Rini's posts with tag: menulis
 Kemampuan berimajinasi saya dalam mendeksripsikan fisik suatu karakter dalam fiksi terbilang lemah. Jika merujuk pada orang-orang yang pernah dikenal, maka referensinya akan 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi). Maka saya menggunakan sosok yang berseliweran di media, tentu sesuai preferensi pribadi.
Wilayah minat saya dalam hal ini, khususnya karakter pria, terfokus pada mereka yang sangat Timur (apa ya istilahnya? Tak begitu paham dengan Kaukasia dan ras-ras). Jarang sekali saya menggambarkan pria atau wanita berdarah Barat, baik indo maupun murni. Yang paling sering dijadikan objek adalah aktor-aktor Korea, hahaha.. Salah satunya Jo In Sung, yang dengan 'agak terpaksa' dipinjam ciri fisiknya untuk sebuah cerpen berjudul Hitam Manis dalam kumcer Sahabat.
Bila sedang iseng, saya menjumput paras lokal dari tayangan TV. Ini sangat sulit karena para pemain sinetron remaja, misalnya, tampak serupa dengan potongan rambut dan gaya berpakaian mereka. Puncak keisengan adalah 'meminjam' Gary Iskak (buka kartu nih, Mbak Leila). Saking insidentilnya, saya tidak ingat untuk karya fiksi mana dia ditempatkan.
Belakangan, saya kerap menemani Mas Agus nonton TV. Tindakan yang sungguh kontra produktif ini dicoba-relevankan dengan pekerjaan. Apa yang saya dapat? Karakter fisik simpatik Ganjar Pranowo, sekertaris Fraksi PDIP yang belakangan ini sering tampil di televisi. Bahkan Mas Agus setuju bahwa dia ganteng:-) Tapi bukan berarti kami simpatisan partai berlambang kepala banteng itu, lho:p
sumber foto: www.dpr.go.id

 Dalam beberapa hari ini, saya mendapat berbagai kabar. Sebuah draft dinyatakan tidak sesuai dengan sebuah penerbitan cukup ternama, setelah menanti hampir empat bulan lamanya. Tidak mengejutkan kendati ini penolakan ke-4 (atau ke-5?). Naskah fiksi memang harus menembus seleksi ekstra di tengah pertarungan bisnis penerbitan yang dihimpit kenaikan harga kertas sekarang ini. Saya akan merombaknya sedikit nanti, sambil memikirkan penerbit lain yang dirasa cocok untuk itu. Sementara itu, sebuah draft lain di-acc setelah melalui empat kali revisi. Sebuah kenikmatan tersendiri untuk saya yang tergolong kurang sabaran ini, ditambah genrenya yang jarang saya sentuh. Saya diminta melanjutkan ke tulisan berikut, namun..filenya hilang. Dasar pikun dimakan sendiri:p, syukurlah penyeleksi masih menyimpan arsip arahan terakhir dan mengirimkan kembali ke email saya. Kepikunan belum berakhir. Saat teman-teman Blogfammers heboh oleh pengumuman Komedi Cinta 2 Gradien- Blogfam kemarin, saya masih sibuk mengingat judul cerpen yang diikutsertakan waktu itu. Kang Iwok-lah yang menyegarkan kembali memori sekaligus menyampaikan bahwa cerpen saya lolos seleksi. Alhamdulillah, setelah tersungkur di Komcin 1. Terima kasih pada pihak panitia dan kawan-kawan yang memberi semangat selama ini. Untuk pertama kalinya, saya satu buku dengan penulis komedi favorit saya (yang dodol bangets): Jeng Dedew. sumber foto: sxc.hu 
 ..karena hari Senin lalu ngegeber sebuah naskah komik. Penulis keras kepala model saya nggak pernah mau membiarkan tulisan lama jadi residu. Obrak-abrik folder (yang sekarang hang melulu, sepertinya ada penyakit) dan permak sana-sini..jadilah. Lunas satu hutang.
Hari kedua mata masih sakit karena..kelamaan ngegoodreads! Rela deh dicemberutin Mas Agus lantaran (merasa) bersalah sampai menahan lapar segala. Saya terpukau oleh deretan bacaan seorang penulis senior yang mencapai 3000 buku dari aneka genre. Beliau tidak gengsi melalap novel pop, teenlit, komik Jepang, keren abis deh!
