Rini's posts with tag: komputer
 Dalam bahasa Indonesia, artinya ketiban pulung.
Bila penyedia jasa service (komputer atau ponsel khususnya) dianggap sengaja mencicil perbaikan agar dipanggil lagi, itu salah besar. Tidak jarang trouble yang terjadi sebenarnya dapat ditangani sendiri alias sudah diketahui penyebabnya.
Tiga hari yang lalu, saya dihubungi klien masalah komputernya yang mendadak ngaco. Terakhir saya cek, memang lambatnya super parah. Waktu itu masih bisa bergurau, "Pentium 3-nya udah rontok kali, tinggal Pentium 0,5." Jawabannya klise, virus yang ngendon lama dan perlu ditumpas segera.
Klien mengadu bahwa ada seseorang di lingkungan dekatnya main tancap Harddisk eksternal yang memang sudah error dan naga-naganya menularkan virus ganas. Kasihan, sih, namun saya gregetan juga. Setelah menghitung sampai dua puluh agar intonasi tidak membuat urat leher menyobek kerongkongan, saya menegaskan untuk kesekian kalinya bahwa komputer ber-network harus selalu diproteksi anti virus. Masing-masing, dan tak ada alasan untuk males update.
Ngubek-ubek Google sampai kepala nyaris botak, nggak ada tuh jalan keluar untuk jenis sindromnya. Mau tidak mau harus diformat.
Kalau setelah ini masih ogah ngurus antivirus, entah deh.. 
 ..bukan rumah, sih. Sudah rapi jali karena ada yang lebih rajin:p Bukan pula beresin rak buku, karena belakangan saya lagi males baca maka semua masih pada tempatnya.
Pengennya bersih-bersih PC, tapi Mas Agus selalu di sana pada saat-saat yang bersamaan. Daripada merusak konsentrasi kerjanya, saya mundur dulu. Meski begitu banyak file tak berguna yang ingin saya buang dan hanya memadati harddisknya.
Bersih-bersih email, baru separuh jalan. Sebagian milis saya set nomail, bahkan unsubscribe. Banyak yang crossposting. Jadi demi penghematan waktu dan biaya, diseleksi yang benar-benar dibaca saja.
Bersih-bersih MP, ini agak sulit. Lebih repot daripada delete SMS yang tinggal pencet - Cleanup Messages. Jumlah entry membuat saya dua kali dicurigai robot oleh admin. Wajar saja, numpuk sih. Hari Minggu sudah di-sweeping beberapa, terutama yang basi-basi. Info tahun lalu, atau bahkan posting yang sudah kadaluarsa namun masih dipertanyakan. Itu prioritas untuk 'disikat'.
Revisi tulisan baru 4 halaman, nyetrika dulu ah.. 
Jantung mau copot sewaktu melihat isi sebuah folder. Apakah saya tak sengaja mendelete sebuah sub folder draft yang sangat penting? Gimana nggak penting, naskahnya sedang dalam perjalanan dan dibaca editor. Gawatt.. Syukurlah isi Flashdisk saya menyerupai harddisk cadangan. Saking ramenya, petugas warnet bingung ketika saya mintai tolong ngecek sebuah file yang sudah dicopy dari salah satu komputer. Itupun sudah saya buang sebagian..hehehe.. Begitu copy folder yang raib tadi, baru sadar..lho? Sebenarnya tidak hilang, tapi ganti nama dan icon. Untuk file yang belum jelas nasibnya, saya menggunakan icon berbentuk tanda tanya. Hwaduhhhh..ampun.
 Kemampuan saya bermain game sama payahnya dengan berolahraga. Si Tengah sempat cekikikan melihat saya sempoyongan naik sepeda di teras rumahnya (yang saya lakukan hanya untuk menyenangkan dia saat sedang rewel).
