Rini's posts with tag: menyunting
 ..sudah terbit. Alhamdulillah, hari ini kiriman jatah penyunting dari Pustaka Insan Madani sudah saya terima. Novel ini dihiasi ilustrasi hitam-putih di setiap babnya. Berikut sinopsis kaver belakang: Sejak kecil, Handoyo harus mengenyam kepahitan hidup. Ibunyameninggal, ayahnya larut dalam duka berkepanjangan, sehingga ia harusputus sekolah dan menjadi orangtua untuk adik-adiknya yang masihmembutuhkan kasih sayang. Penderitaan masih mengoyaknya kala sang ayahmenikah lagi dan membuang mereka bertiga ke dalam hutan.Kehadiran seorang lelaki budiman yang berteman dengan harimau membalutluka batin Handoyo, Sekar dan Ningsih. Tetapi kebahagiaan merekaberakhir karena orang tua angkatnya itu menghembuskan nafas di tanganpara pemburu yang ingin merusak hutan. Sanggupkah Handoyo meraihkembali masa depannya sekaligus memperjuangkan kelestarian alam dariorang-orang serakah?Malam Pemburuan ditulis oleh Varuni Dian W., salah satu juara lomba menulis cerita Departemen Agama. Kisah di balik dapur penyuntingan menyusul. 
 Saya dan Mas Agus bekerja di wilayah yang berbeda, sehingga kecil kemungkinan bisa saling 'mempengaruhi'. Kalo saya lagi mandeg dan memintanya meneruskan tulisan satu halaman saja, ia akan bilang, "Kamu ngeledek, ya?" Sebaliknya, saya angkat tangan membaca literaturnya yang serba ilmiah. Terkadang saya meminta Mas Agus membaca kemudian menjelaskan dengan bahasa yang lebih saya pahami.
Waktu senggang -- dalam arti tidak sedang sama-sama menghadapi tenggat rapat-- amat langka bagi kami. Maka kemarin sore, saya duduk di sebelahnya memperhatikan layar komputer. Bukan naskah editan Mas Agus yang sedang dikerjakan, melainkan formulir untuk keperluan iuran RT.
Sebelum diprint, saya berkomentar, "Kayaknya tulisan di bawah itu kurang enak, deh. 'Demi kelancaran semua pihak, pembayaran paling lambat tanggal 10'." Menurut saya, kalimat tersebut kurang tegas. Tidak perlu alasan untuk menekankan pembayaran tepat waktu. "Jadi gimana?" Mas Agus bertanya. "'Iuran harap dibayar paling lambat tanggal 10'," jawab saya. Kemudian Mas Agus mengubahnya. Alhamdulillah, pihak pengurus RT tidak komplain terhadap koreksi tersebut.
foto: sxc.hu

 | Flu Otak | Feb 21, '08 6:58 PM for everyone |
 Sejauh ini, novel yang sedang saya garap belum memuaskan. Si penulis dan si editor sedang bertarung dalam batin saya, dengan hasil akhir kemenangan berpihak pada si editor. Saya bertindak sebagai pembaca yang cerewet dan terus bertanya di bagian ini dan itu: kenapa? gimana? kok bisa gini? kapan?
Mas Agus yang sedang bertempur dengan kerjaannya pun jadi sasaran. Bahkan istilah flu otak di atas juga 'gubahan' dia. Mulanya kami ngobrol masalah komposisi diksi dan frasa yang bikin darah tinggi. Dia cerita bahwa penulisan 'Sementara menurut X' dicoret oleh editor kepala. 'Sementara' dan 'sedangkan' tak boleh berada di awal kalimat. Yang boleh adalah 'Sementara itu, menurut X..'
Saya sendiri ngomel masalah temuan 'membicarakan tentang'. 'Berbicara tentang' memang tepat, tapi tidak yang sebelumnya. Persisnya begini: 'Ia ingin berbicara tentang prestasi anaknya belakangan ini'. Seringkali malah maksa jadi 'Ia ingin membicarakan tentang prestasi anaknya belakangan ini' (resapan dari 'talk about'). Padahal yang benar, 'Ia ingin membicarakan prestasi anaknya belakangan ini'. Kasus serupa adalah frasa 'memikirkan perihal'.
