Rini's posts with tag: prancis
 sumber: poèmes d'amour, evene. fr
Doutez, si vous voulez, de celui qui vous aime, D'une femme ou d'un chien, mais non de l'amour même.
Jika kau mau, sangsikanlah orang yang mencintaimu, baik seorang wanita maupun seekor anjing, tapi jangan sangsikan cinta itu sendiri. [Alfred de Musset]
Il y a des larmes d'amour qui dureront plus longtemps que les étoiles du ciel.
Air mata cinta mengalir lebih lama daripada munculnya bintang di langit. [Charles Péguy]
O ma mère et ma nourrice ! Toi dont l'âme protectrice Me fit des jours composés Avec un bonheur si rare, Et qui ne me fus avare Ni de lait ni de baisers !
Duhai ibunda yang memberiku makan! Sosok pelindung yang menjalin hari demi hariku dengan kebahagiaan nan langka, membuatku rakus akan air susu dan belaian! [Théodore de Banville]
foto: wikimedia 
 sumber: evene.fr
Je n'ai jamais eu de chagrin qu'une heure de lecture n'ait dissipé.
Tiada kesedihan yang lebih besar bagiku daripada vakum membaca selama satu jam. [Montesquieu]
Quand je pense à tous les livres qu'il me reste à lire, j'ai la certitude d'être encore heureux.
Tatkala memikirkan semua buku yang akan kubaca, aku yakin masih merasakan kebahagiaan. [Jules Renard]
Les livres ont les mêmes ennemis que l'homme : le feu, l'humide, les bêtes, le temps, et leur propre contenu.
Buku memiliki musuh yang sama dengan manusia: api, kelembaban, binatang, cuaca, waktu, dan isinya sendiri. [Paul Valéry]
Peu de livres changent une vie. Quand ils la changent c'est pour toujours
Beberapa buku mengubah kehidupan. Perubahan itu terjadi untuk seterusnya. [Christian Bobin]
Une pièce sans livres, c'est comme un corps sans âme.
Sebuah ruangan tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa. [Cicéron]
Un livre est une fenêtre par laquelle on s'évade.
Buku adalah jendela untuk melarikan diri. [Julien Green]
Il ne s'agit pas de beaucoup lire, mais de bien lire.
Yang penting bukan banyak membaca, tapi membaca dengan 'baik'. [Aristippe]
foto: sxc.hu 
 sumber: L'art d'écrire, evene.fr
L'écriture est la peinture de la voix.
Tulisan adalah ucapan yang dilukiskan. [Voltaire]
L'écriture est un exercice spirituel, elle aide à devenir libre.
Tulisan adalah latihan batin, membantu kita membebaskan diri. [Jean Rouaud]
Le récit n'est plus l'écriture d'une aventure, mais l'aventure d'une écriture.
Cerita bukan lagi tulisan mengenai petualangan, melainkan petualangan tulisan. [Jean Ricardou]
Dans l'écriture, la main parle ; et dans la lecture, les yeux entendent les paroles.
Saat kita menulis, tangan yang berbicara; ketika kita membaca, mata mendengarkannya. [Eugène Géruzez]
foto: sxc.hu 
 sumber: Etre écrivain, www.evene.fr
L'écrivain original n'est pas celui qui n'imite personne, mais celui que personne ne peut imiter.
Penulis sejati bukanlah yang tidak meniru siapa pun, melainkan yang tak dapat ditiru oleh siapa pun. [François René de Chateaubriand]
L'écrivain est celui qui cherche autant en lui qu'en les autres.
Penulis adalah orang yang mencari jawaban dalam dirinya dan orang lain. [Antonio Soler]
Un écrivain, c'est un inventeur. Il doit être capable de recréer totalement un univers à lui.
Seorang penulis adalah seorang penemu. Ia harus mampu membangun kembali alamnya sendiri secara utuh. [Anthony Burgess]
Tous les grands écrivains sont des grands lecteurs de dictionnaires : ils nagent à travers les mots.
Semua penulis besar ialah pembaca kamus yang hebat: mereka 'berenang' di antara kata-kata. [Umberto Eco]
On est écrivain quand on a quelque chose à dire et qu'on est le seul à pouvoir dire.