Sewaktu berbagi komputer dengan Mas Agus, terkadang saya menginstallkan game yang kira-kira dia sukai. Sebalnya, itu membuat keponakan yang masih kecil-kecil pada nemplok dan ribut minta Road Rash saat kami ingin kerja atau istirahat. Padahal ada komputer sendiri di ruangan lain, heuh..
Saya nggak anti game, tapi emang nggak suka-suka amat. Dynabook masih P3 dengan memory minim, jadi Bookworm dan Hangaroo tak sanggup ditampilkan di dalamnya. Kadang-kadang saja (dan ini jarang sekali), saya buang kesal dengan main game Flash suntik shinchan di PC. Saat Mas Agus sedang 'belajar' (gitu istilahnya untuk membaca buku-buku rujukan kerja) atau asyik bertukang sehingga tidak ingin main Zuma.
Dalam jagad per-game-an, dia memang lebih piawai. Hangaroo tak disentuhnya (emang sebel sih sama kanguru tak sopan itu:p). Namun ia sering mengalahkan saya main Bookworm dengan sistem perhitungan skor dan melesat ke level yang bikin saya pengen loncat dari lantai dua puluh tiga. Main game di HP juga begitu. Kegemaran yang menular pada seorang keponakan kami untuk membuang stres sepulang kerja. Keponakan ini bisa nyuekin semua telepon dan SMS kalau sedang tersedot dalam hobinya, bahkan dia mengajarkan hal itu pada orangtuanya di rumah. Saat Axis mempromosikan layanan internet gratis beberapa waktu lalu, dia membeli simcard khusus untuk foya-foya mendownload game di ponselnya.
Bicara soal game, saya ingat sesuatu yang agak menyedihkan. Keponakan dari Jawa pernah main-main dengan musik dan aplikasi game di PC Mas Agus. Begitu buka Spongebob Collapse yang saya tunjukkan, dia kontan berseru, "Waah, warnanya sama semua." Hiks..saya lupa bahwa dia buta warna.
sumber foto: sxc.hu

Seorang saudara mengontak, katanya tidak bisa mengakses multiply 'terlalu jauh'. Ia bisa login, bisa lihat update reply, tapi anehnya setiap kali mengklik halaman (misalnya blog) yang dikomentari tadi selalu error. Padahal tadinya selamat-selamat saja, sewaktu pertama kali connect. Untuk telepon CSR, dia males nerangin kasus panjang lebar. Saya juga:p (kalau mau menduga bahwa pihak provider memblokir MP, tapi masa' diblokir sebagian aja. Kontennya nggak ada yang 'bahaya' pula). Begitu diperhatikan, memang ganjil buanget. Lihat PM bisa, cek invitation juga bisa, tapi buka halaman depan blognya saja tidak. Dan ini berlaku untuk MP-MP para kontaknya.
Daripada pusing, saya teringat sebuah informasi mengenai mobile multiply yang pernah dibaca sekilas sekitar tahun lalu. Alhamdulillah, komputer saudara saya ini diinstall browser Opera selain Firefox. Masukkan http://multiply.com/m ke web address, tembus deh.
Memang agak repot, karena langsung memunculkan halaman update dari para kontak. Settingnya tak bisa diubah jadi Mine seperti MP regular view. Tak apalah. Saudara saya berpikir, itung-itung hemat koneksi. Nggak liat gambar, nggak liat warna-warni tak masalah. Langsung bookmark URL di atas.
Yang direply baru juga tak kelihatan. Solusinya, saya sarankan saudara itu membuka secara regular dulu di Firefox (atau salah satu tab Operanya). Kemudian buka daftar konten (misalnya blog) melalui MP Mobile di tab lain, dan klik yang sudah dikomentari tadi. Bila nun jauh di sana (posting lama), apa boleh buat mesti ngubek berhalaman-halaman..karena sampai kini saya belum menemukan jalan pintas untuk itu. Yang reguler buka di warnet saja kapan-kapan.