Obrolan beralih topik. Mendadak Mas Agus bilang, "Kalo hanya bilang salah tapi nggak ngasih tahu yang bener, ya nggak bener itu namanya." Saya protes, "Duh, nggak enak kalimatnya!" Ia terbahak dan berkilah, "Dasar S.L kamu mah! Bukan S.S!" S.L - Sarjana Linguistik, sedangkan S.S - Sarjana Sastra.
sumber foto: sxc.hu 
 | Di Mana | Feb 20, '08 11:32 PM for everyone |
 Serapan dari bahasa Inggris yang begitu saja (istilah kami dalam bahasa Sunda 'sakaba-kaba') kerap menghasilkan kalimat yang kurang pas. Misalnya 'Seorang dokter gigi yang berpengalaman tahu bagaimana menenangkan anak yang ketakutan'. 'Bagaimana' dapat diganti menjadi 'cara', karena lazimnya kata tanya berada pada kalimat tanya yang diakhiri tanda baca '?'.
Tetapi yang paling sering muncul dan bikin gregetan adalah 'di mana'. Harus diakui, kerap sulit juga menemukan kata pengganti. 'Ia pergi ke suatu tempat di mana keluarganya merasa tentram' dapat diubah menjadi 'Ia pergi ke suatu tempat yang membuat keluarganya merasa tentram' meski terasa kurang cocok benar, karena fungsi 'suatu tempat' tampak berubah oleh frasa 'yang membuat'. Lebih pusing lagi bila nemu kalimat 'Hari itu adalah hari di mana aku bertemu dengan guru terbaik di kota kami'. Maunya saya mengganti dengan 'Hari itu, aku bertemu dengan guru terbaik di kota kami'. Namun klien tidak selalu setuju. Katanya kurang dramatis.
Kadang-kadang kita harus pasrah dan meredam keinginan untuk melakukan koreksi. Untuk masalah satu ini, saya salut pada kesabaran Mas Agus yang bisa dikatakan selalu menghadapi persoalan demikian kala menyunting teks-teks ilmiah. Kadar sabar saya sendiri mungkin tak sampai setengahnya:p
sumber: sxc.hu 
 Saya menemukan kalimat yang menarik.
'Imajinasi menyediakan suatu saluran menuju masa depan yang positif bagi anak-anak yang tinggal di dalam lingkungan yang stresful (Rubin, 1996)'. 
 Menulis cerpen
Paling lama: 3 hari Paling cepat: 3 jam
Pemuatan cerpen
Paling lama: tiga bulan Paling cepat: sepuluh hari
Menulis artikel
Paling lama: seminggu Paling cepat: 2 jam
Pemuatan artikel
Paling lama: 3 bulan Paling cepat: seminggu
Menulis buku
Paling lama: setahun Paling cepat: tiga minggu
Pemberitahuan layak terbit
Paling lama: 2,5 tahun Paling cepat: lima hari
Penerbitan naskah menjadi buku
Paling lama: setahun Paling cepat: sebulan
Menyunting
Paling lama: 1,5 bulan Paling cepat: 3 hari
Penerbitan naskah yang disunting
Paling lama: 3 bulan Paling cepat: 1 bulan
Menerjemahkan buku
Paling lama: 2 bulan Paling cepat: seminggu
Penerbitan naskah yang diterjemahkan
Paling lama: 3 tahun (bahkan lebih, alias sampai sekarang belum terbit) Paling cepat: sebulan

 Sebetulnya nggak baru-baru amat, setidaknya yang satu adalah buku non fiksi how to ukuran saku hasil suntingan saya akhir tahun kemarin. Rupanya tim penerbit Exceed menambahkan ilustrasi lucu-lucu di dalamnya. Dengan begitu, buku tetap asyik dibaca.
Yang satu lagi kumpulan cerpen Tembang Bukit Kapur hasil Ajang Kreasi Kumcer Escaeva-Bukukita, khusus saya pesan dari penerbitnya langsung. Kepincut banget sama covernya. Buku itu sudah selesai saya baca dan resensinya diposting bersamaan dengan jurnal ini.
