Rini's posts with tag: penulis
 'Namanya juga pendatang baru. Tentu masih banyak coba dan salahnya. Dan kebanyakan pendatang baru adalah penerbit yang bermodal idealisme dan keberanian. Minim ilmu. Baik mengenai lalu lintas keuangan maupun strategi pemasaran. Manajemen kertasnya pun buruk. Jika penerbit demikian menyalahi penulis, tidak bisa serta-merta kita sebut sebagai kekurangajaran. Tergantung, apakah ketidakbenaran itu dilakukan secara sengaja atau tidak. Kalau sengaja berarti zalim. Kalau tidak, berarti ya sekadar belum profesional saja.
Menghadapi penerbit macam demikian, penerbit harus mempunyai stok kesabaran yang tak berwatas. Bentuk kesabaran itu adalah keikhlasan untuk bermuka tebal. Jangan berputus harap untuk terus menanyakan laporan penjualan dan royalti. Itu dilakukan dalam rangka mendidik penerbit agar profesional. Mengingatkan mereka bahwa dalam bisnis kepercayaan, kejujuran sangat penting. Penerbit sesekali boleh saja melakukan kesalahan tapi tetap harus jujur, tidak boleh bohong.' (halaman 86) 
 Ada kalanya, saya tak percaya diri menghadapi permintaan revisi untuk kesekian kali.
Ada kalanya, saya resah karena tak mendapat kabar penerbit sepatah pun dalam jangka waktu lama (dan akhirnya menyimpulkan bahwa karya saya ditolak di sana).
Ada kalanya, saya merasa sudah melakukan yang terbaik namun hasil belum juga memuaskan. Muncullah 'bisikan setan' untuk mundur di tengah jalan.
Ada kalanya, semangat berkobar-kobar tapi kendala teknis berdatangan.
Pada saat-saat itu, saya sering menjangkau buku ini. Buku yang tak pernah bosan saya baca. Terutama bagian-bagian jatuh bangunnya.
Ia pernah merasa ketakutan dan tidak siap, saya juga.
Ia pernah menunggu-nunggu kabar dan memperoleh pekerjaan yang tak berkelanjutan padahal sangat diperlukan, saya juga.
Ia pernah dijanjikan keleluasaan berkreasi tetapi ternyata ide dasarnya diambil untuk dikembangkan oleh si empunya dana, saya pun demikian.
Ia pernah deg-degan dan grogi, merasa salah ambil jalur, begitu pula saya.
Tentu saja saya tidak sehebat Sheldon, tidak sedahsyat pengalamannya merambah wilayah penulisan yang berwarna-warni, tidak sekuat dirinya dalam menghadapi suatu pukulan mental (ada dua kejadian dalam hidupnya yang sama persis dengan pengalaman saya, tapi biarlah Allah saja yang tahu:)..).
Buku ini membuat saya tersenyum lagi, memantapkan hati, mencintai apa yang saya lakukan dan putuskan. Salah satu teman terbaik, selain sahabat-sahabat 'sesungguhnya' yang selalu memberikan dorongan moril. 
 Iseng-iseng ke Jatos sepulang dari warnet, tak disangka nemu Happy-Go-Lucky bertengger di rak Cerita Remaja toko buku Tisera. Hore! Stok arsip saya tidak bolong lagi.
Mudah-mudahan tersedia juga di Tisera cabang yang lain. 
 ...atau editor bisa terjalin meskipun kita baru menulis satu buku di penerbitan tersebut. Kuncinya adalah komunikasi dan silaturrahim yang memadai serta proporsional (baca: tidak terus-terusan SMS atau email atau buzz di YM, supaya pekerjaan mereka tak terganggu).
Di mata orang (tak selalu penulis), keakraban kerap diartikan keliru. Misalnya mempersingkat jalan atau prosedur (baca: potong kompas) untuk menerbitkan sebuah naskah. Atau malah ada yang berpendapat, penulis yang sudah berkali-kali kerjasama menjadi 'anak kesayangan' dan tak perlu antre. Yang saya rasakan tidak begitu. Editor malah lebih leluasa mengemukakan kekurangan naskah (jika harus direvisi berat atau bahkan ditolak). Kadang-kadang menganjurkan pengalihan ke penerbit lain, namun tetap saja kita yang harus melalui prosesnya sendiri.