Kekurangan lain, posting content di browser dengan mode mobile ini hanya untuk blog. Tanpa menu macam-macam seperti bentuk font, insert picture, dan tag. Saudara saya memandang praktisnya sih, toh selama ini ia lebih banyak posting via email. "Biar nggak lupa waktu ngempi," katanya.
Kapan-kapan saya ingin tanyakan masalah ini ke MP admin. Tapi bukan sekarang. Kepala lagi puyeng abis..:(
Kemarin masih 'ngewarnet' informal alias nebeng akses di rumah sepupu. Penuh dengan 'risiko', di ruang kerja dia karena sering dilewatin orang. Anak-anak kalo pulang juga langsung masuk ke situ menuju lorong ruang tengah. Mau pindah ke kamar tengah? Busyet deh, jejak browsing anak-anak yang terdiri dari game, musik de el el segambreng. Takut keclose jadinya. Ditambah lagi mouse wireless, gapteknya dirikuw.. Di kamar si Sulung? Ribut oleh ABG-ABG yang main PS dengan segala kehebohannya. Halah.. Puas sih, dari beberapa jam itu sudah bisa cek email, chat dengan beberapa sahabat, bantu kakak sepupu ngoprek setting internet PDA-nya yang tak mau konek juga karena salah setting gateway, kemudian makan whities (brownies putih) nyaris setengah piring dan menemani si Tengah nonton film jadul John Travolta di HBO. Seru deh, bisa 'meracuni' dia untuk ikutan ngefans cowok ini..hahahaha.. Abis Maghrib, nyempetin nongkrong berdua di Ujungberung. Aih, serasa makan malam di..manaaa gitu (kayak sering dinner aje). Sampai rumah jam 20.00, nyungsep di kasur!! Walhasil, bangun subuh dengan segar dan penuh stamina untuk menyelesaikan semua kerjaan rumahtangga. Di antaranya nyuci baju sebelum berubah jadi setrikaan tujuh bakul (pinjem istilah Mbak Poppy). Penuh tantangan karena dalam prosesnya 'bertemu' dua ekor cacing yang lumayan panjangnya., kemudian masakan saya agak gosong..sementara Mas Agus berkutat dengan rak buku buatannya sendiri di teras, yang dikomentari para tetangga 'mirip lemari'. Sore ini, turun gunung lagi deh. Menikmati warnet baru di Jalan Percobaan Cileunyi. Rada lambat memang, tapi mantap deh suasananya...hening banget! Ruang duduknya bak lobi kantoran. Dan di daftar yang tertempel di sebelah monitor, tertera sejumlah larangan di antaranya Dilarang Mengganggu User Lain. Asyik juga, online sambil mendengarkan suara bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang lalu-lalang. Ide pun tumbuh subur di kepala. Tralala..
Alhamdulillah, blokir sudah dilepas. Ada hikmahnya memang, selama MP hanya dapat diterobos lewat jalan belakang dan tak bisa posting apa pun..saya bisa istirahat.
Pasca perhelatan nikah kakak hari minggu lalu, rasanya capeknya tak hilang-hilang. Semua kegiatan (baca: kerjaan) dibekukan sementara.
Sempat sih kirim satu naskah ke penerbit, ngacir ke warnet di sela kesibukan tugas panitia. Bikin satu esai, tapi malas nenteng flashdisk karena pernah kesetrum. Banyak alesan ya..
 Pagi ini, mumpung koneksi lancar, saya bersih-bersih account email melalui web. Ingin cek folder Trash-nya karena saking rapatnya sang filter, terkadang email dari teman yang isinya bukan spam pun digolongkan Junk dan langsung masuk kotak.
Di baris pertama yang tampil, sebuah email membuat saya ngakak. Nama pengirimnya tak dikenal. Subject berbunyi: ARE YOU DEAD OR ALIVE? (pakai huruf kapital, kayaknya isinya juga begitu). Kalo nggak sayang waktu dan pulsa, ingin rasanya menjawab: I'M HALF-DEAD AND GONNA HAUNT YOU. WATCH YOUR BACK.
sumber foto: sxc.hu 
 Word, sebagai salah satu aplikasi yang paling sering kami gunakan, memiliki wilayah menu lumayan banyak. Salah dua di antaranya adalah perintah Replace All (Ctrl+H) dan Auto Correct.
