Rini's posts with tag: proses kreatif
 Kemampuan berimajinasi saya dalam mendeksripsikan fisik suatu karakter dalam fiksi terbilang lemah. Jika merujuk pada orang-orang yang pernah dikenal, maka referensinya akan 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi). Maka saya menggunakan sosok yang berseliweran di media, tentu sesuai preferensi pribadi.
Wilayah minat saya dalam hal ini, khususnya karakter pria, terfokus pada mereka yang sangat Timur (apa ya istilahnya? Tak begitu paham dengan Kaukasia dan ras-ras). Jarang sekali saya menggambarkan pria atau wanita berdarah Barat, baik indo maupun murni. Yang paling sering dijadikan objek adalah aktor-aktor Korea, hahaha.. Salah satunya Jo In Sung, yang dengan 'agak terpaksa' dipinjam ciri fisiknya untuk sebuah cerpen berjudul Hitam Manis dalam kumcer Sahabat.
Bila sedang iseng, saya menjumput paras lokal dari tayangan TV. Ini sangat sulit karena para pemain sinetron remaja, misalnya, tampak serupa dengan potongan rambut dan gaya berpakaian mereka. Puncak keisengan adalah 'meminjam' Gary Iskak (buka kartu nih, Mbak Leila). Saking insidentilnya, saya tidak ingat untuk karya fiksi mana dia ditempatkan.
Belakangan, saya kerap menemani Mas Agus nonton TV. Tindakan yang sungguh kontra produktif ini dicoba-relevankan dengan pekerjaan. Apa yang saya dapat? Karakter fisik simpatik Ganjar Pranowo, sekertaris Fraksi PDIP yang belakangan ini sering tampil di televisi. Bahkan Mas Agus setuju bahwa dia ganteng:-) Tapi bukan berarti kami simpatisan partai berlambang kepala banteng itu, lho:p
sumber foto: www.dpr.go.id

 "Pasti coklat," tebak seorang sahabat, yang menginap di rumah kami, penuh keyakinan saat saya ngemil beng-beng usai makan. Saya nyengir sementara ia sendiri...makan jelly.
Biarpun gigi tidak karuan dan sempat vakum ngunyah coklat selama setahun sejak Ibu wafat, saya tetap gemar makanan manis ini. Lagi deadline, lagi PMS, coklat adalah penganan wajib.
Pagi ini saya mencoba kerja dan..jdar! Laptop kena oleh-oleh virus dari sebuah file Word. Sambil nunggu scan selesai, saya minum jus sayuran. Jangan tanya deh rasanya..tapi ditutup dengan sekotak coklat. Sedapnya.. 
 Judulnya kayak kolom koran gini, ya?:) Setelah berkali-kali mengalami permintaan revisi dalam perjalanan kepenulisan saya, baru sekarang dapat menikmati dan melihat garis perak di balik awan (mengutip dialog Stuart Little 2). Saya memperoleh bimbingan yang sangat terperinci, tidak remang-remang, dari seorang penulis berjam terbang tinggi dan sangat 'handap asor' (low profile versi Sunda). Kritiknya jauh dari meminderkan saya yang masih baru ini.
Dari beliau, saya belajar terminologi baru: logika miring. Suatu kejutan dalam alur cerita, reaksi tak diduga, kata-kata yang tak terpikirkan sehingga orang yang menyimak terus didorong rasa penasaran. Masih dengan bijaknya, beliau mengatakan perihal cerita yang tidak bergerak alias masih berformat dialog biasa di sana-sini. Saya membaca berulangkali, untuk memahaminya.
Saya akan terus berusaha dan terus belajar. Semoga.
sumber foto: sxc.hu 
 ..daripada menyelesaikan revisi. Inilah yang bikin mutung kemarin, khawatir listrik mati sampai malam. Membayangkan dan coret-coret, tak bisa karena baru print satu materi.
Listrik nyala, konsentrasi sudah buyar lantaran Dynabook mendadak tak mau detect USB. Oprek-oprek sampai capek..tidur deh. Alhamdulillah 19 halaman rampung pagi ini, pukul 9.30.