Wujud kedekatan bisa bermacam-macam. Keterusterangan penerbit perihal pergantian distributor, contohnya. Seorang editor pernah menceritakan tindakan itu dikarenakan distributor lama menghendaki kenaikan persentase komisi. Ada juga yang menuturkan soal agen yang bangkrut dan meninggalkan utang besar. Editor lain mengeluhkan naskah yang mirip-mirip alias tiada keunikan, bahkan ada yang ketahuan hasil menjiplak. Kalau sudah akrab dan merasa nyaman benar, seorang editor tak segan-segan terbuka perkara penundaan naskah terbit akibat kenaikan harga BBM dan kertas.
Percaya atau tidak, kembali pada diri kita masing-masing. Sejauh ini saya tak mengalami masalah dengan hal itu. Yang jelas, saya jadi banyak belajar.
sumber foto: sxc.hu

 sumber: Etre écrivain, www.evene.fr
L'écrivain original n'est pas celui qui n'imite personne, mais celui que personne ne peut imiter.
Penulis sejati bukanlah yang tidak meniru siapa pun, melainkan yang tak dapat ditiru oleh siapa pun. [François René de Chateaubriand]
L'écrivain est celui qui cherche autant en lui qu'en les autres.
Penulis adalah orang yang mencari jawaban dalam dirinya dan orang lain. [Antonio Soler]
Un écrivain, c'est un inventeur. Il doit être capable de recréer totalement un univers à lui.
Seorang penulis adalah seorang penemu. Ia harus mampu membangun kembali alamnya sendiri secara utuh. [Anthony Burgess]
Tous les grands écrivains sont des grands lecteurs de dictionnaires : ils nagent à travers les mots.
Semua penulis besar ialah pembaca kamus yang hebat: mereka 'berenang' di antara kata-kata. [Umberto Eco]
On est écrivain quand on a quelque chose à dire et qu'on est le seul à pouvoir dire.
Kita adalah penulis bila memiliki sesuatu untuk diungkapkan dan yang hanya dapat diutarakan oleh kita sendiri. [Pierre Baillargeon]
foto: sxc.hu 
 Antoine Jean-Baptiste Marie Roger de Saint Exupéry lahir di Lyon, putra ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga bangsawan. Setelah gagal dalam ujian akhirnya, ia belajar arsitektur di École des Beaux-Arts. Ketika menunaikan wajib militer, Saint Exupéry dikirim ke Strasbourg dan mengikuti pelatihan pilot. Karena keluarga tunangannya, novelis Louise Leveque de Vilmorin, keberatan sang pilot bergabung dengan angkatan udara maka ia menetap di Paris dan menjadi pegawai kantoran. Pertunangan itu gagal dan Saint Exupéry tidak berhasil dalam pekerjaan mana pun. Ia menerbangkan pesawat lagi pada tahun 1926.
Karya-karya Saint Exupéry dekat dengan penerbangan, di antaranya Vol de Nuit yang memenangkan Prix Femina tahun 1931. Satu-satunya yang berbeda adalah Le Petit Prince (1943), dongeng berilustrasi tentang pertemuan seorang pilot asing dengan pangeran muda dari asteroid. Ia terus menulis dan menjadi pilot sampai Perang Dunia II pecah.
Saint Exupéry menghilang dalam tugas terakhirnya setelah meninggalkan landasan udara di Korsika, tanggal 31 Juli 1944. Seorang wanita melaporkan jatuhnya sebuah pesawat di Teluk Carqueiranne suatu malam bulan Agustus. Sesosok tubuh berseragam militer Prancis ditemukan dan dimakamkan di tempat yang sama. Tahun 1998 seorang nelayan mendapati gelang rantai perak milik Saint Exupéry. Rumornya, mayat sang pilot terseret arus laut. Peristiwa ini dijadikan karya fantasi oleh penulis komik Hugo Pratt dan diberi judul Saint Exupéry : le dernier vol (1994).
