Rini's posts with tag: novel
 Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menonton siaran berita kriminal. Karena memang kurang suka nonton TV, berita yang disantap amat terseleksi. Tayangan kriminal termasuk yang dihindari karena bikin paranoid, baik berada di rumah maupun bepergian (jadi mau ke mana, dong?:p).
Untuk membunuh kejenuhan di sela mendampingi keponakan bikin skripsi (baca: biar dia nggak ngegame melulu), saya membaca The Naked Face. Nyambung juga, karena ada psikoanalisisnya..hehehe, maksa. TV cukup sering menyala, sehingga tidak jarang pindah saluran ke berita yang isinya lagi-lagi kriminal.
Entah ada hubungannya atau tidak, selagi membaca novel ini, saya relatif 'terbiasa' menyimak berita tindak kejahatan. Pembunuhan seorang wanita muda di kamar kos, misalnya, yang beruntun dengan tewasnya seorang lelaki tanpa identitas akibat jeratan di leher. Keduanya diberitakan beruntun sehingga saya berpikir, "Wah, ini bisa jadi novel thriller yang seru."
Sinkron atau tidak, keseringan nonton TV tidak sehat. Mesti dihentikan segera. Kebanyakan perbuatan yang percuma, contohnya waktu nonton pledoi Arthalyta malah terdorong mengomentari make-up tebalnya. Duh, buang-buang listrik aja. 
 Kemarin, Mas Agus nganter keponakan ke toko buku impor second ini. Sudah dua kali dia ke sana. Sayangnya, kali ini tak ada Stephen King selain Needful Things. Yang banyak, John Grisham dan Danielle Steel. Ada buku-buku 10 ribuan juga, hmm..menarik untuk ditelusuri. Saya dibelikan dua, The Clocks-nya Agatha Christie dan The NakedFace-nya Sidney Sheldon. Pengennya sih And Then There Were None, apalagi setelah ngobrol-ngobrol dengan Rani yang udah baca versi terjemahannya. Saya bermaksud melengkapi koleksi Sheldon, berhubung dulu baca terjemahan TNF dan buru-buru banget. Lima belas ribu saja masing-masing. Kalo harus beli terjemahannya, dompet bisa nangis. Keponakan memilih Moll Flanders karya Daniel Defoe dan Tale of TwoCities karangan Charles Dickens versi Penerbit Djambatan. Antik, keluaran tahun 59 dan masih ada harga lama: 44 perak. Boro-boro tahu atau beli, waktu itu Mama saya baru umur 1 tahun:-) Dia intipkan deretan yang 10 ribuan, nggak ada yang terkenal katanya. Susah juga minta dipilihkan, sebab selera kami berbeda. Ia hanya bilang buku anak-anaknya 30 ribu ke atas. Tapi ada buku bahasa Prancis! Ow, il faut venir encore. Biar puas liat sendiri:-) 
 Baru kemarin ngobrol sama Kang Iwok tentang buku-buku diskonan di BBC Suci. Murah sih, tapi saya sedang kurang minat pada teenlit. "Kalau buku anak, hajar bleh," ucapan saya ditanggapi ngakak di YM oleh beliau. Memang sih, kemarin bilang saya akan dikirimi novel anyar ini. Tapi tak sangka, siang ini kurir JNE sudah mengetuk pintu (langkahnya kayak kucing, hehehe..) dan ..jreng jreng.. Misteri Hilangnya NovelisTerkenal telah tiba untuk saya. Sayang nggak ada tandatangan Ichen:p Ada bonusnya, lho! Kirain surat (ngapain juga Kang Iwok nyurat-nyurat), ternyata..karcis bis yang dinaikinya ke Jakarta tempo hari! Hahaha..kenangan yang cukup unik  Syik asyik, bacaan baru lagi. Makasih, Kang Iwok dan Ichen. sumber foto: blognya Ichen 
 ..sudah terbit. Alhamdulillah, hari ini kiriman jatah penyunting dari Pustaka Insan Madani sudah saya terima. Novel ini dihiasi ilustrasi hitam-putih di setiap babnya. Berikut sinopsis kaver belakang: Sejak kecil, Handoyo harus mengenyam kepahitan hidup. Ibunyameninggal, ayahnya larut dalam duka berkepanjangan, sehingga ia harusputus sekolah dan menjadi orangtua untuk adik-adiknya yang masihmembutuhkan kasih sayang. Penderitaan masih mengoyaknya kala sang ayahmenikah lagi dan membuang mereka bertiga ke dalam hutan.Kehadiran seorang lelaki budiman yang berteman dengan harimau membalutluka batin Handoyo, Sekar dan Ningsih. Tetapi kebahagiaan merekaberakhir karena orang tua angkatnya itu menghembuskan nafas di tanganpara pemburu yang ingin merusak hutan. Sanggupkah Handoyo meraihkembali masa depannya sekaligus memperjuangkan kelestarian alam dariorang-orang serakah?Malam Pemburuan ditulis oleh Varuni Dian W., salah satu juara lomba menulis cerita Departemen Agama. Kisah di balik dapur penyuntingan menyusul. 
