Rini's posts with tag: resensi
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Selain Dances With Wolves, inilah film Kevin Costner yang saya sukai karena karakternya unik dan tidak menebar pesona sebagai pria yang menjerat lawan jenis di mana-mana. Sudah berulang kali ditayangkan di TV, saya nonton sampai tamat baru dua hari lalu di Trans. Imajinasinya tentang dunia yang terendam banjir raksasa sudah hebat. Belum lagi aneka properti dan makhluk mutan berinsang yang sampai ujung film tidak jelas kenapa (mungkin korban teknologi dan ulah manusia yang kacau?)
Suka banget sama Enola si kecil yang suka gambar dan polos. Dari keseluruhan, ada dialog yang paling mengesankan ketika si pelaut dikatai Enola karena tak banyak bicara.
"Kamu pernah dengar suara dunia? Tentu saja tidak, karena kamu terlalu berisik dan selalu banyak bergerak."
sumber foto: wikipedia 
| Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Tak sempat ke bioskop (dan emang nggak suka sih, pada dasarnya), ternyata bulan lalu DVD originalnya sudah nangkring di sebuah mini market dekat rumah kakakku. Tema yang diusung adalah pernikahan alias mencari jodoh. Mungkin terdengar klise dan tradisional, seorang anak ingin membahagiakan ibunya yang shock karena kepikiran masa depan anak perempuan satu-satunya. Saya lebih bisa nerima kata-kata si ibu bahwa dia ingin tenang jika anaknya ada yang bertanggungjawab (suaminya gitu..).
Cukup segar, sih. Tapi dibanding karya-karya Pak Musfar yang lain, saya nggak terlalu puas. Akhir ceritanya sudah ditebak, meski mungkin akan mengecewakan jika Nirina menikah dengan Agus Ringgo. Tapi terlalu banyak kata makian kasar di sepanjang film. Okelah, itu potret pergaulan jaman sekarang. Tapi nggak usah pake binatang, gitu lho..maunya saya..
Kemudian yang bikin rada bete, tawuran yang begitu bombastis. Dialog-dialognya sih lumayan untuk mikir, dan perjalanan mencari rumah dukun juga cukup lucu.
nyomot dari info di MP Dedew
Gramedia Pustaka Utama mengucapkan selamat kepada Asma Nadia atas terpilihnya Istana Kedua sebagai pemenang Islamic Book Fair Award 2008
kategori buku fiksi.
Dan sebagai wujud apresiasi kami, Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena mengadakan lomba resensi novel Istana Kedua.
Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut.
Syarat umum: * Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.
* Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
* Resensi yang ditampilkan di surat kabar atau majalah diutamakan namun tidak menutup kemungknan untuk resensi di media lainnya (blog / Website) di Indonesia.
* Peserta boleh mengirim lebih dari satu resensi.
* Lomba ini tidak berlaku bagi karyawan PT Gramedia Pustaka Utama dan keluarganya.
Syarat khusus: * Kirimkan bukti pemuatan resensi (boleh berupa fotokopinya)
* Sertakan biodata peresensi plus foto, serta fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke:
PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL ISTANA KEDUA
Redaksi Fiksi PT Gramedia Pustaka Utama Gedung Gramedia Lt. 3 Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270
cantumkan "LOMBA RESENSI NOVEL ISTANA KEDUA"di pojok kiri atas amplop.
* Bukti resensi selambat-lambatnya 30 September 2008 (cap pos)
Hadiah:
Juara 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp 500.000,- Juara 2: Rp. 500.000,- + paket buku senilai Rp 400.000,- Juara 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp. 300.000,- 7 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp.100.000,-
Pemenang akan diumumkan pada bulan Desember 2008 di website Forum Lingkar Pena (www.lingkarpena. net) dan website PT Gramedia Pustaka Utama (www.gramedia. com).
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi 53677834 psw 3213/3249.
Sumber : blog penerbit Indiva ini Lomba Resensi Buku Indiva 2008 Jangan cuman jadi pembaca pasif! Kritisi yuk, buku-buku yang kamu baca. Nah, dalam rangka Milad Pertama, Penerbit Indiva Media Kreasi menggelar acara yang spektakuler banget: LOMBA RESENSI BUKU INDIVA 2008.
Caranya, guampang bangets…Kamu pilih satu dari buku-buku ini: De Winst (Afifah Afra) Pilkadal di Negeri Dongeng (Tundjungsari) Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (15 Penulis FLP Jawa Tengah) and The Star is Me (Afifah Afra) Best Seller Sejak Cetakan Pertama (Agus M. Irkham) Jangan Jadi Perempuan Cengeng (Pipiet Senja dkk.) Agar Ngampus Nggak Hanya Status (Rabiah Al Adawiyah) Road to Happines (Asa Mulchias) Bikin resensinya, boleh ketik komputer, boleh tulis tangan (tapi jangan kayak tulisan resep dokter getoo...), maksimal 5 halaman kuarto, spasi 1,5 font 12.
