Rini's posts with tag: majalah
 Adik saya rajin mantengin diskon bacaan, termasuk untuk kakaknya yang satu ini. Beberapa hari di rumah kakak, saya membolak-balik majalah Femina lama koleksinya. Lumayan sih sekadar buat baca cerpen dan menambah ide-ide yang tersimpan di draft SMS ponsel saya.
"De, di GM Merdeka Matabaca lagi obral lho. Lima ribuan," kalimat menggiurkan itu disusul tawaran nitip, karena adik saya juga sedang hobi ngider-ngider kota dalam rangka refreshing. Dapat deh empat edisi Matabaca yang sangat menarik, meskipun keluaran lama. Alhamdulillah adik saya ingat mana saja yang sudah saya punyai.
Keempat majalah ini saya tamatkan dalam satu hari dan langsung pulas sesudahnya. Asyik, deh. Ada yang membahas sastra klasik Balai Pustaka, jadi inget novel Salah Pilih yang belum rampung dibaca. Jadi tahu gaya Fauzi Baadilla memilih buku untuk dibeli, meskipun pakai voucher. Tak kalah oke: proses kreatif yang dituturkan berbeda-beda antara lain oleh novelis senior Mira W dan konsultan keuangan Safir Senduk. Dua puluh ribu yang sarat ilmu:) 
sumber: milis sekolah-kehidupan
Untuk lomba menulis kali ini, majalah Ummi mengundang para pembaca PRIA untuk menuliskan pandangan, perasaan, dan pengalaman sebagai ayah, sebagai calon ayah, sebagai suami, sebagai anak, sebagai menantu, dan sebagainya. SYARAT PENULISAN: 1. Lomba terbuka untuk muslim warga negara Indonesia; 2. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media mana pun; 3. Naskah ditulis rangkap tiga, spasi ganda, dan diketik pada kertas folio. Panjang naskah tak lebih dari 3000-3500 karakter atau 400-500 kata; 4. Redaksi berhak menyunting naskah dan mengganti judul; 5. Naskah diterima redaksi paling lambat tanggal 31 Maret 2008 cap pos. Sertakan data diri yang lengkap, foto (pas foto atau foto close up lainnya) dan nomor rekening; 6. Peserta boleh mengirimkan naskah lebih dari satu dalam amplop terpisah; 7. Pada sebelah kiri atas amplop, tempelkan kupon lomba penulisan (kupon bisa di dapat di majalah Ummi No. 10/XIX/Februari 2008 hal.86); 8. Kirimkan naskah lomba ke redaksi majalah Ummi, Jl. Mede No. 42, Utan Kayu, Jakarta Timur 13120; 9. Para pemenang lomba penulisan ini akan diumumkan pada Ummi edisi 1/XX yang terbit pada bulan Mei 2008; 10. Naskah yang tidak memenangkan lomba tapi dianggap layak, akan dimuat pada rubrik Kolom Ayah di majalah Ummi dengan mendapat honor sebagaimana biasanya. HADIAH* UNTUK TIGA ORANG PEMENANG: 1. Pemenang pertama mendapat uang tunai sebesar Rp. 600.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan; 2. Pemenang kedua mendapat uang tunai sebesar Rp. 500.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan; 3. Pemenang ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp. 400.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan; *)Hadiah sudah termasuk honor pemuatan.
 Sejak menginjak bangku SD, saya cenderung lebih akrab dengan majalah dibandingkan buku. Buku flora-fauna bergambar dan cergam yang saya koleksi pun berukuran sebesar majalah. Tentu saja yang dikenal duluan adalah Bobo. Saya menertawakan ulah Paman Gembul, menyimak baik-baik sisipan Pak Janggut sampai dikliping, heran karena ternyata Nirmala bisa sakit, tersenyum oleh pertengkaran Bona dan Rongrong, bahkan Mas Agus ternyata memfavoritkan Paman Kikuk di masa kecilnya.
Majalah pendampingnya adalah Kawanku versi lama yang benar-benar cocok sebagai bacaan anak. Saya sering melewatkan halaman tengahnya yang berspasi rapat dan font serba mini, tetapi senantiasa membaca komik Sylvio (dengan bayang-bayang teks Prancis di balon katanya), cerpen-cerpennya yang berisi dongeng, cerbung Sherlock Holmes (tapi jangan ditanya isinya:p), dan banyak lagi.