Sebetulnya saya menerima dua paket. Tetapi paket kedua terlalu pribadi untuk dibahas dan dipublikasikan. Isinya hadiah ulang tahun yang dikirim lebih awal oleh seorang sahabat baik. Seneng banget, deh! 
 Buku non fiksi terbitan Exceed, lini Escaeva, yang saya sunting sekitar akhir tahun lalu akan segera terbit. Berikut ini covernya. Ingin tahu lebih lanjut? Klik di sini.
 Memenuhi janji pada Mbak Roostinah, saya akan memaparkan sepercik kesan mengenai masing-masing karya. Beberapa sudah diceritakan di jurnal terpisah, jadi saya akan menuturkan selebihnya saja. Kumpulan Cerpen Lebaran dan Tahun Baru Valens. Tujuh cerpen saya terpilih dalam buku ini. Saat itu saya diminta menulis sebanyak mungkin dan membawa belasan ke kantor redaksi. Keputusan diambil oleh dua orang yang berwenang dan membaca bergantian. Mengesankan karena saya masih menggunakan disket untuk menyimpan file naskahnya. Dan yang saya ingat, sekretaris redaksi menyukai cerpen berjudul Sandal Sintayang diilhami pengalaman pribadi saya semasa kecil. Jatuh Bangun Cintaku. Seperti halnya The Real Dezperate Housewives, saya hampir lupa telah mengirimkan esai ketika Mbak Asma mengumumkannya di milis. Penantian sekitar enam bulan tidak terasa karena tahun itu saya sedang asyik ngomik. Esai I dola Bergitar adalah pengalaman yang menggelikan sekaligus penuh pelajaran. Entah apa komentar teman-teman SMP jika membacanya, hahaha.. Kumpulan Cerpen Tiga Belas. Ini pengalaman menyunting pertama dan langsung ketemu fiksi. Kumpulan cerpen, pula. Penerbit Malka baru akan meluncurkannya. Saat-saat menyunting lebih merupakan kegiatan membaca karena kedua penulis sudah matang dalam berbahasa dan berolah ide. Kisah Kehidupan. Pengalaman menyunting buku terbitan Avatar Press ini tak terlupakan. Pemilik gagasan memberi pengarahan untuk menguntai kisah-kisah nyata dalam urutan peristiwa: esai pertama mengenai kelahiran dan penutup tentang kematian. Termasuk di dalamnya esai saya, Sabar yang Romantis. Tulisan tersebut menceritakan hari-hari permulaan mengayuh bahtera rumahtangga bersama Mas Agus. Dengan sedikit daur ulang, esai yang pernah gugur di proyek berbeda ini lolos seleksi. Lelaki yang Menangis. Kendati idenya sudah lama menghuni benak saya, pengejawantahannya memakan waktu karena saya tidak ingin melahirkan naskah yang bombastis dan sensasional. Pilihan jatuh pada penerbit Akar Media, lini populer Mirqat. Keseluruhan naskah yang melalui linangan airmata dalam penggarapannya ini memuaskan sebab bersih dari sentuhan korektor. LYM adalah sebentuk teguran bagi diri sendiri, bahwa seorang istri, anak, orangtua, tante, atau apa pun posisinya harus berhati-hati dalam bertindak dan memperlakukan anggota keluarga. Nama-nama Islami Pilihan Untuk Si Buah Hati. Terbitnya sang ilham sungguh merupakan rahmat, dan akan sangat dimudahkan bila Sang Maha Pintar telah berkehendak. Buku ini merupakan hasil pengendapan dan renungan panjang, riset sejumlah besar bacaan termasuk referensi online, yang alhamdulillah...berkembang terus hingga sekarang. Tahukah Anda kapan idenya menampakkan diri? Saat saya membaca suatu edisi Matabaca yang mengupas kesuksesan Imelda Akmal, sang penulis seri arsitektur! Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor. Judul aslinya B ekerja TanpaKantor. Naskah yang diselesaikan dalam tempo sebulan ini menghadiahkan pembelajaran bahwa saya harus lebih teliti dan cermat menyunting isi sebelum proses penerbitan terjadi. Buku tersebut debut saya, sebuah kenangan berarti dalam jalur kepenulisan sekaligus kemantapan saya menjadi seorang freelancer. Spirituality in Work. Undangan menjadi kontributor datang ketika saya sedang lahap-lahapnya menulis non fiksi, khususnya esai dan bertema dunia kerja. Berbagai pengalaman ngantor sampai menjadi penerjemah lepas saya tuangkan dalam empat artikel, yang lolos dalam kumpulan cerita terbitan Pustaka Inti tersebut. Nello. Sebuah kerja penulisan ulang (istilah Read! adalah menggubah) yang cukup 'menyesakkan'. Pasalnya, saya tak henti-henti menangis membaca kisahnya. Saat mengetik sub plot kematian Kakek