Kirim atau antar langsung ke alamat ini...Kantor Indiva Media Kreasi: Jl. Anggur VII No. 36 C Jajar, Laweyan, Surakarta Atau TBD (Toko Buku Diskon) Indiva, Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura (Ruko depan lampu merah/ gerbang kampus UMS)
Jangan lupa cantumin alamat, biodata singkat, fotokopi identitas yang masih berlaku dan struk (nota) pembelian buku tersebut.R esensi ditunggu sampai tanggal 30 September 2008 (cap pos)! Pemenang akan diumumkan di website www.indiva.mediakreasi.blogspot.com, diiklankan di Majalah Annida edisi November 2008 dan di Indiva Magazine.
Disediakan hadiah yang lumayan banget buat ngisi tabungan: Juara I: Rp 750.000 juara II: Rp 600.000 Juara III: Rp 450.0003 Juara Harapan: @ Rp 250.000
Pengin informasi lebih jelas? Hubungi saja bagian promosi PT Indiva Media Kreasi, Aris Adenata (0271-7589916). atau email ke indiva_mediakreasi@yahoo.co.id atau indiva.mediakreasi@gmail.com
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Bagi Amanda Pierce (Monica Potter), tak mungkin ada laki-laki yang sempurna. Ia sudah begitu patah hati, meski memutuskan untuk segera mencari tempat tinggal sendiri begitu mengetahui bahwa teman kerjanya, Lisa, adalah penyuka sesama jenis. Amanda merasa hidupnya akan dilanda kesepian sepanjang masa seperti rekan-rekan kerjanya yang lajang sampai tua, setelah memergoki kekasihnya berselingkuh.
Oleh sebab itu, ia berusaha keras menampik getaran hatinya ketika berjumpa dengan Jim Winston (Freddie Prinze Jr). Pria yang bekerja sebagai eksekutif bidang fashion itu tinggal di seberang apartemen Amanda yang dihuninya bersama empat orang supermodel. Walaupun Jim sangat menawan, Amanda mati-matian menghindar lantaran curiga bahwa lelaki itu membunuh seseorang.
Sebenarnya Amanda memperoleh lemari kecil mereka yang disulap sebagai kamar, sebab para model itu mengkhususkan ruangan besar untuk dijadikan tempat pakaian dan perlengkapan lainnya. Karakter empat model yang berlainan etnis ini amat menarik. Tidak seperti cerita-cerita klise, mereka sangat ringan tangan dan bersahabat terhadap Amanda. Mereka mendandaninya, meminjamkan pakaian, memberikan saran-saran dan berusaha melindunginya saat mencium ketidakberesan pada diri Jim. Bersama teman-teman barunya ini, Amanda mengenal apa yang disebut daftar tunggu para pria dan betapa mereka berlomba-lomba membayari makan malam mereka di restoran mahal. Bahkan tanpa celetukan Roxana, yang berasal dari Rusia, Jim takkan memperoleh petunjuk mengenai konspirasi orang-orang jahat yang mengancam nyawa mereka.
Perekrutan Amanda dan teman-temannya menjadi model peragaan busana secara tak sengaja terbilang masuk akal. Walaupun peragaan yang diselingi kejar-kejaran itu sukses, Amanda tak lantas meninggalkan pekerjaannya sebagai ahli restorasi lukisan dan bergabung dengan empat kawannya di dunia serba glamor itu. Sebuah adegan yang sebenarnya menjijikkan (baca: jangan sampai ditonton sambil makan) menunjukkan bahwa pria seelok Jim pun punya kekurangan. Film ini membuat saya banyak tertawa, termasuk adegan opsir polisi yang meledek para model ini tak dapat berhitung.
sumber foto: wikipedia 
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Butuh waktu cukup lama bagi seseorang untuk menyadari bahwa hatinya sudah terpaut pada orang yang tidak jauh-jauh dari tempatnya berada. Demikianlah yang terjadi pada Ryan Woodman (Shane West) dan sahabat sekaligus tetangganya, Maggie Carter (Marla Solokoff). Ryan sibuk tergila-gila kepada primadona sekolah, Ashley Grant (Jodi Lynn O'Keefe) yang tak pernah menaruh perhatian kepadanya. Untuk itu ia menerima tawaran Chris Campbell (James Franco), sepupu Ashley, yang berniat memikat Maggie.
Karakter paling menonjol jelas Chris seorang. Ia sekadar penasaran karena Maggie selalu menolaknya dan merupakan satu-satunya gadis yang belum dikencaninya (di tempat tidur). Ryan mempromosikannya mati-matian, mengubah Chris sesuai karakter yang diharapkan sahabatnya, sementara ia sendiri perlahan menyadari bahwa Ashley tidak sehebat dugaannya dulu. Gadis itu kasar, angkuh, dan anehnya malah memohon-mohon tatkala Ryan meninggalkannya. Guna mengikuti siasat Chris, Ryan harus menghina kawan-kawan baiknya sendiri padahal Chris, Ashley dan gerombolannya bahkan selalu memanggilnya 'Brian'.