Biasanya saya ngempi dulu baru kerja, dengan alasan pemanasan..sekarang dibalik. Ngempi sebagai insentif kerja, hehehe..
sumber foto: sxc.hu 
Dua minggu sudah berpisah dengan koneksi Internet, dan meminimalisir tatap muka dengan layar komputer kecuali benar-benar perlu..hasilnya?? Berat badan sepertinya meningkat, hihihi..nggak nyambung amat ya.
Saya sudah mencapai sejauh ini:
- Naskah fiksi remaja kira-kira 60 halaman (lupa tepatnya, udah ditinggal beberapa hari)
- Naskah non fiksi 100-an halaman, dan penerbit memberikan komentar cepat bin lengkap (asyiknya!
) untuk..direvisi Lumayan deh, mengingat jam terbang yang lebih banyak berurusan dengan kasur (tidur, nonton TV, baca, dan sakit) serta bercabang-cabang pikiran kepada suami yang sakit (gantian pula), kakak yang ngidam super parah, ibu yang juga anjlok kondisinya.. dan aneka rupa permasalahan yang cukup meriah.
Alhamdulillah.
Seminggu lebih saya memikirkan dua ide yang hendak dituangkan ke dalam naskah novel. Keduanya sudah dijadikan outline. Payahnya, mereka seperti berantem di otak saya ingin dikembangkan lebih dahulu.
Setelah lama gebuk-gebukan, saya berpikir untuk mengkombinasi keduanya. Tapi sangat tidak nyambung dan sama-sama bercabang banyak. Bisa-bisa naskahnya nggak pernah selesai, sedangkan waktu berjalan terus.
Maka saya tuliskan yang satu. Sudah sampai halaman ke-16. Enak deh, nggak pake itung halaman melulu. Hanya siang ini terinterupsi suatu kejadian tak menyenangkan yang mengubah mood seketika jadi sedih. Kabur dulu, aaah..
 Pagi ini, saya ambruk. Sakit kepala, batuk-batuk, dan demam. Tidak begitu mencemaskan karena masih punya selera makan. Memang sudah dua malam saya tak dapat tidur. Entah 'ketularan' keponakan yang telepon dan cerita bahwa dia stres berat, padahal saya rasanya tidak sedang banyak pikiran.
Sejak kemarin mata sudah pedas dan badan pegal-pegal. Mas Agus sudah terkapar duluan. Saya malah berpikir keras merevisi sebuah naskah novel sampai sore. Sempat tergoda untuk menyerah saja, tapi saya melawannya. Jangan sampai naskah yang ditulis susah payah itu berakhir di Recycle Bin. Alhamdulillah, usai revisi saya dapat mengirimkan outline kepada penerbit. Mudah-mudahan bersesuaian.
Setelah Mas Agus berangkat, saya lelap sampai siang. Dininabobokkan oleh suara degung dan kawih dari acara pernikahan di kampung sebelah. Langit gelap tapi tidak hujan, hanya ditingkahi suara jangkrik. Karena bosan harus berbaring terus, saya membaca. Lumayan untuk mengurangi utang.
Mendengar hebohnya acara sawer di pernikahankampung tetangga itu, saya ingat pada mimpi yang mengganggu tidur saya dua malam berturut-turut. Mimpi itu berkaitan dengan outline sebuah novel yang sudah hampir sebulan menganggur saja. Semakin banyak membaca, semakin ingin meneruskan nulis.
sumber foto: sxc.hu 
Seorang gadis remaja yang sedang mengendarai motor tertabrak sebuah mobil. Disinyalir pengemudi mobil tersebut tengah membaca SMS dan tidak melihat adanya si gadis di depan. Korban kecelakaan tersebut adalah keponakan saya.
Banyak peristiwa mengenaskan terjadi sehubungan dengan penggunaan ponsel yang tidak pada tempatnya. Salah satunya, yang pernah saya saksikan, adalah penjambretan ponsel tatkala si empunya berhaha-hihi sambil teleponan di pinggir jalan. Itulah sekelumit sisi 'seram' dalam dunia selular yang mengasyikkan, saat saya sedang getol-getolnya mengikuti tren (dengan penyesuaian kantong yang rada-rada maksa). Ponsel 'canggih' saya terakhir, Siemens M55 sampai teler karena saya jadikan barang percobaan. Tes kecepatan GPRS, ulik-ulik ringtone, dan entah berapa kali ganti casing.
