Rini's posts with tag: penulis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag penulis
Blog EntryKutipan Buku: Bestseller Sejak Cetakan PertamaJul 6, '08 9:48 PM
for everyone
'Namanya juga pendatang baru. Tentu masih banyak coba dan salahnya.
Dan kebanyakan pendatang baru adalah penerbit yang bermodal idealisme
dan keberanian. Minim ilmu. Baik mengenai lalu lintas keuangan maupun
strategi pemasaran. Manajemen kertasnya pun buruk. Jika penerbit
demikian menyalahi penulis, tidak bisa serta-merta kita sebut sebagai
kekurangajaran. Tergantung, apakah ketidakbenaran itu dilakukan secara
sengaja atau tidak. Kalau sengaja berarti zalim. Kalau tidak, berarti
ya sekadar belum profesional saja.

Menghadapi penerbit macam demikian, penerbit harus mempunyai stok
kesabaran yang tak berwatas. Bentuk kesabaran itu adalah keikhlasan
untuk bermuka tebal. Jangan berputus harap untuk terus menanyakan
laporan penjualan dan royalti. Itu dilakukan dalam rangka mendidik
penerbit agar profesional. Mengingatkan mereka bahwa dalam bisnis
kepercayaan, kejujuran sangat penting. Penerbit sesekali boleh saja
melakukan kesalahan tapi tetap harus jujur, tidak boleh bohong.'
(halaman 86)


Link: http://jonru.multiply.com/journal/item/589/PenulisLepas.com_Diliput_ol...

Semoga menambah semangat para pecinta dunia tulis di Indonesia..amin..

Blog EntryMencambuk Diri dengan Memoar Sidney SheldonJun 26, '08 8:16 AM
for everyone
Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk
kesekian kali.

Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun
dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya
ditolak di sana).

Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil
belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah
jalan.

Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.

Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak
pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.

Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.

Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak
berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.

Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide
dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun
demikian.

Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula
saya.

Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya
merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya
dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya
yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang
tahu:)..).

Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa
yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain
sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril.


Blog EntryHappy-Go-Lucky di Tisera Jatinangor Town SquareJun 20, '08 8:50 AM
for everyone
Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu
Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera.
Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.

Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain.


Blog EntryKedekatan dengan PenerbitMay 10, '08 7:07 PM
for everyone
...atau editor bisa terjalin meskipun kita baru menulis satu buku
di penerbitan tersebut. Kuncinya adalah komunikasi dan silaturrahim
yang memadai serta proporsional (baca: tidak terus-terusan SMS atau
email atau buzz di YM, supaya pekerjaan mereka tak terganggu).

Di mata orang (tak selalu penulis), keakraban kerap
diartikan keliru. Misalnya mempersingkat jalan atau prosedur (baca:
potong kompas) untuk menerbitkan sebuah naskah. Atau malah ada yang
berpendapat, penulis yang sudah berkali-kali kerjasama menjadi 'anak
kesayangan' dan tak perlu antre. Yang saya rasakan tidak begitu.
Editor malah lebih leluasa mengemukakan kekurangan naskah (jika harus
direvisi berat atau bahkan ditolak). Kadang-kadang menganjurkan
pengalihan ke penerbit lain, namun tetap saja kita yang harus melalui
prosesnya sendiri.

Wujud kedekatan bisa bermacam-macam. Keterusterangan penerbit perihal
pergantian distributor, contohnya. Seorang editor pernah menceritakan
tindakan itu dikarenakan distributor lama menghendaki kenaikan
persentase komisi. Ada juga yang menuturkan soal agen yang bangkrut
dan meninggalkan utang besar. Editor lain mengeluhkan naskah yang
mirip-mirip alias tiada keunikan, bahkan ada yang ketahuan hasil
menjiplak. Kalau sudah akrab dan merasa nyaman benar, seorang editor
tak segan-segan terbuka perkara penundaan naskah terbit akibat
kenaikan harga BBM dan kertas.

