Rini's posts with tag: majalah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag majalah
Blog EntryDua Puluh Ribu SajaApr 14, '08 11:11 PM
for everyone

Adik saya rajin mantengin diskon bacaan, termasuk untuk kakaknya yang
satu ini. Beberapa hari di rumah kakak, saya membolak-balik majalah
Femina lama koleksinya. Lumayan sih sekadar buat baca cerpen dan
menambah ide-ide yang tersimpan di draft SMS ponsel saya.

"De, di GM Merdeka Matabaca lagi obral lho. Lima ribuan," kalimat
menggiurkan itu disusul tawaran nitip, karena adik saya juga sedang
hobi ngider-ngider kota dalam rangka refreshing. Dapat deh empat edisi
Matabaca yang sangat menarik, meskipun keluaran lama. Alhamdulillah
adik saya ingat mana saja yang sudah saya punyai.

Keempat majalah ini saya tamatkan dalam satu hari dan langsung pulas
sesudahnya. Asyik, deh. Ada yang membahas sastra klasik Balai Pustaka,
jadi inget novel Salah Pilih yang belum rampung dibaca. Jadi tahu gaya
Fauzi Baadilla memilih buku untuk dibeli, meskipun pakai voucher. Tak
kalah oke: proses kreatif yang dituturkan berbeda-beda antara lain
oleh novelis senior Mira W dan konsultan keuangan Safir Senduk. Dua
puluh ribu yang sarat ilmu:)


Blog EntryLOMBA PENULISAN RUBRIK KOLOM AYAH MAJALAH UMMIFeb 6, '08 6:47 PM
for everyone
sumber: milis sekolah-kehidupan

Untuk lomba menulis kali ini, majalah Ummi mengundang para pembaca PRIA untuk menuliskan
pandangan, perasaan, dan pengalaman sebagai ayah, sebagai calon ayah, sebagai suami, sebagai anak,
sebagai menantu, dan sebagainya.

SYARAT PENULISAN:
1. Lomba terbuka untuk muslim warga negara Indonesia;
2. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media mana pun;
3. Naskah ditulis rangkap tiga, spasi ganda, dan diketik pada kertas folio. Panjang naskah tak
lebih dari 3000-3500 karakter atau 400-500 kata;
4. Redaksi berhak menyunting naskah dan mengganti judul;
5. Naskah diterima redaksi paling lambat tanggal 31 Maret 2008 cap pos. Sertakan data diri yang
lengkap, foto (pas foto atau foto close up lainnya) dan nomor rekening;
6. Peserta boleh mengirimkan naskah lebih dari satu dalam amplop terpisah;
7. Pada sebelah kiri atas amplop, tempelkan kupon lomba penulisan (kupon bisa di dapat di majalah
Ummi No. 10/XIX/Februari 2008 hal.86);
8. Kirimkan naskah lomba ke redaksi majalah Ummi, Jl. Mede No. 42, Utan Kayu, Jakarta Timur 13120;
9. Para pemenang lomba penulisan ini akan diumumkan pada Ummi edisi 1/XX yang terbit pada bulan
Mei 2008;
10. Naskah yang tidak memenangkan lomba tapi dianggap layak, akan dimuat pada rubrik Kolom Ayah
di majalah Ummi dengan mendapat honor sebagaimana biasanya.

HADIAH* UNTUK TIGA ORANG PEMENANG:
1. Pemenang pertama mendapat uang tunai sebesar Rp. 600.000; dan berlangganan majalah Ummi selama
tiga bulan;
2. Pemenang kedua mendapat uang tunai sebesar Rp. 500.000; dan berlangganan majalah Ummi selama
tiga bulan;
3. Pemenang ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp. 400.000; dan berlangganan majalah Ummi selama
tiga bulan;

*)Hadiah sudah termasuk honor pemuatan.


Blog EntrySaya dan MajalahJan 24, '08 9:24 PM
for everyone
Sejak menginjak bangku SD, saya cenderung lebih akrab dengan majalah
dibandingkan buku. Buku flora-fauna bergambar dan cergam yang saya
koleksi pun berukuran sebesar majalah. Tentu saja yang dikenal duluan
adalah Bobo. Saya menertawakan ulah Paman Gembul, menyimak baik-baik
sisipan Pak Janggut sampai dikliping, heran karena ternyata Nirmala
bisa sakit, tersenyum oleh pertengkaran Bona dan Rongrong, bahkan Mas
Agus ternyata memfavoritkan Paman Kikuk di masa kecilnya.

