Rini's posts with tag: non fiksi
sumber: milis penulisbestseller
Mohon diperhatikan, bahwa pengumuman ini dibuat oleh Penerbit Gradien dan bukan saya. Maka saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda terkait postingan ini. Terima kasih.
WANTED: GOKILDAD
Apakah Anda seorang pria? Apakah Anda telah menikah? Apakah Anda telah menjadi seorang ayah?
Jangan ke mana-mana! Mungkin Anda-lah yang kami buru!
Apakah Anda punya pengalaman ngocol sebagai seorang ayah? Apakah Anda punya daya humor dan gokil yang over dosis? Apakah Anda bisa menuliskannya dengan narsis?
Jangan ke mana-mana! Anda-lah yang kami buru!
Kami sedang mencari-cari soulmate untuk buku bestseller kami: Gokilmom http://gradienmediatama.com/buku_detail.php?PageNo=2&id=62&idkat=3 Tanpa bermacam-macam teori, cukup baca buku ini lalu bertuturlah "seperti itu" dari sisi seorang ayah.
Maka, jangan ke mana-mana! Tulis dan segera kirimkan naskah Anda ke: Gradien Mediatama gradienmediatama@gmail.com
| Category: | Books | | Price: | Rp 65.000,00 |
Mohon diabaikan tanda For Sale itu. Saya memposting sebagai kabar promosi.
Naskah ini dikerjakan berdua dengan Mbak Ary Nilandari sekitar 3 tahun lalu, saya sebagai co-translatornya. Diterbitkan oleh Arkan. Dilengkapi ilustrasi foto, kertas glossy, dan hardcover. Click a thumbnail to enlarge:
 Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk kesekian kali.
Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya ditolak di sana).
Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah jalan.
Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.
Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.
Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.
Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.
Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun demikian.
Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula saya.
Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang tahu:)..).
Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril. 
 Sebenarnya tidak bisa dibilang baru, karena ditulis hampir setahun silam. Dalam penyusunan dan proses kompilasinya, karya Mbak Elie Mulyadi ini mengalami perjalanan panjang. Tetapi alhamdulillah, Kerjaku, Ibadahku terbit juga di tangan Gramedia Pustaka Utama.
Dalam buku berkategori Pengembangan Diri dan Inspirasional ini, terdapat satu esai saya berjudul My Great Boss. Belum tahu di halaman berapa, karena bukunya masih dalam perjalanan dari Jakarta:)
sumber kaver: gramedia.com 
Beberapa hari yang lalu, Mas Agus singgah di GM Merdeka. Katanya, buku nama bayi saya ada di rak bersama buku sejenis. Cukup strategis karena seingat saya, dekat jendela kaca dan paling pinggir. Dekat rak psikologi.
Alhamdulillah, setelah hampir dua tahun terbit, masuk ke sana juga. Semoga makin menjangkau pembaca sebab peminat buku di Bandung rata-rata ingetnya Gramedia duluan dan yang utama di Merdeka ini.
Cintanya Ichen masih buat Benny (yang juga menulis di buku terbitan Jendela ini) dan Saski. Buku keroyokan mengenai curhat cinta suami-istri ini tiba melalui kurir JNE menjelang Dhuhur. Senaaang deh, bacanya sambil tidur-tiduran melepas lelah (kebiasaan jelek yang sulit dihilangkan:p). Bacanya acak, mulai dari tulisan Ichen dulu. Ketahuan deh rahasianya Benny..ehm.. juga ‘masa lalu’ Ichen yang sampai disangka cowok sama camer. Wakakaka.. Ada tulisan Fita yang semanis orangnya, pengalaman Teh Pipiet sendiri, Anneke Putri, Kang Iwok, dan tentu saja..Dedew yang selalu heboh lagi seru saat berkisah. Ciri khasnya dapet banget. Tengkyu, Chen. Semoga cintamu dan Benny selalu bertaut erat seindah kisah-kisah dalam buku ini.
 Alhamdulillah, kegembiraan datang susul-menyusul. Siang ini saya menerima kiriman dari Nunik, buku 40 Kisah Pengantar Anak Tidurterbitan GIP. Makasih ya, Mama Rexy. Karena untuk mengantar tidur, fotonya di atas bantal (seperti biasa:p). Saya tergolong balita (bawah lima puluh tahun) yang doyan baca sebelum tidur, hehehe.. 