Percaya atau tidak, kembali pada diri kita masing-masing. Sejauh ini
saya tak mengalami masalah dengan hal itu. Yang jelas, saya jadi
banyak belajar.

sumber foto: sxc.hu



Blog EntryKutipan Prancis Tentang PenulisMar 29, '08 3:58 AM
for everyone
sumber: Etre écrivain, www.evene.fr

L'écrivain original n'est pas celui qui n'imite personne,
mais celui que personne ne peut imiter.

Penulis sejati bukanlah yang tidak meniru siapa pun,
melainkan yang tak dapat ditiru oleh siapa pun.
[François René de Chateaubriand]

L'écrivain est celui qui cherche autant en lui qu'en les autres.

Penulis adalah orang yang mencari jawaban dalam dirinya
dan orang lain.
[Antonio Soler]

Un écrivain, c'est un inventeur.
Il doit être capable de recréer totalement un univers à lui.

Seorang penulis adalah seorang penemu.
Ia harus mampu membangun kembali alamnya sendiri secara utuh.
[Anthony Burgess]

Tous les grands écrivains sont des grands lecteurs
de dictionnaires : ils nagent à travers les mots.

Semua penulis besar ialah pembaca kamus yang hebat: mereka 'berenang'
di antara kata-kata.
[Umberto Eco]


On est écrivain quand on a quelque chose à dire
et qu'on est le seul à pouvoir dire.

Kita adalah penulis bila memiliki sesuatu untuk diungkapkan
dan yang hanya dapat diutarakan oleh kita sendiri.
[Pierre Baillargeon]

foto: sxc.hu


Blog EntryMengenal Antoine de Saint ExupéryMar 27, '08 6:33 AM
for everyone

Antoine Jean-Baptiste Marie Roger de Saint Exupéry lahir di Lyon,
putra ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga bangsawan. Setelah
gagal dalam ujian akhirnya, ia belajar arsitektur di École des
Beaux-Arts. Ketika menunaikan wajib militer, Saint Exupéry dikirim ke
Strasbourg dan mengikuti pelatihan pilot. Karena keluarga tunangannya,
novelis Louise Leveque de Vilmorin, keberatan sang pilot bergabung
dengan angkatan udara maka ia menetap di Paris dan menjadi pegawai
kantoran. Pertunangan itu gagal dan Saint Exupéry tidak berhasil dalam
pekerjaan mana pun. Ia menerbangkan pesawat lagi pada tahun 1926.

Karya-karya Saint Exupéry dekat dengan penerbangan, di
antaranya Vol de Nuit yang memenangkan Prix Femina tahun 1931.
Satu-satunya yang berbeda adalah Le Petit Prince (1943), dongeng
berilustrasi tentang pertemuan seorang pilot asing dengan pangeran
muda dari asteroid.
Ia terus menulis dan menjadi pilot sampai Perang Dunia II pecah.

Saint Exupéry menghilang dalam tugas terakhirnya setelah meninggalkan
landasan udara di Korsika, tanggal 31 Juli 1944. Seorang wanita
melaporkan jatuhnya sebuah pesawat di Teluk Carqueiranne suatu malam
bulan Agustus. Sesosok tubuh berseragam militer Prancis ditemukan dan
dimakamkan di tempat yang sama. Tahun 1998 seorang nelayan mendapati
gelang rantai perak milik Saint Exupéry. Rumornya, mayat sang pilot
terseret arus laut. Peristiwa ini dijadikan karya fantasi oleh penulis
komik Hugo Pratt dan diberi judul Saint Exupéry : le dernier vol (1994).

Kalimat terkenal pilot yang menemui ajalnya di usia 43 tahun itu ialah
Nous n'héritons pas de la terre de nos ancêtres, nous l'empruntons à nos enfants.
(Kita tidak mewarisi Bumi dari leluhur, tapi meminjamnya dari
anak-anak kita).

sumber: wikipedia





Blog EntrySehelai Kisah Guy de MaupassantMar 26, '08 9:47 PM
for everyone

Henri René Albert Guy de Maupassant lahir di Château de Miromesnil,
dekat perairan Seine, tanggal 5 Agustus 1850. Ia salah satu perintis
cerita pendek modern dan dikenal dengan kekhasannya: gaya bertutur
yang ringkas.

