Rini's posts with tag: proses kreatif

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag proses kreatif
Blog EntryGanjar PranowoJul 17, '08 8:17 AM
for everyone

Kemampuan berimajinasi saya dalam mendeksripsikan fisik suatu karakter
dalam fiksi terbilang lemah. Jika merujuk pada orang-orang yang pernah
dikenal, maka referensinya akan 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi). Maka saya
menggunakan sosok yang berseliweran di media, tentu sesuai preferensi
pribadi.

Wilayah minat saya dalam hal ini, khususnya karakter pria, terfokus
pada mereka yang sangat Timur (apa ya istilahnya? Tak begitu paham
dengan Kaukasia dan ras-ras). Jarang sekali saya menggambarkan pria
atau wanita berdarah Barat, baik indo maupun murni. Yang paling sering
dijadikan objek adalah aktor-aktor Korea, hahaha.. Salah satunya Jo In
Sung, yang dengan 'agak terpaksa' dipinjam ciri fisiknya untuk sebuah
cerpen berjudul Hitam Manis dalam kumcer Sahabat.

Bila sedang iseng, saya menjumput paras lokal dari tayangan TV. Ini
sangat sulit karena para pemain sinetron remaja, misalnya, tampak
serupa dengan potongan rambut dan gaya berpakaian mereka. Puncak
keisengan adalah 'meminjam' Gary
Iskak (buka kartu nih, Mbak Leila). Saking insidentilnya, saya tidak
ingat untuk karya fiksi mana dia ditempatkan.

Belakangan, saya kerap menemani Mas Agus nonton TV. Tindakan yang
sungguh kontra produktif ini dicoba-relevankan dengan pekerjaan. Apa
yang saya dapat? Karakter fisik simpatik Ganjar Pranowo, sekertaris
Fraksi PDIP yang belakangan ini sering tampil di televisi. Bahkan Mas
Agus setuju bahwa dia ganteng:-) Tapi bukan berarti kami simpatisan
partai berlambang kepala banteng itu, lho:p

sumber foto: www.dpr.go.id


Blog EntryDu Chocolat..Mon CopainJul 6, '08 1:04 AM
for everyone
"Pasti coklat," tebak seorang sahabat, yang menginap di rumah kami,
penuh keyakinan saat saya ngemil beng-beng usai makan. Saya nyengir
sementara ia sendiri...makan jelly.

Biarpun gigi tidak karuan dan sempat vakum ngunyah coklat selama
setahun sejak Ibu wafat, saya tetap gemar makanan manis ini. Lagi
deadline, lagi PMS, coklat adalah penganan wajib.

Pagi ini saya mencoba kerja dan..jdar! Laptop kena oleh-oleh virus
dari sebuah file Word. Sambil nunggu scan selesai, saya minum jus
sayuran. Jangan tanya deh rasanya..tapi ditutup dengan sekotak coklat.
Sedapnya..


Blog EntryRevisi adalah Mata Rantai Proses BelajarJun 26, '08 7:19 AM
for everyone
Judulnya kayak kolom koran gini, ya?:)
Setelah berkali-kali mengalami permintaan revisi dalam perjalanan
kepenulisan saya, baru sekarang dapat menikmati dan melihat garis
perak di balik awan (mengutip dialog Stuart Little 2). Saya memperoleh
bimbingan yang sangat terperinci, tidak remang-remang, dari seorang
penulis berjam terbang tinggi dan sangat 'handap asor' (low profile
versi Sunda). Kritiknya jauh dari meminderkan saya yang masih baru
ini.

Dari beliau, saya belajar terminologi baru: logika miring. Suatu
kejutan dalam alur cerita, reaksi tak diduga, kata-kata yang tak
terpikirkan sehingga orang yang menyimak terus didorong rasa
penasaran. Masih dengan bijaknya, beliau mengatakan perihal cerita
yang tidak bergerak alias masih berformat dialog biasa di sana-sini.
Saya membaca berulangkali, untuk memahaminya.