Tahun 2005 adalah puncak 'kegilaan' tersebut. Nongkrong di warnet subuh dan tengah malam, aktif di forumponsel, berbalas posting di milis ponsel, belum lagi dana mengalir untuk sejumlah bacaan yang relevan. Puas memang berbagi ilmu, bahkan jadi rujukan harga pasar setiap kali saudara dan keponakan hendak membeli ponsel baru. Pernah juga jadi tukang reparasi amatiran, mulai dari ngeset koneksi GPRS sampai mencarikan PUK operator tertentu.
Hobi yang lumayan bikin kantong bolong (meski cukup bermanfaat) itu disalurkan dalam sebuah naskah. Jalannya terjal dan berliku. Ditolak sebuah penerbit, kemudian saya ajukan ke penerbit lain dan tiada kabar selama 9 bulan. Setelah berhasil mengontak pihak redaksinya untuk menarik naskah itu, ia meminta dikirim ulang dan membacanya dalam 5 hari. Hasilnya menggembirakan, tetapi memang belum jodoh rupanya..banyak kendala, termasuk kesulitan finansial, yang menyebabkan naskah ini mengendap selama setahun lebih.
Dengan komunikasi intensif, editornya berbaik hati menyerahkan kembali sang naskah tanpa menuntut penggantian apa pun meski sudah disetting dan dibuatkan cover. Apa yang terjadi benar-benar di luar kekuasaan kami semua. Saya baru saja berbincang-bincang dengan manajer redaksi Akar Media dan beliau berkenan meninjau naskah tersebut. Tanpa menunggu lagi, saya kirimkan langsung ke emailnya. Revisi telah dilakukan pada beberapa bagian agar tetap up to date, misalnya membahas CDMA dan Ring Back Tone. Juga sedikit menyenggol 3G. Yang penting, suguhan buku ini diperuntukkan semua kalangan. Tidak teknis, malah sangat umum. Saya menyisipkan masalah privacy dalam penggunaan ponsel, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pengemudi, dan persoalan yang kerap dikeluhkan seperti layanan pascabayar, etika ponsel dalam berbisnis, borosnya pulsa karena SMS dan membawa ponsel ke tempat service.
Hanya dalam hitungan hari, Akar Media menyatakan acc. Ketika saya menanyakan, naskah sedang disetting. Saya berlega hati karena judulnya yang dulu standar banget telah diubah sesuai harapan. Singkatnya waktu menyebabkan profil tak sempat direvisi, begitu pula ucapan terima kasih dan contoh-contoh ponsel yang disebut dalam beberapa kasus. Namun seperti kata Mas Agus, "Biarin aja ponselnya jadul, kan di sub judulnya nggak bikin kantong kempes."
  Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha menerjemahkan sebaik mungkin. Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi ZonaRawan, Jones' Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar aliterasinya utuh, dan ' wd like 2 c my band m'bers agn menjadi inginbtm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa. Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama. Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu. Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng. Hal-hal seperti ini terkesan 'sepele' tetapi merupakan bekal penting di kemudian hari. 
 Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit, mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun hanya sekilas, dari milis Apsas. Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor, saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8 (teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut: Hari Senin diguyur hujanAir menggenang di semua saluranSelasa, angin sungguh kencangMematahkan cabang-cabang Persoalan lain timbul kala saya menghadapi clerihew (halaman 12). Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling. Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa 'naked' diterjemahkan 'hanya pakai baju dalam'. Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini. Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti ' Kucingkuning berkeliling di tanah kering' (halaman 20). Alhamdulillah, koreksi editor di buku ini hampir tidak ada. 
 Inilah buku yang paling cocok dikonsumsi orang dewasa, selain anak-anak. Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi: mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur cerita. Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex, nama seorang klien yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu. Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal klien saya jauh lebih muda:p  Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa ' Kenneth Grahame's gentle,friendly Reluctant Dragon.' Konteksnya simbol hewan dengan karakter berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang familiar bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan 'kera yangsakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti'. Sebelumnya saya mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu. 