Potensi sastra dalam diri Guy mengalir dari ibunya, Laure Le
Poittevin. Sang ibu adalah teman novelis Gustave Flaubert dan sangat
menggemari karya-karya klasik, terutama Shakespeare. Guy sangat
berbakti kepada ibunya, yang membesarkan ia dan adiknya, Hervé,
setelah bercerai.

Guy keluar dari seminari di Yvetot karena berseberangan dengan agama.
Ia menuntut ilmu di Lycée, Rouen, dan memperlihatkan prestasi baik
dalam puisi serta aktif dalam teater.
Di bawah asuhan Gustave Flaubert beberapa tahun kemudian, Guy
mengawali karir di bidang jurnalisme dan sastra. Di rumah Flaubert, ia
berjumpa Émile Zola dan novelis Rusia Ivan Turgenev.

Di sela kesibukannya sebagai editor beberapa surat kabar ternama
(Le Figaro, Gil Blas, Le Gaulois dan l'Echo de Paris),
Guy menulis novel dan cerpen. Fiksi pendek perdananya, Boule de Suif
(1880), langsung meraih sukses gemilang. Periode 1880-1891
adalah masa produktif Guy.
Ia menerbitkan 2-4 kumpulan cerpen tiap tahun. Kombinasi bakat dan
kemampuan bisnis membuatnya makmur. Kumcer La Maison Tellier (1881)
bahkan memasuki cetakan ke-12 dalam dua tahun. Novel pertamanya, Une
Vie (1883) terjual sebanyak 25 ribu eksemplar dalam tempo kurang dari
setahun. Novel berikutnya, Bel Ami (1885), dicetak 37 kali dalam 4
bulan. Guy memenuhi pesanan penerbit dan terus menulis tanpa kesukaran
berarti.

Pria yang tidak suka bergaul ini menyenangi suasana tenang,
kesendirian dan meditasi. Guy bepergian ke Sisilia, Inggris, Algeria,
dan selalu membawa naskah baru begitu kembali. Ia berlayar dengan
yacht pribadi yang dinamai 'Bel Ami'. Salah satu sahabat dekatnya
ialah Alexandre Dumas, fils.

Guy merupakan satu dari sedikit warga Paris yang tidak menaruh minat
pada Menara Eiffel. Ia makan di restoran bagian dasarnya hanya supaya
tidak melihat menara itu. Bersama 45 seniman Paris lainnya, Guy
menulis surat protes terhadap pembangunan Eiffel kepada Menteri
Pekerjaan Umum saat itu.

Cerpen-cerpen Guy de Maupassant mengandung plot yang cerdas. Kisah
tentang perhiasan palsu ("La Parure", "Les Bijoux") karangannya
mengilhami Somerset Maugham ("Mr Know-All", "A String of Beads").
Guy juga menikmati penulisan genre realis dan fantasi.
Karya-karya fiksinya pun memperlihatkan minat pria ini terhadap psikiatri.

Pada masa-masa akhir hidupnya, ia kian suka menyendiri. Guy divonis
gila dan menutup mata sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-43. Di
batu nisannya, ia menulis 'Aku mendambakan segalanya dan tak menyukai
apa pun.'

disarikan dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_de_Maupassant
(termasuk foto)


Blog EntrySekilas Tentang Alexandre DumasMar 25, '08 8:34 PM
for everyone
Nama asli pengarang The Count of Monte Cristo (Le Comte de
Monte-Cristo
) ini adalah Dumas Davy de
la Pailleterie. Alexandre Dumas, père (dalam bahasa Inggris berarti
Senior), demikian ia dikenal, lahir tanggal 24 Juli 1802 di desa
Villers-Cotterêts, sebelah timur laut Paris. Ia kerap dilecehkan
karena neneknya dari pihak ayah adalah mantan budak dan berdarah
Afro-Karibia.