Film ini mengekspos kenakalan-kenakalan remaja yang sedang memuncak di usia menjelang akhir SMA. Ryan berusaha membalas pukulan pelatih softballnya yang selalu meledeknya 'ibu-ibu' atau 'Nona' karena pukulannya sering meleset. Ada Cosmo yang menghendaki pesta dansa sebagai momen meledakkan cita-cita menjadi 'anak badung' dan menaikkan pamornya di depan lawan jenis. Meski endingnya sudah dapat diterka, film yang diadaptasi dari drama Cyrano de Bergerac ini lumayan juga (kecuali bagian-bagian jijiknya..wekk). Mungkin karena itulah 'Whatever It Takes' mendapat nominasi Teen Choice Awards untuk kategori film komedi.
sumber foto: wikipedia

 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Voila! Bisa nonton sampai tamat juga akhirnya, setelah lama menanti. Alhamdulillah iklannya di Trans semalem nggak segambreng amat, jadi selesainya nggak terlalu larut.
Bruce Willis main film action? Itu biasa. Jadi antagonis, pun bukan hal baru. Tapi Richard Gere tidak memerankan laki-laki penebar pesona penjerat hati wanita seperti dalam Pretty Woman, Autumn in New York, dan Dr.T and the Women? Perlu ditelusuri lebih lanjut.
Peringatan: mengandung bocoran
Jackal adalah sebutan seorang pembunuh bayaran top berskala internasional, yang sebelumnya diragukan keberadaannya. Ketika ia disewa oleh seorang pembunuh lain dari Rusia untuk menghabisi Direktur FBI, tak ada jalan lain bagi tim yang melindunginya kecuali meminta bantuan eks penembak IRA, Declan Mulqueen. Tawar-menawar terjadi, sebab hanya Mulqueen dan kekasih lamanya, Isabela Zancona, yang pernah melihat wajah Jackal.
Film ini mempesona dalam banyak hal, antara lain penyamaran Bruce Willis. Ia benar-benar menghayati peran sebagai lelaki tak berperasaan, menembak orang sambil makan, menjadikan perancang senjata sebagai kelinci percobaan dalam uji kecepatan senjata itu sampai tewas, menembak Mayor Koslova sambil berbaring santai di sofa dan berkata, "Wow, darahmu hampir hitam. Artinya peluru bersarang di hatimu. Tekan di sini agak keras, untuk menghentikan pendarahannya. Kau punya waktu 20 menit lagi. Tapi kalau tak tahan, angkat saja tanganmu."
Lalu Koslova menjawab, "Bila Declan membunuhmu, ingatlah padaku."
Karakter Declan sendiri lain daripada yang lain. Bila sudah berjanji, ia akan menepatinya. Tak peduli Isabela menggenggamkan kunci untuk kabur, ia tetap mengikuti misi sampai selesai.
Jelas, film ini berlumuran darah di mana-mana. Yang paling saya ingat adalah pesan berkode dari Jackal, "You could never protect your women."
sumber foto: wikipedia 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Tema: 8 Profesi agen olahraga terbilang unik untuk diangkat, dikemas sedemikian rupa dengan bahasan perihal etos kerja, persahabatan dan cinta terhadap keluarga. Tom Cruise: 8 Film ini menampilkan akting terbaiknya selain Interview with the Vampire. Suatu saat menjadi Jerry yang begitu percaya diri terutama saat menyampaikan pernyataan misi sebagai ekspresi kegelisahannya terhadap situasi kantor, kali lain 'melorot' sebagai lelaki yang bangkrut dan mempertaruhkan muka hingga disebut 'pria yang sedang ada di bawah' oleh kakak iparnya, Laurel (Bonnie Hunt). Sukar dibayangkan jika Tom Hanks atau John Travolta, yang ditawari lebih dulu, menerima peran ini (sesuai data wikipedia). Renee Zellwegger: 8 Cantik di setiap kesempatan, total dalam segala tindakan. Saya tersentuh sekaligus kagum saat Dorothy meminta Jerry meninggalkannya saja, mengakui kesalahannya 'menjerat' pria itu melalui putranya dan menjawab pertanyaan Jerry: "What do you want? My soul?" dengan tegas, "Why not? I deserve that." Jonathan Lipnicki: 8,5 Bocah mungil dengan senyum menawan ini merupakan salah satu faktor pendorong saya nonton JM berulang-ulang. Saat ia melemparkan bola dengan sekuat tenaga, memeluk Jerry dan menciumnya, kemudian berbisik, "You said 'fuck'. I won't tell." Manisnya.. Cuba Gooding, Jr: 8,5 Selalu memukau. Sebagai Rod Tidwell yang emosional, keras kepala, menandak-nandak gila di lapangan setelah terbanting dalam pertandingan, dan sangat mencintai keluarganya. Ia lebih dari pantas memenangkan Oscar untuk Best Supporting Actor dari film ini. Bahkan karakter mentor Jerry menambah poin plus, dengan pesan-pesan singkat seputar pekerjaan. Khususnya kalimat terakhir, "I don't have all the answers. In life, to be honest, I've failed as much as I've succeeded." sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Jerry_Maguire
