'sudah berapa halaman, ya?' atau 'sekian
halaman lagi, nih'. Atau malah lebih parah, 'duh, masih banyak nih'.
Lebih-lebih saya suka mengetik dengan font yang tidak jamak karena
bosen liat Times New Roman.

Jadi kalau ditanya berapa halaman naskah yang sedang saya tulis
sekarang, jawabannya 'nggak tahu'. Kenapa? Saya melakukan metode
loncat-loncat seperti waktu nulis 'Happy-Go-Lucky' dulu. Membuka
beberapa window MS Word, jadi ide X dapat ditaruh di bab pertama, ide
lainnya lagi di bab tiga, atau mungkin langsung ke bagian akhir,
sehingga penulisan lebih lancar. Singkirkan jauh-jauh kekhawatiran
akan habis gagasan bila ke depan akan menulis lagi. Optimis aja, yang
namanya inspirasi sebenarnya nggak sukar dicari.


Blog Entry'Bayi' Pertamaku di Tahun 2008Jan 23, '08 8:32 PM
for everyone
Beberapa hari yang lalu dikirimi cover buku ini oleh editor Akar Media
yang baik hati dan sangat penyabar:)
Hiburan di saat-saat pemulihan kondisi tubuh. Setelah hampir setahun
menanti naskah ini digodok.

Kepastian terbitnya menyusul, yang pasti: segera.
Mohon doanya, dan semoga buku ini bermanfaat.


Blog EntryMenghindari Dugaan PenjiplakanJan 9, '08 2:37 AM
for everyone
Tip ringan ini tidak bermaksud mengajarkan cara meloloskan diri dari
tuduhan penjiplakan, melainkan untuk menepis kekhawatiran terhadap
dugaan tersebut akibat kemiripan-kemiripan yang tidak disengaja.

Judul yang sama tidak serta-merta memicu kecurigaan di atas. Saya
pernah mendapati dua novel berjudul persis serupa. Satu terjemahan,
satu lokal. Tetapi adem-ayem saja. Ini berlaku untuk kosakata yang
lazim dan banyak digunakan, misalnya Mawar Merah atau Cinta Buta yang
tidak mengingatkan kita pada suatu produk. Namun alangkah baiknya,
saat menulis kita meriset dulu judul-judul yang sudah ada. Ini pun
berguna supaya judul pilihan kita spesifik dan tetap menarik, alias
tidak kelewat 'jamak'.

Apabila mengambil data dari artikel surat kabar, buku, atau Internet, selalu
cantumkan sumbernya. Usahakanlah meminta izin dari pemilik blog. Jika
menghubunginya terasa sulit, upayakan mengambil rujukan dari surat
kabar, majalah dan situs berita. Prosedur dan kontak mereka relatif
lebih mudah. Seringkali pemilik blog mencantumkan alamat email yang
jarang dicek (mungkin untuk menghindari spam). Saya pernah membatalkan
pencantuman secuplik kandungan blog karena pemiliknya baru membalas
email berbulan-bulan kemudian. Hal ini berlaku untuk penulisan fiksi
juga. Dalam sebuah novel Tria Barmawi, ia mencantumkan muasal
pemikiran 'kosmetik sebagai investasi' dari sebuah media cetak di
Malaysia.

Saya tidak ingat persentase cuplikan (atau salinan) data asli yang
memungkinkan seorang penulis dianggap menjiplak. Ingat saja aturan
dalam penyusunan skripsi, selalu mengutip secara tidak langsung.
Tindakan ini bukan hanya mengasah kemampuan menulis kita (sekaligus
cara berpikir untuk tidak potong kompas), namun juga menyeragamkan
gaya berbahasa yang belum tentu senada. Contohnya seperti paragraf berikut ini:

Bahan kutipan:
'Setelah diganti dengan simcard operator lain, sinyalnya tetap
hilang-timbul. Jadi hape-nya yang tidak beres.'

Tulisan saya yang hendak dilanjutkan dengan kutipan di atas:
'Masih menjadi tanda tanya, apakah ini diakibatkan oleh masalah
jaringan selama migrasi frekwensi atau ponsel yang tidak kompatibel.
Untuk itu, perlu dilakukan suatu langkah.'

Jika kutipan di atas dilekatkan begitu saja, akan terjadi 'jurang'
gaya bahasa yang mengganggu. Pemakaian istilahnya pun sudah berbeda.
Maka sang kutipan ditulis ulang sebagai berikut:

'Saya mengganti simcard dengan nomor operator lain. Ternyata,
sinyalnya tetap hilang-timbul. Sampailah saya pada kesimpulan bahwa
ponsel yang saya gunakan pun patut 'dicurigai'.'

Semoga bermanfaat.





Blog Entry Mempromosikan Buku di Dunia MayaJan 7, '08 8:34 PM
for everyone
1. Kumpulkan cover buku karya kita (jika lebih dari satu) dalam satu
album. Pastikan bahwa album tersebut 'strategis' dan mudah diakses
oleh pengunjung blog. Misalnya di album Multiply, dapat diatur agar
album muncul di halaman utama.

2. Bila mempunyai account friendster, update selalu foto di dalamnya
dengan cover buku karangan kita. Hal ini juga berlaku untuk artikel
atau karya fiksi yang dimuat di media cetak.

3. Jadikan cover buku sebagai headshot Multiply atau foto utama dalam
profil friendster.

4. Pastikan komputer yang kita gunakan bebas dari virus apabila
memasang signature email yang mencantumkan judul karya. Saya pernah
diserang virus ganas (namanya KAK worm) yang memakan habis seluruh
data di komputer ketika menggunakan signature email beberapa tahun
lalu.