 Pekerjaan ini saya dapatkan 'tidak sengaja'. Mbak Andar dari penerbit Tiga Serangkai memposting lowongan freelance di milis bahtera. Tadinya saya pikir, akan kalah saing dengan para ahli bahasa senior di sana. Alhamdulillah, Mbak Andar menanggapi email saya. Setelah bincang-bincang singkat, termasuk kesanggupan menerima materi dalam format PDF dan kecocokan jadwal, saya memulai tugas ini. Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat. Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu. Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya, sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya. Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru, meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga. Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26). Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah Anda menebak isi surat di bawah ini? Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolongtak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumahseminggu, ke sumur!Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu. 
 | ACC | Mar 17, '08 8:23 PM for everyone |
 Saya punya kebiasaan buruk yang sangat dianjurkan untuk tidak ditiru, yakni melempar gagasan iseng. Maksudnya, saya berbicara dengan penerbit perihal suatu ide baru dan menanyakan pendapat editor mengenai kelayakan terbitnya. Kemudian disetujui, padahal satu kata pun belum saya tuliskan. Tetapi tentu saja saya jujur kepada sang editor bahwa ide itu baru saja lahir dan belum diwujudkan dalam bentuk naskah.
Menghilangkan kebiasaan ini tidak mudah, terlebih dengan adanya sang editor alias manajer redaksi yang sangat sabar dan penuh pengertian. Perlahan-lahan saya mencoba mengubahnya, misalnya membahas ide saat sudah menuliskan judul, satu halaman, atau mengumpulkan setengah bahan. Proses acc 'di udara' ini masih berlangsung, alhamdulillah beliau mempercayai kemampuan saya.
Terima kasih kepada seorang sahabat, copy editor dan layouter di Jakarta, yang bersedia meminjamkan suatu terminologi rumusannya untuk dijadikan judul.
sumber foto: sxc.hu 
 Tidur disisipi mimpi adalah hal yang paling tidak saya inginkan, baik saat tidur siang maupun malam hari. Tidak terbayangkan perasaan Stephen King ketika memimpikan calon naskah Misery dalam pesawat terbang. Tak heran bila ia langsung menuliskan 50 halaman pertama di bandara. Saya tengah menyiapkan sebuah outline novel untuk 'dewasa' (baca: bukan teenlit). Karena belum sempat juga mencicilnya, walau sudah dapat judul, setiap hari saya mengarang terusan cerita dalam kepala. Maka setiap hari pula, outline itu bertambah panjang. Ini sesuatu yang belum pernah terjadi, karena biasanya saya tak menggunakan outline yang begitu rinci. Outline belum dieksekusi karena saya memprioritaskan suatu pekerjaan. Lagipula saya disibukkan kekhawatiran mengenai penerbit yang bersedia menerima naskah itu kelak karena kebanyakan sekarang ini mengutamakan teenlit humor. Namun, lagi-lagi dari pengalaman Stephen King, saya diingatkan untuk menikmati saja proses menulisnya dan memikirkan penerbit kemudian. Kesadaran ini terbit setelah membaca buku Memahat Kata Memugar Dunia yang disusun Mbak Ary Nilandari. Ide yang mengendap itu bermain ke wilayah mimpi. Sudah dua hari saya bermimpi aneh dan ada hubungannya dengan tema novel tersebut. Dua malam yang lalu, mimpi itu murni dan cukup singkat karena orang-orang di dalamnya sudah lama tak saya jumpai. Tetapi yang semalam benar-benar melelahkan, barangkali tercampur tontonan horor di Trans 7. Filmnya tidak bagus-bagus amat namun sangat tegang dan mengangkat gagasan unik: putri duyung bukan makhluk cantik dan lembut seperti dalam dongeng, melainkan monster. Bangun pagi ini, badan seperti dihajar godam. Mengutip ucapan Shinchan di salah satu volume komiknya, 'seperti dipukuli Mike Tyson selama 3 hari'. Mungkin sang ilham sudah minta dituangkan, agar mimpi-mimpi ini tak berkelanjutan. Toh proyek terjemahan sudah 50 persen selesai. foto: hasil capture DVD Crayon Shinchan: The Movie 
 Risiko tinggal di kaki gunung berhutan adalah berbagi ruang dengan makhluk hidup lainnya, termasuk merpati-merpati peliharaan tetangga. Mereka sering megat-megot masuk ke dalam rumah sejak kami kerap memberi makan dengan nasi sisa kemarin. Kadang-kadang ada yang menemani saya mencuci piring sambil mematuk-matuk butiran nasi di lantai dapur.