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Ini film Val Kilmer yang paling saya sukai, selain Batman kala ia berpasangan dengan Nicole Kidman (tetapi Batman urutan kedua). Mas Agus sangat menyenanginya gara-gara memerankan Jim Morrison. Ia selalu keliru antara Val dengan Kurt Russell, yang memang lumayan mirip. Saya juga tertarik menyimak akting Mira Sorvino dalam film drama, karena imejnya sebagai pemain action setelah berduet dengan Chow Yun-fat lumayan sulit dilupakan. Dengan dalih cinta, kita kerap berkehendak mengubah seseorang tanpa menyadari bahwa orang itu sudah cukup berbahagia dengan keadaannya. Begitu pula Amy Benic yang terus mendorong Virgil Adamson untuk memperoleh penglihatannya kembali. Serem banget melihat adegan operasinya, juga memperhatikan bekas-bekas merah di sekitar mata Virgil kemudian. Saya menangkap kesan bahwa Amy berbuat demikian karena malu terhadap Duncan (Steven Weber), mantan suami sekaligus mitra bisnisnya. Tetapi kemudian ia dihadapkan pada sebuah kenyataan sekaligus pelajaran: apa yang kita inginkan tidak selalu menghasilkan kebahagiaan atau kehidupan yang lebih baik setelah kita dapat mewujudkannya. Setelah dapat melihat, hubungan Amy dan Virgil diwarnai ketegangan. Ia terus bertanya apa makna tatapan Amy, terguncang melihat Amy mengecup mantan suaminya di pesta ulang tahun, dan tersiksa karena setiap saat membicarakan matanya. Ada baiknya saya nonton ulang film ini, karena dulu melewatkan pertemuan Virgil dengan ayahnya. Itulah pangkal persoalannya. Virgil merasa Amy terlalu mendesaknya, seperti sang ayah yang kemudian kecewa dan meninggalkan keluarga. At First Sight, yang diangkat dari kisah nyata, benar-benar menawan. Lebih dari sekadar cerita cinta. sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/At_first_sight
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Saya sudah menonton film ini sekitar 4 tahun yang lampau, tapi kurang menikmatinya karena ditingkahi keributan dua keponakan yang sedang saya asuh waktu itu. Meskipun demikian, saya masih ingat sebagian besar jalan ceritanya. Love Actually, yang posternya cukup mirip dengan poster film Berbagi Suami (menurut majalah Djakarta!), menghadirkan banyak aktor Inggris. Ada Hugh Grant, sudah pasti ada Colin Firth. Kedua aktor ini agak sering muncul bersamaan dalam satu film, kecuali (seingat saya) dalam What A Girl Wants dan Two Weeks Notice. Cerita keseluruhan dapat diintip di http://en.wikipedia.org/wiki/Love_actually, tempat saya mendownload foto poster film ini. Keragaman karakter dan plot menjadikan Love Actually mengasyikkan untuk diikuti, sampai kemudian dipertemukan keterkaitan satu sama lain di bagian akhir. Poin istimewa: 1. Colin Firth memerankan seorang penulis. Saya baru menyadarinya ketika nonton kemarin. Adegan paling keren adalah ketika Jamie menulis di sebuah meja di tempat terbuka, kemudian kertas-kertasnya diterbangkan angin hingga masuk ke kolam. Adegan keren kedua, sewaktu Aurelia bertanya dengan bahasa Portugis dan bahasa tubuh mengenai apakah cerita yang ditulisnya, dan Jamie menerangkan bahwa ia mengarang novel thriller dengan kisah pembunuhan. 2. Sungguh menakjubkan betapa cinta mendobrak perbedaan bahasa. Kendati menggunakan bahasa masing-masing, obrolan Jamie dan Aurelia sangat nyambung. Jamie bilang saat mengantarkan gadis itu pulang adalah favoritnya setiap hari, sementara Aurelia bilang selalu sedih meninggalkan lelaki itu. Betapa romantisnya tatkala Jamie melamar Aurelia dan susah payah belajar bahasa Portugis, sementara gadis itu ternyata juga sudah belajar bahasa Inggris. 3. Keterusterangan Mark melalui tulisan di kartu pada malam Natal di ambang pintu Juliet. "To me you are perfect," wow. Dan ini tidak berlanjut menjadi sebuah affair. 4. Tangisan Karen di kamar ketika mengetahui bahwa kalung yang dibelikan suaminya bukan untuk dirinya. Ikut sedih dan tertekan karena ia harus menyembunyikan luka itu dari anak-anaknya. Tidak heran bila Emma Thompson menyabet Empire Award for Best British Actress dan Evening Standard British Film Award for Best Actress untuk aktingnya di film ini. 5. Kegelisahan Perdana Menteri yang menyadari dirinya menaruh hati pada bawahannya. Hugh Grant mengekspresikan hal itu dengan baik sekali. 6. Dialog Daniel (Liam Neeson) dengan anak tirinya yang sangat akrab. Dengan sabar ia membiarkan Sam berlatih drum di kamar. Sam tanpa ragu bertanya, "Bagaimana kehidupan cintamu sendiri?" kemudian Daniel mengatakan, "Kalau Claudia Schiffer meneleponku, aku terpaksa harus mengusirmu dan kau akan jadi gelandangan." Minus: 1. Kisah Sarah (Laura Linney) dan Karl (Rodrigo Santoro) menyebalkan. Sedih banget karena seluruh isi kantor, termasuk bos dan si lelaki itu sendiri, sudah tahu perasaan cintanya serta menunjukkan tanda-tanda memiliki rasa serupa tetapi tak dapat berbuat apa pun kecuali memendamnya. 