 'Better the devil you know, my friends, than the devil you don't..'
(halaman 259) Mau tahu cerita selengkapnya? Lihat di sini 
 (Lirik-lirik Nad, ehm..)
Ini salah satu dari sedikit kejadian jarang, saya memilih sebuah novel berdasarkan sampulnya. Yang saya perhatikan bukan punggung mulus perempuan ini, yang bertambah menarik disebabkan wajahnya tidak diperlihatkan. Justru saya mengamati benda-benda di sekitarnya. Makanan, dedaunan, yang bertebaran dengan apik hingga sampul belakang.
Saya memegang Nectar sejak dua hari yang lalu dan terus terpesona. Belum bisa cerita banyak..tetapi kisahnya menyangkut semua yang ada di sampul buku ini. Perhatikan baik-baik, dan ketahui lebih lanjut di ulasannya nanti:)
Belum tamat membaca memang, tapi saya sungguh tidak menyesal membeli novel ini.
sumber foto: amazon 
 "Punten," suara kurir JNE yang biasa datang terdengar di teras. Dari kertas kado lucu yang mengemas paketnya, bisa ketahuan siapa pengirimnya.
Jreng jreng..Talisman-nya Stephen King dan Peter Straub! Wow, masih sangat bagus kondisinya dan bersampul plastik pula. Sempat buka-buka dan baca satu halaman pertama, rasanya kayak mau lari..susah berhenti. Tapi harus, karena nanti tulisan yang sedang saya garap terpengaruh nuansanya..hehehe..
Tengkyu, bukumurmer. 
 Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera. Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.
Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain. 
 "Lo kok nggak banyak berubah sih, Dil?"
"Maksud lo?" Astaga, dialog norak ala sinetronku keluar lagi! Mestinya, aku bilang begini: nggak banyak berubah gimana? Tapi, sudah terlanjur, eh, telanjur.
"Ya..lo masih kurus aja, dan penampilan lo masih cupu gitu."
Aku masih tidak percaya dengan yang barusan kudengar. Halo?! Sopan dikit dong! Siapa lo? Lama nggak ketemu, sekalinya ketemu bikin orang naik darah dan pengin ngasah golok. Lo oke? Jangan-jangan dia juga berpikir, semua orang harus pakai behel biar dianggap modis. Urghhh!
(halaman 18-19) 
 Sudah sepekan lalu saya menerima kabar bahwa sebuah paket buku dititipkan melalui sebuah alamat. Karena masih berjibaku dengan PR ini dan itu, baru sempat diambil kemarin. Aih senangnya, dua novel retelling cerita rakyat klasik karya Femmy Syahrani. Genre yang sangat saya sukai, apalagi dari Jawa Barat. Biar bersaing deh dengan buku-buku Jawa Tengah (dan Timur) di rak buku (melirik Mas Agus:p). Sangkuriang saya baca duluan, karena legendanya berkaitan dengan gunung tempat kami bermukim ini. Tamat dalam satu jam! Merci beaucoup, Fem. Tepat datangnya, saat saya lagi beteeeee pisan. 
nyomot dari info di MP Dedew
Gramedia Pustaka Utama mengucapkan selamat kepada Asma Nadia atas terpilihnya Istana Kedua sebagai pemenang Islamic Book Fair Award 2008
kategori buku fiksi.
Dan sebagai wujud apresiasi kami, Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena mengadakan lomba resensi novel Istana Kedua.
Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut.
Syarat umum: * Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.
* Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
* Resensi yang ditampilkan di surat kabar atau majalah diutamakan namun tidak menutup kemungknan untuk resensi di media lainnya (blog / Website) di Indonesia.
* Peserta boleh mengirim lebih dari satu resensi.
* Lomba ini tidak berlaku bagi karyawan PT Gramedia Pustaka Utama dan keluarganya.