Kemarin pun demikian. Saya sedang memusatkan perhatian pada naskah terjemahan ketika terdengar langkah kaki yang tidak asing lagi di belakang. Tidak masalah meski saya harus mengawasi kalau-kalau para burung ini pup dan kena cucian yang tengah dijemur. Mas Agus pernah menggoda pemiliknya, "Japati abus ka imah, yeuh. Peuncit wae?" (Merpati masuk ke rumah, nih. Sembelih aja?) Tetangga kami menjawab dengan tawa.
Burung-burung itu berkeliaran dengan centilnya (dengan suara yang menurut Mas Agus 'lagi pacaran') di belakang dan halaman. Lucu juga sih, bikin saya makin menjiwai cerita anak di depan mata. Namun begitu satu kaki mereka menginjak ubin dalam rumah, saya menghentakkan kaki dan para merpati beterbangan menjauh.
Foto di sebelah ini diambil beberapa minggu lalu. Tetapi si merpati berbulu coklat sudah nongol di ambang pintu, mengucapkan selamat pagi kepada kami. Mungkin juga mencari-cari butiran nasi yang biasa disebarkan sebagai sarapan. 
 Selain mengenal penulis yang terbuka terhadap masukan, kebahagiaan seorang penerjemah/penyunting adalah mendapati materi berupa naskah yang berbobot. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya ketika kesempatan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris hinggap ke pangkuan kali ini.
Jantung saya berdetak keras mendapati cerpen karya seorang penulis senior, yang juga editor dan penerjemah dengan jam terbang tinggi. Sungguh memalukan kalau saya sampai terpeleset menggarap buah pena penulis favorit satu ini. Karena beliau memang enak diajak diskusi, saya meneleponnya untuk menanyakan beberapa hal dalam cerpen tersebut guna mencocokkan pemahaman. Misalnya apakah karakter xxxx (sensor ah:p) laki-laki atau perempuan?
Seperti dikatakan seorang editor dalam buku Menjadi Penerbit, terasa sekali bedanya membaca dan 'membaca'. Namun saya mengerjakan terjemahan cerpen ini dengan bahagia. Bahasanya komunikatif, ceritanya berupa petualangan yang sangat unik (tak terpikirkan oleh saya untuk mengembangkan ide yang sebenarnya demikian dekat dengan keseharian ke dalam cerita anak), dan beberapa bagian menantang kreativitas saya berimprovisasi tanpa merusak bangunan asli karya beliau. Jadi teringat saat menerjemahkan seri How to Write kemarin.
Sungguh memuaskan memperoleh pembelajaran dari sebuah cerpen yang bermutu. Saya benar-benar bersyukur.
sumber foto: sxc.hu 
 Jika pekerjaan hanya dipandangi, didiamkan sambil berpikir sekalipun, yang saya alami adalah munculnya ide-ide yang tidak ada kaitan dengan kerjaan itu sama sekali. Makin dipikirin, makin banyak dan makin nggak nyambung. Maka harus dicatat atau bahkan 'lari' sejenak ke situ supaya kerjaan 'pokok' (baca: yang mesti cepat selesai) tidak terganggu.
Saat merevisi tulisan sekarang ini, ngobrol bisa terasa menyegarkan sekali. Tentu saja yang diomongin tidak ada hubungannya dengan apa yang ada dalam naskah. Mas Agus bercerita tentang suatu hari saat ia masih ikut kakaknya di proyek pengerasan jalan dan bertugas membagikan upah pekerja. Kakang kami itu mengulurkan daftar yang cukup panjang. "Ini pecat, ini pecat, ini pecat.." Kebayang deh masygulnya perasaan Mas Agus.