Saya akan terus berusaha dan terus belajar. Semoga.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryTak Ada yang Lebih Melegakan..Jun 26, '08 6:18 AM
for everyone
..daripada menyelesaikan revisi. Inilah yang bikin mutung kemarin,
khawatir listrik mati sampai malam. Membayangkan dan coret-coret, tak
bisa karena baru print satu materi.

Listrik nyala, konsentrasi sudah buyar lantaran Dynabook mendadak tak
mau detect USB. Oprek-oprek sampai capek..tidur deh.
Alhamdulillah 19 halaman rampung pagi ini, pukul 9.30.

Biasanya saya ngempi dulu baru kerja, dengan alasan
pemanasan..sekarang dibalik. Ngempi sebagai insentif kerja, hehehe..


sumber foto: sxc.hu


Blog EntryHasil Bertapa Jun 6, '08 4:15 AM
for everyone
Dua minggu sudah berpisah dengan koneksi Internet, dan meminimalisir tatap muka dengan layar komputer kecuali benar-benar perlu..hasilnya??
Berat badan sepertinya meningkat, hihihi..nggak nyambung amat ya.

Saya sudah mencapai sejauh ini:
  1. Naskah fiksi remaja kira-kira 60 halaman (lupa tepatnya, udah ditinggal beberapa hari)
  2. Naskah non fiksi 100-an halaman, dan penerbit memberikan komentar cepat bin lengkap (asyiknya!) untuk..direvisi
Lumayan deh, mengingat jam terbang yang lebih banyak berurusan dengan kasur (tidur, nonton TV, baca, dan sakit) serta bercabang-cabang pikiran kepada suami yang sakit (gantian pula), kakak yang ngidam super parah, ibu yang juga anjlok kondisinya.. dan aneka rupa permasalahan yang cukup meriah.

Alhamdulillah.


Blog EntryDua Cerita Tarik MenarikMay 17, '08 3:15 AM
for everyone
Seminggu lebih saya memikirkan dua ide yang hendak dituangkan ke dalam naskah novel. Keduanya sudah dijadikan outline. Payahnya, mereka seperti berantem di otak saya ingin dikembangkan lebih dahulu.

Setelah lama gebuk-gebukan, saya berpikir untuk mengkombinasi keduanya. Tapi sangat tidak nyambung dan sama-sama bercabang banyak. Bisa-bisa naskahnya nggak pernah selesai, sedangkan waktu berjalan terus.

Maka saya tuliskan yang satu. Sudah sampai halaman ke-16. Enak deh, nggak pake itung halaman melulu. Hanya siang ini terinterupsi suatu kejadian tak menyenangkan yang mengubah mood seketika jadi sedih. Kabur dulu, aaah..

Blog EntryHari Membaca NasionalApr 24, '08 11:49 PM
for everyone
Pagi ini, saya ambruk. Sakit kepala, batuk-batuk, dan demam. Tidak
begitu mencemaskan karena masih punya selera makan. Memang sudah dua
malam saya tak dapat tidur. Entah 'ketularan' keponakan yang telepon
dan cerita bahwa dia stres berat, padahal saya rasanya tidak sedang
banyak pikiran.

Sejak kemarin mata sudah pedas dan badan pegal-pegal. Mas Agus sudah
terkapar duluan. Saya malah berpikir keras merevisi sebuah naskah
novel sampai sore. Sempat tergoda untuk menyerah saja, tapi saya
melawannya. Jangan sampai naskah yang ditulis susah payah itu berakhir
di Recycle Bin. Alhamdulillah, usai revisi saya dapat mengirimkan
outline kepada penerbit. Mudah-mudahan bersesuaian.

Setelah Mas Agus berangkat, saya lelap sampai siang. Dininabobokkan
oleh suara degung dan kawih dari acara pernikahan di kampung sebelah.
Langit gelap tapi tidak hujan, hanya ditingkahi suara jangkrik. Karena
bosan harus berbaring terus, saya membaca. Lumayan untuk mengurangi
utang.