Kita adalah penulis bila memiliki sesuatu untuk diungkapkan dan yang hanya dapat diutarakan oleh kita sendiri. [Pierre Baillargeon]
foto: sxc.hu 
 sumber: 30 raisons de lire, evene.fr
L'originalité d'un auteur dépend moins de son style que de sa manière de penser.
Orisinalitas seorang penulis lebih terlihat pada cara berpikirnya, bukan gaya menulisnya. [Anton Tchekhov]
La véritable Université de nos jours, est une collection de livres.
Sekolah kehidupan kita yang sejati adalah buku yang kita miliki. [Thomas Carlyle]
Lire et être curieux, c'est la même chose.
Membaca sama dengan merasa penasaran. [Pascal Quignard]
Si vous jugez le livre, le livre vous juge aussi.
Bila Anda menghakimi sebuah buku, buku itu juga menghakimi Anda. [Stephen King]
Lire à deux, c'est quand même mieux, que de regarder la télévision.
Membaca berdua pun lebih baik daripada nonton TV. [Jean-Marie Poupart]
Le temps de lire, comme le temps d'aimer, dilate le temps de vivre.
Seperti saat mencinta, saat membaca memperpanjang umurku. [Daniel Pennac]
Un livre a toujours deux auteurs : celui qui l'écrit et celui qui le lit.
Sebuah buku selalu memiliki dua penulis: orang yang menulisnya dan yang membacanya. [Jacques Salomé]
foto: sxc.hu 
 Antoine Jean-Baptiste Marie Roger de Saint Exupéry lahir di Lyon, putra ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga bangsawan. Setelah gagal dalam ujian akhirnya, ia belajar arsitektur di École des Beaux-Arts. Ketika menunaikan wajib militer, Saint Exupéry dikirim ke Strasbourg dan mengikuti pelatihan pilot. Karena keluarga tunangannya, novelis Louise Leveque de Vilmorin, keberatan sang pilot bergabung dengan angkatan udara maka ia menetap di Paris dan menjadi pegawai kantoran. Pertunangan itu gagal dan Saint Exupéry tidak berhasil dalam pekerjaan mana pun. Ia menerbangkan pesawat lagi pada tahun 1926.
Karya-karya Saint Exupéry dekat dengan penerbangan, di antaranya Vol de Nuit yang memenangkan Prix Femina tahun 1931. Satu-satunya yang berbeda adalah Le Petit Prince (1943), dongeng berilustrasi tentang pertemuan seorang pilot asing dengan pangeran muda dari asteroid. Ia terus menulis dan menjadi pilot sampai Perang Dunia II pecah.
Saint Exupéry menghilang dalam tugas terakhirnya setelah meninggalkan landasan udara di Korsika, tanggal 31 Juli 1944. Seorang wanita melaporkan jatuhnya sebuah pesawat di Teluk Carqueiranne suatu malam bulan Agustus. Sesosok tubuh berseragam militer Prancis ditemukan dan dimakamkan di tempat yang sama. Tahun 1998 seorang nelayan mendapati gelang rantai perak milik Saint Exupéry. Rumornya, mayat sang pilot terseret arus laut. Peristiwa ini dijadikan karya fantasi oleh penulis komik Hugo Pratt dan diberi judul Saint Exupéry : le dernier vol (1994).
Kalimat terkenal pilot yang menemui ajalnya di usia 43 tahun itu ialah Nous n'héritons pas de la terre de nos ancêtres, nous l'empruntons à nos enfants. (Kita tidak mewarisi Bumi dari leluhur, tapi meminjamnya dari anak-anak kita).