Kalo keponakan yang bertugas menyusun daftar gaji di kantornya malah lain cerita. "Aku jadi tahu si A gajinya berapa, si B utangnya berapa..malah ada yang minus!"
sumber foto: sxc.hu 
 Penyanyi pop Sunda satu ini merupakan favorit saya dan Mas Agus. Makanya seneng banget ketika tetangga seberang memutar kasetnya, bukan lagu-lagu cengeng tahun 80-an kesukaan beliau. Sambil menikmati kicau burung liar yang mulai sering muncul di hari paling dingin sekalipun, saya senyum-senyum mendengar bocah tetangga ikutan nyanyi, "Boga kabogoh jauh, meuntas laut meuntas gunung.. tapi apel teu bingung, cukup halow na telepon.."
Rupanya 'terapi' ini ngaruh. Walaupun perut baru diisi cemilan dan teh manis, otak mulai bereaksi terhadap revisi. Dapet deh beberapa kalimat. Kalo awalnya udah lancar, insyaAllah ke sana-sananya juga ngalir.
Saya juga sedang nantang diri sendiri. Biarpun pintu terpentang lebar, berlatih nggak langsung pake baju hangat. Ntar deh, kalo udah bener-bener dingin.
Yok, moles naskah lagi..!
sumber foto: sxc.hu 
 Setelah mendapat pengarahan lanjutan dari editor, ternyata naskah novel saya kemarin perlu revisi mayor. Tak ada yang dibuang, tapi mesti ditambahkan rasa lain. Ibarat bangun rumah, yang tadinya nggak tingkat kini diteruskan ke lantai dua. Tentu dengan memperhatikan pondasi, bahan yang cukup, dan desain yang tidak merusak konsep awal.
Kemarin-marin sudah mulai membaca naskah rujukan, termasuk buku sejenis yang ada di rak buat ngorek-ngorek ide. Semoga bisa diselesaikan sebelum si deadline melambaikan kapaknya di ujung sana.
Terima kasih buat tiga anggota geng kompor mledug: Kang Iwok, Nunik, Dedew, dan satu anggota luar biasa (tengah dipertimbangkan untuk menjadi penasihat): Mbak Ai.
sumber foto: sxc.hu 
 Posting ini sebenarnya terlambat. Saya telah menyelesaikan novel remaja yang digeber sejak Sabtu malam pada hari Senin sore sekitar jam empat. Langsung kirim ke email editor dan SMS beliau. Lalu besoknya..juntay. Laptop baru nyala lagi tadi pagi. Tepatnya siang, setelah urusan domestik kelar.
Fyuh..lega banget menaklukkan 'fobia 100 halaman' beberapa hari sebelum tenggat waktu. Bahkan karena nggak pede, saya sempat meminta perpanjangan untuk antisipasi selama seminggu dan editor yang baik hati itu memperkenankannya. Gimana nggak keder..bahkan jadwal terbitnya sudah ditentukan.
Tapi senang bukan main, deh. Merampungkan proyek ini berarti mengalahkan diri sendiri. Yang ngeri nulis fiksi, ngeri nulis buat remaja, ngedadak jadi 'perfeksionis', takut dialognya kayak sinetron sampai nulis satu halaman aja bisa makan waktu setengah hari..ditambah liku-liku yang mendebarkan: sakit cukup lama dan dua kali ambruknya, Mas Agus kecelakaan, Mas Agus rematiknya kambuh, serta sedikit persiapan acara keluarga. Masih diselingi telepon-telepon keponakan yang melorot prestasi belajarnya, atau malah malam-malam nanya, "Tante, solusi pemanasan global apakah gerangan?"
Hahhhhh..tarik nafas panjang. Baru kerasa pegel-pegelnya. Alhamdulillah, meski begadang tiga hari berturut-turut, nggak sampe parah teparnya dengan jurus makan sayur. Mendadak jadi vegetarian, deh:p Mata yang sempet sakit untuk dibuka sekali pun tertolong oleh jus wortel. Yihaaa!
Senin malam, kesantaian sudah ternikmati. Nggak merasa 'bersalah' lagi melewatkan dua jam untuk nonton film di TV. Kemarin malam malah bisa ketawa bareng Mas Agus waktu nonton Death Becomes Her. Banyak tidur, banyak makan, baca-baca..
Hari ini mulai aktivitas ringan. Bantu nerjemahin materi kerja Mas Agus, oret-oret konsep tulisan. Tapi masih pemanasan:-)
sumber foto: sxc.hu 
| |