Mendengar hebohnya acara sawer di pernikahankampung tetangga itu, saya ingat pada
mimpi yang mengganggu tidur saya dua malam berturut-turut. Mimpi itu
berkaitan dengan outline sebuah novel yang sudah hampir sebulan
menganggur saja. Semakin banyak membaca, semakin ingin meneruskan
nulis.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryProses Kelahiran Buku Tips Nyaman Berponsel RiaMar 20, '08 3:58 AM
for everyone
Seorang gadis remaja yang sedang mengendarai motor tertabrak sebuah mobil. Disinyalir pengemudi mobil tersebut tengah membaca SMS dan tidak melihat adanya si gadis di depan.
Korban kecelakaan tersebut adalah keponakan saya.

Banyak peristiwa mengenaskan terjadi sehubungan dengan penggunaan ponsel yang tidak pada tempatnya. Salah satunya, yang pernah saya saksikan, adalah penjambretan ponsel tatkala si empunya berhaha-hihi sambil teleponan di pinggir jalan. Itulah sekelumit sisi 'seram' dalam dunia selular yang mengasyikkan, saat saya sedang getol-getolnya mengikuti tren (dengan penyesuaian kantong yang rada-rada maksa). Ponsel 'canggih' saya terakhir, Siemens M55 sampai teler karena saya jadikan barang percobaan. Tes kecepatan GPRS, ulik-ulik ringtone, dan entah berapa kali ganti casing.

Tahun 2005 adalah puncak 'kegilaan' tersebut. Nongkrong di warnet subuh dan tengah malam, aktif di forumponsel, berbalas posting di milis ponsel, belum lagi dana mengalir untuk sejumlah bacaan yang relevan. Puas memang berbagi ilmu, bahkan jadi rujukan harga pasar setiap kali saudara dan keponakan hendak membeli ponsel baru. Pernah juga jadi tukang reparasi amatiran, mulai dari ngeset koneksi GPRS sampai mencarikan PUK operator tertentu.

Hobi yang lumayan bikin kantong bolong (meski cukup bermanfaat) itu disalurkan dalam sebuah naskah. Jalannya terjal dan berliku. Ditolak sebuah penerbit, kemudian saya ajukan ke penerbit lain dan tiada kabar selama 9 bulan. Setelah berhasil mengontak pihak redaksinya untuk menarik naskah itu, ia meminta dikirim ulang dan membacanya dalam 5 hari. Hasilnya menggembirakan, tetapi memang belum jodoh rupanya..banyak kendala, termasuk kesulitan finansial, yang menyebabkan naskah ini mengendap selama setahun lebih.

Dengan komunikasi intensif, editornya berbaik hati menyerahkan kembali sang naskah tanpa menuntut penggantian apa pun meski sudah disetting dan dibuatkan cover. Apa yang terjadi benar-benar di luar kekuasaan kami semua. Saya baru saja berbincang-bincang dengan manajer redaksi Akar Media dan beliau berkenan meninjau naskah tersebut. Tanpa menunggu lagi, saya kirimkan langsung ke emailnya. Revisi telah dilakukan pada beberapa bagian agar tetap up to date, misalnya membahas CDMA dan Ring Back Tone. Juga sedikit menyenggol 3G. Yang penting, suguhan buku ini diperuntukkan semua kalangan. Tidak teknis, malah sangat umum. Saya menyisipkan masalah privacy dalam penggunaan ponsel, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pengemudi, dan persoalan yang kerap dikeluhkan seperti layanan pascabayar, etika ponsel dalam berbisnis, borosnya pulsa karena SMS dan membawa ponsel ke tempat service.

Hanya dalam hitungan hari, Akar Media menyatakan acc. Ketika saya menanyakan, naskah sedang disetting. Saya berlega hati karena judulnya yang dulu standar banget telah diubah sesuai harapan. Singkatnya waktu menyebabkan profil tak sempat direvisi, begitu pula ucapan terima kasih dan contoh-contoh ponsel yang disebut dalam beberapa kasus. Namun seperti kata Mas Agus, "Biarin aja ponselnya jadul, kan di sub judulnya nggak bikin kantong kempes."