Kalimat terkenal pilot yang menemui ajalnya di usia 43 tahun itu ialah Nous n'héritons pas de la terre de nos ancêtres, nous l'empruntons à nos enfants. (Kita tidak mewarisi Bumi dari leluhur, tapi meminjamnya dari anak-anak kita).
sumber: wikipedia

 Henri René Albert Guy de Maupassant lahir di Château de Miromesnil, dekat perairan Seine, tanggal 5 Agustus 1850. Ia salah satu perintis cerita pendek modern dan dikenal dengan kekhasannya: gaya bertutur yang ringkas. Potensi sastra dalam diri Guy mengalir dari ibunya, Laure Le Poittevin. Sang ibu adalah teman novelis Gustave Flaubert dan sangat menggemari karya-karya klasik, terutama Shakespeare. Guy sangat berbakti kepada ibunya, yang membesarkan ia dan adiknya, Hervé, setelah bercerai. Guy keluar dari seminari di Yvetot karena berseberangan dengan agama. Ia menuntut ilmu di Lycée, Rouen, dan memperlihatkan prestasi baik dalam puisi serta aktif dalam teater. Di bawah asuhan Gustave Flaubert beberapa tahun kemudian, Guy mengawali karir di bidang jurnalisme dan sastra. Di rumah Flaubert, ia berjumpa Émile Zola dan novelis Rusia Ivan Turgenev. Di sela kesibukannya sebagai editor beberapa surat kabar ternama (Le Figaro, Gil Blas, Le Gaulois dan l'Echo de Paris), Guy menulis novel dan cerpen. Fiksi pendek perdananya, Boule de Suif (1880), langsung meraih sukses gemilang. Periode 1880-1891 adalah masa produktif Guy. Ia menerbitkan 2-4 kumpulan cerpen tiap tahun. Kombinasi bakat dan kemampuan bisnis membuatnya makmur. Kumcer La Maison Tellier (1881) bahkan memasuki cetakan ke-12 dalam dua tahun. Novel pertamanya, Une Vie (1883) terjual sebanyak 25 ribu eksemplar dalam tempo kurang dari setahun. Novel berikutnya, Bel Ami (1885), dicetak 37 kali dalam 4 bulan. Guy memenuhi pesanan penerbit dan terus menulis tanpa kesukaran berarti. Pria yang tidak suka bergaul ini menyenangi suasana tenang, kesendirian dan meditasi. Guy bepergian ke Sisilia, Inggris, Algeria, dan selalu membawa naskah baru begitu kembali. Ia berlayar dengan yacht pribadi yang dinamai 'Bel Ami'. Salah satu sahabat dekatnya ialah Alexandre Dumas, fils. Guy merupakan satu dari sedikit warga Paris yang tidak menaruh minat pada Menara Eiffel. Ia makan di restoran bagian dasarnya hanya supaya tidak melihat menara itu. Bersama 45 seniman Paris lainnya, Guy menulis surat protes terhadap pembangunan Eiffel kepada Menteri Pekerjaan Umum saat itu. Cerpen-cerpen Guy de Maupassant mengandung plot yang cerdas. Kisah tentang perhiasan palsu ("La Parure", "Les Bijoux") karangannya mengilhami Somerset Maugham ("Mr Know-All", "A String of Beads"). Guy juga menikmati penulisan genre realis dan fantasi. Karya-karya fiksinya pun memperlihatkan minat pria ini terhadap psikiatri. Pada masa-masa akhir hidupnya, ia kian suka menyendiri. Guy divonis gila dan menutup mata sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-43. Di batu nisannya, ia menulis 'Aku mendambakan segalanya dan tak menyukai apa pun.' disarikan dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_de_Maupassant(termasuk foto) 
 Nama asli pengarang The Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) ini adalah Dumas Davy de la Pailleterie. Alexandre Dumas, père (dalam bahasa Inggris berarti Senior), demikian ia dikenal, lahir tanggal 24 Juli 1802 di desa Villers-Cotterêts, sebelah timur laut Paris. Ia kerap dilecehkan karena neneknya dari pihak ayah adalah mantan budak dan berdarah Afro-Karibia.
Walaupun masa kecilnya sulit akibat kemiskinan, Dumas sukses sebagai penulis naskah drama dan novelis pada tahun 1840-an. Ibunya tak mampu memberikan pendidikan yang cukup baik namun minat bacanya tak terbendung. Dumas membaca apa saja sebisa mungkin. Ketika berumur 20 tahun, ia dan ibunya pindah ke Paris. Berkat koneksi sang ayah, yang petinggi militer, Dumas muda memperoleh pekerjaan di kantor duc d'Orléans. Di sela pekerjaannya, ia mulai menulis artikel untuk majalah dan naskah teater.