sumber: wikipedia

 Henri René Albert Guy de Maupassant lahir di Château de Miromesnil, dekat perairan Seine, tanggal 5 Agustus 1850. Ia salah satu perintis cerita pendek modern dan dikenal dengan kekhasannya: gaya bertutur yang ringkas. Potensi sastra dalam diri Guy mengalir dari ibunya, Laure Le Poittevin. Sang ibu adalah teman novelis Gustave Flaubert dan sangat menggemari karya-karya klasik, terutama Shakespeare. Guy sangat berbakti kepada ibunya, yang membesarkan ia dan adiknya, Hervé, setelah bercerai. Guy keluar dari seminari di Yvetot karena berseberangan dengan agama. Ia menuntut ilmu di Lycée, Rouen, dan memperlihatkan prestasi baik dalam puisi serta aktif dalam teater. Di bawah asuhan Gustave Flaubert beberapa tahun kemudian, Guy mengawali karir di bidang jurnalisme dan sastra. Di rumah Flaubert, ia berjumpa Émile Zola dan novelis Rusia Ivan Turgenev. Di sela kesibukannya sebagai editor beberapa surat kabar ternama (Le Figaro, Gil Blas, Le Gaulois dan l'Echo de Paris), Guy menulis novel dan cerpen. Fiksi pendek perdananya, Boule de Suif (1880), langsung meraih sukses gemilang. Periode 1880-1891 adalah masa produktif Guy. Ia menerbitkan 2-4 kumpulan cerpen tiap tahun. Kombinasi bakat dan kemampuan bisnis membuatnya makmur. Kumcer La Maison Tellier (1881) bahkan memasuki cetakan ke-12 dalam dua tahun. Novel pertamanya, Une Vie (1883) terjual sebanyak 25 ribu eksemplar dalam tempo kurang dari setahun. Novel berikutnya, Bel Ami (1885), dicetak 37 kali dalam 4 bulan. Guy memenuhi pesanan penerbit dan terus menulis tanpa kesukaran berarti. Pria yang tidak suka bergaul ini menyenangi suasana tenang, kesendirian dan meditasi. Guy bepergian ke Sisilia, Inggris, Algeria, dan selalu membawa naskah baru begitu kembali. Ia berlayar dengan yacht pribadi yang dinamai 'Bel Ami'. Salah satu sahabat dekatnya ialah Alexandre Dumas, fils. Guy merupakan satu dari sedikit warga Paris yang tidak menaruh minat pada Menara Eiffel. Ia makan di restoran bagian dasarnya hanya supaya tidak melihat menara itu. Bersama 45 seniman Paris lainnya, Guy menulis surat protes terhadap pembangunan Eiffel kepada Menteri Pekerjaan Umum saat itu. Cerpen-cerpen Guy de Maupassant mengandung plot yang cerdas. Kisah tentang perhiasan palsu ("La Parure", "Les Bijoux") karangannya mengilhami Somerset Maugham ("Mr Know-All", "A String of Beads"). Guy juga menikmati penulisan genre realis dan fantasi. Karya-karya fiksinya pun memperlihatkan minat pria ini terhadap psikiatri. Pada masa-masa akhir hidupnya, ia kian suka menyendiri. Guy divonis gila dan menutup mata sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-43. Di batu nisannya, ia menulis 'Aku mendambakan segalanya dan tak menyukai apa pun.' disarikan dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_de_Maupassant(termasuk foto) 
Inilah tiga paragraf pertama cerpen Guy de Maupassant yang termasyhur.
M. Lantin ayant rencontré cette jeune fille, dans une soirée, chez son sous-chef de bureau, l'amour l'enveloppa comme un filet.
Tuan Lantin bertemu dengan gadis ini suatu petang di rumah wakil kepala kantornya. Seketika ia tak ubahnya remaja yang dilanda asmara.
C'était la fille d'un percepteur de province, mort depuis plusieurs années. Elle était venue ensuite à Paris avec sa mère, qui fréquentait quelques familles bourgeoises de son quartier dans l'espoir de marier la jeune personne. Elles étaient pauvres et honorables, tranquilles et douces. La jeune fille semblait le type absolu de l'honnête femme à laquelle le jeune homme sage rêve de confier sa vie. Sa beauté modeste avait un charme de pudeur angélique, et l'imperceptible sourire qui ne quittait point ses lèvres semblait un reflet de son coeur.