Kami sama-sama pernah dipusingkan oleh ulah seseorang yang mencoba potong kompas dengan main Replace All. Kebayang jika dia mengganti semua 'maka' dengan 'jadi' begitu saja, padahal dalam naskah tersebut ada pula 'maka' yang tidak berdiri sendiri. Misalnya 'makan' menjadi 'jadin' dan 'memakan' jadi 'mejadin'. Menggunakan Ctrl+H harus sangat hati-hati. Lebih baik si 'maka' itu di Find Next satu per satu kemudian di'Replace' bila kata yang bersangkutan memang perlu diubah. Repot sih jelas, tapi daripada bikin kekacauan. Saya merasakan manfaat kerepotan ini tatkala terdapat kesalahan ketik, contohnya beberapa kata 'maka' saya tik 'mka'. Nggak mungkin di-replace all, jika ada kata 'Perumka' misalnya. Bisa-bisa ikut berubah.
Auto Correct sangat membantu ketika saya harus mengetik suatu kata berkali-kali, biasanya peristilahan yang ejaannya lumayan sulit semisal 'resilience' dalam naskah terjemahan psikologi atau nama tempat dan nama tokoh yang panjang. Ribetnya kala menghadapi nama yang rada-rada mirip, contohnya Nyonya Robin disingkat 'nyr'. Ternyata ada 'Nyonya Rino'. Bila 'Nyonya Rino' tidak disingkat 'nyrn', 'Nyonya Robin' yang diubah singkatannya menjadi 'nyrb'. Seringkali singkatan yang melebihi tiga huruf sukar diingat, jadi bolak-balik buka catatan.
Naskah selesai, pekerjaan sudah berganti, terkadang masalah masih muncul gara-gara si Auto Correct ini karena saya jarang ingat (tepatnya: males) menghapus semua singkatan yang digunakan dalam pekerjaan terdahulu. Tetapi yang masih bikin jengkel sampai sekarang, dan ini bukan perbuatan saya, ialah kata 'cuma'. Kenapa sih selalu jadi 'Cuma' secara otomatis?
foto: sxc.hu

 Mulanya sewaktu saya masih SMA. Nggak inget sama sekali tipe dan merk komputer pertama itu, yang jelas kami menyebutnya si jangkrik. Repot makenya. Masih pake DOS, nyalain dengan disket segede alaihim.
Ketika komputer yang lebih baik datang, adik saya tergila-gila ke pameran. Bawa brosur inilah, nanya program itulah. Saya sempat masuk rumah sakit karena keasyikan ngoprek software gambar (baru bisa Paint) dan WordArt, ditambah Mp3-an sampai malam untuk menemani ngerjain tugas. Yang paling konyol, urusan dengan printer dot matrix. Saya pernah ngirim naskah ke majalah pake continuous form dan fontnya segede semut:p Pernah bolak-balik ke service lantaran nyangka ada kerusakan, padahal hanya karena font yang dipilih bukan True Type! Nggak terhitung oleh-oleh virus yang diperoleh dari disket.
Saya mulai ketularan otak-atik software setelah bisa nginstall sendiri. Itupun sudah komputer yang kesekian. Pernah dijual ke pedagang, nggak tahunya sama sekali nggak nyala waktu dites:p Ditawar deh, meskipun harganya masih masuk akal. Bahkan relatif tinggi untuk komputer jadul kalo dilego sekarang.
Paling semanget nungguin antaran perangkat komputer yang dipilih bareg di pameran. Makanya kecewa banget pas melek sampe jam sepuluh malem, nggak tahunya pihak toko bilang bahwa mereka balik lagi karena di jalan menuju rumah terhalang hajatan besar. Jalur ditutup.