Walaupun masa kecilnya sulit akibat kemiskinan, Dumas sukses sebagai
penulis naskah drama dan novelis pada tahun 1840-an. Ibunya tak mampu
memberikan pendidikan yang cukup baik namun minat bacanya tak
terbendung. Dumas membaca apa saja sebisa mungkin. Ketika berumur 20
tahun, ia dan ibunya pindah ke Paris. Berkat koneksi sang ayah, yang
petinggi militer, Dumas muda memperoleh pekerjaan di kantor duc
d'Orléans. Di sela pekerjaannya, ia mulai menulis artikel untuk
majalah dan naskah teater.

Tahun 1840, naskah keduanya yang berjudul Christine meraih sukses
besar sehingga Dumas dapat sepenuhnya menjadi penulis. Setelah menulis
banyak naskah teater yang mendapat sambutan baik, barulah ia beralih
pada novel. Cerdiknya, pria yang bergaya hidup besar pasak daripada
tiang ini menulis ulang salah satu naskah drama menjadi novel
serial perdananya. Ini dilakukan Dumas setelah melihat tingginya
permintaan surat kabar terhadap cerita bersambung.

Dalam berkarya, ia banyak dibantu orang lain. Salah satunya, Auguste
Maquet. Maquet-lah yang mengkonsep plot The Count of Monte Cristo dan
berkontribusi dalam The Three Musketeers (Les Trois Mousquetaires),serta
sekuelnya. Saat bekerja, Maquet mengajukan plot dan menulis draft sedangkan
Dumas menambahkan detil, dialog dan bab-bab akhir.

Pada tahun 1851, Dumas melarikan diri ke Brussel untuk menghindari
penagih utang. Ia melakukan perjalanan ke Rusia dan menjadi terkenal
di sana. Toh, sikap orang-orang yang rasis tidak berubah. Bahkan
lama setelah ia berpulang di Puys, tanggal 5 Desember 1870.

Karya terakhir penulis roman tentang Marie-Antoinette ini baru
dipublikasikan tahun 2005. Judulnya Le Chevalier de Sainte-Hermine (The Knight
of Sainte-Hermine
). Novel yang diterbitkan secara berseri ini hampir
rampung menjelang kematian Dumas. Kisahnya menyangkut Perang Trafalgar
dan menjelaskan penyebab wafatnya Lord Nelson. Dua setengah bab
terakhir ditulis oleh murid Dumas, Claude Schopp, yang mengambil
sumber dari catatan awal sang pengarang.

Tanggal 30 November 2002, President Jacques Chirac memerintahkan makam
Dumas dipindahkan dari tempat kelahirannya ke Panthéon of Paris
bersama orang-orang berprestasi gemilang lain. Dalam upacara yang diliput televisi
itu, peti mati sang penulis yang dilapisi kain beludru biru digotong oleh
empat pria berkostum Musketeers. Penghormatan ini dilakukan mengingat
karya Alexandre Dumas paling banyak dibaca orang dibandingkan penulis
Prancis terkemuka lainnya. Buah penanya diterjemahkan dalam hampir 100
bahasa dan menginspirasi lebih dari 200 film (termasuk The Man in the
Iron Mask
).

Kediamannya, le Château de Monte Cristo, di luar Paris telah
direstorasi dan dibuka untuk umum.

sumber: wikipedia





Blog EntryAlexandre Dumas yang LainMar 25, '08 8:34 PM
for everyone
Membicarakan Alexandre Dumas tidak lengkap jika tidak membahas
putranya yang satu ini. Alexandre Dumas, fils (junior) lahir dari
hubungan gelap sang novelis dengan seorang penjahit bernama
Marie-Laure-Catherine Labay. Ia diakui sang ayah pada umur 7 tahun dan
hukum waktu itu memperkenankan Dumas senior mengambil si kecil dari
ibunya. Kesedihan tersebut mengilhami Dumas junior untuk menciptakan
karakter wanita bernasib malang dalam karya-karyanya. Bahkan dalam
naskah drama berjudul Le fils naturel (The Illegitimate Son), ia
mengemukakan opini bahwa pria yang mempunyai keturunan di luar nikah
berkewajiban mengakui anaknya secara hukum dan memperistri kekasih
gelapnya.