2. Pemotongan di sana-sini. Memang agak kagok menayangkan film ini di televisi pada jam 18.30. Tetapi bila belum pernah nonton, kita takkan tahu bahwa kekasih Jamie berselingkuh dengan saudaranya sendiri sehingga ia memutuskan pergi ke Prancis sebelum bertemu Aurelia. Kisah Colin yang berambisi menjadi dewa seks di Amerika pun sebaiknya dipotong habis saja karena jadi sangat membingungkan, sedangkan ditampilkan utuh memang tak mungkin. 
     | Hitch | Feb 14, '08 8:14 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Alasan saya menonton ulang film ini di Trans TV dan menerobos jam malam (tamatnya hampir jam 12 karena iklan segambreng) adalah: 1. Will Smith adalah aktor favorit saya, bahkan paling favorit di jajaran bintang film Hollywood seangkatannya 2. Waktu pinjam DVDnya beberapa tahun lalu, saya belum nonton bagian awalnya. Karena ini bukan film baru, saya tidak akan mencuplik ceritanya. Tetapi langsung pada catatan-catatan khusus keistimewaan Hitch di mata saya. 1. Tema yang sederhana menjadi luar biasa. Hitch bukan sekadar mak comblang (atau istilahnya date doctor), tetapi konsultan yang berkarakter. Ia tidak mau melayani klien yang sekadar mencari pasangan one night stand, tetapi hanya mereka yang benar-benar jatuh cinta. 2. Tidak ada adegan menjijikkan, seperti kebanyakan film komedi lainnya, antara lain 'Along Came Polly' yang saya tonton sebelumnya di stasiun TV lain. 3. Romantisme bagi pasangan yang sudah dewasa dapat dinyatakan dengan banyak hal. Saya ikut terharu saat Sara Melas terisak menghadapi tanda tangan kakek buyutnya (walaupun suara tangisnya agak aneh), melonjak senang saat ia menerima bingkisan berisi sejenis walkie-talkie, tersenyum menyimak dialog yang tidak 'to the point' di kafe. 4. Adegan slapstick ditempatkan dengan halus dan proporsional. Lucu banget deh waktu Albert Brenneman joget-joget, panik saat menelepon Allegra dan ternyata langsung diangkat, rebutan memberikan pulpen sampai menjepit tangan bosnya, dan menarik isi jambangan sampai berhamburan dan membuatnya terjungkal. 5. Pertengkaran Sara dengan Hitch menunjukkan betapa kita gemar mengungkit kekurangan pasangan. "Dengan senang hati aku akan mengajakmu makan di restoran sea food!" sembur Sara. "Kenapa tidak kau ambil pisaumu, Tukang Jagal?" Hitch tak kalah sengit. 6. Para karakternya, termasuk Allegra Cole, ditampilkan sangat manusiawi. Ia malu karena tak bisa bersiul dan dansa. Hitch tetap gelagapan mengutarakan isi hatinya kepada Sara, sebaliknya Sara memaki dirinya sendiri di balik bantal sofa ketika mendapati Hitch pergi di pagi hari dan mengira ia tidak akan datang lagi. 7. Kalimat Hitch yang menyentuh tatkala menghadapi Sara di acara temu jodoh. "Inilah yang membuat jatuh cinta begitu sulit." Kemudian sebuah penekanan, "Because of that man, I had a job. HAD a job!" Juga perselisihannya dengan Albert. "Love is my life," ujar Hitch. "No, love is your job!" tampik Albert. 8. Kekontrasan yang memukau antara dua profesi. Sara bertugas mengungkap 'kebenaran' (ala kolumnis gosip) sedangkan kode etik pekerjaan Hitch mengharuskannya merahasiakan klien-kliennya. 9. Unsur-unsur pengetahuan Hitch mengenai wanita jauh lebih mengena dibandingkan karakter Mel Gibson dalam 'What Women Want'. Wanita akan merasakan jika pasangannya tidak fokus, wanita ingin didengarkan, wanita ingin ditanggapi. 10. Eva Mendes adalah pasangan paling 'sempurna' untuk Will Smith (selain Denzel Washington di sebuah film yang saya lupa judulnya). Inilah film mereka berdua yang paling merebut hati saya. Bahkan adegan penutupnya yang ceria membuat Hitch super spesial. sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Hitch_(film) 
    | Pursued | Feb 5, '08 9:16 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Nonton di Global TV, 5 Februari 2008, jam 20.00
Jasa headhunter biasa digunakan perusahaan-perusahaan untuk mencari eksekutif yang cocok menduduki jabatan tertentu. Dalam film yang diproduseri Andrew Stevens ini, Vincent Palmer (Christian Slater) menggunakan segala cara dengan penafsirannya sendiri. Ia menekan, mengintai, mengintimidasi, mengancam, dan berbuat lebih parah daripada kekasih gelap yang diputuskan ataupun seorang penggemar yang membuntuti idolanya.