Saat berlangganan ISP dial-up pertama kalinya 8 tahun lalu, adik saya masih getol setup semuanya sendiri. Karena penasaran, dia ulangi langkah-langkahnya sementara saya udah nyerah dan tidur. Setelah itu, saya ngebalap dia dalam hobi satu ini. Dimulai dengan email, chatting MIRC, dan update antivirus. Pernah mengganggu seorang sahabat untuk mendetect modem yang mendadak trouble melalui telepon..ke HPnya.
Urusan komputer, saya paling males baca buku. Pernah kursus beberapa aplikasi dasar untuk ngisi waktu dan hasilnya nihil..selain dikomentarin guru, "Kamu ngetiknya kayak setan." Saya lebih suka praktek dan kalau bingung, tanya teman atau baca manual book. Kadang-kadang tanya di milis atau googling mencari pemecahan suatu kasus.
Sekitar tahun 2002, saya baru berani format harddisk sendiri. Sukses, dengan kecerobohan fatal..semua data penting milik Mas Agus raib. Lucunya, setup Windows malah baru berani tahun-tahun kemarin. Pasalnya, komputer yang disetup saat itu milik sodara. Makan waktunya lumayan, namun kami sama-sama belajar dan mengerti bahwa selama proses nggak boleh asal enter atau pilih 'Yes'.
Kesengsem komputer dan Internet bikin saya melirik hobi yang terkait: ngoprek ponsel. Pernah kemakan trend (meski tak pernah sampai beli PDA yang jutaan, pokoknya angka satu juta aja udah bikin melotot deh) hingga tahun 2005. Ikutin berita dari milis, forum dan tabloid. Sempat dijadikan rujukan harga oleh sodara-sodara yang mau beli ponsel. Nyobain GPRS, nyicipin koneksi gratis sebuah operator dan menjelajahi menu beberapa merk.
Komputer juga mewarnai hubungan saya dengan Mas Agus. Dia cenderung menaruh minat pada hardware, sedangkan saya di software. Dia terbiasa dengan keyboard untuk bekerja, sementara saya kelimpungan kalo nggak ketemu mouse.
Sekarang sih udah keteteran dalam soal komputer dan ponsel. Meski kadang-kadang masih diskusi dengan para keponakan, mereka jauh lebih jago masalah bluetooth, irda, dan aneka pernak-pernik lain. Saya nggak pernah nyolok ponsel ke komputer dan menikmati kedamaian 'one by one' dengan Mas Agus di rumah (maksudnya dia di PC, saya di laptop). Biarlah saya jadi orang jadul yang parno, yang penting sesuai dengan kebutuhan dan keselamatan..kantong:p
sumber foto: sxc.hu

 Elemen nulis buku yang agak bikin saya males adalah daftar isi. Saya pernah menyiasati dengan membagi bab-bab dalam file terpisah, tapi tetap saja repot. Bila satu bab halamannya nambah, apalagi di awal..kena semuanya deh. Jadi bikin daftar isi akhirnya saya lakukan setelah seluruh naskah digabung.
Pakai perintah Ctrl+G kadang-kadang jlimet, maka saya buat dulu daftar isi di file baru supaya mudah dicocokkan. Seringkali saya catat halaman judul bab di buku notes. Tapi tetap harus diperiksa lagi, terutama untuk bagian-bagian yang berdekatan jaraknya (hanya satu halaman) seperti Daftar Isi itu sendiri, Kata Pengantar, dan Profil Penulis.
foto: sxc.hu 
 Ada bagusnya majang DeskClock di LCD. Biarpun bentuknya rada aneh, dan suara dentangnya tiap satu jam bikin bulu roma merinding (kalo denger tengah malam), lumayan membantu sebagai reminder. Oh, udah jam satu..wah, udah jam dua nih..dan..jrengng..pukul empat sore ini, terjemahan saya beres!! Lengkap dengan cek konsistensi, indeks (yang alhamdulillah tidak sepanjang ketiga buku sebelumnya) dan cover belakang.