Tahun 1844, Dumas junior pindah ke Saint-Germain-en-Laye dan menetap
di sana bersama ayahnya. Ia berjumpa Marie Duplessis, seorang wanita
penghibur, yang menginspirasinya menulis novel romantis La dame aux camélias
(The Lady of the Camellias). Novel ini diadaptasi ke dalam drama
dengan judul bahasa Inggris Camille dan menjadi landasan opera Verdi,
La Traviata, pada tahun 1853. Camille sukses besar meski Dumas junior
mengaku mengadaptasinya lantaran butuh uang.

Pada tahun 1874, ia diterima di Académie française dan memperoleh
penghargaan Légion d'honneur dua puluh tahun setelahnya.

Alexandre Dumas fils meninggal pada usia 71 tahun dan dimakamkan di
Cimetière de Montmartre, Paris. Secara kebetulan, kuburannya hanya
berjarak seratus meter dengan Marie Duplessis.

sumber: wikipedia


Blog EntryBeberapa Karya Ryu TriFeb 23, '08 12:26 AM
for everyone
Salah satu penulis cernak yang produktif dan berpotensi, juga pelahap
buku yang lumayan rajin.

1. EO for Teens. Nggak usah diomongin lagi deh. Karya solo yang
menggebrak dan tepat pada waktunya. Sesuai kebutuhan konsumen:-)

2. Flash! Flash! Flash! 'Kemarin' dan 'Keputusan' merupakan cerita
pernikahan nan puitis.

3. Ortu Kenapa Sih? Ryu mengungkap sebuah jatidiri. Bikin saya
mengangguk-angguk dan bilang, "Ooo.." ketika membaca esainya.



Blog EntryFiksi dan Non Fiksi DedewFeb 23, '08 12:25 AM
for everyone
Karya ibu muda yang enerjik ini segambreng! Dahsyat deh semangatnya.
Belum sempat menikmati buku solonya, jadi saya bicara tentang
buku-buku keroyokan saja.

1. Keajaiban Bunga. 'Anggrek Kesayangan Bapak' oke banget,
mengingatkan saya pada kenalan dan kerabat yang mabok bunga (maksudnya
merawat bunga dengan cinta demi membantu keuangan keluarga). Ada juga
cerita yang membuat saya ngeh bahwa Dedew suka bandel sama ibunya:p

2. Flash! Flash! Flash!. Kedua tulisan Dedew di sini bernafas gaul
banget. Ibu-ibu dugem dan anak kosan yang kena sweeping aparat. Seru,
seru.

3. Kisah Kehidupan. 'Ketegaran Seorang Perempuan Mungil'
memperlihatkan bahwa Dedew seorang pengobrol yang lincah. Andai saat
itu masih cukup waktu, kami dapat menyuntingnya bersama agar lebih
ringkas namun tetap enak dibaca.


Blog EntryKutipan Untuk Promosi BukuJan 30, '08 8:45 PM
for everyone
Penulis dan penerbit di luar negeri rata-rata mempromosikan sebuah
buku dengan mempublikasikan bab pertamanya, yang biasa disebut
excerpt. Beberapa di antaranya adalah Sophie Kinsella dengan 'Can You
Keep A Secret?', Sidney Sheldon dengan biografinya 'The Other Side of
Me', dan Stephen King dengan 'The Cell'. Saya pernah pula mendapati
excerpt buku di Amazon, tentu dengan izin penulis dan penerbitnya.