Sasarannya adalah Ben Keats (Gil Bellow), pakar teknologi yang melejit dengan temuannya dan mengembangkan perusahaan VizTrax bersama mitranya, Franklin (Michael Clarke-Duncan). Vincent melamar Ben untuk RazNet dengan iming-iming kompensasi menggiurkan, akan tetapi pria itu sangat loyal pada bisnis yang dirintisnya. Karena tak mau diabaikan, Vincent mengincar keluarga Ben. Ia mendekati istrinya, Emily (Estella Warren) dan putrinya, Alison, serta merebut hati mereka dengan berbagai hadiah seraya meyakinkan bahwa masa depan gemilang Ben akan tercapai jika bergabung dengan RazNet.
Tatkala Ben meradang, Vincent tetap bermuka manis dan melakukan aneka strategi. Ia menyebarkan gosip dalam VizTrax sehingga Ben dan timnya saling mencurigai. Bahkan Ben memecat sekretarisnya yang telah bekerja selama 6 tahun dan menyangka Emily tidur dengan Vincent. Belakangan terungkap bahwa Vincent menderita kelainan jiwa yang sangat kronis dan melakukan tindakan-tindakan sadis untuk mencapai keinginannya, antara lain membunuh istri John Blakely, seorang eksekutif yang didekatinya sebelum ini. Ia mengetahui segala kelemahan Ben, termasuk kesulitan keuangan dalam keluarganya, penyakit yang diderita Franklin, sampai konsep teknologi baru yang dirancangnya di VizTrax.
Siapa kaki-tangan Vincent di VizTrax dan benda-benda yang digunakannya untuk menyelipkan video pengintai dapat diterka. Agaknya film action-thriller ini disuguhkan secara terbuka sehingga ketegangan berpusat pada upaya Ben melepaskan diri dan menyelamatkan keluarganya dari kekejaman Vincent. Sangat menarik menyimak penampilan Christian Slater sebagai seorang voyeur, sedikit menggelikan dan ironis karena Vincet dapat mendeteksi keberadaan Ben yang menggagas teknologi mencari orang hilang.
Selain genrenya, keasyikan Pursued bagi saya terletak pada hal-hal berbau teknologi komputer di dalamnya. Unsur sains cukup proporsional, dengan banyak pelajaran mengenai politik dalam bisnis.
foto: imdb.com 
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Tiga kali film ini diputar di televisi, tiga kali itu pula saya menontonnya tanpa merasa bosan. Blood Work, yang disutradarai Clint Eastwood (merangkap pemeran utama), diangkat dari novel berjudul sama karangan Michael Connelly, peraih Edgar Award. Film misteri-thriller ini menghantarkan Eastwood menyabet Future Film Festival Digital Award di Venice Film Festival. Alkisah seorang mantan agen FBI bernama Terry McCaleb, yang kini menjadi Sheriff. Ia menyelidiki pembunuhan terhadap dua orang yang terjadi dalam waktu berdekatan. Saudara salah satu korban, Graciella Rivers (Wanda de Jesus) bahkan mendatanginya untuk mencari tahu lebih banyak. Saudaranya itu, Gloria, ditembak di sebuah toko saat berbelanja. Bersama tetangganya yang juga menetap di kapal, Buddy (Jeff Daniels), Terry perlahan mengetahui bahwa pelaku tidak bermaksud merampok. Dibantu sahabatnya, Detektif Jaye Winston, Terry mengumpulkan data-data untuk membongkar tujuan si pembunuh sebenarnya. Ternyata di antara mereka ada kaitan di masa lalu. Terry pun menemukan kesamaan perilaku kedua korban, yang secara langsung berpengaruh pada dirinya. Ia tak peduli kesehatannya mundur dan ditegur oleh sang dokter (Anjelica Huston). Apalagi Terry mengetahui bahwa jantung Gloria didonorkan pada dirinya. Motif yang 'aneh' senantiasa menjadi daya pikat dalam sebuah film thriller. Seringkali si pelaku sebenarnya berseliweran di depan hidung pencarinya. foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Blood_Work_(film) 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Adalah seorang gadis dari kota kecil, Donna Jensen (Gwyneth Paltrow), yang bermimpi meraih masa depan di tempat lain. Harapannya sempat kandas setelah sang kekasih, yang akan membawanya ke luar kota, memutuskannya pada hari ulang tahun. Donna nyaris tenggelam dalam keputusasaan tatkala menonton talkshow mengenai Sally Weston (Candice Bergen), seorang pramugari