Ayah gadis itu seorang petugas pajak tingkat provinsi dan telah wafat beberapa tahun lampau. Si gadis kemudian pindah ke Paris bersama ibunya, yang mengunjungi beberapa keluarga borjuis di wilayah tersebut guna mencarikan jodoh untuk putrinya. Mereka miskin namun terpandang, tak banyak bicara dan lemah-gemulai. Si gadis tampak sangat jujur, sesuai pasangan impian Tuan Lantin. Kecantikannya yang bersahaja memancarkan pesona bak malaikat nan pemalu, dan senyum lembut lagi tulus senantiasa tersungging di bibirnya.
Tout le monde chantait ses louanges; tous ceux qui la connaissaient répétaient sans fin: «Heureux celui qui la prendra. On ne pourrait trouver mieux.»
Semua orang melontarkan pujian tanpa henti, terutama mereka yang mengenal gadis itu."Berbahagialah orang yang menjadi suaminya. Tak ada wanita yang lebih baik dari dia."
sumber: manybooks.net
Avoir bon dos - tidak mudah tersinggung
Avoir d’autres chats à fouetter - ada hal penting lain yang harus dilakukan
Avoir le coeur sur la main - dermawan
Comme un éléphant dans un magasin de porcelaine - bagaikan rusa masuk kampung
Coûter les yeux de la tête - sangat mahal
Ça me dit quelque-chose - Mengingatkan pada sesuatu
Ça me prend la tête - Itu membuatku gila
Ça ne tient pas debout - Hal itu tidak masuk akal
ça passe ou ça casse - take it or leave it
En un clin d’œil - dalam sekejap
Être avec le pamplemousse - yakin pada diri sendiri
Être un singe sur un branche - berada di rumah, tempat asal
Faire la sourde oreille - mengabaikan
Faire quelque chose à la barbe de quelqu’un - melakukan sesuatu diam-diam
Jetter l'éponge - menyerah
Ce ne sont pas vos oignons - Bukan urusanmu
Se casser la tête - Menghadapi banyak persoalan
Tomber dans les pommes - Pingsan
Voler de ses propres ailes - berdiri di atas kedua kaki sendiri
sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_idioms_in_the_French_language
 Nama asli pengarang The Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) ini adalah Dumas Davy de la Pailleterie. Alexandre Dumas, père (dalam bahasa Inggris berarti Senior), demikian ia dikenal, lahir tanggal 24 Juli 1802 di desa Villers-Cotterêts, sebelah timur laut Paris. Ia kerap dilecehkan karena neneknya dari pihak ayah adalah mantan budak dan berdarah Afro-Karibia.
Walaupun masa kecilnya sulit akibat kemiskinan, Dumas sukses sebagai penulis naskah drama dan novelis pada tahun 1840-an. Ibunya tak mampu memberikan pendidikan yang cukup baik namun minat bacanya tak terbendung. Dumas membaca apa saja sebisa mungkin. Ketika berumur 20 tahun, ia dan ibunya pindah ke Paris. Berkat koneksi sang ayah, yang petinggi militer, Dumas muda memperoleh pekerjaan di kantor duc d'Orléans. Di sela pekerjaannya, ia mulai menulis artikel untuk majalah dan naskah teater.
Tahun 1840, naskah keduanya yang berjudul Christine meraih sukses besar sehingga Dumas dapat sepenuhnya menjadi penulis. Setelah menulis banyak naskah teater yang mendapat sambutan baik, barulah ia beralih pada novel. Cerdiknya, pria yang bergaya hidup besar pasak daripada tiang ini menulis ulang salah satu naskah drama menjadi novel serial perdananya. Ini dilakukan Dumas setelah melihat tingginya permintaan surat kabar terhadap cerita bersambung.
Dalam berkarya, ia banyak dibantu orang lain. Salah satunya, Auguste Maquet. Maquet-lah yang mengkonsep plot The Count of Monte Cristo dan berkontribusi dalam The Three Musketeers (Les Trois Mousquetaires),serta sekuelnya. Saat bekerja, Maquet mengajukan plot dan menulis draft sedangkan Dumas menambahkan detil, dialog dan bab-bab akhir.