Abis itu, langsung laper. Isi perut, dan menghabiskan jus jambu di botol. Lengkapi progress report, kemudian leha-leha deh..mikirin tulisan dan buku yang akan dibaca:) 
 Seraya memperlihatkan Koontz-nya, Gemuruh memeluk dan mencium kening saya. "Bacanya lumayan susah, tapi aku akan coba," katanya manis. Si Tengah dengan gembira mendekap terus bantal lebah pinknya sambil membuka-buka cerita berima Mbak Arleen yang saya berikan untuk dibaca sewaktu-waktu. PRnya selalu banyak, maka saya pilih bacaan ringan saja. Ia tak pernah pilih-pilih buku, meski sudah hampir SMA, bacaan anak pun disantapnya dengan senang. "Zauri-nya bagus banget, Te," ia bercerita mengenai novel fantasi Dian K yang saya pinjamkan. "Aku kirain itu buku terjemahan, lho."
Si Bungsu juga bersukacita menerima Ulysses dan mengagumi gambar-gambar di dalamnya. Kemudian mereka menarik tangan saya ke kamar bermain dan memperlihatkan komputer baru di sana. Saya menepati janji untuk mengajari si Tengah chatting dengan YM. Ia di kamar bermain, saya di ruang kerja ibunya. Walaupun agak sulit karena saya pakai meebo (belum install YM), tapi si Tengah puas dengan apa yang saya terangkan. Di sela-sela itu, saya sempat menengok pesan Friendster dari kawan baik di SMP dulu dan disapa oleh teman sekelas zaman SMA.
Mengajari mereka bikin account MP membuat saya teringat masa-masa mengajar dulu. Meskipun kompak, si Tengah dan Bungsu masih suka saling ledek. Susah payah saya mengajari si Bungsu mengeluarkan idenya sendiri, tidak tergantung orang lain. Misalnya saat membuat site title dan memilih theme.
Sesuai dugaan saya, mereka heboh dan antusias ketika berurusan dengan theme. Saya harus menunjukkan langkah-langkah tersebut dengan mengubah theme MP ini, oleh sebab itulah skinnya berubah lagi. Lagian mumpung koneksinya ngebut dan semua pernik muncul dengan baik.
Saya mulai cerewet karena gemas melihat si Bungsu ngetik dengan huruf kecil terus. Ibunya berseloroh, "Anak sekarang tuh males karena biasa di Word ada fitur otomatis untuk bikin caps di awal kalimat." Betul juga. Kelucuan terjadi saat saya berkata, "Centangnya.." Rupanya dia bingung apa itu centang, dan lebih familiar dengan 'checklist'. "Ya kalo gitu uncheck deh," kata saya. "Ya, aku uncentang," ujar si Bungsu. Kami ketawa sampai mules. Sembarangan banget sih anak ini kalo nyamber!