senior di TV sebuah kafe. Buku karangan Sally (inilah salah satu pesona film ini) menggugah semangat hidup Donna untuk memberanikan diri menggapai cita-citanya kembali. Ia merintis sebagai pramugari sebuah maskapai kecil, tempatnya berkenalan dengan Sherry (Kelly Preston, istri John Travolta yang tetap cantik jelita) dan Christine (Christina Applegate). Ketiganya memburu karir yang lebih baik di maskapai besar Royal Airlines, tempat Sally bekerja. Kendati gagal dalam ujian di luar dugaannya, Donna mengecap kebahagiaan bersama Ted Stewart (Mark Ruffalo), seorang mahasiswa sekolah hukum di Cleveland. Pertemuannya kembali dengan Christine menyadarkan Donna bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada ujiannya terdahulu. Banyak sekali pelajaran moral dari film yang mengetengahkan tahap realisasi impian ini. Itulah sebabnya saya bela-belain nonton di Global beberapa hari yang lalu (pernah nonton di DVD pinjaman, tapi harus dikembalikan sebelum selesai). Hikmah tersebut antara lain: 1. Jangan takut bermimpi, sesuai tagline film ini "Don't stop till you reach the top." 2. Kehati-hatian, etika dan tatakrama sangat penting dalam pekerjaan apa pun. Sungguh mengerikan saat Christine dengan leluasa meraup barang-barang milik perusahaan padahal hal tersebut jelas dilarang dalam buku panduan pegawai yang sangat ketat. Walau agak menggelikan, sikap Sherry yang menyinggung perasaan John Whitney (Mike Myers) dalam wawancara melontarkannya ke luar jalur yang seharusnya ia tapaki. 3. Impian sebesar apa pun harus dimulai dari nol. Karena itulah, Donna bersedia mengawali karir di maskapai kecil. 4. Profesionalisme, di mana pun kita berada. Seperti John Whitney yang tidak dapat menjadi pramugara karena kelainan mata meskipun hasil tesnya gemilang dan Donna yang berhasil menjadi Employee of the Month saat masih bertugas di Royal Express Cleveland. 5. Hati-hati mencerna pesan seseorang. Donna menduga ia harus 'menyingkirkan' Ted yang dicintainya demi kesuksesan, padahal Sally mengatakan, "Every pilot needs a co-pilot." Maka dengan penuh pengertian, Sally menggantikan shift Donna agar gadis itu dapat segera menjumpai Ted. 6. Selalu ada jalan tengah yang terbaik untuk semua pihak bila kita mau realistis dan menyadari apa yang terpenting bagi diri sendiri. Penutup film ini menawarkan jalan keluar yang mengesankan bagi Donna dan Ted. Tetap berkarir dan berbahagia. View from the Top bukan film yang menyarankan seorang wanita menjadi egois untuk merengkuh cita-citanya. Melalui keluarga Ted yang hangat, Donna memahami bahwa ada rumah yang penuh cinta dan tidak dihiasi perselisihan seperti ibunya dengan ayah tirinya dulu. Catatan khusus: Mark Ruffalo tampaknya berbakat menjadi pria baik hati yang ditinggalkan sejenak untuk kemudian diraih kembali. Ini sudah ketiga kalinya, setelah 13 Going 30 dan Rumors. Mike Myers luar biasa. Saya tidak tahan menonton ulahnya di Austin Powers, namun karakter John Whitney dimainkannya dengan cemerlang. Instruktur yang cerdas, tegas, sekaligus pasien terapi Anger Management yang tiap kali meledak langsung membunyikan lonceng kecil dan berkata lembut, "I'm a little bird.." sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/View_from_the_top
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
PERINGATAN: mengandung bocoran
Tanpa bocoran ini, film The Return akan sukar dimengerti. Sarah Michelle Gellar memerankan Joanna, seorang sales representative perusahaan produsen truk yang berkeliling dari kota ke kota. Karirnya terbilang sukses, namun tidak dengan kehidupan pribadinya. Joanna diteror oleh Kurt (yang dalam sinopsis disebut-sebut sebagai mantan pacarnya), saingannya di kantor. Ia juga kerap mendapat bayangan mengerikan mengenai seorang pria misterius yang suka mengintai dan membuatnya melukai diri sendiri dengan torehan pisau lipat. Kebiasaan ini terjadi sejak Joanna berumur 11 tahun sehingga ia tak bisa dekat dengan sang ayah.