Ketika mengenakan seragam putih-biru, saya melepas keduanya dan beralih pada Anita Cemerlang dan Aneka Ria. Majalah AC yang khas dengan ilustrasi sampul karya August menghadirkan buah pena Kurnia Effendi, Nr. Ina Huda, E. Sati, Pangerang Em, Donatus A. Nugroho, Ryana Mustamin, Beni Setia, SI Soekri Munaf, dan lain-lain. Melalui Aneka Ria, saya jatuh cinta pada karakter fiksi tulisan Katarina Panji. Di situlah pertama kali saya familiar dengan metafora dan analogi, misalnya kalimat 'permintaannya yang sepanjang pipa minyak'. Bahasa yang cenderung baku dalam beberapa cerpennya tetap enak dibaca.
Saat duduk di bangku kuliah, saya diminta 'meningkatkan bacaan' oleh seorang dosen yang juga kawan dekat. Meski diam-diam masih membaca majalah populer (termasuk sebuah majalah wanita franchise yang menurut keponakan-keponakan saya ditujukan bagi orang dewasa), saya mulai membuka-buka majalah bahasa Prancis di perpustakaan CCF. Boleh dikatakan terpaksa, terlebih ada dorongan untuk mencari dan mem-book topik skripsi sedini mungkin. Mas Agus dan teman-teman akrab kami yang cowok nggak pernah memperolok kebiasaan saya membaca majalah Aneka, yang waktu itu sudah berubah jadi Aneka Yess!. Seorang sahabat hanya menggoda dengan membuka-bukanya sambil bilang, "Anjas! Gunawan! Nggak mau..lucu..!"
Kalau pulang, saya ikutan baca Femina milik kakak dan sering eksperimen beli majalah baru. Di antaranya Cita Cinta dan Chic. Ini berlangsung sampai saya ngantor.
Tatkala harga majalah merangkak naik -- terutama Her World yang sudah lebih dari 25 ribu-- saya pindah ke tabloid. Hobi saya ngoprek fitur HP, jadi belinya tabloid tentang ponsel. Juga interior. Beberapa masih disimpan dengan baik, sebagian diguntingi ponakan untuk tugas sekolah.
Omong-omong mengenai majalah, saya masih memiliki satu bundel majalah Senang. Majalah tentang yang langka-langka, terbitan sekitar tahun 90 dan dimotori Arswendo Atmowiloto. Bundel tersebut sudah agak lepas dan dihiasi coret-coretan gambar adik saya yang waktu itu masih SD. Tetapi saya menjaganya karena sudah tak ada di pasaran sejak dibredel bareng Monitor. Ada cerita meditasi alm Bagong Kussudiarjo sebelum melukis, rumah Ike Soepomo, artikel tentang pelukis sampul novel, dan kartunis yang pameran gratis satu hari di lapangan bola. Semua ini lebih menarik bagi saya dibandingkan berita nangka berbuah nangka, anak yang disunat misterius, pemenang SDSB sampai milyaran, dan wanita berambut super panjang.
Sekarang saya tinggal di kawasan yang bahkan tidak terjangkau loper koran. Lihat-lihat majalah kalo kebetulan lewat kios pinggir jalan atau turun gunung ke supermarket. Bener-bener cuma lihat. Kadang masih terlintas keinginan beli Her World dan ikutan jajak pendapatnya seperti dulu, tapi harganya yang selangit sepadan dengan sebuah buku (kadang-kadang dua buku di bursa murah). Sekali-kali aja beli Matabaca, Basis, dan Bukune. Sekali-kali yang bertambah jarang karena jauhnya jarak tempuh ke toko buku.

 Sebenarnya ini sebuah 'kecelakaan', alias salah beli. Nggak cek bulan terbitnya, yang jelas sambar deretan terdepan saja. Tiba di rumah, baru sadar bahwa Matabaca ini edisi khusus Harry Potter.
Namanya sudah beli, tempatnya jauh dan majalah ini susah didapat, saya harus bisa mengambil manfaat dari apa yang ada di dalamnya. Salah satunya berada di artikel wawancara dengan Remy Sylado di halaman 13, "Bagaimana pun juga setiap kali saya membaca karya orang, saya juga belajar. Saya harus rendah hati." 
| |