Nello, saya berjuang menahan airmata karena dalam ruangan yang sama ada keponakan dan ibu saya. The Lost Princess of Oz. Lebih dikenal dengan judul Wizard of Oz. Pertama kali mendengarnya semasa SMA, kala menggemari Radio Oz. Kemudian sepenggal frasa yang tertera di sebuah halaman buku Menjadi Penerbit. Ceritanya sangat imajinatif namun logis, sehingga saya terdorong menjadikannya subjek dalam esai Apresiasi Dongeng komunitas Apresiasi Sastra. Kumpulan cerpen Sahabat. Menulis kumpulan cerpen adalah impian semenjak dulu kala, akan tetapi kesempatan baru mampir tahun kemarin kendati tidak diterbitkan untuk umum. Saya sangat bersyukur karena cerpen-cerpen lama dalam arsip serta beberapa yang kalah lomba dapat disertakan di buku ini. Pemilihan nama pena Rinurbad pun atas keputusan penerbit. 
 Dunia freelancer memungkinkan kita memiliki banyak tangan (atau kaki?) seperti seekor laba-laba. Saya tertarik pada tulis-menulis sejak kecil. Menerjemahkan adalah dampak minat saya pada bahasa asing yang tumbuh di masa SMP. Menyunting, dengan sendirinya, adalah bagian dari kedua kegiatan ini. Ke mana pun pergi, label penulis-lah yang melekat pada diri saya selaku profesi. Tidak menulis sehari seperti menempatkan saya jadi 'pengkhianat' (sebagaimana omong-omong ringan saya di blog Daniel), 'koruptor' atau anak sekolah yang sedang mbolos. Tetapi kevakuman itu tak dapat dihindari, karena ada sesuatu yang dinamakan prioritas. Bukan berarti menulis tidak penting. Justru karena pentingnyalah, saya memilih beristirahat sewaktu sakit dan tidak memaksakan diri meraih pulpen serta kertas (paling-paling hasilnya tulisan tangan yang keriting). Karena penting pula, saya memilih cuci mata di alam sekitar dan mengisi kepala dengan baca buku (atau berburu buku) serta bertemu orang-orang tersayang. Ketiga aktivitas di atas memiliki kesamaan: bersentuhan dengan buku dan komputer. Dua hal yang saya cintai. Dua hal yang membuat Mas Agus terkadang 'dinomorduakan' (semoga tidak lagi), sekaligus merekatkan hati kami. Dua hal yang menjadikan saya orang rumahan dan begitu berat hati untuk melangkah ke luar. Ketiga-tiganya saling menunjang. Bukan kebetulan, bila jam terbang saya menulis, menyunting dan menerjemahkan naskah fiksi pun masih sedikit. Jarangnya saya bersentuhan dengan naskah fiksi kerap dipertanyakan. Memang, pada zaman remaja dulu, terminologi 'pengarang' lebih dikenal daripada 'penulis'. Apa itu penulis? Samakah dengan juru tulis di kantor kelurahan? Dosen pembimbing saya pun masih bertanya, "Apa yang kamu tulis?" ketika mengetahui saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Latar belakang pekerjaan saya dulu memupuk spesifikasi yang tak sengaja terbentuk selaku penulis non fiksi. Bukan mencari kambing hitam (lagian nggak doyan daging kambing:p), pilihan jurusan sewaktu kuliah pun berpengaruh. Sebagai mahasiswa spesialisasi linguistik, saya hampir tak pernah berurusan dengan novel (atau istilah Prancisnya: roman), puisi, dan drama. Objek penelitian skripsi saya pun buku biografi. Sampai kini, keinginan menulis novel tetap ada kendati seringkali hanya menjadi niat (alias rencana tak jadi). Saya masih suka membaca novel, bahkan fiksi-lah yang mendominasi koleksi buku saya. Menyunting dan menerjemahkan novel, saya tak kalah tergiurnya. Di hard disk masih tersimpan satu folder penuh gagasan, sebuah janin novel yang sudah mencapai 70 halaman dan tidak tahu mau diapakan, serta dua naskah lainnya yang juga mengalami masa hibernasi sampai entah kapan. Saya tak mau memaksakan diri. Mungkin saya masih lebih sering menggunakan otak kanan, melakukan apa yang saya senangi untuk dinikmati. 'Hanya' menjadi penulis non fiksi, yang sesekali menulis cerita anak, pun tetap membuahkan kebahagiaan dan rasa syukur. Buku-buku saya yang akan terbit tetap non fiksi. Ilham yang menghuni kepala sekarang ini mayoritas non fiksi juga. Maka, hendak jadi apakah saya tahun ini? Penulis, penyunting, penerjemah? Saya ingin berkembang dalam ketiga-tiganya jika Allah mengizinkan, karena semuanya mengandung ilmu pengetahuan dan pengalaman tak ternilai. 