Blog EntrySaat Menerjemahkan Asyiknya Menulis LaporanMar 18, '08 10:30 AM
for everyone
Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap
mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau
laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha
menerjemahkan sebaik mungkin.

Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya
menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi
mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi Zona
Rawan, Jones' Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar
aliterasinya utuh, dan 'wd like 2 c my band m'bers agn menjadi ingin
btm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa.

Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama.
Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar
aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi
Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu.
Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng.
Hal-hal seperti ini terkesan 'sepele' tetapi merupakan bekal penting
di kemudian hari.


Blog EntryKisah Penerjemahan Asyiknya Menulis PuisiMar 18, '08 10:29 AM
for everyone
Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar 'baru' bagi
saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut
ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit,
mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun
hanya sekilas, dari milis Apsas.

Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor,
saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka
saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8
(teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi
unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari
dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut:

Hari Senin diguyur hujan
Air menggenang di semua saluran

Selasa, angin sungguh kencang
Mematahkan cabang-cabang

Persoalan lain timbul kala saya menghadapi clerihew (halaman 12).
Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling.
Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi
jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh
tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan
berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling
ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu
kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa 'naked' diterjemahkan
'hanya pakai baju dalam'.

Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini.
Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti 'Kucing
kuning berkeliling di tanah kering' (halaman 20).

Alhamdulillah, koreksi editor di buku ini hampir tidak ada.


Blog EntryDapur Terjemahan Asyiknya Menulis CeritaMar 18, '08 10:29 AM
for everyone
Inilah buku yang paling cocok dikonsumsi orang dewasa, selain
anak-anak. Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain
tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi:
mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur
cerita.

Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai
sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya
mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex,
nama seorang klien yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu.
Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal klien saya jauh lebih muda:p


Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa 'Kenneth Grahame's gentle,
friendly Reluctant Dragon.' Konteksnya simbol hewan dengan karakter
berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang
familiar bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan 'kera yang
sakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti'. Sebelumnya saya
mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu.





Pekerjaan ini saya dapatkan 'tidak sengaja'. Mbak Andar dari penerbit
Tiga Serangkai
memposting lowongan freelance di milis bahtera. Tadinya
saya pikir, akan kalah saing dengan para ahli bahasa senior di sana.
Alhamdulillah, Mbak Andar menanggapi email saya. Setelah
bincang-bincang singkat, termasuk kesanggupan menerima materi dalam
format PDF dan kecocokan jadwal, saya memulai tugas ini.

Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat.
Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya
ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi
untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu.

Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa
mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan
sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer
grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya,
sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal
bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca
Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya.

Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru,
meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku
ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat
formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang
kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga.

Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26).
Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah
Anda menebak isi surat di bawah ini?

Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolong
tak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumah
seminggu, ke sumur!

Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan
anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu.


Blog EntryACCMar 17, '08 8:23 PM
for everyone
Saya punya kebiasaan buruk yang sangat dianjurkan untuk tidak ditiru,
yakni melempar gagasan iseng. Maksudnya, saya berbicara dengan
penerbit perihal suatu ide baru dan menanyakan pendapat editor
mengenai kelayakan terbitnya. Kemudian disetujui, padahal satu kata
pun belum saya tuliskan. Tetapi tentu saja saya jujur kepada sang
editor bahwa ide itu baru saja lahir dan belum diwujudkan dalam bentuk
naskah.

Menghilangkan kebiasaan ini tidak mudah, terlebih dengan adanya sang
editor alias manajer redaksi yang sangat sabar dan penuh pengertian.
Perlahan-lahan saya mencoba mengubahnya, misalnya membahas ide saat
sudah menuliskan judul, satu halaman, atau mengumpulkan setengah
bahan. Proses acc 'di udara' ini masih berlangsung, alhamdulillah
beliau mempercayai kemampuan saya.