Oleh sebab itu, kemarin saya beristirahat. Usai makan malam, nonton Molly di Trans7 sama keponakan. Film anak-anak yang bermutu dengan latar belakang perang, ceritanya sederhana namun amat berbobot. Saya membahas semua adegan setiap kali iklan dengan ponakan (aturan di rumah kami: nonton TV jangan sampai membungkam komunikasi). "Anak perempuan begitu deh, banyak masalah kecil tapi jadinya rumit," saya menjelaskan.
Nulis lagi jeda, tapi baca buku jalan terus. Sudah tamat dua buku, tapi masih mikir-mikir untuk resensinya. Semalam menyalakan Dynabook begitu keponakan tidur (kesannya anak bayi, ye..padahal sudah 20 tahun lebih), mencoba kerja sebentar dan.. ngantuk deh:p 
 Ada tiga kasus yang pernah saya alami seputar pemuatan naskah dalam format buku atau artikel.
1. Tulisan dibiarkan begitu saja, termasuk kesalahan ejaan dan ketidaksinambungan paragraf. Saya jadi malu hati.
2. Tulisan diedit sebagian, tapi lumayan melenceng. Mungkin di mata editor jadi lebih baik/sesuai, namun gayanya bukan saya banget.
3. Tulisan diedit nyaris seluruhnya. Tak ada bekas-bekas coretan saya di situ, tenggelam..sampai saya tak dapat mengenali goresan saya yang asli.
Berhubung komunikasi dengan editor tak selalu dapat terjalin karena berbagai hal, satu-satunya jalan terbaik untuk mengantisipasi semua ini adalah menyunting sendiri alias menyerahkan draft 'sesempurna' mungkin ke tangan penerbit/redaksi media.
Anda sendiri lebih suka yang mana? Dibiarkan apa adanya berikut segala kekeliruannya atau diedit habis?
sumber foto: sxc.hu

 Alhamdulillah, draft saya tak dikembalikan. Cukup dengan catatan singkat yang saya pahami. Suka serem membayangkan draft itu di-resend, ingat cerita guru-guru di Malory Towers yang mengembalikan PR sampai dikerjakan dengan benar..
Merenung semalaman, memikirkan saran-saran untuk mengubah sedikit naskah itu. Sedikit, tapi harus mikir keras. Ada panggung manten sunat dekat rumah, semoga tak bising seharian. Mana mungkin saya minta pengertian hanya karena seorang pekerja tak lazim (baca: freelancer) butuh konsentrasi di hari Minggu. Besok bersih-bersih rumah, kakak dari Demak hendak berkunjung. Rencananya, Mama juga.
Bantu Mas Agus nyuci dulu, kali ya..
sumber foto: sxc.hu 
 Judulnya kayak kolom koran gini, ya?:) Setelah berkali-kali mengalami permintaan revisi dalam perjalanan kepenulisan saya, baru sekarang dapat menikmati dan melihat garis perak di balik awan (mengutip dialog Stuart Little 2). Saya memperoleh bimbingan yang sangat terperinci, tidak remang-remang, dari seorang penulis berjam terbang tinggi dan sangat 'handap asor' (low profile versi Sunda). Kritiknya jauh dari meminderkan saya yang masih baru ini.
Dari beliau, saya belajar terminologi baru: logika miring. Suatu kejutan dalam alur cerita, reaksi tak diduga, kata-kata yang tak terpikirkan sehingga orang yang menyimak terus didorong rasa penasaran. Masih dengan bijaknya, beliau mengatakan perihal cerita yang tidak bergerak alias masih berformat dialog biasa di sana-sini. Saya membaca berulangkali, untuk memahaminya.
Saya akan terus berusaha dan terus belajar. Semoga.
sumber foto: sxc.hu 
 ..daripada menyelesaikan revisi. Inilah yang bikin mutung kemarin, khawatir listrik mati sampai malam. Membayangkan dan coret-coret, tak bisa karena baru print satu materi.
Listrik nyala, konsentrasi sudah buyar lantaran Dynabook mendadak tak mau detect USB. Oprek-oprek sampai capek..tidur deh. Alhamdulillah 19 halaman rampung pagi ini, pukul 9.30.