Pada tahun 1851, Dumas melarikan diri ke Brussel untuk menghindari penagih utang. Ia melakukan perjalanan ke Rusia dan menjadi terkenal di sana. Toh, sikap orang-orang yang rasis tidak berubah. Bahkan lama setelah ia berpulang di Puys, tanggal 5 Desember 1870.
Karya terakhir penulis roman tentang Marie-Antoinette ini baru dipublikasikan tahun 2005. Judulnya Le Chevalier de Sainte-Hermine (The Knight of Sainte-Hermine). Novel yang diterbitkan secara berseri ini hampir rampung menjelang kematian Dumas. Kisahnya menyangkut Perang Trafalgar dan menjelaskan penyebab wafatnya Lord Nelson. Dua setengah bab terakhir ditulis oleh murid Dumas, Claude Schopp, yang mengambil sumber dari catatan awal sang pengarang.
Tanggal 30 November 2002, President Jacques Chirac memerintahkan makam Dumas dipindahkan dari tempat kelahirannya ke Panthéon of Paris bersama orang-orang berprestasi gemilang lain. Dalam upacara yang diliput televisi itu, peti mati sang penulis yang dilapisi kain beludru biru digotong oleh empat pria berkostum Musketeers. Penghormatan ini dilakukan mengingat karya Alexandre Dumas paling banyak dibaca orang dibandingkan penulis Prancis terkemuka lainnya. Buah penanya diterjemahkan dalam hampir 100 bahasa dan menginspirasi lebih dari 200 film (termasuk The Man in the Iron Mask).
Kediamannya, le Château de Monte Cristo, di luar Paris telah direstorasi dan dibuka untuk umum.
sumber: wikipedia

 Membicarakan Alexandre Dumas tidak lengkap jika tidak membahas putranya yang satu ini. Alexandre Dumas, fils (junior) lahir dari hubungan gelap sang novelis dengan seorang penjahit bernama Marie-Laure-Catherine Labay. Ia diakui sang ayah pada umur 7 tahun dan hukum waktu itu memperkenankan Dumas senior mengambil si kecil dari ibunya. Kesedihan tersebut mengilhami Dumas junior untuk menciptakan karakter wanita bernasib malang dalam karya-karyanya. Bahkan dalam naskah drama berjudul Le fils naturel (The Illegitimate Son), ia mengemukakan opini bahwa pria yang mempunyai keturunan di luar nikah berkewajiban mengakui anaknya secara hukum dan memperistri kekasih gelapnya.
Tahun 1844, Dumas junior pindah ke Saint-Germain-en-Laye dan menetap di sana bersama ayahnya. Ia berjumpa Marie Duplessis, seorang wanita penghibur, yang menginspirasinya menulis novel romantis La dame aux camélias (The Lady of the Camellias). Novel ini diadaptasi ke dalam drama dengan judul bahasa Inggris Camille dan menjadi landasan opera Verdi, La Traviata, pada tahun 1853. Camille sukses besar meski Dumas junior mengaku mengadaptasinya lantaran butuh uang.
Pada tahun 1874, ia diterima di Académie française dan memperoleh penghargaan Légion d'honneur dua puluh tahun setelahnya.
Alexandre Dumas fils meninggal pada usia 71 tahun dan dimakamkan di Cimetière de Montmartre, Paris. Secara kebetulan, kuburannya hanya berjarak seratus meter dengan Marie Duplessis.
sumber: wikipedia 
 Sewaktu istirahat tadi siang, saya berkesempatan chatting dengan adik-adik Gemuruh. Syukurlah, mereka menyukai apa yang saya berikan. Si Tengah malah duluan membicarakan Virgin Mary. "Aku lagi baca dan baru sampe bab empat. Bagus, enak dibaca kok," katanya. Wah, senyum lebar lagi saya sama Mas Agus. Berarti hasil 'berantem' kami mengena di hati pembaca usia remaja:)
Ia juga bilang, "Aku dah baca Query Pita dan Upit Kejepit. Rame." Wah, ini anak kecepatan bacanya boleh juga..padahal baru tadi pagi ibunya terbang ke Bali. Beberapa saat kemudian, adiknya ikutan muncul dan berkata, "Tante, buku Ulyssesnya bagus. Aku dah sampe bab 14. Makasiiih, ya." (Nulisnya sih 'makasih yaph', dasar ABG:p)
Jumat yang menyenangkan.