Terima kasih kepada seorang sahabat, copy editor dan layouter di
Jakarta, yang bersedia meminjamkan suatu terminologi rumusannya untuk
dijadikan judul.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryIlham dalam MimpiMar 17, '08 8:23 PM
for everyone
Tidur disisipi mimpi adalah hal yang paling tidak saya inginkan, baik
saat tidur siang maupun malam hari. Tidak terbayangkan perasaan
Stephen King ketika memimpikan calon naskah Misery dalam pesawat
terbang. Tak heran bila ia langsung menuliskan 50 halaman pertama di
bandara.

Saya tengah menyiapkan sebuah outline novel untuk 'dewasa' (baca:
bukan teenlit). Karena belum sempat juga mencicilnya, walau sudah
dapat judul, setiap hari saya mengarang terusan cerita dalam kepala.
Maka setiap hari pula, outline itu bertambah panjang. Ini sesuatu yang
belum pernah terjadi, karena biasanya saya tak menggunakan outline
yang begitu rinci.

Outline belum dieksekusi karena saya memprioritaskan
suatu pekerjaan. Lagipula saya disibukkan kekhawatiran mengenai
penerbit yang bersedia menerima naskah itu kelak karena kebanyakan
sekarang ini mengutamakan teenlit humor. Namun, lagi-lagi dari
pengalaman Stephen King, saya diingatkan untuk menikmati saja proses
menulisnya dan memikirkan penerbit kemudian. Kesadaran ini terbit
setelah membaca buku Memahat Kata Memugar Dunia yang disusun Mbak Ary
Nilandari
.

Ide yang mengendap itu bermain ke wilayah mimpi. Sudah dua hari saya
bermimpi aneh dan ada hubungannya dengan tema novel tersebut. Dua
malam yang lalu, mimpi itu murni dan cukup singkat karena orang-orang
di dalamnya sudah lama tak saya jumpai. Tetapi yang semalam
benar-benar melelahkan, barangkali tercampur tontonan horor di Trans
7. Filmnya tidak bagus-bagus amat namun sangat tegang dan mengangkat
gagasan unik: putri duyung bukan makhluk cantik dan lembut seperti
dalam dongeng, melainkan monster.

Bangun pagi ini, badan seperti dihajar godam. Mengutip ucapan Shinchan
di salah satu volume komiknya, 'seperti dipukuli Mike Tyson selama 3
hari'. Mungkin sang ilham sudah minta dituangkan, agar mimpi-mimpi ini
tak berkelanjutan. Toh proyek terjemahan sudah 50 persen selesai.

foto: hasil capture DVD Crayon Shinchan: The Movie


Blog EntryTeman Kerja Berkaki DuaMar 16, '08 11:21 PM
for everyone
Risiko tinggal di kaki gunung berhutan adalah berbagi ruang dengan
makhluk hidup lainnya, termasuk merpati-merpati peliharaan tetangga.
Mereka sering megat-megot masuk ke dalam rumah sejak kami kerap
memberi makan dengan nasi sisa kemarin. Kadang-kadang ada yang
menemani saya mencuci piring sambil mematuk-matuk butiran nasi di
lantai dapur.

Kemarin pun demikian. Saya sedang memusatkan perhatian pada naskah
terjemahan ketika terdengar langkah kaki yang tidak asing lagi di
belakang. Tidak masalah meski saya harus mengawasi kalau-kalau para
burung ini pup dan kena cucian yang tengah dijemur. Mas Agus pernah
menggoda pemiliknya, "Japati abus ka imah, yeuh. Peuncit wae?"
(Merpati masuk ke rumah, nih. Sembelih aja?) Tetangga kami menjawab
dengan tawa.

Burung-burung itu berkeliaran dengan centilnya (dengan suara yang
menurut Mas Agus 'lagi pacaran') di belakang dan halaman. Lucu juga
sih, bikin saya makin menjiwai cerita anak di depan mata. Namun begitu
satu kaki mereka menginjak ubin dalam rumah, saya menghentakkan kaki
dan para merpati beterbangan menjauh.