Tahun 1840, naskah keduanya yang berjudul Christine meraih sukses besar sehingga Dumas dapat sepenuhnya menjadi penulis. Setelah menulis banyak naskah teater yang mendapat sambutan baik, barulah ia beralih pada novel. Cerdiknya, pria yang bergaya hidup besar pasak daripada tiang ini menulis ulang salah satu naskah drama menjadi novel serial perdananya. Ini dilakukan Dumas setelah melihat tingginya permintaan surat kabar terhadap cerita bersambung.
Dalam berkarya, ia banyak dibantu orang lain. Salah satunya, Auguste Maquet. Maquet-lah yang mengkonsep plot The Count of Monte Cristo dan berkontribusi dalam The Three Musketeers (Les Trois Mousquetaires),serta sekuelnya. Saat bekerja, Maquet mengajukan plot dan menulis draft sedangkan Dumas menambahkan detil, dialog dan bab-bab akhir.
Pada tahun 1851, Dumas melarikan diri ke Brussel untuk menghindari penagih utang. Ia melakukan perjalanan ke Rusia dan menjadi terkenal di sana. Toh, sikap orang-orang yang rasis tidak berubah. Bahkan lama setelah ia berpulang di Puys, tanggal 5 Desember 1870.
Karya terakhir penulis roman tentang Marie-Antoinette ini baru dipublikasikan tahun 2005. Judulnya Le Chevalier de Sainte-Hermine (The Knight of Sainte-Hermine). Novel yang diterbitkan secara berseri ini hampir rampung menjelang kematian Dumas. Kisahnya menyangkut Perang Trafalgar dan menjelaskan penyebab wafatnya Lord Nelson. Dua setengah bab terakhir ditulis oleh murid Dumas, Claude Schopp, yang mengambil sumber dari catatan awal sang pengarang.
Tanggal 30 November 2002, President Jacques Chirac memerintahkan makam Dumas dipindahkan dari tempat kelahirannya ke Panthéon of Paris bersama orang-orang berprestasi gemilang lain. Dalam upacara yang diliput televisi itu, peti mati sang penulis yang dilapisi kain beludru biru digotong oleh empat pria berkostum Musketeers. Penghormatan ini dilakukan mengingat karya Alexandre Dumas paling banyak dibaca orang dibandingkan penulis Prancis terkemuka lainnya. Buah penanya diterjemahkan dalam hampir 100 bahasa dan menginspirasi lebih dari 200 film (termasuk The Man in the Iron Mask).
Kediamannya, le Château de Monte Cristo, di luar Paris telah direstorasi dan dibuka untuk umum.
sumber: wikipedia

 Membicarakan Alexandre Dumas tidak lengkap jika tidak membahas putranya yang satu ini. Alexandre Dumas, fils (junior) lahir dari hubungan gelap sang novelis dengan seorang penjahit bernama Marie-Laure-Catherine Labay. Ia diakui sang ayah pada umur 7 tahun dan hukum waktu itu memperkenankan Dumas senior mengambil si kecil dari ibunya. Kesedihan tersebut mengilhami Dumas junior untuk menciptakan karakter wanita bernasib malang dalam karya-karyanya. Bahkan dalam naskah drama berjudul Le fils naturel (The Illegitimate Son), ia mengemukakan opini bahwa pria yang mempunyai keturunan di luar nikah berkewajiban mengakui anaknya secara hukum dan memperistri kekasih gelapnya.
Tahun 1844, Dumas junior pindah ke Saint-Germain-en-Laye dan menetap di sana bersama ayahnya. Ia berjumpa Marie Duplessis, seorang wanita penghibur, yang menginspirasinya menulis novel romantis La dame aux camélias (The Lady of the Camellias). Novel ini diadaptasi ke dalam drama dengan judul bahasa Inggris Camille dan menjadi landasan opera Verdi, La Traviata, pada tahun 1853. Camille sukses besar meski Dumas junior mengaku mengadaptasinya lantaran butuh uang.
Pada tahun 1874, ia diterima di Académie française dan memperoleh penghargaan Légion d'honneur dua puluh tahun setelahnya.