Hal ini masih relatif jarang di Indonesia. Yang melakukannya,
sepengetahuan saya, baru Sitta Karina dan penerbit Escaeva.
Berpromosi melalui nukilan naskah memang tidak diwajibkan
(apa lagi bila penulis bersangkutan
khawatir dengan urusan penggandaan dan sebagainya), tetapi dapat
menjadi daya tarik bagi pembaca alias konsumen buku yang berkeinginan
'tidak membeli kucing dalam karung'.

Keberatan memajang isi bab pertama? Tampilkan daftar isi yang relatif
tidak 'berbahaya'. Saya pernah membaca daftar isi buku 'Senyum untuk
Calon Penulis' karangan Eka Budianta di sebuah resensi yang tersebar
di milis sekitar tahun lalu dan terpikat untuk membaca bukunya,
walaupun belum kesampaian:p.

Alternatif paling akhir adalah sinopsis sampul belakang. Sebaiknya
pastikan bahwa sinopsis tersebut tidak terlalu panjang dan
'menggebu-gebu', artinya lebih bersifat memuji-muji daripada
menggambarkan sekilas isi buku. Tidak disarankan bila karya kita
dijual di toko buku online atau penerbitnya memiliki situs web dengan
katalog yang selalu diupdate, sebab sinopsis sampul belakang pasti
sudah dipajang di sana.


Blog EntryBerbunga-bungaJan 24, '08 9:23 PM
for everyone
Banyak hal yang dapat menciptakan rasa gembira sekaligus narsis berat
di hati saya. Di antaranya SMS dari editor naskah terjemahan beberapa
hari yang lalu, "Thanks for the good translation. Saya jadi nggak
susah nyuntingnya." Melayang deh ke langit ketujuh.

Kemudian sebuah email kemarin siang, dari seorang penulis berbakat
yang baru saja meraih Khatulistiwa Literary Award untuk novel
perdananya. Kutipannya begini, "Alhamdulillah saya diberi amanat ini--sebagai penulis remaja yang diharapkan akan jadi ikon penulisan yang baik untuk remaja-remaja seusia saya. Saya harap bisa memenuhi amanat itu.
Amin. Tapi di luar itu, saya juga ingin berterima kasih sama Mbak Rini yang dari dulu sudah mendukung saya...
Sukarela me-review...

Terima kasih banyak, ini juga saya persembahkan untuk Mbak Rini."

Ah, Farida Susanty sukses membuat hati saya basah oleh keharuan.
Sebagai seorang pembaca buku dan penulis resensi yang baru mulai
berkeliaran di dunia maya, saya merasa tersanjung.


LinkSuparto Brata BlogJan 16, '08 3:46 AM
for everyone
Link: http://www.supartobrata.com

Blog Pak Suparto Brata, sastrawan Jawa yang produktif


LinkKezaliman PenulisJan 15, '08 9:11 AM
for everyone

Blog EntryAntara Menulis, Menyunting, dan MenerjemahkanJan 9, '08 2:37 AM
for everyone
Dunia freelancer memungkinkan kita memiliki banyak tangan (atau kaki?)
seperti seekor laba-laba. Saya tertarik pada tulis-menulis sejak
kecil. Menerjemahkan adalah dampak minat saya pada bahasa asing yang
tumbuh di masa SMP. Menyunting, dengan sendirinya, adalah bagian dari
kedua kegiatan ini.

Ke mana pun pergi, label penulis-lah yang melekat pada diri saya
selaku profesi. Tidak menulis sehari seperti menempatkan saya jadi
'pengkhianat' (sebagaimana omong-omong ringan saya di blog Daniel),
'koruptor' atau anak sekolah yang sedang mbolos. Tetapi kevakuman itu
tak dapat dihindari, karena ada sesuatu yang dinamakan prioritas.
Bukan berarti menulis tidak penting. Justru karena pentingnyalah, saya
memilih beristirahat sewaktu sakit dan tidak memaksakan diri meraih
pulpen serta kertas (paling-paling hasilnya tulisan tangan yang
keriting). Karena penting pula, saya memilih cuci mata di alam sekitar
dan mengisi kepala dengan baca buku (atau berburu buku) serta bertemu
orang-orang tersayang.