|  | Ada yang belum terbit, ada juga beberapa yang nggak punya covernya karena 'hanya' menjadi proofreader. Tapi semuanya pengalaman berharga, kok:-) |
 1. Baru saja membaca sebuah halaman web, ternyata apa yang tertulis di naskah plek dengan isi link tersebut sampai titik komanya. 2. Menerima catatan koreksi dari klien penerbit, tapi deg-degan membacanya. 3. Ditelepon lima menit sekali oleh teman sesama penyunting yang lagi lembur soal EYD, padahal saya dan Mas Agus sedang santai-santai di rumah. 4. Dalam pengarahan, penerbit mengatakan bahwa target pembaca adalah umum sedangkan bahasa penulis bergaya super gaul. 5. Sampai selesai satu esai, belum ngerti maksud yang ingin disampaikan si penulis. 6. Diheranin Mas Agus saat mendapati saya kerja dari belakang (maksudnya mulai bab terakhir). 7. Menyunting naskah yang ditulis duet, tapi dalam Ucapan Terima Kasih terkesan ditulis oleh satu orang. 8. Penulis bilang sudah direvisi, namun ternyata masih sama persis dengan aslinya. 9. Menyarankan penulis via SMS untuk mengubah nama seseorang dalam naskah karena masih berpotensi menimbulkan ketersinggungan. 10. Mendapati kalimat super panjang tanpa subjek, bukan dalam naskah fiksi atau terjemahan. 11. Jontor memeriksa ejaan footnote yang bertaburan hampir di setiap halaman. 12. Lembur ngedit sampai pagi sementara di luar musik dangdut bikin pecah kuping. 13. Terngiang-ngiang frasa atau kalimat ajaib dalam naskah, sampai ketemu naskah suntingan lainnya. 14. Menyunting biodata sepanjang dua puluhan halaman dalam naskah karya rame-rame. 15. Kasus paling mengenaskan: naskah esai lima halaman yang muter-muter dibabat jadi satu setengah halaman. 
 ..atau tepatnya, puas dan pede, setelah menyelesaikan sesuatu. Belum tuntas bener sih, tapi yang penting sudah ada kemajuan.
Pagi ini jadwal dibalik. Ngedit dulu, diseling baca referensi dan baca sebuah naskah untuk diberi testimoni, kemudian chat dengan beberapa teman dan relasi. Sekalian pengarahan penyuntingan dan menarik email, sih. Habis itu nonton Metallica di VH1, lalu mandi.
Mungkin karena bawaannya udah seger, nerjemahin terasa lancar banget. Salah-salah ketik sih jelas, tapi nambah 3 halaman hari ini nggak makan waktu terlalu lama kayak kemaren. Mungkin juga jari-jari tangan udah terbiasa kerja keras di keyboard PC.
Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. 
..bermega-mega. Tumben yahoo yang tiarap, jadi gmail difungsikan. Sambil mengerjakan terjemahan dan chatting, sedap..