 Alkisah, tiga harian yang lalu..mendadak tampilan gambar di browser saya rusak semua. Pecah-pecah. Kirain ada yang salah dengan MP saya, ternyata MP lain juga begitu. Kemudian situs lain. Cek juga di viewer seperti ACDSee, Paint, dan Explorer. Malahan oke. Desktop baik-baik saja. Berarti bukan VGA yang mabok. Tetap saja dugaan itu timbul, ketika diskusi dengan teman-teman yang paham IT dan menguasai pergambaran (Photoshop dan kroni-kroninya). Satu kejelasan, nggak ada virus yang menyebabkan hal seperti ini. Googling pun tidak nemu. Cek-cek lagi..dibantu Mas Ferry, periksa DirectX VGA dan liat kondisinya di Device Manager. Semua dalam keadaan sehat. No problem found, hasil tesnya. Sebenernya nggak apa-apa sih, toh orang lain (dan mungkin juga PC saya) menampilkan MP saya dalam keadaan normal. Sedikit menghibur diri, browsing jadi nyeni. Ada teksturnya..atau kayak sensor di TV kalo ada tersangka digiring ke kantor polisi. Tapi sedihnya, nggak bisa copy-copy gambar lagi kalo butuh sebab semua gambar yang diambil dari web begitu dibuka di ACDSee kebawa pecah juga:(( Yakin banget sih ini bukan VGA (sok tahu:p). Di MP Mas Ferry inimisalnya, header Marlon Brando tetap kinclong namun headshotnya jadi kayak lukisan aliran apa tuh ya..yang cat air doang. Headshot saya juga keliatan hitam putih aja. Menurut hasil tes kemarin sore, nggak perlu install ulang driver VGA. Lha wong kalo harus juga repot. Ngubek-ngubek situs Toshiba, nggak ada koq. Nasib..nasib..nunggu tanggapan dari milis it-center aja deh. Kali ada jalan keluar yang tepat. Asal bukan desakan untuk ganti laptop, emangnya punya puun duit?:p Barang tua ini belum setahun umurnya (dari pemilik lama, maksudnya) dan dibeli dengan lintang pukang. Rizki yang diperoleh dari kelahiran ribuan bayi di Indonesia. 
 Saya sudah curiga sebab sejak ganti harddisk, laptop jadi lelet. Prasangka awal: nggak kuat ngangkat 80 GB. Tapi buktinya booting dan turning off lebih cepat. Nyaris tanpa suara, lagi..kayak mesin motor anyar.
Setelah sering gagal update anti virus (karena nggak sabar dengan koneksi dial-up wifone), saya bulatkan tekad kemarin. Pokoknya harus. Sempet kaget waktu server drop pas masuk 17 persen. Liat baud rate, 48. Begitu diklik lagi, resume deh. Alhamdulillah.
Detik-detik akhirlah yang paling memakan kesabaran. AVG punya tabiat mengupdate beberapa file dalam sistemnya setelah tercapai seratus persen. Tapi seratus persennya kok jalan terus ya? Panik saya. Mana udah tiga jam lagi..! Udah tanggung, sayang jika dicancel. Mungkin aja meteran speednya salah. Kalau ternyata pulsa yang baru saya isikan habis, saya ikhlas. Asal updatenya sempurna.
Syukurlah, mendadak monitor terasa berat. Kayak mau hang. Itulah ciri-ciri update hampir rampung. Kemudian terlihat kotak dialog yang sangat saya kenal. Leganya..terima kasih kepada sahabat dan kawan-kawan yang 'menemani' sambil menenangkan saya di YM semalam. Mana sendirian di rumah, Mas Agus lagi ke kenduri tetangga, hujan pula..angin kencang banget.
Pagi ini, saya biarkan laptop discan seraya nonton di PC. Bener aja..tertangkaplah sejumlah virus Trojan dari installer beberapa software yang dicopykan teknisi. Dasar kuda Troya, bikin ulah terus. Emangnya laptop saya ini Helena? Diclean nggak bisa, maka didelete-lah. Demi keselamatan, semua diuninstall dan ganti program baru. Maklumlah..software hasil 'ulekan' (istilah sebuah milis IT untuk crack).
Bersih dan jernih kembali, horeee! 
 Setelah pontang-panting nyari hard disk selama seminggu lebih, semalam teknisi kami datang sambil hujan-hujanan. Nggak makan waktu lama, saya asyik install ini-itu dan ngeset Internet supaya nggak mengganggu Mas Agus lagi kalo mau online.
Seneng banget karena sang teknisi mengcopy-kan sejumlah kamus yang cukup menunjang pekerjaan. Begitu dia datang, sakit kepala yang nyerang saya sesiangan berangsur-angsur hilang. Mas Agus sampai meledek, "Waduh, obatnya mahal banget ya." Saya hanya tersipu, sambil manut ketika ia mengingatkan bahwa jam menunjukkan pukul sepuluh. 