Syarat khusus: * Kirimkan bukti pemuatan resensi (boleh berupa fotokopinya)
* Sertakan biodata peresensi plus foto, serta fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke:
PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL ISTANA KEDUA
Redaksi Fiksi PT Gramedia Pustaka Utama Gedung Gramedia Lt. 3 Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270
cantumkan "LOMBA RESENSI NOVEL ISTANA KEDUA"di pojok kiri atas amplop.
* Bukti resensi selambat-lambatnya 30 September 2008 (cap pos)
Hadiah:
Juara 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp 500.000,- Juara 2: Rp. 500.000,- + paket buku senilai Rp 400.000,- Juara 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp. 300.000,- 7 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp.100.000,-
Pemenang akan diumumkan pada bulan Desember 2008 di website Forum Lingkar Pena (www.lingkarpena. net) dan website PT Gramedia Pustaka Utama (www.gramedia. com).
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi 53677834 psw 3213/3249.
 Di tengah persiapan ngunduh mantu, saya dan Mas Agus mencuri waktu ke toko buku. Pilihan jatuh ke Togamas, karena untuk ke BBC Surapati terlalu jauh. Langit sudah gelap.
Begitu tiba di pintu kasir, saya sudah terpikat pada pengumuman BAYAR SETENGAH HARGA. Belok kanan, aha..! Beberapa buku terbitan Mizan, termasuk dua judul yang sudah lama saya cari (dan dengan sabar saya nantikan diskonnya:p)
Dapatlah tiga buku ini untuk dibawa pulang, dengan harga 37500 saja. Mas Agus sampai acung dua jempol karena kagumnya atas kesuksesan saya menginjak rem kuat-kuat untuk tidak menuruti nafsu belanja dan membeli yang benar-benar diperlukan.

 Masih hangat dari Tasik. Dua teenlit hasil nitip Kang Iwok di Gramedia kota santri yang sedang menggelar diskon menggiurkan. Satu lagi, tak lain dan tidak bukan, Suster Nengok dengan tandatangan penulisnya sendiri. Hatur nuhun, Kang. Juga Mas Agus yang menyempatkan diri ke tempat Kang Iwok training di sela-sela kesibukannya nguriling Bandung. Ternyata Mas Agus bukan sosok asing, ya..hehehe.. 
 Niatnya sih nggak akan posting dulu sebelum menyelesaikan sesuatu. Apa daya, bahan kurang sehingga online lah diriku (alesan banget sih:p). Lagipula siang ini ada kejutan manis yang rasanya terlalu indah untuk tak diberitakan. Mas kurir tiba di halaman rumah kami, menyerahkan sebuah paket berkemasan cantik (dari bungkus kadonya saya bisa nebak dari siapa, tapi..masa sih?). Wow, buku-buku pesanan saya dari bukumurmer! Nadbilang dalam surat, Monte Cristo-nya Alexandre Dumas dihadiahkan secara khusus. Hati saya jadi hangat, nih. Merci beaucoup, Nad. Ini kado spesial dari teman baik yang spesial pula. 
 Setelah mendapat pengarahan lanjutan dari editor, ternyata naskah novel saya kemarin perlu revisi mayor. Tak ada yang dibuang, tapi mesti ditambahkan rasa lain. Ibarat bangun rumah, yang tadinya nggak tingkat kini diteruskan ke lantai dua. Tentu dengan memperhatikan pondasi, bahan yang cukup, dan desain yang tidak merusak konsep awal.
Kemarin-marin sudah mulai membaca naskah rujukan, termasuk buku sejenis yang ada di rak buat ngorek-ngorek ide. Semoga bisa diselesaikan sebelum si deadline melambaikan kapaknya di ujung sana.
Terima kasih buat tiga anggota geng kompor mledug: Kang Iwok, Nunik, Dedew, dan satu anggota luar biasa (tengah dipertimbangkan untuk menjadi penasihat): Mbak Ai.
sumber foto: sxc.hu 
 | Revisi | Mar 5, '08 4:49 AM for everyone |
 Salah satu kebahagiaan seorang penulis adalah bermitra dengan editor yang baik hati, terampil berkomunikasi, dan bersedia memberikan panduan sejelas mungkin perihal naskah yang sedang dikerjakan.