Biasanya saya ngempi dulu baru kerja, dengan alasan pemanasan..sekarang dibalik. Ngempi sebagai insentif kerja, hehehe..
sumber foto: sxc.hu 
Terima kasih banyak-banyak pada Kang Iwok dan Dedew yang telah ngabarin, saya udah lupa ngikut proyek ini.. Begitu listrik nyala, langsung meluncur ke pengumuman ini. Alhamdulillah.
 Terilhami oleh posting Dedew, saya ingin bercerita sedikit mengenai perubahan judul dalam karya berupa artikel atau buku. Alhamdulillah, sebagian besar tulisan saya yang berbentuk esai dan cerpen sejauh ini 'lolos' judulnya. Beberapa di antaranya adalah: 1. Sandal Sinta (cerita anak)
2. Ketika Lala Benci Sekolah (cerita anak)
3. Gairah Warnet Kota Kembang (artikel)
4. Asal Bos Senang (artikel karir)
5. I'm Gonna Make You Love Me (cerpen dewasa)
6. Satu Sangkar Dua Burung (cerpen remaja)
7. Pengantin Santai (esai)
Justru artikel pertama saya yang dimuat di HU Pikiran Rakyat-lah yang diubah judulnya. Itu dikarenakan tulisan saya mengenai Sharon Stone digabungkan dengan tulisan orang lain mengenai Mira Sorvino. Hasilnya jauuuuh dari konsep awal, menjadi: Siapakah Wanita yang Paling Seksi, Sharon Stone atau Mira Sorvino? Waks..untung nama saya disingkat dan ditulis kecil di akhir artikel.
Ulasan film pada tahun 2000 di koran yang sama pun berubah total, dicocokkan dengan 'penyesuaian' oleh redaktur di bagian akhir artikel. Saya lupa judul aslinya, yang pasti mengandung kata 'Arogansi Amerika' dan disulap jadi End of Days Hanyalah Khayalan Sineas Amerika.
Buku Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor semula berjudul Bekerja Tanpa Kantor. Penerbit membicarakan perubahan ini lebih dahulu, dan alasannya cukup dipahami. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati juga kreasi editor, seperti halnya Tips Nyaman Berponsel-ria. Tidak masalah, mengingat judul dari saya masih standar banget dan kurang 'menohok' perhatian. Happy-Go-Lucky awalnya adalah Kutu Loncat. Setelah melalui diskusi dengan editor, saya menambahkan sub judul Bekerja dengan Cinta dan disetujui.
Sebuah draft non fiksi kumpulan esai yang pernah diproses di sebuah penerbit tiga tahun lalu dikritik habis penjudulannya oleh editor. Saya tak bisa mengatakan judul aslinya, sebab sedang disiapkan untuk dicetak oleh penerbit lain:) Yang terang, editor di penerbit sebelumnya menilai pilihan judul saya - terutama untuk esai-esai di dalamnya - seperti film Indonesia jaman dulu. Wajar saja karena penerbit itu memproduksi buku-buku berkaver dan judul serba gaul. Toh, ketika saya alihkan, penerbit yang sekarang tidak bermasalah dengan ketentuan judul saya. Namun bukan berarti saya menarik naskah tersebut karena judul semata, lho:)
Intinya, perubahan judul selalu bisa dibicarakan kenapa dan bagaimana. Ada subjektivitas menyangkut kemenarikan suatu pokok bahasan. Sejauh alasan editor dapat diterima, berubah tidak jadi soal. Kalau menyangkut media cetak, memang sulit, mungkin karena tenggat harian sehingga tak sempat berkomunikasi dengan penulis. 
 Mas Agus harus berangkat pagi-pagi sekali hari ini. Daripada kesiangan atau kaget dibangunkan alarm, saya bangun jam 4.
Usai beres-beres belakang, Dynabook dinyalakan. Pagi yang tenang bikin pikiran jernih. Masih ngantuk sih..tapi alhamdulillah deadline hari ini tercapai. Sebuah draft esai sepanjang 980 kata diberangkatkan.
Sekarang? Waktunya sarapan.
sumber foto: sxc.hu 
Jantung mau copot sewaktu melihat isi sebuah folder. Apakah saya tak sengaja mendelete sebuah sub folder draft yang sangat penting? Gimana nggak penting, naskahnya sedang dalam perjalanan dan dibaca editor. Gawatt.. Syukurlah isi Flashdisk saya menyerupai harddisk cadangan. Saking ramenya, petugas warnet bingung ketika saya mintai tolong ngecek sebuah file yang sudah dicopy dari salah satu komputer. Itupun sudah saya buang sebagian..hehehe.. Begitu copy folder yang raib tadi, baru sadar..lho? Sebenarnya tidak hilang, tapi ganti nama dan icon. Untuk file yang belum jelas nasibnya, saya menggunakan icon berbentuk tanda tanya. Hwaduhhhh..ampun.