Ketiga aktivitas di atas memiliki kesamaan: bersentuhan dengan buku
dan komputer. Dua hal yang saya cintai. Dua hal yang membuat Mas Agus
terkadang 'dinomorduakan' (semoga tidak lagi), sekaligus merekatkan
hati kami. Dua hal yang menjadikan
saya orang rumahan dan begitu berat hati untuk melangkah ke luar.
Ketiga-tiganya saling menunjang. Bukan kebetulan, bila jam terbang
saya menulis, menyunting dan menerjemahkan naskah fiksi pun masih
sedikit.

Jarangnya saya bersentuhan dengan naskah fiksi kerap dipertanyakan.
Memang, pada zaman remaja dulu, terminologi 'pengarang' lebih dikenal
daripada 'penulis'. Apa itu penulis? Samakah dengan juru tulis di
kantor kelurahan? Dosen pembimbing saya pun masih bertanya, "Apa yang
kamu tulis?" ketika mengetahui saya bekerja di sebuah perusahaan IT.

Latar belakang pekerjaan saya dulu memupuk spesifikasi yang tak sengaja
terbentuk selaku penulis non fiksi. Bukan mencari kambing hitam
(lagian nggak doyan daging kambing:p), pilihan jurusan sewaktu kuliah
pun berpengaruh. Sebagai mahasiswa spesialisasi linguistik, saya
hampir tak pernah berurusan dengan novel (atau istilah Prancisnya:
roman), puisi, dan drama. Objek penelitian skripsi saya pun buku
biografi.

Sampai kini, keinginan menulis novel tetap ada kendati seringkali
hanya menjadi niat (alias rencana tak jadi). Saya masih suka membaca
novel, bahkan fiksi-lah yang mendominasi koleksi buku saya. Menyunting
dan menerjemahkan novel, saya tak kalah tergiurnya. Di hard disk masih
tersimpan satu folder penuh gagasan, sebuah janin novel yang sudah
mencapai 70 halaman dan tidak tahu mau diapakan, serta dua naskah
lainnya yang juga mengalami masa hibernasi sampai entah kapan. Saya
tak mau memaksakan diri. Mungkin saya masih lebih sering menggunakan
otak kanan, melakukan apa yang saya senangi untuk dinikmati.
'Hanya' menjadi penulis non fiksi, yang sesekali menulis cerita anak,
pun tetap membuahkan kebahagiaan dan rasa syukur. Buku-buku saya yang
akan terbit tetap non fiksi. Ilham yang menghuni kepala sekarang ini
mayoritas non fiksi juga.

Maka, hendak jadi apakah saya tahun ini? Penulis, penyunting,
penerjemah? Saya ingin berkembang dalam ketiga-tiganya jika Allah
mengizinkan, karena
semuanya mengandung ilmu pengetahuan dan pengalaman tak ternilai.


Blog EntryMengapa Saya Menulis Buku 'Tipis'Jan 9, '08 2:36 AM
for everyone
Pada suatu tahun, seorang teman menanyakan naskah saya yang baru
dikirimkan ke email penerbit. "Berapa halaman?"
"Tujuh puluh," jawab saya.
"Oh," katanya. 'Oh' yang pendek dan terkesan 'kecewa'. Mungkin dia
meneruskan dalam hati, "Pantesan cepet kelar."

Sepuluh tahun silam, menulis buku bagi saya ibarat menggantung bintang
emas di langit (pinjam istilah Nunik). Saat itu, bintang yang mengisi
angkasa hanya sedikit. Sedangkan tangan yang meraihnya tak terbilang,
termasuk mereka-mereka yang sudah menggapainya (baca: para senior dan
penulis ngetop). Saya kenyang dengan lamaran-lamaran sebagai
proofreader, penerjemah dan editor lepas yang tak pernah menghasilkan
kabar. Kabar buruk sekalipun (dikasihtahu bahwa saya belum memenuhi
syarat rasanya lebih baik daripada digantung tanpa berita). Prosedur
menulis buku berentet dan sukar dipahami, menghubungi editor untuk
menanyakan ini-itu pun tidak semudah sekarang (walaupun masih ada
penerbitan yang super sulit ditembus sampai hari ini).