Foto di sebelah ini diambil beberapa minggu lalu. Tetapi si merpati
berbulu coklat sudah nongol di ambang pintu, mengucapkan selamat pagi
kepada kami. Mungkin juga mencari-cari butiran nasi yang biasa
disebarkan sebagai sarapan.


Blog EntryPengalaman Menerjemahkan Tak TerlupakanMar 16, '08 11:20 PM
for everyone
Selain mengenal penulis yang terbuka terhadap masukan, kebahagiaan
seorang penerjemah/penyunting adalah mendapati materi berupa naskah
yang berbobot. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya ketika
kesempatan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris hinggap ke pangkuan
kali ini.

Jantung saya berdetak keras mendapati cerpen karya seorang penulis
senior, yang juga editor dan penerjemah dengan jam terbang tinggi.
Sungguh memalukan kalau saya sampai terpeleset menggarap buah pena
penulis favorit satu ini. Karena beliau memang enak diajak diskusi,
saya meneleponnya untuk menanyakan beberapa hal dalam cerpen tersebut
guna mencocokkan pemahaman. Misalnya apakah karakter xxxx (sensor
ah:p) laki-laki atau perempuan?

Seperti dikatakan seorang editor dalam buku Menjadi Penerbit, terasa
sekali bedanya membaca dan 'membaca'. Namun saya mengerjakan
terjemahan cerpen ini dengan bahagia. Bahasanya komunikatif, ceritanya
berupa petualangan yang sangat unik (tak terpikirkan oleh saya untuk
mengembangkan ide yang sebenarnya demikian dekat dengan keseharian ke
dalam cerita anak), dan beberapa bagian menantang kreativitas saya
berimprovisasi tanpa merusak bangunan asli karya beliau. Jadi teringat
saat menerjemahkan seri How to Write kemarin.

Sungguh memuaskan memperoleh pembelajaran dari sebuah cerpen yang
bermutu. Saya benar-benar bersyukur.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryNgobrol, Sebuah Selingan MenulisMar 11, '08 6:00 AM
for everyone
Jika pekerjaan hanya dipandangi, didiamkan sambil berpikir sekalipun,
yang saya alami adalah munculnya ide-ide yang tidak ada kaitan dengan
kerjaan itu sama sekali. Makin dipikirin, makin banyak dan makin
nggak nyambung. Maka harus dicatat atau bahkan 'lari' sejenak ke situ
supaya kerjaan 'pokok' (baca: yang mesti cepat selesai) tidak
terganggu.

Saat merevisi tulisan sekarang ini, ngobrol bisa terasa menyegarkan
sekali. Tentu saja yang diomongin tidak ada hubungannya dengan apa
yang ada dalam naskah. Mas Agus bercerita tentang suatu hari saat ia
masih ikut kakaknya di proyek pengerasan jalan dan bertugas membagikan
upah pekerja.
Kakang kami itu mengulurkan daftar yang cukup panjang. "Ini pecat, ini
pecat, ini pecat.." Kebayang deh masygulnya perasaan Mas Agus.

Kalo keponakan yang bertugas menyusun daftar gaji di kantornya malah
lain cerita. "Aku jadi tahu si A gajinya berapa, si B utangnya
berapa..malah ada yang minus!"

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryKerja Bersama DarsoMar 10, '08 10:57 PM
for everyone
Penyanyi pop Sunda satu ini merupakan favorit saya dan Mas Agus.
Makanya seneng banget ketika tetangga seberang memutar kasetnya, bukan
lagu-lagu cengeng tahun 80-an kesukaan beliau.
Sambil menikmati kicau burung liar yang mulai sering muncul di hari
paling dingin sekalipun, saya senyum-senyum mendengar bocah tetangga
ikutan nyanyi,
"Boga kabogoh jauh, meuntas laut meuntas gunung..
tapi apel teu bingung, cukup halow na telepon.."