5. Suntinglah signature email apabila daftar karya kita sudah cukup
banyak. Cantumkan judul buku terbaru saja atau link ke blog yang
memajang seluruh karya kita.

6. Hindari hard marketing dan tindakan-tindakan yang tidak
menyenangkan seperti crossposting ke sejumlah milis mengenai penerbitan
buku baru kita, apa lagi jika penerbit yang bersangkutan telah mengabarkannya lebih
dahulu. Dunia maya amat sempit. Satu orang dapat berlangganan beberapa
milis sekaligus, dan tentu akan menjengkelkan melihat posting
informasi yang sama di milis-milis tersebut pada waktu bersamaan.
Lebih-lebih jika komposisi teksnya sekadar copy-paste, tidak berbeda
sehuruf pun.

7. Posting dengan elegan. Jangan sampai pembaca/anggota milis
merasa diteriaki untuk membeli. Menurut saya, kalimat promosi paling
'ramah konsumen' adalah yang ditata dengan bahasa setengah resmi atau
resmi sekalian. Usahakan posting tidak terlalu panjang dan kelewat
menggebu-gebu sehingga memadamkan minat pembacanya.

8. Ucapkan terima kasih setiap kali seorang member milis/pengunjung
blog menyatakan minatnya untuk membaca buku kita. Jangan kesal apabila
ia membaca buku pinjaman teman, keluarga, atau bahkan di
perpustakaan/rental buku. Hargai kesediaannya meluangkan waktu
mengapresiasi apa yang telah kita tuliskan.

9. Sesekali googling dengan keyword judul buku kita. Apabila menemukan
resensi, sapalah penulisnya dan sampaikan keinginan kita untuk
mencantumkan link resensi tersebut dalam blog.

10. Proses kreatif senantiasa menarik untuk disimak, seperti halnya
behind the scene sebuah film. Ceritakan tahap-tahap penggarapan buku,
darimana ide awalnya kita peroleh, langkah pemilihan judul, bahkan
sampai penggodokan di penerbit.

11. Beritakan dalam blog mengenai diskon dari toko buku online,
misalnya, atau diskon di toko-toko tertentu. Tidak ada salahnya
menginformasikan rak tempat buku kita berada di sebuah toko buku,
karena tidak jarang peletakan buku tidak sesuai kategori sehingga
menyulitkan calon pembeli.

Mudah-mudahan tip ini bermanfaat.


'Persoalannya, kadang kita cukup puas dan bangga jika punya ide saja.
Padahal, sebelum sebuah ide dieksekusi menjadi sebentuk karya, ide itu
belum aktual nilainya. Nah, keberanian dan hasrat 100% untuk
mewujudkan ide adalah kata kuncinya.'
(halaman 48)


Blog EntryAgar Proses Revisi Terasa NikmatDec 27, '07 7:07 PM
for everyone
Permintaan revisi adalah suatu bentuk 'penolakan'. Wajar saja apabila
kita merasa kesal, kesulitan, atau kurang bersemangat baik saat merevisi
naskah untuk dikirimkan ke penerbit yang berbeda maupun menyesuaikan
dengan kriteria yang ditetapkan suatu penerbit (tempat kita mengajukan
draft).

Langkah pertama, lupakan sejenak surat/email/pemberitahuan dalam
format apa pun yang menyampaikan bahwa naskah kita belum dapat
diterbitkan. Bila nada dan kalimat yang digunakan dalam pemberitahuan
itu 'bersahabat', jangan dibuang atau dihapus. Suatu saat kita pasti
dapat membacanya lagi dengan pikiran yang lebih jernih.

Kedua, simpan dahulu naskah di suatu tempat. Jangan terlalu jauh dan
pastikan tetap mudah dijangkau. Kita perlu 'mendinginkan' kepala guna
memperoleh ide perbaikan, seperti halnya menyunting.

Ketiga, jalan-jalan ke toko buku. Lihat buku-buku baru yang semakin
banyak jumlahnya. Perhatikan covernya yang menarik, sinopsisnya yang
mengundang penasaran, dan bayangkan bahwa salah satu dari buku itu
adalah karya kita sendiri. Hal ini dapat memicu antusiasme untuk
segera melakukan revisi dan tidak menundanya terlalu lama.

Masih tidak terdorong juga? Cobalah trik keempat. Tanamkan sejenis
sugesti negatif dalam benak kita. Bagaimana kalau penulis lain
menghasilkan karya yang temanya kurang lebih sama dan lebih cepat
menerbitkannya? Atau bahkan mengajukannya ke penerbit yang kita tuju?
Ini bukan pencurian ide. Di antara sekian banyak gagasan yang
bertebaran di sekitar kita, selalu ada kemungkinan kemiripan dengan
penulis yang bahkan tidak kita kenal. Yang membedakan adalah tekad dan
kemauan. Membuang waktu dengan berkeluh-kesah tidak akan mengubah apa
pun. Toh kita tetap harus menjahit ulang naskah. Jadi mengapa tidak
melakukannya sekarang juga?

Saat membuka kembali arsip naskah tersebut, bayangkan saja kita sedang
menulis naskah baru. Seringkali membuat yang baru lebih menyenangkan
daripada merevisi. Anggap saja kita tengah menulis naskah lain dan
hampir selesai.

Semoga kiat sederhana ini berguna.


Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help