 Kami baru saja selesai brunch ketika terdengar suara motor memasuki halaman. "Kiriman, kali," kata saya pada Mas Agus, yang menyongsong Pak Pos dengan handuk membelit kepala. Petugasnya tinggi besar, lain dengan yang biasa datang kemari. Walah..ternyata bapak ini dari kantor Pos Asia Afrika berhubung paketnya ekspres. Bukan dari Cileunyi yang sudah saya hafal suaranya:)
Tak sabar membuka kemasannya, eng ing eng..La Tahzan dari Nopi:-). Tepat sesuai kebutuhan saya. Sempat saya bacakan beberapa bait syair di dalamnya dan Mas Agus berkomentar, "Terjemahannya bagus banget, tuh."
Makasih ya, Nop..semoga Nopi selalu diberkahiNya dalam setiap tarikan nafasmu. Amin. 
 ...waktu yang telah saya sia-siakan tanpa sungguh-sungguh berjuang, sama halnya dengan membiarkan 'kabut' di depan mata terus menipu. Tak ada alasan buat saya untuk terus tergolek di ranjang dengan selimut kemalasan.' (halaman 191) 
 Untungnya, banyak teman sesama IQ ngepas mengambil kuliah yang sama. Melihat anak seangkatan biarpun tidak kenal tiba-tiba hari-hari jadi cerah. Ada teman senasib, yang bangkotan dan tante-tante nggak hanya aku saja huehehehehe. Dosen kan hobinya mengincar muka lama kayak kami. Pake ditanya macam-macam kayak saksi ahli gitu. Duile pak, kalau sudah ahli mah kami tak bakal mengulang atuh da! (halaman 180-181) 
 Posting ini untuk memenuhi janji saya kepada Ima. Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, saya tidak langsung memilih genre. Prosesnya mengalir begitu saja, sampai saya menyadari bahwa karya yang berjenis non fiksi lebih banyak daripada yang fiksi. Bukan berarti saya tidak suka fiksi. Bacaan pertama saya sewaktu kecil adalah fiksi. Tulisan pertama yang diterbitkan di media pun berupa cerpen. Kalau mau dirunut, mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang. Sewaktu kuliah, saya mengambil spesialisasi linguistik dan lebih sering berkutat dengan buku teks yang berbau teori dibandingkan roman, drama dan puisi. Pekerjaan terakhir (baca: di kantoran) yang berhubungan dengan menulis ialah mengisi content situs web. Tetapi ketertarikan untuk berfiksi-ria tetap tumbuh, walau tidak berbanding lurus dengan rasa percaya diri akibat kurangnya berlatih. Saya memulai dengan cerpen anak dan naskah komik. Yang kedua ini dengan pertimbangan punya sedikit bekal dari perkuliahan dulu. Cerpen anak tak berarti mudah, tetapi sifatnya yang serba singkat memungkinkan saya untuk belajar lebih giat lagi dalam waktu dan referensi yang masih terbatas. Kepercayaan diri meningkat saat tujuh cerpen saya terpilih untuk dibukukan bersama penulis-penulis lain (ingat kejadian ini, Donna dan Isman?). Setelah menerbitkan empat buku non fiksi karya bersama dan satu buku solo, barulah saya menulis novel secara serius. Itupun karena ditawari. Naskah novel saya itu pun masih kental rasa non fiksinya, dengan narasi panjang dan sedikit dialog. Perlu saya sampaikan bahwa tahap-tahap ini bersifat kasuistis. Banyak penulis lain yang mahir dalam fiksi dan lincah pula di non fiksi. Saya juga sempat mengenal bentuk non fiksi yang lebih cair, dengan selipan dialog dan bahasa yang terkesan seperti bercerita. Keasyikan mempelajari non fiksi gaya baru ini tidak menyurutkan rasa suka saya pada fiksi, meski untuk nyemplung total di sana saya memerlukan usaha ekstra. Jadi yang saya lakukan sejauh ini hanyalah mengikuti kata hati dan 'sang pena' (lebih tepatnya, sang jari di keyboard). Tak jarang niatnya menulis fiksi, lho..lama-lama kok jadi lebih cocok ke non fiksi. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah, saya masih merengkuh cerita anak sebagai wilayah fiksi terdekat untuk menuangkan ide-ide. Menyuburkan perfiksian di pulau gagasan dalam benak saya dengan banyak membaca. Yang paling penting, saya tak mau memaksakan diri. Non fiksi pun tak semuanya saya kuasai. Semoga jurnal ini bermanfaat. sumber foto: sxc.hu 
 'Salah satu komoditas zaman sekarang yang paling berharga adalah waktu. Sebanyak apa pun peralatan canggih yang kita beli, buku yang kita beli, atau kursus yang kita ikuti, tidak ada solusi kilat untuk kesibukan.' (halaman 20) 
 1. Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller - Edy Zaqeus. Sudah dua kali saya baca. Makasih Nad, karena telah menjual buku ini:)