Alexandre Dumas fils meninggal pada usia 71 tahun dan dimakamkan di Cimetière de Montmartre, Paris. Secara kebetulan, kuburannya hanya berjarak seratus meter dengan Marie Duplessis.
sumber: wikipedia 
 Salah satu penulis cernak yang produktif dan berpotensi, juga pelahap buku yang lumayan rajin. 1. EO for Teens. Nggak usah diomongin lagi deh. Karya solo yang menggebrak dan tepat pada waktunya. Sesuai kebutuhan konsumen:-) 2. Flash! Flash! Flash! 'Kemarin' dan 'Keputusan' merupakan cerita pernikahan nan puitis. 3. Ortu Kenapa Sih? Ryu mengungkap sebuah jatidiri. Bikin saya mengangguk-angguk dan bilang, "Ooo.." ketika membaca esainya. 
 Karya ibu muda yang enerjik ini segambreng! Dahsyat deh semangatnya. Belum sempat menikmati buku solonya, jadi saya bicara tentang buku-buku keroyokan saja.
1. Keajaiban Bunga. 'Anggrek Kesayangan Bapak' oke banget, mengingatkan saya pada kenalan dan kerabat yang mabok bunga (maksudnya merawat bunga dengan cinta demi membantu keuangan keluarga). Ada juga cerita yang membuat saya ngeh bahwa Dedew suka bandel sama ibunya:p
2. Flash! Flash! Flash!. Kedua tulisan Dedew di sini bernafas gaul banget. Ibu-ibu dugem dan anak kosan yang kena sweeping aparat. Seru, seru.
3. Kisah Kehidupan. 'Ketegaran Seorang Perempuan Mungil' memperlihatkan bahwa Dedew seorang pengobrol yang lincah. Andai saat itu masih cukup waktu, kami dapat menyuntingnya bersama agar lebih ringkas namun tetap enak dibaca. 
 Penulis dan penerbit di luar negeri rata-rata mempromosikan sebuah buku dengan mempublikasikan bab pertamanya, yang biasa disebut excerpt. Beberapa di antaranya adalah Sophie Kinsella dengan 'Can You Keep A Secret?', Sidney Sheldon dengan biografinya 'The Other Side of Me', dan Stephen King dengan 'The Cell'. Saya pernah pula mendapati excerpt buku di Amazon, tentu dengan izin penulis dan penerbitnya.
Hal ini masih relatif jarang di Indonesia. Yang melakukannya, sepengetahuan saya, baru Sitta Karina dan penerbit Escaeva. Berpromosi melalui nukilan naskah memang tidak diwajibkan (apa lagi bila penulis bersangkutan khawatir dengan urusan penggandaan dan sebagainya), tetapi dapat menjadi daya tarik bagi pembaca alias konsumen buku yang berkeinginan 'tidak membeli kucing dalam karung'.
Keberatan memajang isi bab pertama? Tampilkan daftar isi yang relatif tidak 'berbahaya'. Saya pernah membaca daftar isi buku 'Senyum untuk Calon Penulis' karangan Eka Budianta di sebuah resensi yang tersebar di milis sekitar tahun lalu dan terpikat untuk membaca bukunya, walaupun belum kesampaian:p.
Alternatif paling akhir adalah sinopsis sampul belakang. Sebaiknya pastikan bahwa sinopsis tersebut tidak terlalu panjang dan 'menggebu-gebu', artinya lebih bersifat memuji-muji daripada menggambarkan sekilas isi buku. Tidak disarankan bila karya kita dijual di toko buku online atau penerbitnya memiliki situs web dengan katalog yang selalu diupdate, sebab sinopsis sampul belakang pasti sudah dipajang di sana. 
 Banyak hal yang dapat menciptakan rasa gembira sekaligus narsis berat di hati saya. Di antaranya SMS dari editor naskah terjemahan beberapa hari yang lalu, "Thanks for the good translation. Saya jadi nggak susah nyuntingnya." Melayang deh ke langit ketujuh.
Kemudian sebuah email kemarin siang, dari seorang penulis berbakat yang baru saja meraih Khatulistiwa Literary Award untuk novel perdananya. Kutipannya begini, "Alhamdulillah saya diberi amanat ini--sebagai penulis remaja yang diharapkan akan jadi ikon penulisan yang baik untuk remaja-remaja seusia saya. Saya harap bisa memenuhi amanat itu. Amin. Tapi di luar itu, saya juga ingin berterima kasih sama Mbak Rini yang dari dulu sudah mendukung saya... Sukarela me-review... Terima kasih banyak, ini juga saya persembahkan untuk Mbak Rini."