Majalah pendampingnya adalah Kawanku versi lama yang benar-benar cocok
sebagai bacaan anak. Saya sering melewatkan halaman tengahnya yang
berspasi rapat dan font serba mini, tetapi senantiasa membaca komik
Sylvio (dengan bayang-bayang teks Prancis di balon katanya),
cerpen-cerpennya yang berisi dongeng, cerbung Sherlock Holmes (tapi
jangan ditanya isinya:p), dan banyak lagi.

Ketika mengenakan seragam putih-biru, saya melepas keduanya dan
beralih pada Anita Cemerlang dan Aneka Ria. Majalah AC yang khas
dengan ilustrasi sampul karya August menghadirkan buah pena Kurnia
Effendi, Nr. Ina Huda, E. Sati, Pangerang Em, Donatus A. Nugroho,
Ryana Mustamin, Beni Setia, SI Soekri Munaf, dan lain-lain. Melalui
Aneka Ria, saya jatuh cinta pada karakter fiksi tulisan Katarina
Panji. Di situlah pertama kali saya familiar dengan metafora dan
analogi, misalnya kalimat 'permintaannya yang sepanjang pipa minyak'.
Bahasa yang cenderung baku dalam beberapa cerpennya tetap enak dibaca.

Saat duduk di bangku kuliah, saya diminta 'meningkatkan bacaan' oleh
seorang dosen yang juga kawan dekat. Meski diam-diam masih membaca
majalah populer (termasuk sebuah majalah wanita franchise yang menurut
keponakan-keponakan saya ditujukan bagi orang dewasa), saya mulai
membuka-buka majalah bahasa Prancis di perpustakaan CCF. Boleh
dikatakan terpaksa, terlebih ada dorongan untuk mencari dan mem-book
topik skripsi sedini mungkin. Mas Agus dan teman-teman akrab kami yang
cowok nggak pernah memperolok kebiasaan saya membaca majalah Aneka,
yang waktu itu sudah berubah jadi Aneka Yess!. Seorang sahabat
hanya menggoda dengan membuka-bukanya sambil bilang, "Anjas! Gunawan! Nggak
mau..lucu..!"

Kalau pulang, saya ikutan baca Femina
milik kakak dan sering eksperimen beli majalah baru. Di antaranya Cita
Cinta dan Chic. Ini berlangsung sampai saya ngantor.

Tatkala harga majalah merangkak naik -- terutama Her World yang sudah
lebih dari 25 ribu-- saya pindah ke tabloid. Hobi saya ngoprek fitur
HP, jadi belinya tabloid tentang ponsel. Juga interior. Beberapa masih
disimpan dengan baik, sebagian diguntingi ponakan untuk tugas sekolah.

Omong-omong mengenai majalah, saya masih memiliki satu bundel majalah
Senang. Majalah tentang yang langka-langka, terbitan sekitar tahun 90
dan dimotori Arswendo Atmowiloto. Bundel tersebut sudah agak lepas dan
dihiasi coret-coretan gambar adik saya yang waktu itu masih SD. Tetapi
saya menjaganya karena sudah tak ada di pasaran sejak dibredel bareng
Monitor. Ada cerita meditasi alm Bagong Kussudiarjo sebelum melukis,
rumah Ike Soepomo, artikel tentang pelukis sampul novel, dan kartunis
yang pameran gratis satu hari di lapangan bola. Semua ini lebih
menarik bagi saya dibandingkan berita nangka berbuah nangka, anak yang
disunat misterius, pemenang SDSB sampai milyaran, dan wanita berambut
super panjang.

Sekarang saya tinggal di kawasan yang bahkan tidak terjangkau loper
koran. Lihat-lihat majalah kalo kebetulan lewat kios pinggir jalan
atau turun gunung ke supermarket. Bener-bener cuma lihat. Kadang masih
terlintas keinginan beli Her World dan ikutan jajak pendapatnya
seperti dulu, tapi harganya yang selangit sepadan dengan sebuah buku
(kadang-kadang dua buku di bursa murah). Sekali-kali aja beli
Matabaca, Basis, dan Bukune. Sekali-kali yang bertambah jarang karena
jauhnya jarak tempuh ke toko buku.



Blog EntryTemuan di MatabacaJan 12, '08 7:27 PM
for everyone
Sebenarnya ini sebuah 'kecelakaan', alias salah beli. Nggak cek bulan
terbitnya, yang jelas sambar deretan terdepan saja. Tiba di rumah,
baru sadar bahwa Matabaca ini edisi khusus Harry Potter.

Namanya sudah beli, tempatnya jauh dan majalah ini susah didapat, saya
harus bisa mengambil manfaat dari apa yang ada di dalamnya. Salah
satunya berada di artikel wawancara dengan Remy Sylado di halaman 13,
"Bagaimana pun juga setiap kali saya membaca karya orang, saya juga
belajar. Saya harus rendah hati."


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help