Setelah sukses melakukan suatu transaksi bisnis, Joanna mendatangi La Salle, Texas. Ia pernah tinggal di sana sewaktu masih kecil dan mendapati tempat-tempat yang familiar dengan bayangannya selama ini, termasuk gambar kuda laut dalam sketsa yang merupakan bagian penting di tempat kejadian. Gudang pertanian di rumah Terry Stahl (Peter O'Brien), pria yang dikenalnya di bar dan menolongnya dari ancaman pemerkosaan Kurt. Terry dikucilkan oleh masyarakat sekitar karena diduga membunuh istrinya sendiri, Annie, lima belas tahun silam.
Di gudang itu, bayangan Joanna bertambah utuh. Annie dibunuh oleh seorang pria, tepat seperti orang yang membuntuti dan memanggilnya 'Sunshine' selama ini. Bagaimana ia bisa tahu padahal tidak saling mengenal? Pada malam Terry membawa Annie yang sekarat ke rumah sakit, mobil yang dilarikannya menabrak mobil lain yang tengah berhenti di sebuah persimpangan jalan. Mobil itu milik ayah Joanna, dan di dalamnya Joanna kecil tengah meregang nyawa akibat suatu penyakit (kemungkinan demam). Keduanya meninggal pada saat bersamaan, namun arwah Annie menitis ke raga Joanna sehingga ia kembali hidup dan menuntaskan persoalannya dengan si pembunuh di La Salle.
Penjelasan keterkaitan Annie dengan Joanna ini cukup menarik, akan tetapi banyak hal yang terabaikan dalam The Return. Pertama, motif si pembunuh tetap menjadi tanda tanya. Apakah dia sekadar iseng membunuh perempuan cantik yang mengabaikan sapaannya di jalan? Kedua, Terry sekarang dan 15 tahun lalu sama sekali tak terlihat berbeda. Ketiga, tidak ada dialog atau adegan yang menerangkan bahwa Kurt adalah mantan kekasih Joanna. Namun yang paling mengesalkan, mengapa seseorang atau karakter utama dalam film (yang kebetulan wanita pula) selalu berlari ke tempat gelap yang kemudian malah mengurungnya ketika dikejar orang jahat? Kalau dua saja dari tiga poin yang mengganggu di atas dibuat logis, maka The Return berhak mendapat lima bintang.
sumber foto: wikipedia 
 Kali ini yang dimuat adalah resensi buku How to Write and Market A Novel terbitan Kolbu. Pada edisi yang sama, Virgin Mary tampil di rubrik Info Buku. Alhamdulillah:-) 
Baru minggu kemarin saya sempat (dan ingat) nonton Nanny 911 di Metro TV. Pada episode ini, pasangan Sylvie dan John menghadapi kesulitan dengan empat anak mereka. Putri satu-satunya berumur 7 tahun, sedangkan ketiga putra mereka berumur kisaran 2-5 tahun. John seorang videografer freelance yang menganggap diri sibuk sehingga lebih sering duduk daripada membantu istrinya menangani pekerjaan di rumah. Hal ini yang dilihat Yvonne, nanny berpengalaman 15 tahun asal Inggris yang ditugaskan untuk memecahkan masalah mereka. Mungkin latar belakangnya itu tepat dengan kasus anak-anak John dan Stevie yang kurang mengenal tatakrama. Mereka sering melawan sang ibu, apa lagi melihat ayah mereka kurang menghargainya.
Perkawinan Stevie dan John di ujung tanduk, padahal mereka akan memperingati hari jadi ke-10. Saya pribadi tak bisa membayangkan ketabahan seorang istri dan ibu yang setiap hari membereskan ruangan mirip kapal pecah hasil karya anak-anaknya, jeritan di meja makan, dan masih banyak lagi.
Program ini menarik bukan sekadar dalam penanganan anak-anak, namun khususnya dalam merekatkan keharmonisan suami-istri. Sepertinya memang baru terjadi pada John dan Stevie. Semoga saja tidak ada PH Indonesia yang tergiur menirunya.
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Tahu film ini waktu SMP dan masih langganan Majalah Film yang berformat tabloid. Tapi karena belum cukup umur, baru berkesempatan nonton di Pekan Film Oscar Trans 7 minggu lalu. Film yang diangkat dari kisah nyata kematian tiga pekerja bidang HAM di Mississippi ini sangat bagus. Mengupas isu rasisme, walau bertabur kesadisan. Ada pemuda kulit hitam yang dikebiri, ada agen FBI yang pura-pura balas dendam, ada suami yang menghajar istrinya karena membocorkan perbuatan jahatnya. Tapi duet Willem Dafoe dan Gene Hackman luar biasa. Acung jempol pada adegan tiruan Klu Klux Klan yang mengejar dan menakut-nakuti sang deputi. 
| |