foto: Take A Seat by Michael Gwarf, dari CD Advertech Media 01 
| Category: | Books | | Price: | Rp 51.000,00 |
Penulis: Marek Halter Penerbit: Edelweiss, November 2007
Dari novel Prancis bertajuk Marie. Sebuah sudut pandang dalam fiksi mengenai Maria, ibunda Yesus. Potret seorang wanita yang tegar dan tangguh dengan pendirian dan sifatnya yang cenderung memberontak. FYI, ini sekadar upaya promosi, saya tidak melakukan penjualan atau menyimpan stok. Click a thumbnail to enlarge:
 Kemarin kami bertemu seorang teman baik, memenuhi janji sebelum ia terbang ke Bali besok. Tanpa diminta, ia menceritakan kesannya terhadap Virgin Mary.
"Benar-benar sebuah cerita yang enak dibaca, bahasanya nggak bikin pusing kepala," ia berkata sungguh-sungguh. "Aku kalo baca nggak mau mikir terlalu berat, tapi menikmati." Bisa dimaklumi sebab selain merupakan ibu rumahtangga yang cukup sibuk, beliau juga berwirausaha dan menjadi bendahara komite sebuah sekolah menengah atas.
Wah, berbunga-bunga deh rasanya. Saya yakin beliau tulus, karena kalo mau ngritik juga terus terang. Pernah ada buku saya yang dikomentari kurang enak di bagian-bagian tertentu (walaupun ngasih tahunya tetap santun di kuping dan hati, nggak bikin sebel deh). Mas Agus nyengir lebar, "Bu, mau kenalan sama tukang editnya?"
"Nggak," kenalan kami ini tertawa. "Kebayang deh kalian berantemnya untuk menghasilkan kalimat-kalimat sebaik ini."
Kami ikut tergelak. Memang sebuah kerja keras dalam arti sebenarnya. Untuk pertama kalinya, saya dan Mas Agus benar-benar 'ribut' soal ide sewaktu mengolah hasil terjemahan novel ini.
Semoga pembaca lain pun berpendapat sama, amin:) 
 Menerjemahkan Virgin Mary adalah anugerah tak terlupakan sepanjang hidup. Bukan berarti yang lain tak berkesan, namun kesempatan ini mengukir kenangan tersendiri karena tiba menjelang bulan suci yang istimewa.
Awalnya, saya mendapati posting di pasarbuku tentang lowongan penerjemah freelance bahasa Prancis. Salah satu poinnya amat menarik hati, yakni 'pria atau wanita, tidak ada batasan umur'. Memang tidak ada lowongan freelancer yang (rasanya) menetapkan umur, namun posting tersebut terlihat cemerlang saja.
Setelah membaca CV dan email saya, Pustaka Iiman memberikan tes yang ternyata beberapa halaman awal Virgin Mary. Hari-hari itu heboh karena saya sedang kurang sehat dan langsung menumpuk kamus di kasur. Syukurlah, saya dapat menyelesaikannya dalam 4 hari. Kabar baik datang sekitar dua minggu kemudian setelah urusan right rampung.
Saya mengerahkan konsentrasi yang kian lama kian besar porsinya, terutama di tengah-tengah naskah. Di sela proses itu, saya mengintip-intip profil Marek Halter (yang sebagian besar dalam bahasa Prancis), mencocokkan peristilahan dengan beberapa teman Katolik sekaligus mencari referensi mulai dari peta sampai ayat-ayat Alkitab. Kamus Prancis-Prancis merupakan perangkat super penting karena ternyata jauh lebih lengkap dibandingkan Prancis-Indonesia. Kandungannya termasuk peta (yang tetap bikin puyeng tujuh puluh keliling karena menggunakan ejaan Prancis), tokoh-tokoh, yah..semi ensiklopedia deh. Alhamdulillah Mas Agus sedang mengumpulkan bahan untuk penulisan cerita anak muslim dan memperoleh rujukan sejumlah istilah. Contohnya Sanhadurim untuk Sanhedrin, kalangan pejabat yang mengeruk pajak dari rakyat atas nama kepentingan agama.