 Tanggal tiga Desember, suhu badan saya naik turun. Karena tidak mau ambil risiko, saya kontak klien dan mengabarkan bahwa kemungkinan hasil terjemahan pertama terlambat setor. Tahu sih konsekuensinya. Tanggapan positif penuh perhatian mereka sangat menenangkan.
Malam harinya, teknisi teman kami datang juga. Rupanya selama ini ia sukar dihubungi karena berada di luar kota dan istrinya sedang hamil tua. Syukur alhamdulillah, laptop saya bisa dipake lagi. Sementara bad sectornya ditutup. Install ulang Windows dan Office. Lainnya nggak perlu-perlu amat, lah. Winamp aja nggak ada. Mas Agus memutuskan untuk 'mentraktir' saya hard disk baru. Di samping sayang istri (narsis ye;p), ia sendiri harus bertempur sehari semalam dengan PC esok harinya. Akan lebih baik jika kami punya perangkat kerja sendiri-sendiri.
Esok paginya, kami menclok di depan meja masing-masing. Tetangga yang mampir kaget karena melihat ruang tamu dan tengah kami menyerupai kantor, belum lagi acak-acakannya. Saya konsentrasi penuh dalam satu kondisi 'memaksa': nggak online, nggak ngemail, nggak chatting, nggak ngempi. Bukan karena habis pulsa, tapi pekerjaan Mas Agus sama sekali nggak bisa disela. Lagi main Zuma pun ia berpikir keras. Sewaktu listrik padam sebentar, dia nggak beranjak dari kursinya.
Alhamdulillah, selepas Maghrib saya sudah mulai ngedit dan memeriksa indeks. Sebenarnya udah masuk itungan tanggal 5 sih, tapi menurut waktu Indonesia kan belum. Jadi tenggat itu terkejar..horeee!!! Resepnya sederhana aja. Menerapkan teknik zigzag. Saya menerjemahkan 5 dari 10 halaman terakhir, kemudian balik lagi ke berkas kedua yang sempat mandeg dan kini kelihatan kinclong. Ampuh untuk melancarkan kerja. Ditambah terobatinya kangen saya pada sentuhan keyboard laptop yang empuk dan nyaris tak bersuara.
Setelah makan malam, saya cicil terjemahan buku selanjutnya. Sepertinya teknik lompat-lompat itu bisa digunakan lagi. Yo-yo!

 Kalau 'angin surga' lagi dateng, saya baru beresin file di komputer. Paling inget sih mendelete program yang jarang dipake dan malah berat-beratin karena ukurannya. Tapi arsip di direktori dokumen nyaris nggak terurus.
Pagi ini saya teliti satu demi satu. Satu folder kerjaan yang tidak jelas juntrungannya dipindahkan ke folder berjenis sama, biar terlupakan dan nggak bikin kesel kalo liat namanya sekalipun. Pengennya dihide, tapi nanti malah lupa mau delete. Folder-folder bertanda silang --alias kemungkinan besar tidak berlanjut-- dilempar ke Recycle Bin.
Giliran berikutnya, email. Saya sudah set Empty trash on Exit supaya tidak menggunung. Tapi folder Sent Mail penuh sesak. Dipilah-pilah deh, yang penting disave ke hard disk atau dicopy ke folder yang mudah dijangkau. Hihi, ada email menanggapi janji sebuah penerbit untuk mengirimkan buku-buku guna diresensi dan sampai hari ini nggak nongol juga. Email-email singkat ucapan terima kasih sekaligus konfirmasi kepada penulis yang mengirimkan revisi naskah untuk saya sunting. Buang, buang, buang.
Saya juga paling males delete SMS, sampai-sampai loading ponsel lelet berat. Okelah, Clean up messages..Outbox..Inbox. Walah! Ada sms berisi alamat email penting yang kedelete. Inget sih id-nya, tapi domainnya ragu-ragu. Di buku catatan ada kali..mudah-mudahan. 
| |