Ah, Farida Susanty sukses membuat hati saya basah oleh keharuan. Sebagai seorang pembaca buku dan penulis resensi yang baru mulai berkeliaran di dunia maya, saya merasa tersanjung. 
 Dunia freelancer memungkinkan kita memiliki banyak tangan (atau kaki?) seperti seekor laba-laba. Saya tertarik pada tulis-menulis sejak kecil. Menerjemahkan adalah dampak minat saya pada bahasa asing yang tumbuh di masa SMP. Menyunting, dengan sendirinya, adalah bagian dari kedua kegiatan ini. Ke mana pun pergi, label penulis-lah yang melekat pada diri saya selaku profesi. Tidak menulis sehari seperti menempatkan saya jadi 'pengkhianat' (sebagaimana omong-omong ringan saya di blog Daniel), 'koruptor' atau anak sekolah yang sedang mbolos. Tetapi kevakuman itu tak dapat dihindari, karena ada sesuatu yang dinamakan prioritas. Bukan berarti menulis tidak penting. Justru karena pentingnyalah, saya memilih beristirahat sewaktu sakit dan tidak memaksakan diri meraih pulpen serta kertas (paling-paling hasilnya tulisan tangan yang keriting). Karena penting pula, saya memilih cuci mata di alam sekitar dan mengisi kepala dengan baca buku (atau berburu buku) serta bertemu orang-orang tersayang. Ketiga aktivitas di atas memiliki kesamaan: bersentuhan dengan buku dan komputer. Dua hal yang saya cintai. Dua hal yang membuat Mas Agus terkadang 'dinomorduakan' (semoga tidak lagi), sekaligus merekatkan hati kami. Dua hal yang menjadikan saya orang rumahan dan begitu berat hati untuk melangkah ke luar. Ketiga-tiganya saling menunjang. Bukan kebetulan, bila jam terbang saya menulis, menyunting dan menerjemahkan naskah fiksi pun masih sedikit. Jarangnya saya bersentuhan dengan naskah fiksi kerap dipertanyakan. Memang, pada zaman remaja dulu, terminologi 'pengarang' lebih dikenal daripada 'penulis'. Apa itu penulis? Samakah dengan juru tulis di kantor kelurahan? Dosen pembimbing saya pun masih bertanya, "Apa yang kamu tulis?" ketika mengetahui saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Latar belakang pekerjaan saya dulu memupuk spesifikasi yang tak sengaja terbentuk selaku penulis non fiksi. Bukan mencari kambing hitam (lagian nggak doyan daging kambing:p), pilihan jurusan sewaktu kuliah pun berpengaruh. Sebagai mahasiswa spesialisasi linguistik, saya hampir tak pernah berurusan dengan novel (atau istilah Prancisnya: roman), puisi, dan drama. Objek penelitian skripsi saya pun buku biografi. Sampai kini, keinginan menulis novel tetap ada kendati seringkali hanya menjadi niat (alias rencana tak jadi). Saya masih suka membaca novel, bahkan fiksi-lah yang mendominasi koleksi buku saya. Menyunting dan menerjemahkan novel, saya tak kalah tergiurnya. Di hard disk masih tersimpan satu folder penuh gagasan, sebuah janin novel yang sudah mencapai 70 halaman dan tidak tahu mau diapakan, serta dua naskah lainnya yang juga mengalami masa hibernasi sampai entah kapan. Saya tak mau memaksakan diri. Mungkin saya masih lebih sering menggunakan otak kanan, melakukan apa yang saya senangi untuk dinikmati. 'Hanya' menjadi penulis non fiksi, yang sesekali menulis cerita anak, pun tetap membuahkan kebahagiaan dan rasa syukur. Buku-buku saya yang akan terbit tetap non fiksi. Ilham yang menghuni kepala sekarang ini mayoritas non fiksi juga. Maka, hendak jadi apakah saya tahun ini? Penulis, penyunting, penerjemah? Saya ingin berkembang dalam ketiga-tiganya jika Allah mengizinkan, karena semuanya mengandung ilmu pengetahuan dan pengalaman tak ternilai. 