 ..terutama berdasarkan sejumlah kejadian belakangan ini, saya lebih senang menulis non fiksi. Bukan berarti fiksi tidak menarik, akan tetapi ketertarikan saja tidak cukup. Di wilayah perfiksian, saya masih pede kalau menulis cerita anak dan cerpen (atau kumpulan cerpen). Novel sih tobat, deh.
Bicara soal genre, saya sudah menyadari keterbatasan di..komedi!! Bila menulis kisah berbau tragedi, misteri, bersedih-sedih ria..hayyuk lah.
Yang tidak pernah terlintas untuk dicoba ialah puisi. Kalo nekad, bisa diketawain sama kucing tetangga..weoooowwww..
sumber foto: sxc.hu 
 | Re Vi Si | Jun 18, '08 6:50 PM for everyone |
 Yang namanya revisi selalu lebih berat dibandingkan menulis sesuatu yang baru. Seperti halnya menyunting naskah (walaupun karya sendiri) dan ternyata perubahannya sepanjang jalan kenangan.
Yang namanya (penulis) freelance juga kudu siap dengan perubahan dadakan, sejauh masih masuk akal tentu. Di tengah keasyikan menulis draft baru, ealah..draft yang kemarin mesti dirombak. Tekan Pause deh. Walaupun entah kapan Resume-nya. Ingat sudah bagus.
Berjuang melawan sakit kepala yang menghunjam di kala PMS (deuh, Rinurbad paling jago deh bikin alasan). Konsentrasi, berpikir keras, merangkai logika cerita, menelisik plot..
Jdarrrrrrr!!! Ada anak-anak main petasan di belakang rumah, yang memang kosong. Duh, pengen mites rasanya. Bunyinya beruntun.
Saya berkacak pinggang dan buka pintu samping. Terjadilah adegan kejar-kejaran, termasuk dengan anak yang rebutan layangan putus. Pasang wajah bengis, tak perlu banyak berkata supaya mereka ngerti bahwa saya sangaaaat terganggu. Dicap gahar? Biarin deh. Kalo lagi PMS, rasanya kepingin makan orang:> Apalagi di tengah situasi genting memperbaiki tulisan. Semua Hambatan-Ancaman-Tantangan-Gangguan harus diberantas.
Hmm, sampai mana tadi ya? Langkah penting dalam revisi: save as sehingga terbentuklah draft 1-draft 2- atau revisi 1 dan sebagainya (amit-amit deh kalo sampai revisi lebih dari sekali). Ini bekal waktu nyusun skripsi, yang seringkali bolak-balik ke konsep awal yang tadinya dibilang salah.
Keterangan foto: waktu mati lampu 
Dua minggu sudah berpisah dengan koneksi Internet, dan meminimalisir tatap muka dengan layar komputer kecuali benar-benar perlu..hasilnya?? Berat badan sepertinya meningkat, hihihi..nggak nyambung amat ya.
Saya sudah mencapai sejauh ini:
- Naskah fiksi remaja kira-kira 60 halaman (lupa tepatnya, udah ditinggal beberapa hari)
- Naskah non fiksi 100-an halaman, dan penerbit memberikan komentar cepat bin lengkap (asyiknya!
) untuk..direvisi Lumayan deh, mengingat jam terbang yang lebih banyak berurusan dengan kasur (tidur, nonton TV, baca, dan sakit) serta bercabang-cabang pikiran kepada suami yang sakit (gantian pula), kakak yang ngidam super parah, ibu yang juga anjlok kondisinya.. dan aneka rupa permasalahan yang cukup meriah.
Alhamdulillah.
 Semua ada hikmahnya. Daripada mikirin beberapa urusan yang terpengaruh dampak kenaikan BBM, mendingan nulis. Meski badan sakit, otak masih aktif merangkai-rangkai kalimat dan paragraf. Lagipula enaknya kegiatan ini, bisa dilakukan tanpa berisik sambil menunggui suami yang kurang sehat kemarin. Suara ketak-ketik jam dinding dan nyanyian jangkrik nggak bikin ngantuk, malah tambah semangat.