Dapat kesempatan menyunting naskah buku IT. Hourra, hourra! Sewaktu klien memberikan detil informasinya, saya semakin antusias. IT adalah cinta pertama saya, jadi mungkin ini yang dibilang CLBK, hehehe..
Alhamdulillah, dapat kepercayaan menyunting naskah lagi. Jenisnya yang sudah lama saya idam-idamkan, yakni fiksi. Remaja pula.
Seneng banget karena naskah ini sudah 'berbentuk', tinggal dipoles sedikit-sedikit. Ceritanya sangat enak dinikmati. Setting di pedesaan, tengah hutan (serasa nyeritain diri sendiri deh..) dan ada unsur silatnya. Seru!
Penutup diubah, sinopsis beres. Semoga novel ini segera terbit. Amin.
Semalam nonton Tin Cup di Trans7 sekilas, liat Roy McAvoy (Kevin Costner) di lapangan golf bilang pada Romeo, "Ambilkan aku stik nomor 3." Ide bagus nih untuk menghidupkan suasana lain sewaktu berkutat dengan naskah. Saya nggak ngerti golf, dan biarpun nggak punya asisten, pura-pura jadi dokter bedah lebih seru. Bayangkan saya masuk ke ruang operasi dalam keadaan serba steril, menyalakan lampu dan mendekati meja.
Saya melirik monitor di salah satu sudut ruangan. Denyut jantung dan tekanan darah 'pasien' stabil, siap..kling! Saya ambil pisau.
Catatan medis pagi ini: 1. Tujuh halaman terjemahan telah melampaui masa kritis 2. Dua halaman terjemahan masih dalam pengaruh bius lokal 3. Tujuh belas halaman editan sudah diamputasi
Kemaren sore saya iseng-iseng nyalain laptop. Barangkali ada keajaiban terjadi. Tapi kondisinya memang sudah kronis.
Saat itu saya mulai mengingat apa aja yang belum sempat dicopy dan ikut lenyap. Sebuah lagu yang baru didownload, kapan-kapan bisa dicari lagi. Foto-foto..bisa motret lagi. Alamat email, yah insyaAllah ada beberapa yang masih hafal. Penyakit males nggak boleh dipiara, harus mulai nyatetin alamat email di buku telepon nih.
Saya cek flashdisk dan PC..oh la la!! Hasil koreksi editan buku yang diemail minggu lalu oleh klien penerbit belum sempet diselamatkan, padahal belum dibaca. Duh aduuh..sewaktu beliau OL di YM, saya mengakui keteledoran itu. Syukurlah ia berbaik hati mengirimkan ulang begitu ada waktu nanti. Malu banget. Maaf ya, 'Simon'.
 Tadi sore, di YM, saya melihat seorang teman editor lepas memajang status 'mengedit naskah berbunga-bunga yang membuatku merencanakan pembunuhan'. Tak sangka, saat menghadapi bagian akhir naskah yang saya sunting, saya merasakan hal serupa.
Kirain saya salah lihat. Tapi dalam naskah ini, sebuah kalimat muncul di hampir setiap alinea. Setiap halaman.
Kadang-kadang, setelah ngedit saya sakit kepala. Sekarang, saya berharap tidak kehilangan akal sehat. Nggak bisa lagi menganggap kekeliruan itu sebagai hiburan.
Syukurlah sudah selesai, tinggal tunggu evaluasi penerbit. Katanya, beliau akan bertindak seperti Simon dalam American Idol. Monggo, monggo..
Sekarang saya mau makan..makan..makan enak dan makan yang banyak! 
Kemarin nyoba memulai sore, pas hujan sedang lebat-lebatnya. Horeee!! Dapat 20an halaman menyunting, sambung malamnya.. adem banget, enak karena ditingkahi OST Korea yang sayup-sayup. Berpikir jadi tenang sambil membaca sana-sini.
Pagi ini, bangun sebelum adzan Subuh sampai Mama heran. Padahal sih karena suami mau pergi pagi banget..:p Jam 6.30, saya sudah heboh dengan lagu Cake dan Simple Plan, disusul Linkin Park..dapet deh 20 halaman lagi. Suasana penuh semangat yang menyenangkan:) Ditemani gorengan Karang Tineung yang enak bangeeet..
| |