Nama saja sudah memiliki banyak versi, baik nama diri maupun tempat. Sepphoris adalah Safuria, Tiberiade adalah Tiberias, Joseph d'Arimathie menjadi Joseph d'Arimatea, Guiora disederhanakan menjadi Giora, pula ada dua karakter bernama sama: Miriam dan Miryem. Saya mengubahnya menjadi Maria dan Maryam, namun kebijakan penerbit menerapkan ejaan Inggris: Mary dan bukan Maria.
Pekerjaan ini menyedot emosi. Saya menghabiskan banyak tisu saat Mary histeris oleh kematian Abdias, kala ia mengetahui bahwa Halwa sahabat karibnya meninggal dunia, deg-degan ketika Joachim berada di antara hidup dan mati, serta tegang tatkala Mary dikecam gara-gara mengandung tanpa suami.
Waktu yang disepakati untuk menggarap penerjemahan buku ini adalah satu setengah bulan, tetapi alhamdulillah saya dapat menyelesaikannya beberapa hari sebelum tenggat (termasuk revisi). 
 Salah satu kebahagiaan seorang penerjemah buku adalah tatkala menerima hasil karyanya yang sudah diproduksi. Novel Marek Halter ini sampai di tangan saya setengah jam yang lalu, berikut surat pengantar dari penerbit.
Nama saya di halaman dalam tertera: Rini Nur Badariah. Ini risiko menyingkat id 'rinurbad'. Saya baru menimang dan melihat sekilas kata yang diubah, nanti akan dibaca ulang untuk mengetahui sejauh mana hasil terjemahan saya disunting. 
 Miriam adalah putri tunggal seorang tukang kayu bernama Joachim dan istrinya yang bernama Hannah. Mereka tinggal di Galilea pada masa pendudukan bangsa Israel oleh kekaisaran Roma.
Miriam berbeda dengan anak perempuan lainnya. Ia pemberani dan cepat dewasa. Tanpa memberitahu orangtuanya, Miriam menyembunyikan Barabbas dari pengejaran tentara di rumah mereka.
Hidup Miriam dan keluarganya berubah tatkala Joachim melawan petugas pajak Herodes yang merampas lilin pusaka Hulda, seorang tetangga mereka yang sudah tua.
Selanjutnya, silakan baca novel tersebut:) 
 Sumber: wikipedia Foto: http://uejflyon.free.frMarek Halter adalah novelis Prancis-Yahudi. Ia lahir di Polandia pada tahun 1936. Ketika Perang Dunia II meletus, Halter dan orangtuanya melarikan diri dari Ghetto Warsawa dan terbang ke Uni Soviet, melewati masa penghabisan perang tersebut di Rusia dan Uzbekistan. Pada tahun 1946, ia ditunjuk untuk berangkat ke Moskow dan memberikan bunga kepada Stalin. Keluarga itu kembali ke Polandia pada tahun 1948 lalu bermigrasi ke Prancis dua tahun kemudian. Mereka menetap di Paris. Halter mempelajari pantomim dengan bimbingan Marcel Marceau dan mencari nafkah sebagai pelukis. Banyak karyanya dipamerkan di ajang internasional. Halter mulai menulis pada tahun 70-an. Karyanya antara lain 'The Madman and the Kings' (meraih Prix d'Aujourd'hui tahun 1976), 'The Messiah', 'The Mysteries of Jerusalem', 'The Book of Abraham' (1986) dan sekuelnya, 'The Children of Abraham' (1990), 'The Wind of the Khazars' (2003), 'Sarah' (2004), Zipporah (2005) dan 'Lilah' (2006). Ia juga menulis buku 'The Jester and the Kings: a Political Biography' (1989) dan 'Stories of Delivrance: Speaking with Men and Women Who Rescued Jews from the Holocaust' (1998). Kini Halter memimpin French college yang didirikannya di Moskow tahun 1991 bersama Andrei Sakharov. 
| |