Wuuusssssh..naskah non fiksi saya melaju. Maaf ya teenlitku, diperam dulu sampai ada 'kling' lagi. Si Tengah bete memasuki hari libur pertamanya, sampai-sampai ia minta izin Mbaknya (pengasuh) untuk ngepel rumah dan dijawab dengan tegas, "Nggak." Akhirnya ia membersihkan kamar mandi ketika Mas Agus pulang.
Permintaan si Tengah untuk menemaninya akhir pekan ini pun saya tolak. Maaf Nak, di samping masih lemas karena haid yang deras (dia sendiri juga haid sih, makanya rewel:p), Tantemu ini tak ingin beranjak dari naskah yang sudah masuk halaman 74. Pokoknya jangan coba-coba ganggu kalau saya sedang konsentrasi nuliiiiis..!
sumber foto: sxc.hu 
 Juntay. Demikian istilah yang populer jaman SMA (kapan itu ya? Hmm..15-16 tahun lalu kah?) Naskah teenlit sudah bertambah beberapa ratus kata, itupun masih pake acara berkerut kening. Kayaknya kecepetan deh..
Di tengah lamunan, menyeruak sebuah ide baru. Nggak bisa dibendung, dan...begitulah bedanya menulis fiksi dengan non fiksi..langsung soooooorrrrr...tidak terasa mencapai 30 halaman! Lupa makan dan istirahat siang.
Dan esoknya, kemarin pagi tepatnya, saya ambruk. Kepaksa deh mengganggu Mas Agus yang baru tidur jam 5.30. Kepala kayak dihantam martil panas. Membuka mata aja susah, apalagi bangkit dari tempat tidur. Mau ke kamar mandi yang hanya lima langkah, merayap-rayap..
"Makanya kalo liatin laptop itu jangan kayak liatin pacar!" ucap Mas Agus dengan tampang kusut seraya menyiapkan sarapan dan obat. Lumayan susah untuk tidur nyenyak, tapi alhamdulillah sorenya kepala sudah meringan. Campur aduk sih, shock juga kali dapat kabar Teteh yang lagi-lagi ngedrop dan harus bedrest. Nyetrum kah?
TV sudah sehat, maka kami nonton Uda Faisal lagi dengan serunya (setelah Mas Agus lelap sampai jam setengah dua siang). Disusul film New York Minutes, meskipun rada bosen liat si kembar Mary Olsen dan..(namanya aja nggak apal). Mumpung lagi nulis naskah remaja, biar tambah menghayati..hohoho..
Kelar film, nyungsep di bantal. Mata setengah merem, HP berbunyi-bunyi (sementara jangkrik di ruang tengah menari-nari). "Udah, matiin," kata mas Agus tegas. "Kapan tidurnya kalo tuling-tuling terus?" Begitulah bunyi SMS saya menurut dia, hehehe.. Nurut, aaah.
sumber foto: sxc.hu 
 Kabar naskah teenlit saya hari ini: sudah mencapai 7570 kata (nggak mau ngitung halaman lagi, supaya kenikmatannya tak terganggu). Hopla! Hopla!
Cerita berbelok lumayan jauh dari outline. Muncul karakter baru, dan konflik berubah drastis. Lumrah, sih..sekarang saya hendak merenung dulu untuk melanjutkan bab kelima.
sumber: sxc.hu 
 Kemarin saya baru mulai menekuri Dynabook menjelang sore. Mungkin ini hikmahnya TV rusak. Begitu urusan rumahtangga (baca: masak, beberes, nyetrika) kelar, langsung nyari kegiatan lain yang bermanfaat. Nulis? Bukan, tidur siang.
Lepas Ashar, baru deh ketak-ketik-ketuk. Alhamdulillah, tiga esai kelar. Ini buah membaca buku-buku bergenre serupa yang dengan cling memancing gagasan. Setelah itu melanjutkan novel. Tak terasa nambah 6 halaman. Hourra! Ingin menandak-nandak karena dapat mencapai halaman 21 tanpa menangis darah. Airmata memang keluar, soalnya ngantuk. Oh, pantas. Udah jam sembilan.
sumber foto: sxc.hu 
| |