 Pada suatu tahun, seorang teman menanyakan naskah saya yang baru dikirimkan ke email penerbit. "Berapa halaman?" "Tujuh puluh," jawab saya. "Oh," katanya. 'Oh' yang pendek dan terkesan 'kecewa'. Mungkin dia meneruskan dalam hati, "Pantesan cepet kelar." Sepuluh tahun silam, menulis buku bagi saya ibarat menggantung bintang emas di langit (pinjam istilah Nunik). Saat itu, bintang yang mengisi angkasa hanya sedikit. Sedangkan tangan yang meraihnya tak terbilang, termasuk mereka-mereka yang sudah menggapainya (baca: para senior dan penulis ngetop). Saya kenyang dengan lamaran-lamaran sebagai proofreader, penerjemah dan editor lepas yang tak pernah menghasilkan kabar. Kabar buruk sekalipun (dikasihtahu bahwa saya belum memenuhi syarat rasanya lebih baik daripada digantung tanpa berita). Prosedur menulis buku berentet dan sukar dipahami, menghubungi editor untuk menanyakan ini-itu pun tidak semudah sekarang (walaupun masih ada penerbitan yang super sulit ditembus sampai hari ini). Lantas saya membenamkan diri di dunia IT. Di sana saya tetap menulis. Web content, company profile, update berita portal lokal, info-info singkat dan artikel majalah yang rata-rata 3-4 halaman saja. Mungkin karena itulah, saya terbiasa menulis pendek. Kekuatan saya menulis bagaikan api kecil yang dihasilkan oleh kayu bakar. Nyalanya cukup hangat, tetapi sejenak. Saya harus lekas menyelesaikannya sebelum padam. Tatkala menyalakan lagi, maka ide itu membuahkan api baru, yakni naskah lain dan sama sekali berbeda. Jika dianalogikan minuman, energi saya untuk membuat kopi susu cukup terbatas. Saat mengaduknya, saya sudah mendapat ide untuk bikin teh manis. Kira-kira begitulah. Naskah-naskah yang tidak terlalu tebal itu, bagi saya, mengandung kelebihan tersendiri. Biaya cetaknya relatif rendah dan harganya pun tidak mahal. Secara tidak sadar, saya menulis sambil mengenang masa-masa tak mampu membeli buku dengan gaya borongan seperti belakangan ini. Saat-saat saya ke toko buku sambil berhitung, menggenggam dompet erat-erat karena takut kurang, dan mengembalikan beberapa judul yang saya inginkan ke rak. Memang tidak seperti beli baju, buku itu tak akan 'hilang' atau redup trennya sehingga bisa didapatkan saat uang saya mencukupi meskipun mungkin pindah posisi (atau di lain toko). Ketika menulis, saya teringat keponakan yang membobol celengan uang sakunya untuk 'sekadar' membeli Sybil sebagai hadiah ulang tahun ibunya tercinta. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan penulis-penulis buku tebal. Saya tetap mengagumi nafas panjang mereka dalam berkarya, kendati belum tentu langsung membeli bukunya..hehehe.. 
 Pagi ini (sebenarnya jam setengah sebelas sudah masuk siang menurut Waktu Indonesia Bagian Manglayang, tapi hujan dan kabut bikin redup mulu) saya ketemu desainer cover buku Nama-nama Islami di YM. Ia mengabarkan stok buku miliknya habis, padahal sang istri tercinta hendak melahirkan beberapa bulan lagi dan penerbit sedang stock opname. Itu sebuah kabar gembira. Betapa tinggi minat yang terarah pada karya saya. "Buat lagi Mbak, berkarya terus yang bagus-bagus," kata Mas Motih. Dukungan dari seorang mitra, apa lagi telah berkontribusi besar dalam kelahiran buku saya, amat berharga. Perasaan haru nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Airmata membanjir mengalahkan deras hujan di luar, tapi dalam hati aja deh..soalnya kalo nangis bisa pilek dan bikin laper:p Ia menceritakan proses penggarapan cover yang hanya berlangsung semalam. Dua alternatif harus tersedia, dan ini desain yang dipilih..tanpa revisi! Menakjubkan, jika Allah sudah memberi perkenanNya pada sebuah proses. Kemudahan tidak hanya untuk saya (yang waktu itu pun hanya melalui satu kali revisi), Mas Motih pun menjadi desainer langganan penerbit buku ini setelahnya. Satu pelajaran saya dapat: bekerja maksimal, maka rizki akan datang dengan sendirinya. Terima kasih, Mas Motih, untuk chatting yang membahagiakan. Semoga kesuksesan dan rahmat Allah senantiasa melimpahi Anda dan keluarga. Amin. 
| |