Begitulah ketika sore ini saya mendapat kabar hasil evaluasi novel remaja yang dikirimkan minggu kemarin. "Isi cerita, alur dan tokoh sudah kena. Tinggal ditonjolkan ...." (maaf disensor, nanti nggak kejutan lagi).
Jujur saja, saya sudah agak menduga ke arah sana. Kapan? Siang ini, ketika mencoba tidur dan tak bisa (meskipun super ngantuk) lalu membaca Shinchan. Mendadak teringat si teenlit dan berpikir, "Hmm, kayaknya ada yang perlu dioprek di bagian sana dan sini."
Ah, alhamdulillah. Editor tersebut memberikan contoh-contoh yang diharapkan sebagai rujukan. Yang lebih penting, saya bersyukur novel remaja pertama ini tidak babak belur di mata penerbit.
Mari..mari..merevisi..mari-mari..memperbaiki..
foto: sxc.hu 
 Posting ini sebenarnya terlambat. Saya telah menyelesaikan novel remaja yang digeber sejak Sabtu malam pada hari Senin sore sekitar jam empat. Langsung kirim ke email editor dan SMS beliau. Lalu besoknya..juntay. Laptop baru nyala lagi tadi pagi. Tepatnya siang, setelah urusan domestik kelar.
Fyuh..lega banget menaklukkan 'fobia 100 halaman' beberapa hari sebelum tenggat waktu. Bahkan karena nggak pede, saya sempat meminta perpanjangan untuk antisipasi selama seminggu dan editor yang baik hati itu memperkenankannya. Gimana nggak keder..bahkan jadwal terbitnya sudah ditentukan.
Tapi senang bukan main, deh. Merampungkan proyek ini berarti mengalahkan diri sendiri. Yang ngeri nulis fiksi, ngeri nulis buat remaja, ngedadak jadi 'perfeksionis', takut dialognya kayak sinetron sampai nulis satu halaman aja bisa makan waktu setengah hari..ditambah liku-liku yang mendebarkan: sakit cukup lama dan dua kali ambruknya, Mas Agus kecelakaan, Mas Agus rematiknya kambuh, serta sedikit persiapan acara keluarga. Masih diselingi telepon-telepon keponakan yang melorot prestasi belajarnya, atau malah malam-malam nanya, "Tante, solusi pemanasan global apakah gerangan?"
Hahhhhh..tarik nafas panjang. Baru kerasa pegel-pegelnya. Alhamdulillah, meski begadang tiga hari berturut-turut, nggak sampe parah teparnya dengan jurus makan sayur. Mendadak jadi vegetarian, deh:p Mata yang sempet sakit untuk dibuka sekali pun tertolong oleh jus wortel. Yihaaa!
Senin malam, kesantaian sudah ternikmati. Nggak merasa 'bersalah' lagi melewatkan dua jam untuk nonton film di TV. Kemarin malam malah bisa ketawa bareng Mas Agus waktu nonton Death Becomes Her. Banyak tidur, banyak makan, baca-baca..
Hari ini mulai aktivitas ringan. Bantu nerjemahin materi kerja Mas Agus, oret-oret konsep tulisan. Tapi masih pemanasan:-)
sumber foto: sxc.hu 
 Mas Agus berinisiatif mengambil alih tugas masak kemarin, supaya saya tidak terlalu capek dan dapat memusatkan perhatian pada novel yang telah mencapai pertengahan cerita. Kebangetan deh kalo sampai macet, saya sudah sengaja menunda tulisan yang lain. Untuk menampar diri sendiri, saya sering mengingat ucapan sahabat dan saudara-saudara, "Semoga laptopnya bikin tambah produktif ya, Rin."
Sempat tidur siang dan baca The Dark Half. Dalih saya, efek samping makan kangkung:p Alhamdulillah, plot yang muter-muter itu ketemu titiknya juga. Setelah mencoret konsep di kertas berkali-kali, saya mulai lagi sore harinya. Mas Agus nyengir saja sewaktu saya menyela untuk nonton Nanny 911 dulu.
Kami sama-sama membisu di depan meja kerja. "Sudah nambah?" Mas Agus bertanya. Saya mengangguk dan bersorak, "Halaman 57..!" Sebenarnya lebih dari itu, jika ditambah bagian akhirnya. Lucunya, penutup cerita novel ini sudah ketahuan duluan. Tinggal dirangkaikan. Namun kemungkinan besar sang ending akan berubah.
Saya makin menikmatinya dan bisa menyelesaikannya tepat waktu. Optimis, optimis, optimis. 
| |