Rupanya 'terapi' ini ngaruh. Walaupun perut baru diisi cemilan dan teh
manis, otak mulai bereaksi terhadap revisi. Dapet deh beberapa
kalimat. Kalo awalnya udah lancar, insyaAllah ke sana-sananya juga
ngalir.

Saya juga sedang nantang diri sendiri. Biarpun pintu terpentang lebar,
berlatih nggak langsung pake baju hangat. Ntar deh, kalo udah
bener-bener dingin.

Yok, moles naskah lagi..!

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryRenovasi NaskahMar 10, '08 8:46 PM
for everyone
Setelah mendapat pengarahan lanjutan dari editor, ternyata naskah
novel saya kemarin perlu revisi mayor. Tak ada yang dibuang,
tapi mesti ditambahkan rasa lain. Ibarat bangun rumah, yang tadinya
nggak tingkat kini diteruskan ke lantai dua. Tentu dengan
memperhatikan pondasi, bahan yang cukup, dan desain yang tidak merusak
konsep awal.

Kemarin-marin sudah mulai membaca naskah rujukan, termasuk buku
sejenis yang ada di rak buat ngorek-ngorek ide. Semoga bisa
diselesaikan sebelum si deadline
melambaikan kapaknya di ujung sana.

Terima kasih buat tiga anggota geng kompor mledug: Kang Iwok, Nunik,
Dedew, dan satu anggota luar biasa (tengah dipertimbangkan untuk
menjadi penasihat): Mbak Ai.

sumber foto: sxc.hu


Blog EntryYeee..Selesai!!Feb 27, '08 4:37 AM
for everyone
Posting ini sebenarnya terlambat. Saya telah menyelesaikan novel
remaja yang digeber sejak Sabtu malam pada hari Senin sore sekitar jam
empat. Langsung kirim ke email editor dan SMS beliau. Lalu
besoknya..juntay. Laptop baru nyala lagi tadi pagi. Tepatnya siang,
setelah urusan domestik kelar.

Fyuh..lega banget menaklukkan 'fobia 100 halaman' beberapa hari
sebelum tenggat waktu. Bahkan karena nggak pede, saya sempat meminta
perpanjangan untuk antisipasi selama seminggu dan editor yang baik
hati itu memperkenankannya. Gimana nggak keder..bahkan jadwal
terbitnya sudah ditentukan.

Tapi senang bukan main, deh. Merampungkan proyek ini berarti
mengalahkan diri sendiri. Yang ngeri nulis fiksi, ngeri nulis buat
remaja, ngedadak jadi 'perfeksionis', takut dialognya kayak sinetron
sampai nulis satu halaman aja bisa makan waktu setengah hari..ditambah
liku-liku yang mendebarkan: sakit cukup lama dan dua kali ambruknya,
Mas Agus kecelakaan, Mas Agus rematiknya kambuh, serta sedikit
persiapan acara keluarga. Masih diselingi telepon-telepon keponakan
yang melorot prestasi belajarnya, atau malah malam-malam nanya,
"Tante, solusi pemanasan global apakah gerangan?"

Hahhhhh..tarik nafas panjang. Baru kerasa pegel-pegelnya.
Alhamdulillah, meski begadang tiga hari berturut-turut, nggak sampe
parah teparnya dengan jurus makan sayur. Mendadak jadi vegetarian,
deh:p Mata yang sempet sakit untuk dibuka sekali pun tertolong oleh
jus wortel. Yihaaa!

Senin malam, kesantaian sudah ternikmati. Nggak merasa 'bersalah' lagi
melewatkan dua jam untuk nonton film di TV. Kemarin malam malah bisa
ketawa bareng Mas Agus waktu nonton Death Becomes Her. Banyak tidur,
banyak makan, baca-baca..

Hari ini mulai aktivitas ringan. Bantu nerjemahin materi kerja Mas
Agus, oret-oret konsep tulisan. Tapi masih pemanasan:-)

sumber foto: sxc.hu


Pages:1234567
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help