Lantas saya membenamkan diri di dunia IT. Di sana saya tetap menulis.
Web content, company profile, update berita portal lokal, info-info
singkat dan artikel majalah yang rata-rata 3-4 halaman saja. Mungkin
karena itulah, saya terbiasa menulis pendek.

Kekuatan saya menulis bagaikan api kecil yang dihasilkan oleh kayu
bakar. Nyalanya cukup hangat, tetapi sejenak. Saya harus lekas
menyelesaikannya sebelum padam. Tatkala menyalakan lagi, maka ide itu
membuahkan api baru, yakni naskah lain dan sama sekali berbeda. Jika
dianalogikan minuman, energi saya untuk membuat kopi susu cukup
terbatas. Saat mengaduknya, saya sudah mendapat ide untuk bikin teh
manis. Kira-kira begitulah.

Naskah-naskah yang tidak terlalu tebal itu, bagi saya, mengandung
kelebihan tersendiri. Biaya cetaknya relatif rendah dan harganya pun
tidak mahal. Secara tidak sadar, saya menulis sambil mengenang
masa-masa tak mampu membeli buku dengan gaya borongan seperti
belakangan ini. Saat-saat saya ke toko buku sambil berhitung,
menggenggam dompet erat-erat karena takut kurang, dan mengembalikan
beberapa judul yang saya inginkan ke rak. Memang tidak seperti beli
baju, buku itu tak akan 'hilang' atau redup trennya sehingga bisa
didapatkan saat uang saya mencukupi meskipun mungkin pindah posisi
(atau di lain toko). Ketika menulis, saya teringat keponakan yang
membobol celengan uang sakunya untuk 'sekadar' membeli Sybil sebagai
hadiah ulang tahun ibunya tercinta.

Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan penulis-penulis buku
tebal. Saya tetap mengagumi nafas panjang mereka dalam berkarya,
kendati belum tentu langsung membeli bukunya..hehehe..



Blog EntryAliran Semangat dari Sang DesainerJan 4, '08 2:25 AM
for everyone
Pagi ini (sebenarnya jam setengah sebelas sudah masuk siang menurut
Waktu Indonesia Bagian Manglayang, tapi hujan dan kabut bikin redup
mulu) saya ketemu desainer cover buku Nama-nama Islami di YM. Ia
mengabarkan stok buku miliknya habis, padahal sang istri tercinta
hendak melahirkan beberapa bulan lagi dan penerbit sedang stock opname.

Itu sebuah kabar gembira. Betapa tinggi minat yang terarah pada karya
saya. "Buat lagi Mbak, berkarya terus yang bagus-bagus," kata Mas
Motih
. Dukungan dari seorang mitra, apa lagi telah berkontribusi besar
dalam kelahiran buku saya, amat berharga.
Perasaan haru nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Airmata
membanjir mengalahkan deras hujan di luar, tapi dalam hati aja
deh..soalnya kalo nangis bisa pilek dan bikin laper:p

Ia menceritakan proses penggarapan cover yang hanya berlangsung
semalam. Dua alternatif harus tersedia, dan ini desain yang
dipilih..tanpa revisi! Menakjubkan, jika Allah sudah memberi
perkenanNya pada sebuah proses. Kemudahan tidak hanya untuk saya (yang
waktu itu pun hanya melalui satu kali revisi), Mas Motih pun menjadi
desainer langganan penerbit buku ini setelahnya. Satu pelajaran saya
dapat: bekerja maksimal, maka rizki akan datang dengan sendirinya.

Terima kasih, Mas Motih, untuk chatting yang membahagiakan.
Semoga kesuksesan dan rahmat Allah senantiasa
melimpahi Anda dan keluarga. Amin.



Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help