2. Layar Kata - Seno Gumira Ajidarma. Karya SGA yang paling sering saya tengok ulang.
3. Bertanya Atau Mati! - Isman H. Suryaman. Obat suntuk yang oke.
4. Memahat Kata, Memugar Dunia - Ary Nilandari (Editor). Kapan-kapan mau cari buku pertamanya, penasaran berat nih.
5. One Gigabyte of Love. Suka, suka, sukaaaa..:)
sumber foto: sxc.hu 
 "Ceritakan padaku sebuah kisah!" adalah harapan lazim setiap pembaca. "Bikin aku peduli, senang, takut..." dan malanglah penulis yang tidak mengerti pesan itu.' (halaman 13)
'Penulis yang mengabaikan pengharapan pembaca akan merugikan diri sendiri, dan pembaca yang mengabaikan kecakapan teknis penulisanya tidak akan menemukan signifikansi cerita yang dibacanya. Hargai pembacamu! Mungkin inilah perintah yang tepat untuk semua penulis... Namun, para pembaca juga harus didesak: Hargai penulismu! Kemitraan, itu intinya.' (halaman 14) 
 'Hari semua orang memiliki jumlah jam yang sama. Jika kamu ingin mengerjakan sebuah tugas istimewa, seperti mengarang cerita, kamu harus meluangkan waktu khusus untuk itu. Dan meluangkan waktu biasanya berarti kamu harus mengambilnya dari bagian kehidupanmu yang lain. Mematikan televisi. Berlatih menulis tiga puluh menit sehari sebagai ganti main Marimba. Mengatur menyelesaikan PR dan ritual waktu tidur secara lebih efisien. Sebuah cerita bukan sebuah berkah yang diberikan saat kamu sedang memikirkan hal lain. Ia adalah sebuah proyek yang harus kamu garap secara cermat dan hati-hati.' (halaman 19-20) 
 Di tengah persiapan ngunduh mantu, saya dan Mas Agus mencuri waktu ke toko buku. Pilihan jatuh ke Togamas, karena untuk ke BBC Surapati terlalu jauh. Langit sudah gelap.
Begitu tiba di pintu kasir, saya sudah terpikat pada pengumuman BAYAR SETENGAH HARGA. Belok kanan, aha..! Beberapa buku terbitan Mizan, termasuk dua judul yang sudah lama saya cari (dan dengan sabar saya nantikan diskonnya:p)
Dapatlah tiga buku ini untuk dibawa pulang, dengan harga 37500 saja. Mas Agus sampai acung dua jempol karena kagumnya atas kesuksesan saya menginjak rem kuat-kuat untuk tidak menuruti nafsu belanja dan membeli yang benar-benar diperlukan.

Pagi ini dapat SMS dari editor Akar Media, dua naskah yang saya geber dan email kepada beliau minggu lalu sudah oke! Horeeee..horeee..alhamdulillah 
Keduanya non fiksi. Yang satu untuk remaja, satu lagi umum. Tentang apa? Nggak jauh-jauh deh dari keseharian saya.
 Hari ini bangun jam 4 lagi, dan nggak bisa tidur. Seharian saya menulis, merapikan, memoles-moles, dan..alhamdulillah, selesai satu naskah buku.
Saya baru bisa istirahat setelah mengantarkannya ke tangan penerbit. Tenang deh:-)
sumber foto: sxc.hu 
 Ide sudah lama mendekam di kepala. Dua belas halaman diperoleh dua bulan yang lewat. Dilanjutkan lagi dua hari yang lalu.
Setelah SMS editor yang baik hati tadi siang, semangat makin berkobar. Majuuuuu!! Rampunglah naskah buku non fiksi remaja ini. Ia melaju ke inbox email sang editor. Sebentar lagi SMS beliau untuk konfirmasi, karena jam segini biasanya masih di masjid.
sumber foto: sxc.hu 
| |